Mobile Suit Gundam 00

Fanfiction

«HOME»


CHAPTER I

"WAKE UP!"


Disclamer: Original Creator-Hajime Yatate, Yoshiyuki Tomino, Director-Seiji Mizushima, Character Design-Minchinoro Chiba, Yun Kouga, Mechanical Design-Hitoshi Fukuchi, Kanetake Ebikawa, Kenji Teraoka, Naohiron Washio, Seiichi Nakatani, Takayuki Yanase, Music-Kenji Kawai, Amination Production-Sunrise

Story: Ami

Editing: Ama


Warning

1. Sorry untuk miss typo dan tanda baca… (^_^)7

2. Banyak deskripsi

3. Analisis

4. Alur lambat

Enjoy Reading


Dua tahun setelah jatuhnya Innovator, dunia menjalani kehidupan yang damai, 2314 AD, pemerintah Earth Sphere Federation mencari kedamaian dengan cara menciptakan dunia yang bebas dari senjata. Tapi selama dua tahun berselang itu, bumi telah diintai oleh bahaya yang datang dari luar angkasa. Sebuah kapal yang dahulu pernah dikirim ke planet Yupiter, 130 tahun yang lalu, tampak sepintas tidak berpenghuni, tapi sebenarnya dikendarai para alien yang berbahaya, alien yang memiliki kecerdasan yang tinggi dalam mempelajari teknologi manusia untuk memulai perang baru antara manusia dan alien. Extraterresial Living-Metal Shape-Shifters/ELS adalah nama makhluk asing itu. Perang sangat sengit dikala itu, namun disaat terdesak dan hampir kalah, tiba-tiba serangan ELS terhenti, kapal induk ELS mekar seperti bunga padang pasir berwarna keemasan dan menaburkan serbuk-serbuk yang berkilauan. Disaat itulah manusia menyadari bahwa alien itu berusaha untuk berkomunikasi—memberitahukan tentang penderitaan mereka atas kehilangan tempat tinggal, sehingga manusia memutuskan untuk membagi tempat dengan alien itu selama 50 tahun lebih hingga manusia membuat sebuah kapal bernama Sumeragi untuk menjelajahi luar angkasa.

Kemudian, meskipun menciptakan perdamaian dunia tanpa senjata, ancaman akan selalu datang, sama halnya ketika menyuruh singa untuk menumpulkan taring dan kukunya yang dipergunakan untuk membela diri dan bertahan hidup. Hal itu berlaku untuk dunia, dibumi, dan selama 50 tahun lebih kedamaian pun terjaga dengan larangan bersenjata. Sebagai langkah utama lainnya, pasukan militer Earth Sphere Federation berjaga disekitar planet Yupiter—tepat alien ELS muncul. Menerima spekulasi yang ditetapkan oleh para Earth Sphere Federation Counsil dalam rapat yang dilakukan selama setahun lebih secara bertahap setelah menghadapi alien ELS mengenai adanya kemungkinan alien lain diluar tata surya Bima Sakti.

«—»

Di luar angkasa, Planet Yupiter, sebuah armada asing mendekati bumi. Pergerakannya ditangkap oleh radar satuan pasukan militer ESF. Tiba-tiba, dengan tanpa persiapan, sebuah serangan kejutan diluncurkan kepada satuan ESF, serangan mendadak yang sangat fatal, memaksa kapten kapal mengeluarkan status merah dan melakukan serangan balik untuk mempertahan formasi pertahanan. Puluhan mobile suit type GN-X model terbaru meluncur dari landasan kapal-kapal pasukan ESF, dan dalam waktu sepersekian detik terjadi baku tembak dengan armada asing. Diluar dugaan, unit humanoid armada kapal asing itu dengan lihai menghancurkan sebagian besar unit mobile suit ESF.

Unit humaniod yang terasa tidak asing: kemampuan, kecepatan, dan daya serang yang sama dimilik oleh sebuah organisasi Paramilitary Celestial Being dahulu. Karena terdesak, Sang Komando tertinggi mengirimkan pesan ke Bumi tentang penyerangan tiba-tiba dari armada asing itu, disaat yang sama, unit humaniod musuh melepaskan tembakan kearah kapal induk komando ESF, semua kru tercegat, dan tiba-tiba terdengar ledakan besar. Suatu ledakan yang terjadi karena sebuah tembakan diluncurkan entah darimana. Ledakan besar yang tercipta dari unit humaniod musuh yang hendak menembakkan senjatanya kearah kapal induk ESF.

Dalam sekejap mata, sekelebat bayangan melintas di monitor raksasa miliki ESF. Terlalu cepat dan tidak tertangkap oleh radar, yang ada hanya taburan cahaya emas yang ditinggalkan oleh sekelebat bayangan yang melintas itu. Untuk serangan terakhir sekelebat bayangan itu, menembakkan sebuah tembakan raksasa yang diarahkan ke kapal induk armada asing. Sebagian kapal mereka hancur, dan cukup untuk menjatuhkan barisan pertahanan, kemudian dengan sigap meluncurkan serangan kedua setelah mengunci target diradarnya, mengakibatkan sebagian besar unit humaniod itu hancur berkeping-keping karena tembakan beam yang bertubi-tubi. Tembakan beam yang seketika membelok mencari target lain ketika telah menghancurkan target pertamanya, kemudian menghancurkan target kedua, ketiga, dan seterusnya. Bergerak seperti halilintar membentuk zig-zag, mendesing, mencabik ruang hampa dengan gerakan sepersekian detik menghancurkan semua yang ditembusnya.

Puluhan tembakan beam itu seolah bergerak sendiri dan dikendalikan seperti peluru rudal, mencari targetnya sehingga semua unit humaniod di sapu bersih dengan menyisakan taburan debu-debu merah yang berkilau. Semua kru ESF tertegun dan kaget tidak percaya memandangi aksi pembantaian tanpa ampun dari sebuah unit asing yang tiba-tiba muncul dan tidak diketahui wujudnya sampai akhirnya menghilang menyisakan taburan debu-debu cahaya emas yang merusak sistem komputer mereka.

"Kapten… jangan-jangan benda itu…" ucap salah seorang operator kapal induk ESF dengan suara sedikit gemetar—masih terpengaruh dengan perasaan ngerinya.

"Entahlah, organisasi itu sudah tidak terdengar lagi kabarnya selama lebih dari 50 tahun ini, setelah perang besar melawan ELS, tapi…" kata Sang Kapten memperhatikan layar monitor raksasa dihadapannya, menampilkan sesosok unit humaniod dengan gambar yang pudar—tidak jelas. Yang menarik dari hal itu adalah, sosok itu memancarkan sinar keemasan dengan siluet yang masih dapat dikenali. "Tapi yang terpenting sekarang adalah siapa yang menyerang kita secara frontal ini dan dari mana datangnya?" tambah Sang Kapten lagi.

«—»

Disebuah tempat dipinggir Kota Azadistan, di tengah padang pasir yang ditumbuhi berbagai macam bunga berwarna-warni. Terlihat sebuah bangunan yang tersusun dari balok-balok bata. Angin berhembus sepoi-sepoi mengibarkan kain gorden disebuah jendela berbingkai biru muda dari bangunan tersebut, menyelusuri setiap sudut ruangan yang tidak banyak memiliki perabotan. Hanya ada sebuah piano kecil, di atas piano itu ada setangkai bunga padang pasir yang diletakkan di dalam vas bunga, disamping vas bunga itu, ada sebuah pigura yang memperlihatkan beberapa sosok manusia. Di sudut ruangan, ada rak yang dihiasi oleh beberapa pigura dengan ukuran kecil dan sedang. Tidak jauh dari sana, sebuah pintu bercatkan cokelat, terbuka sedikit memperlihatkan apa saja yang ada di dalam ruangan itu. Ruangan itu sedikit gelap, yang ada hanya cahaya matahari—menyusup melalui jandela sementara gordennya tersingkap oleh angin dengan lembut.

Disamping jendela ada sebuah ranjang yang ditempati untuk satu orang. Ada sesosok tubuh terbaring disana, helaian rambut hitamnya yang mengkilap menutupi bagaimana ekspresi tidurnya. Ia tertidur dengan tenang, terlihat dari deru nafasnya yang teratur—semilir angin menyapa kulit cokelat terangnya—sangat tenang dan damai sampai sebuah sapaan lembut terdengar dari alam bawah sadarnya.

"Soran…"

Suara yang sangat familiar dan menentramkan, kelopak matanya bergeming, perlahan-lahan terbuka pelan dan menunjukkan bola matanya yang beririskan jingga kemerahan yang indah dan bening. Sebuah gumaman terdengar dari mulutnya.

"Marina… Ismail…"

Tangannya mulai bergerak dan menyantuh kepalanya, kemudian ia menegakkan badan dengan linglung untuk mengambil posisi duduk dari tidurnya—tertunduk. Di balik rambutnya terlihat pandangan matanya yang sendu, ia menongak dan melihat sekeliling ruangan—tempat ia tertidur, terlihat wajahnya yang lelah karena merasa telah tidur terlalu lama.

Sesaat kemudian ia menyadari keadaan tubuhnya, tidak sama ketika ia kembali ke bumi: warna kulitnya cokelat terang, bola matanya jingga kemerahan, dan rambutnya hitam mengkilap. Ia semakin yakin ketika ia turun dari ranjangnya dan memastikan dirinya di depan sebuah cermin yang menggantung diruangan itu. Cermin itu memantulkan dirinya seutuhnya, menjawab semua keadaan dirinya. Ia kaget dan tidak percaya—ia menutup matanya sembari menompang dahinya ke permukaan cermin—sementara ia mengusap pipinya dan teringat sesuatu, teringat kepada seorang wanita beberapa saat yang lalu mengusap pipinya itu. Marina Ismail. Wanita itu mengatakan sesuatu yang tidak jelas karena pandangannya memudar dan kemudian gelap.

Dengan sigap ia keluar dari ruangan itu, berlari, memeriksa setiap ruangan yang ada, mencari sesosok yang terlintas dibenaknya. Marina Ismail. Sesosok yang sekian lama ingin ia temui. Namun ia tidak menemukannya, ia kaget dan bingung, tubuhnya kelelahan dan lemah, perutnya terasa mual dan mau muntah. Keadaan tubuhnya membuatnya berpikir macam-macam yang tidak bisa ia cerna dengan baik, kepalanya nyeri seolah ada beban berat menumpu dipuncak kepalanya, suatu keanehan pada tubuhnya yang tidak ia ketahui penyebabnya.

Ia terduduk di depan piano kecil diruang tengah, mata beririskan jingga kemerahannya bersinar lembut ketika pandangannya menangkap sebuah pigura di atas piano. Bola matanya terfokus pada sosok seorang wanita di pigura itu, ia memakai baju longdress ungu yang duduk dikursi, berada ditengah-tengah deretan laki-laki muda dibelakangnya, dan dua orang gadis duduk dibawah, disamping kiri-kanannya.

"Marina Ismail," ucapnya pelan sembari menatap sosok wanita dipigura itu.

Seketika bermacam-macam pertanyaan muncul dibenaknya, kenapa ia kembali kesosoknya dahulu? Sosok manusianya, ia juga menyadari bahwa ia tidak lagi memakai baju pilotnya dan memakai stelan piama. Kambali ia berlari, memutar knop pintu dan menyelusuri jalan setapak—disekelilingnya ditumbuhi bunga warna-warni—bergoyang dihembus angin dengan lembut. Ia bahkan tidak memakai alas kaki dan terus berlari menuju tempat di mana ia mendaratkan sebuah unit humaniod atau tepatnya GNT-0000 00 QAN(T) Hybrid. Matanya membulat ketika ia benar-benar telah tiba ditempat yang ia tuju, 00 QAN(T) tidak ada ditempat, dirinya sangat yakin kalau mobile suit-nya itu ia daratkan ditepian danau kecil di area sana. Sebenarnya dari kejauhan pun ia menyadari kalau mobile suit atau lebih tepatnya disebut GUNDAM, tidak ada ditempat karena ukuran benda itu sangat besar dan dapat terlihat dari kejauhan, hanya saja ia tidak mau kalau dugaannya benar-benar terjadi sampai akhirnya ia mendapatkan jawaban yang menghentak kesadarannya.

"Tidak mangkin, apa yang terjadi? Double-0-Qanta… Double-0-Qanta menghilang?" ia tercengang tidak percaya—jatuh bersimpuh dan tertunduk. "Kenapa? Kanapa bisa? Semuanya… Marina Ismail dan Double-0-Qanta!?" ia menyentuh dahinya dengan gemetar, sesaat kemudian ia teringat dengan keadaan tubuhnya yang tidak wajar: sangat kelelahan, pusing, mual dan mau muntah, juga sosok manusianya. "Su… sudah berapa lama aku tertidur!?"

Tanpa ia sadari, seorang pria melangkah mendekatinya, pria itu tersenyum tipis melihat dirinya yang tertunduk, tampak pria itu menjinjing dua buah kantong kresek disalah satu tangannya, dan tangannya yang lain memegang sebatang cokelat yang telah ia gigit beberapa potong.

"Setelah perang besar melawan ELS, kau pergi ke planet ELS dan menghilang selama lima puluh tahun," ucap pria itu menghentakkan kesadarannya yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, suara itu tidak asing baginya—ia berdiri dan membalikkan badannya untuk melihat siapa pemilik suara yang familiar ditelinganya. "Dan kembali lagi ke bumi setelah sekian lama dengan wujud Innovator Hybrid, hahaha…" pria asing itu tersenyum dan tertawa renyah tanpa menyadari kalau si pemilik bola mata jingga kemerahan itu menatapnya dengan kaget tidak percaya.

Mereka berdua saling berhadapan, kembali pria asing itu tersenyum merekah kearahnya. "Kau pasti kaget dengan tubuhmu yang kembali seperti semula, manusia seutuhnya," ia menggigit batangan cokelatnya, "yah… walaupun begitu kau harusnya senang, setidaknya kau bisa jalan-jalan keluar tanpa menggunakan wujud yang seperti hantu itu, dan bukannya memasang tampang menyeramkan."

Bola mata jingga kemerahan itu masih menatap kaget pria asing yang menyapanya dengan akrab, rambut hitamnya yang mengkilap sesekali menghalangi pandangannya, namun dalam penglihatannya ia dapat melihat wajah pria itu dan masih tidak percayainya. Si pria mengernyitkan matanya karena menyadari tatapan yang diperlihatkan padanya dan mendesah pelan.

"Oi oi oi… jangan menatapku seperti itu, dong! Aku merasa seperti hantu mengerikan yang ditatap dengan mengerikan juga," wajah pria itu menunjukkan ketidaksukaannya, tapi ia tahu kalau sikap yang ditunjukkan oleh orang yang ia sapa itu adalah wajar. "Apakah semirip itu sampai kau membatu ditempat dan tidak bisa bicara?" ia tertawa berdengus, "hahaha… ok, baiklah, maafkan aku, aku rasa kau benar-benar bingung, aku minta maaf," tambahnya sembari menggigit cokelatnya dengan potongan besar. "Aku tidak tahu kenapa dia memberikan code name untuk semua kru, tapi… ya sudahlah."

"Kamu…"

Pria itu bergeming, "Perkenalkan… code name Lockon Stratos, Gundam Meisters generasi tujuh, true name Leon Dylandy, silahkan memanggilku dengan Leon atau code name-ku," kata pria itu tersenyum merekah, "senang bertemu denganmu... Setsuna F Seiei, Gundam Meisters generasi lima."

«—»


To Be Continued...