Seorang sahabat tidak selalu menatapmu setiap saat.
Seorang sahabat tidak selalu memelukmu, kapanpun ia mau.
Seorang sahabat tidak cemburu ketika kau berdekatan dengan lelaki lain.
Seorang sahabat tidak memeluk dan menciummu ketika kau tidur.
Seorang sahabat tidak saling mencintai, benar kan Jongin?
Namun bagi Jongin mereka tetap hanyalah teman.
We're not Friend
© Shinkyu
Kaisoo fanfiction
Warning: Yaoi/Boys love.
.
Garis miring merupakan flashback/kejadian lampau, ya!
.
.
.
"Aku akan menikah!"
Kopi yang Kim Jongin sesap mendesak kembali keluar, seketika serangan nyeri menusuk hidung dan tenggorokannya. Ia melotot pada sahabatnya sejak kecil yang duduk di hadapannya sambil cemberut.
"Apa katamu?" ulang Jongin memastikan pendengarannya tak bermasalah. Ia meletakan kembali amerikano-nya lalu mengambil tisu yang tersedia di meja cafe. Mengusap bibirnya yang mungkin meninggalkan jejak kopi.
Do Kyungsoo memutar bola matanya kesal. "Aku akan menikah, Jongin" ulangnya santai sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Kau akan menjadi biksu dan mengabdikan hidupmu untuk Buddha. Kau tak akan menikah dengan siapapun!" Jongin mengangkat dagunya menantang.
"Apa karena aku pernah menggunduli rambutku kau jadi berfikiran seperti itu?"
"Bisa jadi." balas Jongin kemudian dia terkekeh geli membayangkan betapa lucunya saat Kyungsoo tak berambut.
"Aku tak akan pernah menjadi botak lagi?!"
"Hei apa salahnya? Kau tidak tahu kalau kau sangat Kiyowo?"
"Aku tahu, kau selalu menciumi kepalaku" bisik Kyungsoo pada dirinya sendiri.
"Kau bilang apa? Ya! Kenapa wajahmu memerah?"
"Tidak! Pokoknya aku akan tetap menikah."
Jongin menggeleng. "Keputusanku sudah bulat."
"Huaa kenapa kau begitu jahat padaku!"
Jongin menaruh beberapa lembar won diatas meja lalu menghampiri Kyungsoo yang mulai merengek di kursinya.
"Bangunlah" ia menarik lengan Kyungsoo lembut mengajaknya berdiri. "Aku antar kau kembali ke kantor. Jangan pernah ada pembahasan mengenai hal ini lagi, aku tak mau dengar." ketusnya sambil mencubit pipi gembil sahabatnya itu.
Mata bulat Kyungsoo berkaca-kaca menatap punggung Jongin yang beranjak meninggalkannya, alisnya yang tebal memberengut sebal akan respon lelaki itu yang sudah ia perkirakan.
Dua jam kemudian Kyungsoo sudah kembali ke kantornya setelah Jongin menemaninya makan siang dan mengantarnya dengan selamat. Mereka berpisah karena berbeda tempat pekerjaan, Jongin sebagai sutradara ternama kembali ke lokasi syuting. Walaupun sibuk lelaki itu selalu bisa meluangkan waktu untuk Kyungsoo dan Kyungsoo sendiri hanya pegawai kantoran biasa.
"Apa ku bilang ini ide buruk!" Kyungsoo mendobrak ruangan Baekhyun teman semasa kecilnya dan Jongun. Dia segera duduk dihadapan Baekhyun sebelum Baekhyun membuka mulut untuk mengomelinya karena masuk tanpa mengetuk pintu.
"Bagaimana respon, Jongin?" Baekhyun segera menyingkirkan dokumen diatas meja, ingin sepenuhnya fokus pada pembicaraan dengan Kyungsoo.
Kyungsoo mendengus sebelum membalas. "Dia melarang, katanya aku harus botak lagi dan menjadi biksu!"
"Nah kan, dia mencintaimu!" Baekhyun menggebrak meja dengan terlalu bersemangat beberapa saat mampu membuat Kyungsoo terlonjak kaget.
"Kesimpulan macam apa itu" cibir Kyungsoo lirih, mukanya berangsur-angsur memerah malu. Ia langsung menampar pipinya menyadarkan diri untuk berhenti bermimpi, orang seperti Jongin tak mungkin menyimpan perasaan seperti itu. Mereka bersahabat.
"Hanya orang buta yang tak menyadarinya, bukan kah sudah jelas? Dia selalu cemburu pada siapapun di dekatmu. Dia bahkan rela membatalkan film yang digarapnya jika kau tak suka. Kau itu begitu penting untuknya, Kyungja. Apa kau lupa saat kau mencukur habis bulu monggu waktu kita masih kuliah dulu? Hingga anjing itu seperti sosis menyedihkan? Jongin bahkan tak marah padamu! Dia hanya menangis semalam suntuk."
Kyungsoo meremas jemarinya kebiasaannya ketika ia sedang gelisah. "Entahlah Baek, mungkin itu bukan cinta. Tapi karena ibuku..."
"Kita akan menyapa tetangga baru, bersikap sopan ya sayang jangan menangis." Nyonya do mencium putra tunggalnya sebelum menuntunnya ke rumah sebelah. Sang suami masih asik bercengkerama dengan para pekerja pengangkut barang.
"Ibu aku takut" Kyungsoo kecil yang masih berumur lima tahun bersembunyi dibalik tubuh besar nyonya Do ketika pintu bercat hitam perlahan terbuka. Nyonya Do tersenyum dan hanya menarik lembut tangan Kyungsoo. Agar kembali berdiri sejajar dengannya.
"Anyeonghaseo!" pekik suara anak kecil yang seperti seumur dengan Kyungsoo. Anak itu memakai kaus kuning dan celana pendek. Rambut hitamnya sedikit panjang seperti perempuan, kulitnya berwarna kecokelatan khas anak laki-laki yang suka sekali main diluar.
Anak itu terbelalak melihat sepasang ibu dan anak asing di depannya. Pandangannya kini beralih pada sosok mungil yang beringsut bersembunyi di balik rok sang ibu. Matanya sangat besar, wajahnya bulat, pipinya kemerahan, kulitnya bening sekali seperti mutiara.
"Apa orangtua mu ada?" sapa nyonya Do kemudian. Anak itu terus saja diam memperhatikan putranya. Nyonya Do sedikit ngeri akan pandangan itu.
"Ibuuu!" Pekiknya tanpa mengalihkan pandangan dari Kyungsoo. Sementara Kyungsoo sudah mau menangis ketakutan, dia mencengkram rok ibunya kuat.
Suara langkah kaki tergopoh-gopoh terdenger. Sosok wanita cantik dengan rambut digelung asal menghampiri mereka.
"Ada apa, Jongin?" Tanyanya pada sang anak yang masih asik memperhatikan Kyungsoo. Pipi dan hidung Kyungsoo sudah memerah sekali, tampaknya anak pendek itu akan menangis. Nyonya Do langsung membawa anaknya kedalam gendongan menjauhkan dari tatapan lekat Jongin.
"Ada tamu rupanya?"
Nyonya Do tersenyum sopan sambil sedikit membungkuk.
"Nama saya Hyekyo dan ini anak saya Kyungsoo" ujarnya memperkenalkan sambil menepuk punggung Kyungsoo lembut. "Maaf dia sedikit pemalu, kami baru saja pindah hari ini dan memutuskan untuk langsung menyapa. Pemindahan barang-barang kami mungkin akan sedikit menimbulkan suara dan menganggu ketenangan kalian. Mohon dimaafkan" ungkap nyonya Do atau Hyekyo seraya menyodorkan kue kering buatannya. Ketulusan niat Hyekyo menggetarkan perasaan tetangganya.
"Tidak masalah, kami memaklumi, tidak perlu repot-repot seperti ini" dia menerima kue Hyekyo dengan senyuman sungkan. "Saya Kim Soojin dan ini anak saya yang kedua Kim Jongin. Maaf dia sedikit bandel" Nyonya Kim menepuk kepala Jongin. Anaknya langsung berlari memasuki rumah tanpa perduli. "Lihat kan?"
Hyekyo teratawa gemas. "Khas anak-anak, dia sangat bersemangat."
"Masuklah akanku buatkan teh, tidak baik mengobrol di depan pintu."
Hyekyo menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, kami hanya sebentar." dipelukannya Kyungsoo mulai merengek meminta pulang.
"Kau pasti lelah, duduklah dulu. Hm?" Soojin tampaknya tak menerima penolakan. Hyekyo tersenyum lalu mengikutinya memasuki kediaman Kim.
Mereka memasuki ruang tamu yang megah, terdapat beberapa foto yang terpajang. Diantaranya foto Jongin bersama dengan anak perempuan.
"Itu Minseok kakaknya, dia masih disekolah sekarang." nyonya Kim menjelaskan sambil meletakan teh buatannya diatas meja.
"Dia sangat cantik"
"Apakah Kyungsoo punya saudara?" tanya nyonya Kim mengelus pipi bulat Kyungsoo. Kyungsoo sangat tenang di pangkuan ibunya. Dia sudah tak merengek lagi dan hanya memperhatikan lukisan ikan yang terpajang besar di dinding.
"Tidak dia anak tunggal" balas nyonya Do tersenyum penuh kasih lalu mengecup pelipis anaknya. Nyonya Kim ikut tersenyum.
Tiba-tiba Jongin datang dengan anjing kecil dipelukannya. Rambut Jongin berantakan dan pakaiannya sedikit kotor. Mungkin dia baru saja bermain kejar-kejaran dengan anjingnya.
"Aku punya anjing kecil! Dia bisa berguling-guling" pamernya menyodorkan anjingnya pada Kyungsoo. Si kecil Kyungsoo tampak terkejut dan terkagum. Matanya yang bulat berkilat tertarik. Ia bergerak-gerak gelisah dari pangkuan ibunya, meminta agar bisa turun dan bergabung dengan Jongin dilantai. Mengelus anjing kecil itu dengan brutal.
"Tampaknya mereka akan menjadi teman" Nyonya Do memperhatikan interaksi Kyungsoo dan Jongin geli. Jongin terus saja mengelus anjingnya terlihat seperti bukan elusan namun tepukan ganas. Sedangkan si pendiam Kyungsoo berjongkok di sebelah Jongin dengan mata melotot. Terkagum-kagum. Dia memang tak memiliki peliharaan dirumah.
Nyonya Kim menghela napas. "Jongin baru mandi, tapi pakaiannya sudah kotor lagi. Dia tak bisa berhenti bergerak, anak itu sangat hiperaktif aku iri sekali padamu. Kyungsoo sangat cantik untuk anak laki-laki dia manis, lucu dan pendiam"
"Aku yang seharusnya iri padamu." Nyonya Do bersuara lirih, tatapannya masih berpusat pada kedua anak kecil yang kini tengah berusaha membuat anjing malang itu berguling. "Kyungsoo dulu lahir prematur, rahimku sangat lemah sehingga dokter menyarankan agar aku tidak usah memiliki anak lagi. Sedari kecil dia mudah sekali sakit dan terserang gangguan sistem pernapasan. Paru-parunya sangat lemah. Dia tak bisa berlarian seperti anakmu."
"Aku minta maaf" Nyonya kim meremas tangan nyonya Do. Wajahnya tampak merasa bersalah.
"Tidak apa, ah kenapa aku jadi bercerita" nyonya Do mengusap matanya yang berair.
"Sepertinya kita akan menjadi teman, begitu pun dengan anak-anak kita." nyonya Kim menepuk bahu nyonya Do pelan.
"Jongin, Kyungsoo ayo kemari." Panggil nyonya Do.
Kyungsoo langsung menuruti sementara Jongin memberengut dahulu sebelum menyeret kakinya menghampiri kedua ibu itu.
"Jongin sekarang, Kyungsoo akan tinggal di dekat sini berteman baiklah dengan dia ya" pinta Nyonya Kim pada anaknya yang langsung mengangguk dan mencoba memeluk si mungil Kyungsoo.
Nyonya Kim mengangkat alisnya heran. Tumben anaknya langsung menurut begitu.
Kyungsoo merengek karena dekapan Jongin terlalu erat. "Ibu! Ibu!" dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi meminta ibunya meraihnya kedalam gendongan.
Nyonya Do terkekeh lantas menurut menggendong sang anak meninggalkan Kim Jongin yang cemberut beringsut duduk dilantai.
"Kau marah Kyungsoo diambil?" tanya ibunya pada Jongin. Jongin hanya mengangguk dan meremas-remas kaosnya. "Jongin kau suka bermain dengan Kyungsoo?" tanya ibunya lagi.
"Ya Jongin akan mengajak Kyungtoo menikah"
Perkataan Jongin tanpa dugaan, membuat kedua ibu itu terkesiap terutama ibunya sendiri. Dia memandang Jongin tak menyangka. Dari mana anaknya yang masih TK itu belajar kata-kata seperti itu?
"Yah! Jonginie.." desah ibunya tak bisa berkata-kata. Nyonya Do tertawa geli dan Kyungsoo sibuk bermain dengan kancing baju ibunya tampak tak mau peduli pembicaraan mereka.
"Jongin bibi minta tolong, karena Kyungsoo mudah sakit. Tolong jaga dia ya! Bermain bersama dan jangan saling meninggalkan satu sama lain" nyonya Do menepuk kepala Jongin pelan hingga anak itu mendongak menatapnya dengan cengiran menggemaskan.
"Kyungsoo" Jongin menunjuk Kyungsoo yang kini menatapnya penasaran, kemudian dia menepuk dadanya sendiri. "Akan Jongin jaga."
"Ya! Jangan melamun!" Baekhyun menjentikan jemarinya dihadapan wajah Kyungsoo. "Bisa-bisanya kau mengabaikanku saat kita sedang berdiskusi tentang kisah cintamu yang menyedihkan"
Kyungsoo tersentak segera mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang tengah menatapnya kesal. "Maaf, Baek." ujarnya pelan sambil melemparkan seulas senyum canggung.
"Sudah ku bilang, kisah cintaku dan Jongin itu tidak ada. Kami hanya bersahabat. Ide mengertaknya dengan rencana pernikahan palsu tak akan berhasil" ungkap Kyungsoo lemas.
Baekhyun terdiam sejenak, berfikir kemudian bertanya ragu. "Apa kau yakin?" ia masih berpegang pada pendapatnya bahwa sebenernya Jongin menyimpan rasa lebih pada Kyungsoo.
"Aku tak tahu" jawab Kyungsoo jujur.
Keheningan kemudian mendominasi, Kyungsoo memutuskan beranjak meninggalkan ruangan Baekhyun sebelum bos mereka menyadari.
"Pulang kerja aku akan mentraktirmu, bersemangatlah!" Baekhyun menggepalkan tangannya, menggoyangkan didepan wajah.
Kyungsoo tersenyum geli dan hanya mengangguk sebelum pergi dengan lesu.
.
.
.
.
"Menikah katanya? Yang benar saja" skenario yang tadinya berada di tangan Jongin lemparkan ke meja. Ia mengacak surai hitamnya frustasi. Perbincangan dengan Kyungsoo sedikit banyak mempengaruhinya. Dia tak bisa fokus bekerja.
"Yah! Ada apa sih?" Sehun menghampiri dan langsung terkejut mendapati pemandangan berantakan di ruangan Jongin. "Apa artis pendatang itu sangat buruk di lokasi?" sebelumnya mereka membicarakan akting artis baru yang jelek sekali.
Jongin hanya menggeleng. Menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. "Pergilah, aku ingin sendiri." ia menutup wajahnya dengan lengan, tidak mau terlihat kacau.
"Biarku tebak pasti Kyungsoo" Sehun duduk di sofa dekat dengan Jongin. Tak menuruti permintaan Jongin yang menyuruhnya keluar.
"Dari mana kau tahu?" alis Jongin terangkat heran.
"Aku berteman sejak sekolah dasar dengan kalian" cerca Sehun sambil memutar bola mata. "Kau selalu seperti ini jika menyangkut dengan Kyungsoomu"
Samar sudut bibir Jongin tertarik mendengar Sehun mengatakan Kyungsoomu, miliknya, Kyungsoonya. Ya. Bagus sekali.
"Katanya dia akan menikah" pandangan Jongin menerawang. "Aku bahkan tidak tahu dia sedang menjalin hubungan atau bagaimana calonnya kelak. Apakah dia kaya, tampan, cantik? Atau Apakah Kyungsoo bahagia..." gumam Jongin resah berbicara pada dirinya sendiri.
"Mau sekaya, tampan atau cantik pun kau tak akan merestui" Sehun mencibir.
Untuk beberapa saat Jongin kagum akan analisa Sehun yang akurat.
"Kau hanya menginginkan Kyungsoo menikah denganmu kan?" lanjut sahabatnya itu tepat sasaran.
"Bukan begitu maksudku" sangah Jongin sedikit enggan.
"Berhentilah mengelak Kim, sudah cukup. Mulai lah serius dengan perasaanmu dan jangan membawa urusan persabatan kalian sebagai alasan."
Jongin menundukan wajahnya. "Kau tak mengerti, tidak sesederhana itu. Dia sangat berharga"
"Kyungsoo! Aku bawa kerang untukmu" Jongin mengedor pintu keluarga Do.
Kyungsoo sedang berada di ruang tamu, membangun lego sendirian. Mendengar suara sahabatnya. Ia segera bergegas menghampiri.
"Kerang apa?" tanyanya setelah membuka pintu, mendapati Kim Jongin dengan segaram sekolah dasar yang kotor dan sedikit basah menyambutnya.
"Aku mendapatkannya di sungai" adu Jongin membuka telapak tangannya yang menyembunyikan sebuah kerang berwarna hitam.
Kyungsoo terkesiap melihatnya. "Itu batu!" tuduhnya sedikit kesal. Padahal ia sudah berharap banyak.
"Tidak bentuknya aneh, ini kerang!" Jongin masih bersikeras.
Kyungsoo menepuk wajahnya, terpaksa menerima walau terlihat enggan.
"Terimakasih, Jongin" Seulas senyum manis ia hadiahkan.
Semenjak pindah Jongin selalu menempelinya, mereka akan terus bersama kecuali jika Jongin Sekolah karena Kyungsoo diharuskan home Schooling berbeda dengan Jongin yang sekolah biasa. Entah bagaimana sebagai bentuk penyesalan Jongin selalu membawakannya oleh-oleh entah bunga, ilalang, jangkrik, semut atau kupu-kupu.
Kyungsoo tentu senang sekali, dia tak pernah bisa mendapatkannya. Kondisi tubuhnya mudah lelah sehingga dia akan lebih banyak tiduran di rumah sambil menonton kartun dibandingkan berpetualang seperti yang Jongin lakukan.
"Aku senang kalau Kyungsoo senang" gumam Jongin sambil menggosok hidungnya. "Apakah Kyungsoo mau bermain ke taman?"
"Tidak, Kyungsoo harus tidur siang."
Jongin menunduk dan menggerakan kakinya sedih.
"Apakah Jongin mau tidur siang bersamaku?" tanya Kyungsoo cepat.
"Boleh kah!?"
"Tentu saja!"
"Tapi kata ibu saat tidur aku suka menendang. Aku takut Kyungsoo jatuh dari kasur dan menjadi benjol"
"Kalau begitu Jongin harus menjagaku agar tidak jatuh"
"Aku akan memeluk Kyungsoo agar tidak jatuh! Apakah Kyungsoo mau Jongin peluk? " tanya Jongin penuh harap dengan mimik teddy bearnya.
Apalah daya Kyungsoo tak mampu menolak. Dia anak baik, tidak pernah ingin membuat temannya sedih.
"Baiklah" Kyungsoo setuju setelah beberapa saat berfikir. Jongin tersenyum cerah hingga memperlihatkan deretan giginya. Saat itu Kyungsoo tak menyesali keputusannya sama sekali. Namun tak pernah Kyungsoo sangka Jongin akan memeluknya saat tidur hingga mereka beranjak dewasa.
Jalanan masih ramai ketika Kyungsoo pulang kerja. Dia menenteng tas tangannya dan menyusuri trotoar menuju tempat pemberhentian bus. Biasanya ketika lembur Kyungsoo akan meminta Jongin menjemputnya tetapi, untuk kali ini Kyungsoo tidak mau bertemu Jongin dulu, dia ingin sendiri dan membiarkan perasaannya yang sedang gundah mengambil alih.
"Menjadi biksu katanya" gumam Kyungsoo sambil menendang kerikil kecil. "Memangnya dia pikir dia siapa mengatur hidupku terus" Kyungsoo tampak kesal, air mata sedikit menggenangi pelupuk matanya. Jawaban yang Jongin lontarkan tak pernah Kyungsoo harapkan. Ia terus bergelut dalam pikirannya tak menyadari pemberhentian bus telah Ia lewati.
Suara klakson mobil begitu dekat, pekikan orang lain beruntun terdengar sebelum Kyungsoo menyadari apa yang terjadi lengannya telah di tarik kuat hingga ia sedikit tersungkur kebelakang.
"Syukurlah"
Kyungsoo mendongak menemukan paras tampan yang sering ia temui dikantor. Memperhatikannya dengan air muka yang cemas.
"Sajangnim" gumam Kyungsoo tercengang. Orang yang menyelamatkannya bernama Suho, beliau merupakan bosnya dikantor. Kyungsoo memang sedikit ceroboh namun ia tak pernah mengira akan membahayakan hidupnya seperti tadi. Jantung Kyungsoo berdentum cepat, membayangkan beberapa saat lalu ia hampir mati tertabrak mobil.
"Terimakasih banyak, sajangnim... Aku.. Maaf" Kyungsoo lantas membungkuk, tak tahu apa yang ingin dia katakan. Kejadiannya sangat cepat.
"Sudah tak apa" Suho menepuk punggung Kyungsoo. Meminta lelaki yang lebih pendek darinya itu berdiri. "Yang penting kau baik-baik saja, Kyungsoo" senyum malaikatnya tersungging tulus. Kyungsoo jadi merasa tak enak hati karena telah merepotkan bosnya yang baik hati. Mereka memang beberapa kali bertemu di kantor namun tidak dekat dan jarang berbincang diluar urusan pekerjaan.
"Omong-omong panggil aku Suho hyung saja, kita diluar kantor." pinta Suho mengajak Kyungsoo mengikutinya berjalan ke parkiran sebuah toko kue. "Biar ku antar kau pulang"
"Ah tidak perlu, hyung." Kyungsoo mengibaskan tangannya sungkan.
"Apa kau menolaku?"
Kyungsoo meringis. "Bukan begitu maksudku, aku.. Hm" Sial Kyungsoo gugup. Ini adalah pertama kalinya Kyungsoo dan Suho mengobrol diluar kantor. Kyungsoo takut salah bicara dan membuat gajinya dipotong. "Baiklah" gumamnya setelah menimbang-nimbang.
Suho tersenyum lagi. Bosnya memang ramah dan murah senyum. Kyungsoo menatapnya lama tanpa sadar balas tersenyum tipis. Berbeda sekali dengan seseorang yang gemar marah dan mengomelinya. Senyum Kyungsoo luntur begitu mengingat wajah Jongin. Bibirnya berkedut sebal.
Begitu mereka memasuki mobil mewah Suho yang berwarna putih Kyungsoo berdehem canggung berusaha menarik selt beltnya. Sejak dulu dia memiliki masalah dengan benda itu yang tak pernah berdamai dengannya. Suho yang sibuk meletakan kue di bangku belakang kemudian menyadari jika Kyungsoo kesulitan memasangkan selt belt. Langsung saja dia berinisiatif mengambil alih.
"Memang terkadang suka macet" bisik Suho, tangannya masih sibuk memasangkan selt belt ditubuh Kyungsoo tak menyadari lelaki mungil itu menahan napasnya karena jarak tubuh mereka. "Nah, sudah" setelah terpasang Suho tersenyum. Menepuk kepala Kyungsoo lalu kembali ke kursinya, memasangkan sel belt untuknya dan mulai menjalankan kemudi.
"Terimakasih lagi hyung" ucap Kyungsoo canggung.
Suho melirik Kyungsoo dan mengangguk ringan. Bagaikan menolong seseorang merupakan hal yang wajar untuknya. "Apa yang kau lamunkan hingga mau tertabrak Kyungsoo?" tanyanya karena Kyungsoo terus diam memandang jalan.
"Uh" alis Kyungsoo bertaut tampak terganggu akan topik yang Suho bahas.
"Tak usah dijawab kalau kau tak ingin bercerita" sela Suho cepat. "Lain kali hati-hati ya."
Kyungsoo tersentuh akan kebaikan bosnya itu. Ia mengangguk dengan senyuman malu. "Hyung habis membeli kue?" tanyanya menyadari kue yang Suho letakan di kursi belakang.
"Ya ibuku menitip."
Kyungsoo memuji dalam hati selain baik Suho juga anak berbakti.
"Berkat ibuku, aku dapat menemukan dan menyelamatkanmu" tambah Suho menyeringai usil. Kyungsoo terkekeh.
"Terimakasih ibunya Suho hyung" kata Kyungsoo lucu. Suho ikut terkekeh. Pembicaraan mereka terus mengalir begitu saja membahas mengenai pekerjaan dan hal random biasa, beberapa kali Kyungsoo menunjukan arah menuju tempat tinggalnya.
"Aku berhutang banyak padamu hyung" kata Kyungsoo setelah Suho membantu melepas sel beltnya, mereka baru saja tiba di depan apartemen Kyungsoo.
"Jangan sungkan, lain kali jika kau tidak memiliki kendaraan aku bersedia mengantarmu lagi" tawar Suho sambil membuka kunci mobilnya.
"Tidak perlu aku..."
Ucapan Kyungsoo terpotong oleh gedoran kaca pada mobil Suho. Mereka menoleh dan mendapati Jongin memperhatikan dengan raut wajah garang. Jongin menunjuk Kyungsoo dengan tidak sopan dan mengisyaratkannya untuk segera keluar.
Kyungsoo melotot menggeram marah pada Jongin sebelum kembali menoleh pada Suho.
"Dia temanku, maaf atas kelancangannya" Kyungsoo tidak enak, Suho sudah sangat baik padanya. Tak pantas mendapatkan perlakuan kurang ajar dari Jongin.
"Teman?" alis Suho terangkat tinggi. Dia membuang pandangan pada Jongin yang masih menatap tajam dirinya dari luar mobil. Seakan siap membunuhnya ketika dia keluar. Suho menelan saliva gugup. "Tak terlihat seperti itu"
Kyungsoo memutar bola mata. "Kau bukan orang pertama yang mengatakannya" cibir Kyungsoo. "Dia memang overprotektif tapi, sebenarnya dia baik" tambah Kyungsoo tersenyum kecil di akhir kalimat. Suho ikut tersenyum maklum. Mereka berdua saling jatuh cinta. Pikir Suho.
"Kalau begitu aku pamit" Kyungsoo menunduk pada Suho yang hanya terdiam memperhatikannya.
Kyungsoo membuka pintu dan Jongin sudah berdiri menujulang menyambutnya.
"Tunggu" Suho menarik lengan Kyungsoo mencegah si mungil beranjak. Kyungsoo menoleh dengan alis terangkat sementara Jongin berdehem keras sekali.
"Kau berhutang padaku kan Kyungsoo?"
Kyungsoo berkedip.
"Atas semua bantuanku barusan" lanjut Suho menyadari Kyungsoo tak mengerti akan perkataannya.
"Ahh" Kyungsoo mengangguk.
"Bantuan apa? Terjadi sesuatu?" Jongin buka suara lalu menarik Kyungsoo hingga pegangan Suho terlepas. Suho menggaruk lehernya akan situasi aneh ini.
"Diam Jongin, Suho hyung sedang berbicara" Kyungsoo memperingatkan.
"Suho hyung!?" tampaknya Jongin terkejut akan panggilan akrab yang Kyungsoo ucapkan.
"Jadi bagaimana hyung?" tanya Kyungsoo mengabaikan gerutuan Jongin. Mereka berdua masih berdiri di samping mobil Suho dengan pintu yang terbuka.
"Begini... Sebenarnya aku memang butuh bantuan" kata Suho sungkan. Tanpa sadar melirik orang yang bernama Jongin yang memandangnya galak seakan bisa melubangi kepalanya. Suho menghela napas, apa boleh buat dia memang perlu bantuan seseorang.
"Lusa nanti maukah kau menemaniku ke pameran lukisan?"
"Apa?"
"APA?!"
Kyungsoo dan Jongin menjawab bersamaan namun Nada suaraJongin lebih kencang seperti teriakan kesal. Kyungsoo segera mencubit lengan Jongin. Dia menimbang-nimbang lusa nanti dia tak ada acara, mungkin hanya makan malam bersama Jongin atau bergosip bersama Baekhyun di telpon. Baekhyun bukan masalah mengingat semenjak dia menikah dengan Chanyeol, Baekhyun sibuk mengurus lelaki itu. Tatapan Kyungsoo beralih pada Jongin disebelahnya yang mengisyaratkannya untuk menolak tawaran Suho.
Alis Kyungsoo berkerut, mereka hanya bersahabat Jongin selalu mengaturnya terus dan Suho... kini Kyungsoo beralih melihat bosnya yang baik hati, telah menolongnya. Apa salahnya menghabiskan waktu semalam bersama pria lain?
"Baiklah" Kyungsoo menyetujui.
Jongin langsung menarik lengannya kuat. Meminta Kyungsoo menatap matanya "Ya! Do Kyungsoo!"
"Kalau begitu, aku akan menjemputmu lusa pukul tujuh." sela Suho cepat tidak mau mendapatkan bogeman dari Jongin yang terlihat murka. Toh mereka berdua hanya bersahabat kan? Walau tak terlihat begitu. "Sampai jumpa dikantor besok"
Kyungsoo mengangguk kemudian menutup pintu mobil Suho.
"Apa-apaan ini" gumam Jongin luar biasa kesal. Mencibir mobil Suho yang mulai menjauhi mereka. Kyungsoo beranjak meninggalkan Jongin tanpa memperdulikan kekesalan lelaki itu. Kyungsoo pun masih kesal akan perintah Jongin yang menyuruhnya menjadi biksu. Walau Kyungsoo terlihat imut saat botak. Kyungsoo tetap tidak mau.
.
.
.
.
Kim Jongin tidak pernah semarah ini sebelumnya. Ia merasa siap meledak saat ini. Langkah kakinya lebar-lebar mengikis jarak antara dirinya dan Kyungsoo yang telah berjalan lebih dulu.
Jongin bersidekap tak sabar menunggu Kyungsoo selesai memasukan kode kunci apartemen. Mereka telah membuat kesepakatan untuk tidak pernah bertengkar di tempat umum. Setelah terdengar bunyi Bip Jongin masuk ke dalam dengan tergesa.
"Jelaskan padaku siapa dia?" tanya Jongin setelah melepas sepatu dan menaruhnya ke dalam rak. Kyungsoo pun melakukan hal yang sama, ia berjalan mendekati Jongin menarik lelaki tan itu untuk duduk di sofa.
"Namanya Suho" balas Kyungsoo singkat. Memilih tidak berkomentar lebih jauh.
"Siapa si Suho ini? Apa orang yang akan menikahimu?" Jongin menuduh teringat akan perbincangan mereka saat makan siang.
Mood Kyungsoo memang sudah jelek dari siang hari, ditambah kini Jongin mengungkit masalah itu lagi.
"Iya! Memang kenapa?" tantang Kyungsoo tak sadar.
"Bahkan kau tak mengabariku saat kau lembur, dan membiarkan dirimu di antar olehnya?" Jongin tak habis pikir oleh Kyungsoo. Kapan Kyungsoo dekat dengan Suho? Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama Kyungsoo tak pernah merahasiakan apapun darinya. Jongin merasa kecewa bahunya mendesak turun.
"Cepat sekali kau dekat dengan laki-laki lain. Aku tak menyangka kau orang seperti itu" gumam Jongin datar mampu menyinggung perasaan Kyungsoo.
"Apa katamu?" Kyungsoo menatap lurus mata Jongin. "Sehina itu aku di matamu" lirih Kyungsoo dengan mata yang mulai memerah.
"Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kau berduaan didalam mobil yang bergoyang."
Kyungsoo tercengang tak menyangka akan sindiran Jongin. Mobil bergoyang apanya? Mungkin saat Suho membantu membuka selt beltnya. Jongin terlalu berlebihan. Kyungsoo terlanjur sakit hati. Rasa nyeri dan tak menyangka mendominasi.
"Keluar dari apartemen ku!" pekik Kyungsoo menunjuk pintu. "Enyahlah"
Jongin tersentak kaget. Bagaikan telah disiram oleh air dingin baru menyadari perkataannya yang kurang ajar. Dia dibutakan oleh rasa cemburu dan kesal akan sikap Kyungsoo yang mulai merahasiakan lelaki lain.
"Kyung... Aku tak bermaksud begitu.. Aku" Jongin berusaha memegang tangan Kyungsoo tapi Kyungsoo menepisnya kasar hingga tak sengaja menampar pipi Jongin. Tak begitu kencang namun suasana mendadak menjadi hening.
Selama dua puluh tahun mereka bersama tak pernah mereka saling berteriak seperti sekarang apa lagi bermain tangan. Ini pertama kalinya hingga mampu membuat Kyungsoo menangis sedikit menyesali sikapnya sedangkan Jongin menunduk putus asa.
Jongin berdiri memilih mengalah tidak mau melukai Kyungsoo. Menuruti permintaan Kyungsoo untuk pergi.
"Baik jika itu mau mu" kata Jongin hampa.
"Aku tidak ingin melihatmu untuk sementara waktu, jangan temui aku" Kyungsoo membuang muka dan beranjak menuju kamar kemudian membanting pintu. Masih tak terima akan hinaan Jongin padanya.
Jongin menatap pintu kamar Kyungsoo dengan lesu dia menyeret kakinya pergi dari sana ketika mendengar isak tangis samar suara yang dikenalnya. Selama hidup di dunia tak pernah Jongin ingin melihat Kyungsoo menangis. Kini dia lah penyebabnya. Rasanya Jongin ingin mati saja.
.
.
.
"Kyungsoo ada Jongin di bawah" nyonya Do mengetuk kamar putranya.
Kyungsoo langsung keluar dengan semangat hingga Nyonya Do tersenyum. "Jongin sudah pulang sekolah, bu?"
Nyonya Do mengangguk. "Dia membawa teman-temannya sekarang."
"Apa?" Kyungsoo langsung menunduk dan memainkan jemari kecilnya. "Kyungsoo tidak mau bertemu, Kyungsoo malu."
Nyonya Do mengusap pipi anak tungalnya itu dengan lembut. "Ada Jongin bukan? Kau tidak usah malu"
Kyungsoo mendongak menatap ibunya. "Ibu benar, ada Jongin semuanya akan baik-baik saja" dia tersenyum lebar hingga pipinya yang gendut menutupi matanya.
"Turunlah kebawah, ibu akan membawakan cemilan."
Kyungsoo lantas berlari kecil menghampiri Jongin dan teman-teman baru. Mereka duduk rapi di sofa besar ruang tamunya. Kyungsoo bersembunyi dibalik guci pajangan kesayangan ibunya. Sebelum sosok jangkung bertelinga lebar menyadari kehadirannya.
"Oh! Siapa ini?" suaranya yang cukup berat menarik perhatian Jongin dan dua sosok asing lain.
Kyungsoo berjengit kaget. Matanya mulai berkaca-kaca, mencengkram kaos depannya menyadari kini dia menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba Jongin berdiri disampingnya memeluk pundaknya lembut.
"Teman-teman ini yang namanya Kyungsoo" Jongin menepuk punggung Kyungsoo pelan.
"Kyaa jadi ini peri mu?" anak dengan mata sipit dan mulut berbentuk persegi tampak gemas.
Kyungsoo menatap Jongin dengan mata besarnya. Peri?
Jongin berdehem. "Diamlah Baek" pinta Jongin, wajahnya mulai memerah.
"Kau benar dia kecil dan imut, pantas dia adalah perimu" anak dengan muka datar berkomentar. Kyungsoo menunduk malu.
"Hentikan!"
"Jongin ingin memamerkanmu pada kami Kyungsoo" si telinga lebar ikut berkomentar.
"Kyungsoo aku Baekhyun, duduk lah disampingku!" kata si sipit menggeser pantatnya di sofa besar milik keluarga Do. Kyungsoo menoleh pada Jongin sahabat pertamanya itu mengangguk mengijinkan.
Kyungsoo beringsut mendekati Baekhyun dan duduk di sebelahnya. Baekhyun langsung memeluknya. "Kau sangat kecil."
"Hei jangan dekat-dekat dengan Kyungsoo ku!" Jongin berteriak Kyungsoo mengulas senyum senang mulai merasa nyaman diantara mereka.
Awal dimana Kyungsoo belajar membuka diri dan menemukan teman baru. Semuanya berkat Jongin.
Pip
Pip
Pip
Suara jam waker mengusik tidur lelap Kyungsoo. Ia segera mematikan benda berisik itu lalu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
"Aku menangis dalam mimpiku" gumam Kyungsoo pada diri sendiri. Melirik ke arah meja nakas dimana sebuah bingkai fotonya dan Jongin yang sedang berpelukan terpajang disana.
Hantaman rasa sakit menyesakan dada Kyungsoo. Lelaki itu memeluk lututnya menangisi orang yang selalu ada di sisinya saat dia senang maupun sedih seperti sekarang.
Tiba-tiba Kyungsoo ingin melihat Jongin.
"Jongin aku rindu..." air mata menetes membasahi pipi, menangisi semua harapannya yang kosong.
.
.
.
"Baiklah Kyungsoo"
Jongin meletakan kopinya ke atas meja dengan kasar hingga terdengar suara tuk nyaring. apartemennya sunyi sepi.
"Aku akan menjauhi mu sesuai keinginanmu!" kini dia mulai memakan roti panggang gosongnya kasar kemudian memuntahkannya ke wastafel. "Sial" umpatnya membuang sarapannya itu ke tong sampah.
Biasanya jam segini dia akan sarapan hidangan lezat buatan Kyungsoo sambil bercengkrama santai.
Jongin memilih mencuci mukanya menghilangkan bayangan Kyungsoo. terlalu kasar hingga membuat kaos bagian depannya basah tetapi nampaknya lelaki itu sama sekali tak pernah peduli. Hari ini akan menjadi hari yang buruk.
.
.
.
"Kau terlihat kacau, Do Kyungsoo"
Suho biasanya tak ingin ikut campur namun melihat bawahannya memasuki lift dengan lunglai dan mata sembab membuatnya penasaran. Dia takut Kyungsoo dan temannya yang bernama Jongin bertengkar.
"Hyung" Kyungsoo melotot dan langsung segera menunduk. Suho membalasnya dengan senyuman.
"Lantai berapa?" tanya Suho karena dia dekat dengan tombol lift.
"Tujuh" gumam Kyungsoo pelan.
Suho menekan tombol sesuai intruksi Kyungsoo dan mundur kebelakang begitu pegawai lain mulai ikut memasuki lift yang sama dengan mereka. Kyungsoo di sampingnya bergerak tak nyaman.
"Kau baik-baik saja?" tanya Suho mengingat Kyungsoo tak kunjung menjawab pertanyaan awalnya.
"Aku tak apa, hanya kurang tidur."
"Oh" sahut Suho lalu dia berdehem sebelum kembali buka suara. "Apa kau bisa makan siang denganku?"
Beberapa pegawai di lift melirik mereka. Biasanya Suho adalah atasan yang tak suka basa-basi, beliau berbicara jika ada perlu saja. Tumben sekali dia mengobrol. Apa mereka memiliki hubungan khusus?
Menyadari mereka menjadi pusat perhatian. Suho sengaja batuk mengancam secara non verbal. Pegawai lain segera berbalik takut.
Kyungsoo meringis melihatnya. "Entahlah hyung"
"Ada yang ingin kubicarakan mengenai pameran lukisan lusa"
Kyungsoo mengingat kembali hutang budinya. "Oh iya." katanya datar.
"Aku orang sibuk Kyungsoo, tolong hargai aku yang bersedia menyisakan waktuku untukmu" Suho mengatakannya dengan nada santai.
Kyungsoo sedikit banyak menangkap kecongkakan dalam makna perkataan bosnya itu. Dia tak ada pilihan lain Kyungsoo terpaksa menyetujui walau berat hati.
Suho menepuk pundaknya. "Baguslah" dia tersenyum malaikat. "Aku akan mentraktirmu banyak makanan"
Kyungsoo kagum beberapa saat lalu Suho tampak sombong kemudian bisa kembali berubah menjadi baik hati. Begitu cepat kepribadian orang berganti.
.
.
.
.
"Dasar tidak becus!" Properti dilokasi syuting Jongin banting. "Lakukan dengan benar ini bahkan sudah take ke tujuh!"
Semuanya baik-baik saja bagi kru lain tapi mendadak begitu buruk dimata Jongin sang sutradara. Jongin memang disegani karena tangan dinginnya selalu menghasilkan film menakjubkan dan laris di pasaran namun tak biasanya sikap Jongin hari ini tak profesional.
"Kita istirahat tiga puluh menit" perintah Jongin membanting naskah dengan sewena-wena. Sehun yang bekerja sebagai produser filmnya kali ini berinisiatif mendekati sang teman dengan membawa minuman dingin.
"Minumlah, mungkin bisa mendinginkan kepalamu" Sehun meletakan minuman tersebut di dekat Jongin. "Apa lagi kali ini? Kau bertengkar dengan Kyungsoo?"
Jongin mendengus, apa dia seperti sebuah buku komik murah yang mudah sekali dibaca?
"Jongin kau adalah seorang sutradara hebat jangan biarkan masalah pribadi menganggu kinerjamu"
Jongin mengusap wajahnya frustasi, turut menyesali sikapnya yang kekanakan. "Aku minta maaf."
"Sudahlah" Sehun menyeringai menyenggol pundaknya jahil. "Kalian ini bersitegang terus kapan kau menyatakan cinta? Nikahi saja Kyungsoo secepatnya?"
"Tidak bisa" balas Jongin datar.
"Mengapa?" alis Sehun terangkat heran.
"Dia akan pergi, pada akhirnya semua orang yang kau cintai akan pergi." gumam Jongin dengan pandangan nanar.
Saat itu hujan deras membasahi kota Seoul diiringi petir yang terus menyambar. Jongin kecil meremat pulshie-nya erat-erat. Biasanya dia akan menyusup ke dalam selimut orang tuanya dan langsung mendapatkan tepukan lembut dipunggung oleh sang ibu. Namun kini berbeda bahkan teriakan ibu dan ayahnya lebih keras dari petir saling bersahutan tak ada yang mau kalah.
Malam yang buruk, Jongin sangat takut. Andaikan ada Kyungsoo yang bisa ia peluk. Memikirkan tetangganya yang imut Jongin mengembangkan senyum geli mengingat wajah berkerut Kyungsoo saat ia menghadiahkan kecoa dari kamar mandi sekolah. Senyuman di wajah memudar ketika eomma membuka pintu kamarnya dengan kasar. Wanita dewasa itu menangis tersedu, menarik tangan nunnanya Minseok yang masih mengantuk.
Dua wanita di keluarga Kim itu mendekati si bungsu yang hanya diam di tempat tidur.
"Jongin sayangku" Lengan ibunya terulur mengelus pipinya yang tirus. "Eomma harus pergi bersama nunna, sekarang kamu dengan Appa ya nak" pinta nyonya Kim, air mata terus bercucuran di wajah pucatnya.
"Aku mau ikut eomma dan nunna" sentak Jongin buru-buru turun dari kasurnya yang hangat. Mengambil tas sekolahnya dan berusaha memasukan celengan ayam yang ia simpan untuk menikahi Kyungsoo ketika dewasa. Kelak uang itu mungkin diperlukan ibunya.
"Kau pikir mau kemana hah!?" Ayahnya yang selama ini kaku dan jarang berbicara datang menarik lengan kecil Jongin hingga sedikit tersungkur. Ibunya makin menangis sedih melihat perlakuan suaminya pada anak mereka.
Minseok menarik baju ayahnya keras. Nurani sebagai kakak menolak siapapun menyakiti adiknya. "Appa hentikan! Appa jangan!"
Percuma, tuan Kim tetap memukuli Jongin. Pria itu belum puas menyakiti istrinya dan memilih mencari sasaran baru. Anaknya sendiri.
Tubuh Jongin memang sakit seiring dengan pukulan dan tamparan yang ayahnya layangkan tetapi melihat ibu dan kakaknya menangis Jongin lebih sakit.
"Jangan pernah menyakiti anakku dasar berengsek!" lengan kurus ibunya ikut memukul punggung ayahnya. Tenanga ayahnya sangat kuat. Dia melepas Minseok dan istrinya lalu mendorong mereka berdua hingga tersungkur. Menarik kaki mereka kepintu depan.
Jeritan mereka mengiringi, sambil terseret kedua perempuan itu mengais Jongin yang mulai menjerit tak bisa melawan ayahnya.
Jongin mengikuti keluarganya kepintu depan, wajahnya linglung. Tubuhnya tak henti bergetar.
Ayahnya berhenti menyeret ibu dan Minseok saat keluarga Do keluar rumah, mungkin mendengar semua teriakan mereka.
Nyonya Kim beringsut mendekati Jongin, memeluk terakhir kali dan mengecup puncuk kepalanya lama.
"Eomma sangat menyayangimu.. Tumbuhlah jadi pria yang kuat tapi tidak apa-apa kalau sesekali kau menangis Jongin-ah." wajah Jongin yang kosong seakan tanpa nyawa menggores hati Nyonya Kim. Wanita mana yang ingin disakiti dan membiarkan anaknya di pukuli. Dia sudah muak dengan suaminya. "Bermainlah sesekali, tapi jangan lupakan tugasmu di sekolah. Cintailah seseorang jika kamu sudah dewasa."
Kyungsoo kecil memakai piama hijau tiba-tiba keluar didepan rumahnya, memanggil Jongin lantang. Ibu Jongin menoleh pada Kyungsoo dan tersenyum untuk beberapa saat.
"Kau sudah berjanji untuk menjaga Kyungsoo kan? Terus berteman dengannya oke?"
Jongin mengangguk kencang hingga ibunya tersenyum. Minseok kemudian mendekati memeluk adiknya erat.
"Nunna sayang sama Jongin, nanti nunna akan datang dan bermain. Jongin menurutlah pada ayah agar tidak kena pukulan" kata Minseok lirih Jongin kembali mengangguk.
Taksi tiba-tiba datang membawa ibu dan nunnanya pergi jauh. Jongin berlari mengejar baru sadar bahwa ia ditinggalkan. Ditengah hujan yang menusuk kulit Jongin mengais harapan terus mengejar tak kenal lelah namun taksi itu tak sepadan dengan kecepatan larinya. Jongin terpeleset jatuh ke aspal. Lututnya luka namun hatinya jauh lebih sakit.
Ayahnya dengan dada membusung datang menghampiri bagaikan seorang banteng yang siap membunuh. Kaos basahnya ditarik hingga Jongin tercekik. Saat melewati kediaman Do. Jongin masih ingat tangisan Kyungsoo melihat keadaannya. Tatapan bola mata polos Kyungsoo menjadi nanar. Nyonya Do memeluk putranya dan membimbing Kyungsoo untuk masuk. Tidak berani ikut campur karena Jongin bisa kena pukul jikalau Tuan Kim marah.
"Dengarkan aku" bisik Tuan Kim ditelinga Jongin. Anak itu bergetar ketakutan dan kedinginan di depan pintu kediaman mereka. Dia enggan masuk tanpa kehadiran ibu dan kakaknya. Tuan Kim langsung mendorong Jongin kedalam dan menutup pintu.
"Cinta hanya akan meninggalkanmu Jongin. Pada akhirnya mereka akan pergi sama seperti ibu dan kakakmu." ayahnya tersenyum penuh dendam.
"Ikuti saran ibu mu, jadilah pria kuat namun tak perlu jatuh cinta. Pada akhirnya kau akan ditinggalkan."
Ayahnya pergi begitu saja, mengabaikan dirinya yang kedinginan dan terluka. Sejak saat itu Tuan Kim terus mabuk-mabukan dan berjudi hingga kekayaan mereka perlahan habis. Jongin tumbuh menyaksikan satu-persatu kehancuran ayahnya tanpa ibunya.
Keluarganya hancur.
"Aku tidak dapat berpacaran, menikah atau hal-hal seperti itu"
"Kau takut pada komitmen" Sehun memahami sedih.
Jongin diam, tak mengelak.
"Maka kau menjadikan Kyungsoo hanya teman."
Kata teman dari mulut Sehun seperti bongkahan batu yang menganjal di kerongkongannya. "Aku tidak tahu, Hun." serunya gusar.
Kening Sehun berkerut. Temannya itu memang bodoh, tapi dia tak menyangka bahwa Jongin benar-benar tak bisa mengerti perasaannya sendiri. "Sadarlah, kalian bukan lah teman, kalian lebih dari itu."
Ekspresi wajah Jongin menjadi lebih lunak.
"Minta maaflah padanya, sobat. Perbaiki hubungan kalian"
Sehun menepuk bahunya dan Jongin menatapnya dengan sorot berterimakasih juga kelegaan yang membanjiri.
.
.
.
"Ada apa lagi sekarang?" Disaat yang sama Baekhyun pun menghampiri Kyungsoo yang telungkup di atas meja kerja. Dokumen berserakan, kacau balau sama seperti penampilan sahabatnya itu. "Kau jelek sekali hari ini" cibir Baekhyun.
Kyungsoo tak ambil pusing memilih beranjak menuju pantry, untuk membuat secangkir kopi yang sepertinya dapat memfokuskan pikirannya kembali.
"Jongin lagi?" Baekhyun tak menyerah mengintili.
"Kau tak punya kerjaan apa?" Kyungsoo mendelik.
"Jangan mengalihkan pembicaraan" decak Baekhyun dengan sikap kesal. Dia berkacak pinggang. "Katakan padaku ada apa?"
Kyungsoo mendesah mengalah, mulai bercerita akan kejadian semalam tentang Suho yang mengantarnya pulang dan perkataan Jongin yang menghinanya.
"Waw? Sajangnim melakukan itu?"
Kyungsoo mengangkat bahu.
"Jongin memang terkadang berengsek tapi kurasa dia tak bermaksud begitu" komentar Baekhyun mengusap dagunya. "Kita tumbuh bersama, kupikir kau bahkan lebih mengenalnya dibanding aku."
"Egoku menahan diri untuk menyadarinya" gumam Kyungsoo resah. "Kau tahu aku kesal padanya bukan?"
Baekhyun memeluk bahu lemas Kyungsoo, mencoba memberinya kekuatan. "Hei kalian tak pernah marahan selama ini bukan?"
Kyungsoo mengangguk, merasa sedih.
"Berbaikan lah dengannya. Bukan kah kau mencintainya?"
Kyungsoo menutup wajahnya bahunya mendesak turun.
"Coba ingat alasan kau mencintainya."
"Terlalu banyak, aku bahkan tak bisa menghitungnya."
Kyungsoo membuang muka memilih menatap langit biru berhias awan dan angannya ikut terbang mengingat kembali semua kenangan.
.
.
.
Sewaktu sekolah menengah Jongin kadang akan mencegat Kyungsoo dengan motornya yang butut. Dia akan melemparkan senyuman lebar yang bodoh.
"Kyungsoo naiklah," ajaknya mengelap jok motornya. "Aku antar kau pulang."
Kyungsoo tahu Jongin sangat lelah selepas latihan basket, namun dia tetap mau meluangkan waktu menunggu Kyungsoo pulang dari piket. Padahal Jongin bisa meninggalkannya pulang duluan dan istirahat dirumah. Namun Jongin tak pernah pergi, dia selalu menyempatkan waktu bersamanya.
.
.
.
.
Malam semakin larut, Kyungsoo meletakan bolpoinnya, lelah telah belajar untuk ujiannya lusa. Suara ketukan pelan terdengar dijendela kamar. Dia menimbang-nimbang harus membuka jendelanya atau tidak. Takut jika nanti hantu atau pencuri mencoba menerobos masuk.
Akhirnya dengan enggan, Kyungsoo membukanya. Diatas dahan pohon, Jongin berpegangan erat agar bisa menyodorkan sekantung makanan untuknya.
Kamarnya terletak dilantai dua dan Jongin harus memanjat sebuh pohon di halaman rumahnya.
"Kau pasti lelah belajar kan? Ini burger untukmu."
Senyuman Jongin sangat lebar sekali dan yang membuat hatinya meleleh adalah bagaimana tangan lelaki itu yang gemetaran menahan bobot tubuhnya sendiri demi memberikan makanan untuknya.
"Terimakasih banyak" bisik Kyungsoo.
.
.
.
Waktu luang mereka biasa dihabiskan dengan bermain di ayunan rumah Kyungsoo. Ayunan itu besar dan panjang hingga muat diduduki dua orang dewasa seperti mereka, terbuat dari besi yang di cat putih sangat kuat dan juga indah. Ayah Kyungsoo membuatnya karena merasa sedih anak tunggalnya tak bisa sering bermain seperti anak kebanyakan. Setidaknya Kyungsoo punya ayunan ini sebagai tempat bermain dihalaman.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan surai mereka, Jongin terus bercerita soal pengalaman berkemahnya. Disampingnya Kyungsoo menyandar dengan manja di lengannya yang kuat. Jongin meliriknya dengan senyuman dan menemukan Kyungsoo sudah jatuh terlelap.
.
.
.
"Jangan tidur disini, nanti kau masuk angin" Jongin membuka jaketnya, menyelimuti tubuh kecil itu sebelum menggendong Kyungsoo ke kamarnya.
Diam-diam kelopak mata Kyungsoo terbuka, memandang Jongin dengan senyuman.
.
.
.
"Anjing galak!"
Tuding Kyungsoo pada seekor anjing berwarna hitam yang mengongong keras ke arah mereka.
Jongin segera berdiri dihadapan Kyungsoo mencoba menutupinya dari pandangan si anjing.
"Tenanglah ada aku!"
Teriaknya sok jago, padahal tubuhnya bergetar ketakutan.
Si anjing tampaknya tak senang pada mereka, dia terus menggeram dan mengeluarkan liur dari giginya yang tajam. Dia mengejar mereka dan mereka tak bisa bertahan lagi.
"Huaa!"
.
.
.
Kyungsoo tahu betul, sahabatnya Jongin memiliki banyak penggemar di kampus. Stylenya yang cuek dan berantakan justru memberikan kesan sexy dan keren. Maka tak heran lagi jika Jongin sering di kerubuni para perempuan. Biasanya Jongin tak akan perduli namun terdapat gosip bahwa Jongin tengah dekat dengan salah satu kakak kelas mereka yang merupakan seorang ulzzang.
Sungguh sakit hati, Kyungsoo mendengarnya, nafsu makannya bahkan menurun. Walau masih remaja Kyungsoo sudah menyadari perasaannya yang terlampau dalam untuk Jongin lebih dari sahabat. Belum menyatakan perasaan saja Kyungsoo sudah patah hati.
Gadis bernama Irene itu terus memonopoli Jongin membuatnya sangat muak. Seperti sekarang ini, dia tiba-tiba muncul dan mengajak (memaksa) Jongin mengantarnya ke toko buku.
"Jongin aku ingin pulang,"
Kyungsoo merengek, dia sudah menunggu Jongin lama. Biasanya mereka selalu pulang bersama dan Kyungsoo tak akan mengalah kali ini.
"Tapi Soo..." Jongin melirik Irene serbasalah.
"Kalau kau pulang bersamanya, aku tak mau menemui mu lagi." gadis bernama Irene mengeram marah. Alisnya berkerut
Kyungsoo mencengkram lengan Jongin kuat. Ketakutan Jongin akan memilih Irene dan membiarkannya pulang sendirian.
"Maafkan aku Irene, Kyungsoo ingin pulang sekarang."
Namun ternyata perkiraannya salah, dia selalu nomor satu dimata Jongin.
.
.
.
Kyungsoo mematut diri didepan cermin, tubuhnya yang terbalut kemeja berwarna biru muda sangat menawan menguatkan kesan suci dan polos padanya.
"Yah! Jangan pakai baju itu!" Jongin tiba-tiba datang dan mengamuk.
Alis Kyungsoo berkerut bingung. "Kenapa? Kata Baekhyun aku terlihat manis."
"Tidak!"
Jongin mencengkram rambutnya menunjukan betapa frustasinya dia namun Kyungsoo tak perduli. Jongin itu bossy dan tukang mengatur untuk kali ini Kyungsoo tak akan menurut. Dia suka memakai pakaian ini.
"Aku akan jalan-jalan dengan Taehyun nanti sore, kami akan bermain di sungai Han" gumam Kyungsoo pelan namun mampu membuat Jongin berteriak panik.
"Aku ikut!"
"Tidak! Taehyun bilang ini acara kami berdua." Kyungsoo berkacak pinggang.
Hidung Jongin berkedut. Jadi alasan Kyungsoo berdandan adalah untuk pergi bersama lelaki lain. Enak saja Jongin tak akan membiarkan.
"Aku tetap ikut!"
"Tidak!"
Setelah perdebatan mereka yang panjang akhirnya Kyungsoo mengusir Jongin pulang dengan paksaan. Dia kini tengah memakai sepatunya siap untuk berangkat jika saja Jongin tak menelpon.
"Kyungsoo?" Suara Jongin terdengar sangat serak dan lemah. Kyungsoo berdebar khawatir akan keadaannya.
"Ya?"
"Aku sakit perut" gumam Jongin sambil meringis.
"Apa?! Kau makan apasih?! Tunggu aku akan segera kesana, sepuluh menit lagi aku sampai oke"
"Tapi Taehyun?"
"Aku tidak peduli, kamu harus sembuh dulu."
Dia akan meninggalkan segalanya, jika Jongin yang dipertaruhkan. Bagi Kyungsoo, Jongin bahkan lebih penting dari dirinya sendiri.
.
.
.
.
"Hahaha Kyungsoo si pendek."
Anak-anak nakal dikelas sebelah selalu meledeknya entah karena matanya yang besar atau tubuhnya yang kecil.
"Huaa Jongin" pada akhirnya Kyungsoo akan berlari dan meminta perlindungan pada Jongin.
"Mati kalian mati." kemudian dia menendangi pantat mereka itu. Walau setelah itu Jongin akan dihukum karena melakukan kekerasan. Jongin tidak peduli dan tetap akan melindunginya dimanapun dan kapanpun Kyungsoo butuh.
.
.
.
Disaat mereka sudah legal mengendara mobil sendiri, Jongin akan menjadi supirnya dan tak akan pernah membiarkan Kyungsoo yang menyetir katanya dia tak mau Kyungsoo kelelahan. Di sela pekerjaan, di waktu luang. Mereka akan pergi bertamasya berdua. Melihat indahnya dunia bersama.
"Tidurlah, sebentar lagi kita sampai hm?" pinta Jongin setelah melirik Kyungsoo yang setengah mengantuk di sampingnya. Mereka tengah terjebak macet.
"Tidak aku akan menemanimu." si mungil tetap bersikeras pada pendiriannya walau pada akhirnya dia jatuh tertidur juga.
Ditengah alam bawah sadarnya Kyungsoo merasakan bibirnya basah sesuatu yang lembut menempel untuk beberapa saat.
Mata Kyungsoo terbuka, memandang Jongin dengan kebingungan yang ketara. "Kau menciumku?"
"Eh hmm... yeah.."
Wajah Jongin merah sekali mungkin dia tak menyangka akan ketahuan mencuri sebuah ciuman. Ia kira Kyungsoo akan marah namun nyatanya sahabatnya itu justru tersenyum senang. Tentu, ciuman pertamanya diambil oleh orang yang paling ia sayangi.
Jongin menoleh, ikut tersenyum. Setelah saat itu mereka tak canggung lagi untuk saling mencium satu sama lain.
.
.
.
Mereka mulai beranjak dewasa dan Kyungsoo memutuskan untuk pindah dan tinggal di apartemennya sendiri. Dia tengah memasak untuk makan siangnya dan Jongin. Sahabatnya itu akan mampir untuk sekedar makan bersamanya setiap hari.
Suara pintu terbuka, senyum Kyungsoo mengembang sudah dapat menebak orang yang masuk ke apartemennya. Satu-satunya orang lain yang tahu kode sandi apartemennya hanya Jongin.
"Kyungsoo film ku berhasil!"
Tiba-tiba Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo sehingga spatulanya jatuh ke lantai. Mereka tertawa bersama dan Kyungsoo menikmati bagaimana Jongin memutar tubuhnya sesaat sebelum membawanya kedalam ciuman yang panjang.
"Syukurlah" bisik Kyungsoo memejamkan matanya penuh haru.
"Terimakasih Tuhan" Jongin menimpali, mencium bibir Kyungsoo lagi dan lagi.
.
.
.
"Soo-ya?" panggil Jongin, menyentuh punggung Kyungsoo lembut.
Mereka tidur bersama disuatu malam yang mencekam oleh badai. Kyungsoo menelpon Jongin untuk datang menemainya karena Kyungsoo takut sekali dengan suara petir. Tanpa menunggu lama Jongin langsung datang sepuluh menit kemudian.
"Hmm..." Kyungsoo bergumam, sibuk menetralkan debaran jantungnya. Dia tetep pada posisinya sejak setengah jam yang lalu yaitu memunggungi Jongin.
"Jangan jauh-jauh, mendekatlah."
"Tidak"
Tanpa perduli, Jongin meraup tubuh Kyungsoo agar menempel di dadanya. "Nah begini lebih baik" dia menciumi pundak Kyungsoo yang sedikit terbuka.
"Aku mencintaimu" bisik Kyungsoo tak bisa lagi menahan perasaannya.
Kyungsoo menengok ke belakang dan ternyata Jongin sudah terlelap tak mendengar perkataannya sebelumnya. Sampai kapanpun perasaannya tak akan pernah tersampaikan.
.
.
.
Ketika diterpa masalah, hanya Jongin tempat Kyungsoo mengadu. Seperti saat ini dia gagal dalam proyek perusahaan. Membuatnya harus menerima cacian oleh tim nya.
Kyungsoo menyadarkan kepalanya pada bahu Jongin yang lebar. Seiring dengan elusan lembut pada punggungnya. Air mata Kyungsoo mengalir begitu saja.
Untaian kata penenang dibisikan sang sahabat ke telinganya, berharap ia bangkit dan tak sehancur saat ini.
Pelukan erat pada tubuhnya yang mungil, seakan memberinya topangan untuk hidup.
Masalah yang sebelum nya membuatnya hancur.. kini terlupakan. Siring dengan adanya Jongin-sahabatnya. Disampingnya.
Namun ketika ia merasakan kecupan demi kecupan di puncuk kepalanya. Lelehan air mata kembali mengalir begitu saja. Membasahi pipi putihnya.
Seharusnya sepasang sahabat tidak seperti mereka.
.
.
.
.
Fragmen-fragmen masa lalu hilang berganti dengan Baekhyun yang memandangnya sendu.
"Maaf aku melamun" kata Kyungsoo merasa bersalah.
"Sudahlah, jadi apa kau akan meminta maaf?"
"Entahlah Baek, aku tak mengerti padanya. Aku sangat mencintainya namun dia tidak." Kyungsoo menundukan kepala ragu.
"Percayalah padaku. Dia pun mencintaimu, perbuatannya selama ini sudah jelas. Entah apa alasannya menahan diri selama ini untuk tak mengikatmu dengan status lebih dari teman." Baekhyun berkata diplomatis. Dia tersenyum singkat sebelum menambahkan. "Walaupun begitu persahabatan kalian tak bisa berakhir seperti ini. Kau harus berusaha memaafkannya dan menyatakan cinta. Mungkin dia akan menerimamu?"
Baekhyun benar jika Jongin tak kunjung menyatakan cinta maka biarkan Kyungsoo yang menyatakannya lebih dulu.
"Terimakasih Baek"
.
.
.
.
"Restoran ini adalah favoritku,"
Kyungsoo tersenyum membiarkan Suho membukakan pintu untuknya. Sesuai janji sebelumnya Kyungsoo dan Suho akan membicarakan mengenai pameran lukisan sambil makan bersama. Mereka memilih duduk di dekat jendela saling melemparkan senyuman jika saja Jongin tak masuk bersama seorang model dan artis ternama. Jung Soojung.
Senyum diwajah Kyungsoo luntur dan dunianya terasa hancur. Kelopak mata Kyungsoo bergulir tak mau memandang mereka. Dia mulai mengabaikan obrolannya dengan Suho dan memilih menundukan kepala, menguasai hatinya yang serasa dicengkam oleh tangan kasat mata.
"Kyungsoo?" Suara baritone Jongin memanggilnya entah sejak kapan Jongin dan Soojung sudah menghampirinya dan Suho. Berdiri di samping meja mereka dengan canggung. "Apa yang kau lakukan berduaan dengan lelaki ini" desisinya marah.
Jongin masih bisa marah padahal dia tak berkaca, dia pun membawa seorang perempuan bersamanya. Lagi pula untuk apa mereka saling cemburu seperti ini, toh mereka hanya teman?
Kyungsoo memaksakan senyuman.
"Kami makan bersama" Suho yang memilih menjawab, menyadari ekspresi wajah Kyungsoo yang pucat pasi. Tapi Jongin tampak tak senang ketika lelaki itu buka suara.
"Aku tak bertanya padamu" sinisnya. Maju selangkah siap menantang Junmyeon jika saja Soojung tak menahan lengannya.
Tatapan Kyungsoo membara memperhatikan kontak fisik mereka.
"Sudahlah Jongin-ssi. Kau mengenal mereka?" gadis itu berusaha menengahi dengan lembut.
Tatapan Jongin bergulir pada Kyungsoo. Memandangnya lekat. "Temanku."
Kata itu menghantam dada Kyungsoo, sangat keras hingga ia merasa kesulitan bernafas. Seharusnya Kyungsoo sadar sampai kapan pun Jongin hanya menganggapnya teman. Walau hatinya menjerit dan mengemis meminta balasan cinta.
Pada akhirnya mereka hanya teman.
TBC
Halo! Shinkyu hadir dengan ff baru. Tenang ini hanya twoshoot kok. Tadinya mau oneshoot tapi jadinya panjang banget T-T chapter ini aja udah panjang.
Jangan khawatir aku gak akan mengabaikan ff-ku yang lain. Semua butuh proses. Aku menulis sesuai ide dan ilham jika ide 'held hesteg' yang muncul maka aku akan langsung mengetik ff itu dan kalau 'my bad boy' pun begitu.
Sialnya malah muncul ide ff baru, jadi langsung aku tuangkan kedalam tulisan ini.
Ff ini sudah terlebih dulu saya upload di wattpad. Aku biasanya lebih cepat update di wattpad dari pada ffn, so kalau punya akunnya jangan lupa follow yaa. Shinkyu88
Semoga kalian suka. tolong sempatkan memberikan komentar setelah membaca karena respon kalian sangat berharga untukku dan membuatku semangat untuk melanjutkan tulisan.
Terimakasih.
