Innocence?
Part 1
Sebuah mobil terparkir dengan sempurna di lapangan parkir sebuah SMA. Dari dalamnya muncul dua orang menggunakan seragam SMA tersebut. Keduanya, sebut saja mereka Seongwoo—yang baru keluar dari kursi pengemudi—dan yang satu lagi Daniel. Keduanya mengedarkan pandangan mereka.
Seongwoo dan Daniel bertukar pandang, lalu menyeringai. Sepertinya sekolah baru mereka boleh juga.
Seongwoo dan Daniel adalah sepasang saudara tiri, yang tiba-tiba harus pindah sekolah di tengah semester pertama kelas 11. Jangan tanya mereka harus pindah karena masalah apa, kau bisa saja mati berdiri mendengarnya. Beruntung bagi mereka, orang tua mereka adalah orang terpandang di kota tempat mereka tinggal, jadi mereka bisa pindah ke sekolah baru dengan mudah.
Keduanya lalu berjalan santai menuju ruang kepala sekolah. Sekolah sepi, karena bel masuk sudah berbunyi lima belas menit yang lalu.
Seongwoo dan Daniel masuk setelah dipersilakan masuk oleh sekretaris kepala sekolah. Di dalam, selain kepala sekolah ada seorang murid yang menunggu mereka.
"Ah, Seongwoo dan Daniel. Masuk, masuk," kepala sekolah melambaikan tangannya menyuruh Seongwoo dan Daniel masuk. "Duduklah."
Seongwoo dan Daniel duduk di sofa yang kosong. Berhadapan dengan murid tadi. Anak laki-laki yang tidak terlalu tinggi sepertinya, yang sedang menundukkan kepalanya, sambil sesekali melirik ke arah Seongwoo dan Daniel.
Manis.
"Kenalkan, namanya Kim Jonghyun. Dia ketua OSIS SMA 41," kepala sekolah memperkenalkan anak laki-laki tadi—Kim Jonghyun namanya—yang ternyata adalah ketua OSIS, "Jonghyun nanti akan menunjukkan di mana letak kelas kalian. Kalian tahu kalau kalian adalah kasus khusus, bukan?" Seongwoo dan Daniel mengangguk, "Jadi, Bapak harap kalian menjaga kelakuan kalian berdua selama bersekolah di sini. Bapak tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian, jika kalian bertingkah. Bapak tidak peduli dengan jabatan ayah kalian di pemerintahan, di sekolah ini Bapak yang berkuasa bukan ayah kalian. Jadi patuhi peraturan sekolah jika kalian tidak ingin dikeluarkan. Lagi. Mengerti?"
Seongwoo dan Daniel hanya bisa mengangguk lagi. Sepertinya mereka harus menjadi anak baik-baik, jika masih ingin tetap bersekolah di sini.
"Kalau begitu, silakan menuju kelas kalian. Jonghyun akan mengantar kalian. Jika kalian butuh bantuan, jangan segan-segan meminta bantuan OSIS," kepala sekolah berdiri. "Ah, satu lagi. Mulai besok, jangan terlambat."
Seongwoo dan Daniel berdiri, mengikuti Jonghyun keluar ruangan kepala sekolah.
"Jadi, nama lu Jonghyun?" Seongwoo bertanya. "Gue Seongwoo, dan yang ini adek gue, Daniel," sambil menunjuk Daniel.
"Kim Jonghyun," kata Jonghyun sambil tersenyum malu-malu. Lalu raut mukanya berubah. Bingung. "Kalian kakak adek kembar? Tapi, kok, gak mirip?"
Daniel tertawa.
"Kita gak kembar, kok. Gue lebih muda empat bulan dari bang Seongwoo."
Jonghyun tambah bingung.
"Kita sodara tiri," Seongwoo yang tidak tega menjawab. "Ayah gue nikah sama mamanya Daniel. Walau begitu, kita bisa disebut kembar juga, kok. Kita ini kompak."
Jonghyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Seongwoo dan Daniel hampir menabrak Jonghyun yang berhenti tiba-tiba di depan sebuah kelas.
"Ini kelas Daniel," katanya. Lalu mengetuk pintu kelas yang tertutup. "Permisi, Pak Seokhoon, saya mengantarkan murid pindahan."
Pak Seokhoon berhenti mengajar, mempersilakan Daniel masuk.
"Terima kasih, Jonghyun."
"Sama-sama, Pak. Ah, ketua kelas, jangan lupa nanti siang sepulang sekolah rapat OSIS," seseorang, yang sepertinya ketua kelas, mengangkat tangannya sambil mengacungkan jempol. Jonghyun mengangguk. "Permisi, Pak."
Seongwoo yang tadi menunggu di luar kelas, berjalan bersisian dengan Jonghyun sekarang.
"Gue sama Daniel gak sekelas? Padahal Papa udah minta biar gue sama Daniel sekelas, lho."
"Perintah kepala sekolah. Kalian tidak boleh satu kelas. Lagipula di sini tidak ada kelas yang menerima murid pindahan dua sekaligus."
Seongwoo diam. Sekolah barunya berbeda dengan sekolah lamanya.
"Lu gak papa, masuk kelasnya telat?"
"Mau gimana lagi? Ada dua murid baru yang seenaknya datang telat hari ini."
Ouch. Mulut ketua OSIS tajam juga ternyata.
"Hehehe..." Seongwoo menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
Mereka berhenti lagi. Jonghyun mengetuk pintu.
"Permisi, Bu Yoomi, saya mengantar murid pindahan."
Seongwoo masuk ke dalam. Berdiri di sebelah Bu Yoomi, sementara Jonghyun mengulangi prosedur yang ia lakukan tadi di kelas Daniel. Mengingatkan ketua kelas soal rapat OSIS siang nanti.
Bu Yoomi tersenyum.
"Perkenalkan dirimu, murid baru."
Seongwoo mengeluarkan senyum sejuta wattnya yang dijamin mampu membuat siswi—dan siswa—bertekuk lutut.
"Halo, namaku Ong Seongwoo. Lahir 25 Agustus, tinggi 180 cm, saat ini nggak punya pacar. Pesona utama," Seongwoo menunjuk pipinya, "tahi lalat yang mirip konstelasi bintang."
Seongwoo tersenyum puas. Teman-teman sekelasnya sepertinya sudah jatuh pada pesonanya.
Bu Yoomi tertawa.
"Oke, cukup perkenalnya. Silakan duduk di bangku kosong di pojok ruangan, Ong Seongwoo."
Seongwoo duduk di tempat yang ditunjuk Bu Yoomi. Tidak buruk untuk sebuah permulaan.
—
Daniel mendongak ketika seseorang mengetukkan tangannya di meja Daniel. Ternyata sang ketua kelas.
"Hei, kenalin. Gue Soonyoung, Kwon Soonyoung. Panggil aja Hoshi. Gue ketua kelas, hehehe," lalu tangannya meraih lengan seseorang yang disampingnya. "Kalo ini namanya Jeon Wonwoo, pacar gue yang paling ganteng."
Daniel mengangguk. "Gue Daniel."
"Mau ikut ke kantin? Sekalian gue tunjukin di mana lokasinya."
Daniel berdiri, mengikuti Hoshi dan Wonwoo menuju kantin. Tangan Daniel meraih ponsel di sakunya, lalu mengetik pesan pada Seongwoo. Di depannya, Hoshi masih setia memeluk lengan Wonwoo sambil membalas sapaan murid yang menyapa.
"Eumm, gue boleh nanya gak?"
Hoshi menoleh, "Ya?"
"Kalian gak takut gitu kena cibiran atau apa gitu?"
"Gara-gara gue sama Wonu pacaran?" Daniel mengangguk. Hoshi tersenyum. "Lu gak bakal nemuin yang kayak gitu di sini. Kalo di belakang, sih, gue gak tau. Urusan mereka itu. Lagian di sini mah udah biasa. Udah dari dulu. Jadi, jangan kaget kalo lu nemu pasangan homoseksual di sini. Udah biasa."
Daniel melongo. Pantas banyak yang menyebut SMA barunya SMA elit.
"Nah, ini kantinnya. Berhubung gue nanti pulang sekolah ada rapat, jadi gue gak bisa nganter lu keliling sekolah. Turnya besok siang aja, gimana?"
Daniel hanya bisa mengangguk. Lalu mengikuti Hoshi dan Wonwoo ke konter pemesanan. Memesan milkshake dan sekantong jeli, lalu duduk di salah satu bangku yang kosong sambil menunggu Seongwoo. Tak disangkanya, Hoshi dan Wonwoo juga ikut duduk semeja dengannya.
"Aduh, jangan pasang tampang kaget begitu, deh. Gak baek anak baru ditinggal sendirian," Hoshi senyum.
"Jadi, kenapa lu bisa pindah sekolah tengah semester gini?"
"Bukan urusan lu, kali," suara dingin Seongwoo yang menjawab pertanyaan Hoshi.
"Huwa, gak perlu defensif gitu juga kali, gak dijawab aja gue juga gak bakalan ngorek, kok. Eh, tapi, lu siapa?"
"Ah, ini abang gue, Seongwoo. Ini ketua kelas gue, Hoshi, yang di sebelahnya itu Wonwoo."
"Kakak kelas?"
"Anak kelas gue, Chi," seseorang yang tidak Daniel kenal duduk di depan Hoshi.
"Tinggal jelas, ya?" Hoshi tersenyum jahil.
"Enak aja! Gue pinter, ya! Gue gak pernah tinggal kelas!"
"Udahan kali, Bang," Daniel menepuk-nepuk punggung Seongwoo, "kita sodara tiri, walaupun seumuran tapi gue lebih muda empat bulan. Mana gue dulu dibully sama bang Seongwoo buat manggil dia abang." Seongwoo pasang muka masam.
Ketua kelas Seongwoo tertawa.
"Kalian lucu. Kenalin, gue Jun, ketua kelasnya Seongwoo."
"Gue Daniel."
Hening. Sebenarnya tidak juga, hanya saja Hoshi sedang ngobrol dengan Jun, dan Wonwoo yang hanya diam. Suasananya terlalu canggung.
Eh, eh, tahu gak? Gue denger kemaren Hwang Minhyun kepergok sama Bu Kahi, loh. Kepergok lagi pacaran, bahkan sampe mau buka-bukaan baju! Di ruang Komite Disiplin lagi pacarannya. Gila gak, tuh? terdengar suara murid perempuan di meja belakang di mana Daniel duduk. Dan, yang lebih gilanya lagi, Bu Kahi lepasin gitu aja. Coba kalo murid lain yang kena, pasti diusut, tuh. Pilih kasih banget gak, sih?
Beberapa orang lainnya mengiyakan.
Tapi, pacarnya Hwang Minhyun siapa, sih? Gue gak pernah liat dia jalan sama cewek, deh. Jalan juga sama gengnya dia mulu. Duh, gue kasian, nih, sama Jonghyun punya temen kayak Minhyun. Mana Jonghyun polos banget gitu orangnya.
Hoshi mendengus mendengar percakapan gosip—dari sekumpulan murid perempuan tersebut.
Daniel bingung.
Kenapa? Mereka lucu, udah gitu aja.
Lucu gimana?
"Lucu aja, mereka yakin banget kalo Jonghyun polos. Gue, sih, enggak, lalu Hoshi tertawa diikuti Wonwoo dan Jun. Daniel dan Seongwoo haya bisa saling pandang bingung.
Jonghyun? Kim Jonghyun? Ketua OSIS yang manis yang tadi pagi? Enggak polos? Nggak mungkin, deh.
—
Daniel menyandarkan punggungnya pada dinding sambil menghirup rokoknya. Ia bosan. Sekolah barunya terlalu sempurna. Ditambah lagi Seongwoo sedang memainkan peran sebagai murid pindahan yang sempurna. Daniel benar-benar bosan. Tidak ada seorang pun yang bisa dikerjainya. Semua yang ditemuinya menerimanya dengan baik.
Daniel bosan. Benar-benar bosan.
"Baru seminggu kau sekolah di sini dan kau sudah melangar peraturan. Membolos saat jam pelajaran di tambah lagi merokok di area sekolah. Kau tahu berapa kredit yang dipotong?" sebuah suara mengagetkan Daniel.
Sialan. Gue gak denger suara langkahnya lagi!
Daniel mendongak. Membaca nama yang tertera di bagian dada. Hwang Minhyun. Ingatan Daniel kembali pada hari pertamanya seminggu yang lalu. Hwang Minhyun yang kepergok sedang pacaran—menjurus berbuat mesum—di ruang Komite Disiplin oleh seorang guru yang lalu dilepaskan begitu saja. Rasa ingin tahu Daniel terusik. Sebenarnya siapa Hwang Minhyun sehingga membuatnya bisa terlepas dari hukuman.
"Terus? Kalo gue gak peduli gimana?" tantang Daniel.
"Kehabisan kredit itu artinya kau akan dikeluarkan dari sekolah. Lagi," Daniel tersentak. "Jangan pikir gue gak tahu alasan lu pindah sekolah di tengah semester gini, Kang Daniel. Seenggaknya lu bisa pura-pura jadi anak baek kayak abang lu." Hwang Minhyun menyeringai, Daniel merinding melihatnya. Hwang Minhyun terlihat seperti iblis yang sedang menyaksikan kehancuran umat manusia. "Kali ini gue lepasin lu, Kang Daniel, tapi kalo abis ini gue nemuin lu ngelanggar peraturan lagi, kredit lu gue potong dua kali lipat."
Daniel hanya bisa menatap punggung Hwang Minhyun yang menjauh. Sialan. Siapa, sih, dia sebenarnya?
—
Seongwoo sedang berdiri di depan salah satu rak buku di perpustakaan saat sebuah tangan yang meraih buku di hadapannya masuk ke dalam area pandangannya dan sebuah suara—bisa dikatakan sangat dingin—masuk ke pendengarannya.
"Kasih tahu sodara lu, si Kang Daniel itu, kalo gak mau dikeluarin lagi dari sekolah, mulai sekarang lebih baik dia matuhin peraturan sekolah. Lu juga sebaiknya gitu, Ong Seongwoo. Track record lu sama jeleknya."
Seongwoo melongo. Siapa tadi? Tahu dari mana dia jika Seongwoo dan Daniel dikeluarkan dari sekolah lama mereka dan bukannya pindah? Tapi, tunggu dulu! Tadi dia mengatakan sesuatu tentang Daniel? Apa lagi yang Daniel lakukan sekarang?
Seongwoo buru-buru meninggalkan perpustakaan. Tujuannya satu. Kelas Daniel. Seongwoo benar-benar tidak percaya. Mereka baru seminggu berada di sekolah ini dan Daniel sudah mulai mencari masalah.
Seongwoo menemukan Daniel melamun, memandang ke luar jendela.
"Kang Daniel," Daniel mendongak. "Lu abis ngapain?"
"Maksudnya apaan, Bang? Gak ngerti gue."
Seongwoo menghela napas.
"Tadi ada murid yang ngomong ke gue di perpus. Katanya gue musti ngasih tau lu, kalo lu ga mau," Seongwoo menolehkan kepalanya, lalu berbisik, "dikeluarin lagi, lu musti matuhin aturan sekolah. Sekarang gue tanya, lu abis ngapain?"
"Abis bolos sama ngerokok di belakang," mata Seongwoo terbelalak, lalu menghela napas lagi. "Lu ketemu Hwang Minhyun, Bang?"
Alis Seongwoo naik mendengar nama Hwang Minhyun.
"Hwang Minhyun yang digosipin cewek-cewek waktu itu?"
Daniel mengangguk.
"Dari mana dia tahu?"
Daniel mengedikkan bahunya.
"Gue gak tahu, Bang. Tapi gue penasaran sama dia."
Keduanya diam.
—
Seongwoo dan Daniel menatap Jonghyun yang tiba-tiba duduk di depan mereka, disertai suara bisik-bisik dari murid-murid perempuan di sekeliling mereka. ("Jonghyun manis banget hari ini." "Ya ampun, senyumnya! Adem banget kayak ubin mesjid!" "Huh, lagi-lagi bareng sama Minhyun. Jauh-jauh dari Hwang Minhyun plis! Gue gak mau lu kehilangan kepolosan lu, Jonghyun!" "Kira-kira, harapan gue buat jadi pacarnya Jonghyun berapa persen, ya? Mumpung sama-sama jomblo, nih, kita." "Huuuu, mimpi aja lu!")
"Eum, anu," Jonghyun tersenyum malu-malu, "ketua kelas udah ngasih tahu kalo kalian musti gabung ekskul, kan?" keduanya mengangguk. "Kalian udah mutusin? Kalo udah, kalian bisa ambil formulirnya nanti di Ruang OSIS sepulang sekolah, sekalian data buat OSIS, oke?"
Seongwoo dan Daniel hanya bisa mengangguk lagi. Jonghyun tersenyum. Seongwoo dan Daniel terpana. Manis sekali senyumnya. Pantas jika para murid perempuan itu tergila-gila padanya.
"Oke, gue tunggu, ya. Selamat menikmati makan siang kalian. Gue pergi dulu," Jonghyun berlalu sambil melambaikan tangannya. Keduanya membatu.
Tiba-tiba saja, sudah ada segerombolan murid perempuan—dan satu orang murid laki-laki—yang mengelilingi mereka.
"Duh, kalian beruntung banget, sih!"
Daniel memandang si murid tersebut, di nametagnya tertulis nama Jung Chaeyeon. Dari suaranya sepertinya dia ini yang menggosipkan Hwang Minhyun di hari pertama mereka waktu itu.
"Beruntung gimana?" Seongwoo bertanya. "Wajar kali kalo ketua OSIS nanya hal begituan."
"Kim Jonghyun itu eksklusif, tahu! Dia jarang banget ngobrol sama orang lain selain sama gengnya dia. Kalau ngobrol pun, pasti urusan OSIS," kali ini yang bernametag Jeon Somi yang berbicara.
"Lalu apa bedanya sama yang tadi? Tadi ngobrolin urusan ekskul, kok. Urusan OSIS juga, kan?"
Somi melongo, mukanya memerah, "Eh, iya juga, ya. Hehehe."
"Maksudnya eksklusif itu gimana?" Daniel bertanya.
"Setahu gue, nih, ya. Walaupun Kim Jonghyun itu ketua OSIS, dia aslinya pemalu gitu, dia jarang bisa cepet akrab sama yang seumuran atau yang lebih muda. Gaulnya pun cuma sama gengnya dia aja," jawab Chaeyeon.
"Gengnya yang sama dia tadi? Yang tiga orang yang nungguin dia tadi, ya?"
Chaeyeon mengangguk.
"Yang tiga orang nungguin dia tadi itu bisa dikatakan inner circlenya dia, anggota yang paling deket di gengnya dia. Yang tinggi namanya Hwang Minhyun," di sini Chaeyeon mencibir, "yang badannya keker kayak preman namanya Kang Dongho, yang terakhir Choi Minki." Daniel dan Seongwoo mengangguk paham. "Tapi, serius, deh. Gue suka heran sama Jonghyun, kok mau-maunya, sih, gaul sama Hwang Minhyun? Hwang Minhyun itu bakal cuma jadi pengaruh buruk buat Jonghyun yang polos."
"Eh, tapi, kata Hoshi, Jonghyun gak polos."
Lima pasang mata memandang tidak percaya pada Daniel, seolah-olah Daniel itu alien.
"Kak Jonghyun itu polos, tahu! Mukanya aja merah waktu ditanyain soal pacar. Masih jomblo setahu gue. Gimana mau punya pacar, kalo dideketin cewek atau cowok aja udah merah mukanya. Malu. Masa yang begitu disebut gak polos, sih? Ngaco dia!" murid bernama Kang Mina berkata dengan berapi-api.
"Tapi, walau pemalu, Jonghyun memang sosok seorang pemimpin. Pas ospek dulu, gue sekelompok sama dia, dan leadershipnya memang jempolan. Bahkan banyak kakak kelas yang muji," Kim Sohye menimpali.
Teman-temannya mengangguk, mengiyakan.
"Tapi, Kak Jonghyun juga bisa ngomong yang super pedes, nyelekit gitu," timpal Mina. "Gue kemaren pas ospek sekelompok gitu sama Hyunbin," Daniel dan Seongwoo pasang tampang bingung, "Hyunbin itu sepupunya Kak Jonghyun. Jadi, Hyunbin itu kemaren sempet males-malesan gitu pas ospek, ketahuan, kan, sama Kak Jonghyun, langsung disemprot gitu. Mana marahinnya di depan anak-anak sekelas lagi."
Seongwoo ingat hari pertamanya dulu. Ia ingat celetukan pedas Kim Jonghyun.
"Jadi, sebenernya, Jonghyun itu orangnya gimana, sih? Bingung gue," kata Seongwoo penasaran.
"Kim Jonghyun itu orang yang paling polos satu sekolahan!" jawab Chaeyeon. "Nanti gue yang bakal molosin dia, hehehe." Perkataannya mendapat cibiran dari teman-temannya. Mau tak mau, Daniel dan Seongwoo ikut tersenyum.
"Sialan. Itu cewek ngapain, sih, deket-deket sama Kak Dongho," meja mereka dikagetkan oleh suara gebrakan yang dilakukan oleh satu-satunya murid laki-laki di gerombolan siswa yang mendekati Daniel dan Seongwoo tadi. Namanya Lee Daehwi, merujuk pada nametag di dadanya.
"Ada apa?" tanya Daniel.
Daehwi hanya menunjuk dengan menggunakan dagunya ke arah meja di mana Jonghyun dan teman-temannya duduk. Di sana, ada dua orang siswi yang tidak Daniel dan Seongwoo kenal. Salah seorang siswi tersebut kebetulan duduk di sebelah Kang Dongho. Daniel dan Seongwoo saling melemparkan pandang. Bingung.
"Lu yang sabar, ya, Hwi," Somi menepuk-nepuk punggung Daehwi.
"Sumpah, ya, gue benci banget sama dia. Apa, sih, kelebihannya dia dibanding sama gue. Jelas-jelas lebih manis gue ke mana-mana. Mana Kak Donghonya juga seneng banget ditempelin sama dia."
Seongwoo dan Daniel tambah bingung. Daehwi ini pacarnya Dongho?
"Dia pacar lu?" Daehwi memberi tatapan tanya pada Seongwoo. "Itu, Kang Dongho. Pacar lu, ya?"
Daehwi menggeleng. "Bukan. Tapi bentar lagi jadi pacar gue."
Seongwoo dan Daniel saling pandang. Lalu menghela napas bersamaan. Sepertinya mereka terobsesi sekali dengan Kim Jonghyun dan teman-temannya.
"Jadi, lu naksir sama Jonghyun," Daniel menunjuk Chaeyeon, lalu menunjuk Daehwi, "dan lu naksir sama Dongho. Gak ada yang naksir sama Hwang Minhyun atau Choi Minki, gitu?"
"Cuma orang yang gak waras yang suka sama Hwang Minhyun," sungut Chaeyeon. "Dan, sayanganya, kebanyakan murid cewek sekolah ini, tuh, sempet naksir sama Hwang Minhyun. Jujur aja, gue gak tahu apa yang cewek-cewek itu lihat dari Hwang Minhyun. Gue akui kalo dia emang ganteng, tapi kelakuannya? Minus. Yang modelan begitu, kok, bisa-bisanya jadi Ketua Komite Displin."
"Terus, Choi Minki?"
"Choi Minki udah punya pacar," sahut Mina. "Anak kuliahan, gitu, setahu gue. Udah setaonan gitu pacarannya. Lagian, lebih susah mau deketin Minki daripada Kak Jonghyun. Cewek-cewek yang mau deketin Minki udah minder duluan."
"Murid cowok gak ada yang deketin Minki?"
"Ada, sih. Tapi, ya, ditolak semua sama Minki. Yang paling rame, tuh, kemaren pas si Woojin," Somi menunjuk seseorang yang sedang makan di meja yang tak jauh dari meja Jonghyun, "nembak Minki pas abis ospek. Ditolak langsung sama Minki. Gak tanggung-tanggung lagi, langsung ditolak saat itu juga. Mana Woojin udah kepedean nembak di depan senior-senior ospek. Pasti malu banget, tuh."
"Eh, tapi pas Jaehwan nembak Minki juga rame, tahu, Som," Mina menyahuti.
"Siapa lagi itu Jaehwan?" Seongwoo bingung.
"Anak klub vokal. Bagus, sih, suaranya. Tapi, gayanya," Mina bergidik, "sumpah, gak banget. Gayanya kayak dia udah yang paling bagus aja."
"Dia ditolak juga?"
Mina mengangguk. "He-em. Nembaknya pake serenade gitu, sama Minki langsung dikasih jari tengah. Gak pake basa-basi. Minkinya aja langsung melengos pergi."
"Sadis bener."
"Itu yang bikin gue gak abis pikir. Kok bisa-bisanya Jonghyun temenan sama orang-orang yang modelan kayak begitu. Hampir semua orang di gengnya Jonghyun, tuh, orang-orang yang kayak begitu itu. Yang paling parah, sih, tetep Hwang Minhyun. Hwang Minhyun itu udah kayak raja iblis, tahu," kata Chaeyeon.
"Terus, dua cewek itu tadi siapa?"
"Yang tinggi itu namanya Hwang Sujin, kakaknya Hwang Minhyun. Yang satunya, yang duduk deket Dongho itu Kim Soyeon, kakaknya Jonghyun. Gosip-gosipnya, sih, Soyeon ini sama Dongho pacaran. Gak tahu juga bener apa enggak. Tapi, ya, mereka sering kepergok mesra, sih," Chaeyeon menoleh pada Daehwi, "Sorry, ya, Hwi. Keceplosan gue."
Seongwoo dan Daniel hanya bisa mengangguk-angguk. Keduanya semakin tertarik pada Kim Jonghun, sang Ketua OSIS.
—
Daniel melongo tidak percaya. Benarkah yang ia lihat? Benarkah yang sedang menari di dalam studio klub tari itu Kim Jonghyun, sang Ketua OSIS yang dielu-elukan Jung Chaeyeon dan teman-temannya sebagai orang yang paling polos satu sekolah? Daniel mengucek matanya. Benar. Masih ada Kim Jonghyun yang menari di dalam sana. Meliuk-liukkan tubuhnya seirama dengan musik yang mengiri. Meliuk-liuk dengan luwes dan—bolehkah Daniel sebut—seksi.
"Kenapa lu, Dan?"
Daniel menoleh. Di belakangnya berdiri Hoshi dan Jun. Hoshi mengarahkan pandangannya ke arah di mana mata Daniel berlabuh sebelumnya, kemudian bersiul. Yang menyebabkan Jonghyun berhenti menari.
"Yo, Ketua OSIS! Tumben amat lu nongkrong di sini," sapa Hoshi.
Jonghyun tersenyum. "Gue masih member klub tari, Chi."
Daniel kaget. Kim Jonghyun member klub tari?
"Emperor kesayangan lu gak ngambek gak lu tungguin latihan, Hyun?" Jun bertanya. Emperor kesayangan? Siapa?
"Lagi ngambek gue sama dia," Jonghyun cemberut. Alis Jun naik. "Masa tadi pagi gue dikerjain sama dia. Gue dikasih lunchbox isinya tomat semua, coba. Ya, ngamuklah gue." Jun dan Hoshi tertawa.
"Lu gak suka tomat, ya?" Daniel memberanikan diri bertanya. Yang kemudian dihadiahi muka paling imut yang pernah Daniel lihat.
"Gue BENCI tomat!" kata Jonghyun sambil menjulurkan lidahnya. Tawa Jun dan Hoshi makin kencang.
Daniel beringsut menyingkir. Memilih untuk melakukan peregangan sambil melihat interaksi Jonghyun, Hoshi, dan Jun dari sudut matanya. Tidak terlihat Jonghyun yang pemalu. Jonghyun terlihat nyaman ngobrol dengan keduanya.
Tak lama setelahnya, para anggota klub tari mulai berdatangan dan latihan di mulai.
Daniel tidak bisa fokus latihan. Mengetahui Kim Jonghyun berada satu klub dengannya menjadikannya dua kali lebih kikuk. Padahal, Kim Jonghyun tidak banyak menari dan lebih banyak mengawasi dan memberi bantuan pada anggota lain yang kesusahan. Pesona apa yang Kim Jonghyun miliki hingga membuatnya menjadi seperti ini?
Suara tepukan membuyarkan lamunannya. Rupanya Hoshi yang menepukkan tangannya.
Hoshi berdehem. "Kalian semua udah pada tahu, kan, kalo dua minggu lagi ada kompetisi dance," semuanya mengangguk. "Gue sama Jun, sebagai ketua dan wakil ketua klub, udah mutusin siapa-siapa aja yang bakal gabung nambahin squad kita. Dan gue harap, buat siapa pun yang kepilih, kalian harus siap sama jadwal latihan yang bisa mulur entah sampe berapa lama. Dan buat yang gak kepilih, itu bukan berarti kalian gak bagus, oke? Kalian cuma musti latihan lebih keras lagi! Mengerti?"
Anggukan kepala kembali terlihat. Hoshi terlihat puas.
"Hyun, lu mau ikut?" Hoshi menoleh pada Jonghyun. Tidakkah anggota lain memprotes keputusan Hoshi yang menawari Jonghyun posisi di squad dance?
"Gak, Chi," Jonghyun menggeleng dan tersenyum, "Tugas OSIS numpuk, Chi. Yang ada malah dua-duanya keteteran. Gue jadi pendukung aja."
Lagi-lagi Daniel hanya bisa melongo. Senyum Jonghyun manis sekali. Dan semuanya mengabur begitu saja di mata Daniel.
Daniel sedang mengemasi barangnya saat Jonghyun menghampirinya.
"Selamat, ya, Dan, udah bisa masuk ke squad dance walaupun lu baru aja gabung," Jonghyun melemparkan senyum. "Jadi anak baek gak ada salahnya, kan? Gak usah pasang tampang gak percaya gitu, deh. Gue tahu kalo lu aslinya anak baek, kok. Gue gak ngelarang lu iseng, kok, tapi jadi anak baek lebih memuaskan, kan?"
Sialan. Bisa mati lama-lama gue kalo disenyumin mulu kayak gini.
Daniel hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengeluarkan satu kata pun.
"Jju-ya," suara seseorang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu ruang klub. Jonghyun dan Daniel sama-sama menoleh. Ada Hwang Minhyun di sana. "Udah selesai, kan? Ayo pulang."
Jonghyun mengangguk, berjalan menuju tempat di mana ia menyimpan barang-barangnya. "Chi, Jun, gue duluan, ya," Jonghyun melambaikan tangannya pada Hoshi dan Jun, lalu melangkah menuju Daniel.
Daniel mengerjap. Benarkah penglihatannya barusan? Jonghyun mengerling manja? Padanya? Napas Daniel tertahan saat tangan Jonghyun membuat kontak dengan dadanya dan mengelusnya perlahan. "Pulang dulu, ya, Dan. Hati-hati di jalan, ya, pulangnya nanti." Dan sebuah kedipan dilayangkan Jonghyun pada Daniel, sebelum Jonghyun keluar dari ruang klub mengikuti Hwang Minhyun.
Benarkah ini Kim Jonghyun yang sama yang Jung Chaeyeon sebut sebagai orang yang paling polos satu sekolah? Bukan, pertanyaan yang seharusnya adalah benarkah Kim Jonghyun itu orang yang polos.
.
Pertanyaan serius. Ini perasaanku aja atau emang Kim JR makin hari makin genit?
Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan membaca~
Sampai jumpa di part selanjutnya~~~
