Teman?

Republish.

Disclaimer: Naruto milik Mashashi Kishimoto.

Warning: AU, minim dialogue, semi M for blood. Tidak sesuai EYD (amatiran).


Sabaku no Gaara, hampir seluruh warga kota Suna tak mengenal bocah laki-laki berambut merah ini, dia adalah adik dari Temari dan Kankuro. Sebuah keluarga yang tinggal di daerah pinggiran kota Suna. Keluarga yang menyimpan begitu banyak rahasia. Terlebih lagi tentang Gaara, bocah dua belas tahun bertato 'Ai' itu sudah memakan puluhan manusia dalam artian yang sebenarnya.

Di dalam tubuhnya terdapat seekor siluman rakun liar bernama Shukaku, yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh Gaara sewaktu bayi oleh almarhum ayahnya. Tujuannya? Demi menjaga harta kekayaan keluarga Sabaku yang terkenal dermawan dan terkaya di penjuru kota Suna.

Namun sangat disayangkan, Gaara tidak terdaftar dalam keluarga Sabaku meski ia adalah adik kandung Temari dan Kankuro. Jauh dalam dirinya, Gaara tentu tak menginginkan hal tersebut. Menjadi ujung tombak pencari tumbal dan merasakan panas yang luar biasa saat tubuhnya dipaksa memburu daging segar manusia. Dikucilkan dan diasingkan di gubuk dekat hutan tak jauh dari rumah megah keluarga Sabaku, oleh keluarganya sendiri.

Ia tinggal sendiri di gubuk itu, tidak ada satupun orang yang berniat mengadopsinya, padahal setahu dan sepenglihatan mereka, Gaara benar-benar terlihat sendiri. Gaara mendapat makan dari mana, mereka tidak ada yang peduli. Semua orang menganggapnya anak gelandangan yang tidak waras.

Semua gerak-gerik dan perilaku sehari-harinya nampak begitu berbeda dari anak-anak lain. Dia diam, dingin, dan tidak bisa bicara apapun kepada siapa pun termasuk keluarganya sendiri. Tidak ada yang berani mendekatinya kendati dia sering mendekati kerumunan anak-anak untuk bergabung bermain, tapi anak-anak tersebut sudah pasti lari melihat kedatangannya.

Dan karena hal itulah yang membuat Gaara sedih namun tak pernah ia tampakan dalam raut wajah dingin dan datarnya. Saat kesedihannya memuncak, ia hanya bisa melampiaskan emosi labilnya kepada makhluk mengerikan yang mendiami tubuhnya, Shukaku.

Shukaku sendiri adalah makhluk dari dunia kegelapan yang menjajikan kesejahterahan harta, percintaan, kekuasaan, apapun itu yang bersifat duniawi. Asalkan ia diberi sebuah jendela untuk menikmati daging manusia. Dan… keluarga Sabaku menyerahkan Gaara, untuk dijadikan jendela bagi Shukaku.

Malam ini adalah bulan purnama, dan seperti biasanya, Gaara akan mencari mangsanya di malam hari. Tidak, maksudnya adalah Shukaku yang mencari dan meminjam tubuh Gaara, lagi, untuk kesekian kalinya.

Bocah malang itu telah memasukan daging seorang manusia ke dalam perutnya secara paksa. Korbannya kali ini adalah seorang manusia berambut putih yang ia kenal bernama Dan Kato, suami dari Tsunade yang merupakan wanita paruh baya yang hingga kini belum memiliki anak.

Gaara berjalan pulang menuju gubuknya dengan darah yang menempel di wajah—terutama bagian mulut—, tangan dan baju lusuhnya. Gaara terlihat begitu mengerikan, persis seorang anak kanibal liar. Ia berjalan menyeret langkahnya dengan punggung bergetar, terisak. Gaara sangat benci bau ini, amis, menjijikan. Kalau saja ia bisa bersuara, ia akan berteriak sekencang-kencangnya untuk menumpahkan segala kekesalan yang menumpuk menindih batinnya.

Bulan purnama menyinari jalan setapak pinggir hutan yang menuju gubuknya. Tak perlu khawatir dilihat orang lain, percayalah, tak ada manusia yang berani ke tempat segelap dan seseram ini. Hanya Gaara, bocah dua belas tahun yang dicap gelandangan gila yang dengan tenang melintasinya.

Langkahnya terhenti ketika samar-samar ia mendengar suara isakan tangis. Gaara menajamkan pendengarnya dengan kerutan dahi—tanda ia sedang berkonsentrasi mendeteksi dari arah mana suara tersebut. Lama-kelamaan suara itu semakin jelas, bukan karena Gaara mendekat, tapi sepertinya suara itu yang mendekatinya.

Semakin lama semakin jelas, iris hijau pucatnya yang memiliki kelebihan melihat dalam gelap itu—menangkap adanya sosok gadis berambut merah muda yang berjalan memeluk boneka beruang berwarna cokelat.

Gadis itu nampaknya tersesat dan ketakutan hingga menangis. Tanpa sadar, Gaara melangkah mendekat ke arah gadis yang sedang mendekat ke arahnya. Keduanya berjalan hingga di sebuah titik celah hutan yang membiarkan sinar rembulan menyinarinya. Tempat yang tidak ditutupi rimbunnya pohon.

Gadis kecil berumur lima tahun itu nampak tersentak, dan hilanglah tangisnya seketika ketika melihat sosok Gaara yang keluar dari kegelapan. Gaara pun ikut terkejut dan menghentikan langkahnya. Untuk beberapa saat, keduanya terpaku.

Dua iris hijau yang berbeda ketajaman warna itu saling menatap dalam diam. Untuk gadis kecil seukurannya, gadis berambut merah muda itu tidak mengerti mengapa anak laki-laki di hadapannya memiliki mulut, tangan, dan baju yang dilumuri darah. Aroma amis berbaur karat pun mengudara dengan sangat menyengat.

Tatapan datar dari iris hijau pucat Gaara tak membuat Sakura—nama gadis lima tahun itu—merasa takut. Justru membuatnya tertarik hingga melupakan dirinya sendiri, kalau ia sedang tersesat. Kaki-kaki mungil Sakura melangkah mendekat, dan itu membuat Gaara tidak tahu harus berbuat apa. Pasalnya, sudah lama ia mencoba mendekati anak-anak lain—yang sudah pasti membuat mereka melarikan diri—tapi sekarang ia didekati oleh seorang anak manusia. Ia harus bagaimana?

Diam. Gaara hanya terdiam hingga akhirnya tangan gadis itu terulur menyentuh darah yang membaluri permukaan tangan Gaara. Membuat Gaara terkejut, jika saja ia memiliki alis, ia akan mengangkat alis tersebut saat ini.

"Kau sakit?" tanya gadis kecil itu mendongak menatap wajah penuh darah milik Gaara.

"Tanganmu beldalah… mulutmu beldalah… kau sakit? Kau telluka?" ulang gadis kecil berambut merah itu dengan suara cadel, sambil menaruh boneka beruangnya di tanah, untuk kemudian mengeluarkan sebuah handuk kecil berwarna merah muda pucat seperti warna rambutnya dari saku gaun rumahannya.

Gaara masih diam tak menjawab, selain ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia juga tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan bergumam pun tidak bisa. Gaara hanya dapat memerhatikan gerakan sembrono gadis kecil di hadapannya yang sedang mengusap tangan-tangan berdarahnya. Kemudian baju dan wajah Gaara dengan sedikit menjijit. Secara naluri, Gaara pun membungkuk untuk mempermudah gadis kecil itu membersihkan wajahnya.

Ada sesuatu yang aneh menguap dalam perut hingga dadanya, saat melihat begitu cerah dan damainya hamparan hijau pada kedua iris gadis kecil itu.

"Namaku, Sakula…" ucap gadis itu memperkenalkan diri di tengah usapan tak becusnya pada wajah Gaara. Gaara mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.

"Namamu siapa?" tanya lagi gadis berambut merah muda itu ketika telah selesai membersihkan darah pada Gaara, meski tidak benar-benar bersih.

Nama?

Duabelas tahun Gaara hidup di dunia ini sebagai manusia malang yang dirasuki Shukaku, ia tidak pernah berkomunikasi normal pada manusia lainnya. Tidak pernah berbicara pada siapapun, bersuara pun tidak bisa. Lalu, apa arti kata barusan? Nama? Apa itu?

Untuk beberapa puluh detik ia terdiam nampak berfikir, hingga Sakura kembali meraih boneka beruangnya dari tanah dan kembali memeluk boneka tersebut. Akhirnya kerutan di dahi Gaara memudar.

"Gaara?" Gaara kembali membuka matanya lebih lebar, ia terkejut. Itu adalah suara pertama yang ia keluarkan selama dua belas tahun terakhir hidupnya. Bukankah ia selama ini tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun bahkan bergumam pun tidak bisa? Tapi… barusan ia bisa mengeluarkan sebuah kata dari mulut berdarahnya.

Kata yang menyebutkan namanya itu lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan untuk dirinya sendiri.

"Gaala?" Sakura membeo kemudian tersenyum dengan mata menyipit. Jejak-jejak air mata masih menempel di kedua pipi tembamnya yang sedang terdorong lucu karena tersenyum "Jadi, namamu Gaala, ya?"

Gaara tak menjawab, wajah bernoda darah yang mulai mongering itu sedikit tertunduk untuk menatap gadis kecil di hadapannya. Ia tidak mengerti perasaan apa yang kini telah melanda dirinya. Sesuatu yang hangat namun menyejukan menyelimuti hatinya.

Ia. Tidak tahu. Apa itu.

Ini adalah kali pertama ada anak lain yang mengajaknya bicara tanpa tatapan menindas, tanpa tatapan takut, tanpa berlari menghindar. Terlebih lagi gadis itu tersenyum, sebuah ekspresi asing yang tidak pernah Gaara dapatkan dari satu manusia pun. Namun ekspresi yang tak ia kenal tersebut, secara tidak sadar telah membuatnya sedikit menarik kedua sudut bibirnya, hanya sedikit.

Urat-urat ketengangannya seolah mengendur dan ia merasa nyaman dengan gerakan wajahnya saat ini. Meski pergerakan itu sangatlah sedikit, tapi dampaknya sangatlah besar. Ia merasa nafasnya lebih ringan, perasaannya lebih tenang dan damai.

"Gaala, ayo kita belteman!" seru Sakura riang memecah keheningan Gaara, menarik Gaara kembali dalam dunia nyatanya. Belum sempat Gaara kebingungan, gadis bermata hijau cemerlang itu kembali bersuara.

"Gaala mau kan jadi temanku? Kita belteman…" tanyanya dengan riang dan suara yang terdengar menyenangkan di telinga Gaara. Keceriaan yang belum pernah ia rasakan.

"Kita… teman!" Sakura mengerucutkan bibirnya ketika tak kunjung mendapat jawaban dari Gaara.

"Teman?" Gaara tanpa sadar membeo, dan itu membuat dirinya sendiri terkejut untuk kedua kalinya. Ia sedikit—sangat sedikit—terkekeh merasa lucu dengan suaranya sendiri yang baru ia dengar. Tapi nampaknya, ia mulai terbiasa.

"Iya, teman." Sakura mengangguk antusias.

Teman? Sepertinya… "Aku suka kata itu." sahut Gaara kemudian diikuti dengan senyum tipisnya.

.

.

.


Owari or TBC?