Len POV
From : Hatsune miku
To : Kagamine Len
Subject : Len-kun, besok ada acara? Mau ke taman bermain berdua saja?
From : Kagamine Len
To : Hatsune Miku
Subject : Besok aku free kok, Miku-chan. Nanti jam 1 siang kujemput ya? Love you, Miku-chan.
From : Hatsune Miku
To : Kagamine Len
Subject : Len-kun, aku tahu kamu mengetik kata – kata 'Love you' atau semua yang berhubungan dengan kata itu kepada pacarmu yang lain. Jangan perlakukan aku sama dengan pacarmu yang lain. Kau bilang, aku nomor satu bagimu. Apa kamu serius dengan hal itu?
From : Kagamine Len
To : Hatsune Miku
Subject : Tentu saja! Kamu nomor satu bagiku, Miku-chan. Semua pacarku tidak ada yang sepertimu. Kamu berbeda dengan mereka, Miku-chan. Aishiteru.
From : Kagamine Len
To : Hatsune Miku
Subject : Arigatou. Aku juga. Aishiteru, Len-kun.
Aku menguap lebar setelah mendapatkan sms Miku tadi. Satu kata untuk mendeskripsikan perasaanku saat ini, BOSAN!
Aku mengambil notes kecil di meja belajarku dan mulai menulis. 'Besok kencan dengan Miku jam 1 siang'
Aku merebahkan diriku keatas tempat tidur. Kejadian kemarin masih terbayang dalam pikiranku
Flashback
Matahari bersinar terik siang itu. Aku berjalan pulang setelah mengantar Luka – chan pulang ke rumahnya. Taman yang selalu kulewati terlihat sepi seperti biasanya. Tiba – tiba aku mendengar suara tangisan dari arah taman. Aku mencari arah suara itu dan mendapati sosok cewek berambut blonde panjang. Dengan perlahan, aku mendekati bangku yang di dudukinya.
Aku merogoh saku celanaku dan menyodorkan sapu tangan kuning motif pisang favoritku kepadanya. "Ada apa?"
Cewek itu mendongak kearahku lalu mengambil sapu tanganku dan mengelap air matanya.
"Aku sedang mencari sesuatu" kata cewek itu akhirnya.
"Mencari apa?" tanyaku.
Cewek itu sudah berhenti menangis tapi masih ada raut kesedihan di wajahnya.
"Sesuatu yang penting untukku" jawabnya pelan.
Melihat itu, sifat playboyku langsung keluar.
"Mau kubantu?" tawarku kepada cewek itu.
"Kau benar – benar mau membantuku?" tanyanya.
Aku mengangguk yakin lalu mengeluarkan senyum yang biasanya langsung membuat cewek – cewek disekolahku teriak – ada yang pingsan. "Ya. Aku akan membantumu apapun yang terjadi"
Perkataan itu keluar dari mulutku tanpa kusadari.
Senyum langsung menghiasi wajah cewek itu. Dia mengucapkan terimakasih lalu berlari keluar taman.
Aku terkejut karena cewek itu sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda kalau dia kagum kepadaku.
Dia… berbeda.
End Flashback
Cewek blonde aneh. Tapi kalau dilihat dari penampilannya, dia bisa menyaingi Miku yang memang memegang pangkat 'The Most Wanted Girl in Vocaloid High'.
TING TONG! Tamu?
Aku memaksa tubuhku untuk bangun dari tempat tidur dan membukakan pintu untuk siapapun itu yang ada diluar.
"Sebentar!" Teriakanku menggema keseluruh ruangan.
Rumahku sangat besar (bukannya sombong, lho! Tapi ini kenyataan!) tapi sepi.
Aku memang tinggal sendiri sejak aku masuk SMA. Orangtuaku bekerja diluar kota dan sebenarnya mereka menyuruhku ikut tapi aku tidak mau. Hitung – hitung untuk mendisiplinkan diri. Lagipula orangtuaku kadang – kadang datang tanpa memberitahu hanya untuk mengecek keadaan.
Aku membuka pintu depan dan melihat 'tamu' menyebalkan yang membuatku harus meninggalkan tempat tidurku.
"Konnichiwa!"
Rin POV
"Konnichiwa!" sapaku kepada siapapun yang membukakan pintu untukku.
Belum apa – apa, aku langsung disambut dengan pemandangan yang bisa membuat semua orang (mungkin) tertawa.
Di depanku berdiri seorang cowok berambut blonde dengan mulut menganga lebar. Dia sepertinya syok melihatku.
Oh, maaf. Aku belum memperkenalkan diri, ya?
Namaku Rin. Aku adalah hantu yang diberi kesempatan untuk hidup dengan cara aku harus menemukan cowok yang bisa menerimaku apa adanya walaupun aku adalah seorang hantu. Aku diberi tubuh sementara dalam jangka waktu satu tahun dan kalau aku tidak bisa menemukan cowok itu, aku akan menghilang.
Tapi wajar saja cowok didepanku ini terkejut.
Aku memakai imagenya kepada tubuh sementaraku ini. Kesimpulannya, sekarang aku ini terlihat seperti duplikatnya. Mungkin kalau ada orang yang melihat, aku bisa disangka sebagai kembarannya.
Yang hanya bisa membedakan kami sekarang hanya rambut cowok itu yang dikuncir dan lekukan dari bagian tubuh tertentu. Kau tahulah.
"A… anda,"
Aku tertawa kecil. "Hei, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Kita 'kan baru bertemu kemarin walaupun dengan wujud yang berbeda"
Dia sepertinya sedang mencoba untuk mengingat kejadian kemarin.
Aku terkikik lagi. "Aku cewek yang kamu temui di taman itu, Kagamine Len" terangku.
Dia langsung melotot kearahku. "Bagai–"
"Bagaimana caranya aku bisa tahu namamu?" potongku.
Dia mengangguk kecil lalu menggaruk – garuk belakang kepalanya.
Aku sedikit terkikik lalu melanjutkan. "Namamu Kamine Len, sekolah di Vocaloid School. Profesimu adalah seorang playboy yang mengencani banyak sekali cewek termasuk cewek terpopuler di Vocaloid School yang seingatku bernama… Haruna Miku-san."
"Hei! Namaku Kagamine Len! Dan cewek terpopuler di Vocaloid School itu Hatsune Miku!" semprotnya.
Yah, aku memang punya sedikit masalah dalam hal ini dan itu salah satu alasan kenapa namaku simple sekali.
Aku menghela nafas. Mencoba mengulangi namanya dengan benar. "Kamine L–"
"Kagamine Len!" protesnya.
"Baik baik. Kagami Len-san. Boleh saya masuk? Berbicara di depan rumah orang seperti ini mengundang perhatian banyak orang" ujarku dengan muka inosen.
Sepertinya cowok blonde ini baru sadar kalau banyak tetangganya yang melihat kami berdua dengan wajah heran. Mungkin salah satu dari pikiran mereka adalah 'sejak kapan Kagami Len-san punya saudara kembar?'
Dia langsung mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya yang bisa dibilang sangat besar itu.
Aku menoleh kearah Kagami Len-san yang masih sedikit marah karena aku salah mengucapkan namanya tadi. Kuharap pengalamannya sebagai playboy bisa membantuku untuk segera mendapatkan cowok yang ditakdirkan untukku.
Len POV
Aku tidak bisa membayangkan apa yang baru saja kulakukan.
Membawa seorang cewek aneh kedalam rumahku sendiri.
Oke, aku memang playboy yang sudah mengencani banyak cewek tapi belum ada satu pun cewek yang kubiarkan masuk ke dalam rumahku ini.
Aku menoleh kearah cewek blonde itu dan memergokinya sedang memperhatikanku.
Dia tiba – tiba mengulurkan tangannya kearahku.
"Namaku Rin. Senang berkenalan denganmu, Kagami Len-san" ujarnya lalu tersenyum.
Cewek ini… "Kagamine Len. Ka – ga – mi – ne!"
Cewek yang bernama Rin ini terlihat tidak peduli dan mengikutiku kearah ruang tamu.
Aku mempersilahkan Rin duduk. Jujur, aku masih bingung kenapa Rin bisa mirip sekali denganku.
"Sekarang, jelaskan apa maksud dari semuanya. Kenapa kau bisa mirip sekali denganku? Dan apa maksudmu kita sudah bertemu kemarin tapi dengan wujud yang berbeda?" tanyaku bertubi – tubi.
Rin mulai menjelaskan kalau dia adalah hantu yang ingin mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan untuk mendapatkan kesempatan itu, dia harus mempunyai tubuhnya sendiri. Lalu seseorang yang bernama Dokuro – san mengijinkannya dengan syarat dia harus menemukan cowok yang bisa menerimanya apa adanya dan tubuh yang dipakainya sekarang bersifat sementara. Rin diberi waktu satu tahun. Jika dia tidak bisa mendapatkan cowok yang ditakdirkan untuknya dalam jangka waktu satu tahun, dia akan menghilang.
"Bagaimana? Sudah mengerti?" tanyanya.
Kau berharap aku bisa mengerti dengan penjelasan yang diluar logika seperti itu?
"Aku tidak percaya" ujarku akhirnya.
"EH? Tapi kau bilang kau mau membantuku!" protes Rin.
"Tapi aku kira bukan membantu yang seperti ini!" balasku kepadanya.
Aku berdiri dan menarik Rin keluar dari rumahku.
"Percuma. Kau sudah bilang kalau kau mau membantuku apapun yang terjadi!"
Rin berusaha melepaskan genggaman tanganku.
"Tapi masalah itu dan ini berbeda!" tegasku.
Rin tiba – tiba berhenti dan melepaskan tangannya secara paksa.
"Terlambat! Aku dan kamu sudah terlibat dalam sebuah kontrak!"
Nada suaranya meninggi.
Aku membalikkan tubuhku kearah Rin dan menatapnya bingung. "Kontrak? Kontrak apa?"
Rin mundur beberapa langkah dariku dan mulai menjelaskan.
"Aku sudah mengambil wujudmu sebagai tubuh sementaraku karena kau bilang kau bersedia untuk membantuku apapun yang terjadi. Kalau tubuh sementaraku ini hancur, aku akan menghilang dan kau akan menjadi sepertiku!"
Rin mengusap pergelangan tangannya yang memerah lalu melanjutkan. "Dulu, aku juga manusia sepertimu. Aku bertemu dengan hantu cewek yang meminta pertolonganku. Aku bersedia membantunya tapi setelah satu tahun mencari, kami tidak bisa mendapatkan cowok yang ditakdirkan untuknya. Cewek itu menghilang dan aku menggantikan posisinya sekarang ini." Jelasnya.
Aku melihat matanya yang memancarkan kesedihan. Mata warna biru azure yang sama sepertiku.
"Jadi kalau aku tidak membantumu, aku akan jadi sepertimu?" tanyaku memastikan.
Rin mengangguk lemah.
Aku menghela nafas. "Apa boleh buat. Baiklah. Aku akan membantumu."
Senyum Rin langsung mengembang seperti waktu itu.
"Mohon kerjasamanya, Kagami Len – san!"
Aku menyerah. Kenapa dia tidak bisa menyebut namaku dengan bena'r?
Rin keluar lalu masuk dengan sebuah koper di tangan kanannya. Aku punya firasat buruk.
"Kau… mau apa dengan koper itu?" tanyaku terbata.
Oh Tuhan. Jangan bilang…
"Mau apa? Tentu saja tinggal disini!" jawabnya dengan wajah tidak bersalah.
"APAAA?"
