Summary :

Terperangkap bukanlah hal yang menyenangkan bagi Do Kyungsoo. Rasa penasaranlah yang menuntunnya memasuki kuburannya sendiri. Disinilah ia berada, di dalam kamar yang gelap dengan seseorang yang mengunci dirinya dengan kedua tangannya di dinding. Mengunci pandanganannya dengan kegelapan disekitarnya.

Mengunci nafasnya sendiri saat ia merasakan nafas orang lain berada di depan wajahnya dan terasa sangat dekat. Disinilah ia bertemu dengan orang yang mengunci setiap inci dari dirinya, mengatakan bahwa ia pemilik atas tubuhnya, ia adalah Kim Jongin atau yang mereka sebut dengan nama Kai, pemimpin kelompok mafia terbesar di Seoul yang bersembunyi di rumah sahabatnya.

Cast :

Do Kyungsoo

Kim Jongin aka Kai

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Exo member lainnya

Warning : boylovers/yaoi, mature, bdsm, criminal/mafia.

Prologue

Dentuman keras dari musik yang dimainkan oleh DJ mengisi ruangan-ruangan yang ada di rumah tersebut, yang pasti akan mendapatkan sumpah serapah dari rumah-rumah tetangganya karena kegaduhan yang dibuat oleh kumpulan remaja yang sedang berpesta ria.

Pesta ini menyambut kemenangan kontes bernyanyi yang dilakukan oleh Do Kyungsoo dan Byun Baekhyun. Dua sejoli yang selalu bersama sejak mereka kecil. Sifat mereka sangat bertolak belakang, bagaikan utara-selatan dan bagaikan positif-negatif.

Namun, itulah mengapa mereka dapat bertahan sebagai sahabat sampai sekarang. Seperti magnet yang hanya dapat menyatu dengan sifat yang berbeda bukan?

"Selamat atas kemenangan kalian!" Seorang pria kecil dengan wajah yang berbentuk sedikit kotak namun masih terbilang tampan berteriak dengan keras melawan suara musik yang lebih keras.

"Terimakasih Chen!" Baekhyun melepas senyum lebarnya dan mengangkat wine nya tinggi-tinggi untuk mengajak Chen bersulang dengannya.

Berbeda dengan pria mungil di sampingnya, yang hanya melihat ke-sekeliling dengan mata bulatnya yang terlihat seperti akan keluar dari tempatnya.

Do Kyungsoo, ia adalah pria yang sedari tadi melihat kericuhan pesta yang dibuat sahabatnya. Kyungsoo bukanlah orang yang sering pergi ke pesta semacam ini. Ia lebih memilih di rumah dan menonton banyak film di kamarnya daripada pergi ke pesta dan bermabuk-mabukan bersama.

Padahal, ia sudah menolak Baekhyun untuk tidak membuat pesta, namun apa yang ia dapat? Baekhyun tetap bersikukuh untuk mengadakannya dan membawa Kyungsoo masuk ke dalam rumah tempat puluhan remaja labil berada.

"Hey pendek, nikmati pesta ini! Jangan berdiam diri disana seperti seorang anak kecil yang tersesat."

Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tajam, kata 'pendek' adalah hal yang sangat sensitif di telinganya.

"Aku sudah bilang padamu, aku tidak ingin ikut pesta ini!" Kyungsoo berteriak di telinga sahabatnya yang sekarang sudah seperti orang bodoh karena banyaknya wine yang ia sudah minum.

"Oh ayolah! Nikmati dunia luar. Pergilah keliling rumahku jika kau mau. Aku memberikan kebebasan padamu disini. Ini pertama kalinya bukan?"

Jika dipikir kembali, sudah belasan tahun ia berteman dengan Baekhyun tapi ia tidak pernah sekalipun pergi kerumahnya. Pertama Baekhyun selalu melarangnya. Kedua ia selalu mengatakan bahwa rumahnya sangat sepi seperti kuburan karena kedua orang tuanya selalu pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaan jadi Baekhyun selalu menginap di rumah Kyungsoo dan sekarang Nyonya Do menganggap bahwa Baekhyun adalah anaknya ketiganya.

"Tidak usah kau bilang aku juga akan pergi dari tempat berisik ini."

Baru saja Kyungsoo ingin berbalik dan menjauh dari Baekhyun, ia merasakan tangan Baekhyun menarik dirinya dan merangkul dirinya. Wajah Baekhyun kini mendekat ke telinga Kyungsoo dan mulai berbisik pelan, sangat pelan.

"Jangan masuk kedalam ruangan yang berada di pojok kanan lantai dua. Itu sangat berbahaya."

Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya dan menatap Baekhyun dengan penasaran, ia sangat suka misteri-misteri atau sebuah rahasia yang ia tidak tau. Walaupun ia tau, bisa saja Baekhyun hanya ingin menakutinya. Mengingat sifat kekanakan Baekhyun membuat dirinya tanpa sadar menghela nafasnya.

"yaya, aku tau kau ingin mengatakan disana ada monster? Sangat masuk akal." Ucapnya dengan sarkastik.

"Aku serius. Jangan mendekat ke ruangan itu. Di dalam lebih berbahaya dari monster."

Baekhyun menatap sahabatnya dengan lekat, meminta Kyungsoo benar-benar menjauhi daerah yang ia bilang sangat terkutuk itu, berharap temannya tidak akan mencoba-coba masuk ke dalam sana. Karena ruangan itu sangat berbahaya, mengingat saat dirinya masuk ke dalam sana saja membuatnya merinding.

Melihat tingkah sahabatnya yang aneh membuat Kyungsoo makin bertanya-tanya. Baekhyun memeluk dirinya yang mulai gemetar saat ini dan terlihat ekspresi ketakutan di wajahnya. Sebenarnya ada apa di ruangan tersebut? Kyungsoo ingin mengetahuinya tapi ia juga tidak ingin mengambil resiko.

"Kumohon Kyungsoo."

Lamunan Kyungsoo buyar saat mendengar suara memelas dari Baekhyun. Tidak tega rasanya ia melihat sahabatnya yang putus asa seperti sekarang. Kyungsoo mengangguk dan tersenyum meyakinkan.

"Aku tidak akan kesana. Sekarang nikmatilah pestamu." Ucap Kyungsoo yang dibalas dengan senyuman lebar dan anggukan bersemangat dari Baekhyun.

Sejam setelah kepergian Baekhyun, Kyungsoo mulai berkeliling rumah sahabatnya tersebut. Mulai dari toilet, beberapa kamar dan sekarang ia berada di dapur di lantai atas. Mengambil minuman dingin untuk menghilangkan rasa terbakar di tenggorokannya.

Rasanya benar-benar seperti seorang anak kecil yang tersesat di tempat yang asing. Berkeliling tanpa mempunyai arah. Tapi bukankah ini yang ia inginkan untuk menghindari gerombolan remaja labil yang sedang berbagi keringat di bawah sana? Dan bagusnya, remaja-remaja labil itu dilarang keras oleh Baekhyun ke lantai atas yang entah apa alasannya. Mungkin masalah kamar di pojok? Entahlah ia tidak peduli.

Kyungsoo menghela nafasnya pelan. Ia menuju ruang tengah yang ada di lantai dua. Sungguh Rumah Baekhyun benar-benar besar dan luas. Ia tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya seperti tuan putri ah tidak tapi seperti seorang pangeran. Bahkan ini tidak pantas disebut dengan rumah, ini adalah mansion.

Setiap lantai memiliki aulanya sendiri-sendiri, ruang tamu besar yang biasanya hanya ada di lantai bawah namun tidak untuk rumah Baekhyun. Serta kamar-kamar yang besar dengan pintu yang dihiasi oleh emas.

"Apa Baekhyun benar-benar sekaya ini? Oh ya tuhan." Ucap Kyungsoo dengan diri sendiri.

Tangan kecilnya tidak henti-hentinya memegang lukisan-lukisan cantik di dinding, meraba pintu besar yang dihiasi emas dengan pelan. Dan lagi mata bulatnya terus menatap takjub keindahan yang ada di depannya.

Tanpa sadar kakinya telah menuntunnya dirinya ke akhir lorong. Ia dapat melihat pintu besar yang memiliki warna yang berbeda dari pintu lainnya. Pintu di depannya berwarna merah darah namun tidak lupa dengan emas yang menambah keindahan pintu terebut.

Kyungsoo melihat sisi kanannya untuk memastikan apakah ada orang atau tidak. Ia menggigit bibir merahnya dengan pelan, mengingat kembali pesan Baekhyun padanya. Pria mungil itu kini berdiri tepat di ruangan yang dilarang oleh sahabatnya. Jujur, ia bahkan tidak sadar bahwa ia bisa sampai ke tempat ini.

"Apa tidak apa-apa jika aku masuk?"

"Ah tapi Baekhyun bilang tidak."

"Aish tapi aku ingin masuk."

Kyungsoo bergulat dengan dirinya sendiri. Hatinya mengatakan ia ingin masuk namun di otak yang masih waras mengatakan lebih baik jangan. Perdebatannya dengan batinnya sendiri membuat jantung berdetak kencang. Mungkin ia akan menyesalinya nanti. Mungkin Baekhyun akan memarahi dan mencaci makinya nanti. Namun apa daya saat tangannya mulai memegang gagang pintu untuk didorong. Satu yang pasti, ia berjanji, dirinya hanya akan melihat sekilas dan langsung keluar dari sana.

Kyungsoo membuka pintunya dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara apapun. Ia melihat sebuah ruangan yang sangat gelap di depan matanya. Tanpa ada sedikitpun cahaya membantu penglihatannya. Benar-benar menyiksa dirinya yang sedang tidak menggunakan kacamata walaupun itu juga percuma jika ruangannya gelap.

Panggil Kyungsoo penghianat atau apapun, karena ia sudah tidak peduli sekarang. Melanggar perintah Baekhyun yang diberikan padanya. Namun, rasa penasaran telah menguasai dirinya.

Dengan keberanian pada diri kecilnya, ia melangkah masuk ke dalam dengan pelan dan penuh waspada. Tangan kecilnya tidak lepas dari gagang pintu tersebut. Ia siap jika ada orang mengerikan seperti apa yang dikatakan Baekhyun ada di dalam karena ia bisa dengan cepat keluar dari ruangan ini.

Entah sudah berapa lama ia menahan nafasnya, namun saat merasakan perasaannya menjadi lebih tenang, ia menghembuskannya dengan pelan. Mata bulatnya masih mencari sesuatu yang aneh di ruangan gelap tersebut.

Kyungsoo tersenyum tenang setelah memastikan bahwa tidak ada apapun di dalam ruangan ini. Ia menggelengkan kepalanya saat memikirkan sesuatu yang tidak-tidak seperti seorang pembunuh yang menyembunyikan mayat disini.

Tapi Baru saja dirinya berbalik dan hendak keluar dari ruangan tersebut, namun tiba-tiba pintu di depannya tertutup begitu saja.

BRAK!

Nafasnya tercekat di tenggorokan dan jantungnya kembali berdetak lebih kencang dari biasanya. Mata bulatnya melihat ke kanannya dari sudut matanya karena ia merasakan aura dominant di sebelah kanannya.

Perasaan yang awalnya tenang, kini menjadi tegang, ditambah dengan polesan warna gelap dari ruangan ini membuat suasana ruangan menjadi mencekam.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Kyungsoo menggigit bibirnya tanpa sadar ketika mendengar suara berat seorang pria tepat di telinga kanannya. Ia bahkan dapat merasakan nafas yang keluar dari orang asing tersebut.

"Aku bertanya padamu manis." Kyungsoo bergidik ngeri saat merasakan permukaan kasar menjilati daun telinganya. Ia secara refleks menjauhkan diri dari orang asing tersebut dan menutup telinga kanannya dengan cepat.

"A-Aku salah masuk ruangan. Maafkan aku."

"Aku akan keluar sekarang. Terima kasih."

Kyungsoo menunduk entah ke mana yang pasti ia harus cepat keluar dari tempat menyeramkan ini. Benar kata Baekhyun, mendengar suaranya saja membuat bulu kuduknya merinding. Tapi anehnya Kyungsoo bahkan tidak sadar sejak kapan ada orang di samping dirinya.

Belum sempat dirinya memegang gagang pintu di depannya. lengannya ditarik oleh tangan besar dan menyeretnya menjauhi pintu. Dirinya dibanting ke dinding dengan kasar yang membuat Kyungsoo meringis.

"Aku tidak pernah mengatakan kau boleh keluar."

Suara itu menggema dengan tegas di ruangan gelap tersebut. Suara yang berhasil membuat kakinya terlalu lemah menopang tubuhnya. Suara yang berhasil membuat Kyungsoo diam tanpa kata. Suara yang sangat berbahaya dengan setiap penekanan pada katanya.

Dengan cepat pria asing tersebut menarik kedua tangan Kyungsoo ke atas kepalanya dan menahannya dengan satu tangan. Memasukkan kaki kanannya ke dalam celah-celah kaki mungil Kyungsoo dan berada tepat di daerah privasinya, membuat Kyungsoo harus menahan nafasnya kembali dan membuatnya merasa tidak nyaman.

"Siapa namamu?"

Kyungsoo menatap pria yang tidak terlihat di depannya ini dengan mata bulatnya dengan tidak nyaman, berharap ia bukanlah monster yang dikatakan Baekhyun dan akan melepaskan dirinya.

"Aku bertanya."

"K-Kyungsoo tuan."

Pria asing tersebut tersenyum puas saat mendengar Kyungsoo ini memanggilnya tuan. Ia sangat suka dengan panggilan tersebut, apalagi jika Kyungsoo memanggilnya master. Ah sudah lama ia tidak merasakan sensasi ini setelah sekian lama karena kedua iblis di rumahnya yang dulu. Ya, orangtua-nya.

"hmm.. Kenapa kau kesini?"

"Aku terse-"

"Tidak mungkin kau tersesat, karena pria eyeliner itu pasti memberitahumu tentang ini sebelum kau pergi dari pesta ini. Aku sudah melarangnya untuk tidak membiarkan siapapun mengusik kamarku."

Kyungsoo menelan salivanya dengan susah. Jantungnya juga tidak mereda, justru semakin kencang ia berdetak, Seakan-akan organ terpentingnya akan keluar dari tubuhnya.

"Tapi jika orang yang mengusikku adalah pria mungil sepertimu, aku tidak masalah."

Sebuah permukaan kasar kini kembali menjilatinya, namun kali ini ia berada di lehernya. Meninggalkan cairan lengket yang membuat Kyungsoo jijik. Pria mungil itu memberontak untuk melepaskan diri dari pria di depannya dengan sekuat tenaga.

"AH!"

Teriakan Kyungsoo keluar dengan keras tatkala ia merasakan lapisan kulit lehernya digigit dengan sangat keras yang ia yakini pasti akan mengeluarkan cairan merah.

Lain dengan pria asing yang mengigitnya, entah kenapa gairah dalam dirinya terpancing saat melihat pria mungil itu berteriak serta meringis kesakitan. Membuat dirinya yang tertidur menegang dengan cepat.

Kyungsoo menengadahkan kepalanya kebelakang, menahan rasa sakit yang luar biasa dari lehernya. Pria asing di depannya menghentikan gigitannya dan melihat Kyungsoo yang sedang terengah-engah dengan mulut sedikit terbuka untuk mengambil nafas benar-benar terlihat sangat menggoda dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ah sial, aku ingin memakanmu sekarang juga."

Pria itu menciumi setiap keringat yang menghiasi wajah Kyungsoo dengan penuh penghayatan, tidak lupa dicicipinya wajah itu sedikit demi sedikit, meninggalkan bekas merah di sekitar leher dan rahangnya.

"Kau milikku dan sebentar lagi tubuhmu akan menjadi milikku."

Dengan cepat Kyungsoo tersadar ketika mengerti maksud ucapan pria asing tersebut. Akhirnya dengan kekuatannya ia menendang pria itu dengan sekuat tenaga dan berhasil, tidak ingin kembali ditahan, Kyungsoo langsung mendorong pria itu hingga ia terduduk.

"Jika kau berani pergi, aku akan menemukanmu dan menghukummu dengan cara yang menyakitkan."

"Sangat menyakitkan." Ucap pria itu dengan penekanan di setiap katanya. Kalimat yang terdengar begitu menyeramkan, begitu menakutkan dan begitu sungguh-sungguh.

Kyungsoo sempat terdiam di depan pintu sesaat, dirinya merasa apa yang pria tersebut katakan akan benar-benar dilakukan olehnya dan itu berhasil membuat dirinya gemetar dan ragu untuk pergi.

Pria yang masih terduduk tersebut tersenyum senang ketika melihat pria mungil itu diam tanpa berani membuka pintu di depan dirinya. Ah ia senang menemukan Kyungsoo yang sangat penurut. Ia benar-benar menyukai orang yang penurut, sangat cocok dengan kriteria yang ia inginkan.

"Namaku Kai." Pria yang bernama Kai itu bangkit dan berjalan mendekati Kyungsoo.

Melihat Kai berjalan kearahnya, Kyungsoo mulai panik dan dengan keberanian yang tersisa darinya, ia membuka pintu dan menutupnya dengan cepat tanpa memberikan Kai waktu untuk menahannya kembali.

Kakinya segera berlari menjauhi kamar berpintu merah tersebut. Takut pria bernama Kai akan mengejarnya dan benar-benar membunuhnya. Jantungnya tidak berhenti berdetak sangat cepat sama sepeti hormon adrenalinnya yang bekerja cepat.

Demi Tuhan ia berjanji tidak akan pernah datang ke rumah Baekhyun lagi, apalagi mendekati kamar tersebut.

Kai mematung ditempatnya, ia masih berada di dalam kamarnya. Pria itu menutup wajahnya dengan tangan kanannya dan tertawa renyah. Ia tak percaya Kyungsoo berani pergi kamarnya dan pergi dari dirinya.

Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dan menatap tepat kearah pintu yang ditutup Kyungsoo dengan tatapan tajam, tanpa ada senyum diwajahnya. Yang ada hanyalah pancaran tatapan marah yang akan membuat orang-orang menunduk takut padanya.

"Aku akan membiarkan ia lepas saat ini, memberikannya kebebasan. Sebelum aku menemukannya dan memberikan pelajaran yang menyakitkan padanya."

Dinyalakannya lampu kamarnya, kini Kai terlihat sangat jelas, seorang pria dengan kulit cokelat yang eksotis dan otot-otot tangan yang membuat siapapun akan rela bergelayut manja disana. Rahang yang sempurna dan tatapan mata yang tajam yang akan membuat orang yang melihatnya gematar. Sempurna itulah kata yang tepat untuk pria berkulit cokelat itu sekarang.

Kaki panjangnya berjalan kearah salah satu lemari dengan ukuran sedang dan membukanya, terlihatlah benda-benda yang sangat tidak lazim disimpan di lemarinya. Benda-benda yang akan membuat orang yang melihatnya lari saat itu juga.

Namun itu semua adalah benda-benda yang dipunyai oleh beberapa orang yang mempunyai kelainan seperti dirinya. Kelainan seperti menyiksa seseorang selama berhubungan ranjang dengannya. Kelainan yang bahkan membuat gairahnya meningkat setiap kali mendengar rintihan mereka.

Itulah mengapa Kai lebih suka memberikan kebebasan pada peliharaan dulu dan menjadi liar sebelum mengajarinya untuk menjadi patuh dan penurut pada majikannya. Ya, karena Kai sudah mempunyai alat-alat yang digunakan untuk mengajari peliharannya nanti.

Tbc

Hai, ini cerita kedua aku. Aku tau ini bener-bener jauh dari kata bagus atau lumayan, karena aku juga masih belajar menulis yang pasti alurnya terkadang aneh. Terimakasih yang meyempatkan diri untuk membaca! Maaf karena aku suka nulis cerita dark kaisoo dan tidak sesuai dengan kemauan kalian.

-zarry