Disclaimer: Tak mampu ku ambil alih dari Masashi Kishimoto

Pair: SasufemNaru~

Rate: T ajalah~

Genre: Fantasy & Family

Warning: Sangat OOC, Gajeness, typo's bersliweran, dan alur yang mungkin cepat, jangan harapkan humor! *saya ga bisa ngelawak*

Note: Mungkin disini ga akan ada panggilan teme-dobe, dan gantinya adalah panggilan gombal ala vampire*plakk* juga saya ingatkan disini saya tidak terlalu menonjolkan marga para chara. Oke?! Jadi jangan kaget dan protes yaa~

Part one~

Hutan Kabut adalah hutan yang sunyi dan jauh dari pemukiman manusia. Dulunya hutan itu sangat subur dan penuh dengan binatang serta tumbuhan bunga liar dan tanaman obat yang sangat indah dan langka, tapi semenjak ditemukannya beberapa mayat kering kerontang, hutan itu bagaikan mati. Menurut rumor yang beredar masyarakat percaya itu ulah para kelelawar pengisap darah yang bermigrasi atau klan yang telah kembali dan bahasa kerennya ialah vampire.

Di balik tebalnya kabut yang menyelimuti hutan tersebut, yang terlihat adalah pemandangan pepohonan hijau yang membentang luas dan bunga liar yang cantik mengelilingi sebuah danau alami yang terlihat dalam dan jernih. Kupu-kupu berterbangan dengan bebas. Namun, ditengah-tengah hutan itu berdiri sebuah kastil megah yang sungguh besar dan luar biasa indah yang berjarak tak jauh dari danau itu. Itu adalah kastil Kaisar vampire. Disinilah pusat kekaisaran para mayat hidup yang bertahan dengan minum darah layaknya wine.

Aula tengah yang luas, yang dihiasi oleh perkakas langka nan mewah serta lantai berlapis permadani cantik buatan Eropa, belum lagi berbagai lukisan mahakarya pelukis dunia berabad lalu terpajang dengan indahnya memanjakan mata bagi beberapa yang telah berkumpul beberapa orang penting. Mereka duduk di belakang sebuah meja panjang persegi antic dengan ukiran cantik ditiap sisinya yang menghadap langsung ke kursi Kaisar mereka. Mereka adalah pengikut setia sang Kaisar vampir. Sedangkan Kaisar sendiri duduk tenang dengan wajah stoic tak terbaca di kursi kebesarannya sambil memutar-mutar isi gelas winenya. Mata hitamnya menerawang jauh seakan tengah memandang sesuatu yang mempesona. Wajahnya datar dan keras menunjukkan ke-arogansi-nya. Tapi tak bisa di pungkiri pesona ketampanan-nya sungguh sangat memikat mahkluk hawa. Namun, saat ini sang kaisar tengah dilanda galau~

"Kakashi, aku menginginkan seorang Permaisuri. Carikan untukku seorang gadis bermata sebiru safir, rambutnya panjang sewarna kuning keemasan. Gadis itu harus ceria dan senyumnya mampu mencairkan kebekuan seperti apapun. Dan dia haruslah 'istimewa' sebagai Empress of vampire", perintahnya dengan nada angkuh nan anggun. Tatapannya tajam pada semua wajah yang mendengar titahnya.

Kakashi Hatake adalah tangan kanan kepercayaan sang Kaisar. Pria berambut perak yang selalu memakai masker dan membawa sebuah buku kemana-mana itu mengerutkan dahinya bingung. Dia sungguh terkejut mendengar perintah tuannya yang tidak biasa itu hingga tanpa sadar menutup buku yang sedang dibacanya. "Maafkan aku my Lord. Tapi kemana aku bisa menemukan gadis yang anda inginkan?"

"Cari dia didalam Hutan Terlarang dekat pemukiman manusia. Kau hanya perlu melihat apa dia pantas menjadi Permaisuri. Nanti aku sendiri yang akan 'mengambilnya'. Bawa Neji dan Shikamaru bersamamu karena pertahanan disana sulit ditembus", jawab Kaisar dengan bosan masih memutar isi gelasnya.

"Kenapa anda tidak langsung menjemputnya saja my Lord? Lagipula kenapa harus membawa ahli sihir kesana?" kerutan di dahi Kakashi bertambah. Tuannya ini sangat senang membuatnya menderita dengan perintahnya yang aneh-aneh. Apa ini juga termasuk keisengannya karena sudah sangat bosan ya. Entahlah~~

"Hutan itu adalah benteng pertahanannya dari segala iblis. Lagipula aku ingin tahu pendapatmu tentangnya", sahutnya enteng. Sungguh kaisar yang seenaknya.

"Hahh! Anda sungguh pintar membuat kami penasaran my Lord. Merepotkan ". Shikamaru berdecak pelan sambil menggaruk kepala nanasnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.

"Kuberitahu satu hal, di Eropa dia disebut Melusine, sedangkan disini disebut Suijin. Jangan bertanya apa artinya, pikirkan sendiri saja", ucapnya saat melirik Neji yang akan buka suara.

"Pergilah sekarang! Jangan pulang sebelum kalian berhasil", usirnya dengan mengibaskan tangannya yang terbungkus lengan jubah sutra panjang mewah yang dikenakannya.

"Yes, my Lord!" serentak mereka bertiga membungkuk hormat dan hilang dalam sekejap mata.

Setelah kepergian ketiga orang tadi, aula itu sunyi sebentar sebelum seseorang berbicara.

"Kenapa anda tiba-tiba memutuskan ingin mempunyai Permaisuri my Lord?" tanya salah satu gadis yang ada di meja tersebut. Sakura, vampire wanita itu menatap penuh penasaran akan jawaban Kaisarnya itu. Selama ratusan tahun mengikuti sang Kaisar, baru kali ini dia mendengar keinginan yang bisa di bilang aneh dari tuannya itu.

Sebenarnya tidaklah aneh jika vampire mempunyai pasangan. Hanya saja kenapa harus mendadak begini sih?

"Aku telah lama menunggunya Sakura. Selebihnya nanti kau lihat sendiri saja", jawabnya dengan seringai misterius yang bisa dibilang menyebalkan itu. Dia lalu berdiri dan berjalan menjauhi aula ke arah taman belakang yang sedang bermandikan cahaya bulan dan memantulkanya ke air danau.

Yang tersisa di aula itu hanya memandang kepergian sang Kaisar dengan helaan nafas pasrah. Mereka sudah sangat terbiasa dengan kelakuannya yang susah ditebak itu. Tapi anehnya mereka masih kuat saja bertahan dengan sikap se-enak-nya itu. Mungkin karena kuatnya pengaruh wibawa sang Kaisar yang membuat mereka tetap setia mengikutinya atau kekuatannya kali ya~~

Seresereseresere

Hutan Terlarang adalah hutan yang telah ditinggalkan oleh manusia. Mereka menyebutnya terlarang karena banyaknya hewan buas yang hidup disana. Hewan buas itu menyerang dan membunuh siapa saja yang masuk ke dalam kawasan hutan itu.

Di tengah hutan itu ada sebuah danau yang lumayan besar. Airnya jernih tapi tak menunjukkan kedalamannya. Ditengah danau itu terdapat sebuah istana mungil yang cantik yang berdiri kokoh diatas permukaan danau atau mengambang. Di sekelilingnya bertebaran rerumputan hijau yang menebarkan bau harum dan berbagai bunga liar. Istana mungil itu bagaikan inti yang muncul dari dalam danau tersebut.

Di beranda yang berada didalam air danau tersebut duduk seorang gadis rupawan. Kakinya terbenam di dalam danau. Rambutnya panjang berwarna kuning keemasan dan pantulan bola matanya yang biru terlihat di air danau tersebut. Saat dia mengangkat wajahnya, alangkah sempurnanya dia. Wajah secantik malaikat dengan bibir merah menggoda. Matanya mengerling melihat seisi danau dengan raut bosan.

"Kemarilah Naru-sama! Aku menemukan sesuatu yang menarik", teriak seseorang dari tengah danau. Pria bergigi runcing itu melambaikan tangannya diiringi senyum lebarnya yang semakin umm yahh mengerikan juga sihh.

"Apa yang kau temukan Sui-kun?" sahut gadis itu yang bernama Naruto. Diapun melompat ke danau dan berenang menghampiri pria itu. Sekilas jika manusia biasa melihatnya, mungkin mereka akan langsung berteriak histeris saat melihat ekor berwarna emas itu. Ya, saat ini Naruto berenang dengan ekornya bukan kakinya. Itulah ekor duyung berwarna emas yang dimilikinya dan membuatnya istimewa serta satu-satunya yang tersisa di dunia bawah.

Dengan cepat Naruto telah mengambang di depan Suigetsu yang memperlihatkan sesuatu di tangannya. Ternyata itu adalah sebuah batu prisma yang sangat cantik, warnanya kebiruan dan terlihat bercahaya. Naruto menyentuhnya dan batu itu bersinar lebih terang dan terangkat melayang didepan wajahnya. Tiba-tiba saja batu prisma itu melesak masuk ke tengah dahi Naruto dan membuatnya tersentak kaget.

"Kyaa…! Apa-apaan ini!" pekik Naruto sambil mengusap dahinya yang terasa agak panas. Sekarang di dahi Naruto, batu itu telah menyatu dengan kulit dan dagingnya seperti sebuah tato yang cantik berwarna biru laut.

"Naru-sama! Anda baik-baik saja? Mana yang sakit?" panik Suigetsu saat melihat nona-nya menutupi wajahnya. "Iruka-san! Kisame-nii! Tolong….".

Suigetsu segera membawa Naruto kembali keberanda air dan mendudukkan-nya. Dalam sekejap orang yang tadi di panggil oleh Suigetsu berdatangan dengan wajah panik dan cemas. Mereka langsung menyerbu Naruto yang masih menunduk.

"Naru-sama, anda kenapa? Apa yang sakit? Katakan padaku, apa Suigetsu menjahili-mu lagi?" pertanyaan beruntun bak kereta api itu bergaung di telinga Naruto yang tadi langsung di peluk oleh Iruka.

"Kau apakan Naru-sama, anak nakal?" selidik Kisame pada adiknya itu, yang sekarang sedang harap-harap cemas dengan wajah takut.

"Tidak ada nii-san. Aku cuma memperlihatkan batu temuan-ku. Tiba-tiba- ". Belum selesai Suigetsu bicara Naruto langsung memotongnya.

"Aku baik-baik saja. Coba lihat!" seru Naruto sambil mengangkat wajahnya dan memperlihatkan sesuatu di dahinya.

"Naru-sama! I-i-itu..", gagap Iruka seraya mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap yang dilihatnya itu hanya mimpi. Itu nyata sensei!*plakk*

"Iya Iruka-chan. Ini sepertinya batu sihir milik kaa-san dulu kan. Batu ini menghilang saat beliau meninggal, tapi syukurlah akhirnya ditemukan. Batu ini pasti mengira aku adalah kaa-san, makanya langsung menempel begitu kusentuh tadi", tutur Naruto sambil mengusap-usap batu yang sekarang terbenam bagai tato di dahinya dengan lembut.

"Benar. Batu itu milik Kushina-sama. Akhirnya dia kembali pada pewarisnya", sahut Iruka dengan mata berkaca-kaca menatap takjub pada Naruto.

Naruto hanya tersenyum lebar dan disambut anggukan bahagia Kisame dan Suigetsu yang juga menatapnya penuh haru. Perasaannya sangat bahagia sekali telah menemukan warisan berharga ibunya yang hilang.

"Ayo kita rayakan hal bahagia ini. Kita berpesta seperti biasa. Undang seluruh penghuni hutan kemari, bagaimana?" seru Naruto dengan sangat bersemangat pada ketiganya.

"Tentu saja. Akan kusiapkan seluruh hidangannya", sambut Iruka tak kalah gembira. Jadilah dia mulai bingung harus menyiapkan apa dulu. Hadoohhh~~~

Seraseraserasera

Sudah seminggu lamanya ketiga orang suruhan Kaisar vampire itu memeriksa setiap hutan dan desa yang mereka lewati, namun tak ada satupun yang mendapatkan petunjuk dimana itu hutan terlarang berada. Waktu mereka semakin sempit dan harus pulang secepatnya untuk memberi kabar. Tuan mereka tak akan senang jika mereka sampai gagal.

"Ini sungguh misi yang menyebalkan. Apa yang dipikirkan oleh yang Mulia hingga menyuruh mencari gadis yang tak jelas begini. Bukankah keluarga vampire dari klan Yamanaka memiliki seorang gadis berambut pirang dan bermata biru. Kenapa kita tak datang kesana saja, Kakashi?" seru Neji diantara langkah cepatnya melewati pepohonan yang akan mereka lewati sepanjang malam ini.

"Kau dengar sendirikan bahwa gadis ini tinggal di dalam hutan terlarang. Gadis Yamanaka itu sudah jelas tak mungkin. Kau pikir dia mau mendekam dalam hutan tanpa sentuhan dunia modern. Itu tidak mungkinkan?" jawab Kakashi yang bergerak semakin cepat didepan mereka berdua.

"Lagipula Neji, yang mulia telah memberikan petunjuk dimana kita bisa menemukan gadis itu. Tinggal mencari dimana hutan terlarang itu saja. Tapi kenapa juga semua tempat yang kita lewati pasti ada daerah hutan terlarangnya. Merepotkan!" desah Shikamaru yang mendecak sebal karena harus bergerak cepat mengimbangi kedua rekannya itu. Demi apapun! Dia itu hanya seorang penyihir, bukan vampire yang bisa bergerak cepat pada malam hari. Pake sapu terbang Shika~

"Kau benar. Ini sangat merepotkan sekali", dukung Neji yang sedari tadi tak hentinya menggerutu. Sungguh vampire yang cerewet sekali~

Saat mereka semakin jauh kedalam hutan, samar-samar mereka mendengar suara meriah orang berpesta. Spontan mereka langsung berhenti pada salah satu pohon yang lumayan tingggi dan menajamkan pendengaran serta penciuman untuk mengetahui apa yang terjadi.

Kakashi dan Neji mengendus udara dengan seksama, sedangkan Shikamaru mencoba merasakan adanya aura sihir yang kuat didepan mereka.

"Aku mencium aroma berbagai binatang hutan sedang berkumpul di satu titik. Sepertinya mereka sedang berpesta, sayang sekali jika kita melewatkannya", ucap Kakashi sambil menjilat bibirnya yang telah menyembulkan taring panjangnya.

"Kau benar. Lagipula aku merasa seperti mencium adanya aroma manusia walau sangat tipis tadi. Rasa laparku jadi menguat", desis Neji yang juga memunculkan gigi taringnya tak kalah dengan Kakashi.

"Sebaiknya kalian hati-hati. Aku merasakan adanya sihir penghalang yang sangat kuat disana. Apa mungkin ini hutan yang kita cari?" sahut Shikamaru mengingatkan kedua rekannya yang terlihat sangat bernafsu itu.

Mau bagaimana lagi, sejak mereka memulai perjalanan ini, Kakashi dan Neji hanya meminum darah manusia tanpa membunuhnya. Mereka tak ingin menimbulkan kehebohan dengan adanya vampire yang berkeliaran. Bisa-bisa hal itu malah akan menghambat pencarian mereka. Bukannya berburu, takutnya nanti malah jadi buruan para hunter vampire yang konon masih ada sampai sekarang.

Karena hal itulah, mereka hanya berburu tapi tidak sampai membunuh mangsanya. Vampire zaman sekarang tidak lagi meminum darah langsung dari manusia, tapi mereka telah memiliki darah sintetis yang mampu menahan dahaga mereka. Jadi untuk saat ini para manusia itu dalam keadaan aman sekalipun mereka hidup membaur bersama para vampire yang telah hidup secara modern. Sekalipun hidup modern, bukan berarti vampire bisa menjadi sahabat dekat lohh~~

Dengan tanpa menimbulkan suara berisik apalagi gaduh, ketiganya mengendap ke kerumunan pesta dan berhenti pada jarak 100 meter. Mereka tak bisa melaju lagi karena terhalang oleh kekai sihir yang sangat kuat dan tak kasat mata bagi vampire namun sangat jelas untuk Shikamaru Nara, yang seorang penyihir.

"Ini adalah penghalang sihir terkuat yang pernah kulihat. Pasti tak sembarang orang yang telah membuatnya", ucap Shikamaru sambil meraba dinding tipis penghalang di depan matanya, namun kemudian segera ditarik lagi tangannya saat terasa sakit. Saat dilihat telapak tangannya merah seolah terbakar.

"Damm it! Aku tak melihat dinding apapun disini", dengus Neji sambil mengusap rambut panjangnya yang tertiup angin. Sudah lama dia tak keramas, bagaimana jika rambut indahnya rusak nanti? Ampun dahh~~

Neji Hyuuga seorang vampire yang tampan dengan pesona yang mampu membuat kaum hawa menahan nafas selamanya. Dengan mata putih tanpa pupil miliknya, sanggup menundukkan wanita dengan sekali kedipan. Namun, yang paling menakjubkan adalah rambut panjang kecoklatan yang dibiarkan terurai dan hanya diikat bagian ujungnya dengan sebuah pita sutra berwarna hijau itulah yang sangat mempesona. Tapi rambut itu jugalah yang membuatnya dikenal sebagai vampire paling cerewet jika sudah menyangkut masalah rambut. Yare-yare~

"Bagaimana caranya kita bisa masuk, Shikamaru?" tanya Kakashi mengabaikan dengusan Neji barusan. Dipikirannya hanya cara untuk masuk saja, melihat dan pulang.

"Mungkin aku bisa membuat sedikit celah agar kita bisa masuk. Tapi begitu sudah didalam, kecil kemungkinan kita bisa keluar hidup-hidup dari sini", tekan Shikamaru sambil tangannya sibuk menggambar sebuah diagram sihir sebelum komat-kamit yang tak dimengerti oleh kedua rekannya.

"Aku tak peduli, yang penting kita bisa masuk dan memeriksa apa yang ada dibalik dinding sihir itu", sahut Kakashi ringan. Dia mundur sedikit saat melihat Shikamaru juga mundur.

Sedikit cahaya seperti celah pintu mulai melebar sedikit demi sedikit pada dinding sihir itu. Setelah sekiranya muat untuk dilewati tubuh, mereka bertiga bergegas masuk sebelum celah itu merapat kembali.

"Mari kita bergabung dengan pestanya", seru Kakashi yang tengah menyeringai dibalik maskernya itu.

Sereseresereseresere

Di luar danau sedang meriahnya pesta yang diadakan oleh Naruto dan teman-temannya. Semuanya bergembira hingga Naruto merasakan sebuah tanda bahaya dari luar. Serentak dia langsung terdiam dan melihat sekelilingnya dengan seksama.

"Ada apa Naru-sama?" tanya Iruka yang sejak tadi memperhatikan Naruto dengan gelisah.

"Sepertinya ada orang yang ingin menyusup kemari. Aku merasakan aura kegelapan dan sihir. Ini tidak baik, Iruka-chan, tolong segera bubarkan pestanya. Aku takut penyusup ini berniat jahat", pinta Naruto dengan berbisik pada Iruka yang langsung bersikap waspada.

Setelah mendapat bisikan dari Iruka, dengan tak mengubah raut wajahnya Kisame membubarkan kerumunan hewan yang berpesta dengan alasan Naruto sedang tak dalam kondisi sehat. Mendengar itu, dengan patuh para hewan segera berlarian menjauh dari arena pesta, bahkan sebagian besar berlari secepat mungkin karena instingnya merasakan aura berbahaya sedang mendekat.

Setelah pembubaran pesta, Kisame segera masuk kedalam danau yang mana telah ditunggu oleh adiknya, Suigetsu. Sedangkan Iruka dan Naruto telah kembali ke istana mungilnya di tengah danau.

Beberapa saat kemudian ketiga orang itupun muncul dengan tenang dari balik gelapnya malam. Ketiganya berdiri sambil melihat bekas orang berpesta dan mengedarkan pandangan mencari orang-orangnya.

"Wah, kita ketinggalan pestanya nih. Sepertinya mereka sudah kabur semua", ucap Kakashi yang melihat berkeliling. Pandangannya terhenti pada istana mungil ditengah danau.

"Sepertinya kita tak disambut dengan baik, aku penasaran dengan orang yang tinggal disana", sahut Neji dengan seringai yang terpampang jelas beserta taringnya.

"Sebaiknya kalian hati-hati! Mungkin saja danau itu berisi banyak jebakan". Sekali lagi Shikamaru memperingati kedua rekannya itu yang ingin melangkah ke sisi danau.

"Kita lihat saja nanti".

Belum ada mereka bergerak, tiba-tiba air danau bergolak keras dan memancing perhatian mereka bertiga.

"Mau apa kalian kemari, Lintah?" suara tinggi khas seorang wanita terdengar memekakan telinga. Seiring dengan suaranya, seorang gadis terlihat mengapung di air danau berjarak 1 meter dari ketiganya.

Ketiganya mau tak mau menahan nafas beberapa waktu saat melihat siapa yang bicara. Wanita cantik jelita dengan bola mata berwarna biru, rambut pirang terurai dan tengahnya dijalin rapi, serta batu yang bersinar biru redup di dahinya. Belum lagi dengan kain halus yang dipakainya sebatas perut itu memperlihatkan kulit tan yang sungguh mempesona. Hanya saja wanita itu tengah menatap mereka dengan tajam.

"Shikamaru, rambutnya pirang?" ucap Kakashi tiba-tiba.

"Benar ".

"Matanya biru bagaikan saffir?"

"Benar ".

"Dia juga istimewakan?"

"Hmmm… tunggu sebentar. Ah iya, benar ". Jawab Shikamaru sambil memicingkan matanya menatap wanita di danau sambil mengelus dagu.

"Berarti pencarian kita berhasil. Kita tinggal pulang dan memberitahu yang Mulia saja, dia kan yang akan mengurus sisanya ", seru Neji dengan nada puas. Pandangannya tak teralih dari gadis yang menatap mereka dengan bingung. What the hell?

"Sebenarnya kalian itu mau apa sih datang kemari? Hebat juga penyihir yang kalian bawa bisa menembus penghalangku. Untuk apa penyihir bekerjasama dengan para lintah itu?" seru sang gadis beruntun dengan wajah sinis sambil memilin ujung anak rambutnya yang terlihat halus. Terlihat menggoda~

"Naru-sama! Anda tidak apa-apa?" seru Iruka dengan panik dari beranda air kastil mungil itu. Dia ingin mendekat tapi sang nona telah menyuruhnya untuk tetap diam disana.

"Siapa namamu cantik?" tanya Neji dengan seulas senyum menawan dibibirnya. Dia bergerak dengan luwes menuju sisi danau mendekati sasarannya.

Sekali lagi, Kakashi terpana melihat seorang pemuda yang terlihat manis dan terkesan lembut diseberang sana. Tubuhnya tiba-tiba terasa membeku, jika dia punya jantung yang berdetak mungkin sekarang jantung itu akan berdetak sangat kencang. Dia tak mampu mengalihkan pandangannya dari sana. Aiihh~lumba-lumba yang manis~

Naruto yang menyadari kemana arah tatapan Lintah perak itu merasa sedikit cemas. Masalahnya tatapan si penghisap darah itu seolah ingin segera menerkam mangsanya. Dan mangsanya itu adalah pengasuh kesayangannya yang tengah mengkhawatirkan dirinya. Hal itu sukses memecah perhatiannya dari Lintah berambut panjang itu.

"Iru-chan. sebaiknya kau tunggu didalam saja ya, nanti kau dimakan oleh Lintah perak mesum itu", seru Naruto dengan senyuman yang mampu membuat bulu kuduk Iruka meremang dahsyat.

"Ehh?" Iruka hanya melongo bingung karena belum nyambung dengan ucapan nona-nya. Sedang Kakashi tambah menyeringai lebar mendengar perkataan sinis nan mengejek Naruto.

"Kau belum menjawabku cantik. Asal kau tau, aku tak suka diabaikan!" bersamaan dengan ucapannya itu, udara tiba-tiba terasa semakin dingin. Angin malam bergulung disekitarnya menerbangkan rambut panjang kecoklatannya yang indah itu.

Gelombang energi itu sedikit menghempas Naruto dan membuatnya memekik tertahan. Kedua tangannya menyilang melindungi matanya yang terasa perih oleh angin kencang. Hal itu semakin membuat Iruka panik dan cemas, hingga tanpa pikir panjang langsung melompat ke air menghampiri nona-nya.

Shikamaru yang sedari tadi hanya menonton dengan santai karena tak mau ikutan repot akhirnya mulai bergerak. Tanpa suara dan tak terlihat oleh yang lain karena semuanya sibuk sendiri, Shikamaru merapal mantra dan sebuah bayangan meleset cepat menangkap Iruka yang terlalu mencemaskan nona-nya.

"Iruka, awas!" teriak Kisame yang sedari tadi mengawasi dari dalam air danau tanpa memperlihatkan dirinya sama sekali, mengikuti titah sang nona. Tapi teriakannya itu sedikit terlambat karena musuh sudah menggenggam mangsanya.

"Wah..wah.. aku dapat tangkapan besar malam ini ",seru Kakashi dengan seringai lebar dibalik maskernya. Pasalnya Iruka telah tertangkap tanpa mampu melawan sedikitpun dipelukannya.

Sedangkan Iruka hanya bisa memasang wajah horror saat menyadari bagaimana posisinya saat ini. 'Aku tidak mau mati dihisap Lintah mesum ini!' jerit Iruka dalam hati dengan ekspresi yang sangat panik.

Dengan posisi yang terkesan romantic-menurut Kakashi- tangannya dengan erat melingkari pinggang dan leher Iruka, tak membiarkan sedikitpun mangsanya bergerak bebas. Kakashi menyeringai lebar pada Shikamaru seakan berterimakasih yang dibalas dengan kuapan ngantuk.

"Lepaskan pengasuhku, Lintah mesum!" teriak Naruto dengan wajah sedikit memerah. Sepertinya penangkapan itu mulai memicu amarahnya. Air danau mulai bergejolak dan bergelembung seolah mendidih.

"Jangan khawatir cantik. Kami akan meminjamnya supaya bisa keluar dari sihir penghalangmu ini. Nanti akan kami kembalikan bersamaan dengan yang Mulia menjemputmu ", sahut Neji yang tersenyum puas. Akhirnya dia bisa pulang juga dan memanjakan tubuhnya dalam busa sabun dan air hangat. Ahh.. membayangkannya saja sudah membuat Neji melayang tinggi.

"Aku bukan barang yang bisa seenaknya dipinjam dan dikembalikan, bodoh!" maki Iruka tak terima dirinya disamakan seperti pintu kemana saja punya Doraemon. Loh.. apa hubungannya yaa?*Plakk*

"Kau diam saja, manis. Darahmu harum sekali, aku jadi tidak sabar untuk mencicipi-mu", desah Kakashi mesra ditelinga Iruka yang mendadak merinding dangdut mendengarnya.

"Apa katamu? Menjemput? Memangnya siapa yang mau kau jemput disini?" dengan nada sarkatik Naruto berseru kesal pada Neji, sementara matanya tak lepas melirik pada Iruka yang ditawan mencoba mencari celah untuk loloskan diri.

"Tentu saja menjemputmu, Naru. Kau adalah calon permaisuri Kaisar vampire, dan yang Mulia sendiri yang akan datang kemari ", jawab Kakashi mewakili Neji, sekalipun dia tengah asik menggoda mangsanya yang manis itu.

"Aku tidak sudi menjadi pasangan seorang Lintah. Lepaskan Iruka!" pinta Naruto dengan tatapan menusuk pada ketiganya yang telah berdiri berjajar dihadapan Naruto.

"Sebaiknya kau pikirkan lagi jawabanmu cantik. Yang Mulia tak segan untuk menyingkirkan milikmu yang berharga dari sisimu. Nanti kami akan datang lagi, kuharap kau telah siap", ucap Neji sambil melirik kiri-kanan mengisyaratkan untuk pergi.

Setelah mengucapkan salam terakhir, mereka bertiga plus satu orang tawanan sebagai pembuka pintu penghalang sihir lenyap dari pandangan. Dapat Naruto rasakan dinding penghalangnya terbuka untuk sesaat dan menutup lagi setelahnya.

Naruto hanya bisa termenung dengan berlinang airmata dan kembali ke istana mungilnya dengan gontai. Bagaimanapun, lawannya kali ini adalah kaum lintah pengisap darah dan penyihir tinggi lainnya. Dengan kepala tertunduk menyembunyikan tangisannya, Naruto mengepalkan tangannya dengan erat. Perlahan Kisame dan Suigetsu mendekat.

"Naru-sama, jangan menangis lagi ya..", hibur Suigetsu dengan lirih. Dia merasa sedih dan kecewa karena tidak mampu melindungi nona-nya.

"Jangan khawatir Naru-sama. Mereka tidak akan membunuh pengasuh Iruka dengan cepat, mereka kan masih membutuhkannya untuk kembali ke tempat ini". Jelas Kisame lembut sambil mengelus kepala Naruto sayang.

"Aku tau itu. Hanya saja yang membuatku sedih adalah harus menerima menjadi pasangan seorang vampire. Jika aku menolak, nyawa kalian dan semua hewan yang akan menjadi sasarannya. Aku tidak mau itu sampai terjadi", ucap Naruto dengan lirih sesegukan.

'Jangan sampai hal itu terjadi lagi! Aku tidak sanggup kehilangan sesuatu yang berharga dari sisiku lagi' ratap Naruto dalam hati sambil menangis pilu.

Tbc~

Bagaimana? Apakah ini cukup menarik dan bisa dilanjutkan? Silahkan berikan komentar melalui kolom review dibawah ini yaaaa~~