Hari ini Jimin sedikit kesiangan. Mungkin tidak karena ini masih jam enam pagi. Tapi rutinitas paginya membuat perjalanan ke sekolah menjadi lebih lama. Segera setelah segalanya siap, ia segera beranjak dari kediamannya. Menikmati udara pagi sambil memasang earphone dan menikmati sebungkus snack cokelat, seperti biasanya.
Sejenak ia berfikir, haruskah ia melakukannya lagi? Mendatangi rumahnya dan memaksanya berangkat bersama? Namun, mengingat dirinya yang sedikit kesiangan, mungkin ia sudah berangkat, pikirnya. Untuk memastikan kesayangan-nya benar-benar sudah berangkat, ia berbelok dan menuju rumah milik kesayangan-nya. Melihat keadaan rumah yang sepi membuatnya beranggapan bahwa benar dugaannya bila sang kesayangan sudah berangkat meninggalkannya. Ia tersenyum dan segera berjalan kembali ke sekolah sebelum terlambat. Tangannya bergerak untuk mengetik pesan singkat untuk sang kesayangan.
Aku sedikit kesiangan, jadi maaf tidak menjemputmu :)
Ia tetap mengirim pesan itu walaupun ia yakin sang penerima pesan tidak peduli. Mengingat tidak ada hubungan apapun antara mereka, buat apa meminta maaf bila tidak menjemput? Lagipula yang ia jemput juga tidak memintanya. Hanya saja, Jimin tetap ingin mempertahankan cintanya pada sang kesayangan walau ia tau sang kesayangan tidak mencintainya. Namun ia yakin suatu saat, dengan segala usahanya selama ini pasti cintanya akan terbalaskan. Siapa tahu?
Jimin melangkah masuk kelas dengan heran. Ia tak menemukan sang kesayangan ataupun tasnya di kelas itu. Dengan wajah keheranan ia berjalan menempati bangku ketiga dari depan bagian pinggir dekat jendela dan mulai melamun melihat siswa yang baru datang lewat jendela favoritnya.
Seseorang tiba-tiba duduk disampingnya dan membuyarkan lamunannya. Itu kesayangan-nya. "Kenapa baru datang?" Tanyanya sambil menatap bingung wajah sang kesayangan yang terus menggerutu. "Aku harus mengantar adikku ke sekolah, ibuku sedang keluar kota dan aku harus mengambil barangku yang ketinggalan di rumah". Bohong. Tentu saja. Bahkan ia sengaja bangun pagi untuk mempersiapkan diri lebih awal karena tak mau membuat Jimin menunggu seperti hari-hari biasanya. Tentu saja ia tak mau mengakuinya. Ia sedikit kesal karena ditinggalkan tadi. Padahal tadi ia sedang duduk manis di ruang tamu menunggu Jimin menjemputnya. Namun, pesan singkat yang ia terima membuat moodnya turun seketika dan segera berangkat sebelum terlambat sekolah.
Jimin hanya menggeleng pelan dan mengusak rambut sang kesayangan. Tentu saja perbuatannya itu membuat mood kesayangan-nya membaik dan membuat pipinya sedikit merona. Tapi tetap saja, seorang Yoongi tak akan mau mengakui perasaannya begitu saja kan?
