Disclaimer : Mamashi Kishimoto

By : wf

Pairing : naruto x?

Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murni dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...

Chapter 1

"hiks, hiks, kenapa hidupku begini kami-sama" lirih seorang anak yang berusia sekitar tiga belas tahun disebuah kamar yang gelap dan penuh dengan ketakutan. Ia tidak mengerti kenapa ia dapat berada ditempat yang sebenarnya bukanlah tempatnya itu. Ia dikurung dikamar gelapnya itu hanya karena kesalahpahaman antara dirinya dan keluarganya. Ia hanya berharap semoga ada yang menyelamatkannya dari ruangan gelap ini.

"kami-sama, naru takut" lirihnya kembali. "kenapa kau hanya mengurungnya saja, Minato. Naruto sudah sangat keterlaluan, ia sudah mencelakai menma, hukuman kurungan ini tidaklah cukup. Kita buang saja ia dari keluarga Namikaze, Minato" sebuah suara yang membuat hatinya kembali teriris, ia tidak menyangka orang yang sudah ia anggap salah satu paling berharga itu, dengan teganya mengatakan hal seperti tentang dirinya.

"tapi, kaa-san, kalau kita membuangnya begitu saja, khusina pastilah akan menentang, juga akan membuat nama keluarga kita hancur" jawab suara berat khas pria dewasa, yang dipanggil dengan nama Minato ini. "ck, anak ini hanya membuat beban keluarga saja" kesal wanita yang ia panggil kaa-san itu. Wanita tua itu memasuki ruangan itu dengan wajah jengkel dan marah. Ia mendekati anak laki-laki yang bernama Naruto itu, ia meluapkan emosinya dengan cara menendang dan memaki anak laki-laki.

"ck, gara-gara kau cucu kesayanganku masuk rumah sakit, dan belum sadar hinggah sekarang" makinya pada anak laki-laki itu. "aku..aku mohoon jangan pukuli aku, aku tidak pernah bermaksud melukai menma-nii. Kejadian itu terjadi secara tidak sengaja" mohon naruto dengan menautkan kedua tangannya menghadap kearah Namikaze Tsunade dan Namikaze Minato itu.

"kau terlalu banyak alasan, kau akan aku hukum dengan berat, kau harus pergi dari keluarga ini" bentak Tsunade padanya. Minato hanya diam melihat sang ibu meluapkan emosinya pada anak bungsunya itu. Ia tidak yakin akan dapat melawan permintaan sang ibu yang terkenal tidak pernah main-main dengan ucapannya.

Ia menatap datar kearah sang ibu yang tengah memukul anak bungsunya itu. "tou-sama, aku mohon bujuk baa-sama untuk berhenti memukulku, ini sangat sakit" lirih naruto kearah minato dengan tatapan memohon. "ck, kau sekarang berusaha meminta tolong pada minato, kau tak kan berhasil bocah sialan, asal kau tahu saja kau adalah anak yang sangat tidak diharapkan" balas Tsunade dengan berteriak dan kembali memukul naruto. Naruto yang dipukul terdiam dan hanya dapat merintih kesakitan.

"sudahlah kaa-san, kita keluar saja dari ruangan ini" ajak minato, minato akui walau ia tidak menyayangi naruto. Ia tetaplah masih mempunyai hati nurani, tidak tega melihat wajah kesakitannya itu.

Setelah keduanya pergi dari ruangan tempat naruto disekap, naruto terduduk lemah, ia tidak pernah menyangka orang yang ia sayang akan menghianatinya sendiri. "lihat saja Tsunade aku akan menghancurkanmu dan keluargamu suatu hari nanti" tekad naruto dengan mantap yang dari matanya menyiratkan dendam yang dalam.

"aku akan menghancurkanmu dengan rahasia yang selama ini kau tutup rapat, kau pikir aku tidak tahu apa saja yang telah kau perbuat pada kedua orang itu" ujar naruto lagi.

Setelah beberapa hari naruto disekap, akhirnya ia dapat keluar, walau ketika ia keluar , ia akan 'dibuang' dari keluarga itu.

Naruto pov

Hai semua, perkenalkan namaku Namikaze Naruto, yah sepertinya namaku akan segera berganti menjadi Uzumaki Naruto. Kenapa aku menyatakan demikian, keluargaku eeh maksudku keluarga Namikaze akan segera menghapusku dari daftar anggota keluarga. Aku tidak akan merasa sedih karena aku sudah merasakan kasih sayang dari orang yang aku anggap ibu walau hanya sebentar, namun aku hanya cukup kecewa atas apa yang terjadi dalam hidupku.

Sekali lagi aku tidak akan menyalahkan takdir dan kami-sama atas apa yang terjadi dalam hidupku. Namun aku belajar bahwa sesuatu yang tampak belum tentu itu yang sebenarnya terjadi, aku cukup mengerti kenapa Tsunade-sama membenciku, ia hanya kecewa 'anak' kesayangannya mati bersama dengan 'dia' dan aku adalah anak dari 'anak' dan 'dia', Tsunade sangat membenci 'dia', dengan alasan yang aku sendiri belum tahu. Aku tahu semua secara sengaja saat mendengar perdebatannya dengan Jiraya-jii. Aku akan sedikit menceritakannya.

Flashback

Yosh, akhirnya kain terakhir selesai. Aku terduduk di kursi didekat jemuran kain. Aku memandang langit dengan pandangan sendu. aku merenungkan sesuatu, banyak pertanyaan yang ada dikepalaku, kenapa tou-sama sangat dingin kepadaku? Kenapa aku dibenci? Tidak seperti Menma, ia mendapatkan semua yang ia inginkan termasuk kasih sayang dari tou-sama.

Sedangkan aku hanya mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang, kecuali kaasan. Aku terkadang merasa berbeda dengan yang lain, tidak seperti anggota keluarga namikaze dan Uzumaki lain, karena perbedaan warna rambut juga kulitku. Yah, rambutku berwarna putih dan juga warna kulitku putih kepucatan.

Aku mulai curiga tentang identitasku, apa aku benar-benar berasal dari keluarga ini. Karena perbedaan itu, aku sering dicaci maki oleh teman sekelas bahkan anggota keluargaku.

"naruto-kun, kenapa kau masih berada disini? Sudah waktunya makan siang, ayo kita makan siang bersama" sebuah suara dan tepukan pelan dipundakku meyadarkanku dari lamunan. Aku melihat kaa-san tersenyum lembut kearahku. "ayo, tunggu apalagi, kita akan makan siang bersama" ujarnya lagi sambil menarikku untuk segera meninggalkan tempat menjemur pakaian ini.

Setelah itu, kamipun sampai keruang makan, dapat aku lihat tatapan dingin dan tajam yang dilayangkan oleh keluarga ini padaku.

"naruto, kushina, ayo segera duduk, kita akan memulai makan siang kita" kata jiraya dengan senyum lebarnya pada kami.

"kushina, kenapa kau membawa anak ini kesini" tanya Tsunade dengan nada dingin

"apa yang sedang kau pikirkan kushina, kenapa kau mengajak anak ini kesini, hilang sudah nafsu makanku" sambung minato.

"kenapa kau ada disini baka, kau menganggu makan siang kami saja" tambah seorang anak yang sangat mirip dengan minato seakan dia adalah mininya a.k.a Menma.

Aku terdiam, mendengar mereka. "baiklah aku akan segera pergi, gomennasai telah menganggu acara makan siang kalian" lirihku sambil membungkukkan badanku kearah mereka. Sebelum aku mulai melangkah menjauhi mereka, tangan kaa-san menghentikan langkahku.

"apa salahnya, aku mengajaknya makan siang bersama, naruto-kun kan juga anggota keluarga ini" ujar kaasan dengan nada lembut pada mereka. "dia bukan anggota keluarga kita kushina camkan itu" ujar tsunade, yang kemudian mulai beranjak meninggalkan ruangan itu, diikuti dengan minato dan Menma.

"sudahlah, naruto, kushina jangan dengarkan mereka, ayo silahkan makan terlebih dahulu, aku akan memberikan mereka penjelasan, oke" ujar jiraya.

Satu persatu mereka meninggalkan ruang makan itu, yang hanya menyisakan aku dan kaa-san saja.

"cha, jangan dengarkan mereka naruto-kun, ayo kita makan berdua saja" ajak kaa-san padaku. Keadaanku sekarang aku sedang berusaha tangisku, melihat semua orang menjauhi kaa-san hanya gara-gara anak yang tidak diharapkan sepertiku.

"kenapa kau melamun naruto-kun, ayo sini makan bersama dengan kaa-san" suaranya menyentakkanku agar kembali kedua nyata. Aku hanya mengangguk membalas ajakan darinya. Aku berjalan pelan kearahnya dan mendudukkan diriku dikursi di sebelahnya.

"cha, baiklah, selamat makan" serunya dengan semangat. "hm, selamat makan" sambungku singkat.

Setelah selesai makan siang, aku segera pamit pada kaasan untuk kekamarku. Namun secara tidak sengaja aku melewati kamar Jiji dan Tsunade-sama.

"kenapa kau masih bersikap kasar pada naruto Tsunade" suara jiji menghentikan langkahku. "kau menanyakan kenapa aku bersikap kasar padanya jiraya, aku bersikap seperti ini, karena ia adalah penyebab 'anak' kesayanganku mati, juga karena 'dia'" teriak tsunade.

"namun, alasanmu itu tidak membenarkan kau bertingkah seperti ini, walau bagaimanapun naruto tetaplah cucu kita" balas jiraya dengan nada lembut agar emosi tsunade mereda. "ck, kau bilang aku salah, dia cucuku kita, yang benar saja, aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai cucuku" balasnya.

"kau tidak bisa terus bersikap seperti ini, naruto tetaplah cucu kita dan anak dari 'anak' kesayangan kita kan, jadi aku mohon jangan terus bersikap seperti ini padanya" ujar jiraya.

"walau itu benar, itu tidak akan merubah sikapku padanya, dengar itu jiraya" ucap tsunade.

Aku tidak sanggup mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka, aku berlari tergesa-gesa menuju kamarku, banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku. Jadi, aku bukan anak kandung tou-sama dan kaasan? Siapa orang tua kandungku? Siapa yang tsunade sama sebut dia itu?

End of flashback

Aku sungguh membenci keluarga ini, atas semua perbuatan mereka padaku, semuanya. Dan disinilah aku sekarang terlunta-lunta dijalan, karena minato dan tsunade telah membuangku dengan alasan memasukkanku kedalam sekolah berasrama pada jiji dan kaasan.

Aku muak melihat senyum palsunya dan minato saat diintrogasi kaasan dan jiji. Sudahlah lebih baik aku melupakan kejadian itu sesaat, aku harus segera memikirkan dimana tempatku berteduh malam ini dan apa yang akan aku makan sekarang. Jujur sekarang aku benar-benar lapar.

"hei, anak kecil" sebuah suara menghentikan langkahku, dapat aku lihat sebuah mobil menepi didepanku, dan seseorang keluar dari dalam mobil tersebut. Ia tersenyum lebar kearahku, aku hanya dapat menatap bingung kearahnya.

"kau mau ikut denganku, naruto" aku kaget dengan pernyataannya, apalagi ia tahu siapa namaku. Jika aku memperhatikannya dengan teliti, pria yang ada didepanku ini sangat mirip denganku yang membedakan Cuma mata saja, aku memiliki mata berwarna biru sedangkan ia berwarna lavender.

"kau pasti bingung siapa aku, jika kau ikut denganku, aku akan menjelaskan semua yang akan kau tanyakan" ujarnya padaku yang dapat membaca ekspresi yang aku keluarkan. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia mengajakku memasuki mobilnya.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai, hai,,, ketemu lagi dengan author yang gaje ini, author kembali mem-publikasikan fic baru, heheheh. Tenang aja, untuk fic2 author yang lain, sudah setengah jadi kok. Karena cerita ini sudah agak lama didocument author, akhirnya author mempunyai keberanian untuk meng update nya. Heheheh.

Semoga kalian suka ya, reader-san. Juga jangan lupa read, review dll jika kalian suka heeheheh.

Oke minna...

WF out