Title: Innocence of Love

Rate: T+

Genre: Angst

Main Casts:
Ichigo Kurosaki
Kuchiki Rukia

Summary: Ichigo Kurosaki. Agen SWAT, kapten di timnya. Cerdas dan dipuja. Rukia. Orang misterius yang kabur dari rumah demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, terbuang dan tersingkir. 2 orang yang begitu bertolak belakang ini akhirnya memilih untuk menjadi satu dengan tujuannya masing-masing. Sang Agen, karena dia begitu mencintai seorang Rukia bahkan sejak mereka baru bertemu. Sedangkan Rukia, karena Ichigo bisa menyajikan kehidupan yang baru untuknya.

RUKIA CENTRIC in this prologue.

-o-O-o-

Prologue

.

.

.

Aku memekik di dalam telapak tanganku. Saat ini Aku begitu mual. Saking mualnya, Aku bahkan tak mampu untuk berdiri tegak. Di sudut ranjangku, Aku menekuk lututku. Memperhatikan sendiri siluet tanpa dayaku. Hanya sebuah sketsa kosong yang tak berjiwa. Lampu temaram di sampingku berkedip-kedip karena telah usang. Menyisakan bayanganku terpantul tak sempurna di dinding.
Aku mencakar lututku untuk meredam jerit. Aku begitu marah. Kemarahan yang hampa. Taruhan dengan kiamat tiada yang bisa menggambarkan bagaimana amarahku kini. Bagaimana kisahnya merusak hatiku, melukai tiap centimeter perasaanku yang tersisa. Tanyakan padanya, betapa kejam aku dihancurkan. Hatiku, Kepercayaanku, Jiwaku, Perasaanku, Jantungku, dan segalanya.

Sehingga mampu membuatku berpikir untuk mengakhiri segalanya. Menjauhkan diriku dari segala yang kupunya kini. Karena kini, Aku telah termakan kebencian dan dendam. Semua orang dalam hidupku telah meneteskan sebuah tinta hitam di salah satu bilik hatiku. Dan hanya dalam hitungan detik tintanya meresap dan menyebar. Bahkan kupercaya, salah satunya telah menjadi noda abadi yang tidak bisa dicuci.

Dalam satu langkah Aku mengumpulkan semua pakaianku ke dalam tas. Aku membawanya pergi bersamaku. Dengan kemarahan dan kebencian di dada, Aku mampu melewati orang tuaku tanpa air mata.

"Mau kemana?" Tanya Ayahku.

Aku bungkam. Tanpa berniat menoleh atau berpamitan, Aku pergi dari rumah itu. Menembus akar rotan yang begitu rumit untuk mengarungi kebahagiaan. Sederhananya, Aku hanya ingin kenormalan. Aku ingin menjadi normal seperti kebanyakan. Walau dunia bisu, Aku tidak akan berhenti untuk bertanya. Bertanya, kapan Aku bisa menjadi anak perempuan dengan kehidupan normal seperti teman-temanku? Kemudian Aku berlari masuk ke dalam bis dan duduk di bangku paling belakang. Sambil mengamati jalanan melalui jendela, Aku terus berpikir, kemanakah Aku harus pergi? Aku tidak diinginkan di mana pun. Keluargaku, kerabatku, teman-temanku, bahkan sahabatku yang kata kebanyakan orang dapat dijadikan tempat pelarian terbaik di saat mereka mendapat masalah, mereka semua tidak mau menerimaku. Ketika kuhubungi mereka satu per satu, semua menolak menerimaku begitu kukatakan dengan jelas sebab Aku pergi dari rumah. Pertengkaran hebat antara Anak dan Ibu. Dimana sang Anak merasa begitu tersingkir sementara sang Ibu hanya peduli dengan anak yang baru saja dia lahirkan. Apakah Ibu itu tidak mempunyai naluri seorang Ibu? Jawabannya iya. Dan apakah dia seorang Ibu baru? Jawabannya tidak. Dia melahirkanku 27 tahun lalu. Selain itu beberapa Adikku juga dilahirkan beberapa puluh tahun lalu. Tapi kenapa? Kenapa Dia sekarang bertindak seolah-olah dia adalah seorang remaja yang baru melahirkan seorang anak perdananya? Kenapa Dia dengan mudahnya acuh dengan kepentinganku dan Adik-Adikku yang lain? Dan itu yang membuatku muak. Di tambah memang keadaan keluarga kami yang buruk. Karena Ayahku bukanlah seorang konglomerat yang mampu menampung begitu banyak anak dalam rumah sederhana kami. Membuatku semakin yakin Aku akan kehilangan semua cita-citaku jika Aku harus tetap berada di rumah itu. Sakit hati yang berkepanjangan. Itu yang bisa kudeskripsikan saat ini.

Aku melangkah menuju sebuah teras ruko emperan. Kemudian Aku membaringkan tubuhku di sana untuk beristirahat. Karena Aku seorang tunawisma dan tidak ada lagi tempat yang bisa kudatangi, terlebih di tengah malam. Hidupku terlalu kering akab cinta, jadi tidak ada orang bisa kuminta perlindungan untuk hal seperti ini. Aku gelandangan. Parahnya, gelandangan yang tak punya cinta.

Ditemani eloknya sorotan cahaya dari rembulan yang begitu silau Aku mencoba memejamkan mataku. Demi Tuhan, ini adalah malam paling tenang dalam hidupku. Malam dimana Aku memulai babak baru dalam hidupku. Dimana aku rela mati demi kehidupan selanjutnya. Dimana akhirnya Aku bisa merasakan kepuasan dalam hidup. Dimana Aku bukan lagi seorang anak perempuan biasa yang selalu terlihat di bawah naungan kedua orang tuaku. Tidak. Tidak lagi. Aku muak dengan mulut mereka yang penuh dengan kata-kata beracun. Janji-janji manis penipu ulung. Aku tidak akan tertipu lagi. Mereka adalah pembual paling luar biasa di dunia. Percaya padaku.

.

.

.

-o-O-o-

Tsudzuku.
Alay ya? Hahahaha