Title : My Lovely Lady
Genre : Romance, Humor, Friendship, Genderswitch
Pair : KyuMin and all SuJu member pairing
Disclaimer : Super Junior is not mine but Choi Siwon, Cho Kyuhyun, and Kim Jongwoon is mine *smirk*
Warning : Typo(s), OOC, Abal
.
.
.
.
''I have tens of thousands of words, but silence means everything.'' - Cho Kyuhyun.
For someone who like bashing someone fanfiction please read sentence in the top.
Don't like my story? Don't read, okay?
.
.
.
.
.
Chapter 1
Seorang namja berwajah tampan, tinggi, berkulit putih pucat, berambut ikal kecoklatan, … —kita simpan deskripsi berikutnya untuk nanti saja—berjalan di koridor sekolah diiringi musik yang khas di telinga yang memang selalu terdengar setiap kali namja itu melewati koridor, jeritan para siswi. Tapi sang pelaku yang menyebabkan jeritan itu hanya berjalan cuek—lebih ke arogan sepertinya—dengan headset silver kesayangannya yang menempel di telinga. Sementara itu kedua tangannya sibuk memencet-mencet sebuah benda elektronik berwarna hitam yang bernama PSP.
Cho Kyuhyun. Itulah nama namja yang kini membelokan langkahnya memasuki salah satu ruang kelas. Namja berambut ikal kecoklatan itu menduduki salah satu kursi yang ada di kelas itu. Matanya masih terus fokus menatap layar PSP dengan hikmatnya.
Game Over.
.
Alis Kyuhyun berkedut saat melihat tulisan itu terpampang di layar PSP-nya. Ia menggerutu pelan. Baru saja ia ingin menekan tombol reset tapi tiba-tiba suara yang menyebalkan terdengar di telinganya.
Teettt.. teettt..
Bel tanda masuk.
Detik itu juga Kyuhyun merasa sangat merindukan bel istirahat.
.
.
.
.
Kyuhyun menulis angka terakhir pada jawabannya sebelum akhirnya meletakkan spidol di atas meja guru dan kembali ke kursinya. Park seonsaengnim mengecek dengan seksama jawaban Kyuhyun kemudian mengangguk pelan dan memberi tanda centang di samping jawabannya. Kyuhun menarik salah satu sudut bibirnya. Terlalu mudah.
"Bagus Cho Kyuhyun. Dan untuk yang lainnya, belajarlah lebih giat, masa soal mudah seperti ini saja kalian tidak bisa?" ujar Park seonsaengnim. Murid-murid di kelas itu menggerutu pelan. Mudah apanya, lihat saja jawaban Kyuhyun, soal hanya satu baris tapi hampir setengah papan tulis berisi rumus fisika yang dituliskan tangannya. Kyuhyun saja yang terlalu jenius! Kurang lebih seperti itulah pikiran murid-murid yang ada di kelas itu.
Oke sepertinya kita mendapatkan satu lagi deskripsi tentang namja bermarga Cho ini.
Jenius.
Teettt.. Teettt..
Bel istirahat berbunyi mengakhiri penderitaan murid dari guru fisika yang terkenal killer itu.
.
.
.
.
"Kyu, ke kantin denganku yuk!"
Seorang yeoja centil—terlihat dari nada bicaranya dan jarinya yang menggulung-gulung rambut panjangnya—menghampiri Kyuhyun yang sedang asyik dengan pacarnya (baca: PSP). Kyuhyun mempause game yang sedang ia mainkan dan menoleh malas ke arah yeoja itu.
"Mian Yuri, aku …"
"Kalau kau tidak mau dengan Yuri bagaimana kalau denganku!" seorang yeoja centil lain datang sambil mendorong yeoja yang diketahui bernama Yuri itu yang kini terjungkal ke samping dengan tidak elitnya. Kyuhyun menatap kasian ke arah Yuri yang kini mengusap-usap kepalanya.
"Mian juga Hyoyeon, aku …"
"Makan denganku saja Kyunnie!" seorang yeoja centil lain—lagi, datang dan mendorong Hyoyeon. Tapi kali ini tidak sampai terjatuh. Hyoyeon menatap tajam ke arah yeoja yang mendorongnya itu dan di balas dengan tatapan yang tak kalah tajam oleh yeoja itu.
Tak sampai sepuluh detik perang tatapan tajam itu berubah menjadi perang jambak rambut.
Alis Kyuhyun berkedut.
"Ayo Kyu lebih baik ke kantin denganku saja!" Yuri kembali mendekati Kyuhyun, tapi tak lama beberapa yeoja lain juga berjalan mendekati meja Kyu dan melontarkan kalimat yang intinya sama.
Ke-kantin-denganku-yuk-!
Sepertinya kita menemukan lagi deskripsi dari namja yang kini sibuk menutupi telinganya karena yeoja-yeoja yang berkumpul di mejanya itu kini saling berteriak: "Kyuhyun makan denganku!"
Digilai para yeoja.
Kyuhyun melengos, tiba-tiba sesuatu melintas di otak jeniusnya. Mungkin bermain starcraft di atap sekolah merupakan ide yang bagus.
Perlahan—dengan tangan menggenggam PSP—Kyuhyun berjalan mengendap meninggalkan yeoja-yeoja yang masih sibuk berdebat itu. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di ambang pintu kelas dan menoleh sekilas ke arah yeoja-yeoja itu.
Cantik-cantik sih … tapi sayang … idiot semua. cibir Kyuhyun dalam hati kemudian kembali berjalan meninggalkan kelas yang bising itu.
.
.
.
.
Game Over.
.
Entah sudah berapa kali dua kata itu terpampang di layar PSP Kyuhyun. Namja itu mengacak rambutnya frustasi. Sepertinya baru kali ini ia mengalami kekalahan sebanyak ini.
"Apa yang salah denganku? Wae? Wae?" histeris Kyuhyun sambil mengguncang-guncang PSP dengan kedua tangannya, berlebihan.
Bip!
Layar PSP itu tiba-tiba gelap. Hitam. Mati.
Kyuhyun terbelalak.
Satu detik.. dua detik.. tiga detik..
"AAAAAA PSP PABO! AKU BELUM SAVE PERMAINAN TADI!" teriak Kyuhyun frustasi. Rasanya ia ingin sekali melempar PSP itu dari atas atap sekolah ini.
Sepertinya sifat cool tokoh kita yang satu ini sudah menguap entah kemana karena sinar matahari.
"Naega ddeotda hamyeon da wijyeo oppa oppa~ Tokyo London New York Paris oppa oppa~ I'm so cool, I'm so cool, party like a superstar~"
Kyuhyun kembali terbelalak saat mendengar sebuah lagu yang terdengar sangat aneh di telinganya. Terlebih mengetahui bahwa terdengarnya lagu itu bersamaandengan bergetarnya ponsel yang ada di saku celananya.
"Errr.. Yesung hyung." ucap Kyuhyun geram, tanpa berpikir pun ia tahu pasti kakaknya yang seorang k-pop addict itu yang seenaknya mengganti nada dering ponselnya.
Sambil menggerutu pelan Kyuhyun mengambil ponsel itu kemudian menekan tombol hijau.
"Yeoboseyo. Nugu?"
"Nugu? Kau tidak mengenal appa-mu sendiri, Cho Kyuhyun?"
Kyuhyun menjauhkan ponselnya kemudian melihat nama yang terpapang di layar ponsel itu.
Appa.
"Ah Appa ternyata, mworago?" tanya Kyuhyun setelah kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
"Kau ada di mana sekarang?"
Alis Kyuhyun berkedut mendengar pertanyaan yang menurutnya bodoh dari Appa-nya itu.
"Tentu saja di sekolah Appa." jawab Kyuhyun malas.
"Ya itu Appa juga tahu!"
Hening.
"Kalau Appa tahu kenapa bertanya?" ucap Kyuhyun kesal.
"Maksud Appa kau sekarang ada di bagian sekolah yang mana? Appa tadi ke kelasmu tapi kau tidak ada!"
Kyuhyun terbelalak. "MWO? Untuk apa Appa ke kelasku?"
"Menjemputmu."
"Untuk apa Appa menjemputku? Sampai ke kelas pula! Ini belum waktunya pulang Appa!"
"Ada urusan penting yang ingin Appa bicarakan denganmu."
"Kenapa tidak memberitahukanku saja? Aku bisa pulang sendiri dan menemui Appa di rumah."
"Tapi sekarang Appa ada di sekolahmu, Kyuhyun-ah!"
Hening lagi.
Rasanya Kyuhyun ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok karena mempunyai Appa se-pabo ini.
.
.
.
.
Sunyi. Tegang. Hitam. Itulah atmosfer yang tergambarkan dalam ruangan ini.
"A … Appa bercanda kan?" Kyuhyun menatap seorang namja paruh baya—yang sama sekali tidak terlihat paruh baya—yang kini duduk di hadapannya dan hanya berbatas pada sebuah meja kerja dengan tatapan tak percaya.
Tuan Kim memberi death glare tajam pada Kyuhyun. Membuat namja berambut coklat itu menatapnya ngeri.
Sepertinya kali ini ia lebih suka kalau appa-nya pabo daripada menakutkan seperti ini.
"Appa tidak bercanda." ucap tuan Kim tegas.
"Ta .. tapi Appa, ini tidak masuk akal! Kenapa Appa tidak menyuruh anak buah Appa saja? Kenapa harus aku? Atau kenapa tidak Yesung hyung saja?" seru Kyuhyun frustasi sambil menunjuk namja sipit yang sedari tadi berdiri di salah satu sudut ruangan itu. Namja sipit itu membelalakan matanya—yang tentunya tetap tidak bisa menghilangkan kodrat sipitnya.
"Ya! Aku hyungmu! Jangan seenaknya main tunjuk!"
"Hyuuunggg." ucap Kyuhyun dengan nada manja, merajuk. Kedua mata obsidiannya membentuk sebuah puppy eyes (gagal) yang seolah-olah berkata: hyung-bantulah-dongsaengmu-yang-manis-ini.
Yesung tersenyum manis.
Detik berikutnya ia mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun ke tembok sambil terkikik pelan.
Kyuhyun ternganga. Oh, betapa teganya Yesung pada adik kecilnya yang manis itu.
"Appa tidak bisa menyuruh hyungmu karena dia satu sekolah dengan putri Tuan Lee." Tuan Kim kembali angkat bicara. Kyuhyun menatapnya protes.
"Jadi menurut Appa Tuan Lee tidak mungkin mengenaliku? Ayolah Appa, bukankah tadi Appa bilang Tuan Lee itu musuh bebuyutan Appa? Mana mungkin ia tidak tahu kalau aku anak Appa!"
"Tentu saja tidak, dia tidak mungkin tahu kalau kau anakku karena margamu tidak sama denganku."
Nyuutt!
O ow … sepertinya Tuan Kim salah memilih kalimat sehingga membuat wajah anak bungsunya seketika berubah menjadi mendung.
"Ma.. maksud Appa bukan seperti itu Kyuhyun." Tuan Kim gelagapan. Yesung yang sedari menatap tembok tersentak kaget mendengar perkataan ayahnya tadi. Death glare dari mata sipitnya untuk sang appa pun tak bisa dihindari.
Tuan Kim menelan ludah.
"Mianhae Kyunnie, appa benar-benar tidak bermaksud, sungguh, kau tetap anak appa, kau tahu itu kan?" Tuan Kim menatapnya penuh sesal.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan kemudian tersenyum tipis. "Gwaenchana Appa, Appa tidak perlu minta maaf."
Tuan Kim menghela napas. "Sebenarnya appa menyuruhmu melakukan hal ini karena tidak ada satu pun bawahan appa yang bisa appa percayai dalam masalah ini. Maka dari itu appa menunjukmu Kyuhyun, lebih baik mempercayakan hal ini pada keluarga sendiri kan daripada orang lain?"
Kyuhyun tepekur. Seketika hatinya terasa hangat. Hey, itu berarti appa-nya memang sangat sayang padanya kan sehingga mempercayakan hal sepenting ini padanya?
"Entahlah Appa, ini terlalu nekat. Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Kyuhyun ragu.
"Appa yang akan tanggung semuanya, kau tidak usah khawatir." jawab Tuan Kim langsung.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa menemukan arsip itu?"
"Itu urusan belakangan, yang penting kau menyelinap terlebih dahulu. Cepat atau lambat kau pasti bisa menemukan ruang kerja Tuan Lee dan mengambil arsip itu."
"Berapa lama aku harus menyelinap di rumah Tuan Lee?"
"Sampai aku menyuruhmu berhenti."
"MWO? ANDWAE!" tolak Kyuhyun langsung.
"Appa akan menaikan uang sakumu 10 kali lipat kalau kau mau melakukan hal ini."
Mata Kyuhyun dan Yesung terbelalak sempurna.
"MWO? SEPULUH KALI LIPAT?" ucap mereka berbarengan. Tuan Kim tersenyum.
"Curang! Ini tidak ad—" Yesung yang tadinya ingin protes langsung bungkam karena mendapat death glare dari Tuan Kim.
"Appa tidak bercanda kan?" tanya Kyuhyun memastikan. Tuan Kim menggeleng.
"Sepuluh kali lipat?" tanya Kyuhyun lagi, kali ini dengan senyum tertahan. Tuan Kim mengangguk.
Rasanya Kyuhyun ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya. Perlu diingatkan bahwa Tuan Kim yang notabene ayah Yesung-Kyuhyun ini adalah salah satu dari sepuluh pengusaha terkaya di Korea Selatan. Uang saku Kyuhyun yang biasanya saja sudah mampu membuat teman-temannya gigit jari, apalagi ditambah, sepuluh kali lipat pula!
Dan akhirnya kedua namja yang sedari tadi duduk berhadapan itu pun berjabat tangan tanda menyetujui kesepakatan itu.
"Baik Kyuhyun-ah, appa sudah mengurus semua keperluan dan memalsukan semua data-datamu. Mulai besok kau sudah bisa menyelinap ke rumah Tuan Lee dan menyamar sebagai bodyguard resmi putri Tuan Lee, Lee Sungmin." Tuan Kim tersenyum—lebih tepatnya menyeringai—pada Kyuhyun. Namja bermarga Cho itu terbelalak.
"MWO? BESOK?"
Namja bermarga Kim yang berdiri di sudut ruangan terkikik geli menertawai nasib adiknya. Poor Kyuhyun..
.
.
.
.
.
-to be continue-
