Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, aku tidak mengambil keuntungan material sedikit pun dari fanfiksi ini.
Standard warning applied, an exchange fict with Zoccshan. SasuHinaNaru, jangan terlalu berharap cerita happy-after-ending padaku. AU, random. sedikit bertema Natal, twoshot, maybe?
selamat membaca semuaaaahh~
.
.
.
Sasuke tengah menyesap kopi hangatnya, dan Hinata duduk di sampingnya dengan bibir yang tak jera melengkungkan seulas senyum. Kala itu memasuki akhir bulan desember, menjelang natal, saat pertama kali pria itu melihat rona kemerahan menyembul dikedua belah pipi Hinata ...
...yang bukan merona karenanya.
.
.
.
Dia mendapati seorang Uzumaki pirang bermata biru cerah yang mengingatkanmu akan keindahan langit musim panas, datang menghampiri mereka yang duduk di salah satu meja café yang berada di pusat kota dengan seulas senyuman cerah.
Tampak bertolak belakang dengan langit kelabu yang memayungi Kyoto siang itu. Sasuke selalu berpikir banyak hal dalam kepalanya, menggunakan naluri serta logikanya, melakukan penilaian, lalu menarik kesimpulan, dan menemukan jawabannya sendiri. Jadi jelas saja rona kemerahan di wajah Hinata, serta perempuan itu yang terlihat gelisah—atau mungkin gugup saat Uzumaki Naruto menyapanya membuat Sasuke mengernyit penuh keingin tahuan.
Hanya sebuah sapaan singkat yang baginya (Uchiha Sasuke) tak berarti apapun dari Naruto pada mereka berdua, kemudian berlalu setelah sebelumnya meminta izin untuk menyingkir karena Inuzuka Kiba—anak klub basket yang satu sekolah dengan mereka memanggil Naruto dari jauh, tidak ada yang istimewa kelihatanya, namun Hinata menunduk sesudah itu, membuat Sasuke yakin ada raut kecewa di sana walau berusaha ditutupi, dia juga merasakannya, meski hanya melihatnya sekilas ke arah Hinata dengan ekor matanya.
Sejak saat itu, ada suatu hal yang membuat Sasuke sadar.
Hinata menyembunyikan sesuatu darinya, ia yakin itu. Sahabat perempuannya yang ia kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar itu mempunyai sebuah rahasia yang tidak—atau mungkin belum dibagi padanya. Pada sahabatnya, dan entah mengapa status itu membuat Sasuke mulai merasa jengah. Sesak, hatinya memberontak.
Sasuke merasa dia tidak yakin untuk bertanya kali ini, tapi rasa ingin tahu yang mendominasi membuatnya menyingkirkan sedikit harga dirinya, atau mungkin ego, kemudian bertanya, "Kau kenapa?" nadanya begitu monoton, tidak tersirat keingin tahuan di sana, tapi sebenarnya nada datar itu hanya untuk menutupi keingin tahuan yang besar. Ketahuilah, Uchiha selalu pandai menyembunyikan hal sepele semacam itu.
Matanya melihat Hyuuga Hinata yang mulai terlihat resah, serba salah serta gelisah. Gadis itu sangat ketara sekali bingung untuk menjawab pertanyaan singkat dari Sasuke tadi.
"A-Aku…," menggigit bibirnya ragu, menunduk lalu mendongak lagi. Hinata merasa dirinya harus menjawab pertanyaan Sasuke, selain karena tidak enak hati untuk mengabaikannya, Hinata juga tahu Uchiha seperti Sasuke tidak suka menunggu, namun senang membuat orang lain menunggu, tapi masalahnya kali ini Hinata tak mengerti mengapa dia begitu bingung menjawab pertanyaan itu, "a-aku b-ba-baik-baik saja."
Sasuke bukan orang yang mengenal Hinata sehari dua hari.
Gadis itu teman sepermainannya sejak sekolah dasar, tetangganya yang sewaktu masih kecil senang berbagi tempat tidur dengannya, menjadikan pria itu sebagai prisai (tempat mencari perlindungan dari orang-orang luar yang tidak bisa menerima kehadirannya), jadi sudah sepantasnya Sasuke mengepalkan tangannya kuat, dia benci dibohongi, dan kali ini dia tahu Hinata telah membohonginya, dia tahu itu.
Sasuke menyesap kopinya dengan kasar, menelan cairan hangat itu yang terasa pahit di kerongkongan, sama khalnya dengan pahitnya suasana hatinya yang dibohongi oleh sahabatnya sendiri.
Sahabat eh? Sasuke tersenyum sinis. Dia sudah menyadari rasa itu datang sejak awal duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ya, rasa itu. Rasa yang berbeda dari perasaan sahabat yang ingin saling melindungi. Rasa yang teramat wajar dirasakannya pada lawan jenis. Sasuke menaruh sekeping hatinya pada Hinata, hati yang begitu beku. Merindukan kehangatan.
Entahlah.
Tapi Sasuke yakin Hinata menyembunyikan suatu hal yang berhubungan dengan Uzumaki Naruto.
.
.
.
Salju pertama turun seperti melodi tepat pada beberapa hari sebelum Natal menjelang.
Seolah-olah malaikat bersayap putih ikut turun ke bumi, memeriahkan perayaan yang terjadi setiap akhir tahun. Sasuke tahu keluarga Hinata lebih sering menghabiskan waktu mereka di luar rumah, meski ada perayaan natal yang terjadi setahun sekalipun keluarga Hinata seakan-akan tidak peduli, dan itu membuat Hinata kesepian.
Karena dia hanya tidak ingin Hinata merasa kesepian, senyap, dan kelabu di malam natal nanti; yang biasanya diramaikan oleh kehangatan keluarga. Jadi Sasuke mengajak Hinata ikut serta bergabung dengan keluarga Uchiha, dan tentunya Hinata tidak menolak, pun seandainya dia akan menolak; pasti pria itu tetap akan bersikukuh dan seakan menegaskan bahwa 'ia-tak-menerima-penolakan'. Karena Sasuke adalah pribadi yang tidak menerima adanya penolakan.
Sasuke memerhatikan Mikoto dan Hinata dari jarak yang cukup jauh, dua orang perempuan itu yang kelihatan tampak hangat tengah memanggang kue-kue jahe dari kejauhan, aroma jahe yang menghangatkan suhu serta menggoda indera pengecap membuatnya tertarik untuk bergabung, tapi tidak bisa. dia ingin menghampiri keduanya, namun diurungkan niatnya karena sedang memegang kaki penyonggoh anak tangga yang digunakan Itachi untuk menbenarkan bohlam lampu di depan pintu rumah mereka.
Sedangkan sang kepala keluarga, Uchiha Fugaku baru akan pulang dari pekerjaan kantor sore nanti. Untuk sejenak, Sasuke merasa dia bisa melupakan rasa ingin tahunya beberapa hari lalu tentang hal itu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Mikoto menyuruhnya bersama Hinata menghias pohon natal, rasanya natal setiap tahun akan terasa sama, dengan Hinata yang selalu menghabiskan hari natal bersama keluarganya. Sasuke berharap semoga saja seperti itu, tetap seperti itu.
"Sasuke-kun, menurutmu, le-lebih baik kita pakai bintang atau angel di puncak pohon natal?" tanya Hinata saat Sasuke tengah memberikan kapas-kapas yang telah diayak untuk memberikan kesan runtuhan salju pada pohon cemara mereka.
"Tahun lalu kita mengenakan apa?" ujar Sasuke tanpa beralih fokus pada salju-salju imitasinya.
"Bintang kurasa ... ya, bintang."
"Kalau begitu sekarang angel." Hinata mengangguk menyetujui perkataan Sasuke, dia mengambil pernik natal berupa patung malaikat putih dan berjinjit untuk menaruh di atas puncaknya.
Hinata bisa menaruhnya sendiri kali ini, tidak memerlukan bantuan Sasuke seperti natal-natal sebelumnya, itu berarti dia sudah bertambah tinggi, mungkin hanya beberapa inci, tapi Hinata tidak terlalu memikirkannya.
Sasuke nampak baru saja akan membuka percakapan saat ponsel milik Hinata yang ditaruh di atas meja kecil dekat dengannya berdering, Sasuke berniat akan mengambilkannya untuk Hinata namun gadis itu dengan sigap tergerak mengambil ponsel putih tulang miliknya sendiri, menyingkir sebelum mengangkatnya terlebih dulu. Kira-kira mengambil jarak aman untuk menciptakan privasi dengan si pemanggil.
"A-Ada a-apa N-Naruto-kun?" samar-samar Sasuke dapat mendengarnya, karena dia menajamkan pendengarannya untuk mencuri dengar—sungguh dia merasa bodoh berlaku seperti itu, tapi rasa ingin tahu menjadi pendorong baginya. Naruto? Sasuke yakin dia mendengar nama pria itu disebut oleh Hinata. Sasuke melangkah mendekati gadis itu, dengan langkah kaki yang dibuat sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan bunyi, bersikap seakan dirinya maling yang tengah mengendap-endap.
"Bagai mana jika s-setelah masuk liburan se-semester nanti Na-Naruto-kun?" Hinata terlihat begitu gugup, dari gerak geriknya Sasuke menilai meski dia tidak melihat wajah gadis itu, hatinya—dia merasa ada gemuruh aneh dalam dadanya, "ba-baiklah. S-Selamat natal juga, Naruto-kun ..."
Hinata baru membalik tubuhnya saat gadis itu terlonjak kaget menemukan sosok Sasuke yang berdiri di dekatnya, memasang wajah stoiknya serta memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Sepasang manik mata sekelam malam menatapnya tajam—kilatan emosi di sana terlihat cukup mengerikan, menuntut dan gelap, membuat Hinata menelan ludah gugup.
"Siapa?" suara Sasuke mengintrupsi, datar namun mengintimindasi. Hinata terlihat serba salah untuk menjawabnya, tapi tak mampu dipungkiri ada rona kemerahan di wajah perempuan itu yang mungkin saja karena berbicara dengan Naruto melalui sambungan telepon tadi, dalam hati Sasuke mengumpat, ada yang tercabik-cabik di sini.
"Na-Naruto-kun," entah mengapa Sasuke benci suara Hinata yang terlihat gugup menjawab pertanyaan singkatnya. Apa karena ada nama Naruto terselip di sana?
Sebenarnya, dia ini kenapa? Gadis ini juga kenapa? Dan mengapa semuanya bagai tanda tanya besar di otak jeniusnya—Sasuke tidak mengerti, mungkin hanya perasaan khawatir atau ingin tahu, itu wajar. Ya, namun garis antara khawatir dan cemburu itu beda tipis.
"Sejak kapan?" Hinata menjawabnya dengan kerutan di dahinya, pertanda dia tidak mengerti dan Sasuke harus memperjelas kalimatnya, "sejak kapan kau dekat dengan Uzumaki itu?" ada nada sinis di sana, yang berusaha untuk ditutupi olehnya.
Setahu Sasuke, dia tidak pernah dekat dengan Uzumaki pirang—yang sangat berisik dan Sasuke tidak akan membiarkan orang sebrisik itu masuk dalam kehidupannya, sama khalnya dengan Hinata yang selalu berada dekat dengannya, gadis itu juga tak pernah terlihat bersama Naruto, meski keduanya satu kelas dengan Uzumaki itu.
"K-Kami hanya te-teman," dan sejujurnya dalam hati Hinata merasakan bagai sebuah tangan tak kasat mata menamparnya di dagu. Teman ya, status mereka memang hanya teman.
"Hn. Hanya teman ya?"
Semoga saja seperti itu.
Hanya teman.
Semoga.
Adalah harapan Sasuke.
.
.
.
Liburan smester terasa begitu cepat berlalu, masih dengan musim dingin yang menyelimuti bumantara, aktivitas belajar kembali berlangsung seperti biasanya, disambut dengan beragam ekspresi di wajah para pelajar. Sama seperti sekolah pada umumnya, hari pertama masuk setelah libur panjang pasti cukup banyak murid-murid yang memilih untuk tidak masuk dan memperpanjang liburan sehari dua hari lagi.
Sasuke memaksa agar Hinata mengenakan sweater ungu pastel kesayangan gadis itu, karena udara terasa begitu dingin, terlebih baru saja ada badai salju—Hinata ingin menolak, sebab sweater ungu pastel itu sama dengan yang dikenakan Sasuke pagi ini, dia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Tapi penolakannya justru berujung pada Sasuke yang mendiamkannya selama di perjalanan. Hinata menarik napas, lalu memakai sweater couple yang ada di dalam tasnya itu dengan maksud agar Sasuke tidak marah padanya, meski jengkel bersarang di hati Uchiha muda itu, namun dia tahu dirinya tidak akan pernah bisa berlama-lama marah pada Hinata.
Semua murid di sekolah menengah ini pun tahu, Sasuke dan Hinata terlihat seperti perangko, dari sekolah dasar, di mana ada Sasuke, di situ ada Hinata—itu sebabnya tak sedikit perempuan yang menaruh rasa iri pada Hyuuga cantik itu, karena Hinata bisa begitu mudah dekat dengan Sasuke tanpa khawatir pria itu akan menjauh darinya.
Namun lain dengan mereka, lama kelamaan Hinata juga merasa jengah seperti ini, bukan berarti dia bosan bersahabat dengan Sasuke, hanya saja pria itu seolah-olah membatasi pergaulannya, ruang geraknya, membuatnya selama ini hanya berada dalam zona amanya; tanpa bisa untuk keluar dari zona itu.
Untungnya Sasuke tidak duduk bersama Hinata, pria itu memilih untuk duduk bersama Suigetsu, dan Hinata bersebelahan dengan Shion—si tuan putri yang anggun, ya sebelas dua belas dengan Hinata.
Jam pertama diawali dengan pelajaran Anko-sensei, Sasuke yang awalnya merasa dirinya mengantuk kembali membuka matanya, memicing tajam dengan kilatan emosi pada Uzumaki Naruto yang setahunya jarak tempat duduknya dengan Hinata cukup jauh. Bocah pirang itu tersenyum renyah, berbicara pada Hinata tentang hal yang samar-samar terdengar oleh Sasuke—dan dia tanpa sadar mengepalkan tangan kala melihat rona kemerahan itu di wajah Hinata.
Sebenarnya ada apa? Sejak kapan Hinata dekat dengan Naruto tanpa dia ketahui, dan kenapa Sasuke seolah merasa dirinya baru saja dikhianati? Pria Uchiha itu hanya tersenyum sinis. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang terluka melihat kedekatan Hinata dengan Naruto, apalagi melihat gerak gerik Hinata yang gugup serta rona bahagia terpancar jelas di sana. Sasuke tahu dia telah jatuh cinta, dan Uchiha Sasuke untuk saat ini tidak akan membiarkan hatinya jatuh, retak, lalu hancur.
Suigetsu yang duduk di sebelahnya mengerutkan dahi, "Kau kenapa?"
Sasuke menoleh sekilas, sebelum bergumam seperti biasa—"Hn."—pertanda dia tidak minat untuk membahas topik itu.
"Wajar sih kalau kau mencintai Hyuuga itu, dia sahabatmu sejak kecil, cantik pula. Jadi mustahil salah satu di antara kalian tidak ada yang mulai mencintai—"
"Tutup mulutmu," ketus Sasuke, mendengus kesal.
"—kecuali jika ada yang kelainan seksual," Suigetsu tetap nekat melanjutkan perkataannya, dan ucapan itu dibalas oleh Sasuke dengan mendarat cukup kerasnya sebuah buku Fisika tebal tepat di ubun-ubun Suigetsu. Sasuke mengangkat salah satu sudut bibirnya, Suigetsu masih mengaduh kesal.
.
.
.
Hinata terlihat bingung, dengan tingkah Sasuke yang aneh sejak di sekolah tadi, namun dia memilih untuk diam—meski diam nampaknya tidak menghasilkan apa-apa, karena nyatanya Hinata tetap merasa Sasuke tengah memikirkan sesuatu, "Hn, sebentar lagi kelulusan ya?" gumam Sasuke, memasukan kedua tangannya di saku celana panjang. Mereka tengah berjalan menyusuri trotoar jalan, dengan salju yang menyelimuti serta hawa dingin yang menyergap.
"I-Iya…," Hinata menjawab ragu meski tak dipinta, Sasuke mendengus gusar. Gadis itu berhenti kala Sasuke menghentikan langkahnya, menatap bingung pria itu dengan sepasang mata bulan miliknya. Angin bertiup cukup kencang, membuat helaian indigo panjang milik Hinata berterbangan, disambut dengan gigi bergemertak menandakan suhu yang semakin menjadi.
"Sasu—"
"Katakan padaku, Hinata … apa kau mencintai Uzumaki itu?" Sasuke tak bisa menahan diri lebih lama, pikirannya mendadak kalut kala wajah Hinata yang merona saat bercengkrama dengan Naruto berputar tak tentu arah dalam pikirannya bagai benang kusut yang tak bisa diluruskan. Dia emosi, sekaligus takut jika seandainya benar Hinata mencintai Naruto seperti apa yang ditakutkannya.
Hinata menunduk, membuat Sasuke tak bisa membaca ekspresi gadis itu, "K-Kenapa kau m-menanyakannya?" suaranya terdengar malu-malu.
"Hn, jawab saja," sebenarnya Hinata merasa senang saat ini, karena Sasuke bisa mengetahuinya tanpa dia beri tahu terlebih dulu, memang benar kata Shion; meskipun dari luar pria itu terlihat dingin dan seolah-olah tidak peduli, tapi siapa yang tahu di dalamnya, intinya Hinata senang Sasuke peduli padanya. Tapi dia juga takut, takut bila Sasuke tidak mempercayainya untuk membuka hati pada pria kali ini—dia tahu bagaimana perangai Sasuke yang begitu over padanya.
"K-Kami b-baru kenal," bisik Hinata, dia belum berani untuk mendongakan wajahnya, Sasuke menatapnya tajam, "t-tapi Na-Naruto-kun berbeda," andai saja Hinata mendongak saat itu, dia bisa melihat pria Uchiha yang kini mengukir senyum pahit. Hinata memang tidak mengatakan dia mencintai Naruto, tapi dari caranya mengungkapkan tentang pria itu membuat Sasuke mengetahuinya. Ketakutannya benar adanya.
"Kau bicara padaku, jadi tatap aku," suaranya tegas, memaksa dan juga menuntut. Hinata mendongak ragu, wajahnya merah merona—Sasuke melihatnya, ekspresi malu-malu itu dengan sepasang mata bulan yang berkilat penuh kebahagiaan, "—jangan pernah mudah menganggap itu cinta," Sasuke memejamkan matanya setelah itu, dia berjalan lebih dulu menyusuri jalanan yang cukup sepi, meninggalkan Hinata yang masih diam mematung.
Pria itu tidak bisa berdiam memandang mata milik Hinata lebih lama; tidak jika itu hanya membuatnya merasakan belati tajam menggores hatinya dengan melodi klasik, sanagt menyedihkan, ini pertama kali Sasuke merasa dirinya kalah.
Apa selama ini Hinata tidak menyadari perasaannya? Bukankah Sasuke sudah lumayan jelas memperlihatkannya pada gadis itu: melalui tatapan mata, perlindungannya selama ini, rasa khawatirnya dan juga kepeduliannya? Mengapa Hinata tidak bisa merasakan getaran yang sama dengan yang dirasakannya?
Sasuke ingin tertawa keras-keras, memaki, mencemoh, mungkin selama ini dia tidak pernah menertawakan dirinya sendiri, karena dulu tak ada yang perlu ditertawakan, tidak ada, tapi saat ini berbeda, tidak sama lagi.
Hinata yang masih diam mematung hanya memandang bingung punggung gagah yang perlahan mulai menjauh itu—sebenarnya Sasuke kenapa? Apa dia salah berucap, apa yang salah? Apa Sasuke marah karena Hinata tidak langsung to the point?, Hinata menggeleng pelan, dia tidak tahu.
Terkadang, Hinata berpikir meski dia telah lama bersahabat dengan Sasuke, dan mengenal pria itu dengan waktu yang terbilang cukup lama, namun Hyuuga Hinata tidak pernah benar-benar bisa mengerti jalan pikiran Uchiha Sasuke—ya, tidak pernah benar-benar mengerti (atau belum benar-benar memahaminya). Sejenak, Hinata menarik napas dalam, lalu berusaha mengejar pria itu.
.
.
.
.
.
.
tbc
note: seneng deh bisa exchenge sama si tanteh joh yang keceh :""). moga ngga ngecewaiin hasilnya ya, yang aku bisa cuma segini doang, hehehe. Hmm ... burung biru? apa ya maksudnya? tunggu di next part ya.
With love,
ame, 29132013, Bekasi.
