The Daily Story of Kim Family

.

BTS ARE GOD'S, THEIR PARENTS'S, BIG HIT'S, ARMIES, BUT THIS STORY IS MINE

Family!AU

WARN! GS for Seokjin and Jungkook

HOPE YOU LIKE IT!

HAPPY READING!

.

.

.

TDSKF C.1: Jungkook's First Period


"Uuugh…"

Jungkook masih setengah tidak sadar ketika perutnya terasa sakit. Tidak, bukan perutnya. Tapi dasar perutnya terasa seperti diperas dan sangat nyeri.

Jungkook bangkit dari posisi tidurnya, masih meringis karena perutnya semakin sakit ketika ia mencoba untuk bangun. Gadis berusia empat belas tahun itu merasa sedikit ganjil dengan dasternya; ada sedikit rasa basah di bagian bawah. Terkejut sekaligus panik karena mengira sedang mengompol, Jungkook menyibak selimutnya terburu-buru dan mematung ketika mengetahui yang sebenarnya.

Tidak, ia tidak mengompol. Air kencing mana mungkin warna merah.

Iya. Warna merah.

GULP

Jungkook menelan ludahnya susah payah. Wajahnya pucat pasi.

Dan hal pertama yang dilakukannya di hari Minggu pagi adalah,

"MAMAAAAAAAAA!"


Kim Seokjin sudah siap lahir batin kalau-kalau ia punya anak perempuan. Kelahiran Jungkook juga sangat disyukurinya karena memiliki anak perempuan yang cantik dan manis ada di daftar pohon mimpinya SMA dulu.

Seokjin sedang mengolesi roti tawar dengan Ovamaltine ketika putri bungsunya menjerit-jerit histeris dari arah kamar.

"MAMAAAAAAAAAA!"

Mau tak mau Seokjin melempar rotinya ke piring dan bergegas menemui Jungkook di kamar putrinya yang terletak di lantai dua. Ini masih jam enam pagi, tapi kenapa Kim Jungkook sudah membuat keributan?

"Ada apa, Jungkook?" seru Seokjin panik, membuka pintu kamar putri bungsunya sekali gebrak. Seokjin terkejut melihat Jungkook menangis melolong-lolong sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ada apa dengan anak ini?

"Seokjin! Apa yang terjadi?"

Ternyata yang kaget karena jeritan histeris dan tangisan menyayat Jungkook bukan hanya Seokjin, tetapi suaminya Namjoon juga ikut terbangun dan sekarang menaiki tangga dengan wajah bingung sekaligus mengantuk. Pity for Namjoon, lelaki dua anak itu baru tidur jam tiga pagi karena harus menyelesaikan berkasnya menumpuk dan terbangun jam enam pagi karena teriakan Jungkook.

Satu-satunya yang tidak terbangun hanyalah Kim Jimin. Putra sulung Namjoon-Seokjin itu justru asyik mencetak peta diatas bantalnya.

"Aku tidak tahu," Seokjin menggeleng, menjawab pertanyaan Namjoon, "Jungkook menjerit tiba-tiba dan—"

"Mamaaaaaaa!" Jungkook melolong, "pipisku darah!"

Seokjin merasa pusing. Pipis darah? Sekarang apalagi ini?

"Aku nggak pernah makan apapun yang aneh-aneh, Ma! Tapi kenapa pipisku jadi darah?" Jungkook menangis, tubuhnya bergetar karena ketakutan. "Pipisnya banyak, Ma! Jungkook takut!"

Seokjin berjalan mendekat, memeriksa apakah benar pipis darah yang disebut Jungkook tadi. Dipeluknya tubuh Jungkook agar tenang sementara ia mengecek pipis darah yang membasahi sprei kesayangan putrinya itu. Oh, astaga.

"Kim Jungkook anak Mama yang cantik dan manis," kata Seokjin gemas, "ini bukan pipis darah. Ini menstruasi. Jungkook sudah pubertas, Jungkook paham?"

Jungkook berhenti terisak, mendongak untuk menatap mata ibunya. "M-Menstruasi? Itu penyakit apa, Ma?"

Crap. Putrinya sudah kelas 2 SMP dan seharusnya Seokjin sudah mengajarinya tentang tamu bulanan perempuan sejak kelas 6 SD. Seokjin terlalu santai karena pubertas Jungkook sedikit lebih terlambat dari gadis-gadis seusianya.

"Jadi," Seokjin duduk di sisi Jungkook, mengelus-elus rambut putrinya, "perempuan memiliki masa-masa dalam satu bulan sekali dimana masa-masa itu perempuan kedatangan tamu. Tamu yang Mama maksud adalah sel telur yang gugur karena tidak… ehm… dibuahi. Sel telur itu akan luruh bersama dengan darah kotor dalam tubuh perempuan. Selama masa-masa itu, perempuan tidak diperbolehkan melakukan beberapa hal. Contohnya, makan dan minum es karena es bisa membuat darah yang seharusnya luruh justru menggumpal."

"Jadi… menstruasi yang Mama maksud itu bukan penyakit?"

Seokjin menggeleng sambil tersenyum. "Sama sekali bukan penyakit. Menstruasi adalah tanda-tanda bahwa seorang anak perempuan beranjak menjadi gadis. Ada beberapa tanda pubertas selain menstruasi dan Mama akan membantu menjelaskan semuanya pada Jungkook setelah Jungkook mandi, oke? Sekarang, minta maaf pada Papa karena Papa terbangun setelah mendengar teriakanmu."

"Eh?" Jungkook mengerjap kaget, menoleh ke arah pintu kamarnya dan menyeringai saat melihat papanya berdiri disana dengan mata setengah tertutup.

"Anak bungsu Papa sudah besar, ya? Selamat, ya. Nah sekarang, biarkan Papa tidur," gumam Namjoon setengah meracau sambil lalu. Lelaki itu menguap lebar, menunjukkan betapa lelahnya menjadi seorang pengacara tersohor.

"Maafkan Jungkook, Papa! Jungkook sayang Papa!" seru Jungkook, tertawa sambil memeluk pinggang ibunya. "Mama, bagaimana caranya membersihkan darah ini?"

Seokjin tersenyum jenaka, menyentil ujung hidung Jungkook. "Sebelumnya, belajar cara memasang pembalut dulu ya, anak gadis."

C.1 FIN!


a/n: hiyaaaa apalagi ini xD WWLH sama AVCW belum selesai saya malah buka lapak baru xD

ini ff udah mengendap lama di laptop saya yang mau rusak :') istilahnya sekarang tuh, dibuang sayang hehe. TDSKF ini anggep aja selingan ringan dari saya ya :) ada yang ngefav dan ngefollow ya alhamdulillah wkwkwk

dua hari lagi puasa. besok udah tarawih :') saya minta maaf sebesar-besarnya apabila pernah menyinggung perasaan pembaca semuanya. saya sayang kalian~