Pemuda itu mendengus ketika menyadari kalau malam ini, hujan turun begitu deras.
Tetsuya mengetuk-ngetuk permukaan mejanya sambil menahan dingin yang menggigit tulang. Dua puluh halaman dari buku catatan kematian itu telah dinodainya dengan tinta hitam pena yang membentuk aksara-aksara perangkai beratus-ratus nama pendosa. Pencopet sampai penjahat kelamin, penjudi sampai mafia narkoba kelas kakap, penjahat lokal dan mancanegara, semuanya tak luput dari pengawasan sang calon dewa. Kejahatan sekecil apapun itu—termasuk mengkorupsi anggaran kantor demi keluarga—tak akan dimaafkannya. Bahkan jika keluarga itu adalah keluarga Kuroko sendiri.
Memang kenapa? Tak ada ampun, tak ada maaf, tak ada pengecualian. Hukuman terbaik bagi seorang pendosa adalah kematian—tak kurang dari itu. Dia adalah dewa di dunia baru yang bersih. Utopia yang akan segera menjadi nyata di tangannya.
"Tetsuya," suara ibundanya terdengar dari balik pintu kamarnya, "Tetsuya, ayahmu... dia sudah pergi meninggalkan kita, Nak."
Suara ibunya terdengar bergetar ketika memanggilnya dari balik pintu. Mungkin wanita tegar itu habis menangis sesenggukan dan telah berusaha menenangkan diri mati-matian sebelum naik ke lantai dua dan mengabarinya. Tetsuya tahu betul sifat ibunya yang tak akan membiarkan anaknya melihat sisi lemahnya. Dia berpikir bahwa dia harus bisa menjadi tempat bersandar yang tangguh untuk anak dan suaminya. Sungguh sifat keibuan yang terpuji. Sayang sekali suaminya adalah koruptor yang tega dan keji.
"Nak, kau di sana?"
Dia memandangi lembaran kertas yang terbuka dan membaca sebuah nama di sana lamat-lamat. Hal yang baru pertama kali dilakukannya sejak menerima catatan kematian ini dari seorang dewa kematian bernama Akashi. Pulpen yang dia gunakan untuk menulis nama 'orang itu' sendiri masih tergeletak di sana, di antara buku bersampul hitam yang terbuka. Dia menghela nafas. Yang sudah terjadi, ya terjadi. Seperti dia yang sudah terlanjur menulis nama 'orang itu', 'orang itu' juga sudah terlanjur berbuat dosa.
Beginilah. Satu lagi pendosa telah berakhir hidupnya di tangan seorang Tetsuya Kuroko.
Death Note universe dan Kuroko no Basuke adalah properti milik pengarangnya masing-masing. Penulis fictogemino ini tidak mengambil keuntungan materi apapun.
Bagi yang belum tau, fictogemino adalah fiksi kembar yang bisa dibaca dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas. Apakah Anda sudah mencobanya? :)
Kritik, saran, pertanyaan, cacian, makian, curhatan, apapun akan saya terima! #kuburDiriSendiri
Ketjub basah,
-begodeluxe-
