-AkaKuro-
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
—Love looks not with the eyes, but with the mind, and there fore is winged 'Cupid' painted blind.
Kuroko menatap jauh ke luar jendela. Berharap hujan tak akan turun kali ini. Ia terus terdiam menatap langit mendung, sesekali menerawang jauh entah kemana. Fikirannya seolah melayang. Berhenti tepat di hari itu. Pada jam yang sama. Menit yang sama. Serta suasana yang tak jauh berbeda dengan hari ini.
"Tetsuya, aku menyukaimu. Aku—"
"Maaf, aku tak bisa Akashi-kun."
Ia terus berfikir. Mengingat. Mengenang. Bahkan menyesali apa yang telah ia lakukan di hari itu. Sebuah penyesalan di tengah derasnya hujan. Sebuah kenangan tak menyenangkan di hari yang gelap. Bahkan hujan seolah menyembunyikan air matanya dalam setiap tetes air yang jatuh ke permukaan. Tetapi apakah ia benar-benar menyesalinya?
"Saat ini aku benar-benar tak bisa, maaf."
"Lalu, apa kau benar-benar tak memiliki perasaan yang sama denganku? Jawab aku, Tetsuya!"
"Akashi-kun, aku—"
SREETTTT
Terdengar suara pintu kelas yang dibuka paksa. Seketika kenangan itu pun terhenti ketika seseorang datang menghampirinya. Sesosok pemuda tinggi bersurai hijau dengan benda keberuntungannya tengah berdiri tepat di ambang pintu kelas tersebut. Kuroko yang sejak tadi hanya diam mulai menanyakan sesuatu pada pemuda tersebut.
"Doushita Midorima-kun?" Setelahnya Kuroko hanya menatap datar pemuda tersebut.
Merasa risih dengan tatapan Kuroko akhirnya pemuda bernama Midorima Shintarou itu mulai membalikan badannya guna beranjak dari tempat tersebut. "Sebaiknya kau pergi ke perpustakaan sekarang juga, nanodayo."
Dan setelahnya Midorima benar-benar lenyap dari hadapan Kuroko.
"Perpustakaan?"
.
.
.
Kuroko yang masih merasa bingung dengan perkataan Midorima akhirnya hanya berjalan lunglai menuju perpustakaan sekolahnya. Hari ini hujan turun sangat deras dan anginpun bertiup cukup kencang membuat dirinya serta beberapa siswa yang lain terjebak di dalam sekolah walaupun bel pulang sekolah telah berbunyi sejak tadi.
Kuroko terus melangkahkan kakinya menuju perpustakaan seolah mencari sebuah jawaban dari perkataan Midorima yang menggantung. Ia berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah yang amat sepi. Sesekali ia mengusap-usapkan tangannya agar ia mendapatkan sedikit kehangatan di tengah suasana hujan kali ini. Tak lama setelahnya, pemuda bersurai baby blue itu telah sampai di depan pintu perputakaan.
Perlahan ia membukanya, mengamati ruangan tersebut.
"Kosong, sepertinya tak ada orang." Ucapnya lirih sebelum kakinya mulai melangkah lebih jauh ke dalam perputakaan tersebut.
Karena merasa bosan akhirnya Kuroko mencoba mencari sebuah buku bacaan yang mungkin dapat menghilangkan kebosanannya itu. Ia mulai mencari beberapa buku yang memang ingin ia baca jauh sebelum hari ini. Setelah ia mendapat buku tersebut akhirnya ia memmutuskan untuk membacanya disini dari pada harus kembali lagi ke kelas yang jaraknya cukup jauh dari perpustakaan.
—Love is like a child, that longs for everything it can come by.
Dan tiba-tiba saja pupil mata pemuda bersurai baby blue itu mulai membesar ketika melihat sosok pemuda yang tengah terlelap di atas sebuah meja yang penuh dengan beberapa tumpuk buku. Kuroko mengenalnya. Sangat mengenal pemuda itu. Dan Kuroko pun mengetahui buku-buku tersebut. Buku-buku yang biasa dibaca oleh pemuda tersebut. Ya, beberapa sastra klasik.
Dengan sedikit ragu Kuroko melangkah mendekati pemuda itu. Mencoba membuka halaman demi halaman buku yang berada atas meja tersebut. Ia terhenti di suatu halaman. Membacanya dengan serius kemudian tersenyum sambil mengucapkan beberapa kata dengan lirih.
"Hear my soul speak. Of the very instant that I saw you, did my heart fly at your service?"
Sesaat kemudian Kuroko menutup buku tersebut dan meletakannya kembali di atas meja. Tangannyanya yang bebas perlahan menyentuh helaian lembut pemuda di hadapannya. Tangannya yang dingin seolah merasakan sedikit kehangatan saat menyentuh pemuda tersebut. Kuroko terus menyentuhnya, mengusap helaian itu dengan lembut agar sang empunya tak terbangun karena sentuhannya. Dan ia tersenyum—
"—but, I pray you do not fall in love with me," Kuroko berbisik lirih. Sangat lirih seolah suara suara detak jantungnya dapat menenggelamkan ucapannya tadi. Begitu pula dengan hujan yang begitu deras di luar sana. Hujan yang akan segera menghapus jejaknya di tempat ini. Menghapus semua yang telah terjadi di hari ini serta kemarin.
—Alas, that love, so gentle in his view, should be so tyrannous and rough in proof.
.
.
.
FIN
A/N : Nee minna, ogenki desu ka? *hanya sekedar nanyain kabar* XD mungkin saya udah beberapa kali buat pair ini tapi ya cerita sama genrenya kayaknya gak beda jauh ya ==" niat awal mau bikin yang sweet gitu tapi entah mengapa lagi-lagi-kesekian-kali-gak-jarang-sering malah jadi yang kayak gini. Ini pendek karena saya kehabisan ide. Saya gak tau mau dilanjutin atau gak yaudah sudahi saja. Soalnya kalo dilanjutin apakah saja sanggup melanjutkannya? Dan apakah ada yang baca cerita nista ini? =DDD.
Etto, asli loh kata-kata yang pake bahas inggis itu bukan punya saya hahaha karena itu hanya sebuah 'Quote' yang saya ambil dari beberapa karyanya Shakespeare XD.
