Dialah sang legenda

Merekalah sang cerita masa lalu

Dia yang memegang pisau takdir

Dia yang memegang tombak kebebasan, dan...

Dia yang memegang pedang keadilan


Gundam SEED Destiny fanfic

Four Chapter Edition

Tales of Minerva: Three Knights of the Sky

Chapter 1: Childhood Friend

Disclaimer: GSD was owned by Sunrise


Basa-basi aktor dan aktris!

Hei semua, Athrun ngomong kalau CD game ini dah ia tamatin, jadi dia buat walkthrough-nya untuk kita. Baik, ya?

Shin: Jadi siapa pemeran utamanya?

Athrun: Namanya nggak ku ubah kok, santai bro...

Shin: Untunglah...
Kira: Oi... ada nama ane nggak?

Athrun: Ada gan!

Lacus: Kira, cepat ke dapur!

Kira: Iya, sayang! (Pergi ninggalin mereka berdua)

Luna: Shinn... bantu aku menyapu halaman!

Shin: Baiklah... tunggu! (Pergi meninggalkan dia sendirian)

Cagalli: Main yuk... hehe (*Smile)

Athrun: Eh... i... iya (*Blushing)

Cagalli: Reset aja biar kita main baru...


Malam itu dipenuhi sinar dari bulan yang jatuh ditengah kerajaan Minerva. Tapi, tidak begitu terang di mata seorang lelaki bermata merah ini. Rambutnya yang hitam menutupi dan menyempurnakan kamuflasenya yang serba hitam. Di pinggangnya terikat sabuk pisau dengan ukiran khas dan unik yang mempu menangkap mata siapapun yang melihatnya.

"Lunamaria Minervia..." Gumamnya dibalik kain yang menutup mulutnya. Tampaknya dia kenal dengan putri dari raja Gilbert Minervia tersebut. Matanya menunjukkan hasrat yang tak biasa ketika mengatakannya.

"Kau sudah siap?" Lalu muncul lagi seseorang yang menggunakan panah dan pedang. Berhubung dia memakai topeng dan hanya memperlihatkan mata hijaunya, orang-orang mungkin akan sulit untuk mengenalinya.

"Oi... itu koplo, kan?"

"Koplo itu apa?

"Koplo... yang suka dipake orang untuk maling..."

"Salah beli dah kayaknya... sudahlah, lebih baik kita bergegas atau pemimpin akan marah kepada kita..."

"Baiklah... aku duluan..." Kedua kakinya akhirnya mulai melangkah dibawah sinar bulan yang benderang. Perlahan tapi pasti pisau itu dicabut dari sarungnya dan dengan cepat ia menikam para penjaga pintu masuk menuju istana Minerva. Tanpa membuang waktu ia memanjat istana itu hingga bertemu dengan jendela sebuah kamar. Didalamnya menyala sebuah lampu lilin dengan warna kuning kemerahan.

Tapp, dia melompat dan masuk kedalam kamar itu. Dilihatnya sesosok perempuan yang tertidur pulas diatas ranjangnya. Terlihat sangat pulas sehingga ia tak menyadari kehadiran pemuda itu dikamarnya.

"Kau sudah tumbuh besar menjadi wanita yang baik... dan sekarang maafkan aku karena tak bisa menuntaskan janji kita..." Perlahan ia mendekati ranjang dimana putri kerajaan itu terbaring. Tangan kanannya menggengam erat pisau yang sudah berlumuran darah penjaga istana. Membuatnya sebagai saksi bisu perjalanan pemuda ini.

"Umm... siapa disana?" Tiba-tiba gadis itu terbangun dari tidurnya dan tak sengaja melihat si mata merah tersebut. Pemuda itu dengan sangat cepat menyangkutkan pisau itu di kulit leher tuan putri. Dia hanya mengeluarkan ekspresi ketakutan dan tanpa bisa membuka mulutnya dia hanya bisa memejamkan mata. Tapi ada sesuatu yang aneh, lama pemuda itu menatap wajah tuan putri dan...

"Huh? Hei..." Putri itu melihat tetesan air mata yang keluar dari kedua mata berwarna merah itu. Entah mengapa sesuatu menginterupsi misinya yang bisa dibilang penting itu.

"Lunamaria..." Pisau merahnya kembali ditarik pelan dari leher putri itu. Kemudian ia lepaskan kain penutup yang melindungi wajahnya dari prasangka orang lain dan kini terbukalah kedoknya. Gadis itu terkejut bukan main. Spontan ia berdiri dan memeluk pemuda itu tanpa ragu. Tak lupa dengan pelukannya yang hangat.

"Shin... aku rindu kau... sudah 5 tahun kita tak bertemu..."

"Aku juga... tapi kumohon Luna..."

"Eh..."

"Kali ini aku datang bukan karena ingin bertemu denganmu..." Shin mendorong Luna hingga terjatuh ke ranjangnya. Kini apa yang ada dipikirannya hanyalah misi yang harus diselesaikan. Pisau itu kembali ia hunus dengan tangannya sehingga darah yang melekat itu terhapus dan siap digantikan dengan darah yang baru.

"Shin, apa yang kau..."

"Aku kemari untuk membunuhmu, Lunamaria Minervia..." Matanya melebar tak percaya dengan apa yang teman mmasa kecilnya itu katakan. Dirinya mulai merasakan gemetar akan kematian untuk pertama kalinya dan apa yang membuatnya lebih sakit adalah ketika ia tahu jika pembunuh itu adalah teman masa kecilnya.

"Apa... kau ingin membunuhku... tapi, kenapa?" Pemuda itu berjalan pelan menuju dirinya tanpa berkata sepatah kata. Pisau itu sudah menunjukkan kemilaunya tanpa rasa gusar ditangan pemiliknya.

"Kumohon berdoalah..."

"Aku tak butuh doa jika itu artinya kau yang akan membunuhku..."

"Kalau begitu selamat... eh!" Shin terkejut ketika didorong Luna dengan keras hingga mereka berdua terjatuh dilantai. Ia memegang erat tangan kanan Shin yang menggengam pisau itu.

"Kau ketakutan...?"

"Tidak..." Dan darah itu mulai berhamburan di lantai kamar yang dingin oleh angin malam itu.


Chapter 1: Childhood Friend

-Selesai-


Authhor note: zzz... sambil menunggu ide untuk fic lain lebih baik kirim seri ini dulu dah... enjoy, this iz the serious tales of Three Knights! Reviewnya ditunggu nih...