Sifa is back xD. Bleach itu punyanya ahjussi © Tite Kubo. Saya Cuma meminjam tokohnya saja #Semoga ga dilempar panci buluk lebih enak lagi kalo dilempar nasi uduk XO

Pairing : IchiRuki

Genre : Romance

Rate : T ke M (Rate yg buat saya sendiri xD kkkk~ ga bisa nyebutnya sih)

Warning : Typo, OOC (banget -_-") cerita kacau, abal (yakin)


Cerita ini fiksi asli dari hasil imajinatif saya sendiri. Kalo ada yg ngerasa fic ini alur idenya sama itu hanya kebetulan belaka! Please be gentle x3


IK HOU VAN JOU © _SheWonGirl_ a.k.a Siti fatimah :3


Ini pertama kalinya saya buat rate yg rada lebih ke M, jadi kalo agak gaje, maafkan saya :D

Special buat yg udah request seperti Hendrik Widya ama Berry Biru dan hayo siapa lagi yang request ya? :D


Ya ampun apa yang tadi malam aku lakukan dengan sensei? Benar-benar gila. Sungguh! Jika orang lain sampai tahu masalah ini, kemungkinan paling baik aku dan sensei akan di skors beberapa hari, jika kemungkinan bisa menjadi sangat buruk, aku bisa dikeluarkan dari sekolah bahkan sensei bisa saja dipecat secara tidak hormat dan dia akan mendapat julukan yang mengerikan.

Semua hal ini terjadi gara-gara kesalahan teman-temanku, mengadakan joint party dengan tetangga sebelah SMA Kurobitsuiji –namanya agak aneh memang– sedangkan kami siswi-siswi dari SMA Karakura, teman-temanku memaksa diriku –lebih tepatnya menyeretku– untuk ikut bersama mereka. Alasannya biasa, karena mereka kekurangan orang.

Are you kidding me? Matsumoto Rangiku, padahal dia sudah membawa hampir seluruh gadis penghuni kelas kami dan dia bilang masih kurang orang? Dari segala jenis perempuan dari kelas kami bahkan lebih dari cukup, mulai dari si imut Riruka, si boyish Soifon, si karate kid Tatsuki, si cerewet Hiyori, si mata empat Lisa, si pemalu Momo, si penurut Isane, si gaijin Mila Rose, si shiny Cirucci, si stylish Yorouichi, si moody Nanao, si sexy Nemu, si cantik Nozomi, si midget Yachiru, si trio sintal –bacalah Rangiku, Inoue, dan Neliel oh iya, Mila Rose juga berbadan sintal– dan si ... siapa ya, aku sampai lupa, oh kalau bertanya tentang karakter 'si' ku semuanya yang tersebut diatas mewakili kepribadian diriku. Kalian tidak percaya? Kalau begitu sebut saja si manis Rukia.

Aku pergi karaoke bersama mereka, lalu kami makan malam sekalian minum juga. Aku mau pergi bersama mereka karena mungkin aku bisa mendapatkan pacar. Hari ini peruntunganku tentang cinta sangat bagus, aku mengetahuinya dari majalah mingguan dan ramalan online kemarin pagi. Sssttt... jangan bilang pada Hisana-nee, apalagi pada nii-sama kalau aku suka membaca dan mempercayai hal seperti itu. Nah sudah tahu sedikit alasanku kan?

Tapi sialnya saat aku minum, aku salah mengambil gelas milik Mila. Jangan berfikir gelas itu terisi racun, bukan hal yang seperti itu. Gelas itu berisi sake, dan dengan pd-nya aku meneguknya, setelah aku meneguknya selang beberapa menit kepalaku pusing dan badanku terasa panas.

Sebenarnya mereka ingin mengantarku pulang tetapi apa harus aku menghancurkan kesenangan mereka. Jadi aku memutuskan untuk pulang sendiri. Tapi ditengah jalan sepertinya aku mendadak pingsan, dan sekarang saat aku membuka mata, blinnkkk... aku malah seranjang dengan Kurosaki sensei, guru bahasa Inggris di sekolah kami. Terlebih lagi kami tidur saling berhadapan. Ini bukan masalah dia keren atau tidak, tapi mana pernah aku seranjang dengan laki-laki seperti ini.

Pelan-pelan aku mencoba bangun lalu membuka selimut yang menutupi tubuh kami. I'm so scared, bahuku tidak ada penutupnya sama sekali. Oh, iya kemarin aku menggunakan baju yang terbuka bahunya tetapi lengannya melorot kesamping, aku tidak bisa menyebut namanya. Lalu aku melanjutkan membuka selimutnya dan ternyata pakaianku masih utuh, syukurlah. Lalu aku mengamati Kurosaki Ichigo sensei dengan seksama, memang benar-benar keren, tidak salah, banyak siswi yang menyukainya. Termasuk aku juga.

Kurosaki sensei bergerak-gerak pelan, sepertinya dia akan bangun, dia sudah membuka matanya bahkan lalu dia berkata, "Kuchiki-san, kau sudah bangun?" tanya Ichigo.

"Kyaaaa ...," teriak Rukia keras, tubuhnya sudah terjatuh dari kasur. Pantatnya kesakitan.

Kurosaki sensei sudah bergaya lagi diatas kasur, dia menahan kepalanya dengan lengan tangannya. Sedang Rukia mencoba berdiri.

"Sepertinya kau sudah sehat, teriakanmu nyaring sekali. Mabuk mu sudah hilang kan?" ucap Ichigo.

Tanpa sengaja Rukia melihat kearah dada Ichigo, dadanya itu sangat bidang. Salah dia sendiri membuka beberapa kancing kemejanya. Bahkan rambut Ichigo tidak bisa mengalahkan pesonanya.

Ichigo mencoba bangun dan melihat jam meja yang ada diatas ranjangnya. Jam itu sudah menunjukkan pukul 06.12 JST, Ichigo hampir saja bangun dari kasur itu tetapi Rukia menarik Ichigo ke kasur lagi untuk menjelaskan semuanya pada dirinya. Sehingga mereka berdua duduk berhadapan.

"Sensei, ini di... ho...hotel kan?" tanya Rukia, mata amethysnya berkedip-kedip ragu.

Ichigo tersenyum, ambernya menatap Rukia, "Ya, tadi malam aku melihatmu hampir pingsan dijalan, saat ku tanya dimana rumahmu kau malah merancau tidak jelas dan pingsan, karena tidak tahu rumahmu makanya aku membawamu kemari, lagipula tadi malam aku juga sudah kelelahan," jawab Ichigo.

"Memangnya kenapa sensei bisa ada didaerah sini?" tanya Rukia.

"Hangout dengan teman-temanku," jawab Ichigo, "Kau itu masih kecil, jangan terlalu banyak minum sake, aku harus pergi, ada rapat komite pagi ini," lanjut Ichigo. Ia mengelus kepala Rukia. Rukia hanya bisa menunduk malu.

"Baiklah, kau harus pulang," ucap Ichigo. Ichigo mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, "Pulanglah naik taksi, jangan sampai terlambat ke sekolah."

Rukia tidak segera menerima uang itu,"Aku tidak mau merepotkan sensei, apalagi harus menanggung ongkos kepulanganku, arigatou sudah menolongku," jawab Rukia.

Ichigo memaksa Rukia, memberikan uang itu kearah tangan Rukia. "Tidak merepotkan sama sekali, sudahlah pakai saja," jawab Ichigo, lalu ia berdiri dan mengambil jasnya dan memakainya. Tak lupa kaca mata berframe kotaknya. Rukia hanya memperhatikannya, memangnya dia harus berbuat apa?

"Aku duluan, Kuchiki," ucap Ichigo.

"Okay sensei," jawab Rukia tersenyum. Ia juga segera merapikan dirinya, tetapi sepertinya saat Rukia membereskan dirinya, dia menemukan sesuatu yang ditinggalkan oleh Ichigo.

_SheWonGirl_

Rukia terlambat datang ke sekolah sehingga ia kena semprot oleh Ishida Uryuu, ketua OSIS di sekolahnya. Malang sekali nasibnya. Hari ini juga dia harus bertemu dengan Kurosaki sensei nya untuk mengembalikan barang yang tertinggal pagi tadi.

Untung saja kelasku hari ini ada jam pelajaran Kurosaki sensei sehingga aku tidak harus mengejar-ngejarnya yang bahkan mungkin aku tidak punya kesempatan berbicara dengannya. Kalian tahu kan dia guru muda yang populer, banyak siswi yang mengincarnya. Walau dia itu cool, tetap sisiwi-siswi tidak menyerah mendekatinya. Apa benar dia guru yang cool, padahal hari ini dia memperlakukanku dengan sangat baik.

"Rukia, kemarin malam kau pulang dengan selamat kan?" tanya Rangiku.

"Tentu saja, memangnya kenapa Ran?" tanya Rukia.

"Aku hanya khawatir saja, kau kan tidak mau kami antarkan pulang," jawab Rangiku.

"Tidak apa-apa, oh ya Ran, menurutmu Kurosaki sensei itu bagaimana?" tanya Rukia.

"Ya ampun, guru itu jangan kau tanyakan lagi, dia itu dingin sekali, mana pernah dia tersenyum? Aku bahkan tidak pernah melihat senyumanya, yang ada dia selalu seperti ini," ucap Rangiku lalu dia mempraktekkan wajah sangar ala Ichigo, "Dan kau tahu, itu memperparah kerutan di dahinya," lanjut Rangiku.

"Oh, jadi kalian malah ngobrol asyik sekali di jam pelajaranku? Berani sekali kalian," celetuk seseorang yang sudah ada didepan mereka. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Kurotsuchi Mayuri, guru fisika mereka.

"Sumimasen," ucap Rukia dan Rangiku bebarengan.

_SheWonGirl_

Rukia memilih kabur dulu dari hukuman Kurotsuchi sensei, dia harus mengembalikan barang itu pada Kurosaki sensei sebelum dia benar-benar menghilang pulang.

"Untung sensei belum pulang," ucap Rukia ketika dia sudah berada di depan ruangan Ichigo. Pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan Ichigo yang masih ada didalam sana.

"Sensei, itu... aku mau mengembalikan barang yang anda tinggalkan di hotel tadi pagi," ucap Rukia.

Ichigo mendekati Rukia, lalu dia segera menarik Rukia kedalam ruangannya. Ichigo meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Rukia. Ichigo menunduk untuk menatap Rukia sejurus kemudian Ichigo memindahkan kepalanya disamping Rukia dan berbisik, "Soal kita menginap di hotel, itu menjadi rahasia kita berdua."

Rukia mengangguk kikuk. Ketika Ichigo menjauhkan wajahnya dari wajah Rukia, baru Rukia merasa lega.

"Sensei, kita seperti orang yang ditakdirkan untuk bersama," ucap Rukia.

"Tidak," jawab Ichigo cepat. Wajahnya masih biasa saja, so calm.

"Tapi, kecil sekali kemungkinan kita dapat bertemu dijalan seperti itu, aku jadi berfikir kalau kelingking kita terhubung dengan benang merah," ucap Rukia semangat, dia mengacungkan jari kelingking kanannya.

Ichigo membalas Rukia. Dia mengangkat tangan kananya lalu membentuk gunting dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, menggunting ruang kosong tepat di depan jari kelingking Rukia.

"Argg... Sensei, kau memotongnya!" pekik Rukia.

"Sudahlah, jangan bertindak kekanakan seperti ini, semuanya hanya kebetulan. Cepatlah pulang," jawab Ichigo composure.

Rukia terlihat kecewa, "Baik aku akan pulang, tapi sensei menunduklah sebentar," jawab Rukia.

Ichigo menuruti Rukia, lalu dengan segera Rukia mengelus dahi Ichigo menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya. Ichigo agak kaget.

"Benar-benar bertambah parah," celetuk Rukia. Rukia menggerakkan tangannya menuju alis Ichigo lalu ke bagian samping mata Ichigo,"Bulu mata sensei ternyata panjang juga, hidung sensei begitu mancung dan bibir sensei ... sepertinya lembut," lanjut Rukia, tangannya sudah berada di depan bibir Ichigo.

Ichigo langsung memegang tangan Rukia dan menurunkannya. Kedua mata mereka bertatapan. Belum sempat Ichigo berdiri tegak, Rukia mencuri ciuman di pipinya. Lalu dengan paksa Rukia melepaskan tangannya dari genggaman Ichigo.

"Sensei, kau kena. Mulai dari sekarang akulah murid yang akan paling membuatmu sakit kepala," ucap Rukia dia sudah berlari ke arah pintu keluar. "Pesanku, jangan sampai kerutan di dahimu bertambah karenaku, kau bisa terlihat tambah tua," celetuk Rukia lagi.

"Hey, Kuchiki! Kau mau lari dari hukumanku ya?" teriak Mayuri sensei, dari lorong yang jauh sana dia sudah berteriak-teriak seperti itu.

Rukia bingung, dan dia ingin kabur tapi sebelum dia melakukannya, dia berteriak kecil ke arah Ichigo yang sudah duduk manis di bangku kerjanya.

" Sensei, I Love You, ingat itu," ucap Rukia, dia menjulurkan lidahnya. Lalu dia berlari menghindari kejaran Mayuri, "Aku tidak kabur Mayuri sensei," teriak Rukia disepanjang koridor sekolah, suaranya terdengar begitu nyaring. Untung sekolah sudah sepi.

"Hey, Kuchiki jangan teriak-teriak di koridor sekolah," teriak Mayuri.

"Soalnya sensei juga meneriakiku," jawab Rukia yang tak kalah nyaring

Ichito tersenyum mendengar percakapan atau lebih tepatnya teriakan absurd dari sensei-murid itu, lalu kemudian dia sudah tidak mau menahan suaranya dan ia tertawa keras, "Anak itu benar-benar menarik," ucap Ichigo.

"Ah, aku lupa lagi mengembalikan ini pada sensei," ucap Rukia, dia tersenyum senang.

T to the B to the C