WORRY

Naruto belongs Masashi Kishimoto and story belongs Kiriko Saki.

[SasuSaku; ShikaTema; SaIno; NaruHina]

Romance

T

Warning: Kinda weird, absurd, OOC, typo(s), not ngefeel(?), etc.

DLDR

.

.


Prolog


.

Di salah satu jalanan Konoha, tampak seorang gadis bersurai pirang pucat sedang melangkahkan kakinya ringan. Ia menikmati keramaian jalan di sore hari.

Orang berlalu lalang disebelahnya, sesekali ia tersenggol oleh bahu orang yang melewatinya. Beberapa toko sudah mulai bersiap untuk menutup tokonya, tetapi juga ada beberapa toko yang baru saja buka.

Angin tertiup perlahan, menerpa wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambutnya. Angin sore ini cukup sejuk, membuatnya lupa dengan rasa lelahnya.

"Ino.."

Suara berat menginterupsi langkahnya, gadis bersurai pirang pucat tersebut membalikkan badannya,

"…Rokudaime?"

Seseorang pria tinggi, mengenakan masker biru tua yang hampir 75% menutupi wajahnya, sedangkan tangan kanannya memegang buku berwarna orange berjudul 'Icha-Icha Paradaisu' telah berdiri tegak dibelakangnya.

"Tak perlu seformal itu memanggilku."

Ino menggelengkan kepala pelan, "Tak bisa begitu, anda sekarang Hokage."

"Iya sih, tapi ini kan sedang diluar kantor, jadi panggil Kakashi seperti biasa saja." Ucapnya sembari tersenyum –terlihat dari mata kirinya yang menyipit.

Tak bisa dibantah, Ino mengangguk saja, "Kenapa Kakashi-sensei ada disini?"

Sempat sebentar lupa, Kakashi langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik surat, "Ini ada pesan dari seseorang untukmu." Kakashi mengoperkan surat tersebut pada Ino.

Ino menerimanya sembari menautkan alisnya, "Dari siapa?"

"Baca surat itu jika sudah sampai rumah, itu surat rahasia."

Ia memperhatikan surat tersebut, "Rahasia–"

BFOOH.

"–eh, bunshin?"

Ternyata yang didepannya tadi bukanlah Kakashi yang asli, melainkan bunshin-nya, dasar.

Ino kembali membalikkan badannya dan segera jalan pulang, ia sudah sangat tidak sabar untuk membuka surat yang katanya isinya rahasia itu.

Sesampai didepan rumahnya, Ino menyerngitkan dahinya dan langsung dalam mode siaga, matanya menatap sekeliling rumahnya, gelap dan sepi.

Ini ada yang tidak beres.

Pintu rumahnya sedikit terbuka padahal ia ingat dengan jelas bahwa tadi pagi sebelum berangkat membantu Sakura di rumah sakit, ia mengunci pintunya.

Matanya beralih menatap pintu toko bunganya, sedikit terbuka juga!

Ino meraih kunai-nya lalu melangkah masuk dengan perlahan, keadaan dalam rumahnya sangat sepi dan tenang. Ino semakin waspada, ia melangkah masuk lebih dalam sembari menengokkan kepalanya kekanan dan kekiri.

Benar-benar sepi, tak ada hawa keberadaan seseorang, Ino tak menurunkan kewaspadaannya, ia tetap melangkah pelan tanpa menimbulkan suara.

BRUK!

Ino sedikit terkejut, suara itu adalah suara buku jatuh dari dalam kamarnya, ia langsung menuju kamarnya –tetap dengan langkah tanpa suara.

Kalau boleh jujur, kali ini Ino takut sekali, bukan takut karena gelap lalu akan ada hantu muncul, tetapi ia takut jika yang dihadapi nanti adalah perampok rumah yang beringas, ia tak mempunyai kemampuan berkelahi seperti Sakura atau Shikamaru atau bahkan Chouji.

Sungguh ini cukup menakutkan, untuk menghadapi musuh sendirian itu cukup sulit baginya, apalagi tadi ia telah mengeluarkan banyak chakra untuk membantu Sakura di rumah sakit.

Ino meraih gagang pintu kamarnya dan membukanya perlahan, gelap. Ino menelan ludahya dengan berat, tangannya meraba dinding untuk mencari sakelar lampu, saat telah menyentuh sakelarnya tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar.

"Siapa–mmmhhhhpppp!"

Mulut dan hidung Ino telah dibekap menggunakan sapu tangan oleh seseorang yang menariknya. Ino mencium kloroform yang sangat pekat disapu tangan tersebut, membuatnya mual dan pusing.

"Mmppp!" Ino berusaha melepaskan diri tetapi ada daya, bau kloroform itu membuatnya semakin pusing, tak punya tenaga, hingga ia lemas dan pingsan.

Ino hanya berharap, semoga ada orang yang menyadari bahwa ia telah diculik orang dan berusaha menyelamatkannya.

.

Di belahan bumi yang lain, tepatnya di desa Suna, seorang gadis berkucir empat sedang duduk termenung disebuah banggu taman.

Ia memandangi langit cerah berwarna jingga tersebut, beberapa burung berterbangan secara berkelompok dan tak jarang mendengar kicauan mereka yang bersahut-sahutan.

Angin tertiup sepoi-sepoi, berbeda dengan angin yang biasanya, kali ini angin ini sedikit sejuk. Ia menutup matanya untuk menikmati angin senja, sekilas wajah orang yang sangat spesial baginya muncul dibenaknya.

"Boleh aku duduk disebelahmu?"

Suara seseorang membuatnya langsung membuka mata, "Ga-Gaara kau mengejutkanku."

Seseorang bersurai merah hanya tersenyum tipis, "Maaf, apa kau sedang memikirkan pemuda Nara tersebut?"

Blush. Temari seketika merona.

"Ti-Tidak. Aku hanya sedang menikmati angin saja." Jawab Temari sedikit gugup, "Oh ya, kenapa kau kesini? Bukankah kau sebentar lagi ada pertemuan dengan kepala bidang?"

Gaara duduk disamping kakaknya, "Tidak ada yang penting, aku hanya ingin menanyakan keadaan hubunganmu dengan pemuda Nara itu."

Sedikit terkejut, Temari langsung melirik Gaara takut-takut, apa sekarang adiknya itu memiliki indera keenam yang bisa digunakan untuk membaca pikiran seseorang?

Kenapa Gaara menanyakan itu? Apa jangan-jangan Gaara tau tentang pertengkaran yang terjadi diantara aku dan Shikamaru?

"Kau sedang bertengkar dengan dia?" tanya Gaara.

Kenapa ia bisa tau?

"Apa karena masalah hal yang sepela, contohnya pemuda Nara digoda oleh perempuan Konoha?" tanya Gaara lagi.

Tenyata ia memang mempunyai indera keenam yang selama ini, selama ia hidup ia sembunyikan dari aku dan Kankuro!

Seketika Temari menjadi pahatan batu yang indah –ia telah membatu, tak bisa menjawab karena saking gugupnya.

Gaara melirik kakaknya, "Kuberi tau satu hal yang aku tau dari pemuda Nara."

Temari kembali sadar dari acara membatunya dan mulai mendengarkan adiknya dengan seksama.

"Nara Shikamaru sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, aku percaya itu." Gaara beranjak berdiri lalu melenggang pergi meninggalkan kakaknya yang masih terdiam, malu.

Senyum mereka dibibir ranumnya, perkataan Gaara tadi membuatnya melambung tinggi kelangit tujuh kuadrat kali dua belas tambah seratus kali enam puluh lima(?).

Saat kembali sadar bahwa hari telah gelap, Temari segera bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kerumahnya yang lumayan cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Tetap dengan hati yang berbunga-bunga ia menyelusuri jalanan sepi Sunagakure.

SRAK

Temari menolehkan kepalanya menuju ke sumber suara, "Ah, dasar kucing bikin kaget." Ia kembali melanjutkan jalannya, baru tiga langkah ia langsung berhenti, merasa seperti diikuti seseorang.

Jalan yang sedang ia lewati ini termasuk jalan yang cukup lenggang dan cukup gelap, ini merupakan jalan pintas menuju kerumahnya.

Temari membalikkan badannya, kosong, sepi, hanya ada dirinya sendiri dijalan ini. Ia harus segera sampai kerumah.

Sembari meruntuki dirinya karena lupa membawa kipasnya, ia melangkah cepat menuju kerumahnya.

SRAK

Lagi-lagi, Temari menghentikan langkahnya, suara itu tepat dibelakang punggungnya, mungkin hanya berjarak sekitar 1 sampai 1,5 meter darinya–

PET!

Hell, lampu dijalanan itu mati seketika, lampu dari ujung gang masuk sampai gang keluar mungkin. Suasana menjadi benar-benar mencekam.

Tap Tap Tap

Temari membelalak dan langsung memutar tubuhnya 180 derajat, langkah itu bergema, bagaimanapun juga ia tak boleh mati disini.

Kan, tidak seru kunoichi hebat asal Sunagakure terbunuh saat mati lampu di tengah jalan.

Itu mati yang tidak elit, masih mending mati dimedan perang daripada mati di tengah jalan.

Tap Tap Tap

Langkah itu terus mendekat kearahnya, Temari meraih kunai yang untung saja tak pernah lupa ia bawa.

"Siapa kau?" Temari melebarkan matanya untuk melihat sekelilingnya, terlalu gelap.

Tap Tap Tap

Musuhnya semakin dekat dengannya, sungguh ini susah sekali mendeteksi dimana keberadaan musuh, suara langkahnya menggema dan sinar bulan terhalang awan yang cukup tebal.

Suara langkah kaki pun berhenti, membuat Temari semakin waspada, jika saja ia membawa kipasnya, mungkin sekarang ini ia sudah membunuh musuhnya.

Tiba-tiba lampu jalan kembali menyala, Temari segera mengedarkan pandanganya, sepi. Ia sendirian di jalan ini.

Tak mungkin.

Dengan cepat, Temari berbalik badan–

JLEB.

Sebuah pedang panjang telah menghunus dada kanannya, darah mulai membasahi kimono hitamnya, "Si-Siapa kau?" dengan sisa tenaganya, ia berusaha mencari tau si pelaku.

Sumpah demi kolor ijo milik Naruto, jalanan ini sangat sepi tak ada orang, bahkan tadi ia sampai tak bisa merasakan adanya pedang yang menuju kearahnya.

Darah yang keluar sudah sangat banyak membuat Temari semakin lemas dan jatuh tersungkur dijalan.

Sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, Temari sempat bersumpah bahwa ia akan menghantui si pelaku pembunuhan dirinya ini.

SRET

Temari merasakan tubuhnya diseret, tetapi hanya sesaat saja karena setelah itu ia sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi, nafasnya pun sudah sangat melemah.

.

"Gochisousamadeshita~"

Selesai makan malam bersama dengan ayah dan adiknya, Putri Hyuuga tersebut langsung berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya untuk menikmati suasana malam sebelum ia masuk kedalam kamarnya.

Kali ini langit tampah cerah, banyak bintang yang bertebaran dilangit.

Tap Tap

Hinata menolehkan kepalanya kebelakang, "Otou-sama?"

Suara langkah itu berhenti ketika mendengar panggilan itu, Hinata segera berjalan menuju ke sumber suara, "Otou-sama, apa yang kau lakukan digudang belakang?"

Tak ada jawaban, Hinata menautkan alisnya, lalu membuka pintu gudang dan menyalakan lampunya, sepi, tak ada orang, gudang itu kosong.

Hantu?

Hinata percaya betul bahwa ia mendengar langkah kaki dari arah gudang. Bulu kuduk Hinata mulai meremang, tak mungkin dirumah ini ada hantu.

Tap Tap Tap

Hinata kembali suara langkah kaki itu kembali, ia segera mengaktifkan byakugan miliknya–

PUK

Hinata langsung balik badan setelah seseorang menepuknya pundaknya, ia siap menyerang orang tersebut.

"Na-Naruto-kun?"

"Hinata-chan kenapa kau disini?"

Terkejut bukan main, jantungnya rasanya ingin lepas dari tempatnya, "K-Kenapa Naruto-kun ada disini?" tanya Hinata yang masih diliputi rasa terkejut, takut, dan malu-malu.

Naruto tersenyum lebar lalu mendekatkan wajahnya pada kekasihnya, "Aku menyusup kesini." Bisiknya.

Blush. Hinata langsung menunduk dalam-dalam, terlalu dekat, Naruto-kun.

"Jangan dianggap serius, aku bukan menyusup, aku tadi masuk lewat pintu depan, dan sempat bertemu dengan ayahmu juga." Jelas Naruto.

Hinata mengangkat kepalanya dan tersenyum manis, "Ah aku sudah tidak sabar untuk menjadi hokage, 5 bulan lagi." Ucap Naruto girang sendiri.

Impiannya sejak kecil menjadi pemimpin desa Konoha sebentar lagi akan terwujud–

"Astaga, aku kelupaan," Naruto menepuk jidatnya, Hinata hanya memiringkan kepalanya bingung, "Aku lupa menyerahkan laporan tentang misi yang aku tangani kemarin."

Sifat cerobohnya tetap sama saja seperti dulu saat masih kanak-kanak, tidak berubah, tetapi dari sikapnya yang seperti itu malah membuat Hinata semakin mencintai sang pahlawan Konohagakure ini.

Cukup aneh sih, tetapi biarlah.

"Kau harus segera memberikan laporan tersebut pada Rokudaime-sama, Naruto-kun." Ucap Hinata dengan lembut, seperti biasa.

Naruto mengangguk, "Kalau begitu aku permisi pulang dulu, sampaikan salamku pada ayahmu. "

Setelah mengecup kening kekasihnya, Naruto pun segera keluar melalui pintu belakang.

Jam menunjukkan pukul 8 malam, saatnya Hinata untuk masuk kedalam kamar–

Tap Tap Tap

Lagi-lagi, suara langkah itu lagi, Hinata mengaktifkan byakugan kembali, tak ada orang disekitarnya, sepi.

Bukan, ini bukan hantu. Jaman modern, hantu cuma muncul kalau ada kamera yang siap cekrek-cekrek.

Merasa ada yang mengawasinya, Hinata segera lari menuju kamarnya.

"Ini aneh sekali, aku merasa diintai tetapi tak bisa menemukan orangnya dengan byakugan-ku." Gumamnya sembari memasuki kamarnya.

Setelah menutup pintu kamarnya, bukannya semakin aman tetapi malah semakin mencekam. Hinata melihat sekelilingnya, tampak normal dan hanya ada dirinya seorang.

Tap Tap Tap Tap Tap

Suara langkah itu mendekat ke kamarnya, Hinata sudah ketakutan bukan main, air matanya sudah siap terjun, kalau ia bisa mendeteksi aliran chakra musuh, ia masih bisa melawannya tetapi kali ini matanya tak menangkap ada aliran chakra disekitarnya.

"Tolong aku.." gumamnya rendah diikuti dengan suara langkah yang berhenti, bisa ia tebak sekarang orang itu berhenti didepan pintu kamarnya.

Hinata menjauh dari pintu, ia berniat untuk keluar kamar melalui jendela, namun saat akan keluar dari jendela tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan perlahan, ia membalikkan badannya dan bersiap untuk menyerang.

Saking fokusnya dengan orang yang dibalik pintu itu, Hinata sampai tak menyadari ada tangan yang terulur yang telah siap untuk membekapnya dari belakang.

"Mph!"

SRET

Ia terseret keluar lewat jendela kamarnya.

"Hinata, kau didalam?" Hiashi mengintip dalam kamar Hinata melalui celah pintu yang ia buka sedikit tadi.

Kosong. "Mungkin dia sedang dikamar mandi." Hiashi menutup kembali pintu kamar puterinya lalu berjalan pergi.

.

"Sakura, kau boleh pulang sekarang." Ucap Shizune membuat Sakura menjadi kembali semangat –semangat pulang.

Sakura merenggangkan otot yang kaku, seharian bekerja merawat korban-korban akibat kebakaran gedung karena terjadi kebocoran gas, cukup banyak, sekitar 50-70 orang.

Untung saja, Ino bersedia menutup toko bunganya pada hari ini hanya untuk membantu Sakura mengurusi korban-korban ini, bukan hanya Ino saja yang membantu, tetapi Puteri Tsunade pun ikut turun tangan.

"Baiklah, aku sudah menyelesaikan laporannya, sisanya kuserahkan padamu." Ucap Sakura sembari melenggang pergi dari rumah sakit.

Sakura baru sadar bahwa sekarang sudah jam 9 lebih dan lewat dari jam pulang kerja biasa, ternyata karena terlalu sibuk ia jadi lupa waktu begini.

"Anoo.." seorang gadis dengan jaket tebal dan menggunakan topi untuk menutupi matanya, menyentuh lengan Sakura.

"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura sopan sembari berusaha menatap wajah gadis yang hampir setenganya terhalang topi.

Gadis itu menyerahkan secarik kertas, "Apakah kau tau alamat ini?"

Sakura mengambil alih kertas itu lalu membacanya dengan teliti, ia baru ingat bahwa ini adalah alamat rumah Hinata.

"Kau mencari rumah Hinata?" tanya Sakura.

Gadis itu mengangguk pelan.

Sakura tersenyum, "Ayo aku antar, aku sangat hapal alamat satu ini."

Mereka berdua berjalan menuju kerumah Hinata dengan diam, tak ada yang memulai pembicaraan, sebenarnya Sakura sudah mengajaknya berbicara tetapi gadis satu ini terlalu irit berbicara, dia hanya menjawab pertanyaan Sakura dengan 'iya' 'tidak' saja atau bahkan hanya menggeleng dan mengangguk.

Sesaat sampai didepan rumah Hinata, mata Sakura menangkap sekilas bayangan Hinata yang pingsan lalu diseret oleh seseorang yang tak pernah ia lihat.

"Itu Hinata, dia seperti diculik, ayo selamat–"

JLEB JLEB

Dua panah telah menusuk perut dan paha kanannya, "Ke-Kenapa?" Sakura jatuh ketanah dengan darah yang mengalir deras.

"Bawa dia jangan sampai ketahuan dan bersihkan darah yang dijalan itu."

Samar-samar namun pasti, Sakura mendengar suara gadis yang tadi minta diantar ke rumah Hinata sedang menyuruh beberapa orang untuk melakukan perintahnya.

.

Suasana dikantor hokage pagi ini cukup tegang, "Aku tak tau apa maksud mereka menculik mereka berempat yang termasuk kunoichi hebat dari Konoha dan Suna." Rokudaime melipat tangannya, ia berusaha memikirkan siapa dalang dibalik penculikan tiga kunoichi Konoha dan satu kunoichi Suna.

"Rokudaime, kita harus kerja sama–" kata Gaara terpotong.

"Tidak perlu." Pintu ruang hokage dibuka dengan tidak sopan oleh Naruto, "Kita yang akan menyelesaikan kasus ini." Naruto masuk diikuti dengan Sai, Shikamaru dan Sasuke.

Gaara menatap Shikamaru dan Shikamaru pun membalas tatapan Gaara, "Kazekage-sama, aku akan memastikan kakak anda kembali dengan selamat." Ucap Shikamaru dengan serius.

Mereka –Naruto, Sai, Shikamaru dan Sasuke, yang jelas-jelas memiliki hubungan spesial, lebih dari teman, dengan empat kunoichi yang diculik itu berniat untuk menyelamatkan mereka sendiri.

Rokudaime tersenyum tipis dibalik maskernya, "Baiklah, kalian akan menjadi satu tim untuk menyelesaikan misi ini, Shikamaru seperti biasa, kau menjadi ketuanya."

"Apa kalian membutuhkan tambahan orang?" tanya Gaara.

Shikamaru menggeleng, "Tidak, mereka sudah cukup."

Rokudaime bangkit dari kursinya, "Baiklah, kalian harus segera pergi kelokasi, aku sudah menemukan tempat persembunyian mereka dengan penciuman anjing-anjingku."

"Yosh, ayo kita menyelamatkan tuan putri masing-masing!" Teriak Naruto semangat.

Setelah siap dengan berbagai rencana yang telah disiapkan Shikamaru dibantu Kazekage dan Rokudaime, akhirnya mereka bersiap untuk mulai misinya.


.

TBC~

.


Ini gaje, saya tau itu.

Ini alurnya kecepetan, saya tau itu.

Ini tidak ngefeel, saya tau itu.

Ini aneh, saya tau itu.

Pada intinya, saya hanya mau mengucapkan terimakasih karena sudah mau merelakan waktunya untuk membaca fic abal ini.

Jika suka silahkan favorite dan review, jika kepo dengan kelanjutannya silahkan favorite dan follow dan review, jika ingin memberi saran yang membangun silahkan review, jika ingin memberi ide yang cemerlang juga silahkan review~

Saya masih pemula, jika banyak kekurangan saya minta maaf sebesar-besarnya.

Arigatougozaimasu~