Haikyuu milik Furudate Haruichi-sensei.

Kalau milik Cunguk, gak akan mungkin lolos terbit. Gambaran Cunguk terlalu lejen. : )

Cuma drabble pendek buat bantai folder prompt yang entah sudah berapa abad bersemayam di flashdisk.

Enjoy~!

Pernahkah?

Hari itu Gedung Olahraga Tokyo dipenuhi oleh riuh tepuk tangan. Upacara penutupan Kompetisi Olahraga Voli Internasional tingkat Universitas baru saja selesai dilaksanakan. Euforia dirasakan penuh oleh tuan rumah yang berhasil meraih peringkat pertama setelah sebelumnya dikalahkan tahun kemarin.

Oikawa menyambut para pemenang di parkiran dengan tangan dibuka lebar-lebar. Senyum lima jari terpasang di wajahnya. Matanya tampak sembab oleh air mata bahagia.

"OIKAWA-SAN!" Melihat mantan kapten mereka, para pemain kompak hendak menerjangnya dengan pelukan.

"Oikawa-san...!" Ketika Kageyama Tobio, setter utama tim sudah duluan memeluk yang bersangkutan, mereka memilih diam di tempat. Wajah mereka merona ketika Oikawa mengecup kening Kageyama, tidak peduli dengan PDA.

"Apa kau melihat kami tadi?" Kageyama bertanya.

Oikawa mengangguk. Terlintas kembali pertandingan seru dan imbang antar dua tim. Perlawanan sengit dari keduanya yang rasanya membuat jantung semua penonton mau copot saking tegangnya. Semua teknik dan strategi timnya yang banyak dipimpin oleh pemuda di dekapannya ini, benar-benar membuat Oikawa bangga.

Tanpa bisa ditahan, air mata kembali menghujam pipi Oikawa.

"O-Oikawa-san?!" Kageyama panik sendiri melihat mantan kaptennya berurai air mata.

"Kalian benar-benar membuatku bangga! Terutama kau!" Oikawa mendekap Kageyama semakin erat. "Ah, sial. Aku benar-benar mencintaimu, Tobio-chan!"

Kageyama merah padam mendengarnya. Dia ingin mengubur diri hidup-hidup sekarang juga. Meski sudah beberapa bulan mereka menjalin hubungan, tetap saja ia belum terbiasa dengan pernyataan itu.

Pemuda—yang masih dikatai bermuka angker oleh timnya gara-gara sahabatnya Hinata di universitas sebelah—itu mulai khawatir ketika tangis Oikawa mulai terdengar aneh.

"Oikawa-san?"

"Rasanya sakit." Oikawa bergumam, melepas pelukannya. Air matanya sudah berhenti.

"A-apa yang sakit?!"

"Mencintaimu." Kageyama terdiam, bingung. Apa maksudnya? Mungkinkah Oikawa—

"Jangan berpikir macam-macam. Otakmu tidak cukup kapasitas." Oikawa menoyor jidat Kageyama main-main, menghentikan anak itu untuk berspekulasi sendiri atas kata-katanya yang bau-bau minta putus itu.

Kageyama menggeram tidak suka dikatai bodoh secara tidak langsung seperti itu. Bibirnya dimanyunkan. Oikawa menafsirkan itu sebagai kode minta dicium. Maka dia lakukan.

Respon komikal korban cium, sampai mundur-mundur menutup mulut begitu, cukup untuk membuat Oikawa tertawa terbahak-bahak. Kalau ada Iwaizumi di sana, kepalanya pasti sudah dipukul keras.

"Begini, Tobio-chan. Pernahkah kau bayangkan bagaimana rasanya jika kau amat sangat mencintai seseorang sampai-sampai rasanya sesak? Sakit? Terutama kalau orang itu itu pernah kau benci."

"Woi!" Kageyama melotot tidak terima.

"Kubilang pernah kubenci, Tobio-chan." Oikawa nyengir, mengedipkan sebelah matanya danmengirim kiss-bye untuk Kageyama. "Sekarang kan sudah cinta~!"

Dasar alay!—batin Kageyama. Meski wajahnya merona dan hatinya suka.

Di belakang mereka, anggota tim mengutuki mantan kapten mereka yang alay dan tidak peduli dengan PDA.

End

Berkenan tinggalkan jejak?

Salam Mode Terbang,

Blattodea Lovers.