Title : Teasing Jung
[REMAKE] Teasing Trent by Minx Malone
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong and Park Yoochun
Rated : M
Disclaimer : Ini remake dari novel Teasing Trent by Minx Malone, jadi ini bukan cerita aku. Karena aku suka sama Yunjae jadi aku buat versi Yunjae-nya
Warning : GS, typo(s).
Chapter 1
.
Author POV
"Jaga tanganmu dan kau akan baik-baik saja."
Jung Yunho menaiki tangga menuju lantai dua sebuah townhouse tua dan menghentakkan lapisan salju dari sepatu botnya. Musim dingin di Seoul biasanya ringan, tapi alam tahun ini tampaknya mengalami PMS. Hujan salju turun selama tiga hari terakhir dan sepertinya akan terus berlanjut. Dia tidak biasanya begitu senang bisa keluar dari rumahnya meskipun dia tahu malam ini akan nyaris mendekati penyiksaan erotis.
"Apa pun lebih baik asalkan tidak terjebak di rumah menonton reality TV." Dia menepuk sakunya, merasakan gemerisik paket dibungkusan kecil. Ini kesempatan pertama untuk memberikan hadiah ulang tahun ke-25 bagi Jaejoong karena ia terlalu sibuk akhir pekan lalu.
Terlalu sibuk adalah alasan agar ia bisa menjauh darinya.
Melihat Jaejoong selalu membuatnya cukup keras hingga ia bisa membuat lubang melalui celananya, dan ia berjanji pada sahabat baiknya yaitu Yoochun bahwa ia akan mengurus adiknya, bukannya tergiur akan tubuhnya.
Mereka menjadi terlalu dekat selama setahun terakhir. Sesuatu yang harus dihentikan ketika tugas Yoochun berakhir bulan depan.
"Yang kau lakukan hanyalah melewati makan malam. Jaga tanganmu dan segalanya akan baik-baik saja."
Pintu di depan Yunho terbuka lebar. Kim Jaejoong berdiri di sisi lain mengamati dirinya dengan dengan hati-hati. Hangat, mata berwarna amber dengan bulu mata panjang, menyipit saat ia bersandar di kusen pintu. Rambut tebal hitamnya bergulir dari wajahnya dan jatuh dan bergelombang di sisinya. Dia tampak seperti seorang warrior princess siap untuk melakukan pertempuran. Yunho mengerang saat tubuhnya segera merespon dengan salut.
"Apa kau masih memakai piyamamu?" Dia mengutuk pelan saat ia melihat Jaejoong dengan tank top ketat dan celana pendek katun terkecil yang pernah dilihatnya.
"Ini adalah pakaian olahragaku, aku sedang melakukan yoga." Dia meletakkan satu tangan di pinggulnya. Atasannya meregang di dadanya dengan cara yang tepat, menekankan sosok mungilnya. "Aku melihamu saat aku melewati jendela. Aku tak mengira kau akan datang secepat ini."
Dia meringis pada pilihan kata-katanya. Ia hampir saja datang di mana ia berdiri. Celana pendek yang praktis tak senonoh. Ada ber mil-mil kulit halus lembut yang terpampang. Kuku Yunho menekan ke dalam telapak tangannya.
Dia bahkan beraroma nikmat.
Dia adik Yoochun. Jaga tanganmu.
Yunho menarik napas dalam-dalam. Dia membutuhkan lebih dari sekedar mantra yang lemah untuk mengingatkannya siapa yang akan menendang pantatnya jika dia mengacaukan ini. Apa yang dia butuhkan adalah seember es di dalam celananya dan penutup mata.
"Kenapa kau hanya berdiri di situ bicara pada diri sendiri, sih?" Jaejoong menggelengkan kepala dan meraih lengannya. Dia menariknya ke dalam dan menutup pintu di belakangnya.
"Hanya berpikir keras. Aku melakukannya kadang-kadang" Anehnya Yunho merasa defensif. Mengalami ereksi hebat bisa berefek seperti itu pada seorang pria.
"Apa, berpikir?" Jaejoong tertawa saat Yunho melotot padanya.
"Ha ha, sok tahu. Aku akan ingat itu jika lain kali kau memerlukan bantuanku dengan sesuatu."
Yunho berbalik untuk melihatnya mengunci gerendel, matanya mengamati pada kakinya yang panjang dan telanjang. Dia memakai cat ungu cerah dan memakai sebuah cincin perak kecil di kedua jari terakhir dari kaki kanannya. Gelombang panas nyaris memaksanya untuk berlutut. Gadis ini bahkan memiliki kaki yang seksi. Untungnya dia tak punya kebiasaan untuk bertelanjang kaki.
Dia berbalik dan menyibukkan diri dengan melepas jaketnya. Dia harus fokus pada sesuatu yang lain atau dia tak akan pernah melewati malam ini.
Sialan Yoochun untuk menempatkan dia dalam posisi ini. Itu seperti dia bergabung dengan militer dan bermain sebagai pahlawan di luar negeri. Teman kuliahnya itu adalah tipe pria yang Yunho merasa bangga karena mengenalnya. Yoochun telah datang menolongnya berkali-kali hingga ia tak bisa menghitung, dan satu-satunya yang pernah ia minta adalah agar Yunho mengawasi adiknya selama penugasannya. Dia berharap dia tahu sejak awal betapa sulitnya akan menepati janjinya itu.
Dan betapa sulitnya akan menjaga tanganku sendiri.
"Jadi, seberapa cepat kau bisa bersiap-siap untuk pergi?" Yunho melipat mantelnya di atas lengan sofa. Dia menatap sekeliling tempat itu dengan pandangan ingin tahu. Dia sering mengganti barang-barang, membawa perabotan rumah yang ditemukan di sebuah toko barang bekas atau menambahkan pernak pernik aneh yang ia beli di toko online.
Tempatnya mencerminkan jiwa eklektiknya. Furniture bermotif liar berwarna terang beradu dengan dinding berwarna hijau mint di belakang sofa. Dia membantunya mengecat warna gila itu hanya beberapa bulan yang lalu. Dia bilang dia akan menjadi "energik." Yunho malah berpikir itu tampak seperti bagian dalam rumah bermain.
"Yah, aku berpikir mungkin kita bisa tetap tinggal di dalam" Jaejoong menjatuhkan dirinya di sofa dan meringkuk dengan kaki terselip di bawah dirinya. Dalam posisi itu, atasannya membentang ketat pada bagian payudaranya. Ia bisa melihat tonjolan kecil di mana putingnya menempel pada kain.
Sial.
"Aku tahu kau punya rencana besar bersenang-senang malam ini di kota tapi ... Aku tak tahu. Aku hanya merasa enggan pergi keluar. Apa kau keberatan?"
Yunho berkedip beberapa kali dan kemudian memaksa menjauhkan pandangannya. Dia memandang berkeliling dengan putus asa. Ada video yoga yang diputar di TV dan lampu di meja samping sebelah sofa memancarkan cahaya kuning lembut ke seluruh ruangan. Bau hangat terpancar dari dapur, membuat mulutnya berliur.
"Kau memasak?"
Dia duduk tegak dan melemparkan salah satu bantal berbulu hijau di sofa kearahnya. "Ya, aku memasak. kau tak perlu terdengar begitu terkejut. aku membuat lasagna dan menyewa beberapa dvd. Kupikir kita bisa melakukan makan malam dan nonton film di sini."
Jaejoong memandanginya penuh harap, jadi Yunho mengangguk. Senyum mengembang di wajah dan hatinya sedikit mempertimbangkan itu. Dia melengos dan menyelipkan tangannya di saku celana. Jika sesuatu yang sederhana seperti tetap tinggal di dalam rumah membuat ekspresi wajahnya seperti itu, ia akan dengan senang hati melakukannya.
Yunho duduk di tepi kursi mungil. Di suatu tempat di dapur ada suara ding lembut dan Jaejoong melompat berdiri.
"Saatnya bagiku untuk memasukkan lasagna ke dalam oven. Tak butuh waktu lama untuk memanggang. Apa kau ingin bir sementara kita menunggu?"
Tatapannya mengikuti goyangan pinggul jaejoong saat ia bergegas ke dapur.
"Yunho? Halo, sadar Yunho" Jaejoong berdiri di ambang pintu dapur, melambaikan tangannya bolak-balik seperti pengawas lalu lintas udara.
Yunho mendongak, rasa panas membanjiri pipinya saat ia bertemu dengan tatapannya. "Hah?"
"Bir. kau ingin satu?" Dia mengucapkan kata-kata itu pelan-pelan. Bagus, sekarang dia pikir dirinya adalah seorang idiot.
Dia menelan ludah dan mengangguk bersemangat. "Tentu. Bir. Benar."
Jaejoong menyipitkan mata ke arahnya sebelum kembali ke dapur. Segera setelah ia diluar pandangan, senyum tegang Yunho langsung jatuh.
Ini adalah tahun pertama Yoochun dalam tugasnya dan dia khawatir Jaejoong akan terlalu sering sendirian, terutama pada hari ulang tahunnya. Orang tua mereka tidak tertarik lagi melakukan perjalanan dari Chungnam begitu cepat saat liburan dan Jaejoong tidak bisa mendapatkan waktu liburan untuk mengunjungi mereka. Yunho tidak lagi punya pacar sehingga bebas untuk meluangkan sedikit waktu bersama Jaejoong. Dia telah mengatur makan malam ulang tahun yang benar-benar aman di sebuah restoran umum. Mereka akan makan, menari sedikit dan pulang ke rumah, cerita selesai.
Rencana tersebut tidak termasuk makan malam yang nyaman untuk dua orang, dilanjut menonton film di sofa dengan hanya remote control sebagai pendamping.
Dan itu pasti tidak termasuk menjilatinya dari ujung kepala sampai jari kaki kecilnya yang dicat ungu.
Sial.
.
tbc
.
Lanjut?
