Duodecim Gakuen
Uegihara Yusaki
.
Dissidia 012 : Final Fantasy punya Square Enix, bukan punya Yusaki
.
"Waah... jadi ini Duodecim Gakuen ya?"
Kau kagum dengan sebuah bangunan sekolah yang begitu megah. Spontan kau memasuki gedung itu. Kau datang sebagai murid baru disana. Ketika kau tengah berjalan, kau melihat seorang siswa berambut keemasan berjalan ke arahmu.
"He, jadi kamu murid baru itu ya?"
"He? Uh... salam kenal, senpai."
Kau membungkuk tanda hormat kepada siswa itu, yang sekarang tengah salah tingkah dan menggaruk kepalanya.
"Ah, sudahlah. Kita kan se-angkatan. Oh ya, namaku Tidus. Siapa namamu?"
"Oh, namaku [...]. Salam kenal juga."
"Ayo, kuantar ke kelas."
Tidus pun menarik tanganmu ke sebuah kelas yang hanya diisi oleh 16 orang, 18 termasuk Tidus dan dirimu. Banyak hal yang sedang mereka lakukan. Ada yang sibuk ngerumpi, sibuk mandangin jendela, bahkan sibuk mainin boneka Moogle dan sibuk nyontek PR punya temen.
"Yo, semuanya!"
"Eh, Tidus!" Seorang siswa berambut coklat jabrik melambai-lambai. "Loh, itu siapa?"
"Eh, Bartz. Ini [...], murid baru di kelas kita." Tidus memperkenalkan dirimu dengan bangganya.
"Salam kenal semuanya." Ucapmu memperkenalkan diri.
"Salam kenal juga, [...]!"
Tidus pun mempersilahkanmu duduk di bangku dekat mejanya yang kebetulan masih kosong. Kau dan Tidus pun duduk dan mulai berbincang.
"Ah, Tidus... bisa kau memperkenalkan semuanya padaku? Aku yakin kau pasti mengenal mereka semua." Pintamu kepada Tidus.
"Baiklah." Setuju Tidus. "Pertama dari cewek berambut pink itu. Namanya Claire Farron, tapi temen sekelas suka manggil dia 'Lightning' karena kata-kata dia itu sarkastik dan nyetrum kaya petir."
"Hee, begitu. Tapi dia kelihatannya baik."
"Nah, terus yang lagi nyontek itu namanya Vaan, cita-cita dia jadi perompak udara dan bikin pesawat sendiri buat bulan madu sama pacarnya."
"He? Dia udah punya pacar?"
"Yah, sebagian besar murid Duodecim Gakuen udah punya pacar kok. Termasuk aku. Hehe, terus cewek rambut ungu itu namanya Prishe. Dia itu jago beladiri, jadi jangan macem-macem sama dia."
"Oh... oke deh."
Tidus kembali nyengir, lalu melanjutkan perkenalannya. "Nah, cewek rambut coklat yang matanya hijau sama biru itu Yuna. Dia itu pacarku loh, cantik kan?" Bangga Tidus, yang membuatmu sweatdrop karena Tidus ngepromosiin pacarnya.
"Err... cantik kok. Hehe."
"Terus yang rambutnya pirang diikat kebawah itu namanya Zidane Tribal. Hati-hati, dia walau cebol gitu pinter nyopet loh, seringnya sih nyopet duitnya pak Kuja si guru musik."
"He? Pencopet?"
"Iya, tapi dia begitu cuma buat iseng-iseng kok." Senyum Tidus. "Terus yang lagi mandangin jendela itu namanya Squall Leonhart. Ah iya, kamu liat bekas luka di antara matanya itu? Katanya itu bekas dicakar singa loh!" Ujar Tidus asal-asalan
"Hee, dicakar singa?!" Kagetmu.
"Iya, makanya kamu juga harus hati-hati sama dia." Bisik Tidus sambil melirik ke Squall. "Nah, yang rambutnya pirang bercucuk-cucuk itu namanya Cloud Strife. Dia pendiem, tapi kalo udah ngamuk pasti kamu bakal melayang ditampol Buster Sword!"
"Hee, kamu kok tau?"
"Soalnya aku pernah ditampol sama dia. Hehe." Cengir Tidus. "Yang lagi mainin boneka Moogle itu Terra Branford. Dia cewek paling lembut, tapi sekalinya marah siap-siap kamu bakal habis!"
"Eww... kok pada nyeremin sih?" Ucapmu bergidik disko.
"Yah, murid Duodecim Gakuen emang pada gitu sih." Ucap Tidus ringan.
"Terus yang tadi nyapa aku itu namanya Bartz Klauser. Dia itu pinter niru orang. Mulai dari suara, gaya, sampai logat-logat yang susah dan absurd kaya dialek ngomongnya Pak Mateus pun dia bisa ngikutin."
"Waah, kayanya dia orang yang keren." Kagummu pada Bartz yang sekarang tengah ngobrol sama Zidane.
"Yah, tapi sayang otaknya kurang seliter." Celetuk Tidus. "Nah, yang rambutnya putih itu namanya Cecil Harvey. Dia itu orangnya lemah lembuut banget, bahkan nepak nyamuk aja kudu mohon-mohon ampun dulu sampe tuh nyamuk keburu kembung dan kabur."
"...dia terlalu lembut..." Sweatdropmu.
"Terus yang cebol itu... aku bahkan lupa namanya. Kalo gak salah sih Luneth, tapi temen sekelas manggil dia Onion, soalnya dia cebol kaya bawang. Hehe." Cengir Tidus, membuatmu kembali sweatdrop dengan penyataan absurd Tidus.
"Nah, yang kulitnya mateng itu namanya Firion. Firion apa Frioniel ya? Pak Mateus manggil dia Frioniel, Tapi temen sekelas manggilnya Firion sih. Hehe, dia itu jagonya senjata. Mulai dari tombak, kapak, panah, pedang, golok, pacul, bahkan pengeriting rambutnya bu Ultimecia pun dia jago maininnya."
"Hah? Pengeriting rambut?" Bingungmu.
"Nah terus..." lanjut Tidus yang sepertinya gak mendengar tanggapanmu. "Oh! Yang rambut jabrik sebahu makai jas OSIS itu namanya Light. Beda sama Lightning, nama dia emang Light." Ujar Tidus.
"Waah, dia kereen!" Tanggapmu.
"Dia emang salah satu idola sih di Duodecim Gakuen ini." Balas Tidus. "Terus... oh, aku hampir lupa! Cewek yang rambut item panjang itu namanya Tifa Lockhart, pacarnya Cloud. Dia ramah sih, tapi kalo ngambek Cloud aja kalah loh!"
"Waah... wanita yang mengerikan." Tanggapmu.
"Hm... kayanya udah semua." Ucap Tidus. "Yosh, pelajaran pertama Matematika. Berarti... hadeeh, siap-siap dah ngedengerin dialek absurd bin anehnya pak Mateus."
"Dialek absurd bin aneh?" Bingungmu.
"Iya, pak Mateus itu kalo ngomong aneh banget. Kadang diteken, kadang dicemprengin, pokonya aneh deh. Dan dia itu saingan sama Firion karena Firion juga jago matematika." Jelas Tidus.
"Lah kok guru saingan sama murid?"
"Yah, di Duodecim Gakuen emang gitu kok. Aku aja saingan sama ayahku, Pak Jecht." Jawab Tidus bangganya, membuatmu kembali sweatdrop sekaligus ragu-tak ragu dengan sekolah yang baru kau masuki ini.
.
.
Author's Note :
Hai Minna~ ini fic pertama Yusaki di fandom Dissidia~ :3 maaf kalau pendek, maklum ini baru prologue kok. Dan maaf juga buat bahasanya yang amburegul emeseyu :v ah iya, ini ngambil chara-nya yang di Dissidia 012 looh~ dan ada yang minat RnR?
