I'm Mama and You're Papa
Title :
I'm Mama and You're Papa
Genre :
Hurt, romance
Rate :
G
Main Cast :
- Jung Yunho
- Kim Jaejoong
Supporting Cast :
- Kim Dong Wan (SHINHWA)
- Kim Yeon Ji (SeeYa)
- Kim Hyun Joong (SS501)
- Jung Ji Hoon ( Rain)
- Jung Yoon Hye (Rainbow)
- Jung Soo Yeong (Jessica SNSD)
- Boa
- Choi Seung Hyun (TOP BigBang)
- Ok Taecyeon (2PM)
- Yang SeungHo (MBLAQ)
- Hyo Ahjumma
Warning :
GenderSwitch! Ceritanya ini diadaptasi dari manga "Nan Eomma Nun Appa" karangan Hwang Mi-Ri. Saya disini hanya menjadikannya sebuah FF, ada beberapa bagian yang saya kurangi maupun tambahkan. Sesuai dengan keperluan cerita. Saat saya membaca ini, saya malah ngebayangin jika itu Yunho dan Jaejoong, jadilah saya membuat FF ini. hehe.
Yang mau baca silahkan, yang nggak juga silahkan. Yang protes, ya silahkan. :3
But, I hope you like it ~
.
.
Chapter 1.
.
Jaejoong.
Hari ini, aku dan kedua orang tuaku berkunjung ke rumah Ayah dari anakku. Rumahnya begitu besar, bagai istana. Saat aku bertemu dengan keluarganya mereka terlihat kaget dengan kehadiranku yang membawa anak bayi. Terlebih saat aku mengakui jika bayi yang aku bawa adalah anak dari anak lelakinya itu.
Saat itu aku berumur 18 tahun.
.
.
.
Setahun yang lalu, seorang pria yang diutus dari Bank datang ke rumah kami. Ia menagih tunggakan uang yang seharusnya segera dibayar. Ayah yang mendengar suara bel pintu dibunyikan segera membuka pintu.
"Anda siapa?"
"Permisi. Saya dari KA credit card company. Apakah Anda Kim Hyun Joong-ssi?"
"Aku adalah Kim Hyun Joong, ada apa?" tanya kakakku yang pada saat itu ada di sana.
"Karena Anda tidak membayar pajak. Jadi, saya ke sini." ujar lelaki itu seraya menyerahkan kertas yang di pegangnya itu.
"Uang apa? Aku tidak pernah memiliki credit card." Kakak menatap lelaki itu tajam.
"Apa Anda yakin, orang yang Anda maksud adalah dia?" tanya Ayah yang mulai curiga.
"Silahkan Anda cek, jika Anda tidak percaya. Dalam 6 bulan Anda telah meminjam sekitar 125 juta won."
Ayah dan kakak segera melihatnya, mereka terlihat terkejut dengan tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa? 125 juta won?!"
"Ya." sahut lelaki itu. "Saya ingin menyampaikan hal itu, silahkan Anda bayar ke kantor kami. Persimi, saya pulang dulu." Ia beranjak dari rumah kami.
Ayah dan Kakak segera ke dalam rumah. Mereka terlihat murka, terlebih dengan kakak. Ia tidak percaya mengapa ia bisa berhutang sebanyak itu, padahal ia sama sekali tidak pernah membuat credit card.
"Sayang! Apakah kamu yang menggunakan uang itu?" tanya Ayah seraya berteriak pada Ibu yang sedang mencuci piring.
"Sial! Apa Eomma sudah gila?" kini kakak yang terlihat marah pada Ibu. "Apa maksud Eomma menggunakan namaku untuk membuat kartu itu?"
Ibu terlihat menunduk, takut. Kini ia menatap mata kakak. "Itu… Kau jangan takut, Eomma akan membayarnya saat Eomma sudah mendapatkan gaji. Dan Eomma akan membersihkan kartu itu." ucap Ibu memohon pada kakak.
"Mengapa kau membuat kartu itu? Beritahu padaku!" teriak Ayah kesal.
"Aku membuat kartu itu untuk membeli baju." Ibu terlihat takut ketika menjawab pertanyaan Ayah.
"Lantas, apa yang kau gunakan dengan uangmu sendiri? Kau tidak dapat membayar dengan mudah. Pikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Huh?"
"Aku tidak peduli! Aku tidak memiliki uang! Aku akan menggunakan itu ketika aku mendapat pekerjaan. Jadi, berikan aku semua uang yang aku tabung pada Eomma."
"Uangmu?"
"Yeah! Uang yang aku dapatkan selama setahun sejak aku berusia 20 tahun. Eomma berjanji akan menjaga uangku dan akan memberikannya padaku."
"Apa kau menyimpannya?" tanya Ayah.
"Tidak." Ibu terlihat pasrah.
"Apa maksudmu dengan berkata tidak?" teriak Ayah kembali.
"Aku telah menggunakan semua uang itu." Ibu menundukkan kepalanya.
"Apa?!" teriak Ayah dan kakak bersamaan.
"Apa yang kau pikirkan saat melakukan hal itu?"
"Mengapa Eomma menggunakan semua uangku?"
"Aku minta maaf."
Aku pikir akhir-akhir ini semuanya akan berjalan dengan lancar, tetapi ternyata aku salah. Hari-hari yang mengacaukan akan segera datang.
Selama 9 tahun, keluarga kami selalu hidup seperti ini. Meminjam uang sebanyak 300 juta won selama beberapa bulan untuk membayar uang sewa dan memperbaiki apapun itu.
Ayahku, Kim Dong Wan, bekerja di salah satu perusahan kontraktor di kota ini. Dan Ibuku, Kim Yeon Ji, bekerja di perusahan pakaian.
Selama ini kami selalu berusaha mengatur uang itu dengan baik. Namun sayang, diantara kami tidak ada yang memiliki keahlian dalam mengatur uang. Dengan uang gaji yang di dapat, maka kami akan membayarnya untuk pajak yang telah kami pinjam.
Meskipun kami tidak memiliki uang, kami selalu memesan makanan di restauran dan terkadang membeli baju dan sepatu dengan harga yang mahal. Keluargaku sangat menyedihkan, bukan?
"Berisik!" lirihku, ketika mendengar suara mereka yang masih menyalahkan Ibu.
Aku begitu lelah dan capek dengan kehidupanku ini.
…
Hari ini aku berkunjung ke rumah temanku, Boa. Setidaknya aku bisa menenangkan diri daripada aku terus-terusan berada di rumah dengan suasana yang begitu menyebalkan.
"Ada apa denganmu? Jangan hanya duduk dan mengeluh saja! Jika kau ingin bercerita, cerita saja!" ucapnya seraya mencoba baju yang baru dibelinya itu.
"Aku hanya memikirkan tentang jumlah pelajaran apa saja yang akan kita ikuti selama menjadi siswa SMA," aku berbohong. Aku tidak mungkin menceritakan tentang kondisi keluargaku padanya.
"Jaejoong-ah, kau selalu belajar dengan keras dan selalu ingin menjadi nomer satu. Tapi nilai rata-ratamu selalu standar. Apakah kau berpura-pura belajar atau kau hanya bodoh?" tanyanya sarkatis padaku, ia melihat penampilannya pada cermin yang ada di lemari.
"Tapi.. apa kau membeli dress itu karena kau ingin pergi keluar?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan karena aku tak ingin membahas tentang hal yang baru saja dikatakannya.
Ia tersenyum semringah saat aku menanyakan hal itu. "Aku akan menggunakan dress ini untuk ke klub. Bagaimana? Bukankah ini seksi?" ia berputar di depanku.
Aku mengangguk, menyetujuinya. Tapi, aku tetap saja bingung, mengapa ia ingin ke klub. "Klub?"
"Yeah! Klub! Kita telah menjadi siswi SMA sekarang. Tidakkah kau ingin merayakannya?"
"Semestinya kita ke klub saat kita sudah kuliah, bukan ketika kita akan menjadi murid SMA," aku mendengus ketika mendengar alasannya itu.
"Aku tahu kau akan mengatakan hal itu. Dan, kau takkan pergi. Iya, kan?"
Aku hanya diam mendengar perkatannya yang terakhir ini. Tiba-tiba pikiranku kembali berputar mengingat keluargaku, entah mengapa rasanya aku ingin melupakan peristiwa pagi tadi. Sejenak saja, aku membutuhkan sebuah hiburan.
"Aku tidak memiliki baju yang bagus," lirihku.
"Apa?" rupanya Boa mendengar suaraku. Ia menoleh padaku dan berjalan kearahku. "Kau tenang saja, aku akan meminjamkan bajuku padamu."
Ia kemudian menyerahkan pakaiannya padaku. Pakaian yang cukup simpel. Hanya baju –yang sedikit tipis- tanpa lengan, rok mini yang senada dengan baju dan jaket yang berwarna putih.
Kami segera menuju klub. Entah mengapa, hari ini aku tidak ingin kembali ke rumah.
Jujur saja, ini pertama kalinya aku menuju klub. Begitu ramai dengan para lelaki dan wanita. Ada yang minum alkohol, ngerokok, bahkan berciuman di depan umum. Ugh! Memuakkan.
"Bagaimana kau tahu, mereka tidak memeriksa ID card mu?" tanyaku penasaran. Bukankah anak sekolah seperti kami, tidak diizinkan untuk memasuki klub seperti ini. Tetapi kini kami sudah berada di dalamnya.
"Aku akan memberitahukannya padamu. Sebenarnya aku bertanya pada senior tentang hal-hal seperti ini, jadi aku sedikit mengetahuinya. Sudahlah! Jangan dipikirkan, yang harus kita tahu sekarang adalah melepas jaket ini dan mari kita berpesta sampai muak." ucapnya bersemangat.
"Baiklah."
Kamipun berjalan ke lantai dansa, dan menari tanpa peduli dengan sekitar. Karena merekapun melakukan hal yang sama dengan kami. Dentuman musik yang keras seolah membuat kami semakin bersemangat untuk menari.
Setelah lelah kami segera duduk kembali di tempat semula. Aku melihat sekitar, begitu banyak wanita cantik di klub ini. Aku merasa sedikit iri pada mereka.
Aku mengambil sebotol minuman beralkohol itu. Sedikit ragu untuk meminumnya, terlebih bau dari minuman ini begitu aneh. Tapi, aku tetap saja mencoba meminumnya. Yeah! Walau rasanya tidak seenak jus strawberi kesukaanku.
Boa mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, ia mulai menyalakan api. Dan menghirup rokok tersebut.
"Kau merokok?"
Ia memandangku seraya tersenyum. "Yeah. Kadang-kadang."
Meskipun Boa sering mengumpat, minum alkohol ataupun merokok, tetapi ia tetap terlihat keren. Aku hanya tidak mengerti mengapa ia sangat menyukai pesta padahal kami baru saja akan menjadi siswi SMA.
Mengapa aku harus memikirkan hal ini? Bukankah aku ingin melupakan masalah keluargaku? Jadi, saat ini aku hanya perlu melupakannya. Aku meminum bir yang tadi sudah aku minum itu.
"Aku ingin pipis. Tunggulah disini, aku akan kembali." Ia mematikan rokok yang tinggal sedikit itu dan berjalan ke kamar mandi.
Tak berapa lama ia kembali. "Jaejoong-ah." Teriaknya padaku.
Ia kembali dengan seorang pria, yang akupun tak tahu siapa. Ia mengajakku untuk mengikuti lelaki itu. Dan, akupun mengikutinya. Lelaki itu mengajak kami ke sebuah ruangan.
"Silahkan masuk, gadis-gadis cantik."
"Mari masuk." Boa terlihat girang, sebelum ia masuk aku segera menahan tangannya.
"Ya! Yang benar saja. Bahkan kita tidak mengenalnya, kan?" lirihku sedikit ragu.
"Tenang saja. Kita kemari, bukan hanya untuk menari. Oke?" ia mencoba menenangkanku.
Aku sedikit memikirkan perkataannya itu. Tapi, tak urung aku mengikutinya juga untuk memasuki ruangan itu. Disana ada lelaki itu dan ketiga temannya.
"Selamat datang, silahkan duduk," ucap salah satu dari mereka seraya berdiri dan memberikan tempat duduk padaku.
Pandanganku beralih pada lelaki yang ada di sampingku ini. Ia sedang memakan cemilan, ia pun menatapku dengan sedikit angkuh. Mata musangnya yang memandangku terlihat mengintimidasiku. Rasanya aku ingin meninggalkan tempat ini.
"Ok Taecyeon!" Panggil seseorang, seraya mengeluarkan sebatang rokok. "Jadi, mengapa gadis-gadis seperti ini kesini?" tanyanya.
"Sial! Apa yang kau katakan?" teriak Boa pada lelaki itu, tetapi wajahnya terlihat bersemu.
"Biarkan saja. Ia selalu seperti itu ketika para gadis datang kemari. Jangan pikirkan itu." Taecyeon mencoba menenangkan Boa yang tadi terlihat marah.
Sungguh, rasanya aku begitu takut berada disini.
"Minumlah." Ucap seseorang yang tadi menyilahkanku untuk duduk, ia menyerahkan sebuah gelas padaku.
"Te..terimakasih." ucapku ragu.
"Berapa umur kalian?" tanya lelaki itu kembali.
"Tu…" belum selesai aku berbicara, Boa sudah memotong perkataanku.
"Ya! Apa kami terlihat muda? Kami sudah berumur 23 tahun."
"Tidak ada yang salah dengan mereka, dengan menggunakan pakaian seperti ini. Mereka memang terlihat berumur 23 tahun." ujar lelaki yang ada di sampingku ini, masih dengan memakan cemilannya itu.
"Jika kalian berusia 23 tahun, maka kalian lebih tua dari kami." Taecyeon jadi merasa tak enak pada kami, terlihat dari raut wajahnya.
"Memangnya usia kalian berapa?" tanya Boa padanya.
"18 tahun."
Boa tersedak saat mendengar perkataan lelaki yang tadi merokok itu. Kami tidak percaya jika mereka berusia 18 tahun karena penampilan mereka terlihat lebih dewasa dari usia mereka itu.
"18 tahun? Jadi, kalian masih SMA?" tanya Boa masih tidak percaya.
"Yah! Mengapa kau memberitahu kebenarannya?" Taecyeon terlihat marah pada lelaki itu. Ia mengalihkan pandangannya pada kami. "Baiklah, rahasiakan ini pada kasir. Oke?" ia tersenyum manis pada Boa.
"Baiklah. Sebenarnya kami juga masih SMA. Jadi senang bisa berkenalan dengan kalian." Sial! Boa keceplosan, bukankah tadi ia telah berbohong pada mereka. Jika kami berusia 23 tahun.
Terlihat jelas dari wajah mereka berempat, jika mereka kaget dengan pengakuan Boa barusan.
"Siswi SMA?"
"Ah itu… sebenarnya kami baru akan menjadi siswi SMA tahun ini."
"Hah? Jadi kalian masih 17 tahun?" tanya lelaki yang merokok itu tidak percaya.
"Apa kalian sedang bercanda? Ini benar-benar lucu." Taecyeon mencoba tertawa. "Memangnya kalian sekolah dimana?"
"Mi Won Sang High School. Kalau kalian?" tanya Boa dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Kami bersekolah di Dong Bang High School. Namaku Ok Taecyeon."
"Kalau aku Yang SeungHo." Lelaki yang merokok tadi memperkenalkan diri.
Sekarang giliran lelaki yang tadi memberikan minuman padaku, yang memperkenalkan diri. "Kalau aku Choi Seung Hyun. Dan lelaki itu adalah Jung Yunho." Ia juga memperkenalkan lelaki yang duduk disampingku itu, lelaki berwajah kecil dengan mata musangnya itu.
Aku memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Jung Yunho?
"Jadi nama kalian siapa?" tanya SeungHo
"Aku Kwon Boa dan temanku ini bernama Kim Jaejoong."
Kami tersenyum pada mereka berempat, terlihat yang paling gembira disini adalah Boa.
Tiba-tiba ia beranjak dari duduknya. "Permisi sebentar, kami ke kamar mandi dulu." ujarnya dan segera menyeretku keluar untuk mengikutinya.
"Menurutmu bagaimana? Bukankah mereka menarik?" tanya Boa saat kami sudah di kamar mandi. Ia memberikan bedak pada wajahnya agar ia terlihat cantik. "Terutama lelaki yang sedang makan cemilan itu. Jung Yunho. Dia sangat mengagumkan! Dia memang tidak banyak berbicara, tapi dia sangat keren."
Aku tidak memedulikan apa yang Boa katakan, karena kepalaku terlalu pusing untuk menangkap apa yang ia bicarakan. Air terus keluar dari mulutku, ini membuatku mual.
"Aku bertaruh padamu, pasti banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihnya." Boa masih saja bercerita tentang lelaki itu.
"Kepalaku sangat pusing. Sepertinya aku terlalu banyak minum." lirihku seraya keluar dari kamar mandi.
"Kau hanya minum segelas bir, dan kau merasa pusing?" Boa terlihat tidak percaya.
"Kapan kita akan pulang? Kepalaku terasa sakit dan aku ingin tidur." Aku benar-benar merasa pusing.
"Kita berkumpul sebentar dengan mereka. Oke? Setelah itu kita akan pulang." Boa terlihat enggan untuk meninggalkan tempat ini, ia masih ingin berkumpul dengan para lelaki itu. Aku hanya mendesah, mengiyakan.
"Maaf, kami tidak bisa lama-lama disini." Ucap Boa setelah kami masuk. Sepertinya ia merasa tak enak padaku.
"Aku minta maaf pada kalian, tapi maukah kalian diam di…" belum selesai Taecyeon berbicara, tiba-tiba saja Yunho menaruh gelas yang dipegangnya dengan kasar ke meja. Menimbulkan bunyi yang cukup keras, kami segera menoleh pada lelaki bermata musang itu.
Ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat kearahku dan juga Boa. Ia menatapku dengan ekspresinya yang susah di tebak. "Hey kau…" tiba-tiba ia menarik tanganku dengan paksa untuk mengikutinya.
"Hei Yunho mau kemana kau?"
"Kau harus membayar minuman ini terlebih dahulu." Aku masih dapat mendengar teman-temannya berteriak padanya.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada lelaki ini. Ia masih saja menarik tanganku, hingga kami berada di sebuah tempat yang kutahu itu adalah motel. Dan setelah itu, aku tidak mengingat apa-apa lagi. Kepalaku terasa sangat pusing.
…
Keesokkan harinya, ketika aku bangun. Aku sudah berada di motel dengan kamar no 506. Aku menggeliatkan tubuhku, terasa pegal dan tubuh bagian bawahku terasa sakit.
Saat aku menyadari jika tubuhku telanjang dan pakaianku berhamburan di bawah, aku segera menutupi tubuhku dengan selimut dan segera bangkit untuk mencari lelaki itu.
Tetapi, ia tidak ada di sana, yang tertinggal hanya sebuah surat dan beberapa uang untuk membayarku dan sewa kamar ini.
Hatiku berdenyut sakit, apa ia mengira jika aku pelacur? Dan dengan senang hati ia menyetubuhiku? Rasanya aku ingin menghapus semua hal ini dari memoriku. Tapi, waktu tidak berjalan mundur, semua ini susah untuk kulupakan. Bagaimanapun caranya aku melupakan, pasti semua hal ini akan kembali menghampiriku.
Terlebih saat dua minggu kejadian itu berlalu. Aku melihat dua garis pada testpack yang aku beli di apotek. Dua garis itu membuat hari-hariku menjadi suram. Aku hamil.
Ayah pasti akan marah padaku, atau mungkin ia ingin membunuhku jika aku memberitahukan hal ini pada beliau. Aku terus mencoba dengan beberapa testpack yang lain, mungkin saja hasilnya beda. Tetapi, hasilnya tetap sama, selalu muncul garis merah.
Aku tidak bernafsu untuk makan beberapa minggu ini. Aku selalu menangis sendirian di kamar, dan aku tidak kuat menyembunyikan ini semua sendiri. Akhirnya aku mengatakan hal ini pada orang tuaku, walau bagaimanapun mereka harus tahu.
Mereka sangat marah ketika aku memberitahukan hal ini. Kemudian mereka ke sekolah untuk mengambil uang kami kembali, karena aku tidak jadi sekolah. Uang itu akan kami pakai untuk keperluan melahirkanku kelak, aku harus menunda sekolahku untuk setahun ke depan.
Saat itu aku merasa jika masa depanku akan hancur. Aku masih ingin bersekolah, dan aku belum ingin menjadi seorang Ibu untuk saat ini.
…
Suatu hari, saat kami sedang makan siang bersama dan membicarakan hal ini. Wajah Ibu terlihat kaku, ia seperti memikirkan sesuatu.
"Bagaimana mungkin aku membesarkan anakku sendirian?" aku mendesah memikirkan nasib anakku kelak.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja kau membutuhkan ayah untuk anakmu itu, sayang." Wajah Ibu begitu menakutkan ketika mengatakan hal itu.
"Mengapa Eomma tiba-tiba berbicara hal itu?"
Kini Ibu tersenyum padaku. "Jaejoong-ah. Dengarkan Eomma baik-baik, ayah dari anakmu adalah cucu dari perusahan furnitur ternama, Jung Furniture Company."
"Maksud Eomma?"
"Jika kau sudah melahirkan bayimu ini, hidupmu akan tenang dan bahagia." Ibu masih tersenyum padaku.
Aku mencerna perkataan Ibu dengan baik-baik. Sekarang, aku mengerti apa yang dikatakan olehnya.
"Apa maksud Eomma dengan hidupku akan terasa lebih tenang?"
"Ya! Apa kau pikir kita menjalani hidup ini karena kami ingin seperti ini? Beri kami istirahat dan biarkan kami bersantai untuk sesaat." Ayah terlihat sangat marah padaku. "Kau akan pergi ke dokter dengan Eomma, untuk melihat keadaan anakmu." Ia melangkah pergi dan meninggalkanku dengan Ibu.
Beberapa hari kemudian, rasanya aku benar-benar tidak menginginkan bayi ini. Sungguh! Tetapi…
"Bisakah Anda mendengarkan ini? Detak jantung bayi Anda?" Dokter Lee tersenyum padaku.
"Apakah bayinya sehat-sehat saja?" Ibu terlihat cemas.
Dokter Lee mengangguk, "Ya, bayinya sangat sehat."
Ketika aku mendengar detak jantung bayiku dan melihat janin itu di monitor, membuatku terkejut dan jantungku berdetak cepat. Ini benar-benar mengagumkan. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa sangat mencintai bayi ini. Aku tidak percaya, saat aku berpikiran untuk membunuh bayiku ini.
'Eomma minta maaf, sayang. Apa kau khawatir? Sekarang tenanglah, Eomma akan menjagamu juga kesehatanmu di rahim Eomma, aegy. Aku akan melindungimu. Percayalah pada, Eomma."
.
.
.
to be continued
.
review please ~
.
.
