Persona 4/Golden/Ultimate © ATLUS
Fic by: Crow Inaba
Summary: Petualangan di Inaba rupanya belum selesai sepenuhnya. Izanami memang sudah dikalahkan tiga tahun yang lalu, tapi entitas lain kembali mengancam kediaman yang penuh akan memori bagi Yu. Lalu bagaimana dengan tim yang kini sudah menyebar dengan kesibukan mereka masing-masing? Perlahan, namun pasti, kabut pekat dan kegelapan kelam menutupi Inaba. Lebih mengerikan dari yang sebelumnya.
Attention: This fic is the translated version from the original version in English. Hope you enjoy.
Persona 4: Ultimum Repressio
1: The Armed Blondie
Yasoinaba, 19 September 2015. 12:19.
Membosankan. Ini benar-benar membosankan hingga sulit dipercaya.
Teddie, beruang imut dari Junes duduk dengan tenang di bangku santai foodcourt terbuka. Bekerja sebagai maskot Junes cabang Yasoinaba adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Setiap hari hampir seluruh penduduk Inaba yang mengunjungi pusat perbelanjaan ini. Mau itu hanya melihat-lihat, sampai memborong semua barang yang dapat mereka temui. Pekerjaan Teddie menjadi seperti neraka ketika para ibu menitipkan anak-anak mereka untuk bermain bersamanya. Teddie adalah beruang favorit mereka, dan itu jujur saja, membunuhnya.
Teddie melepas penutup kepala beruangnya, dan mengarahkan kedua mata biru naturalnya ke langit luas. Keringat pengap di kedua sisi wajah dan sekujur tubuh melukiskan suasana dan cuaca hari ini. Pemuda cantik berpakaian kemeja putih berenda tersebut menghela napas panjangnya. Dia kembali mengingat hari-harinya bersama sensei. Satu tahun bersama sensei benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Sensei, di mata Teddie adalah seorang yang membawa cahaya kepada kehidupan serba kosong miliknya. Menciptakan dirinya yang sekarang, ia semakin yakin bahwa sensei adalah pahlawannya tanpa terkecuali.
Lebih dari itu, sensei juga membawakannya teman. Banyak teman lainnya. Sahabat-sahabat setianya yang lain. Yosuke, Chie-chan, Yuki-chan, Kanji, Rise-chan, dan Nao-chan. Oh, tidak lupa Nana-chan si manis. Bahkan rubah itu juga salah satu dari sedikit sahabat Teddie. Tapi tiga tahun ini benar-benar kosong. Kehidupan kosongnya lambat laun merangkak ke arah Teddie. Menyentuh kakinya; menggenggam kakinya; menarik Teddie kembali ke kedalam kesepian. Dia merasakannya lagi—kegelapan akut yang dulu setiap harinya selalu ia rasakan. Tempat yang tidak nyaman. Tak ada siapa-siapa; yang ada hanya kesedihan.
Benar sekali, Teddie adalah salah satu—kalau tidak, manusia paling riang yang pernah ada di muka bumi. Tapi dia bahkan bukan manusia. Dia hanya 'jasad bernyawa' yang terbentuk dari sekumpulan shadows. Untuk mendapatkan makna dalam hidupnya dia hanya membutuhkan mereka yang ia sayang, tidak lebih. Teddie takut kembali 'ke sana'. Sangat takut. Dia sangat takut merasakan kesendirian lagi.
Sensei sudah kembali ke Tokio tiga tahun yang lalu—tepat pada satu tahun kebersamaan mereka. Sekarang ia sedang berkuliah di universitas ternama di Jepang. Dengan kecerdasannya, tidak ada yang aneh. Teddie tahu itu. Sensei adalah orang tercerdas yang pernah ditemuinya. Tapi sensei bukan model orang yang ingin memperlihatkan kadar otaknya. Daripada itu, dia lebih memilih dipanggil banchou satu gang kecil ketimbang pria dengan ribuan pengetahuan.
Terkadang Yu akan menghubungi Teddie untuk menanyakan kabarnya. Tapi tidak sering juga 'sih. Teddie tahu, hanya dari gaya berbicaranya, sensei pasti memaksakan dirinya demi orang lain lagi. Teddie, tidak, semua anggota kelompok tahu orang seperti apa Yu Narukami itu. Jika dia lebih memikirkan dirinya sendiri, jelas dia bukanlah banchou mereka.
Tidak sensei, tidak Yosuke. Mereka berdua sepertinya dibuat sibuk sekali dengan urusan kuliah mereka. Yosuke kini juga sedang mengambil kuliah pada universitas pariwisata di prefektur lain. Sama seperti Yosuke, Chie-chan pulang setahun sekali apabila ia tidak memiliki jadwal kerja. Chie-chan kini bekerja sebagai calon polisi wanita. Dia sangat sibuk. Apalagi ini adalah impiannya 'kan. Tapi, walaupun terkadang Chie-chan menelpon Teddie, sama seperti sensei, kedekatan tersebut terasa kosong entah mengapa.
Yuki-chan saat ini bekerja sebagai manajer hotel Amagi. Kesehatan nyonya Amagi, ibunda Yuki-chan belakangan ini cenderung menurun. Nampaknya beliau sedikit banyaknya memaksakan dirinya untuk bekerja. Yuki-chan mengambil alih tugas si ibu dan memiliki semangat lebih pada pekerjaannya sekarang. Ketika Teddie mengatakan mengenai hotel Amagi yang sibuk, itu berarti tak ada waktu luang untuk bersantai bagi para pegawainya.
Kanji bekerja di rumah sakit lokal Yasoinaba sebagai perawat. Wajahnya memang tetap menyeramkan sampai menakuti tiap anak yang dibawa berobat oleh orang tua mereka. Tapi jangan pernah menilai buku hanya dari cover-nya saja. Kanji melaksanakan tugasnya dengan ketulusan, karena dia, entah mengapa mendapatkan kepuasan tersendiri dari membantu orang lain.
Rise-chan sudah kembali ke Tokio dua tahun yang lalu. Setelah pelajarannya selesai pada tahun pertama, ia berangkat ke Tokio untuk meneruskan karirnya dalam bidang permodelan. Tapi tidak hanya itu, dia kini juga sedang menjajaki impiannya sedari kecil, yaitu desainer pakaian. Menjadi desainer dan model, tidak terbayang kesibukannya. Rise-chan kembali mendapatkan posisinya sebagai bintang muti talent yang dimiliki Jepang. Haah, dia pasti sering ketemu sensei di sana. Nao-chan juga sangat sibuk. Meskipun dia bukan detektif kepolisian, tapi tidak seorangpun yang tidak kenal nama dan prestasi yang sudah diraihnya dalam memecahkan banyak kasus. Ketika Teddie kembali mengingat ini, ia pasti sedang berada di sisi lain dari Inaba.
Nana-chan dan Kanji sesekali datang mengunjunginya, dan itu bisa mengobati rasa rindunya terhadap seluruh sahabatnya. Teddie menghargai niat baik mereka, tapi ketika mereka berdua pulang, Teddie kembali merasakan kesepian dan rindu.
Kuma menggigit bibir bawahnya, memeluk dengkulnya. Oh, betapa dia merindukan hari-hari itu. Bagaimana dia bisa memiliki rasa rindu yang begitu kuat seperti ini? Mengapa mereka tidak pernah mengunjungiku lagi…?
Aku menginkan mereka. Aku sangat ingin bear-temu dengan mereka lagi. Berkumpul bersama lagi. Sangat melelahkan hidup tanpa seseorang yang kau sayang berada di sekitarmu. Baginya, boneka beruang yang terbuat dari shadows, sahabat-sahabatnya itulah hidupnya…
Saat itulah tubuh Teddie mendadak menjadi aneh. Ia merasakan ada yang lucu meliuk-liuk di dalam perut dan menjalar ke kepalanya. Teddie menyentuhkan satu tangannya di kening. Keringat deras kembali membanjiri wajahnya. Rasanya sangat tidak enak. Disamping menusuk-nusuk, sensasi ini membuatnya begitu mual. Mungkin Teddie tidak melihatnya, tapi sesosok bayangan akut dengan sepasang mata berwarna merah kini telah mengambil tempat di dalam kepalanya.
Sepasang mata biru Teddie memucat, kehilangan warna indahnya. Energi seperti kejutan listrik menyambar ke seluruh bagian tubuhnya, membuat badannya menegang akan kejutan.
Teddie terengah-engah sambil memperhatikan sekelilingnya dengan lemah. Untung tidak ada yang melihatnya bertingkah aneh; foodcourt sedang sepi. Dia kembali memakai kepala beruangnya, karena waktu istirahat sudah selesai. Perutnya terasa mual; kepalanya seperti mau meledak. Ada apa ini sebear-narnya? Akhirnya, Teddie tidak bisa menahan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan. Tubuhnya oleng, dan terjatuh ke lantai foodcourt. Menggelap, semuanya menghitam… Teddie kehilangan kesadarannya…
Tokio, 19 September 2015. 22:39.
Malam sudah menyelimuti Tokio semenjak empat jam yang lalu. Namun di tengah malam seperti ini rambut berwarna abu-abu keperakkan tersebut masih dapat berkilau di tengah lorong-lorong sempit antara satu bangunan dengan bangunan lainnya. Yu Narukami, mahasiswa tahun ketiga ToDai (Tokio Daigaku/University) tersebut berlari dengan cepat sembari memegangi perut sebelah kanannya. Dia memburu napasnya, mempercepat langkah dan lompatan kakinya dengan terengah-engah. Yu menembus tiap penghalang yang berdiri di hadapannya. Tong sampah dan tumbukan sampah lainnya kerap kali hampir membuatnya terpeleset. Kemana dia kiranya hingga sampai harus buru-buru seperti ini?
Hampir tidak ada satupun hal yang bisa membuat mantan banchou ini gentar, apalagi takut. Hampir tidak ada. Tapi pada kasus ini, ia harus paling tidak menarik sedikit gelarnya itu. Ya, dia tidak pernah takut menghadang apapun kecuali untuk yang satu ini. Kecuali kepada gadis gila berambut pirang dengan satu set tangan yang jari-jarinya merupakan barel dari gatling gun; membawa seperangkat granat, dan juga seperangkat penuh peluru-peluru cadangan.
Ketika melihat gadis tersebut dan juga barang yang ia bawa, hanya satu hal yang akan kau pikirkan ketika dia mengacungkannya ke arahmu: Lari.
Perempuan itu tiba-tiba menyerang Yu di jalan pulangnya. Bahkan dia tidak sempat menanyakan alasannya, satu peluru kini sudah bersarang di perut sebelah kiri Yu. Sial. Selagi berlari, Yu semakin yakin, gadis itu tidak salah sasaran atau apapun. Jelas sudah, bahwa dia benar-benar ingin membunuh Yu.
Yu semakin mempercepat larinya. Ini memang tidak mudah. Banyaknya halangan di lintasan tempatnya berlari, perut yang tertembus peluru, dan juga sambil mengelaki tiap peluru yang ditembakkan perempuan berambut pirang itu. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya mencari spot sepi bagi dirinya untuk bersembunyi dan menyembuhkan diri. Jika dia bersembunyi sebentar saja, dia bisa memanggil salah satu Persona-nya untuk menggunakan Salvation pada dirinya.
Yu melompati pagar yang kini menjadi penghalangnya. Dengan cepat dan tanpa terlihat sedikitpun oleh si pengejar, Yu segera berbelok ke arah kanannya dan meneruskan larinya hingga menemukan tempat untuk bersembunyi. Ia berlindung di balik dinding runtuh, dan menengokkan kepalanya sedikit. Sial. Hari ini padahal dimulai seperti biasa, tapi ini semua hampir berakhir seperti film horor yang sangat buruk. Ini tidak lucu.
Yu merasakan tangan kanan yang berada di perutnya kini sudah banjir oleh darah. Yu semakin pusing karena kehilangan cukup banyak darah. Pandangannyapun semakin mengabur dan tidak fokus.
Dia mengangkat satu tangannya, memberikan tenaga lebih pada telapaknya. Sekejap saja, sekilat warna biru memunculkan kartu tarot bergambarkan III Empress. Yu menggenggam kartu tersebut dengan sedikit tenaga, membuatnya pecah berhamburan menjadi fragmen-fragmen beling kecil. "Isis,"
Dewi Mesir kuno menampakkan dirinya di hadapan Yu. Sosok dewi tersebut meletakkan kedua tangannya di hadapan dada, dan menatap Yu untuk menunggu perintahnya.
Yu merobek baju kemeja putihnya. Kini ia membiarkan lukanya terbuka. Yu menggertakkan giginya, membiarkan jari-jemarinya menggerayangi luka bakar berdarahnya. Pria tersebut memasukkan jarinya, dan mengeluarkan sebutir timah panas berdiameter 0,5mm. Yu memicingkan kedua matanya, tidak bisa menahan rasa sakit dan panas yang dideritanya. Dia melempar peluru tersebut, sebelum akhirnya dapat bernapas dengan sedikit lega. Ia menatap Isis dan mengangguk kepadanya.
Isis menggunakan Salvation pada Yu, mengerti akan kondisi master-nya. Dinding cahaya berwarna putih caramel menutupi tubuh Yu. Sedikit demi sedikit luka bakarnya menyembuh dan tertutup dengan sendirinya. Ketika seluruh rasa sakit itu perlahan menghilang, Yu dapat menyenderkan tubuhnya dengan lebih santai mempertahankan kesadarannya.
Isis kembali menjadi kartu selagi Yu menengokkan kepalanya guna mengintip. Apakah wanita itu sudah menjau-
"Yu Narukami," ucap si gadis pirang dengan begitu dingin. Seperti tidak memiliki emosi. "Akhirnya, aku menemukanmu,"
Pria itu terkejut menemukan pengejarnya menodongkan jari-jemari berlarasnya tepat di hadapan wajah Yu. Demi Izanagi. Dengan senapan mesin yang diarahkan tepat di depan hidung Yu, hampir tidak mungkin lagi melakukan apa-apa untuk membela diri. Apalagi luka di perutnya baru saja sembuh. dan itu sama sekali tidak membantunya untuk langsung aktif bergerak.
Tubuh Yu terus menegang, merasakan kedua mata biru pekat nan dingin yang dimiliki si gadis pirang di hadapannya saat ini. Yu kembali menggeramkan rahangnya, menyadari takdir yang tidak bisa dielakinya.
"… Baik." ujar Yu. "Tapi paling tidak katakan kepadaku alasanmu mengincar nyawa-"
"Orang mati tidak perlu mengetahui 'kebenaran',"
*Dor!*
|To the Next|
A/N: Review sangat diharapkan. Seperti yg sudah saya tekankan di atas, fic ini adalah fic saduran dari fic original saya dlm English, yang berjudul Ultimum Repressio. Aku suka beberapa kata dibawakan langsung dari bhs inggrisnya. Mungkin di chapter depan, saku akan menggunakan beberapa. Oh y, ada yang tahu siapa si pembunuh? Jadi silahkan masukannya. Apa saja yang terlintas di dalam benak Reader semua. See u in the next installment.
