Annyeong! saya author baru dan ini FF DaeLo pertamaku :)
Mohon bantuannya!
semoga ada yang mau baca dan nge-review yaa :))
.
.
Autor : Park Ga Eul
.
SCARY SUNBAE
JUNG DAEHYUN – CHOI JUNGHONG/ZELO
(DAELO)
OTHER MEMBER OF BAP
Ga Eul Park Present
.
JUST READING
.
NO BASH
.
-HOPE YOU LIKE IT-
chapter 1.
.
Sejak tadi Zelo tampak serius sekali menatap ponselnya. Jemarinya juga terus memencet-mencet layar itu tanpa henti. Sesekali ia memekik dan mengerucutkan bibirnya. Zelo sedang bermain game saat ini. Membuat Jongup mengendus sebal melihatnya. Haah~ ia jadi dicueki..
"YA!" pekik Zelo saat seseorang tiba-tiba menarik ponselnya.
"Hyung, apa yang kau lakukan?" Zelo mencoba meraih kembali ponselnya. Namun namja yang dipanggil 'Hyung' itu justru menjauhkannya.
"Ya, Hyung! Kembalikan!"
Kini Zelo dan namja itu justru terlihat kejar-kejaran di depan kelas. Sekali lagi, Jongup hanya mengendus sebal melihatnya.
Sudut bibir namja itu terangkat. Disembunyikannya ponsel Zelo di balik tubuhnya. Enggan untuk mengembalikannya pada sang pemilik.
"Just kiss me!" ujar namja itu. Seringaian menghiasi wajah tampannya.
"Andwae! Kembalikan ponselku dan lekas kembali ke kelasmu, Daehyun Hyung!"
Senyum Daehyun menghilang seketika.
"Temui aku sepulang sekolah kalau kau masih menginginkan benda ini!" ujar Daehyun datar dan pergi meninggalkan Zelo.
Zelo hendak berkata, namun mulutnya kembali menutup. Tidak jadi. Berurusan dengan orang seperti Daehyun tak akan ada habisnya.
Sekali lagi Zelo menghembuskan napasnya berat. Kembali memantapkan langkahnya memasuki sebuah ruangan yang ia yakini sebagai kelas Daehyun.
Sosok yang dicarinya kini tengah duduk dengan mata terpejam. Earphone terpasang di kedua telinganya. Zelo menghampiri Daehyun.
"Hyung!"
Tak ada jawaban.
"Daehyun Hyung!" kali ini dengan suara lebih keras.
Daehyun membuka matanya perlahan. Tersenyum. Daehyun menurunkan earphonenya dari telinga dan ia sangkutkan pada leher jenjangnya.
"Kau datang?" Daehyun menatap girang sosok di hadapannya.
"Kembalikan!" Zelo berkata agak ketus.
Daehyun terkikik. Ia menopang dagunya dengan kedua telapaknya. Memandang intens pada namja yang kini tengah menunduk itu. Entah karena malu diperhatikan oleh Daehyun atau takut akan tatapan tajam Daehyun.
"Penuhi syaratku!" nadanya agak terdengar memerintah.
"Hyung! Aku harus pulang. Cepat kembalikan ponselku!" Zelo meremas ujung jaketnya.
Daehyun bangkit dari duduknya. Berdiri di hadapan Zelo. Ia mengelus surai kebiruan Zelo lembut, namun Zelo menepisnya kasar. Daehyun kembali tersenyum. Tubuh Zelo gemetar. Sebenarnya ia takut. Ia takut pada sosok tampan di depannya. Jung Daehyun. Semua orang di sekolah ini tahu betul siapa Daehyun. Dan semua yang mengenalnya dapat dipastikan tak akan pernah mau berurusan dengannya.
Daehyun menyentuh lengan Zelo. Sebelah alisnya terangkat.
"Kau gemetar." Daehyun kembali tersenyum.
Ia merogoh saku celananya. Mengambil benda kotak berwarna putih itu dan mengibaskannya di hadapan Zelo.
"Ponselmu masih utuh di tanganku."
Zelo menatap ponsel miliknya. Sungguh. Ia ingin sekali menangis saat ini. Rasanya benar-benar tidak enak dipermainkan terus oleh Daehyun. Tepatnya sejak dua minggu yang lalu.
Itu dikarenakan Daehyun menyukainya. Ya. Daehyun. Dia menyukai Zelo. Mencoba menarik perhatian Zelo dengan caranya sendiri. Tak berpikir bahwa targetnya justru merasa tidak nyaman.
Daehyun menarik kerah Zelo. Menipiskan jarak wajahnya dengan Zelo.
"Jadilah pacarku!" datar. Tak ada keraguan dari tiap kata itu.
Zelo membelalakan matanya. Tatapannya kali ini terkunci oleh iris Daehyun. Tak dapat mengindar.
"T-tidak, Hyung!"
Daehyun meremas kerah Zelo lebih kuat. Sorot matanya kelam menatap iris Zelo. Matanya memanas.
"WAE?" suara Daehyun meninggi. Dilihatnya Zelo tengah mengeluarkan air mata. Zelo menangis.
"Tidak seperti ini caranya.." Zelo menunduk sambil terisak.
"...Kau, kau membuatku takut, Hyung!"
Daehyun memejamkan matanya. Perlahan melepaskan cengkramannya pada kerah Zelo. Menunduk. Ia menarik napas kuat dan membuangnya kasar. Kembali membuka matanya dan meletakan ponsel Zelo di meja. Ia pergi. Kedua tangannya mengepal kuat. Zelo. Zelo yang masih terisak itu melihatnya. Berpikir kalau setelah ini ia akan mendapatkan masalah yang lebih besar dari seorang Jung Daehyun. Menolak cinta seorang Jung Daehyun? Itu gila. Entah apa yang akan Daehyun lakukan kepadanya setelah ini.
Zelo menatap satu-persatu barisan buku di hadapannya. Berharap dapat segera menemukan buku yang ia cari. Matanya mendelik ke arah rak paling atas.
"Ketemu!"
Tak butuh waktu lama untuknya menggapai buku di tempat yang lumayan tinggi itu. Tubuhnya yang terlampau tinggi untuk ukuran remaja seusianya cukup membatunya kali ini. Zelo memainkan alisnya. Memperhatikan seseliling. Perpustakaan cukup ramai sore ini. Lihat saja, tak ada bangku kosong satu pun di ruangan yang cukup besar ini. Tunggu-
Ada satu.
Tapi-
Zelo melangkah ragu mendekati bangku itu. Ia menggigit ujung buku ber-hard cover itu.
'Tenanglah, Zelo! Dia tertidur'
Zelo mendudukan tubuhnya dan mulai membuka buku yang sedari tadi berada di pelukannya itu. Menatap sekilas sosok namja di depannya yang sedang tertidur. Ia menelan salivanya berat. Mencoba meminimalisir suara yang keluar dari bibirnya. Takut kalau sosok yang berada di depannya itu tiba-tiba terbangun.
Zelo mengela napas sesaat sebelum mulai meneliti tiap baris kata di dalam buku tebal itu. Irisnya bergerak seiring dengan jari telunjuknya. Tersenyum. Zelo segera mengeluarkan buku tulis dan pena dari dalam tas punggungnya. Mulai mencatat.
Terhitung dua jam sudah setelah kedatangan Zelo kemari. Perpustakaan juga sudah tak seramai saat Zelo masuk tadi. Zelo meletakan penanya asal. Ia mendesah pelan. Merenggangkan sedikit otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Dilihatnya arloji di lengan kirinya.
17.05
Sebentar lagi perpustakaan tutup. Sebaiknya ia bergegas. Zelo melirik sosok yang masih tertidur pulas di depannya. Mengigit bibirnya. Ia bingung harus membangunkan orang tersebut atau meninggalkannya saja dan menunggu penjaga perpusatakaan yang membangunkannya. Dia. Jung Daehyun. Sebenarnya sudah hampir tiga hari -setelah insiden penolakan cintanya oleh Zelo- ia tidak membuat masalah dengan Zelo. Padahal Zelo sudah siap mental kalau saja Daehyun dan temannya, Yongguk, -yang juga pembuat onar- menghajarnya sampai babak belur.
Zelo terus bergelut dengan pikirannya sendiri sampai tiba-tiba sosok di depannya bergumam tidak jelas dan-
Membuka matanya..
Zelo memundurkan tubuhnya kaget. Kursinya-pun ikut terdorong kebelakang.
"Ze.."
"Ah, Hyung! A-aku.. harus pulang!" Zelo segera merapikan alat tulis dan bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Terlihat sekali ia gugup. Sampai-sampai ia kesulitan memasukan buku tulisnya sendiri ke dalam tas.
Daehyun tersenyum. Manis. Dan keberuntungan bagi Zelo -yang tak sengaja meliriknya- dapat menyaksikan adegan langka itu. Kau tahu? Daehyun memang sering tersenyum di depan Zelo. Namun tak pernah semanis dan setulus ini. Justru lebih pantas disebut seringaian daripada senyuman. Zelo membeku pada posisinya. Mulutnya sedikit terbuka.
"Ne?" Daehyun menaiknya sebelah alisnya heran. Membuat Zelo tersadar sepenuhnya dari ke-terbengongan-nya barusan.
"A-ani. Aku benar-benar harus pulang" Zelo bangkit dari duduknya. Tergesah-gesah sampai kakinya tersandung kaki bangkunya sendiri.
Daehyun terkikik. Sedangkan Zelo menunduk dengan posisi membelakangi Daehyun. Menggaruk tengkuknya dan merutuki sikap cerobohnya barusan. Tanpa memberi salam dan menatap Daehyun, ia melangkahkan kakinya keluar dari perpusatakaan. Daehyun hanya dapat menatap punggung ramping Zelo dengan senyum penuh arti.
Belum terhitung lima detik setelah Zelo menutup pintu perpustakaan, pintu itu kembali terbuka dan menampilkan sosok Zelo kembali. Daehyun melipat tangannya di dada. Menyenderkan tubuhnya pada leher kursi. Alisnya saling bertautan. Tapi bibirnya masih setia menyunggingkan senyuman. Zelo menatapnya sekilas lalu bergegas menuju rak tempatnya tadi mendapatkan buku hard cover yang tengah dipeluknya itu dan menaruhnya kembali di tempat semula. Lupa mengembalikan rupanya. Hal itu sukses membuat Daehyun terbahak.
'Jangan dihiraukan!'
Lagi-lagi tanpa menatap Daehyun -yang masih terbahak. Zelo-pun kembali hilang di balik pintu kayu itu. Daehyun akhirnya beranjak. Digerakannya tubuhnya itu ke kanan dan ke kiri. Menghasilkan suara gemeretak yang sedikit memilukan, namun membuat Daehyun tersenyum lega.
"Aish! Sepeda sialan" pekik Zelo saat melihat ban sepedanya kempis.
Zelo menendang pelan roda sepedanya. Kesal. Sebentar lagi gelap dan ban sepedanya kempis. Jarak dari sekolah ke rumahnya cukup jauh. Itupun bisa ia tempuh dalam waktu setengah jam dengan naik sepeda. Kecuali... jika dia berani lewat jalan pintas. Ya. Jalan pintas. Jalan pintas yang...
Gelap!
Dan sepi..
Zelo mengacak rambutnya frustasi. Tak ada jalan lain kecuali berjalan kaki lewat jalan pintas. Tak ada satupun angkutan umum dengan arah tujuan ke rumahnya. Dan itu membuatnya mengerang putus asa. Baginya tak apa walau harus berjalan kaki. Hanya satu masalahnya. Gelap. Zelo takut gelap.
Daehyun menghentikan motornya. Membuka sedikit kaca helm-nya.
"Zelo?"
Yang disebut namanya –Zelo- mendongak ragu. Benar dugaannya. Itu suara Daehyun. Zelo masih dengan posisinya yang tengah terduduk dengan menekuk kedua lututnya. Duduk di atas pembatas antara jalanan dan taman kecil di arena parkir.
"Sedang apa?" Daehyun menegakkan standar motornya dan turun dari motor.
Sedang apa? Ya. Sedang apa Zelo di sini? Bukankah tempat ini juga akan gelap sebentar lagi? Oh tidak. Sudah gelap rupanya. Zelo mungkin terlalu lama menundukkan kepalanya di atas lutut. Sampai benar-benar tak sadar kalau langit sudah tidak berwarna oranye.
Lalu? Ah, menunggu Daehyun. Apa ia sengaja menunggu Daehyun? Ia tahu kalau Daehyun pasti masih ada di dalam. Daehyun. Lelaki itu berjongkok di depan Zelo. Sedikit merendahkan wajahnya agar dapat menemukan wajah Zelo yang kembai menunduk.
"Hei, kau menangis?"
Terlihat kepanikan pada nada bicara Daehyun. Ia mendekatkan tubuhnya pada Zelo. Bibir Zelo gemetar. Namun tak ada satupun suara yang keluar dari bibir manisnya itu.
"J-jangan menangis!"
Zelo menatap Daehyun. Bibirnya perlahan terbuka. Bukan. Bukan kata yang keluar dari mulutnya. Tangis Zelo justru semakin keras.
"Y-Ya! Aku bilang kan jangan menangis! Kenapa kau malah terisak seperti ini?" nada bicaranya tinggi. Namun bisa dipastikan bahwa ia benar-benar panik saat ini. Terakhir kali ia melihat Zelo menangis saat ia menyatakan cintanya pada Zelo. Dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Zelo masih terisak saat Daehyun tiba-tiba memeluknya erat. Hal yang tidak bisa ia lakukan saat ia melihat Zelo menagis tiga hari yang lalu.
"Aku hanya menertawaimu, bukannya menarik kerahmu dengan kasar seperti waktu itu. kumohon maafkan aku!"
Zelo membuka matanya. Isakannya terhenti sesaat. Daehyun mengira ia menagis karena dirinya? Menertawai? Maksudnya saat di perpustakaan tadi?
'Aish, Jung! Kenapa Kau bodoh sekali?'
Sudut bibirnya terangkat. Ia mendorong Daehyun. Memukul pelan bahu Daehyun. Yang diperlakukan hanya menatapnya penuh tanya. Gila? Apa Zelo sudah gila? Tadi menangis, dan sekarang ia tersenyum?
"Wae? Ya! Kau membuatku takut, Zelo." Daehyun memundurkan tubuhnya beberapa senti. Membuat Zelo semakin cekikikan. Ya, Daehyun benar. Zelo terlihat menyeramkan sekarang.
"Kau lucu Daehyun Hyung!" Zelo menyentuh pipi Dahyun dengan telunjuknya. Sebelah tangannya lagi masih melingkar di kedua lututnya.
Daehyun hanya menunggu penjelasan dari Zelo.
"Hyung babo! Aku menangis bukan karena kau tertawai, tahu!"
"YA! Siapa yang kau sebut babo, eoh?" Daehyun menekan Dahi Zelo dengan telunjuknya.
Zelo kembali terdiam. Telunjuknya kini bermain di atas lututnya. Bibirnya mengerucut.
"Jika kau menangis lagi, aku akan meninggalkanmu!" ancam Daehyun. Ia hendak berdiri, namun Zelo menarik tangannya.
"Aku tidak mau pulang!" tutur Zelo. Ia baru ingat kalau keberadaannya disini karena ia takut pulang ke rumah. Alasan utamanya adalah karena ban sepedanya bocor. Dan jalanan untuk sampai ke rumahnya itu sangat gelap. Dan saat ini sekolah juga sudah benar-benar gelap. Apa jadinya kalau Daehyun meninggalkannya?
"Wae?"
Zelo melirik pada sepedanya sejenak. Begitupun Daehyun.
"Ban sepedaku bocor. Aku harus berjalan kaki sampai rumah. Itu bukan masalah...Tapi..." Zelo menggantungkan kalimatnya.
"Tapi?"
"Jalannya gelap"
Daehyun tersenyum, kemudian berdiri. Tangannya terulur. Zelo menatapnya heran.
"Beri tahu aku jalannya. Aku akan mengantarmu pulang!"
Zelo terlihat berpikir sejenak sebelum tersenyum dan menyambut uluran tangan Daehyun. Ini adalah kesempatan. Daripada dia harus menginap di tempat ini?
"Eumm.. Kau tahu, Hyung? Sepertinya kau tidak terlalu menyeramkan lagi sekarang" aku Zelo saat sudah duduk manis di atas motor Daehyun.
"Jadi kau pikir aku ini sangat menyeramkan?" Daehyun menyalakan mesin motornya.
Zelo mengangguk. Daehyun hanya melihat siluetnya dari kaca spion. Dan dia tersenyum.
"Pegangan! Rasanya akan seperti kau berada di atas angin" teriak Daehyun sebelum mulai menarik gasnya.
"Ya! Hyung!" pekik Zelo dan dengan sigap memeluk pinggang Daehyun.
Gila! Kau gila Jung Daehyun! Melesat dengan kecepatan di atas normal dalam keadaan memboncengi anak orang?
"Hyung! Kutarik kembali kata-kataku barusan! Kau benar-benar sangat menyeramkan. Sangat menyeramkan, Hyung!" teriak Zelo saat dirasa dirinya benar-benar melayang di atas angin. Lagi-lagi Daehyun hanya tersenyum.
Tes..
Tes..
Zelo menengadahkan telapaknya. Menyambut kristal bening yang tiba-tiba jatuh dari langit. Hujan. Tidak. Baru gerimis. Satu lagi yang harus diketahui tentang dirinya. Zelo suka hujan.
Matanya terpejam. Bibir tipisnya melengkungkan sebuah senyuman. Cantik. Sesekali tawa bahagia lolos begitu saja dari bibir itu saat dirasakan air menyentuh kulit wajahnya dengan lembut. Tubuhnya tidak basah. Karena kini ia hanya berdiri di pinggir lapangan basket dengan atap di atasnya. Kalau saja tubuhnya tidak mengigil seketika saat angin tiba-tiba berhembus kencang, ia mungkin sudah berlari ke tengah lapangan untuk menikmati sentuhan dingin sang air.
GREP
Tubuh Zelo menegang. Jantungnya seperti bekerja dua kali lebih cepat. Tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya. Selain dari aroma parfumnya, Ia juga sudah hafal betul siapa orang yang selalu seenaknya saja dengan dirinya. Zelo mendesah kesal. Ternyata Daehyun belum juga berubah. Ia pikir Daehyun telah berhenti menggangunya seperti ini karena sudah tiga hari ia tidak mendapat perlakuan semena-mena dari Daehyun. Ditambah lagi kemarin Daehyun bersikap normal di dekatnya.
"Hyung lepaskan!"
Tak ada jawaban.
"Hyung!" Zelo mencoba melepaskan tangan Daehyun yang melingkar di perutnya.
"Hmm.." tidak mau melepaskan. Pelukannya justru semakin erat.
"Hah~" Zelo hanya dapat menghela napas pasrah. Ya. Tak akan ada habisnya bila berurusan dengan Jung Daehyun. Ingat itu!
Lihat sisi positifnya. Tubuh Zelo kini terasa jauh lebih hangat. Setidaknya biarkanlah beberapa saat seperti ini.
"Kau menyebalkan, Hyung" Zelo kembali menengadahkan tangannya. Membiarkannya kembali basah.
Tersenyum. Zelo tahu Daehyun sedang tersenyum di balik punggungnya saat ini. Pikirannya kembali melayang pada kejadian langka kemarin sore. Zelo terkikik pelan.
"Hyung. Bisakah kau tersenyum dengan normal seperti kemarin sore?" ungkap Zelo.
Daehyun membuka matanya perlahan. Pelukannya mengendur, namun tanpa melepaskan genggamannya pada pinggang Zelo. Ia memutar tubuh Zelo mengahadap dirinya. Menatap tajam pada iris Zelo. Zelo menunduk. Dirasakan wajahnya tengah memanas saat ini.
"Yang sampai membuatmu melamun itu ya?" goda Daehyun setelah dapat mengingat dengan jelas kejadian kemarin sore itu.
BLUSH~
Zelo semakin menenggelamkan wajahnya. Kata-kata Daehyun barusan sukses membuat pipinya bersemu merah. Daehyun tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak usah diingat kalau begitu!" Zelo menggembungkan pipinya lucu. Membuat Daehyun tidak tahan untuk tidak mencubitnya. Daehyun mengigit bibirnya gemas sebelum mengecup sekilas pipi Zelo.
Zelo mematung. Bukan pertama kalinya Daehyun mencium pipinya. Tapi selalu sukses membuatnya seperti ini.
"Jung, kau melakukannya lagi?"
Terdengar cekikikan khas dari seorang Bang Yongguk dari arah kiri Daehyun. Daehyun dan Zelo menoleh berbarengan. Daehyun tersenyum.
"Aku bosan menunggumu!" Daehyun melepaskan cengkramannya pada pinggang Zelo dan menghampiri Yongguk.
DEG
"Bosan?" Zelo bergumam pelan. Dilihatnya kedua namja tampan itu tengah asyik mengobrol. Tangan kiri Daehyun melingkar pada bahu Yongguk.
"Ayo kita pulang!" ajak Daehyun. Yongguk tersenyum.
"Lalu di...ah? Hey!" Yongguk berteriak. Dilihatnya Zelo sudah pergi menjauh.
"Sepertinya kau dapat masalah lagi, Dae!" kikik Yongguk.
Daehyun menatap punggung Zelo bingung. Apa dia berbuat kesalahan fatal lagi? Haish.. Yongguk menepuk pundak Daehyun. Memberi semangat.
"Aku pulang sendiri saja. Kau lebih baik selesaikan urusanmu dulu!"
"YA! Aku sudah lama menunggumu. Ya! Yongguk-ah! Haish.." Daehyun mengacak rambutnya kesal.
Ya, sepertinya Yongguk benar. Tiga hari tanpa mengganggu Zelo kemarin sudah cukup membuatnya tersiksa. Itupun karena Daehyun yang memutuskan untuk tidak menemui Zelo beberapa waktu kedepan. Bagaimana kalau Zelo yang marah? Apa Daehyun akan tahan lebih dari tiga hari tidak berada di dekat Zelo? Dia rasa tidak.
Zelo mengayuh sepedanya dengan kasar. Napasnya memburu. Kesal? Jelas. Apa kau tidak dengar perkataan Daehyun tadi? Daehyun mengaku ia hanya sedang bosan menunggu Yongguk. Bosan.
'Cih! Jadi kau hanya sedang bosan, makanya kau menciumku?'
Mencium?
Zelo menggelengkan kepalanya. Mencoba menghapus perkataan yang ia pikirkan tadi.
'Sudah pasti hanya permainan. Zelo babo!'
.
'Tidak mungkin Daehyun benar-benar mencintaimu'
.
'Ia hanya menjadikanmu mainan'
.
CCIIITTTT...
Suara decitan ban sepeda Zelo menggema ketika ia dengan sangat terpaksa harus menarik tuas remnya. Ditatapnya sosok tampan yang kini tengah berdiri gagah menghadapnya. Sosok yang tadi dengan paksa menghentikan laju sepeda Zelo dengan menghentikan motornya tepat di depan Zelo.
"Apa yang kau pikirkan, Hyung? Aku bisa saja jatuh saat mengerem tadi. Jalanan masih basah kau tahu!" kekesalan Zelo seolah tersalurkan seluruhnya lewat omelannya itu.
Daehyun hanya menatapnya tak percaya. Zelo tadi membentaknya? Daehyun tahu Zelo pasti sedang kesal dengannya.
"Menyingkirlah, Hyung! Aku mau lewat" Zelo hendak mengayuh kembali sepedanya, namun tangan kekar Daehyun sudah lebih dulu menahan stang sepedanya.
"Kau marah padaku?" Daehyun bertanya dengan sangat polos. Membuat Zelo tersenyum miris mendengarnya.
'Bahkan kau tidak tahu kesalahanmu, Hyung? Atau hanya aku yang berpikiran seperti ini? Asshh..'
"Untuk apa aku marah padamu?" Zelo membuang pandangnya dari Daehyun saat dirasa wajah Daehyun kini sangat dekat dengan wajahnya.
"WAE? Kenapa kau meninggalkanku, eoh? Pergi begitu saja tanpa permisi!" tangan kanan Daehyun mencengkram kuat kerah Zelo –untuk kedua kalinya.
Mata Zelo membulat sempurna. Apa-apaan ini? Kenapa jadi Daehyun yang memarahinya? Yang seharusnya marah di sini adalah dia. Bukannya Daehyun yang hendak meninggalkannya sendiri saat mengajak Yongguk pulang bersama?
"A-apa?" Zelo memekik kesal namun bingung harus berkata apa. Kenapa orang dihadapannya ini begitu tidak peka?
"Kau harus dapat hukuman dariku!"
"MWO? Yang benar saja!" kesalnya. Sungguh, ia benar-benar ingin menendang wajah tampan Daehyun sekarang juga.
Gerakannya sangat cepat saat tiba-tiba lengan kekar Daehyun terulur menarik tengkuk Zelo dan mulai menempelkan bibir tebalnya pada bibir Zelo. Mata Zelo yang sudah membulat semakin lebar. Tubuhnya serasa dialiri ribuan volt listrik saat ini. Seluruh organnya terasa lumpuh. Yang bisa ia lakukan hanya diam tanpa memberontak. Ia terlalu syok untuk melawan ataupun mendorong tubuh Daehyun.
Zelo mengerjap lucu saat Daehyun melepaskan tautan bibirnya. Masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja dilakukan Daehyun padanya. Kedua sudut bibir Daehyun terangkat. Wajahnya kini masih sangat dekat dengan wajah Zelo. Dan membuatnya dapat dengan jelas melihat rona merah di wajah Zelo.
TBC.
REVIEW JUSEYO~
