Love?

Yoongi x Jimin

.

.

Warning : OOC, AU, Typos

Cerita ini terinspirasi dari salah satu komik yang sugar lupa judulnya =.=

Don't Like Don't Read

.

.

HAPPY READING

Cinta itu...

tidak memandang apapun, 'kan?

krieett!

Pintu kayu berwarna coklat dengan papan yang menggantung didepannya bertuliskan 'Min Yoongi' itu terbuka dengan perlahan, beberapa detik kemudian sosok lelaki dengan surai orange muncul dari balik pintu dengan cengiran lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya. Kedua manik hitam lelaki itu berbinar ketika melihat seorang lelaki tengah meringkuk didalam kamar tersebut. Layaknya pencuri, ia berjalan mendekati lelaki itu berjinjit dengan kekehan tak bersuaranya.

Kaki panjangnya terus melangkah masuk dan menaiki tempat tidur si pemilik kamar tanpa izin. Dibaringkannya tubuhnya dihadapan lelaki berkulit pucat yang masih terlelap itu. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi putih lelaki dihadapannya membuat ia tersenyum, ia berpikir betapa manisnya.

Merasakan sesuatu mengusik wajahnya, lelaki yang tengah terlelap itu terlihat sangat terpaksa untuk mengerjapkan kedua mata kecilnya. Yang ia pertama lihat adalah Adiknya yang tengah tersenyum lebar dihadapannya.

"Pagi, hyung!"

Kedua mata kecil segera membulat ketika ia sepenuhnya tersadar. "Apa yang kau lakukan disini, Jimin bodoh?!"

Si pemilik kamar itu, Min Yoongi, refleks menyingkirkan tangan adiknya yang bernama Park Jimin dan segera bangkit dari tempat tidur.

Ngomong-ngomong soal marga, mereka sebenarnya hanyalah saudara tiri. Ibu Jimin menikah 10 tahun yang lalu dengan Ayah Yoongi. dan setelah Jimin menginjak tahun pertama diSMP, Jimin menolak untuk mengganti marganya seperti keluarga Yoongi dan ia selalu menyembunyikan alasannya mengapa seperti itu.

"Kau terlihat manis saat tidur, Hyung." Jimin berucap sambil memandangi Yoongi menikmati roti panggangnya. Yoongi terlihat tidak suka dengan sikap Jimin itu hanya mendelik pada Jimin.

"Sudah berkali-kali aku bilang jangan masuk ke kamarku seenakmu, 'kan?" Yoongi memajukan bibir bawahnya setelah ia berhasil menelan kunyahan terakhir roti panggang ditangannya.

"Iya, Iya, maaf." Jimin terkekeh sembari mengambil piring yang berisikan potongan apel. "Aku hanya memastikan kalau tidak ada makhluk jahat yang menculikmu."

"Tidak perlu, bodoh! Itu keterlaluan!"

Jimin kembali tertawa menanggapi Yoongi yang terlihat sudah sangat kesal. Ia mengulurkan tangannya yang memegang sebuah potongan apel kehadapan bibir Yoongi. "Nah, Ayo makan ini dan jangan marah lagi."

Setiap pagi selalu begini, pikir Yoongi. Entah sudah sejak kapan setiap kali melihat Jimin tersenyum lembut sembari menyodorkan potongan apel itu dapat membuat debaran jantung Yoongi tak karuan dan pipinya tiba-tiba menghangat, sial.

Tanpa ragu, Yoongi segera melahap potongan apel itu dan menatap Jimin malas.

"Ini, makan sendiri, Hyung. Aku ambilkan tasmu dulu." Jimin memberikan piring itu pada Yoongi kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Yoongi untuk mengambilkan tasnya.

5 menit kemudian, Jimin kembali dengan tas Yoongi ditangan kirinya dan seperti, atau memang secarik kertas ditangan kanannya. Jimin mengerenyitkan alisnya. "Ini apa, Hyung?"

Yoongi mendongak dan melihat Jimin membawa surat ditangannya, Yoongi mengedipkan kedua matanya beberapa kali tampak berpikir. "Ah! Itu!"

Yoongi menghampiri Jimin, dan merebut surat itu dari tangan Jimin kemudian membuka isinya untuk tunjukan kepada Jimin. "Kemarin, seorang lelaki tampan memberikannya kepadaku. Tapi aku tidak kenal."

"Hmm, surat cinta." Jimin kembali merebut surat ditangan Yoongi dan raut wajahnya seketika berubah. Jimin merobek-robek surat ditangannya dengan sorotan mata penuh kebencian. "Dia berharap cara kuno ini akan meninggalkan kesan padamu, Hyung? Sama sekali tidak pantas!" ucapnya meremehkan.

Tanpa mengedipkan matanya, Yoongi memandang horror pada wajah Jimin yang terlihat jengkel. Tiba-tiba Jimin menyambar tasnya yang berada diatas meja makan dan berjalan terburu-buru keluar rumah. Tidak perlu berpikir panjang, Yoongi segera menyusul Jimin.

"Hei! Kau kenapa, Park Jimin?!"

Jimin berhenti dan melirik Yoongi dengan mata tajamnya. "Akan aku lenyapkan lelaki itu!"

"Sudah kubilang, kau itu keterlaluan!" Yoongi dengan sangat kesal menarik telinga Jimin. Membuat si pemilik telinga itu meringis kesakitan dan memohon ampun. Jimin memang selalu kalah jika berhadapan dengan Yoongi, kasihan.

Yoongi sering berpikir jika Jimin bersikap seperti ini, berawal dari hari itu. Ketika beberapa minggu setelah kita bertemu sebagai Kakak Adik tiri, namun kita segera akrab. Dan suatu hari, saat Yoongi dan Jimin tengah bermain istana pasir ditaman tak jauh dari rumah mereka. Tanpa diduga seorang pria menghampiri Yoongi dan hampir menculiknya didepan Jimin. Jimin marah dan berteriak "JANGAN SENTUH YOONGI HYUNG!" . Berkat serangan Jimin, penculik itu melarikan diri dan melepaskan Yoongi. Dan sejak saat itu Jimin mulai melindungiku secara berlebihan.

.

.

"Hei, lihat! Hari inipun Yoongi sunbae terlihat manis!"

"Lihat! itu Park Jimin! Aku melihatnya dari pagi."

Terdengar bisikan-bisikan daripara siswa siswi yang baru saja Yoongi dan Jimin lewati. Mereka sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Keduanya populer disekolah. Siapa yang tak kenal Yoongi si Kapten tim basket yang kelewat manis dan Leader di klub dance dengan wajah tampan dan tubuh berotot seperti Jimin.

"Hari ini aku akan jemput lagi jam 3.31 ( 1 menit setelah sekolah berakhir )" Jimin memeluk Yoongi dengan erat.

"Yak! lepaskan!" Yoongi merasa sesak dengan pelukan Jimin segera mendorongnya dan sebelum dilihat anak-anak sekolah. Bukannya pergi, Jimin malah mengeratkan pelukannya.

"Aku tidak ingin berpisah! Aku paling suka dengan Yoongi Hyung." Dengan wajah menangis yang dibuat-buat, Jimin terus mengeratkan pelukannya.

"Iya, iya. Aku tahu. Cepat lepaskan, bodoh!" Dengan terpaksa Yoongi menendang kaki yoongi dan kembali menarik telinga Jimin sampai memerah. "Kau ini membuatku malu, Park!"

"Maaf Hyung~ Maaf."

"Cepat sana ke kelasmu!" Dengan kejamnya Yoongi harus mengusir Jimin agar tidak menempel lagi dengannya.

.

.

"Bukankah mereka itu kakak beradik?"

"Iya, tapi mereka itu saudara tiri. Ah, seandainya Jimin tidak brother-complex."

"Dia tidak normal, ya? Dia menyukai Yoongi sunbae? Aneh."

Perbincangan itu, Yoongi mendengarnya.

TBC/No?

Hai, lama gak bertemu kalian semua /;3;)/

sugar datang lagi dengan ff lain mhehehe, yang nunggu fake lover sabar ya, lagi proses wkwk ;u;

Kritik dan saran, mungkin? Tulis dikolom review juseyo! ^3^

Salam hangat,

littlesugar. *pyeong~