Title: Glass/Yoori.

Author: Meonk and Deog.

Genre: Angst, romance, hurt/comfort.

Rate: M.

Pairing: HaeHyuk.

Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZhouRy, KangTeuk, Hanchul, YeWook.

Cast: All super junior member.

Discleimer: Hae punya Hyuk, Hyuk punya Hae dan HaeHyuk milik kami berdua #Dinikahin eyang subur. Oke kita ulang. Semua cast di fanfict ini murni milik diri mereka sendiri dan tuhan, namun cerita ini murni milik kami berdua.

Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, gaje, abal, pasaran, gak mutu, tidak sesuai EYD, penyebab kutu air, malaria, dan penyakit cacing yang berkepanjangan #plak.

Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri"

YOU CAN BASH AUTHOR OR THIS STORY, BUT FOR CAST I CANT TOLERIR THAT!

Meonk and Deog… P-R-E-S-E-N-T.

Chapter 1.

.

.

.

Hyuk Jae Pov.

Wajahnya terlihat lebih tenang dari saat ia membukanya matanya. Malam semakin dingin rengkuhannyapun semakin kuat mengapit tubuhku namun entah mengapa hal tersebut tidak benar-benar menghangatkan tubuhku. Aku tahu dia menutup matanya dan aku tahu juga dia tidak benar-benar tertidur.

"Besok kau kosong?" Ucapku ditengah rengkuhannya. Dia terdiam sejenak. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin orang itu, mungkin juga aku, dan tidak menutup kemungkinan bahwa itu dirinya sendiri.

"Tidak benar-benar kosong, jam 7 aku ada interview hingga jam 10 lalu kembali pemotretan jam 3 sore, mungkin selesai jam 9 malam. Tidurlah, aku lelah…" Balasnya pelan. Kepalanya ia letakkan diatas kepalaku sementara kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk tubuhku.

"Besok dia datang dari jepang bukan? Ini pertemuan kalian sejak 6 bulan lalu. Kau menemuinya besok?" Tanyaku lagi. Ia menggeleng dikepalaku, aku tidak melihatnya tapi aku merasakannya. Pelukannya makin erat, dan hal tersebut membuatku semakin sesak.

"Jangan bicarakan dia, jangan membuat hatimu semakin sakit. Bagaiamanapun caranya, aku akan berusaha agar semua ini berakhir sesuai dengan keinginan kita." Balasnya.

Aku mengangguk paham lalu membalas rengkuhannya. Mataku terpejam sesaat, deru nafas yang teratur dari keterlelapanku-pun hampir terdengar namun sebuah suara baritone dari smart phone yang kuyakini milik Dong Hae memecahkan segalanya.

Satu tangannya beralih mencari smart phonenya diatas meja dekat bed kami, sementara tangannya lagi tetap merengkuh tubuhku. Kubalikkan tubuhku berhadapan dengan wajahnya, menatapnya lekat seolah ia benar-benar milikku. Aku ingin hal itu benar-benar terjadi…

"Yeobsaeyeo?" Ia mulai mengangkat telpon. Aku tidak mendengar percakapan penting yang bisa kucerna dengan mudah kedalam kepalaku. Hanya sebuah ucapan pelepas rindu selama 6 bulan ini. setelah 5 menit bercakap-cakap ia memutuskan koneksi telponnya. Kembali pada posisi yang sebelumnya. Memeluk erat tubuhku dan meletakkan kepalanya diatas kepalaku.

"Sungmin?" Sebuah pertanyaan yang sudah kuketahui pasti jawabannya. Tapi demi sebuah perasaan abstrak hal tersebut masih tetap kupertanyakan.

"Hmm…" Dehemnya singkat.

Hyuk Jae Pov END.

.

.

.

Author Pov.

"Fiuh…" Seorang wanita bertubuh sedikit berisi dan berwajah manis mulai menghela nafas panjang. Hal itu diakukan mungkin untuk melepas segala kegelisahan yang menderanya. Apa itu? Biarkan dirinya sendiri menjelaskannya, mungkin jalan terbaik untuk mengerti cerita cinta ini lebih mudah.

"Sungmin noona!" Seorang pemuda berambut sedikit ikal memanggil wanita itu dengan sangat lembut. Tidak lupa ia menambahkan senyuman manis diwajahnya yang terbilang tampan.

Langkah panjangnya mulai terbiasa menyusuri jalan tempat wanita tersebut berada. Hingga sebuah pelukan hangat membuat jarak diantara mereka benar-benar hilang.

"Nomoo bogoshippeo." Kata namja berambut ikal ini ditengah rengkuhan hangatnya. Sungmin terdiam meresapi sebuah kehangatan dalam setiap jengkal jarak yang memisahkan mereka. Sebuah jarak yang sangat tabu untuk dapat dimengerti dalam fungsi otak manusia.

"Eum… Nado" Balasnya lembut ditengah pelukan sang laki-laki.

Banyak orang yang memperhatikan kegiatan mereka ditengah keramaian lobi hotel tersebut, namun sepertinya dua insan ini tidak memperdulikannya. Mereka masih sibuk menghangatkan tubuh satu sama lain, entah hanya alasan menghangatkan tubuh atau ada alasan lain. Yang jelas hal tersebut tidak benar-benar terlihat dari raut wajah mereka.

.

.

.

Bulan mulai mengalah untuk bersinar dan membiarkan rival sekaligus penyelamatnya untuk mengambil alih segala pesona yang dimilkinya. Menjawab segala pertanyaan bahwa bulan memang ditakdirkan untuk selalu menjadi bayangan sang surya angkuh didepan sana.

Fajar kelabu mulai mengiringi angkasa Seoul dengan corak merah yang dimilikinya. Sebuah keindahan nyata yang mungkin enggan untuk diakui banyak orang. Sama seperti sosoknya yang begitu mempesona namun sebuah cahaya kembali memantulkannya… kaca yang lebih indah dari secercah cahaya pagi.

Seorang pria yang sangat bisa dikategorikan tampan tengah duduk angkuh dikursi balkon apartement mewahnya. Menyesap teguk demi teguk cairan kental berwarna hitam pekat yang bisa mengelak rasa kantuk yang mungkin saja masih menderanya.

Menepis rasa dingin yang masih melekat dilangit pagi tersebut. Matanya sedikit terpejam saat dirasa sebuah lengan kurus seputih susu melingkar dilehernya.

"Kau sudah bangun? Sepagi ini?" Tanya sipemilik lengan tepat ditelinga Dong Hae.

Ya Dong Hae. Nama namja dengan wajah tampan yang sedari tadi terus melamunkan sesuatu, yang entah apa yang sedang dilamunkannya.

"Bukankah sudah kukatakan aku ada interview dan pemotretan. Mereka akan menjemputku sebentar lagi. Kau tidur saja, kurasa kau lelah." Balasnya. Si namja kurus terdiam sebentar lalu mengangguk paham.

Dong Hae membalikkan wajahnya berhadapan dengan si namja kurus, mengecup bibir plum tersebut sekilas lalu beranjak dari tempat duduknya. Belum sempat ia beranjak beberapa langkah, tangan kurus nan lemah itu telah menahannya. Menahannya untuk beranjak lebih jauh…

Ia menarik tengkuk Dong Hae cepat lalu melumat bibirnya kasar. Dong Hae terlihat terkejut namun tidak lama setelah itu ia terlihat terbiasa bahkan menikmatinya. Namun sebuah suara memaksa mereka menghentikan kegiatan pagutan dan lumatan dipagi hari tersebut.

"Ayo kita sudah terlambat!" Ungkap suara baritone yang sukses mengganggu acara mereka tadi dengan nada yang sangat kesal.

Laki-laki paruh baya yang diindetifikasikan sebagai manager Dong Hae itu terlihat marah dan memandang Hyuk Jae dengan tajam.

"Kau tunggu dibawah, aku akan segera kesana." Balas Dong Hae lagi.

Sang manager mengangguk paham lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Hening sementara Hyuk Jae terlihat menunduk menahan rasa malunya. Bukan, bukan rasa malu karena orang itu melihat mereka sedang berciuman namun rasa malu yang lebih mendalam dari hal tersebut.

Dong Hae yang seakan mengerti ketakutan sang kekasih membawa Hyuk Jae kedalam pelukannya. Membiarkan suhu mereka menyatu satu sama lain.

"Jangan khawatir! Aku akan mengganti nomor pin dan melarang mereka masuk sembarangan lagi. Kau tenang saja…" Jelas Dong Hae berusaha menenangkan sang kekasih.

Hyuk Jae terdiam, ia tidak membalas ucapan Dong Hae. Apalagi yang harus ia katakan, toh Dong Hae juga selalu tahu apa yang dipikirkannya. Jari-jemari lentik Dong Hae menyusup kesurai-surai cokelat sang kekasih. Berniat memberikan ketanangan, dari sentuhan-sentuhan halusnya.

Hyuk Jae menutup matanya berusaha meresapi semua sentuhan halus Dong Hae namun ia sadar kondisinya sekarang memaksanya untuk tidak melakukan hal tersebut lebih lama lagi.

"Pergilah…, kurasa dia sudah sangat kesal menunggumu." Ucap Hyuk Jae lalu melepaskan pelukan mereka. Dong Hae mendengus kesal. Ia berjalan malas keluar apartement.

"Sebaik apapun kau berusaha menyembunyikan diriku, entah itu sekarang atau suatu saat nanti. Semua orang akan menyadari keberadaanku…" Ucapnya lirih entah kepada siapa, tepat sesaat setelah pintu apartement tersebut tertutup. Mungkin ia mengungkapkannya pada angin.

.

.

.

Pagi terlihat normal dikediaman megah keluarga Choi Si Won. Acara sarapan mereka tampak hening, hanya suara dentuman sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik mewah yang menghiasi pagi tersebut.

"Kudengar Sung Min dalam perjalanan ke Korea." Ucap seorang yeoja cantik memecah keheningan.

Jika dilihat dari luar ia memanglah seorang yeoja, paras yang luar biasa cantik, senyum yang manis, kulit seputih salju, dan tubuh ideal layaknya seorang model yang berlenggak-lenggok sempurna diatas catwalk. Namun bisakah kalian memperhatikannya lebih seksama lagi?

Yeoja yang kami sebut yeoja tadi tidak benar-benar seorang yeoja. Namanya Kim Ki Bum, seorang namja dengan paras luar biasa menawan. Pakaian wanita dan wig yang mengcover dirinya hanyalah sebuah tipuan belaka.

Kim Ki Bum adalah salah satu namja konglemerat juga novelis terkenal dinegaranya. Lalu mengapa ia harus mengenakkan pakaian wanita? Jawabannya adalah Choi Si Won.

Choi Si Won namja nyaris sempurna dengan kekayaan melimpah tersebut adalah suaminya. Kalian terkejut? Bagaimana bisa namja dengan namja menikah? Sekali lagi jawabannya adalah doktrin-doktrin keluarga konglemerat tersebut yang membuat keadaan memaksa mereka melakukan hal yang bisa dibilang sangat tabu di Asia.

Demi seorang Choi Si Won, Kim Ki Bum harus mengelabui semua orang yang berada didekatnya, ia tidak mau sang suami mengalami masalah besar karena menikah dengan seseorang dari gender yang sama dengannya.

Kalian berpikir Kim Ki Bum sangat mencintai Choi Si Won? Itu salah besar! Kim Ki Bum sangat enggan memberikan hatinya pada namja bernama Choi Si Won tersebut. Si Won menyakitinya, membuatnya berada pada dua titik terburuk. Jadi haruskah ia mencintainya?

Si Won memang sangat mencintai Ki Bum, namun hati Ki Bum mungkin milik orang lain. Orang lain yang mungkin lebih rendah dari seseorang bernama Choi Si Won.

"Eummm…" Jawab Si Won singkat ditengah acara makannya. Suasana hening kembali.

"Lalu bagaimana dengan Dong Hae? kurasa ini situasi yang sulit baginya." Ucap Ki Bum. Si Won tak langsung menjawab, ia diam sebentar. Memikirkan sesuatu yang mungkin bisa mengurangi rasa penasaran sang istri.

"Dia orang yang kuat, aku yakin dia pasti memiliki cara yang jauh lebih baik dari ini. Nanti malam ada acara makan malam keluarga, ayah ingin kita datang. Karena makan malam ini adalah makan malam pertama kita bersama keluarga Tan sejak 6 bulan lalu, kurasa sekaligus membicarakan pernikahan Sung Min dan Dong Hae" Jelas Si Won panjang lebar yang langsung dibalas anggukkan mantap oleh Ki Bum.

"Nanti siang aku ada acara dengan Henry, mungkin aku tidak bisa menjemput Shindong. Kau jemput dia, bisa?"

Si Won mengangguk paham. Namun raut wajahnya tiba-tiba berubah mendengar nama Henry. Tidak jelas apa yang ditakutkan Si Won pada namja bernama Henry tersebut.

"Henry Lau lagi?" Selidik Si Won. Ki Bum mengangguk. Ia paham betul apa yang ada dipikiran suaminya saat ini.

"Hubungan kami hanya sebatas hyung dan dongsaeng, jangan berlebihan!" Jelas Ki Bum. Si Won terdiam. Ia tidak bisa bicara apapun lagi. Namja manis bernama Henry tersebut, entah sejak kapan ia merasa perlahan-lahan sudah masuk kedalam celah hati Ki Bum.

Celah kecil yang bahkan belum pernah Si Won rasakan. Berulang kali ia mencoba membuang pikiran kekanakkan tersebut namun bukannya menghilang, rasa curiganya berangsur menjadi opini dan memaksanya mempercayai hal tersebut.

Penjelasan dari Ki Bum? Sudah berulang kali ia memintanya. Namun yang Si Won dapatkan hanyalah sebuah kata-kata menggantung yang tidak mampu menjelaskan semua hal tersebut, bukan hanya tidak mampu namun juga membuatnya semakin sulit.

.

.

.

Pagi ini bukanlah pagi yang benar-benar indah bagi seorang wanita bernama Sung Min. Ia tahu pagi ini adalah salah satu pagi yang paling dinantinya karena sebentar lagi ia akan menemui sang kekasih yang bisa dibilang sudah sejak lama tidak ditemuinya.

Namun kenangan-kenangan yang menyeruak masuk begitu saja tidak lantas membuat pikirannya benar-benar tenang. Ketakutannya pada seseorang yang mungkin saja baginya akan merebut Dong Hae darinya muncul seketika. Orang itu tidak setinggi dirinya, orang tersebut adalah orang rendahan yang menurutnya hanya sampah dunia namun ia begitu takut pada orang itu.

.

.

.

"Orang itu begitu menjijikkan, kau tidak pantas bersamanya noona. Dia gay, dia menghancurkanmu…" Ucap seorang pemuda tampan lirih, ditengah pergelutannya dengan selimut. Memecah keheningan yang sejak lama melanda suasana Sung Min.

Sung Min mengelak, ia menggeleng lemah. Bukan Dong Hae yang menghancurkan dirinya, namun orang itu. Orang itu menghancurkan Dong Hae dan dirinya.

"Kau tidak bisa mengelak lagi. Elakkanmu secara tidak langsung membenarkan pernyataanku tadi." Ucapnya ketus.

Lagi dan lagi, yang bisa Sung Min lakukan hanya menggeleng. Dengan sekuat tenaganya ia memberanikan diri menatap laki-laki yang sejak tadi mengawasinya.

Jarak mereka lumayan jauh, Sung Min duduk disofa kamar hotel yang berhadapan tepat dengan smart tv berukuran besar, sementara laki-laki tersebut duduk dipinggiran tempat tidur.

Cukup jauh, namun ekor mata Sung Min tetap mampu menangkap siluet laki-laki tampan tersebut dengan jelas. Hening sementara, Sung Min tampak memikirkan apa yang harus dikatakannya.

"Kau mencintaikukan Kyuhyun-ah? Sama sepertiku yang begitu mencintainya…" Jawab Sung Min lirih pada laki-laki bernama Kyuhyun tersebut.

Tanpa sadar setetes buliran bening sebening kristal, melesat jatuh dari matanya. Air mata yang sudah sejak lama tidak bisa dibendungnya, dan saat ini jatuh seketika.

Memperlihatkan titik terlemahnya pada namja yang begitu mencintainya. Kyuhyun namja tersebut merasa bersalah, baru kali ini ia membuat Sung Min menangis. Terlebih lagi karena perkataannya yang menyakiti hati Sung Min. Melihat orang yang kau cintai menangis begitu menyakitkan bukan?

Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya, meraih badan Sung Min dan memeluknya erat. Membiarkan Sung Min menangis dalam dekapannya. Bukannya menghentikan tangisnya, isakkan Sung Min malah terdengar makin keras.

Dalam hati Sung Min benar-benar merasa bersalah pada Kyuhyun. Namja yang sudah sejak lama memberikan cinta yang begitu besar pada Sung Min namun dengan bodohnya Sung Min menolak cinta tersebut, dan jatuh pada pesona seorang Choi Dong Hae.

Sung Min wanita yang bodoh? Memang benar. Menolak Kyuhyun yang begitu mencintainya, bahkan tetap mencintainya walaupun Sung Min sudah memiliki orang lain dihatinya dan malah memilih bajingan seperti Dong Hae.

.

.

.

"Gege turunkan aku disini saja." Ucap seorang namja manis pada namja yang jauh lebih tinggi padanya. Namun belum sempat namja manis tersebut mengeluarkan seluruh tubuhnya dari mobil, tengkuknya sudah ditarik kedalam lagi oleh namja tampan bertubuh tinggi tersebut. Membawa bibir namja manis tersebut menempel tepat dibibir merahnya.

"Mmph…!" Namja manis tersebut terlihat meronta, memukul-mukul dada namja yang menciumnya lemah. Didepan umum dan mereka sesama namja. Siapa yang tidak akan berspekulasi buruk tentang mereka?

"Mmph..!" Ciuman mereka berubah menjadi lumatan-lumatan kasar, membuat namja manis tersebut mengerang menginginkan udara. Nafasnya hampir habis dan namja tinggi tersebut tidak berhenti melumat bibirnya kasar.

"Ah…!" Ia mendorong namja tinggi tersebut kasar hingga punggung namja tinggi tersebut sukses membentur pintu mobil.

"Hosh! Hosh! Hosh!" Nafasnya terengah-engah akibat ciuman gila tersebut, namun sipelaku hanya memamerkan senyum tak berdosa padanya.

"Zhoumi gege!" Rengeknya imut tidak lupa dengan bibir yang dipoutkan yang dipastikan membuat banyak orang gemas melihatnya. Orang yang dipanggil Zhoumi hanya tersenyum lalu mengecup pipi namja manis tersebut cepat.

"Pergilah… mochiku. Nanti sore kita berkunjung kemakam ayah dan ibu." Ucapnya singkat setelah mencium pipi setembem mochi tersebut. Yang dipanggil mochi mengangguk paham, lalu menutup pintu mobil yang masih terbuka tersebut.

Zhoumi membuka kaca mobil, menyunggingkan senyum sejuta voltnya pada namja manis tersebut. Lalu menjalankan mobilnya pergi meninggalkan sang mochi. Henry, nama namja yang dipanggil mochi tersebut melambaikan tangannya lalu berbalik arah berjalan menuju kantornya.

Namun betapa terkejutnya ia melihat namja cantik yang tengah mematung memperhatikan semua kegiatannya tadi. Wajah namja cantik tersebut sudah sukses dibanjiri air mata. Langkah Henry tercekat seketika. Orang yang dicintainya melihat hal tersebut…

"Ki…Ki Bum…hyung…" Ucapnya tergagap. Ki Bum membalikkan badanya lalu berjalan cepat menuju kantornya. Henry yang melihat hal tersebut terlihat gelagapan, kakinya ingin ia gerakkan.

Namun entah mengapa semua terasa kelu, kakinya terasa membeku. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa.

.

.

.

"Kau memanjakannya hingga jadi seperti ini." Ucap seorang namja bersuara khas ditengah istirahatnya disiang hari yang sangat bisa dibilang melelahkan dan sangat padat.

Mengistirahatkan dirinya ditengah ruang tamu mewah bergaya klasik eropa. Dihiasi berbagai lukisan-lukisan mahal yang terlukis hanya untuk orang-orang ternama saja, tidak lupa pigura-pigura dirinya bersama keluarganya terlihat anggung menggantung disamping perapian bergaya tak kalah klasik.

Seorang yeoja paruh baya yang memiliki paras luar biasa cantik tersenyum lembut menanggapi keluhan sang suami yang sudah sering diterima oleh kedua telinganya. Ia memotong jarak antara dirinya dengan sang suami. Meletakkan kepala sang suami kepangkuanya.

"Biarkan dia bahagia, sudah cukup kita menekannya. Jangan lakukan apapun lagi yang lebih menyakitinya." Sergahnya dengan suara sangat lembut.

Jemari-jemari lentiknya menyusup lembut kedalam surai lembut sang suami. Membuat laki-laki yang sudah sejak 35 tahun lalu bersamanya ini nyaman menerima kehangatan sang istri.

"Membiarkannya melakukan itu, berarti membiarkan perusahaan yang sudah lama kurintis hingga sekarang hancur begitu saja. Lalu keesokan harinya kau akan melihat mayatku mengambang disungai Han." Jawabnya sarkatis.

Yeoja cantik tersebut terdiam sejenak, ia menghela nafasnya. Berusaha mencari cara lain agar suaminya yang terkenal kekeh tersebut mendengarkan sarannya. Setidaknya hanya untuk mendengarkan. Keadaan Dong Hae dua tahun ini memang sangatlah buruk, tepatnya sejak ia bertemu dengan Hyuk Jae.

Tidak, bukan Hyuk Jae yang membuat Dong Hae menjadi hancur seperti ini. Melainkan keadaan yang memaksanya melakukan hal tersebut. Keadaan yang terlalu mengikatnya dengan erat. Dan hal tersebut mampu membuatnya sebagai seorang ibu merasa tersakiti.

Ya! Walaupun ia sadar bahwa ia bukan ibu kandung Dong Hae tapi tinggal bersama anak itu selamat 26 tahun mampu membuatnya sangat, bahkan lebih menyayangi Dong Hae daripada anak kandungnya sendiri.

"Huh…" Ia menghela nafas pelan. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang mampu membujuk suaminya menggagalkan rencana yang menurutnya konyol tersebut.

.

.

.

"Eomma bogoshippeoyeo!" Teriak yeoja tersebut setelah melihat kedatangan seorang yeoja paruh baya yang benar-benar cantik. Ia menghambur kepelukan yeoja tersebut. Menghalau semua rasa rindu yang ada dihatinya. Sementara sang yeoja tersebut membalas pelukan yeoja yang lebih kecil darinya tersebut lembut.

Mereka berpelukan lama, mengacuhkan orang-orang yang berada disekitar mereka. Yah… mereka merasa terganggu. Hingga suara baritone dari seseorang menghentikan kegiatan tersebut.

"Hei! Apa ibumu saja yang kau rindukan? Kau tidak merindukan ayahmu? Sung Min-ah." Ungkap namja tersebut dengan suara yang bisa dikategorikan sangat lembut.

Perawakannya sangat tampan. Dengan kulit putih, hidung mancung dan badan yang tegap. Tidak akan ada yang mengira bahwa usia namja tersebut sudah hampir menginjak 50 tahun.

Yang dipanggil Sung Min mendongakkan wajahnya, lalu tersenyum manis. Ia memang sudah lama tidak bertemu ayahnya namun entah karena apa ia malah merindukan ibunya yang baru saja 1 bulan yang lalu menemaninya di Jepang.

"Bogoshippoyeo appa!" Ucap Sung Min manja lalu beralih kepelukan sang ayah.

Kim Heechul, ya wanita yang dipanggil ibu oleh Sung Min tersebut adalah Kim Heechul, sementara Tan Hankyung adalah suami dari Heechul dan tentu saja ayah Sung Min.

Kekayaan keluarga mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Tan Hankyung adalah namja keturunan China Korea, ia menjadi seorang CEO diusia muda dan melanjutkan perusaahaan keluarga. Marafell corporation adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan dan mengusai pasar asia bahkan dunia.

Sedangkan Kim Heechul adalah anak pertama dari mantan priseden Korea. Ia salah satu pemilik saham tersebut ditoserba dan hotel Jello yang bahkan dinobatkan sebagai salah satu hotel terbaik di Korea.

Menyebut mereka amat konglemerat memang tidak berlebihan, melihat betapa berkuasanya keluarga tersebut, bahkan kata amat konglemerat agak tidak pas ditunjukkan pada keluarga mereka. Heechul menggerutu kesal, wajahnya yang amat cantik dan elegan seperti enggan untuk diabaikan.

"Kalian benar-benar! Ayo cepat! Keluarga Choi sudah menunggu kita sejak lama! Aku tidak ingin imageku memburuk hanya karena masalah sekecil ini." Gerutu Heechul. Mendengar kata-kata Heechul yang menyebutkan keluarga Choi langsung membuat Sung Min mendongakkan kepalanya.

"Apa Dong Hae oppa juga datang?" Tanya Sung Min antusias.

Heechul tidak menjawab, ia langsung pergi meninggalkan appa dan anak yang sedang menatapnya bingung.

.

.

.

Hening…

Lama tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Sepertinya salah satu dari mereka enggan untuk berucap walau hanya sepatah katapun. Hanya suara nafas yang keluar dari diri masing-masing yang menghiasi heningnya suasana tersebut.

"Hyung…" Ucap Henry parau. Ia tidak tahu harus bicara apa sekarang. Mengelakpun percuma. Jika mengaku? Hancur sudah semuanya. Keadaan semakin buruk, karena Ki Bumpun tidak mau bicara.

Ki Bum mengalihkan pandangannya pada kaca luar mobil. Menahan tangisnya, ia tahu ia juga ikut andil dalam permasalahan cinta yang menurutnya bodoh ini. Namun apa daya, hatinya juga merasa sangat sakit.

Melihat orang yang kau cintai, bukan! Orang yang ingin kau cintai mencium namja lain. Terlebih namja tersebut adalah kakak dari orang yang kau cintai. Incest? memang gila mengetahui kenyataan tersebut. Namun lagi-lagi apa daya, kau tidak bisa mengubahnya menjadi fatamorgana karena hal tersebut memang nyata adanya.

Ki Bum mengusap air mata yang telah menggenang sempurna dipelupuk matanya. Ragu-ragu ia menatap wajah Henry. Sungguh ia ingin sebuah penjelasan, walaupun ia sudah sangat mengerti tanpa sebuah penjelasan.

"Aku…, aku sudah menduganya sejak awal. Namun ini hanya sebuah dugaan, aku masih mencoba menyangkalnya. Namun semakin hari hubungan kalian semakin menjanggalkan dan hal tersebut memaksaku berbuat lebih jauh. Henry-ah hubungan kalian itu incest, tidakkah kau berpikir itu sangat gila" Terang Ki Bum dengan nada paraunya.

Matanya semakin sendu, air mata lagi-lagi melesat bebas membasahi pipinya.

"Demi tuhan, hanya hati nuraniku yang membawaku kedalam pelukannya! Aku sadar hal ini salah, tapi aku benar-benar sulit menolaknya. Dia membesarkanku sejak orangtuaku meninggal dan aku yakin aku tidak punya hak untuk menolak perasaannya. Ini juga sangat sulit bagiku, sama seperti kau yang sulit menempatkan perasaan Choi Si Won." Jelas Henry panjang lebar.

Benar! Ia memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Henry. Perasaannya pada Si Won memang benar-benar menyakiti Henry sekarang, entah perasaan apa yang pasti baginya hal tersebut masih sangat ambigu. Ia tidak benar-benar membenci Si Won dan ia juga tidak benar-benar mencintai Henry. Yang pasti ia telah menarik Henry kedalam pusaran dalam yang sangat sulit mereka hindari.

"…" Ki Bum terdiam, lagi-lagi ia mengalihkan pandangannya pada objek sederhana yang menjadi pemandangannya favoritnya saat ini.

Hening kembali. Henry menutup matanya berusaha menstabilkan emosinya, sementara Ki Bum masih sibuk memandang jalanan dari balik kaca mobil.

"Semua ini akan berhenti jika hyung menceraikannya. Aku akan benar-benar menjadi milikmu! Demi apapun hatiku hanya milikmu!" Tegas Henry.

Ki Bum tidak menjawab ucapan Henry, baginya tidak ada gunanya menjawab perkataan Henry saat ini. Membuatnya semakin rumit dan semakin rumit saja.

Henry yang terlihat tidak puas dengan respon Ki Bum menarik tangan Ki Bum. Mendekatkan wajahnya dengan wajah putih nan mulus milik Snow White tersebut, lalu mengecup bibir merah nan merekah milik Ki Bum. Lagi-lagi Ki Bum tidak merespon ciuman lembut Henry, ia hanya menutup matanya. Berusaha meresapi rasa manis yang mengecap sempurna dibibirnya.

Henry melepas tautan mereka. Lalu membawa Ki Bum kedalam pelukan hangatnya. Mengelus lembut surai sehitam arang milik namja kelewat cantik tersebut.

"Kapan kau akan menceraikan Choi Si Won untukku?" Tanya Henry lembut tepat ditelinga Ki Bum.

Ki Bum tercekat mendengar perkataan Henry. Matanya membluat sempurna, menceraikan Si Won tidak pernah ada dalam pikirannya, dan membiarkan Henry pergi dari pelukannya tidak bisa ia biarkan.

Ki Bum menggeleng pelan, isakkannya makin terdengar. Henry tersenyum getir. Tanpa Ki Bum menjawab pertanyaannya-pun ia paham betul apa yang ada dipikiran Ki Bum. Sebuah ketidak pastian yang lambat laun pasti menghancurkan hubungan ambigu tersebut.

.

.

.

"Merenung lagi? Apa yang kau renungkan?" Sergah Hyuk Jae lembut pada namja mungil yang tengah melamun menatap kaca café dengan wajah yang ditumpu oleh kedua tangan.

Ia menggeleng pelan. Mempoutkan bibirnya lalu menatap sang kakak yang sudah sejak beberapa menit lalu mematung duduk berhadapan dengannya. Kopi yang dipesannyapun sepertinya sudah tidak bisa dikategorikan hangat apalagi panas.

"Kau masih terlalu kecil menjalin hubungan dengan si kepala besar itu! Dia bodoh dan jauh lebih tua darimu! Apa kau mau melihat kakakmu mati? Setidaknya cari seorang wanita yang bisa memberimu keturunan!" Jelas sang kakak.

Ryeowook namja mungil tersebut mendengus kesal. Matanya memicing menatap onyx sang kakak tajam.

"Kau menyuruh adikmu menjadi namja normal padahal kau sendiri gay! Bahkan kau lebih parah dariku! Dan apa-apaan kepala besar? Dia itu temanmu hyung!" Balas Ryeowook sengit. Yang dipanggil hyung terkekeh geli.

"Lebih tepatnya musuh! Bukan teman. Café seramai ini, tapi dimana semua pegawai?! Apa mereka mau membuatku bangkrut?!" Ocehnya kesal. Ia menatap sekeliling café yang memang dipenuhi banyak pengunjung, sementara hanya ada beberapa pegawai yang terlihat kewalahan melayani banyak tamu.

"Hyung menginaplah dirumah. Aku rindu masakanmu…" Rengek Ryeowook dengan puppy eyesnya. Hyuk Jae kakak dari Ryeowook tersenyum geli lalu mengacak rambut sang adik. Membuat sang adik mendengus kesal.

"Aku serius! Kau pikir aku senang tidur sendiri dirumah! Kau benar-benar tega meninggalkan adikmu yang masih dibawah umur ditempat seperti itu sendirian!" Keluhnya.

"Kalau begitu ikut tinggal dirumah itu, bersamaku…" Balasnya. Ryeowook terdiam lalu membuang mukanya.

Melihat respon sang adik yang sedikit kesal, Hyuk Jae tersenyum. Sudah berulang kali, bahkan beribu kali ia membujuk Ryeowook untuk ikut tinggal dirumah itu bersamanya. Namun Ryeowook selalu menolak dengan alasan yang cukup masuk akal.

Ia tidak mau berhutang budi dengan orang itu lebih dari ini. Hyuk Jae menatap keadaan café, semakin ramai.

.

.

.

Hyukjae terlihat tengah mengaduk-ngaduk makanan yang dibuatnya. Ia sesekali menyesap sup buatannya dengan sendok. Bibir plumnya terkembang saat masakan yang dibuatnya memiliki cita rasa yang tak kalah baik dari ibu-ibu rumah tangga diluar sana.

Ting Tong…

Sebuah bel apartement berbunyi menandakan kedatangan seseorang. Dengan segera Hyukjae melepaskan celemek yang dikenakannya lalu beralih kearah pintu.

Ia membuka pintu dengan wajah yang sedikit berkeringat karena kelelahan dengan aktivitas memasaknya tadi. Namun keringat kerja keras itu berubah menjadi sebuah keringat dingin saat melihat siapa orang yang datang ke apartement 'mereka'.

"Lee Sungminssi…"

.

.

.

TBC/DELETE?

Author note:

Hallo bagi yang baru pertama kali membaca ff kami dan apa kabar? Bagi para readers yang sudah pernah membaca ff kami.

Kami datang membawa ff baru, genrenya masih sama angst. Yah, bisa dibilang kami sangat hobi membuat ff bergenre ini. Entah mengapa, mungkin karena kami suka melihat seme tersiksa #evilsmirk.

Sebenarnya kami agak kurang pede mempublish ff dengan tema slave seperti ini, tapi dengan berat hati kami memberanikan diri. Judul ff ini terinspirasi dari ost. Miss replay yang dinyanyikan oleh Hwa Yeo Bi yang berjudul glass. Entah mengapa, aura lagu itu sangat cocok dengan ff ini.

Maafkan kami jika masih ada typo dan plot yang berantakan. Karena memang kami berdua adalah Author amatir dan masih sangat baru didunia per-fanfictkan. Jika ff ini masih ingin dilanjutkan tolong review ne? terimakasih bagi yang sudah mereview dan membaca ff ini. *nunduk 90 derajat*