Hai Minna-san, saya Rakshapurwa kembali hadir disini /terus/

Kali ini saya membawa tamu dalam pembuatan fanfik ini. Kami melakukan kolaborasi bersama untuk pertama kalinya. Mari kita sambut Kisa Kitakore!

Kisa: Ha'i, terima kasih sambutannya, Raksha.

Woke, berhubung saya sudah terlalu banyak cuap-cuap, kita buka aja fictnya.

Happy Reading!

.

.

Akakuro Bully Drabble

By: Rakshapurwa dan Kisa Kitakore

Rate T

Pair : Akashi x Kuroko

Warning : Shounen-ai, Sedikit OOC, Penuh Keambiguan dan Typo

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi.

Masih ingin membaca?

Enjoy

.

.

Jilatan (Kisa Kitakore)

.

Waktu itu mereka berdua masih di Teiko—disebuah taman disore hari, Kuroko dan Akashi membeli es krim bersama. Seperti biasa, Kuroko membeli rasa vanilla sedangkan Akashi rasa strawberry—muka sekuriti tapi hati Hello Kitty.

Kuroko melirik pada Akashi yang tengah menjilati es krimnya dengan asik—dan seduktif. Ingin rasanya Kuroko melakukan hal yang sama seperti Akashi seperti saat ia digoda olehnya. Kuroko pun tersenyum kecil, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati es krim Akashi.

"Akashi-kun, aku ingin mencicipi es krimmu, boleh?" ,tanya Kuroko.

"Hmm...boleh,"jawab Akashi tanpa rasa curiga.

Kuroko menarik tangan Akashi—memegang es krim stroberinya itu—lalu ia menjilat ujung es krim dimana itu adalah bekas bibir Akashi. Lambat laun jilatannya turun hingga tangan kanan Akashi. Sontak Akashi terkejut dengan perlakuan Kuroko—yang mencoba menjadi seme padanya.

"Te-Tetsuya...",erang Akashi.

"Kenapa, Akashi-kun? Kau manis hingga tanganmu pun terasa seperti es krim stroberi," ucap Kuroko sambil terus menjilat tangan Akashi.

Akashi menahan erangannya dari aksi Kuroko yang terus menjadi. Sampai-sampai es krimnya pun jatuh di jalan. Saat itu juga ia menyadari bahwa Kuroko sedang menggodanya, Akashi pun melancarkan serangan balik.

"Tetsuya, kau curang hanya mencicipi es krim milikku dan membuatnya terbuang percuma. Aku juga ingin mencicipi es krim rasa vanilla yang kau punya," ujarnya.

Tiba-tiba Akashi mendorong Kuroko ke dalam sebuah gang yang gelap tepat di belakang Kuroko. Ia angkat kedua tangan Kuroko dan menahannya di samping kepalanya.

"Akashi-kun, apa maksud muh-mmp!"

Kalimat Kuroko terpotong di saat Akashi melahap buas bibir ranumnya. Lidah lincah menari menelusuri bibir ranum Kuroko—hingga akhirnya Kuroko melepaskan Akashi dengan medorongnya dengan tenaga lebih.

Nafas Kuroko tak beraturan—ia ngos-ngosan.

"Heh...terlalu cepat untuk bisa menjadi semeku, Tetsuya. Bahkan menjilat bibirku saja kau tak bisa," ledek Akashi.

"Huh! Liat saja nanti. Aku akan membulimu!" ancam Kuroko.

Namun yang ada malah Kuroko diterjang balik hingga tak berkutat oleh si singa mata belang.

.

.

Rak buku (Rakshapurwa)

.

Kuroko Tetsuya, tengah menghadapi suatu masalah. Tangannya tampak terulur ke atas seakan hendak mengambil sesuatu diudara. Kakinya sibuk berjinjit sambil sesekali melompat-lompat kecil ditempat. Dan wajahnya pun menyiratkan suatu kegundahan yang amat besar.

Ya—

Kuroko Tetsuya, saat ini mengalami kesulitan—ia tidak dapat mengambil sebuah buku yang tertata rapi dirak—perpustakaan sekolahnya.

Sudah setengah jam, usahanya tak juga membuahkan hasil. Kalau bukan karena tugas sekolah, Kuroko pasti akan melupakan buku itu dan mencari buku lain—yang lebih mudah ia jangkau.

Kuroko mendesah.

Mungkin sebaiknya ia meminta tolong pada Akashi. Kebetulan posisi Akashi tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Tapi—

Tinggi mereka tidak berbeda jauh. Hasilnya pasti akan sama saja. Buku tersebut tetap tak akan berpindah ke tangannya.

Tapi—

Entah mengapa sebuah ide nista terlintas diotak Kuroko. Senyuman misterius muncul dibibir mungilnya.

"Ano—Akashi-kun...bisakah kau membantuku?"

Akashi sedikit berjengit. Hampir saja ia melempar kamus yang tengah dibacanya—kearah Kuroko.

"Ehem—Tentu saja Tetsuya. Apa yang bisa aku bantu?"

Kuroko menceritakan masalahnya—yang ditanggapi dengan anggukan paham oleh Akashi. Setelah mengetahui apa yang harus ia lakukan, Akashi pun melangkahkan kakinya menuju rak buku yang dimaksud Kuroko.

Dan Akashi akui, memang letak buku yang harus ia ambil lumayan tinggi. Tapi kalau ia menolak—gengsi. Mau tak mau Akashi mencoba mengambilnya.

Pertama, Akashi menjulurkan tangannya, hasilnya nihil. Akashi berdiri sedikit berjinjt, hasilnya juga nihil. Akashi melompat-lompat ditempat sambill menjulurkan tangannya ke atas, masih saja nihil. Akashi jadi kesal sendiri.

"Pffft—"

Kuroko refleks langsung menutup mulutnya. Hampir saja ketahu—

"Aku tau kau menertawakanku, Tetsuya."

—ah, rupanya sudah ketahuan.

"Maafkan aku Akashi-kun, aku tidak bermaksud."

Dari buku, kini pandangan Akashi berpindah pada Kuroko. Antara malu dan kesal karena dikerjai, Akashi berjalan mendekati Kuroko.

"Kau mengerjaiku kan."

Akashi maju, Kuroko mundur. Akashi Senyum, Kuroko berusaha stay cool—meskipun hatinya sudah menjerit ketakutan. Hingga Kuroko tak menyadari kalau dia tak bisa kabur dari Akashi.

Maju ada Akashi, mundur sudah membentur tembok.

"...Maaf—"

CUP

Kuroko cuma bisa pasrah.

"Itu balasan dariku. lain kali coba lah dengan cara yang lebih elit untuk mengerjaiku, Te-tsu-ya."

"...Tidak akan ada lain kali, Akashi-kun."

Kuroko tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Bisa-bisa bukan hanya kecupan sebagai hukumannya, tapi—

—ah sudahlah, biarkan fantasi liar Kuroko bekerja sendiri.

.

Tamat

.

Yei XD chap satu udah selesai /tepuktangan/

Terimaka kasih sudah mau membaca cerita ini. Semoga kalian terhibur *senyum* dan untuk chapter selanjutnya bakal kami update hari sabtu/minggu—dikarena kami sudah mulai masuk sekolah lagi hehe.

Akhir kata sekian dari kami dan adakah yang mau mereview fic ini? *puppy's eyes*