Responsible Love
Sebuah Boboiboy Fanfic karya LightDP AKA LightDP2.
Author note:
-Boboiboy dan seluruh karakter yang terkandung di dalamnya adalah milik pemegang hak cipta, saya hanya pinjam karakter-karakternya.
-Warning: AU, Elemental sibblings, tanpa super power, OOC (mungkin?), typo.
-Dalam fanfic ini umur karakter adalah sebagai berikut dari yang tertua:
-Kaizo: 35 tahun.
-Fang: 18 tahun
-BoBoiBoy Halilintar: 18 tahun
-BoBoiBoy Taufan: 18 tahun.
-BoBoiBoy Gempa: 18 tahun.
-BoBoiBoy Blaze: 15 tahun.
-Boboiboy Thorn: 15 tahun.
.
.
.
Chapter 1. Awal Mula
.
.
Taufan baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhirnya di siang hari itu. Sebetulnya ia agak malas untuk mengikuti satu-satunya kelas yang terjadwal di siang hari itu. Namun daripada diamuk oleh Gempa atau Halilintar dan dosen mata kuliah itu cukup ketat dalam masalah absen, Taufan pun menghadiri kelas tersebut.
Setelah urusan mata kuliah yang satu itu selesai Taufan tidak membuang waktu lebih lama lagi di kampus. Dinaikinya skateboard kesayangannya yang setia menemaninya mengikuti berbagai kompetisi dan mengantarnya kemanapun hatinya menghendaki.
Selagi di atas skateboardnya, Taufan meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Dengan keseimbangan yang tetap terjaga, ia membuka semua notifikasi yang tidak sempat dilihat dan dibalasnya selama berada di dalam kelas.
"Fan, nanti selesai kuliah langsung ke kedai ya? Hali mendadak demam, mungkin flu, ngga bisa jaga kedai." Begitulah bunyi sebuah voice note dari Gempa.
"Yailah Hali... Pake acara sakit segala sih, ngerusak acara orang saja..." Gerutu Taufan selepas mendengarkan voice note dari Gempa itu. Tanpa turun dari atas skateboardnya, bahkan tanpa menghentikan skateboardnya, Taufan mengirim sebuah voice note balasan untuk Gempa "Paksa saja, Gem. Aku sudah janji dengan Blaze sama Thorn.. Kita mau jalan-jalan."
Taufan tidak perlu menunggu lama sebelum sebuah notifikasi voice note balasan Gempa muncul di layar ponselnya. "Justru Blaze sama Thorn menemani Halilintar dirumah... Buruan ke kedai, gantikan aku jaga kedai. Nanti biar aku menemani Halilintar. Blaze sama Thorn nanti akan kusuruh menemani kamu di kedai."
Merasa tidak perlu menjawab voice note terakhir, Taufan mengunci layar ponselnya sebelum memasukkan ponsel itu kembali ke dalam sakunya Dengan langkah kuat dan lebar, ia mendorong dirinya di atas skateboardnya sementara kakinya yang satu lagi mengubah arah jalannya skateboard itu menuju ke sebuah gang yang merupakan jalan pintas menuju kedai Tok Aba-BoBoiBoy Kokotiam.
.
.
.
Gempa yang sendirian menjaga kedai siang itu terlihat agak kewalahan melakukkan hampir semua tugas seorang diri. Hampir seorang diri karena ada seorang temannya yang bisa dibayarnya untuk sedikit membantu di kedai.
Seorang pemuda berambut seperti landak yang seumuran dengan Gempa dan selalu menggunakan pewarna rambut berwarna ungu. Siapa lagi kalau bukan Fang.
Berbeda dengan Halilintar, Taufan, atau Gempa. Fang untuk saat ini memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas formal. Ia lebih memilih untuk mendalami secara serius hobbynya dalam bidang otomotif dan menjadi seorang drifter yang sudah beberapa kali mewakili Malaysia dalam kejuaraan internasional.
Terkenal bukan berarti lupa akan teman, begitulah salah satu alasan mengapa Fang masih mau menolong Gempa. Alasan lainnya adalah ia dijanjikan traktiran donat lobak merah spesial buatan sahabatnya itu.
Lagipula Gempa tidak meminta Fang menolongnya menjaga kedai seharian penuh. Hanya sampai Taufan datang saja dan tugas yang diberikan oleh Gempa hanya yang ringan-ringan saja seperti mencatat dan mengantarkan pesanan.
Begitu pengunjung sedang sepi, baik Gempa maupun Fang langsung mempergunakan waktu untuk sedikit beristirahat. Fang terlihat berdiri dan menyandarkan badannya pada meja bar kedai "Dari dulu waktu kita SMA sampai sekarang kamu ngga ada kendornya Gem."
Gempa yang duduk bersandar serileks mungkin di belakang meja kasir hanya menghela napas panjang. "Siapa bilang, Fang... Kalau dihitung-hitung aku sudah dua kali demam dengue dan sekali kena typhus karena jaga kedai begini."
"Lalu kenapa kamu ngga mencari pegawai saja?"
"Aku ngga percaya... Lagipula aku lebih suka kalau Blaze atau Thorn ikut aktif mengelola kedai ini. Mereka harus belajar mandiri."
"Kalau Thorn aku masih percaya tapi kalau Blaze..." Fang terdiam sejenak dan menggali ingatannya mengenai adik dari Gempa yang namanya baru saja tersebut. "Blaze... Yah, dia maunya masih bermain-main saja."
"Itu yang aku takutkan," Gempa menoleh ke arah Fang. "Aku, Hali, Taufan... Kita akan semakin sibuk dengan urusan kuliah. Mau tidak mau Thorn dan Blaze yang harus meneruskan kedai ini."
"Yah, semoga saja mereka akan siap pada waktunya... Hey, itu Taufan." Ujar Fang sembari menunjuk kepada Taufan yang berada di atas skateboardnya dan meluncur mendekati kedai.
Muka masam Taufan belum hilang sesampainya ia di kedai. Rencananya untuk jalan-jalan bersama kedua adiknya terpaksa berubah karena kakak tertuanya sakit. Skateboardnya langsung disimpan dibawah meja kasir dan ia langsung mengambil alih tugas Gempa.
Seperti biasa ketika pergantian tugas, Gempa melakukkan laporan mengenai pendapatan, pengeluaran, stok barang dagangan dan posiai keuangan. Setelah yakin bahwa nilai kas yang tertulis sama dengan fisik real uangnya, barulah serah terima tugas selesai.
"Aku tinggal dulu ya, Fan." Seusai serah terima tugas, Gempa langsung pamit.
Mood Taufan masih jauh dari kata baik namun di lain sisi, ia juga tahu bahwa semakin cepat Halilintar pulih, semakin baik juga untuk mereka semua. Sebetulnya Taufan juga kasihan dengan Halilintar yang dibayangannya terbaring di atas ranjang dengan kepala yang berdenyut-denyut karena demam, hidung yang pasti mampet, dan nyeri otot yang menyebalkan. "Ya, semoga Hali cepat sembuh... Apalagi kita bertiga kan sekamar, aku ngga mau ketularan."
"Ayo kuantar Gem, sekalian aku mau menengok Halilintar." Ujar Fang sembari mengedikkan kepalanya ke arah sebuah mobil Toyota JZX berwarna kombinasi ungu-hitam yang terparkir di dekat kedai.
.
.
.
Meskipun tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya dari Gempa dipenuhi, bukan berarti Taufan dengan senang hati menjalankannya. Terlihat dari raut wajahnya yang muram dan samasekali tidak bersemangat. Kalau saja Gempa masih berada di tempat itu, Taufan pasti sudah ditegur karena wajahnya yang tidak antusias itu bukannya mengundang pelanggan, malah bisa jadi mengusir pelanggan.
Taufan tidak perlu menunggu terlalu lama. Suara mesin mobil milik Fang yang unik karena sudah dimodifikasi kembali terdengar di kejauhan. Semakin lama semakin jelas terdengar dan akhirnya Toyota JZX berwarna ungu-hitam itu berhenti di tepi jalan dekat kedai yang ditunggui Taufan.
Thorn, adik Taufan yang terkecil keluar dari pintu belakang mobil milik Fang. "Terima kasih Kak Fang." Ujar Thorn sembari melambaikan tangan.
Setelah Thorn, keluarlah Blaze melalui pintu mobil di bagian depan. "Makasih kak Fang." Ujarnya yang juga melambaikan tangan.
"Ya... Nah jaga kakak kalian itu ya." Fang menyahut dan melempar senyuman kepada kedua adik terkecil temannya itu. "Kapan-kapan aku ajak kalian ngedrift yaa!"
Wajah Blaze langsung berseri-seri mendengar janji Fang, sementara Thorn meneguk ludah dan menggelengkan kepalanya.
"Janji ya Kak Fang!" Sahut Blaze.
"Aku ngga mau ikut!" Sahut Thorn.
Setelah itu Fang bertolak meninggalkan pelataran kedai Tok Aba-BoBoiBoy Kokotiam.
Taufan langsung membagi dua buah celemek untuk kedua adiknya yang baru saja tiba untuk membantunya. Sebuah celemek berwarna merah tua untuk Blaze yang siang itu berbaju tanktop berwarna hitam berhias motif api merah-kuning lengkap dengan celana pendek hitam bermotif api merah, dan sebuah celemek lagi berwarna hijau tua untuk Thorn yang siang itu berbaju hijau polos lengkap dengan celana jeans.
"Duh Blaze, kenapa ngga pakai baju yang betul sedikit sih..." Keluh Taufan yang melihat penampilan adiknya itu yang memang suka memakai baju tipe armless atau tanktop itu. Memang baju seperti itu lebih nyaman untuk dipakai, namun sepertinya kurang cocok jika dipakai ketika menjaga kedai. "Masa kamu mau menyambut pelanggan seperti gothic maid loli begitu?"
Blaze langsung cemberut ketika ditegur oleh kakaknya mengenai masalah penampilannya. "Kalau gitu aku pulang lagi, ganti baju." Ketusnya sembari beranjak melangkah menjauh.
Taufan menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya yang satu itu. "Sudah, ngga usah Blaze. Sini kamu," dipanggilnya adiknya itu dengan suara yang bernada lebih lembut. "Blaze, aku sih ngga keberatan kamu berpakaian begitu, Memang cocok dengan badanmu yang atletis begitu... Tapi kan kamu sekarang lagi jaga kedai... Lain kali cobalah lebih peka, ya?"
Blaze menarik napas panjang dan sedikit tertunduk setelah ditegur oleh Taufan dengan nada yang lebih lembut. "Iya, kak... Tadi aku buru-buru sih waktu dipanggil Kak Gempa... Maaf ya.".
'Yah, minimal Blaze masih bisa minta maaf kalau salah, ngga seperti kakaknya yang satu lagi itu.' Batin Taufan yang mendadak teringat dengan Halilintar yang perilakunya sedikit mirip dengan Blaze tapi jauh lebih susah untuk mengalah dan minta maaf. "Begini saja, Blaze, bagianmu mengumpulkan gelas dan piring kotor, ya?".
Blaze sedikit mengeluh ketika diberikan tugas yang kurang menyenangkan itu, namun ia tidak menolak tugas itu karena tidak mau menyinggung perasaan kakaknya yang sudah berusaha untuk baik kepadanya. "Oke, kalau begitu kak." Jawab Blaze dengan nada yang tidak antusias
"Lalu tugasku apa kak?" Thorn bertanya sembari mengikatkan pita celemeknya di belakang badannya.
"Tugasmu mencatat dan mengantarkan pesanan... Urusan cuci piring dan gelas biar kita kerjakan sama-sama."
Thorn mengangguk dan mengambil sebuah buku bon kecil beserta sebuah pulpen yang biasa digunakan untuk mencatat pesananan. Buku dan puplen itu langsung diselipkan di saku celemek yang dipakainya. "Siap kak!" Seru si adik dengan suaranya yang riang dan ceria itu.
Ketiga kakak-beradik itu mampu bekerja cukup kompak. Kekompakan mereka bahkan terjaga dari sore ketika di awal mereka bertiga menjaga kedai dan melayani pelanggan sampai malam ketika waktunya tutup. Hanya beberapa kali saja Thorn atau Blaze menghilang dengan alasan pergi ke kamar kecil dan cukup lama. Taufan pun sebenarnya tahu kalau pergi ke kamar kecil itu hanyalah alasan mereka berdua yang sepertinya kelelahan.
Bagi Taufan hal seperti itu masih bisa dimaklumi apalagi baik Thorn maupun Blaze itu belum terlalu terbiasa bekerja sampai jam tutup kedai. Mereka berdua secara bergantian sering diminta untuk membantu di kedai, namun jarang sekali keduanya secara bersamaan berada di kedai. Kalau bukan ada halangan atau hal-hal yang sifatnya mendesak seperti Halilintar yang sedang sakit, Thorn dan Blaze tidak pernah menjaga kedai bersamaan dan dalam jangka waktu yang lama.
Tepat pukul sembilan malam, kedai ditutup. Dengan itu pula pembukuan kedai ditutup. Blaze dan Thorn tengah duduk beristirahat di bangku-bangku yang tersisa belum dirapikan sementara Taufan masih berada di belakang meja kasir.
Salah satu hal yang tidak disukai oleh Taufan, namun penting untuk dilaksanakan adalah memeriksa, mengurutkan, menghitung dan merekap semua transaksi yang terjadi sejak dari serah terima tugas dengan Gempa sampai tutup kedai. Deretan angka-angka itu cukup untuk membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut, apalagi jika ada selisih antara catatan saldo akhir dengan kas real yang berada di tangannya. Berkali-kali ia mencoba menghitung ulang, merekap, dan memeriksa semua bon namun hasilnya tetap saja selisih.
'Astaga, aku paling benci kalau terjadi begini... Habislah aku diganyang Gempa kalau begini... Masa aku yang harus nombok sih? Mana selisihnya lumayan besar!' Taufan merutuk dalam hati sembari menggaruk-garuk kepalanya dan memijat-mijat keningnya. 'Ah sudahlah, nanti aku ngomong terus terang saja dengan Gempa... Mungkin aku kelewat dua atau tiga orang pelanggan yang lupa bayar.'
Blaze dan Thorn hanya memperhatikan gerak-gerik kakaknya yang sangat gelisah itu. Mereka berdua tidak mengerti dengan urusan keuangan yang rumit seperti itu. Sembari menunggu kakaknya itu selesai dengan pembukuan, mereka berdua saling berdiam diri atau sesekali mengusir nyamuk yang sudah mulai mengerubungi mereka. Terutama Blaze yang berbaju tanktop hitam yang sangat mengundang nyamuk.
"Kak Taufan masih lama? Kita bakal habis digulung nyamuk nih!" Keluh Blaze sembari mengibas-ngibaskan tangannya di atas kepala dan di dekat telinganya.
Taufan tersentak kaget ketika namanya dipanggil oleh adik-adiknya yang semakin liar mengibaskan kedua tangan mereka. "Walah!... Maaf, maaf." Sahutnya dan langsung membereskan meja kasir itu. Uang kas kedai itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak pensil oleh Taufan untuk dibawa pulang. "Sudah, ayo tutup semuanya."
Dalam hitungan menit saja, seluruh kedai dibereskan dan gerainya dikunci dengan gembok. Setelah yakin semuanya sudah diamankan, ketiga kakak beradik itu beranjak pulang menuju rumah mereka.
.
Malam itu...
.
Gempa dan Taufan nampak sedang berdua saja di meja makan setelah semua adik-adiknya pergi ke kamar mereka yang berada di lantai kedua. Gempa sendiri juga tidak mengerti mengapa secara khusus Taufan memintanya untuk tidak tidur duluan. Namun dari raut wajah Taufan yang terlihat tegang, Gempa menuruti saja kemauan Taufan yang kelihatannya sangat serius
Taufan menghela napas panjang sebelum mulai bicara. "Gempa... Maaf, aku ngga tahu salah dimana... Tapi uang kas dengan laporan keuangannya selisih nih." Sebuah catatan dan kotak pensil berisikan uang kas diserahkannya kepada Gempa.
Gempa tidak mendadak langsung marah. Ia hanya terdiam untuk beberapa saat sebelum ikutan menghela napas panjang. "Apa ada pelanggan yang lupa bayar lagi? atau ada pengeluaran yang lupa kamu catat lagi?" Sepertinya hal seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi pada Taufan
Biasanya Taufan akan cengengesan bila ditodong pertanyaan seperti ini. Namun kali ini tatapan matanya serius. "Ngga," jawabnya dengan tegas. "Aku kali ini yakin!".
"Apa kamu sempat meninggalkan meja kasir?"
"Ah.. Ya, beberapa kali. Aku, Thorn, Blaze, kita sama-sama mencuci piring kotor."
"Mungkin ada pelanggan yang mencuri waktu kamu sedang lengah, Fan."
Tanpa disangka oleh Gempa, Taufan mendadak menggebrak meja makan itu. Untungnya gebrakan Taufan tidak terlalu keras dan semua saudara-saudaranya yang sudah tidur tidak ada yang mendengar. "Gempa... Aku mungkin rada bego kalau urusan angka, tapi aku ngga pernah lengah mengawasi meja kasir." Desis Taufan yang tatapan matanya masih tidak bergeming menatap adiknya.
"Tenang, Fan." Hardik Gempa dengan suara sepelan mungkin. Pembicaraan mereka tidak perlu terdengar oleh yang lain, bahkan oleh Halilintar yang sedang sakit. "Aku bukan menuduhmu."
Perkataan Gempa membuat Taufan yang sempat terlihat emosi menjadi lebih tenang. "Jadi, apa maksudmu?".
"Itu bukan kejadian pertama, dan bukan cuma kamu yang mengalami..." Suara sengau Halilintar yang sedang terkena flu terdengar. Taufan dan Gempa menengok ke arah tangga rumah dan mendapati Halilintar yang terlihat pucat karena sedang sakit sudah berada di anak tangga terbawah.
Sebelum kedua adiknya sempat berkomentar mengenai flu yang dideritanya, Halilintar langsung menarik bangku dan duduk di antara Taufan dan Gempa. "Aku juga pernah mengalami yang begitu, Fan... Tapi aku ngga mau Gempa khawatir. Selisihnya aku tutup dengan uangku sendiri."
Gempa langsung tercengang mendengar kata-kata kakaknya itu. "Astaga, Hali, kenapa kamu baru cerita sekarang?"
"Kupikir ada kesalahanku, namun ketika aku mendengar cerita Taufan barusan, aku jadi yakin kalau aku tidak melakukkan kesalahan waktu menghitung. Selisihku waktu itu... Sekitar dua puluh ringgit."
"Selisihku sekitar tujuh puluh ringgit."
Mendengar itu Gempa langsung mengerenyitkan dahinya. "Oke, aku akui... Ini juga terjadi padaku... Lima puluh ringgit."
Setelah beberapa saat terdiam, Halilintar akhirnya memecah keheningan. "Totalnya hampir seratus lima puluh ringgit... Begini saja... Untuk sekarang kita bagi rata bertiga untuk kita tutup selisihnya. Cukup perkara uang hilang dulu yang kita tangani, jangan sampai laporan keuangan kita jadi acak-acakan... Akan repot kita nanti waktu membuat neraca."
"Bukan jalan terbaik, tapi tidak ada pilihan lain... Aku setuju," ujar Gempa yang menyambut positif saran Halilintar. "Mungkin kita ada yang lalai sampai terjadi kecurian begini."
"Terserah kalian saja, aku mengikut." Taufan menganggukkan kepalanya. "Habis ini kita semua harus lebih hati-hati, terutama kalau ada pelanggan yang duduk di meja bar. Posisi mereka sangat dekat dengan meja kasir kan..."
"Ya, besok biar kuberi tahu Blaze dan Thorn supaya berhati-hati. Kalau sekarang mereka pasti sudah tidur." Gempa berhenti sejenak sembari melirik ke arah Taufan dan Halilintar bergantian. "Mungkin sudah saatnya mereka berdua ikut dengan kita kalau membahas masalah begini... Cepat atau lambat, mereka lho yang meneruskan."
Taufan nampak keberatan dengan saran Gempa. "Apa ngga terlalu cepat, Gem... Mereka baru kelas satu SMA lho. Masa-masa indah sekolah tuh."
"Kali ini aku setuju dengan Taufan... Terlalu cepat, Gem." Halilintar menambahkan. "Biar mereka jalani masa muda mereka dulu. Nanti kalau mereka sudah kelas dua, barulah kita ajak mereka membahas masalah kedai yang sensitif."
.
.
.
Bersambung
