Rinko datang lagiiii...
Dengan seenak jidat saya dateng tanpa mengupdate fic sebelumnya. Hehehe.
Raiko: Gue kagak ikut di fic lu kali ini. Lu menyakiti hati gue.
Rinko: Ya udah kalo lu kagak ikut. Siapa juga yang mau.
Raiko: Awas lu ntar. Tunggu pembalasan gue.
Oke tanpa berbasa-basi lagi, Rinko Kurochiki mempersembahkan sebuah fic yang (lagi-lagi) bertema family. Hehehe
Disclaimer: Om kuboo... boleh gak Bleach jadi milik saya? #di keroyok Bleach FC# iya-iya... Bleach punya om Kubo..huweeeeeeee
Warning: Aneh, Abstrak, OOC, EYD masih amburadul, Typo masih gentayangan, Don't like don't read. Muehehehehe
Kaa-san By Rinko Kurochiki (tanpa Raiko)
.
.
.
Kenapa Kami-Sama begitu tidak adil pada kami. Kenapa?
Ichigo Pov
Kata-kata Unohana-San saat itu masih terngiang di telingaku. Membuatku tak mampu untuk berdiri tegak saat ini. Kenapa ini bisa terjadi?
Flashback
Siang itu aku tengah rapat di barak divisi 1 dengan para Taichou yang lain. Sebagai kapten divisi 5, tentu saja aku harus menghadiri rapat itu. Ditengah rapat tersebut, tiba-tba pintu ruangan tersebut di dobrak paksa oleh seseorang. Sontak kami para Taichou yang tengah serius mendengarkan agenda rapat tersebut mengalihkan perhatian pada orang yang mendobrak pintu tersebut. Terlihat Hinamori Momo, fukutaichou dari divisi ku terlihat sangat panik. Aku merasakan ada yang tidak beres disini.
''Su.. Sumimasen deshita, Soutaichou.'' Hinamori menunduk dalam.
''Kenapa kau terlihat panik begitu, Momo?'' Ujarku pada fukutaichou ku ini.
''Ku.. Kurosaki-Taichou, gawat. Pengurus rumah anda mengatakan bahwa Kurosaki-San tidak sadarkan diri. Dan sekarang berada di divisi 4 ''
Ujar Momo dengan nafas yang memburu sekaligus panik luar biasa. Mendengar kabar itu, Sontak aku berlari menuju divisi 4. Di belakangku menyusul Byakuya dan yang lainnya yang kelihatannya juga panik. Ketika aku melihat istriku terbaring di ranjang divisi 4 dengan wajah yang begitu pucat, hatiku benar-benar remuk. Ini sudah yang kelima kalinya istriku, Rukia pingsan. Hal ini terus terjadi apabila Rukia kelelahan. Kuhampiri ranjangnya dan ku genggam erat tangannya.
''Kau baik-baik saja?'' Tanyaku padanya. Kulihat Rukia tersenyum lemah menjawab perkataanku.
''Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir. Calon bayi kita juga begitu.'' Ujarnya menenangkanku.
Senyum bahagia terpancar dari wajahku.
''Maaf Kurosaki-san.''
Terlihat Unohana Taichou menghampiriku.
''bisa... kita bicara sebentar?'' Unohana-san menatapku serius. Ku anggukan kepalaku dan mengikutinya dari belakang. Rukia hanya terdiam melihatku.
''Kau sudah tahu kan Kurosaki -Taichou tentang keadaan kandungan Rukia-san?''
Tanya Unohana-san dengan to the point. Sontak wajahku berubah murung. Unohana=san menghembuskan nafas panjang.
''Kita tidak bisa membiarkan Rukia-san terus mempertahankan kandungan itu. Dengan kandungan yang menginjak usia 7 bulan, aku takut resiko akan bertambah besar.'' Unohana-san menjelaskan.
''Aku tahu. Tetapi, Rukia menginginkan anak itu lahir. Aku tidak dapat mencegahnya.'' Tatapan sendu terlihat di wajah Unohana-san.
Taichou dengan wajah keibuan itu menatap wajahku dengan iba.
''ya. Aku tahu jika ini tidak mudah bagimu. Tapi, alangkah baiknya jika kau ingin Rukia-san selamat kau harus rela membiarkan kandungan Rukia-san digugurkan.''
Mendengar perkataan Unohana-san, Aku hanya menatap sendu langit berawan pada saat itu. Setelah berpamitan pada Unohana-san, aku keluar dari ruangnya. Ku sandarkan tubuhku pada tiang penyangga. Aku tidak dapat mempercayai ini. Kenapa bisa seperti ini. Salah satu orang yang aku cintai akan di ambil. Kami-sama kenapa bisa seperti ini.
Flashback End
Setelah Rukia dinyatakan sudah sehat, Aku dan Byakuya membawanya pulang ke divisi 5. Kubaringkan ia di ranjang kami. Dapat kulihat wajahnya masih pucat. Aku sempat bersikeras agar Rukia di rawat paling tidak 1 hari ini di divisi 4. Tetapi ia menolak dengan alasan ingin di rumah bersama denganku. Tentu saja aku tak bisa menolaknya.
Byakuya berabjak dari tempatnya berdiri. ''Aku akan kembali ke divisiku. Kau sebaiknya istirahat Rukia.'' Ujar Byakuya menasehati.
Byakuya adalah laki-laki kedua yang bisa di bilang protektive pada Rukia.
''Baik, Nii-sama.''
Atas inisiatif Rukia, Aku mengantar Byakuya hingga pintu kamar saja. Seperti biasa, Byakuya akan selalu menasehatiku dengan deathglare andalannya agar aku harus selalu menjaga Rukia. Ya kebiasaan seorang Kuchiki Byakuya.
Setelah Byakuya pergi, aku kembali masuk ke dalam kamar. Begitu melihatku Rukia mengisyaratkan ku untuk duduk di sebelahnya.
''Duduklah di sini, Ichi.'' Rukia menepuk ranjang pelan. Akupun mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
Ia tersenyum lembut sambil membelai pipiku. Di kecupnya pelan bibirku.
''Aku tahu apa yang kau pikirkan, Kurosaki-Taichou.'' Ujarnya seraya membelai pipiku.
''Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ingin kau dan bayi kita dapat hidup.''
Dengan perlahan, Rukia memeluk tubuhku. Disandarkannya kepalanya pada dada bidangku. Wangi lavender tercium di indera penciumanku. Wangi khas tubuhnya. Dirabanya sedikit dada bidangku.
''Kau tahu, demi anak ini aku rela jika harus kutukarkan nyawaku. Aku ingin melihatnya hidup. Aku juga ingin melihatnya tersenyum. Dan...''
Rukia melepaskan pelukannya. Di tatapnya mataku dengan begitu intens.
''...Aku ingin melihatnya tumbuh menjadi anak yang memiliki sifat seperti ayahnya.'' Ucap Rukia sembari meraba perut buncitnya.
Mendengar penuturannya yang begitu mengisyaratkan ia begitu ingin anak ini lahir, membuatku serba salah. Seandainya aku dapat mengganti posisi Rukia, pasti akan ku gantikan. Apa yang harus aku lakukan?
Ichigo Pov end
2 bulan telah terlewati. Hari ini adalah hari dimana Rukia akan melahirkan bayi yang dengan keteguhan hati ia pertahankan. Di ruang tunggu sudah ada Ichigo, Byakuya, Isshin, Renji, Momo, Ishida, Inoue. Sudah hampir 2 jam Rukia berada di ruang bersalin. Ichigo tidak henti-hentinya terus berdoa pada Kami-sama agar berjalan lancar.
Tiba-tiba dari dalam ruang bersalin terdengar suara tangisan bayi. Teman-teman Ichigo dan yang lainnya tersenyum senang mendengarnya. Unohana-taichou keluar dari ruangan terebut. Dapat di lihat wajah nya pucat dan panik. Ichigo segera menghampiri Taichou divisi 4 tersebut.
''Ba.. bagaimana keadaan Rukia?'' Tanya Ichigo dengan terbata-bata. Unohana-Taichou menggelengkan kepala.
''Maaf Kurosaki-san. Rukia-san sekarang dalam keadaan sekarat.''
Mendengar penuturan tersebut, membuat semuanya menatap Unohana dengan tatapan tidak percaya . Sedangkan Ichigo berlari menuju tempat Rukia. Dilihatnya Rukia yang tengah terbaring tidak berdaya dengan Isane yang menggendong bayi mungil tersebut. Melihat Ichigo yang datang, Rukia tersenyum lembut.
''Anak kita perempuan, Ichi. Lihatlah dia begitu cantik.''
Isane menyerahkan bayi perempuan tersebut pada Ichigo. Ichigo tersenyum ketika melihat putri kecilnya tersebut.
''Cantik sepertimu, Rukia.''
''em. Ada dimana Nii-sama?''
Mendengar namanya di panggil, Byakuya segera menghampiri Rukia. Digenggamnya tangan adik peninggalan dari mendiang istrinya tersebut.
'dingin.' Batin Byakuya
''Lihatlah keponakan kecilmu, Nii-sama. Dia cantik kan?'' Rukia membelai lembut rambut raven bayinya yang berada di gendongan ayahnya.
''Iya. Cantik sekali.'' Byakuya tersenyum. Sejenak Rukia memandang wajah suaminya.
''Ichi, bisakah kau tinggalkan kami berdua sebentar?''
Ichigo menganggukan kepalanya ''Tentu.''
Ichigo pergi ketempat Teman-temanya berada. Byakuya duduk di sisi ranjang Rukia.
''Nii-sama tahu kan bahwa waktu yang ku miliki tidak banyak?'' Ujar Rukia lirih. Byakuya mengangguk lemah.
''Aku tahu.''
Mendengar jawaban kakaknya, Rukia tersenyum lemah. Digenggamnya tangan Nii-samanya tersebut.
''Maukah Nii-sama berjanji padaku?''
''Apa itu?''
Rukia melirik Putri kecilnya yang digendong Ayah mertuanya di depan pintu. Senyum sendu terukir diwajah pucatnya.
''Tolong jaga Ichigo dan malaikat kecilnya. Aku ingin saat aku sudah tidak ada di sisi mereka, mereka masih dapat tersenyum.''
Byakuya hanya dapat menganggukan kepalanya mantap. Melihat hal itu, Rukia tersenyum lega.
''Arigatou, Nii-sama. Bisa tolong panggilkan Ichigo kemari?''
''baiklah.''
Byakuya menghampiri Ichigo.
''Rukia ingin bicara denganmu.''
Ichigo segera menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Melihat tatapan sendu suaminya, Rukia tersenyum lembut.
''hey... kenapa wajah mu seperti itu?''
Ichigo menundukan kepalanya ''Bagaimana bisa aku tersenyum melihatmu yang seperti ini.''
Melihat wjah itu membuat Rukia terkekeh lemah. Digenggamnya tangan milik orang yang paling ia cintai tersebut.
''aku memiliki permintaan yang harus kau wujudkan.''
''apa?'' ujar Ichigo lirih.
Dengan tersenyum lembut Rukia mencoba mengalihkan perhatian dengan membenahi haori milik suaminya tersebut.
''Berikan nama Sakura pada bayi kecil kita. Aku telah memikirkan ini sejak dulu.''
Ichigo mengernyit heran.''Bukankah kau bilang ingin memberikan nama Erika?''
Mendengar penuturan suaminya membuat Rukia terkekeh pelan.
''Aku memberikan nama itu karena ia lahir pada saat musim semi. Kau tahu kan, bunga sakura sangat cantik jika sedang bersemi saat musim itu telah tiba. Aku ingin dia bisa secantik bunga sakura.'' Rukia tersenyum simpul. Ichigo hanya menganggukan kepalanya.
'' Dan... yang kedua aku ingin kau menjaganya dengan baik.''
''Aku akan selalu menjaganya. Tenang saja.'' Mendengar penuturan suaminya, membuat air mata Rukia tidak mampu untuk di tahan.
Ichigo yang melihat hal itu segera memeluk tubuh istrinya tersebut.
'Reiatsunya semakin lemah. Tidak mungkin.' Batin Ichigo.
''Dia seperti dirimu, Ichi. Walaupun wajah dan rambutnya sepertiku, tapi dia sepenuhnya mirip denganmu.'' Isak Rukia
''Bagaimana kau tau?'' Bisik Ichigo lirih seraya mengecup leher istrinya.
''Saat nanti dia membuka mata, kau akan tahu. Ku percayakan malaikat kecil kita padamu. Anggaplah ia sebagai reinkarnasi dariku.''
Mendengar penuturan tersebut, membuat Ichigo melepaskan pelukan itu begitu saja dan menatap Rukia intens.
''tidak Rukia. Kau tidak boleh pergi.'' Teriak Ichigo histeris.
Rukia mengelengkan kepalanya lemah. ''Kumohon, jagalah dia dengan baik. Kau bisa kan?''
Ichigo terus menerus menggelengkan kepalanya. Air mata terus menetes dari mata hazelnya. Rukia kembali memeluk tubuh suaminya tersebut.
''Bagaimana kami bisa hidup tanpamu Rukia? Katakan?''
''kau bisa, Ichigo. Aku yakin. Kumohon penuhi permintaanku, hem?''
Ichigo menganggukkan kepalanya lemah. Rukia tersenyum lemah ketika mendapat jawaban 'iya' dari Ichigo.
'sekarang aku dapat pergi dengan tenang.' Batin Rukia lemah.
Perlahan Ia menutup kedua matanya. Dibisikkannya kata terakhir untuk suaminya.
''Arigatou, Ichi. Aku mencintaimu.''
Tepat setelah mengatakan itu, Rukia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ichigo yang menyadari hal itu hanya mampu memeluk tubuh kaku istrinya dan menangis pilu. Teman-teman yang menyaksikan hal itu, hanya mampu menangisi kepergian teman berharga mereka. Isshin Kurosaki memeluk erat cucunya, menangisi kepergian menantunya dan nasib yang dialami cucunya. Tak terkecuali Byakuya yang jatuh terduduk melihat kenyataan pahit ini. Rukia telah menyusul Hisana. Menyusul sang istri yang terlebih dulu meninggalkan dirinya.
To Be Continued
Raiko: ini dia kenapa gue gak mau ikut-ikutan di fic kali ini. Lu sih tragis. Bikin Rukia mati.
Rinko: ya kan ini proyek ane, ko. Kenape ente yang bingung.
Raiko: AH UDAHLAH BODO AMAT. URUS AJA SENDIRI.
Rinko: yah.. dia marah.
Rin mau minta maaf ya karena dengan seenak jidat udah bikin fic baru. Ini Cuma three shoot kok. Maaf ya fic yg Be A Good Daddy belom selesai. Tapi mungkin dalam waktu dekat ini bakalan saya update... hehehe
Back to the topic... ara.. maaf ya kalo ini sedih bngt.. #kalo lho ya#. Saya bikin ini ampe berantem ama Raiko. Dia gak suka kalo Rukia mati. Fic ini terinspirasi ketika saya lagi nyuci baju. Entah kenapa langsung muncul dan daripada mubazir, saya bikin deh.. hehehe. Chapter 2 bakalan langsung di update juga kok... hohoho
Bagi yang mau nyampein unek-unek silahkan boleh. Mau marah-marah karena Rukia-nee di bikin is death juga gak pa''. Rin maklum kok.. hehehe
Raiko: besok gue bikin ashido kano, orang yang paling lu sayangin thu mati di gantung trus di mutilasi jadi 100 bagian ama isi perutnya dimakan SUM*NT*. Terus mayatnya di buang ke kali ciliwung. Gimane, Rin?
Rinko: NII SANNNNNNNNNNNNNNNNN... TEGA BENER SIH. AWAS AJA KALO AMPE IYA. GUE CEKEK LUUUUU.
Byakuya: elah, daripada tambah ngaco ye mending kite nonton lenong. Ok... see you at next chapter...^^
Love you all...
