a BTS fic
Friendzone.
.
.
Cast (s) : Maknae Line Bangtan Boys
Kim Taehyung, Park Jimin, Jeon Jungkook
Pair : MinV!, KookV!, other.
Anggap saja mereka disini seumuran *ketawa sumbang*
two shoot. maunya one shoot tapi kepanjangan, jadinya aku potong biar pembaca bisa break minum dulu(?)
.
.
.
.
"Halo, aku Kim Taehyung. Salam kenal." Cara bicara masih seperti berkumur-kumur, terdengar tak lancar dan agak kesulitan tapi disisi lain sungguh menggemaskan. Kim Taehyung lima tahun, berdiri dengan mantap sambil memamerkan senyum kotaknya. Baju hangatnya sangat keren untuk ukuran bocah, dan rambut cokelatnya kelihatan halus sekali bergerak-gerak kena angin dingin yang menyusup diantara celah tirai.
Si pipi gembul dihadapan Taehyung mengerjap pelan, satu kali, dua kali, dan bibir mengatup lucu. Dia tadi sempat mendengar eomma nya membuka pintu untuk menyambut tamu. Meninggalkan dia dan sebotol susu hangat, dia masih suka nge-dot omong-omong. Tidak punya ide dari mana datangnya anak ajaib ini kenapa tau-tau sudah masuk teritori tempat bermainnya-kamarnya.
"Chim.. Pak Jimin, halo Taehyung." Tersenyum manis pada siapa saja, itu yang ibunya ajarkan pada si kecil Jimin. Mata indahnya menyipit lucu, walau pelafalannya untuk Park masih sering terdengar salah seperti menyebut Pak. Jimin juga lima tahun kala itu, tapi lebih pendek. Tangan gembulnya menepuk-nepuk sisi kosong di samping badannya. Memberi kode agar Taehyung mendekat dan duduk disebelahnya untuk membantu menyelesaikan puzzle yang membuat otak lima tahunnya itu pusing.
"Aku baru saja pindah, tepat menempati rumah diseberang rumahmu ini." Taehyung duduk, menatap netra jernih Jimin sekali lagi dan lebih dekat dari tadi, lalu mengambil potongan puzzle untuk diletakkan pada satu tempat yang ternyata salah.
"Bukan disana.." Jimin berguman, membenarkan letak potongan puzzle tadi untuk diletakkan pada tempat seharusnya. Separuh muka Uzumaki Naruto mulai terlihat. "Kalau begitu kau tetangga baruku, Taehyung."
"Bagaimana kalau jadi teman juga?" Taehyung mencoba satu potongan lain. Senyum kotaknya terbit lagi karena berhasil menampakkan gambar lebih jelas dari potongan puzzle itu, juga karena berhasil mengikat janji pertemanan dengan Jimin sebagai teman pertamannya dilingkungan barunya ini.
.
.
Jimin tergelak tawa, saat ban depan sepeda Taehyung terperosok di selokan sempit yang ada di kiri jalan kompleks perumahan mereka. Dua ratus meter lagi harusnya mereka berdua bisa sampai ke rumah masing-masing. Tapi apa ini? Malah kena sial.
Ini berawal dari mereka yang lupa waktu, bersepeda cukup jauh nyaris menyentuh keramaian kota untuk membeli es krim di kedai kecil yang kata Taehyung enaknya paling jempolan sedunia. Setelah dapat es krimnya mereka malah menghabiskan waktu bermain di taman, lempar lemparan daun kering hingga jingga senja datang. Kemudian mereka pontang-panting panik, takut akan dimarahi karena pulang terlalu sore melebihi jam main mereka seharusnya. Untuk itu mereka terpaksa memacu sepeda dalam keadaan ngebut, dan berakhir Taehyung yang kena kecelakaan kecil.
Sembruat jingga langit menimpa pipi Jimin yang masih gembul di umur dua belas tahunnya. Taehyung menggerutu soal; sial, jangan ketawa kau Jim, dan dasar kau tidak setia kawan meninggalkanku. Dia berusaha menarik keluar sepedanya tapi agak kesulitan. Jimin mendekat mencoba membantu, mungkin otot kecilnya cukup kuat pikirnya. Dan berujung nihil, mereka seperti mengeluarkan keringat sia-sia karena sepeda itu terperosok cukup dalam. Selang dua menit kebingungan sendiri dan wajah mereka berubah makin ketakutan, satu mobil berhenti. Taehyung merasa tak asing dengan mobil itu, karena dia beberapa kali melihat mobil itu terparkir disisi rumah sampingnya, oh tetangganya yang lain.
Orang dewasa keluar dari pintu kemudi, keluar dengan setelan kemeja semi formal yang ditekuk rapi ujung lengannya hingga siku dan sepatu pantofel hitam mengkilat. Taehyung dan Jimin merubah raut memelas mereka menjadi agak cerah seperti menemukan harapan, karena akhirnya bantuan datang tanpa diminta. Laki-laki umur dua puluhan itu tersenyum, lesung pipinya kelihatan tertekan karena senyumnya yang kelewat ramah.
"Kalian kenapa jongkok dipinggir jalan, Hm?"
"Hyung! Syukurlah, bantu aku, please? Sepedaku nyangkut dan ini gara-gara Jimin!"
"Kenapa aku? Kau yang sok-sok ngebut tak tau aturan dan malah terperosok." Yang dituduh tidak terima, melotot lucu dan dramatis.
"Kalau tidak ngebut nanti tidak sampai-sampai dan dimarahi mama—"
Yang dipanggil Hyung terkekeh, Namjoon namanya. Dia bergerak tanpa disuruh untuk menarik keluar sepeda yang tak lebih tinggi dari pinggangnya itu keluar dari selokan. Ban depan dan rujinya agak bengkok tapi tidak parah. Dua bocah didepannya itu masih sibuk gontok-gontokan, berantem kecil yang kekanakan. Tak menyadari Namjoon yang kembali berlari lagi ke dalam mobilnya.
"Ada apa, Hyung?"
"Kau ada air bersih? Uhm botol minum?"
"Ini, isinya masih separuh. Untuk apa, Hyung?" anak kecil yang duduk di sebelah bangku kemudi menaikkan kedua kaki dan berlutut serta menyangga tangan ke dashboard untuk mengintip keluar mobil setelah mengaduk isi tas mengambilkan apa yang Hyung nya mau.
"Hyung pakai ya, Cookie?"
"Uhm, untuk apa? Itu bukannya anak-anak satu komplek rumah kita?"
"Untuk membersihkan sesuatu, dan iya itu anak tetangga kita, Mau ikut turun?" Namjoon tersenyum pada adiknya yang dipanggil biskuit itu. Dan mendapat balasan anggukan.
Pintu mobil mengeluarkan debum rendah saat, Namjoon dan adiknya turun dari sana. Taehyung dan Jimin otomatis berhenti saling mencibir dan memandangi laki-laki kecil lain yang berjalan mengikuti arah Namjoon. Tiga bocah itu saling bertukar tatap saat Namjoon, melingkis lengan kemejanya lebih tinggi dan bekerja menuang air untuk membersihkan bagian depan sepeda lipat Taehyung yang terperosok selokan tadi.
"Uh, hai.." Itu Taehyung, dia memang tak tahan dengan keheningan barang sebentar.
"Kenapa sepedanya." Kata yang berambut hitam mangkok yang berdiri dibelakang Namjoon.
"Si bodoh ini jatuh setelah ngebut naik sepedanya, hehe." Jimin malah yang menjawab tanpa disuruh. Untuk kemudian mendapat lirikan sebal dari Taehyung.
"Uhm.. kalau rusak dan tidak bisa jalan lagi, bawa saja, Hyung."
"Aku juga berpikir begitu, ayo kalian berdua masuk ke mobil. Karena dua sepeda kalian ini sepeda lipat, jadi tidak masalah , bisa muat dimasukkan ke mobil juga."
"Eh.. tidak apa-apa, Namjoon-Hyung?" Taehyung mencicit lagi.
Jimin mengangguk sendiri lalu berjalan menuntun sepedanya mendekat, Namjoon sudah melipat sepeda Taehyung dan bergerak memasukan ke mobil bagian belakang, setelahnya milik Jimin. Dalam perjalanan, Taehyung dan Jimin menunduk malu-malu agak tak enak hati karena merepotkan.
"Darah.." suara berasal dari sebelah pengemudi, sebelah Namjoon.
"Eh?" Taehyung mengikuti arah pandang anak itu.
"Di kaki mu ada darah.."
"Whoa, apakah rasanya sakit, Tae?" Jimin menyahut sedikit cemas dan kaget.
"Aku bahkan tidak terlalu merasa perih, tapi eomma pasti akan tambah marah kalau tahu ini"
"Ini, pakai ini dulu." Satu sapu tangan warna biru langit disodorkan pada Taehyung. "Mungkin akan sedikit membantu menghentikan darahnya." Disisi kanannya terukir nama Jeon Jungkook. Taehyung menerimanya agak tak enak hati.
"Sebentar lagi kita sampai, aku akan bantu jelaskan pada eomma-mu Taehyung, apakah lukanya parah?"
"Tidak, Namjoon-Hyung, ini luka kecil."
Sepuluh menit perjalanan dilalui tidak banyak kata, Jimin dan Taehyung saja hanya saling lirik. Suasana canggung tercipta karena Namjoon dan Jungkook ini adalah anak dari suami-istri Jeon yang barusan sebulan ini pindah tepat disebelah rumah Taehyung. Jadi intinya mereka belum mengenal dekat. Hanya saja suami istri Jeon sudah pernah berkunjung ke rumah Taehyung atau Jimin, dan Namjoon-hyung sudah beberapa kali pinjam alat pemangkas rumput di rumah Taehyung, jadi yang baru Taehyung kenal hanya dia. Untuk anak laki-laki lain pemilik sapu tangan tadi, sejujurnya Teahyung pun Jimin belum kenal dekat juga. Anak yang dipanggil Jungkook itu pendiam, hanya sesekali kelihatan di halaman rumahnya itupun kalau jam berangkat dan pulang sekolah atau saat dia hendak berpergian bersama keluarganya. Dengar-dengar umur Jungkook dengan Taehyung dan Jimin sama.
Sampai tujuan, Taehyung dan Jimin berjalan takut-takut kearah mama mereka masing-masing yang sudah menunggu dengan raut cemas didepan pagar rumah Jimin. Namjoon dengan pembawaan hangat menjelaskan semuanya hingga membantu Taehyung memasukan sepedanya ke garasi. Setelah mengucap salam dan berpisah dengan Jimin yang menyebrang jalan sambil mengusap kepalanya yang dijitak pelan mama nya, Taehyung menengok ke arah Jungkook yang juga memperhatikannya.
"Terima kasih sapu tangannya Jungkook-ah."
Senyum terulas dibibir Jungkook, tipis tapi masih kentara manis.
.
.
Mereka tumbuh bersama, kabar kalau Jungkook seumuran dengannya ternyata benar. Jungkook mengambil sekolah di negeri yang terkenal dengan disiplin baik berbeda dengan seolah alam yang Taehyung dan Jimin pilih. Setelah kejadian itu entah kenapa Taehyung jadi membuka diri dan sering ikut mama nya mampir ke rumah Jungkook, entah mengantar masakan thanks giving atau sekedar bertukar kukis setelah dari rumah Jimin. Dan lambat laun Jungkook mulai menghilangkan sikap canggungnya, menerima ajakan Taehyung untuk ikut gabung main bersama Jimin. Disana Jimin tidak pernah mempermasalahkannya, karena semakin waktu bergulir mereka menjadi sangat akrab, bercanda garing bersama, belajar, atau sekedar bersepeda keliling kompleks setelah Jungkook dibelikan sepeda lipat baru yang mirip sekali dengan kepunyaan Taehyung.
Hari berganti minggu berganti bulan lalu menjadi hitungan tahun, persahabatan mereka sudah terjalin menjadi sangat erat begitu saja. Kadang bertengkar kecil bukan masalah lagi, atau adu keren saat pamer kostum Hallowen sudah kerap terjadi tiap tahun. Dibangku sekolah menengah pertama mereka akan menghabiskan akhir pekan jalan-jalan ke pinggir kota, ke taman atau sekedar menginap di salah satu rumah antara mereka. Orang tua mereka bertiga sudah tidak kaget jika mengetahui anaknya tak terdeteksi dirumah tapi malah mampir dan keluar besok paginya dari rumah tetangganya.
.
.
Tahun ke lima belas umur mereka, tepatnya awal tahun ajaran baru untuk memasuki sekolah menengah atas. Mereka sukses masuk ke sekolah impian mereka yang adalah satu sekolah negeri yang sama di pusat kota. Hari pertama penerimaan siswa, Jimin sudah cari gara-gara menanggapi godaan cewek kakak kelas yang tertarik padanya. Disini dengan mudah Taehyung mendapatkan teman karena pribadinya yang supel dan easygoing. Lalu Jungkook menjadi anak baik ketua kelas kesayangan para guru dan teman sekelasnya.
Berada di kelas yang berbeda tidak membuat mereka terpisahkan. Kalau jam istirahat datang Jimin akan mendatangi kelas Taehyung lalu berjalan ke kelas Jungkook, menghabiskan jam makan siang bersama. Atau kalau ada kesempatan Taehyung akan keluar kelas, berdalih sakit dan membuat alibi untuk bolos. Dia akan mendatangi kelas Jimin, menunggu laki-laki itu keluar juga karena hasutannya lewat pesan kakao di chat grup mereka bertiga di ponsel yang mati-matian disembunyikan Jimin di dalam laci meja. Jimin akan menemaninya namun tidak dengan Jungkook.
Memasuki tahun kedua sekolah menengah atas, waktu terasa singkat dan menyenangkan. Mereka mulai mengenal macam-macam hal, tentang cewek, tentang tempat nongkrong, fashion, film-film keren, sampai mengobrolkan hal-hal jorok yang wajar keluar dari mulut anak laki-laki yang beranjak enam belas. Masa puber.
Jimin tumbuh tidak terlalu tinggi dari tiga sekawan itu, kalau tak mau dianggap paling pendek walau kenyataannya begitu. Badannya padat oleh otot-otot remaja, rambutnya dicat pirang tebal kadang tersigar dibagian keningnya, mata masih seindah dan sebening sebelumnya, hanya saja senyumnya lebih menawan dan bisa membuat beberapa gadis nyaris pingsan. Kesukaan kakak kelas karena dia keren sekali kalau sedang dalam jersey sepak bola nomor sembilannya.
Jungkook tidak jauh berbeda dari Jimin, dia berubah seratus delapan puluh derajat dari kelinci manis yang saat dua belas tahun ditemui mereka. Sekarang Jungkook malah tumbuh kelewat manly. Entah sejak kapan dia suka nge gym ikut kakaknya Namjoon, dan otot-otot itu akan tercetak dibalik jersey nomor sepuluhnya kalau dia berkeringat berlebihan. Senyum Jungkook masih manis namun bisa sangat menggoda diwaktu yang dia inginkan. Masih anak baik dan sopan si peringkat satu dikelas, mata anak ini memancarkan aura intimidasi dan kuasa yang besar, hitam kelam segelap surai hitamnya.
Lain lagi untuk Taehyung, makin terkenal karena jago saxophone saat ada acara pentas musik. Dia juga tumbuh tinggi dengan cepat, badannya jakung tapi ramping, kulit agak tan, dan rahangnya tercetak tajam. Senyumnya masih manis, lebih ke lucu malah, kalau dia tertawa semua orang disekitarnya seperti akan tertular kebahagiaannya. Dia makin cerewat, ceplas-ceplos seenaknya tapi menyenangkan, dan kebiasaan barunya adalah menelungkupkan surai cokelat halusnya hingga menutupi alis tebalnya. Bulu matanya panjang, bibirnya merah lebih merah dari anak lelaki lainnya, suka dia gigit dan jilat pula, membuat gadis-gadis dan kalau boleh bilang—laki-laki disekitarnya salah tingkah.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan, Park? Bolanya meleset dan melambung jauh!" Suara pelatih agak menyentak saat Jimin melakukan latihan shooting ke gawang.
"Maafkan aku, Pelatih. Aku akan berusaha keras lagi." Jimin yang malu dan kaget karena dibentak langsung melipir berbaris lagi untuk melakukan uji coba shooting kesekiannya. Disamping lapangan terdengar suara menyemangati ribut berbunyi; 'Tidak apa-apa' dengan nada dibuat genit.
"Che, payah." Jungkook berdiri dibarisan tepat di depan Jimin, mencibir kawannya.
"Aku tidak fokus, man. Lihat disana."
"Apa?"
"Taehyung. Dia sudah menunggu kita, dan mukanya badmood."
"Oh, iya. Kenapa ya, bukannya harusnya dia selesai club sama seperti jam kita."
"Makanya itu, aku tidak tahu. Pasti ada hal aneh terjadi, hingga mukanya kelihatan jelek."
"Dia tidak jelek omong-omong, dan ya, kau mungkin benar ada sesuatu."
"Jeon Jungkook, lakukan apa yang bisa kau lakukan, maju!" Pelatih menyentak lagi setelah melakukannya pada beberapa anak didik lain setelah giliran Jimin.
"Siap, Pelatih!" Jungkook berlari maju, memasang ancang ancang. Rambut hitamnya yang lepek basah bergerak mengikuti arah angin yang datang. Otot paha dan kakinya kuat, tanpa ragu tendangan pada bola yang berjarak cukup jauh dari gawang melesat maju tanpa main-main untuk menghadapi kipper satu teamnya. Masuk dengan dramatis seperti busur yang membidik akurat.
"Itu yang kusebut Kapten. Bagus sekali, Jeon!"
"Terima kasih." Jungkook tersenyum diantara jeritan histeris gadis-gadis di sebelah penyemangat Jimin tadi, terdengar jeritan standart fangirl seperti; 'Kau keren sekali, Aw, tepat ke hatiku, hingga Nikahi aku!'. Ini hanya latihan demi tuhan, kenapa ramai sekali. Dilain sisi Jimin mencibir dengan gumaman 'Dasar tukang pamer' dengan muka sebal.
Segala tetek bengek latihan telah selesai, mereka latihan cukup keras karena akan ada pemilihan pemain untuk olimpiade sekolah se-kota Seoul bulan depan. Jam lima sore, kalau dihitung-hitung berarti satu jam sudah Taehyung menunggu Jimin dan Jungkook hingga selesai latihan, walau tadi sempat di sapa dua pemain itu saat mereka lewat didepannya untuk melakukan beberapa lari lapangan sebagai porsi penutup latihan.
"Aigoo, kenapa kau terlihat kacau, Princess?" Itu Jimin, duduk disamping Taehyung dengan badan sudah kering dari keringat karena telah ganti baju kaos putih longgar.
"Ew, Princess apa, Jim. Jijik." Taehyung masih manyun.
"Kenapa kau pulang dari klub lebih awal, Tae? Bolos atau apa?" Jungkook duduk disisi lain tubuh Taehyung.
"Sedang kesal karena sesuatu, jadi aku melarikan diri, ayo cepat kita pulang saja."
"Bagaimana kalau es krim?" Jimin melakukan penawaran.
"Dan burger sebelum pulang?" dan Jungkook menekannya menjadi lebih sulit ditolak.
.
.
.
"Jadi, tadi aku nyaris terkena pelecehan seksual. Coba kalian bayangkan si brengsek Sehun, iya Sehun, Oh Sehun yang itu! Berani-berani nya dia mencoba menciumku, memojokanku, pegang-pegang badanku, dan berusaha melakukan itu! di bibir aaargh astaga, nyaris sekali, hampir kena tadi! coba bayangkan! Eww—eh jangan, jangan kalian bayangkan, itu menjijikan! Dasar playboy mesum, jangan samakan aku dengan puluhan jalang nya aaargh brengsek!"
Jimin disebelah Taehyung, dan Jungkook di hadapan Taehyung. Mereka saling bertukar tatapan mata sedetik setelah Taehyung yang tangannya masih memegang separuh porsi burger, nyerocos dengan penuh emosi seperti kereta shinkansen. Agak malu karena Taehyung curhat dengan volume suara keras dan teriakan murka. Jam enam sore itu ramai-ramainya Burger King di kunjungi orang, berdoa saja tidak ada anak satu sekolah mereka yang kebetulan sial juga nongkrong disini. Uh.
Satu tangan Jimin yang tadi sibuk mencomoti kentang goreng yang masih menguarkan hawa panas dia lap kan ke tissue sebentar, untuk kemudian naik ke bahu Taehyung, mengelusnya sedikit agar emosi Taehyung mereda. Jungkook di seberang sana langsung menyodorkan cola nya untuk diminum Taehyung, bilang "Minum dulu, Tae, minum dulu."
Satu kaleng Cola diminum serampangan sambil mata Taehyung menyalang ke samping, ke arah Jimin.
"Jangan sentuh aku Jim, mengertilah, aku sedang sensitif." Taehyung mengerang lagi.
"Ups, Sorry." Jimin terkekeh jenaka setelahnya.
"Jadi..kau menggodanya seperti apa hingga Sehun-sunbae itu nekat?"
"Siapa yang menggoda, aku hanya melakukan latihanku seperti biasanya!" Taehyung masih menyalak rupanya.
"Maksud Jungkook, mungkin kau.. apa ya... tak sengaja melakukan suatu gesture yang mengundang.. ya kau taulah... sesuatu hal yang membuat awal hal itu terjadi." Jimin mencoba menengahi.
"Pertama, aku masuk keruang klub tanpa prasangka, kedua, minum air, ketiga, ngobrol dengan Minjae sebentar lalu tau kalau ternyata klub hari ini diliburkan, dan keempat, aku mencoba membunuh waktu latihan sendirian di sana, karena kalian kan juga belum selesai dengan urusan pemilihan tim inti, yasudah aku latihan saxsophone—" Minum seteguk lagi, poni Taehyung bergerak lucu ke kanan dan kekiri lalu agak menyigar karena dia terlalu banyak bergerak saat bicara. "—lalu, tiba-tiba bedebah itu datang, menawarkan tutor satu lagu, awalnya aku senang karena dia itu memang seniorku yang sangat jago. Tapi kemudian –ya tuhan."
"Kemudian?" Jimin dan Jungkook menyahut nyaris bersamaan, memelankan suara mereka berharap Taehyung juga ikut menurunkan nada suaranya.
"Dia awalnya mengomentari caraku bernafas, caraku meniup, sampai kurang ajarnya mengomentari caraku menempelkan bibir ke saxsophone, Awalnya aku tak mengerti tapi tahu-tahu malah badannya mendekat lalu yang aku ingat selanjutnya adalah aku menghantam mukanya dengan buku lagu, menendangnya lalu aku pergi dari sana."
"Hahahaha, jagoan. Dua jempol untuk kawanku yang bisa menjaga diri dari resiko diperkosa."
"Terima kasih pujiannya, Park. Sangat tersanjung." Taehyung melanjutkan gigitan lain di burgernya setelah tenaga dan emosinya menguap untuk menceritakan aibnya itu.
"Kau, mungkin hanya kege-eran, bisa saja kan dia tidak bermaksud kesana?" Jungkook memasang wajah berpikir sambil menyendok pudding susunya.
"Maaf saja ya, tapi tangannya sudah mampir ke dagu dan pinggangku. Itu mengerikan, lebih baik aku mencegah hal-hal yang tidak-tidak."
"Oke, maaf, aku tidak nonton secara live."
Obrolan mereka mengalir begitu saja, berhasil membuat Taehyung lupa sejenak penyebab badmood nya karena sekarang laki-laki itu sudah bisa berurai tawa sambil makan es krimnya. Tidak sulit bagi Jungkook maupun Jimin untuk menghiburnya, dia ini masih bocah simple yang berpakaian seragam SMA, masih kekanakan dan mudah sekali untuk memenangkan agar tawa keluar dari celah bibirnya.
Mereka pulang cukup larut, kisaran jam sembilan Jimin dengan sigap sudah ijin pada eomma nya soal ini, dia takut sekali dengan mama nya omong-omong, dan otomatis apabila Jimin sudah ijin itu artinya mama Taehyung dan mama Jungkook juga tau kabar mereka yang sedang bersama.
Mengambil bus malam, lalu turun di halte terdekat Hongdae. Jalan sebentar untuk mencapai gang dimana rumah mereka berjajar berdiri. Taehyung berulang kali menguap tipis, dia itu kerempeng, kurang olah raga, makanya ketahanan tubuhnya beda dibanding Jimin dan Jungkook. Temannya hanya bisa geleng-geleng kepala berdoa agar Taehyung tidak ambruk tertidur ditengah jalan. Kebiasaan Taehyung adalah tidur setelah kekenyangan, dan lucunya anak itu tak pernah bisa gemuk padahal mulutnya itu black hole segala makanan.
Bicara soal mulut Taehyung.. disisi kanan Taehyung ada Jimin yang dari sejak di bus tadi mencuri pandang ke arah mulut Taehyung yang ternyata kalau diperhatikan lebih merah dibanding miliknya. Terlihat agak tipis dan ada beberapa sisi yang kelihatan halus tapi kering, minta dibasahi eh?. Sedetik setelah memikirkan itu, Taehyung melakukan kebiasaannya, menjilat bibir bawahnya dengan lidah ringkas sekali. Jimin gelagapan, dia kira aksinya memperhatiakn Taehyung ketahuan oleh laki-laki itu, tapi ternyata tidak, Taehyung masih berjalan sambil matanya agak mengantuk disampingnya.
Jungkook berjalan di belakang mereka berdua, akan penuh jalan ini bila mereka berjejer jalan bertiga. Tangannya sibuk memainkan game Pokemon di ponselnya. Saat matanya tak lagi di layar ponsel, dia tanpa sadar memperhatikan lekuk pinggang Taehyung, membandingkan dengan badan Jimin yang sekal, bidang dan kelebihan otot di paha dan kakinya, meh. Kalau dilihat-lihat ternyata pahatan badan Taehyung boleh juga, mengingatkannya pada beberapa cover majalah gay porn yang ditemukannya di kamar Namjoon-hyung minggu kemarin, laki-laki yang diindikasikan ada dibawah kalau dalam cover majalah tersebut. Walau dia tidak buka-buka baju, Jungkook seakan tau kalau badan Taehyung itu pelukable.
Mereka berdiri di depan rumah masing-masing, Taehyung angkat suara duluan, berucap terima kasih sudah membuatnya baikan, lalu tersenyum kotak dan berbalik menyeret langkah memasuki rumah. Disana Jungkook dan Jimin agak mematung, yang satu mencengkram pegangan pagar erat, yang satu lagi berdeham tipis, saling tatap lalu melengos masuk rumah juga. Satu yang ada di benak mereka hampir sama, menyadari sesuatu;
"Sejak kapan Taehyung terlihat semanis itu?"
"Sejak kapan Taetae jadi sangat cantik begitu?"
.
.
TBC.
.
Heeeyyaa reader-nim(s) Kalian mikir apa soal fic ini? Bisa tulis dikotak review :3
.
.
[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]
