Hai semuanya! Kenalin, nama gue Ayu and welcome to my first ever Shingeki no Kyojin fanfic. And also my first fanfic in Indonesian! Ever!

Jadi ceritanya ini multishipping antara LeviSasha, JeanSasha, dan BertholdtSasha (because let's face it, Sasha bisa di ship sama siapa aja, no? Sasha kan fleksibel! #ditabokSasha). Ceritanya based on this otome game bikinan Voltage inc yang namanya Kiss of Revenge. Hayo hayo yang otaku suka main otome game pasti tau! Yang gatau, udah diem aja daripada spoiler? #nyengirteruskabur

Disclaimer: All belong to Hajime Isayama and also Voltage inc. I just borrow his characters and Voltage's storyline.

Warning: OOC (Demi nyocokin personality yg dari game juga, Sasha disini bakalan dark banget, walaupun ga se-dark Main Character yang di game. Tapi tetep bakal gue masukin bumbu- bumbu konyol Sasha sedikit #emangnyamakanan), bahasa campur aduk (karena author keseringan baca dan nulis fanfic atau RP pake bahasa inggris jadinya agak- agak kagok nulis pake bahasa indo lagi hiks #ehcurhat #grammaringgrisjugamasihkacaukok), kurang deskripsi karena ini nulisnya tengah malem sambil ngantuk- ngantuk, bakal gue edit lagi kalo otak seger dikit, penggunaan gue-elo, kata- kata gak baku (karena bahasa indonesia author yang alamakjang buruknya), dan segala- galanya. Maklumin aja ya. Hiks #nangisdipojokan


Sepasang mata beriris cokelat terang milik seorang gadis menatap lekat gedung besar berarsitektur kontemporer yang berdiri megah dihadapannya. Rambut cokelat panjangnya sedikit berkibar akibat diterpa angin kota Stohess di bulan November yang sepoi- sepoi.

Royal Stohess Hospital. Itulah tulisan yang tertera di bagian atas gedung itu. Tempat yang selama ini mempunyai kenangan tersendiri untuk Alexandra 'Sasha' Braus, dimana hidupnya berubah 180 derajat sebelas tahun yang lalu.

Tempat dimana ibunya pergi, pergi meninggalkan dunia ini di tangan seorang dokter disana.

"Kami telah berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan istri anda, Herr Braus." dr. Kenny Ackermann, dokter yang saat itu bertindak sebagai attending surgeon atas operasi tumor otak Ibunya berkata muram. "Tapi ternyata Tuhan berhendak lain. Keadaan istri anda mendadak memburuk di tengah sesi operasi dan…,"

Suara berat dr. Ackermann kini terdengar samar- samar oleh Sasha yang saat itu berumur 17 tahun. Dunia gadis itu seakan berputar seiring dengan kabar akan kematian ibunya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Demi Tuhan, ia baru saja bercengkrama dengan Ibunya empat jam yang lalu, sesaat sebelum operasi. Beliau terlihat baik- baik saja, bahkan beliau sempat berjanji padanya akan membuatkan kentang panggang keju favorit Sasha saat ia sembuh nanti. Sama sekali tidak ada tanda- tanda ibu akan meninggal.

Dengan mata berkaca- kaca dan lutut yang lemas, Sasha mengalihkan pandangan ke Ayahnya yang terlihat tidak kalah shocked, mungkin lebih- lebih daripada dirinya mengingat pasangan hidupnya selama hampir sembilan belas tahun ini telah tiada.

"A-aber… D-das gibt's doch nicht!"* Anda bilang operasi ini tidak begitu berbahaya karena tumornya masih jinak, tapi kenapa…?" tanya Hans dengan suara yang bergetar, membuat Sasha segera meraih tangan Ayahnya yang mulai berkeriput dimakan usia, meremasnya lembut seakan memberi kekuatan.

"Memang benar, Herr Braus. Tetapi sekali lagi saya tekankan bahwa ini semua diluar kuasa kami. Mohon anda mengerti." ujar Dokter bersurai ebony itu seraya melirik jam tangan emas yang melingkar ditangannya, lalu mengalihkan perhatiannya ke seorang suster berambut kecokelatan yang berdiri dibelakangnya dengan clipboard di tangan. "Oh ya, suster, tolong bantu Herr Braus mengurus surat kematian Frau Braus. Herr Braus, mohon maaf saya harus pergi sekarang karena masih ada pasien lain yang menunggu. Sekali lagi, kami turut berduka cita dan mohon maaf yang sedalam- dalamnya." tambahnya lagi dengan sebuah tundukan kepala.

Baru saja ia hendak melangkah pergi meninggalkan Ayah dan Anak tersebut, namun sebuah suara feminine membuat langkahnya terhenti seketika. Iris abu- abunya kini tertuju pada wajah nona muda Braus. Air mata mengalir bagainkan aliran sungai kecil dari kedua matanya yang bulat. Hidung mancungnya nampak merah.

"Anda yakin itu semua penyebabnya? Nggak ada yang lain?"

Dr. Ackermann menyipitkan kedua matanya, alis tebalnya bertaut. "Maksud anda, Fräulein Braus? Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa Ibu anda meninggal karena kami tidak berkompeten?"

Gadis muda itu mengangkat wajahnya dagunya sedikit agar terlihat menantang. "Nyatanya seperti itu kan? Bukankah tugas seorang dokter itu menyelamatkan pasiennya? Kalau kalian memang hebat, pastinya Ibu saya masih hidup sekarang."

"Sasha! Bicara apa kamu, Nak?" Hans menatap putri sulungnya tidak percaya. Lelaki yang berumur nyaris kepala empat itu tahu persis putri semata wayangnya sangat blak- blakan dalam mengatakan perasaannya. Hanya saja ia tidak menyangka bahwa ia bisa menjadi sekurang ajar ini, terutama pada dokter Ackermann. "Maafkan anak saya, dr. Ackermann. Ia sangat terpukul dengan kematian ibunya, jadi—" buru- buru ia meminta maaf atas kelakuan putrinya, sebelum akhirnya dicela oleh kibasan tangan dari sang dokter.

Dr. Ackerman terdiam sebentar, seperti sedang menimbang- nimbang sesuatu di pikirannya. Sayangnya, ketika ia membuka mulutnya untuk membalas perkataan gadis muda itu, dua orang suster berpakaian gaun bedah seperti dirinya muncul dari ruang operasi 1 sambil mendorong tempat tidur beroda tempat dimana Frau Braus berbaring tanpa nyawa.

Keluarga Braus otomatis berlari mendekati tempat tidur, tangisan pecah di koridor Royal Sina Hospital yang dingin. Sambil sesenggukan, Sasha meraih tangan kanan sang ibu dan menaruhnya ke wajah basahnya untuk dicium.

Dingin. Tangan yang biasanya hangat itu sekarang dingin.

Mama, bangun Mama… Mama kan janji sama Sasha mau membuatkan kentang panggang favorit Sasha? Mama kenapa tega meninggalkan Sasha dan Papa? Siapa lagi yang akan marah- marah sama Sasha kalau Sasha malas membersihkan kamar? Siapa lagi yang akan membuatkan sup krim kentang kalau Sasha sakit? Siapa lagi yang akan Sasha datangi kalau Sasha ada masalah di sekolah?

Dengan pandangan yang kabur akibat air mata, ditatapnya wajah sang Ibu. Beliau terlihat damai, sebuah senyum tipis terukir di wajah cantiknya.

Tangis Sasha pecah lagi. Ia masih tidak percaya bahwa nyatanya ia kini seorang piatu.

Sambil mengusap air matanya, Sasha memindahkan pandangannya ke tempat dr. Ackerman berdiri dan mendapati bahwa ternyata dokter separuh baya itu sudah menghilang.

...

"Err… mademoiselle? Vous vous sentez bien?"

Sebuah suara dalam bahasa Perancis menyentakan Sasha dari lamunannya akan kejadian dua belas tahun yang lalu. Sasha membalikan tubuh dan mendapati pemuda muda tampan—tapi entah mengapa wajah panjangnya mengigatkan Sasha akan kuda—berambut cokelat berdiri dibelakangnya, menatap dirinya bingung. Pria itu mengenakan setelan jas dan celana hitam dengan kemeja berwarna biru muda. Ada jaket putih khas dokter yang tersampir di lengannya, menandakan bahwa ia adalah salah satu dokter disini.

"Oh… maaf. Iya, saya nggak apa- apa." Sasha menjawab buru- buru dengan tersenyum sangat tipis. "Cuma ngelamun."

Salah satu alis pemuda itu naik. "Ngelamun sambil mandangin patung dr. Ackermann?" tanyanya lagi dengan nada sedikit mengejek.

Gadis berambut cokelat itu melongo sebentar lalu menyadari bahwa saat sedang melamun, kaki jenjangnya membawanya ke sebuah patung yang diletakan di depan pintu masuk. Patung lelaki itu.

Lelaki yang telah membunuh Ibunya. Lelaki yang kini menjabat sebagai direktur rumah sakit ini.

Ya, memang setelah kematian Ibunya, hidup Sasha menjadi berubah. Ayahnya yang dulu gagah dan ceria berubah menjadi murung, seakan tidak punya semangat hidup lagi. Dua bulan setelah kejadian itu, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pindah ke kota kecil Dauper, tempat dimana Odette Braus—sang ibu—tinggal dan tumbuh besar. Disana, Sasha yang dahulu terkenal sebagai gadis periang maniak kentang di Stohess High School, telah berubah menjadi seorang gadis pendiam yang jarang tersenyum. Tahun terakhirnya di Dauper High School pun dihabiskan dengan belajar habis- habisan hingga pada akhirnya ia diterima di fakultas kedokteran Dauper University. Sungguh ajaib memang, Sasha yang dulu cenderung cuek dengan yang berlabel pendidikan kini mendadak menjadi seorang dokter bedah di umurnya yang baru dua puluh sembilan. Tidak mudah tentunya, tapi disinilah ia sekarang.

Untuk membalas dendam kepada lelaki itu. There's something fishy about her mother's death dan Sasha bertekad untuk mengungkap itu semua.

"Halooo? Kenapa malah ngelamun lagi sih? Dasar cewek aneh." Lelaki itu bertanya lagi, kali ini sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah Sasha. "Kalau kamu lagi sakit, mending ikut saya deh. Biar saya periksa. Saya ini dokter lho."

Sasha yang dulu mungkin akan langsung misuh- misuh karena dibilang cewek aneh oleh pemuda itu, tetapi ia sudah berubah. Ia tidak peduli sama sekali dengan apa yang dipikiran orang tentang dirinya, biarpun orang itu setampan apapun. Tujuan Sasha untuk pindah kembali ke Stohess hanya satu; balas dendam.

"Non. Saya nggak sakit."

"Terus elo ngapain ngeliatin patung dr. Ackermann? Naksir? Udah tua gitu." mendadak saja pemuda ini mendrop semua bahasa formalnya, membuat Sasha speechless untuk beberapa detik.

Naksir dr. Ackermann? Mati aja. Sasha diam- diam memutar bola matanya, agak irritated mengingat mereka baru saja bertemu. "Nggak lah. Cuma liat- liat aja. Gue dokter baru disini."

Raut muka pemuda itu seketika berubah menjadi lebih tertarik. "Oh ya? Divisi apa?"

"General Surgery."

Kedua mata light brown pemuda itu membelalak lebar. "Serius? Vous ne regardez pas comme ça!" ujarnya kaget. "Maksud gue… Lo masih keliatan muda. Umur berapa?"

Sasha menyipitkan matanya sambil melipat kedua lengannya di dada. "Memangnya penting ya?" balasnya datar. Rasa risihnya terhadap si dokter muda bertambah dua kali lipat dan untungnya itu tidak luput dari pengawasan pemuda itu karena sekarang wajah tampannya kini sedikit memerah.

"Je suis désolé, gue nggak bermaksud kepo." ujarnya lagi sambil mengusap tengkuknya canggung. "Oh ya, kenalin. Gue Jean Kirschtein dari divisi Internal Medicine. Et toi?" pemuda itu tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk dijabat.

Sasha terdiam sebentar, memandang ragu tangan Jean yang terulur. Sejujurnya Jean adalah pria yang baik, walaupun Sasha merasa bahwa lidah cowok itu kadang- kadang tajam juga kalau berbicara. Pria itu juga sepertinya punya rasa ingin tahu yang kuat, jadi sudah jelas bahwa Sasha harus berhati- hati kepada pria ini agar jati dirinya tidak terbongkar.

Pelan- pelan, gadis itu membalas uluran tangan Jean.

"Alexandra. Alexandra Schultz."


Sekali lagi, mohon maaf kalo ada typo. Ngetiknya lagi tengah malem sampe menjelang subuh so...

Btw disini last name Sasha ceritanya pakai nama maiden (nama gadis sebelum menikah) ibunya soale kalo dia pake nama aslinya ketahuan dong kalo dia anaknya Odette Braus? Jadi ya gitu. Dan ohya, di wiki Shingeki no Kyojin, juga tertulis kalo nama Sasha kemungkinan di ambil dari nama Alexandra, itulah kenapa gue tulis namanya Alexandra biar identitasnya lebih hidden lagi.

Next chapter, Sasha bakalan ketemu sama si dr Kenny, dr Levi (bayanginnnn Levi jd dokterrrr! #pelukLevi), dan kawan- kawan so stay tuned!

Oh ya, ceritanya di negara mereka, bahasa resminya ada Jerman, Perancis, sama Inggris. Agak mirip kayak Belgia gitu, walaupun di Belgia Inggris-nya diganti Belanda. Jadi jangan heran kalau Sasha ngerti bahasa Perancis Jean.

Anddd last but not least; index umur:

dr. Sasha Schultz/Braus, Berthold, Reiner (lolol yang mestinya tua setahun dua tahun malah jadi muda dari Eren dkk xD) & Mina: 29 tahun

dr. Levi Ackermann, dr. Erd Jin: 36 tahun

dr. Erwin Smith, dr. Oruo Bozardo: 38 tahun

dr. Jean Kirschtein, dr. Connie Springer, dr. Eren Jaeger, dr. Mikasa Ackermann, suster Ymir: 30 tahun

dr. Hange Zoë: 35 tahun

dr. Kenny Ackerman: 60 tahun

Suster Petra, Suster Gunther:, Suster Moblit: 31 tahun

Translate:

Herr: semacam Mister/ Pak dalam bahasa Jerman

Fraun: Mrs/ Nyonya

Aber das gibt's doch nicht!: Itu tidak mungkin

Fräulein: Miss/ Nona

Mademoiselle? Vous vous sentez bien?: Nona? Apakah anda baik- baik saja?

Non: Tidak

Vous ne regardez pas comme ça: You don't look like it!/ Kamu tidak terlihat seperti itu!

Je suis désolé: Saya minta maaf

Ok, kebanyakan lol. Ayu's out!

Review? :D