Desclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Warning: OOC, OC, AU, typo, gaje, abal, aneh, dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang dapat anda temukan setelah membaca teks dibawah ini.
Happy Reading~
"Ap―Apa yang kau mau?" laki-laki itu berbicara dengan orang didepannya dengan terbata-bata. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya.
"Kau tidak mengenaliku 'heh? Aku adalah orang yang sudah memberikan apa yang kau mau." sosok itu menyeringai lebar, menampilkan deretan gigi runcing miliknya. "Tidak, tidak. Aku tidak meminta apapun." laki-laki itu berbohong, berusaha mengelak.
"Kau tidak bisa berbohong, orang tengil sialan. Dengan kau membuat kontrak dengan kami, berarti kau siap menyerahkan nyawamu, semuanya sudah tercatat disini. Kekeke" terkekeh, sosok itu menyeringai sambil menunjukkan sebuah buku catatan kecil berwarna hitam, seringaiannya lebih lebar dari sebelumnya. Laki-laki di depannya yang daritadi sudah ketakutan dan gemetaran hanya bisa merapat ke dinding. Kemana lagi dia bisa pergi?
Sosok menyeringai itu menyentuh bahu si laki-laki, tepat dimana ada sebuah tattoo bunga lily hitam yang sedang mekar. Saat sosok itu menyentuh tattonya, tiba-tiba lily hitam itu mulai timbul dan lama-kelamaan keluar dari permukaan kulit sang laki-laki.
Si laki-laki menjerit kesakitan, tubuhnya melemas dan perlahan-lahan mengering sehingga menyebabkan kulitnya mengeriput. Badannya yang tadi segar bugar, sekarang hanya bagaikan tulang belulang yang terbungkus kulit. Mata si laki-laki melotot keluar karena badannya terlalu kurus. "To―Tolong…" gumam laki-laki itu pelan.
Sambil terus diam menatap laki-laki yang sudah sekarat akibat ulahnya tadi, sosok itu memainkan bunga lily hitam yang sudah ada di genggamannya. Dia tidak bergeming menatap laki-laki di depannya. Seakan-akan memang inilah yang diinginakannya, dia sedang menunggu. Menunggu untuk bisa mengambil nyawa sang lelaki di hadapannya.
Akhirnya si laki-laki malang tadi menghembuskan napas terakhirnya. Sosok misterius itu menyeringai puas, lalu dari mulut laki-laki itu keluar asap-asap biru yang berkerlap-kerlip indah yang biasanya hanya bisa kita lihat di buku cerita anak dan dongeng-dongeng, melayang, berputar-putar di udara dan berhenti di tangan putih sosok makhluk itu. Asap biru itu lenyap tepat saat berada di tangan sosok itu, seakan-akan masuk ke dalam dirinya.
"Tidak cukup buruk, makan malamku kali ini." lalu makhluk itupun membuang bunga lily hitam yang sejak tadi digenggamnya dan beranjak pergi, membiarkan bunga itu jatuh tepat di samping tubuh kurus kering laki-laki malang yang sudah tak bernyawa lagi. Tubuh itu mulai mengeropos hingga ke dasar-dasar tulang dan hancur menjadi debu hingga tak tersisa.
~0.o.0~
Rabu, Kepolisian Jepang, Bagian Penyelidikan, Tokyo 10.00 a.m
Sena berjalan santai menuju kantornya sambil melihat-lihat beberapa kertas yang ada ditangannya. Baru saja kertas itu dikirim. Sena membuka pintu kantornya, pemandangan yang ada disana seperti biasanya. Taki Suzuna, mengantarkan kopi dan teh hangat untuk semua staff sambil bersenandung dengan in-line skatenya, Kaitani Riku yang sibuk mengetik di komputer yang ada didepannya, Raimon Tarou, atau biasa dipanggil Monta yang baru bersiap-siap akan membereskan barang-barangnya karena baru datang, dan terakhir di hadapan mereka semua terdapat seorang wanita berambut auburn yang sibuk menulis dan menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di meja yang besar. Ketahuan sekali bahwa wanita berambut auburn ini, Anezaki Mamori adalah ketua mereka.
"Ohayo, minna-san!" sapa Sena sambil tersenyum tipis.
"Ohayo, Sena-kun!" balas Suzuna ceria seperti biasanya.
"Ohayo, Sena!" Riku mengalihkan perhatiannya sejenak pada Sena lalu kembali lagi pada komputernya.
"Ohayo, Sena! Ehehehe" Monta cengar-cengir. Sena langsung berjalan menuju meja Monta untuk mengambil selotip yang ada diatas mejanya dan lanjut menuju ke papan pengumuman.
"Ohayo, Sena. Orang hilang lagi?" Mamori menyapa, sekaligus bertanya karena melihat beberapa lembar kertas yang dibawa dan ditempelkan di papan pengumuman berukuran 2x1.5 itu.
"Iya." Sena menjawab seadanya.
Kertas yang baru saja ditempel Sena berisi sebuah foto seorang laki-laki yang berusia sekitar 20-an, namanya Furuida Kusaka. Papan pengumuman itu dipenuhi dengan tempelan-tempelan, kebanyakan dari mereka adalah informasi orang hilang.
Mamori melihat lebih jelas wajah Furuida Kusaka itu "Akhir-akhir ini banyak orang hilang, kalian semua berhati-hatilah." semuanya mengangguk mengiyakan "Furuida Kusaka… hmm, Sena, Riku cari tahu lebih banyak lagi tentang laki-laki ini, dimana kira-kira terakhir dia tampak, apa yang akhir-akhir ini dia lakukan, dan sebagainya. Suzuna, kau ikut denganku sekarang."
"Hai, Mamo-nee!" Suzuna segera meletakkan nampan yang daritadi dia bawa dan mulai bersiap-siap.
~0.o.0~
"Mamo-nee, ini dimana?" tanya Suzuna yang kebingungan celingak-celinguk mencari petunjuk agar dia tahu dimana dia berada sekarang.
"Ahahaha, kau tidak pernah kemari ya? Wajar saja, kau 'kan belum lama bekerja disini. Itu sebabnya aku mengajakmu datang kemari untuk menambah pengamalan." sahut Mamori dengan santai sambil mengendarai mobilnya.
Mereka berdua sedang berada di jalan yang dimana tidak ada satu mobilpun selain mereka yang lewat. "Memangnya ini dimana?" tanya Suzuna yang mulai merinding karena jalannya sepi sekali, rasanya aneh karena pada jam-jam segini jalanan sepi, apalagi ini kota Tokyo.
Mamori tersenyum lembut. "Kita akan ke Claravice University."
Suzuna tercengang mendengar nama Claravice University. "Claravice University? Mamo-nee yakin? Memangnya ada perlu apa sampai kita harus ke sana?" Jika kau masuk ke Claravice University, berarti kau punya urusan yang sangat teramat penting, tidak hanya sekedar urusan walikota yang mati mendadak. Bahkan saat Suzuna menjadi polisi bagian penyelidikan, tidak pernah sekalipun dia terpikirkan untuk bisa masuk kedalam sana, barang sekalipun.
Claravice University terkenal dengan penelitian-penelitian yang bukan sembarang hal. Walaupun ini namanya universitas, tapi tidak ada tanda-tanda orang disana yang melakukan kegiatan seperti sedang mengambil kelas mata pelajaran mereka atau sebagainya. Tempat itu lebih mirip, atau lebih tepatnya seperti sebuah perusahaan yang penuh dengan orang-orang yang melakukan riset yang dimana semua orang, atau biasa disebut ilmuwan diwajibkan untuk menggunakan baju khusus untuk melindungi diri dari unsur-unsur tertentu yang mereka gunakan.
"Ada hal penting yang ingin aku ketahui." ujar Mamori, kali ini raut wajahnya serius, lebih tepatnya tegang.
~0.o.0~
"Ahahaha, maaf ya. Peraturan disini memang sangat ketat sekali. Jadi wajarlah kalau semua senjata kalian dibawa." ujar professor Yukimitsu.
"Bukan cuma senjata. Jepitan rambutpun begitu, bahkan kami tidak boleh memakai baju bebas. Kau tahu, baju ini sangat tidak nyaman sekali." balas Mamori sambil menarik-narik bajunya, berharap dengan begitu dia bisa lebih nyaman memakai baju khusus berwarna biru kehijauan yang coraknya sangat polos itu. "Dan in-line skate bawahanku juga disita, dia langsung terpuruk sampai tidak bisa berkata apa-apa." Mamori melanjutkan sambil menatap khawatir Suzuna yang daritadi diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun sejak in-line skate kesayangannya disita tadi.
Mereka berdua, Mamori dan Suzuna sedang berada di ruangan Prof. Yukimitsu, dengan diawasi oleh seorang laki-laki berbaju hitam, sikap laki-laki yang tegap dan tidak bergeming dari tempatnya berdiri membuatnya terlihat dia seperti tentara kemiliteran atau sebagainya. Mereka duduk berhadapan dengan Prof. Yukimitsu, di dalam ruangan yang dicat serba putih, membuatnya terlihat bahwa ruangan tersebut sangat higienis. Di belakang Prof. Yukimitsu terdapat beberapa layar. Ada yang besar, kecil, sedang, masing-masing dari layar itu menampilkan gambar-gambar rumit berwarna hijau aneh yang sulit dideskripsikan.
"Hmm, peraturan disini memang ketat sekali. Ini memang prosedurnya, mengingat hal-hal yang ada disini sangat sensitif sekali. Kami hanya berjaga-jaga. Silahkan diminum tehnya, ini rasa jasmine. Kau suka aromanya? Aku suka sekali, sangat menenangkan." Prof. Yukimitsu mengambil cangkir tehnya dan mencium aromanya, terlihat dia sangat menikmati aroma tehnya tersebut.
Mamori hanya meneguk sedikit. "Ehm, Prof, bagaimana dengan hasil penelitian bunga itu?"
"Ah, iya, aku hampir saja lupa dengan topik utama kita. Mengenai bunga itu, aku tidak terlalu tahu banyak. Yang aku tahu, pada buku-buku jaman Yunani kuno, bunga lily hitam pertanda malapetaka yang biasanya digunakan oleh para setan untuk memangsa manusia. Para setan ini, yang biasa disebut dengan Satan, hidup dari memakan jiwa manusia. Mereka menggunakan bunga lily hitam itu entah untuk apa. Bukan aku yang meneliti tentang bunga itu."
"Eh? Bukan kau? Lalu siapa?"
"Hmm, seorang professor baru yang masih muda, aku lupa namanya. Takumi? Takemi? Takami mungkin? Entahlah, aku tidak begitu ingat namanya". Tepat saat Prof. Yukimitsu mengatakan hal itu, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, menandakan ada orang yang masuk.
"Maaf mengganggu waktu anda sebentar, Prof. Yukimitsu, saya Prof. Takami. Bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."ujar laki-laki bertubuh tinggi itu sopan.
"Ah, benar! Prof. Takami, itu namamu. Baiklah kalau begitu. Maaf, Nyonya Anezaki, bisa mohon…" Prof. Yukimitsu sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, tapi dia memberikan tanda dengan menyilahkan Mamori dan Suzuna untuk menuju pintu keluar.
"Ah, tidak apa-apa, kami permisi. Terima kasih atas kerjasamanya, Prof. Yukimitsu. Ayo, Suzuna." Mamori beranjak dari duduknya dan menarik Suzuna untuk ikut keluar bersamanya. Suzuna hanya mengangguk lemah.
~0.o.0~
Mamori berjalan tegak menuju kantornya dengan Suzuna dibelakangnya. Sepertinya raut wajah Suzuna membaik setelah in-line skatenya dikembalikan saat mereka keluar tadi. Bisa membayangkan seorang anak kecil yang tertawa saat diberi permen, padahal beberapa menit yang lalu anak kecil tersebut menangis merengek-rengek? Kira-kira seperti itulah Suzuna saat ini.
Jujur, Mamori agak geli juga saat melihat tingkah Suzuna tadi. Ayolah, mereka bukan anak umur 5 tahun lagi, sekarang Suzuna sudah berumur 24 tahun. Bukan tingkah yang cocok untuk orang berumur 20an seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, Mamori merasa justru itulah sesuatu yang khas dari Suzuna, sesuatu yang berbeda dari orang lain sehingga tidak terkesan terlalu membosankan baginya, membuatnya merasa bahwa anak buahnya memiliki warna tersendiri yang bisa mewarnai hidupnya yang tampak abu-abu ini sedikit.
"Mamori, kebetulan sekali. Aku dan Sena baru saja selesai mencari data tentang Furuida Kusaka tadi." Riku melapor dan memberikan beberapa lembar kertas tentang data laki-laki yang baru menghilang itu. Mamori menerimanya dengan wajah serius dan membaca secara rinci dan duduk di tempatnya.
"Aku dan Riku tadi pergi ke tempat yang katanya Furuida terakhir kali terlihat, dan kami menemukan ini…" Sena menyerahkan sebungkus plastik transparan yang didalamnya terdapat bunga lily hitam yang seukuran 1 lengan orang dewasa.
Mata Mamori langsung melebar ketika melihat bunga yang diserahkan Sena itu. "Itu… Tadi aku dan Suzuna pergi ke Claravice University untuk bertemu dengan Prof. Yukimitsu, dan dia memberitahuku sedikit tentang bunga itu. Konon katanya bunga itu digunakan oleh para setan, yang biasa kita sebut dengan Satan, untuk memangsa jiwa manusia. Kalau memang yang dikatakan oleh Prof. Yukimitsu benar, maka kemungkinan besar Furuida Kusaka itu telah meninggal."
"Tapi bagaimana kalau bukan. Maksudku, jaman sekarang, Satan? Siapa yang masih percaya dengan hal itu? Maksudku, ayolah, apakah hal seperti itu benar-benar ada?" Riku yang daritadi menyimak dengan serius langsung membantah perkataan Mamori tadi.
"Well, jujur saja aku sendiri juga tidak yakin dengan hal itu. Tapi lihat kenyataannya, setiap kali dilaporkan ada orang hilang, kita selalu menemukan bunga itu. Sudah berapa kali kita menemukan bunga itu? 10 atau lebih entahlah, aku sendiri sudah tidak menghitungnya lagi." bela Mamori.
Memang benar apa yang dikatakan Mamori. Setiap kali ada kasus orang hilang, setiap kali itu juga mereka menemukan bunga lily hitam yang tidak jelas dengan asal-usulnya, dan nyatanya orang yang menghilang itu tidak pernah berhasil ditemukan, barang sekalipun tidak pernah. Mamori merasa kesal dengan mereka yang melakukan hal ini. Kira-kira setiap beberapa minggu sekali, selalu ada kejadian begini, semuanya bermula beberapa bulan yang lalu. Tepat saat Mamori baru saja menjabat sebagai kepala polisi divisi penyelidikan. Sepanjang sejarah kepolisian Jepang, tidak ada seorang wanitapun yang menjabat sebagai kepala polisi, itu artinya Mamori adalah wanita pertama yang berhasil manjabatnya.
"Jadi… apa yang harus kita lakukan?" tanya Sena kemudian.
"Well, aku sendiri tidak tahu bagaimana menghadapi yang satu ini. " Mamori menghela napas panjang kemudian menatap semua rekan-rekannya.
~0.o.0~
Kau tahu bagaimana rasanya mint? Pedas dan dingin? Benar, tepat sekali, Sembilan puluh untukmu. Kenapa tidak seratus? Uhm, well, karena seratus terlalu bagus untukmu. Kekeke. Kira-kira begitulah rasa permen karet yang daritadi aku kunyah ini. Tidak terlalu penting juga untuk kau ketahui.
Omong-omong, laki-laki malang yang aku lahap jiwanya tadi membuatku merasa menyesal karena telah melahapnya. Bukan, bukan menyesal karena aku kasihan padanya, melainkan karena jiwanya tadi membuat seluruh badanku kurang enak dan hal itu sangat kusesali. Harusnya jiwanya aku hancurkan saja menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil dari udara!
Bodoh sekali jika ada orang yang beranggapan bahwa jenis Satan sepertiku akan menyesal dan kasihan pada jiwa yang barusan kami lahap. Peluangnya sangatlah kecil. Yah, kuakui peluang kecil bukan berarti tidak ada, tapi peluangnya hanya satu banding satu juta kemungkinan yang ada. Kekeke.
Harus kuakui, menunggu dan mencari mangsa sangatlah membosankan. Kau tahu, walaupun disekitarku ada miliyaran manusia, tapi aku tidak sembarangan memangsa jiwa mereka, aku menaruh selera yang tinggi disana. Seperti ketika kau diberi 2 pilihan antara kentang berkualitas tinggi dan kentang berkualitas rendah. Yang mana yang akan kau pilih? Nah, kasusmu tadi itu hampir sama denganku, kecuali kentangnya. Kalau kau bisa mendapatkan yang lebih baik, kenapa tidak?
Sepertinya aku harus cepat-cepat mencari mangsa baru, jiwa yang kulahap tadi tidak akan bertahan lama untukku. Kau tahu, jiwa laki-laki itu benar-benar kotor sekali, sampai-sampai membuatku tidak enak badan. Oleh sebab itulah aku menaruh selera yang tinggi agar nantinya jiwa mereka tidak membuatku merasa tidak enak badan.
Hn? Kau bertanya apa maksudku dengan jiwa yang kotor? Keh, tidak ada hubungannya denganmu, tapi baiklah akan aku perjelas agar nantinya kau tidak banyak bertanya. Jiwa yang kotor itu artinya sang pemilik jiwa tersebut bukanlah orang yang baik, dia penuh dengan keserakahan, kebodohan, kebencian yang menduniawi blablabla yang biasanya sifat-sifat buruk itu bisa kau temui di sifat nenek sihir yang biasanya ada di dalam buku-buku dongeng. Kalau kami, para Satan memakan jiwa-jiwa kotor sialan itu, tubuh kami akan secara otomatis menyaringnya, tapi yah, sebenarnya karena menyaring jiwa-jiwa kotor itulah yang membuatku tidak enak badan. Kadang ada untungnya juga memanfaatkan sifat malaikat baik hati yang suka menolong, karena itu berarti aku tidak perlu repot-repot menyaringnya. Mengerti penjelasanku? Bagus.
Oh, kilauan-kilauan apa yang menyinari sekujur tubuh gadis berambut auburn itu? Dia berada di kantor polisi, bagian penyelidikan yang letaknya sekitar 429 meter dari aku berada sekarang. Polisikah? Hmm, bagus, itu membuatku lebih yakin lagi bahwa dia memiliki jiwa yang bersih. Polisi biasanya berbuat baik 'kan? Tidak pernah kulihat ada manusia yang lebih bercahaya dari itu, auranya maksudku.
Sudahkah aku memberitahumu dimana aku berada sekarang? Yap, aku berada diatas bangunan tua yang sudah bobrok yang letaknya di samping gang kecil nan kotor sambil menikmati hembusan angin senja, daritadi aku mengintai mangsa disana, dan sudah kutemukan mangsa baruku. Aku yakin, rasa jiwanya pasti sangatlah lezat.
Tunggu, aku merasakan ada Satan lain yang juga mengincar mangsaku. Dan, yah, dugaanku tepat sekali. Sekitar 182 meter dari arah timur laut, ada seekor Satan sialan yang ingin mencoba bersaing denganku. Aku bisa melihat air liur yang sudah menetes dari sudut-sudut mulutnya. Menggelikan.
Aku mencoba melihat aura Satan sialan itu, dan hasilnya dia hanya Satan sialan kelas teri. Kucoba untuk mendekatinya dengan cara melompati bangunan-bangunan yang ada, berusaha jarak kami tidak kurang dari 10 meter dan memancarkan aura Satanku yang hitam pekat. Dia yang daritadi hanya memandang mangsaku akhirnya mengalihkan pandangannya kearahku. Bisa kulihat raut wajahnya yang mulai berubah ketakutan. Aku menyeringai, selebar-lebarnya seperti biasa, menampakkan gigi-gigi runcing milikku.
"Hei kau, Satan teri sialan! Berani juga kau mengincarnya! Kekeke" aku terkekeh seperti iblis. Tidak, tidak, aku memang iblis.
Aura Satan teri sialan yang memang sudah kecil daritadi, sekarang tambah menciut lagi, sampai-sampai aku agak kesusahan juga untuk melihat auranya yang ciut itu. Ketakutan 'heh? Aku tetap berdiri di tempat sampai akhirnya dia yang perlahan-lahan mundur dan kabur. Pilihan yang bagus, Satan sialan. Setidaknya kau tidak mencoba untuk melawanku. Kekeke.
Kembali lagi ke gadis berambut auburn itu yang kelihatannya seperti polisi. Berbagai rencana dan strategi berjejer dalam otakku, menyusunnya dengan rapi seperti kartu, lalu memilih strategi yang kira-kira paling efektif untuknya. Aku melihatnya yang sedang meneguk kopi lalu membereskan kertas-kertas yang daritadi menumpuk di meja kerjanya bersiap-siap untuk pulang. Melihat tanda-tandanya yang akan pulang, spontan aku menyeringai lebar.
Rabu, Kediaman Anezaki Mamori, 06.15 p.m
Tampak sebuah mobil sedan hitam milik dinas terparkir rapi di depan rumahnya, lalu beberapa saat kemudian seorang wanita berambut auburn keluar dari mobil yang dikendarainya, dengan sebelah tangan kiri memegangi setumpuk kertas kerjanya dan tangan kanan yang memegang kunci mobil. Dia langsung menekan tombol untuk mengunci dan lampu mobilnya menyala lalu padam lagi pertanda bahwa mobil sudah terkunci.
Lalu wanita itu, Anezaki Mamori, sambil berjalan menuju pintu rumah memasukkan kunci mobil kedalam tasnya yang dia gantung di lengan kanannya, dan mengambil kunci rumah. Mamori memasukkan kunci ke lubang kunci lalu memutarnya. Tidak bisa. Kuncinya tidak bisa diputar, itu artinya pintu tidak terkunci. Mamori langsung masuk kedalam rumahnya.
Di dalam rumahnya tampak gelap, tidak ada satu lampupun yang menyala. Aneh, pikirnya. Padahal biasanya ayah dan ibunya sudah ada di rumah pada jam-jam segini. "Kaa-san, Tou-san?" Mamori memanggil, sambil melirik-lirik isi rumah, manatahu dengan begitu dia bisa mendapatkan petunjuk dimana ayah dan ibunya berada. Mamori menyalakan saklar lampu, dan alhasil lampu menyala.
Tapi tidak ada tanda-tanda orangtuanya di dalam sana. Mamori langsung menaruh semua barang-barangnya yang daritadi dia bawa di sofa yang letaknya di ruang tamu. "Kaa-san, Tou-san?" panggilnya sekali lagi, kali ini suaranya lebih keras karena dia berpikir mungkin tadi orangtuanya tidak mendengar suaranya. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang menyahut. Rasa panik langsung menyerangnya, Mamori menuju rak sepatu untuk melihat apakah sepatu yang biasa orangtuanya pakai atau tidak. Dan memang benar, sepatu mereka tidak ada, itu berarti orangtuanya tidak berada di rumah.
Mamori segera mengambil handphonenya yang ada didalam tas dan menelepon orangtuanya. Awalnya dia menelepon ibunya lebih dulu, tapi ternyata ibunya tidak membawa handphonenya, karena Mamori melihat telepon genggam ibunya berbunyi di atas meja makan. Lalu dia menelepon ayahnya tapi hasilnya juga sama, telepon genggam ayahnya juga ada di rumah.
Tunggu, tunggu. Telepon genggamnya ada di rumah? Itu berarti orangtuanya sudah pulang, tapi mereka berdua pergi keluar tanpa membawa handphonenya, lupa mungkin. Tapi tidak biasanya mereka begini, perasaan khawatir langsung menjalarinya.
Wanita itu langsung keluar rumah dan syukurlah salah satu tetangganya sedang berada diluar. Mungkin tetangganya tahu kemana orangtuanya pergi. Tapi sebelum Mamori bertanya, tetangganya yang dengan raut wajah kaget berkata "Mamo-chan. Kenapa masih disini? Kau tidak ke rumah sakit melihat orangtuamu? Tadi 'kan ayahmu kecelakaan lalu lintas, ibumu yang mengetahuinya langsung shock dan penyakit jantungnya kambuh. Makanya tadi di depan rumahmu ramai sekali."
"Eh? A―Apa?" Mamori langsung kalut. Seluruh badannya terasa kaku karena kaget dengan kabar itu.
"Iya, memangnya tidak ada yang memberitahumu? Astaga, lebih baik sekarang kau pergi ke rumah sakit Deimon." ujar tetangganya lagi.
Mamori mengangguk cepat. Iya, itu dia, sekarang yang harus dia lakukan adalah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Tapi sebelumnya dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sejenak. "Te―terima kasih atas informasinya, bu". Walaupun dalam keadaan panik begini, tidak sopan kalau tidak mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita, sekecil apapun itu.
Dia langsung berlari menuju rumahnya untuk mengambil tas, serta handphone kedua orangtuanya entah untuk apa, dia hanya ingin membawanya saja, walaupun dia tahu hal itu tidak akan berguna. Dan segeralah dia menyalakan mobilnya menuju rumah sakit.
Rabu, Rumah Sakit Deimon, 06.35 p.m
Masih dengan baju kerjanya dia berjalan agak tergesa-gesa, mencari nomor kamar dimana ibunya dirawat. Untuk sementara ayahnya tidak bisa dijenguk dulu karena kondisinya terlalu kritis. Sebenarnya kondisi ibunya tidak bisa dibilang baik-baik saja, hanya saja ibunya tidak sekritis ayahnya. Mamori menanyakan nomor kamar ibunya setelah mengurus administrasi.
Setelah menemukan kamar ibunya dirawat, Mamori menarik napas dalam-dalam supaya tenang dulu, lalu memutar knop pintu dan masuk dengan perlahan. Awalnya dia mengintip sedikit, untuk mengetahui keadaan ruangan itu, manatahu ada pasien lain yang dirawat juga. Tapi ternyata tidak ada. Ibunya sendirian, lalu Mamori menutup pintunya pelan-pelan. Suasana didalam sana sepi sekali sampai-sampai Mamori hanya bisa mendengar suara detakan jam dinding dan suara alat pemantau denyut jantung.
Mamori melihat kondisi ibunya yang koma, badannya langsung melemas. Dia berjalan dengan lesu mendekati ibunya, lalu menarik sebuah kursi yang tak jauh dari sana untuk duduk di samping tempat tidur ibunya. Tak tertahankan lagi, air mata membasahi kedua pipi mulusnya. Rasanya sulit dipercaya. Padahal kemarin ayah dan ibunya masih bisa bercanda dan tertawa, tapi sekarang, mereka berdua dalam kondisi tak sadarkan diri di rumah sakit.
Tiba-tiba handphone Mamori berbunyi, menandakan ada mail yang masuk.
From: Suzuna
Subject: No subject
Message: Mamo-nee, kau dimana? Kami ingin makan malam di restoran yakiniku dekat kantor. Kau mau ikut?
Mamori membacanya, lalu menekan tombol Reply.
To: Suzuna
Subject: No subject
Message: Maaf, Suzuna, aku tidak bisa. Kaa-san dan Tou-san sedang dirawat dirumah sakit. Aku harus menjaga mereka.
Tak lama kemudian, Suzuna membalas.
From: Suzuna
Subject: No subject
Message: Apa? Dirawat di rumah sakit? Baiklah kalau bagitu. Cepat sembuh ya
Mamori menatap layar handphonenya datar. Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang? Dia menundukkan kepalanya, merenungi nasib kedua orangtuanya dan dia mulai terisak-isak lagi.
"Aku bisa membantumu."
DEG!
Sepertinya tadi dia mendengar ada suara laki-laki yang berbicara. Mamori terdiam, mendengarkan sekitar lebih seksama untuk memastikan kalau suara tadi hanya perasaannya saja.
"Keh, kau tidak dengar aku bilang apa? Aku bilang aku bisa membantumu." Mamori yakin kalau dia tidak hanya berhalusinasi. Dia langsung membalikkan badan, kearah suara tadi terdengar. Dan yang benar saja, dia melihat ada sesosok laki-laki yang putih jangkung, dengan rambut spike berwarna kuning, seringaian yang lebar dan terkesan mengerikan, sedang melipat kedua tangannya didepan dada dengan kaus putih berlengan panjang dan celana panjang.
Mata Mamori melebar dan dia spontan kaget, sehingga nyaris menjatuhkan tas yang ada di pangkuannya. "Siapa kau?"
Laki-laki itu tambah menyeringai lagi, yang menampilkan deretan runcing giginya "Menurutmu? Kekeke" kekehan pria itu terkesan jahat.
Mamori tidak menjawab, hanya menatap lurus ke pria misterius didepannya, dia mendekatkan dirinya dengan tempat tidur ibunya, berusaha melindungi ibunya. Sang pria yang melihat pertanyaannya tidak dijawab akhirnya mengehela napas pendek "Huh, kau tidak bisa diajak bercanda ya. Sikapmu itu terlalu serius. Ayolah, kau tidak mungkin semembosankan begini."
"Siapa kau?" ulang Mamori.
"Ah, memang tidak bisa toleransi ternyata. Aku Hiruma."
"Apa maumu?" tanya Mamori lagi.
"Aku 'sih tidak ada maunya. Aku hanya menawarkan jasa." pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Hiruma menyeringai. Rasanya seringaian itu tidak mudah lepas dari wajahnya.
Mamori memicingkan mata, pertanda dia sedang menilai si Hiruma. "Aku bisa membantumu. Ini yang ketiga kalinya aku mengulangi kalimat yang sama padamu. Tidak adakah respon darimu yang lebih baik untuk orang yang bisa membantumu? Kekeke" lagi-lagi pria kekehan pria itu terdengar, membuat bulu roma Mamori berdiri.
"Kau bilang kau bisa membantuku. Lalu apa imbalannya?"
"Hoo, tidak hanya baik, tapi juga pintar rupanya kau. Kekeke" pria itu suka sekali terkekeh rupanya.
"Tolong, bisakah kau berhenti terkekeh seperti itu?" pinta Mamori. Hiruma yang melihat bulu roma yang ada di tangan Mamori berdiri semua akhirnya mengerti.
"Ternyata kau takut dengan kekehan ku, heh?" seringaian Hiruma yang tadi sudah hampir hilang, kini muncul lagi.
"Apa yang harus aku lakukan jika kau membantuku?" tanya Mamori to the point. Rasanya dia tidak bisa berbasa-basi dengan pria di hadapannya ini.
"Keh, tentu saja… nyawamu." Mamori merasa melihat ada aura hitam aneh yang dipancarkan oleh Hiruma, tapi tidak digubris olehnya karena merasa itu hanya sebuah halusinasi atau mungkin ilusi mata.
"Apa kau bilang? Nyawaku? Jangan bercanda! Kau ini apa?" keringat dingin mulai membasahi keningnya. Tidak masalah, ini bukan pertama kalinya Hiruma dibentak seperti ini.
"Aku? Aku adalah Satan." Ekspresi Hiruma? Jangan ditanya lagi, karena dia sudah pasti sedang menyeringai.
~0.o.0~
Kamis, Kepolisian Jepang, Bagian Penyelidikan, Tokyo 08.00 a.m
"Ahahaha, jadi begitulah, aku tersandung kakiku sendiri lalu jatuh, dan akhirnya lenganku jadi terluka begini." Mamori menceritakan kejadiannya jatuh sambil memperlihatkan lengan kirinya yang dia tutupi dengan perban. Dengan melihatnya saja kita bisa mengira-ngira bahwa luka yang dialami Mamori tidaklah kecil.
Semuanya memperhatikan lengan kiri Mamori, terutama Suzuna. "Aduh, Mamo-nee, lain kali harus berhati-hati. Oh iya, bagaimana dengan kondisi orangtua Mamo-nee?"tanya Suzuna dengan wajah prihatin, baik pada luka yang dialami Mamori serta yang dialami kedua orangtuanya.
Mamori tersenyum ceria "Mereka sudah jauh lebih baik. Kaa-san sudah bagun dari komanya dan Tou-san sudah melewati masa-masa kritisnya dan sudah bisa dijenguk. Kata dokter, kira-kira besok atau lusa Tou-san seharusnya sudah siuman." raut wajah Mamori sangat ceria, itu menandakan memang kondisi orangtuanya sudah membaik.
"Benarkah? Wah, aku turut senang mendengarnya, Mamo-nee!" ujar Suzuna.
"Baguslah kalau begitu, Mamori." Sena dan Riku memberi selamat pada Mamori, begitupula dengan Monta.
Tidak adakah yang merasa ini aneh? Tiba-tiba hidup rasanya mudah, dan banyak kemujurannya, serta luka yang ada di lengan kiri Mamori. Oh, ternyata tidak ada.
Kamis, Rumah Sakit Deimon, 05.30 p.m
"Kaa-san, selamat sore." sapa Mamori pada ibunya. Mamori meletakkan sekantung plastik berisi buah-buahan yang baru saja dia beli di Supermarket dekat rumah sakit. Ibunya tidak membalas sapaan Mamori, hanya tersenyum padanya, karena masih lemas mungkin?
"Maaf ya, Kaa-san, Mamori tidak bisa pulang lebih cepat lagi karena pekerjaannya tidak bisa dikompromi." Lalu Mamori mengeluarkan sebutir apel dan mulai memotongnya. Merasa terus diperhatikan, akhirnya Mamori menoleh kearah ibunya. Terlihat ibunya tengah menatap lengan kiri Mamori, mengikuti arah pandang ibunya, akhirnya Mamori mengerti. "Ah, ini bukan apa-apa 'kok. Kemarin aku tersandung kaki sendiri dan lenganku jadi terluka. Ini hanya luka kecil."
Mamori memperlihatkan senyumnya yang paling manis yang dia bisa agar tidak membuat ibunya khawatir. Saat Mamori hendak memberikan apel yang dia potong, tiba-tiba saja Hiruma sudah ada di sisi lain tempat tidur dengan kedua tangan dilipat didepan dada. Hal itu membuat apel yang dipegang Mamori nyaris terjatuh.
"Hiruma? Kau mengagetkanku."
"Keh, tidak sopan sekali. Jadi begini ucapannya pada orang yang sudah menemani ibumu dari tadi pagi, heh?" nada suara Hiruma terdengar kasar dan seperti orang marah-marah. Entah hanya perasaan Mamori saja atau memang begitu keadaannya. Mamori membalasnya dengan tatapan menyelidik.
"Wajar 'kan? Kita ini 'kan 'berteman'." Hiruma menekankan pada kata berteman, lalu dia melihat ke lengan kiri Mamori yang dibalut dengan perban. Hirumapun menyeringai menang dengan hal itu. Ibu Mamori yang mengikuti arah pandang Hiruma merasa bingung. Apa jangan-jangan luka Mamori ada hubungannya dengan Hiruma? Merasa mendapat tatapan aneh dari ibunya, Mamori langsung izin untuk keluar karena ingin mengurusi administrasi dan lain-lain, padahal sebenarnya dia ingin kabur dari mereka berdua dulu sebentar. Rasanya sulit untuk menerima semuanya begitu saja.
*Flashback*
"Satan? Maksudmu? Ja―Jadi selama ini kau yang memangsa jiwa-jiwa manusia? Kau…" Mamori tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Badannya gemetaran karena takut.
Hiruma menempelkan jari telunjuk dan jempolnya di dagu dan membuat ekspresi seperti sedang berpikir."Hmm, bagaimana ya? Kalau iya?" diapun menyeringai.
Mamori tidak sanggup berkata-kata, badannya gemetaran terus. "Tenang, aku tidak memangsa jiwamu. Setidaknya belum. Kami punya hukum yang mengikat kami." lalu dia menunjukkan Mamori sebuah buku merah pekat darah yang diberi judul The Law of Satan yang entah muncul darimana, tiba-tiba ada di tangan Hiruma. Dengan tatapan tidak yakin, Mamori memandang buku itu tapi tetap saja pandangannya tak luput dari Hiruma. Apa jaminannya kalau Hiruma berkata jujur? Bagaimana kalau ternyata Hiruma hanya mengecohnya saja, lalu saat dia menatap buku merah pekat itu Hiruma langsung menyerangnya dan memakan jiwanya? Tidak, tidak, Mamori tidak siap untuk mati, setidaknya belum siap.
"Ehem! Jadi, menurut buku sialan ini…" Hiruma membuka halaman tertentu dan mulai membacakan isinya untuk Mamori "Setiap Satan yang membutuhkan nyawa manusia untuk dikonsumsi, wajib melakukan kontrak resmi terlebih dahulu. Dan Satan yang ingin membuat kontrak harus menjelaskan pada manusia serinci-rincinya tentang semua aturan-aturan maupun syarat-syarat yang berlaku, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Bagi Satan yang tidak bisa mengikuti peraturan-peraturan yang tertera, maka akan mendapatkan hukuman yang sesuai. Cih, setiap kali membacakan ini lidahku selalu kelu, dasar peraturan sialan."
Dari setiap kata-kata yang dibacakan Hiruma tadi, sebenarnya Mamori tidak begitu menyimak karena terlalu ketakutan, tapi dia bisa mengerti apa maksud dari kata-kata barusan. "Jadi kita harus membuat kontrak dulu, lalu kau bisa mengambil jiwaku, begitu?"
"Iya, tapi selama kontrak itu belum habis, kau bisa meminta apapun yang kau mau padaku." tambah Hiruma.
Mamori tampak berpikir sebentar, "Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan tawaran kontrakmu." Mamori menatap lurus ke mata Hiruma, nadanya tegas walaupun masih gemetar sedikit.
"Ohya? Lalu bagaimana dengan orangtuamu?"
Mamori tampak tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Hiruma. Memang, ayah dan ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Dan memang, keadaan mereka berdua tidak bisa dibilang dalam keadaan baik-baik saja, tapi Mamori yakin bahwa orangtuanya bisa sembuh, tanpa bantuan Satan.
Tiba-tiba Hiruma melempar sebuah map biru berisi kertas-kertas yang diatasnya ada logo rumah sakit. Darimana Hiruma mendapatkan ini? Lalu Mamori menatap Hiruma. Tatapan Hiruma seakan-akan mengatakan hanya sekedar info kecil. Penasaran dengan isi kertas itu, Mamoripun membukanya dan membacanya satu per satu.
Awalnya dia melihat laporan kesehatan ibunya dulu, memang tekanan darah dan jumlah sel darah merahnya agak kurang dari standar. Bukan masalah besar, pikir Mamori. Selanjutnya dia melihat hasil laporan kesehatan ayahnya, disana ada banyak sekali kata-kata latin yang tidak dimengerti Mamori, jadi dia mengabaikannya saja, berharap semoga itu bukan hal yang buruk. Dan dibelakang laporan ayahnya, ada sebuah kertas putih, seperti amplop untuk hasil radiologi, yang diatasnya tertera nama ayahnya. Mamori juga membuka amplop itu dan melihat lembar X-Ray pertama. Dia bisa melihat gambar tengkorak ayahnya, yang cekung di beberapa bagian dan juga dia bisa melihat retakan-retakan besar dekat cekungan-cekungan itu. Kaget, karena Mamori pernah mempelajari sedikit tentang bagaimana hasil tengkorak saat di X-Ray seharusnya. Otak ayahnya bisa rusak kalau melihat tempurung kepalanya begini.
Lalu lanjut ke lembaran kedua. Mamori melihat sejenak dan langsung tahu bahwa itu adalah gambar tulang rusuk. Tapi ada hal yang aneh juga, tulang rusuk kiri ayahnya patah dan bergeser agak keatas. Hal ini sangat teramat mengagetkannya, hidungnya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Kalau tulang rusuknya sampai begini, bagaimana dengan paru-paru dan jantung ayahnya? Apakah terjadi sesuatu dengan salah satu organ terpenting manusia itu? Semoga saja tidak, pikiran Mamori berusaha untuk berpikir positif.
Saat hendak melihat lembaran ketiga, Mamori menarik napas dalam-dalam menguatkan mental dan berharap semoga lembaran ketiga ini tidak lebih buruk dari hasil-hasil lainnya. Akhirnya Mamori melihatnya. di lembaran ini tidak hanya ada satu gambar, tapi ada beberapa gambar. Itu gambar tulang yang patah dan retak-retak, Mamori sendiri bahkan tidak yakin gambar tulang apa itu, tangan dan kaki mungkin. Entahlah. Melihat semua laporan itu, Mamori langsung tidak kuat menahan tangisannya lagi, dia langsung menangis terisak-isak.
"Jadi, bagaimana?" tiba-tiba Hiruma bertanya sambil menunjukkan plastik tebal berwarna hitam putih itu yang menunjukkan gambar kerangka kepala ayahnya. Mengingatkan bahwa kondisi ayahnya sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak, Tou-san pasti masih bisa bertahan, aku yakin itu. Dia pasti bisa, tanpa bantuanmu." Mamori berusaha menekankan pada kata 'bantuanmu'.
Melihat respon Mamori, Hiruma menggelengkan kepalanya sambil berdecak "Kau yakin? Ini dibagian kepala, kau lihat sendiri bagaimana hancurnya tulang tengkorak ayahmu ini. Kalaupun dia bisa sadar nanti, kemungkinan untuk radang membengkak di otak sangatlah besar, sekitar 80% mungkin atau lebih? Dan kau tahu apa akibatnya? Mati mendadak. Apa artinya dia koma selama itu kalau ujung-ujungnya dia tidak akan bertahan lama. Bagaimana dengan biaya rumah sakitnya?"
Sejenak pikiran Mamori terbuka sedikit, tawaran Hiruma agak menariknya, tapi dia menggeleng keras. Tidak, dia tidak bisa melakukan ini. Hiruma melihat Mamori yang masih bersikukuh dengan pendapatnya sendiri "Aku salah menilaimu. Kukira kau adalah gadis berhati murni yang siap menolong orang, tapi ternyata aku salah. Kenapa? Kau takut kau akan mati? Jadi kau tidak peduli dengan ayahmu? Egois sekali." Hiruma membuang lembaran hasil radiologi itu ke lantai dan beranjak pergi meninggalkan Mamori yang masih mematung.
Mamori sangat bimbang. Apa yang harus dilakukannya? Di satu sisi, ya, dia memang takut nyawanya direnggut. Tapi di sisi lain benar apa kata Hiruma, nyawa ayahnya sekarang ada di tangannya. Anezaki Mamori! Peduli setan, Hiruma ini satu-satunya cara agar Tou-san bisa selamat! Pikiran itu mulai terngiang-ngiang di otaknya, seperti bisikan-bisikan halus.
"Hiruma, tunggu!" panggil Mamori.
*End of Flashback*
"Jadi kau menutupi tanda itu dengan perban? Pintar juga. Tapi mau sampai kapan kau berpura-pura cedera begitu?" Hiruma yang tiba-tiba muncul di belakang Mamori langsung berkomentar tentang tanda kontrak mereka. Mamori awalnya kaget, tapi dia tidak berniat untuk menjawab Hiruma.
Mamori tanpa berkata-kata langsung masuk kedalam kamar dimana ibunya dirawat lagi. Dia ingin berpamitan dulu kepada ibunya. Bukannya ingin jadi anak yang tidak berbakti dengan tidak menemani ibunya. Tapi rasanya dia jadi malas kalau Hiruma juga ada di rumah sakit. Lagipula Mamori sudah meminta―memerintah―Hiruma untuk menjaga ibunya selama dia tidak ada.
Itu sebabnya Hiruma ada di rumah sakit dari tadi pagi. Awalnya Mamori tidak percaya bahwa Hiruma benar-benar menemani ibunya, tapi setelah dia menanyakannya langsung pada ibunya. Ibunya mengangguk. Itu tandanya Hiruma serius.
~0.o.0~
Dalam kamarnya dengan lampu yang remang-remang, Mamori melihat refleksi dirinya sendiri di depan cermin yang ada di meja riasnya. Kalau dipikir-pikir, perkataan Hiruma benar juga. Dia tidak bisa berpura-pura terus kalau lengannya terluka. Mamori mulai berpikir sejenak lalu beranjak ke lemari bajunya dan mengeluarkan beberapa baju berlengan panjang. Untung saja ini sudah akan masuk ke musim dingin, jadi dia tidak akan nampak aneh kalau memakai kaus berlengan panjang. Tapi untuk sementara waktu, dia akan tetap berpura-pura. Aneh 'kan kalau tiba-tiba dia sembuh begitu saja, orang bisa curiga.
~0.o.0~
Entah kenapa aku merasa bahwa sesuatu yang tidak aku harapkan akan terjadi. Daritadi aku diselimuti oleh rasa gelisah dan risih. Entah apa yang akan terjadi. Aku melirik ke arah jam dinding yang daritadi berdetak dengan berisiknya. Jam tersebut sudah menunjukkan jam 2 pagi. Kenapa manusia tidak membuat jam dinding berdetak tanpa suara saja? Berisik sekali.
Aku berdiri menatap ke luar jendela rumah sakit. Sebenarnya pemandangannya indah, penuh dengan kerlap-kerlip yang berasal dari rumah dan bangunan sekitar sana. Apalagi kamar dimana aku berdiri ini berada di lantai 8, lampu-lampu itu jadi terlihat semakin indah. Tapi aku tidak akan bertahan lama melihat pemandangan seperti itu. Hal itu membuatku bernostalgia dengan hal yang tidak ingin aku ingat. Kau bertanya apa itu? Keh, aku tidak yakin apakah aku bisa menceritakannya dengan baik atau tidak.
Intinya itu tentang ibuku. Kalau tentang ibuku, apa yang kalian pikirkan tentang sosoknya? Lemah lembut dengan rambut panjang? Tidak, kalau kau berpikir seperti itu, berarti kau salah besar. Ibuku sama sekali tidak lemah lembut, bahkan rambutnya pendek seleher. Dia orang yang bicaranya kasar, tapi di balik kata-katanya dia sebenarnya membuka pikiran kita dan berusaha membangkitkan kita dengan caranya sendiri. Ibuku adalah panutan bagiku. Bukannya aku memujinya atau apalah itu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Berbicara tentang fakta dan memuji adalah 2 hal yang berbeda.
Hmm, tentang kerlap-kerlip cahaya rumah, dulu setiap kali aku dan dia berkeliling di dunia manusia ibuku selalu menyuruhku melihat kerlap-kerlip cahaya itu.
"Hei, anak tengil! Tidakkah kau merasa bumi itu indah?" ujar seorang wanita dengan cengirannya yang lebar sambil duduk di atap bangunan tinggi. Wanita itu dengan santainya mengayun-ayunkan kakinya sambil menikmati terpaan angin kencang.
"Ya, ya, terserah kau saja. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin pulang, Mikira! " balas Hiruma kecil yang tampak tidak peduli.
Kesal dengan anaknya, lalu diapun menjitak keras kepala Hiruma "Setidaknya jangan panggil aku dengan namaku, bodoh! Kau tidak pernah memanggilku ibu barang sekalipun, Chichi sialan! Tidak ada sopan santunnya!"
"Apa? Chichi? Nama macam apa itu? Itu nama yang cocok untuk burung pipit, Mikira sialan!" Hiruma berseru kepada ibunya.
Jitakan keras kembali diterima Hiruma "Sudah kubilang jangan panggil aku dengan namaku, bodoh! Namamu 'kan Youichi. Memangnya tidak boleh kalau aku mengambil Chinya saja? Itu nama kesayangan sialan untukmu bodoh!"
"Apa? Mikira bodoh! Lebih baik aku tidak punya nama panggilan! Kau bisa memanggilku dengan nama asliku saja 'kan?"
"Hah? Tapi ibumu yang baik ini tidak mau memanggilmu begitu. Aku lebih suka memanggilmu Chichi." memasang tampang remeh pada anaknya. Saat Hiruma akan membalas ucapan ibunya, tiba-tiba dia merasa ada yang memegangi kepalanya. Ibunya.
"Sudahlah, nikmati saja pemandangan sialan ini. Kau lihat betapa indahnya pemandangan ini? Satan seperti kita kadang butuh pemandangan seperti ini juga." tersenyum lembut, baru kali itu Hiruma menyadari sisi lembut dari ibunya. "Jangan sia-siakan waktumu. Nikmati saja, kau tidak akan bisa melihat yang seperti ini di dunia kita." Hiruma masih terpaku dengan ekspresi wajah ibunya barusan.
Tidak pernah dia melihat ibunya bisa tersenyum lembut. Biasanya yang dia lihat dari ibunya hanyalah cengiran mengejek dan meremehkan. Melihat putranya yang terpaku tidak memberi respon akhirnya dia berujar "Kalau kau tidak menikmati pemandangan ini, kau tidak akan kuantar pulang! Bisa apa anak tengil kecil sepertimu pulang sendiri! Bwahahaha!" ibunya tertawa jahat penuh kemenangan.
Mendengar kata tidak boleh pulang, Hiruma langsung tersadar dari lamunannya. Tidak, tidak, dia tidak bisa tinggal disini. Dia tidak tahan. Dengan sangat teramat terpaksa dia menatap lampu-lampu yang tampak kecil dari atas bangunan kokoh itu. Hiruma memperhatikan setiap lampu-lampu itu. Lama-kelamaan dia mulai terlena dengan keindahan lampu itu dan menikmatinya.
Seperti video lama yang berputar di otak sialanku. Tepat saat aku membalikkan badan, kulihat ada kakakku yang sudah muncul di hadapanku. Aku tidak kaget dengan kehadirannya, aku sudah siap kalau-kalau dia akan datang. Clifford. Apa yang dia inginkan sekarang? Menyuruhku pulang?
"Ayo pulang." Keh, lihat 'kan apa kataku barusan? Terbukti kalau aku tidak salah. Dia memang selalu begitu, tidak ada basa-basinya. Wajahnya saat mengatakan hal barusan juga datar sekali, dia tidak suka menampilkan ekspresi wajahnya.
"Tidak." Aku dengan tidak pedulinya menjawab. 1 kataku barusan membuatnya terdiam cukup lama. Tidak biasanya dia begini. Pasti ada suatu hal serius yang terjadi, bukan hanya sekedar ayahku yang menyuruhnya begitu.
Kulihat dia mulai menghela napas panjang, "Pulanglah, kau bukan Satan rendahan dan kau tahu itu. Jadi, untuk apa kau mengikuti ujian tak bermutu seperti ini?"
Baiklah, apakah kau mengerti maksud kakakku? Tidak? Apa perlu kujelaskan? Oh, well, baiklah. Sebenarnya hanya Satan yang sedang menjalani ujian yang boleh ke dunia manusia. Dan itupun hanya Satan kelas teri yang melakukannya. Itu hanya untuk membuktikan bahwa kau layak disebut Satan. Aku kabur dari istana dan berpura-pura menjadi Satan biasa. Dan sialnya, petugas disana mengira aku adalah Satan tak berpengalaman, aku sudah mengatakannya pada mereka dan menunjukkan aura Satanku yang hitam pekat, tapi dengan bodohnya mereka mengatakan "Kalau kau memang bisa, untuk apa kau takut mengikuti ujian ini?"
Begitulah ceritanya, makanya aku sekarang terperangkap di dunia manusia ini. Tapi jujur, harus aku akui, tinggal disini tidaklah terlalu buruk. Walaupun tidak berarti aku suka. Tinggal di duniaku sendiri rasanya lebih tenang dan lebih cocok untukku.
"Ayah sialan itu yang menyuruhmu 'kan?"
Tampak dia berpikir sebentar. "Tidak. Ini murni kemauanku sendiri." Kata-katanya tadi membuatku kaget. Apa? kemauannya sendiri? Sial, aku pasti salah dengar. Kakakku tampak berpikir lagi dan akhirnya melanjutkan kata-katanya "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
~0.o.0~
Aku masih berdiri didalam kamar ibu Mamori dirawat dengan kedua tanganku yang kumasukkan kedalam saku. Kenapa ke dalam saku? Biasanya laki-laki akan tampak lebih keren kalau gayanya begini 'kan? Lagipula saat aku tidak memasukkan tangan ke dalam saku juga sudah keren kok. Tapi ini serius, aku sedang tidak ingin bercanda sekarang.
Aku terus memikirkan perkataan Clifford tadi. Aku tidak tahu haruskah aku senang atau malah kesal karena hal ini cukup merepotkan. Apakah kau bertanya-tanya apa yang terjadi? Sebenarnya aku kurang suka membicarakan tentang hal ini, tapi demi kelanjutan fan fiction aku akan melakukannya.
Clifford, kakak sialan itu dengan egoisnya mengambil keputusannya dan malah merepotkanku. Karena dia kakakku, jadi orang yang seharusnya mewarisi kerajaan ayahku adalah dia. Dan memang seharusnya aku ini tidak ada. Apakah aku sudah mengatakan kalau aku adalah pangeran bayangan? Pangeran yang ditutup-tutupi, pangeran yang seharusnya tidak ada.
Mungkin memang harus aku jelaskan dari awal. Sudah menjadi peraturan bahwa seorang raja hanya boleh memiliki satu keturunan Satan murni, tidak boleh lebih. Tak lama setelah Clifford lahir, ibunya meninggal dan dia malah menikah dengan Mikira, ya, ibuku. Dan sekarang lahirlah aku. Tapi demi menjaga keselamatanku, aku sangat teramat dijaga ketat didalam istana, tidak diperbolehkan keluar barang sekalipun. Itu sebabnya tidak ada yang mengenalku, termasuk para Satan penjaga sialan yang menyuruhku ikut test begini.
Kalau sampai ketahuan aku juga adalah keturunan raja Satan, sudah bisa dipastikan aku akan dipenjarai dan dihukum mati. Kenapa seakan-akan aku yang melakukan kesalahannya, bukan orangtuaku? Peraturan yang sungguh menyebalkan dan merepotkan. Mikira―maksudku ibuku sudah mati lama sekali. Kasihan juga raja sialan itu, istri pertama dan keduanya sama-sama meninggal. Tapi sebagai Satan, tidak ada yang bisa kau kasihani, karena hidup kami penuh dengan kebencian dan tidak ada kasih sayang.
Nah, sekarang Clifford menyuruhku pulang dan dia ingin agar aku saja yang menjadi calon raja karena dia tidak berminat pada hal itu, dia bilang dia ingin hidup bebas dan dia juga akan menanggalkan statusnya sebagai seorang pangeran yang juga sebagai calon Raja. Sebenarnya, well, para Satan hidup kekal―kecuali kalau dibunuh―dan tidak ada perubahan wujud ketika mereka sudah berusia 250 tahun, jadi ayahku sebenarnya tidak terlalu terburu-buru untuk menahbiskan anaknya menjadi raja. Toh dia juga akan hidup kekal.
Ayahku, entahlah umurnya sudah berapa, seribu tahun lebih mungkin, dengan jenggot-jenggot kecil dan kumis tipis dan wajahnya sudah sangat persis seperti bapak-bapak. Sudah kubilang 'kan kalau Satan tidak akan mengalami perubahan wujud kalau usianya sudah mencapai 250 tahun. Itu berarti dia memang sudah bertampang begitu sejak dia masih muda dulu. Beda denganku yang walaupun sudah hampir 300 tahun tapi masih bertampang muda dan tampan begini.
Kalau masalah wujud, sebenarnya itu tergantung karakteristik si Satan sendiri, jadi aku bisa setampan dan sekeren ini karena memang aku cocok dengan wajah begini (?). Oke, kalimat tadi tidak terlalu memberi penjelasan, tapi coba kau bayangkan saja kalau wajahku berewokan dipenuhi jenggot dan kumis-kumis tebal, namaku mungkin sudah bukan Hiruma Youichi dan kau pasti tidak bisa mengenaliku dan tidak akan menganggapku tampan lagi.
Biar aku ceritakan langsung ke intinya saja. Jadi, intinya Clifford ingin terbebas dari yang namanya istana dan pangeran. Aku yakin ayahku tidak akan berkata banyak kalau aku mau menggantikannya menjadi calon Raja. Bukan masalah 'Darimana anak ini muncul? Apakah selama ini Raja punya dua keturunan?' atau semacam itu. Hal itu tidak terlalu mengganggu pikiranku, tinggal memanipulasi otak mereka saja. Bukannya sombong, tapi yang bisa memanipulasi otak hanya ada 3 orang di dunia Satan, yaitu aku, Clifford dan si raja sialan. Cukup sulit juga mempelajari untuk memanipulasi otak. Aku butuh seratus tahun lebih untuk menguasainya, padahal otakku ini termasuk jenius.
Tapi jujur saja aku tidak tertarik untuk menjadi seorang raja. Sementara waktu, biarkan saja dulu mereka semua, aku masih ingin menikmati hidupku yang masih muda ini karena kalau kau menjadi seorang raja, tidak ada kata bebas keluar dari istana. Aku heran apakah ayahku tidak bosan mendekap didalam istana selama berabad-abad? Itulah salah satu alasan mengapa aku tidak mau menjadi seorang raja.
Jumat, Kantin Rumah Sakit Deimon, 06.30 p.m
Mamori terus menatap Hiruma seakan-akan sedang menunggu sesuatu, sedangkan yang ditatap tampak cuek. "Kau tidak mau makan, Hiruma?" tanya Mamori lagi yang entah sudah berapa kali. Hiruma melirik Mamori sebentar lalu menggeleng lagi.
"Tapi apa kau serius kalau kau bisa bertahan tanpa makan selama berhari-hari?" tanya Mamori. "Aku bukan manusia, kau lupa?" balas Hiruma. Mamori tampak baru menyadari itu dan terdiam lagi.
"Hei, apa ada banyak Satan sepertimu yang membuat kontrak?" Hiruma meliriknya lagi dengan tatapan tajam. "Setidaknya aku mau tahu sebelum kau memakan jiwaku." Mamori menjawab dengan tampang innocent.
"Tidak semua Satan memangsa jiwa manusia. Aku ini hanya sedang mengikuti semacam ujian dan setiap jiwa-jiwa yang kami konsumsi ada point-point tertentunya." jawab Hiruma akhirnya karena tidak tahan ditatap Mamori terus dengan tatapan penuh harap.
"Jadi kalau kau mencapai point yang sudah ditentukan maka kau lulus. Begitukah?" tebak Mamori. Hiruma hanya mengangguk malas.
Lalu suasana hening, mereka berdua sama-sama tidak berbicara sepatah katapun lagi, hanya terdengar suara-suara pelan dari orang lain yang berada di kantin rumah sakit itu. Kelihatan sekali kalau Hiruma malas meladeni pertanyaannya. "Hiruma, bagaimana rasanya mati? Maksudku, apakah aku akan bereinkarnasi lagi?" Mamori bertanya dengan tampang sedih sambil memilin-milin tangannya lalu dia menyeruput teh hangatnya sedikit.
"Kau akan bereinkarnasi lagi." seketika mata Mamori membesar. "Benarkah?" tampak dia senang sekali dengan ucapan Hiruma barusan.
"Apa bagusnya dari bereinkarnasi?" tanya Hiruma yang mulai tertarik untuk berbicara.
"Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk bertemu mungkin dengan Sena, Riku, Suzuna, orangtuaku, dan masih banyak lagi." Mamori berkata dengan wajah ceria.
"Itu kalau kau bertemu mereka di tempat yang indah. Tapi bagaimana kalau kau bertemu mereka di tempat yang menderita. Misalnya di neraka." balas Hiruma.
Mamori yang pundaknya tadi agak naik karena bersemangat sekarang merosot lagi, ekspresinya juga tidak tersenyum lagi. "Well, kalau kau bertemu dengan orang yang kau cintai, tempat setidak nyaman apapun kau pasti akan tetap bahagia." Mamori tersenyum lembut.
Mata Hiruma membesar sejenak, senyumnya itu mirip sekali dengan seseorang yang sangat dia cintai―ibunya. Tapi dengan cepat dia mengendalikan dirinya dan berpoker face ria lagi. "Cih. Itu hanya omong kosong."
Mamori menggembungkan pipinya karena kesal dengan jawaban Satan yang ada di hadapannya itu. "Kau itu tidak bisa membiarkanku berkana bijak sebentar ya?"
"Aku tidak bisa." Hiruma menyeringai lebar. Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepala sang polisi. "Apa ada orang, ehm, maksudku Satan yang kau cintai?" Seringai Hiruma masih tidak lepas dari wajahnya, tapi matanya menyiratkan kekagetan. Mamori yang merasakan pandangan itu langsung salah tingkah. "Eh, ano, tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahuku. Itu 'kan kalau kau tidak keberatan."
"Ibuku."
"Eh?"
"Yang aku cintai adalah ibuku." Walaupun mata Hiruma menatap Mamori, tapi dia yakin kalau sang Satan pikirannya menerawang entah kemana.
"Kau… Bagaimana sosok ibumu itu?" Mamori ragu-ragu bertanya.
Seringai yang semakin lebar semakin terpampang jelas di wajah sang Satan. "Keh, kau berusaha untuk mengorek informasi tentangku ya? Pintar sekali kau polisi payah."
"Aku tidak bermaksud untuk mengorek informasi tentangmu, itu hanya kebiasaan sebagai seorang polisi saja dan aku bukan polisi payah." Mamori kembali menggembungkan pipinya dan mengerutkan kedua alisnya. Hiruma hanya terkekeh-kekeh.
Saat Hiruma berhenti berkekeh Mamori langsung bertanya. "Apakah kau hidup dengan bahagia?" Lagi-lagi pertanyaan dari targetnya kembali membuatnya kaget. Hiruma tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangkat sebelah alisnya. Mamori terus menatapnya dan Hiruma menunduk sebentar, dia tidak menyeringai sedikitpun. "Tidak."
"Kalau begitu aku ingin kau bahagia." ujar Mamori tiba-tiba. Hiruma menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. "Ini permohonan. Bukankah kau harus memenuhi semua permohonanku?" lanjutnya.
"Aku tidak butuh rasa simpati darimu."
"Ya, terserahlah. Tapi tetap saja ini permohonanku dan kau harus mengabulkannya"
Hiruma menatapnya lama. "Tidak bisa."
Gadis berambut auburn itu kaget dengan jawaban Hiruma. "Kenapa?"
"Hal yang bisa membuatku bahagia adalah Mikira sialan―maksudku ibuku." Wajah Hiruma datar sekali, Mamori yang bahkan sudah bertahun-tahun menjadi polisi dan sudah ahli dalam membaca ekspresi orang saja tidak bisa menebaknya.
"Kalau begitu apakah reinkarnasinya bisa membuatmu bahagia?"
"Apa?" Hiruma spontan membalasnya dengan tatapan tidak percaya.
"Ayolah, aku hanya ingin orang yang kukenal bahagia. Aku tidak kuat melihat orang tidak bahagia, terutama didepan mataku sendiri."
Sekilas tampak Hiruma agak terkagum sedikit dengan manusia yang didepannya ini, ternyata dia tidak salah memilih target. Saat itu juga Hiruma dapat melihat aura putih keemasan berkilauan di sekujur tubuhnya. Dia bisa mendapatkan point tinggi dari gadis ini.
"Aku tidak butuh rasa simpati sialanmu itu. Lagipula Mikira sialan itu dengan reinkarnasinya sudah tidak ada hubungannya lagi." Hiruma menjawabnya dengan tidak acuh. "Kau sendiri apakah hidupmu bahagia?" lanjutnya.
Sang gadis yang ditanyai langsung menjawab dengan penuh keyakinan. "Tentu saja aku bahagia."
"Cih, kau bohong. Kalau kau memang bahagia, maka kau tidak akan membuat kontrak denganku. Hanya orang yang merasa kurang yang ingin menggunakan kekuatanku."
Mamori tersenyum lembut lagi yang mulai membuat Hiruma merasa nyaman. Melihat senyum itu membuatnya teringat lagi pada ibunya. "Aku bahagia karena melihat orang yang aku kasihi juga bahagia."
"Tapi setelah kontrak habis jiwamu akan kumakan dan tubuhmu tidak akan menyisakan satu jejakpun. Orang-orang yang kau cintai itu pasti akan sibuk mencarimu kemana-mana dan setelah kau dinyatakan hilang mereka akan sedih. Apakah itu masih membuatmu bahagia?" tanya Hiruma dengan tatapan menginterogasi.
"Kalau mereka masih hidup setidaknya mereka bisa mencari tujuan baru dan mencari aktifitas lain yang dapat membuat mereka bahagia. Tapi kalau aku tidak berbuat apa-apa dan orangtuaku pergi begitu saja, mereka tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan lagi sebagai orangtua Anezaki Mamori." balas gadis bermanik sapphire cerah itu.
"Jangan sok bijak. Lagakmu yang begitu membuatku mual. Kekeke." Hiruma mengalihkan pembicaraan dan memutuskan untuk mengejeknya saja.
Lagi-lagi Mamori menggembungkan pipinya. "Kau tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan kata-kata bagus ya?" Hiruma langsung bangkit dari duduknya dan pergi, tidak tahan dengan senyum yang mirip dengan ibunya itu.
.
.
.
~0.o.0~
Sesosok laki-laki dengan tubuh tinggi tegap dan bersurai kuning yang hidungnya mancung layaknya orang barat berjalan di atas lantai yang terbuat dari keramik dengan ukiran antik, sepatu yang tengah dia pakai mengeluarkan suara menggema seiring dengan langkah kakinya di sepanjang koridor itu.
"Kau sudah bicara padanya?" tiba-tiba suara berat dan berwibawa terdengar dan dia yakin kalau pertanyaan itu ditujukan padanya. Clifford hanya memutar badannya untuk bertemu dengan orang yang bertanya dan mengangguk.
Tampak sang raja Satan mengerti dan berpikir sejenak. "Apakah dia setuju?"
"Entahlah, dia masih memikirkannya." jawab Clifford cepat.
"Aku tidak heran. Yang membingungkan adalah kau tidak ingin menjadi seorang raja?" dia mengibaskan sedikit jubahnya yang menghalangi kakinya.
"Menjadi seorang raja itu sangat membosankan. Dia harus tinggal diam di dalam istana." Clifford tersenyum dengan wajah pasrah.
"Kalau dia tidak mau melakukannya, maka kau yang harus menjadi penggantiku." Lagi-lagi sang Raja Satan itu mengibaskan jubahnya yang terus menutupi kakinya. "Ck, apakah jubah baru ini cocok denganku? Sepertinya mengganggu sekali." tanyanya pada Clifford.
Clifford melihat jubah baru ayahnya sejenak. "Warna biru? Kukira warna hitam atau merah lebih cocok untukmu." Ayahnya tampak mengangguk setuju, lalu Clifford membungkukkan badannya sedikit—hampir tidak terlihat—dan berlalu pergi meninggalkan ayahnya di belakang yang masih melihat-lihat jubah barunya sendiri.
TBC
Oke, saya akui banyak hal-hal yang tidak penting yang saya masukkan disini =="
Mohon saran dan kritikannya, mungkin dengan begitu kengacoan dan kesalahan saya disini bisa diperbaiki dengan menekan tulisan biru-biru di bawah ini loh... Help wanted XD
