Chapter 1 : Wow Seriously?
Tittle :
Happy Ending
Author :
BabyXie
Main Cast :
Park Chanyeol , Byun Baekhyun
Genre :
Romance, Friendship
Rating :
T+
Length :
[ 1/4 ] Short Story
Summary :
Dulunya Dulunya mereka dekat, karena sesuatu mereka menjauh. Hingga akhirnya perjodohan mempertemukan mereka. "Kau bisa merubah takdirmu"/ "Sayangnya aku tidak mau mengubah takdirku bersamu"/ "Ck"
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Nama-nama yang ada dalam fanfic ini milik mereka sendiri.
.
.
Warning!
Typo bertebaran. BL (Boys Love).Bahasa campuran.
If you Don't Like Don't Read . Please! RnR!
[CHANBAEK AREA]
.
.
Happy Reading^^
.
.
"Ibu , kenapa Aku harus ikut? Bukankan anak sama sekali tidak berguna jika disana?"
"Yakk, hari ini kau adalah yang terpenting, jadi cepat ganti bajumu dan jangan mempermalukan kita semua" kata seorang wanita paruh baya seraya berkacak pinggang. Matanya menatap tajam anak lelakinya. Tak lama badannya berbalik kembali menuju kearah pintu dibelakangnya, melangkah keluar.
Seorang lelaki – sebut saja Baekhyun tengah berada diranjang mengacak-acak rambutnya. Niatnya malam ini dia akan bercumbu dengan game-game yang baru dipinjamnya kemarin dan juga bermalas-malasan menghabiskan berbagai cemilan. Tapi kedua orang tuanya mengagalkan rencana emasnya. Sialnya. Dengan enggan ia melangkah menuju lemari disudut kamarnya, memilih baju yang sekiranya sesuai dan tentu nyaman. 10 menit kemudian ia berjalan keluar.
"Ada apa?"
"Kau akan dikenalkan dengan seseorang oleh ayahmu, sebenarnya kalian sudah saling kenal, tapi mungkin kau lupa." Ibunya mengendikkan bahunya acuh dan berjalan menuju mobil yang terparkir apik diluar sana.
"Maksudnya apa?" Baekhyun berjalan cepat menyusul ibunya. Tangannya bergerak mencengkram pergelangan tangan wanita paruh baya itu.
"Ibu~" rengeknya.
Wanita paruh baya itu menghela napas, lalu tangannya bergerak menggenggam tangan anaknya itu, matanya melirik kesegala arah, seolah tengah berpikir atau menyiapkan..kata?. "Mungkin ini semacam perjodohan, sayang"
"Ibu, Aku sudah dewasa"
"Ya, tapi kau juga masih kecil", lalu wanita itu menggeleng. "Ia seseorang yang baik sayang, dan ia sepertinya bisa membimbingmu yang masih kekanakan ini"
Baekhyun mendengus keras, "Terserah" lalu ia berjalan meninggalkan ibunya yang mengendikkan bahunya acuh kemudian tertawa kecil.
Ditempat lain…
"Kau dimana?"
"…"
"Kau akan datangkan? Kita sudah berjanji"
"…"
"Tapi kita juga harus menghormati mereka"
"…"
"Baiklah. Tidak apa-apa asal kau datang"
"…"
"Ya"
"Dasar anak nakal" ucap seorang wanita muda dengan dress biru tuanya. Dia sehabis menghubungi adiknya yang keras kepala. Lalu perhatiannya teralih kepada lelaki dan juga wanita paruh baya yang sudah berada didalam mobil. Menanti dirinya. Lalu dengan segera kakinya melangkah kearah mobil itu.
.
.
.
Suasana restoran China dikawasan Hongdae saat ini tampak ramai. Efek hujan diluar juga menambah pengunjung. Mungkin memang berniat untuk makan malam atau hanya berteduh menunggu hujan reda atau mungkin ada urusan yang penting.
Salah satu pengunjungnya adalah Keluarga Byun. Keluarga yang terdiri dari Tuan, Nyonya dan juga anak itu tengah berkumpul disudut restoran. Jika dilihat mereka tampak menunggu kedatangan seseorang , karena sedari tadi Kepala keluarga dari keluarga Byun itu terus melihat kearah jam tangan Rolex yang berada di pergelangan tangan kirinya. Tampak juga raut kecemasan dan kegelisahan tercetak diwajah mereka. Anak keluarga Byun yang bernama Baekhyun tampak sedari tadi menggerutu kesal. Bibirnya mengucapkan sumpah serapah untuk orang yang tengah ditunggunya. Ibunya bahkan sudah beberapa kali memukul kepala anak itu, tapi tak juga jera.
Satu jam itu bukanlah waktu yang sebentar. Dan dia dengan keluarganya telah menunggu selama itu. Seharusnya mereka menghubungi, agar pihak yang menunggu tidak menunggu terlalu lama. Itulah pikir Baekhyun. Ia sudah bersiap untuk pergi dengan mengangkat ponsel yang ditaruhnya dimeja tadi. Menatap orang tuanya yang bingung karena dia sudah berdiri.
"Ibu,Ayah Aku akan pulang duluan. Tidak apa-apa Aku tidak bertemu dengan teman Ayah atau 'orang yang sudah aku kenal itu'. Sampaikan saja-" ucapannya terhenti saat Ayah dan juga Ibunya juga berdiri. Jangan lupakan senyum menawan yang mereka pasang.
Langkah kaki terdengar dari arah belakangnya "Maafkan kami, hujan turun deras dan juga mendadak jalanan macet" Baekhyun menoleh. Rahangnya jatuh melihat sepasang suami istri dan juga seorang perempuan cantik dengan gaun biru tua yang nyaris basah yang tersenyum canggung . Terasa tidak asing.
"Tidak apa-apa, kami juga baru menunggu sebentar kok . iyakan?" Baekhyun tahu Ayahnya tengah mengedipkan sebelah matanya kepada Ibunya yang entah disampingnya tapi tak tahu maksud kedipan itu. Hingga beberapa lama barulah Ibunya mengangguk kaku. Baekhyun sendiri hanya menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal itu.
Inikah yang akan dijodohkan padaku? Kenapa berasa dia lebih tua dariku? Juga sepertinya aku tidak kenal dengannya.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Menggigit bibirnya pelan. Dan tersenyum canggung setelahnya saat beberapa pasang mata menoleh kearahnya.
"Inikah Baekhyun? cantik juga imut sekali. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. dua atau tiga tahun lalu itupun jarang." Wanita yang diperkirakan baekhyun seumuran dengan ibunya itu mengerutkan dahinya merasa tidak ada respon dari orang yang diajak bicaranya.
"Apa kau lupa dengan bibi? Astaga padahal dulu katanya kau sering kerumah. Bibi sangat menyesal tidak bisa menemuimu" Baekhyun tidak tahu secantik dan juga seimut apakah dia sehingga wanita yang katanya adalah calon mertuanya itu menyubit pipinya sampai benar-benar merah. Dan Baekhyun? dia tidak bisa apa-apa. Tentu saja.
"Ah, Aku tidak cantik dan imut juga Bi, Bibi bahkan lebih cantik. kulit Bibi masih kencang diusia sekarang ini" entah bakat darimana, Baekhyun memang cukup pintar memuji. Mungkin dia bakat jadi SPG. Hell.
"Juga , maaf Aku tidak ingat dengan bibi" Baekhyun lupa dengan wanita ini. Seingatnya dia sudah pernah bertemu hanya saja dia terlalu pikun untuk mengingatnya.
"Tidak apa, nanti kau juga ingat"
.
.
.
Setengah jam sudah berlalu, hujan diluar tampak sudah berhenti. Restoran yang semula penuh, kini berangsur-angsur berkurang. Hanya segelintir orang yang tersisa. Andai kedua orang tuanya mengijinkan, mungkin Baekhyun sudah sedari tadi keluar dari sini dan pergi meninggalkan obrolan yang membuatnya menguap berkali-kali itu. Anak perempuan dari keluarga Park itu juga ikut dalam obrolan membosankan itu. Kadang, suara tawa dari perempuan itu juga mendominasi. Ugh, mana mau Baekhyun berjodoh dengan wanita yang begitu. Cantik iya, putih iya, mancung pasti,semampai pula tingginya tapi tingkahnya itu loh.. Perempuan itu terlalu blak-blakan.
"Maaf Aku terlambat, Aku ada sedikit urusan tadi. Selamat malam paman, bibi " seorang pria yang tingginya diperkirakan 184 cm atau bahkan lebih itu datang dari arah pintu dengan tergesa-gesa dan membungkukkan badannya saat tiba dimeja. Keringat membanjiri wajahnya, walau tidak banyak.
Rambut hitam dengan poni menutupi dahi, membuatnya terlihat tampan. Kemeja biru yang dipakainya juga sangat pas ditubuh yang diperkirakan Baekhyun atletis itu. Celana jins yang senada dengan warna rambutnya terlihat cocok. Trendi dan kasual lebih tepatnya. Jangan lupakan sepatu Nike hitam yang dipadukan dengan putih itu.
"Tidak apa-apa Chanyeol, mungkin kau ada acara tadi"
"Sebenarnya tidak juga, Aku tadi bermain basket hingga lupa waktu" Krikk. Krikk
Semua orang tertawa kaku menanggapi itu, kecuali Baekhyun dan juga Chanyeol. Baekhyun menjatuhkan rahangnya, dia Chanyeol ? sungguh park Chanyeol?
"Chanyeol, ini Baekhyun dan Baekhyun ini adalah Chanyeol kalian sudah saling mengenal bukan? Kalian bahkan teman sedari kecil. Walaupun bukan kecil bayi. Setidaknya JHS kan. Dan kalian juga masuk SHS yang sama, kalian mungkin sering berpapasan"
"Kalian sudah saling kenal bukan? Kenapa tidak saling menyapa." Yoora – wanita dengan gaun biru tua- bertanya karena melihat keduanya diam saja. Mereka hanya saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Nyonya Park berdehem keras mencoba mencari perhatian keduanya . Baekhyun dan Chanyeol hanya menatap nyonya Park yang salah tingkah dan berlagak polos.
"Pergi keluar ngobrol atau apapun itu. Aku lihat Baekhyun sedari tadi sangat bosan" sebagai jawaban Baekhyun menggangguk menanggapi ucapan Tuan Park.
"Aku bahkan baru sampai ayah dan belum duduk"
"Kalau begitu duduklah. Kita akan makan dulu setelah itu ajak Baekhyun keluar"
Tak lama kemudian makanan tiba dimeja . Mereka menyantap makanan dengan sesekali ngobrol satu sama lain. Kadang juga menanyakan tentang Baekhyun maupun Chanyeol jika disekolah.
.
.
.
"Sudahlah cepat keluar, bukankah kalian sudah lama tidak mengobrol" Chanyeol beranjak dari kursinya menarik Baekhyun keluar dari restoran tersebut.
"Yak, jangan menarikku. Aku bisa jalan sendiri brengsek" teriak Baekhyun lalu dengan cepat Chanyeol melepas tarikkannya pada Baekhyun saat sudah diluar restoran. Mereka berjalan tanpa sepatah katapun.
"Kupikir saat ayah mengatakan akan mengenalkan Aku dengan anak koleganya. Kupikir dia seorang yang cantik, ternyata.." Chanyeol berkata santai dan tangannya bergerak kekantong celananya. Memasukkan tangannya yang dingin.
"Ternyata apa? Kita bahkan sudah saling mengenal satu sama lain dan Aku tampan"
"Ternyata hanya seorang yang sangat cerewet dan juga amat menyebalkan yang tak mau menghormati kakak kelasnya"
"Kau bahkan lebih menyebalkan Sunbae" bicara dengan Chanyeol memang amat menyebalkan bagi Baekhyun. untuk itu Baekhyun menekankan kata 'Sunbae' saat memanggil Chanyeol tadi. Mereka bahkan dulunya pernah satu kelas saat kelas sepuluh.
Hanya siswa Akselerasi saja sombong pikir Baekhyun,
"Setidaknya begitu lebih baik. Aku kan Sunbae mu"
Setelah lama berjalan tanpa tujuan mereka melihat sebuah kedai es krim. Dengan semangat Baekhyun mendahului langkah Chanyeol. Berlari memasuki kedai es krim yang terlihat sepi itu.
"Paman, Aku ingin es krim strawberry jumbo ", saat melihat penjual itu masih diam tidak segera melayani pesanannya, dahinya berkerut bingung. "Kenapa?" lanjutnya.
"Kekasihmu?"
"Apa paman bercanda. Dia kekasihku? Tidak mungkin dan juga tidak usah pam-"
"Es krim coklat dengan pisang"
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar ya " penjual es krim itu pergi meninggalkan keduanya setelah menerima pesanan. Tak ada yang mau membuka pembicaraan. Chanyeol mengutak atik ponselnya seolah dia sibuk, padahal dia hanya keluar masuk menu saja. Sedang Baekhyun duduk diam memandang keluar, melihat genangan air hujan.
"Kau tahu kenapa keluarga kita bertemu hari ini?" entah sejak kapan , Baekhyun tidak tahu , Chanyeol sudah tidak memainkan ponselnya dan mengikuti dirinya melihat genangan air diluar.
"Entahlah, itu adalah urusan mereka, katanya sih dijodohkan. Sebenarnya sih tadi saat berangkat saja Aku sangat malas"
"Kau tidak senang bertemu dengan ku?"
"Aku bingung"
"Baiklah, ini es krimnya anak muda. Selamat menikmati"
"Terima kasih paman" sahut Baekhyun juga membalas senyum penjual tadi.
"Yang ku dengar Aku akan dijodohkan"
"Kau setuju?"
"Aku tidak suka dengan wanita itu, apakah dia kakakmu? Dia terlihat cerewet" raut bingung tercetak diwajah Chanyeol , tapi secepatnya dia merubahnya dengan wajah datarnya. Mengikuti alur yang dibuat Baekhyun.
"Dia kakakku. Dia cantik bukan?"
"Cantik, tapi Aku tidak suka. Enak sekali es krim ini, untung Aku pesan yang jumbo" setelah menelan es krimnya , Baekhyun melanjutkan
"Tapi kenapa saat dulu Aku sering kerumahmu, Aku tidak pernah melihatnya?"
"Dia pergi kekanada"
Lalu setelahnya diisi dengan tawa keduanya. Membicarakan tentang berbagai hal hingga lupa waktu. Cukup lama mereka disini.
"Ayo kembali, sudah cukup malam"
Keduanya pun keluar dari kedai es krim itu dan kembali kerestoran, dimana ada kedua orang tua mereka.
.
.
.
"Pasti sangat menyenangkannya saat mereka sudah menikah nanti. Aku tidak sabar" nyonya park tersenyum senang saat membayangkan anaknya menikah
"Bukankah sudah ditentukan?" sahut nyonya Byun disertai tawa menggoda
"Ya, dan Aku sangat tidak sabar dan juga untuk menimang cucu" ucapan nyonya park membuat orang dalam meja itu tertawa. Benar juga.
"Oh kalian sudah kembali?" yang ditanya mengangguk serempak. Lalu duduk berhadapan. Karena memang hanya itu kursi yang tersisa. Mereka berhadapan.
"Baiklah, kami akan memberitahukan sesuatu kepada kalian. jangan kaget dan juga menyela kami ya" jangan lupakan senyum manis nyonya park, bahkan teramat manis saat mengucapkan itu. Membuat Chanyeol yang anaknya takut saja.
Lalu tuan Byun berdiri sambil merapikan sedikit dasi kupu-kupunya "Kami sepakat akan menjodohkan kalian, yang mana akan diadakan pertunangan yaitu-"
" -Baekhyun jangan menyela." Baekhyun menundukkan wajahnya, menatap jari-jarinya yang saling mengait.
" Tepat pada bulan april nanti, lalu pernikahan kalian akan diadakan dua bulan setelahnya. Kami rasa cukup untuk kami menyiapkan pernikahan kalian berdua dalam dua bulan. Juga Karena kami tahu kalian tidak dalam hubungan yang baik, jadi kami akan membeli apartement untuk kalian. jadi kalian paham, Chanyeol? Baekhyun?"
"Chanyeol? Baekhyun? KAMI?"
"Astaga suaramu Byun, tentu siapa lagi yang akan menikah? "
"Aku dengan dia?" Baekhyun berdiri dan menunjuk Chanyeol tepat didepan hidungnya. Membuat Chanyeol merotasikan matanya,
"Ya, kau tidak berpikir akan dijodohkan dengan Yoora bukan?" Tanya tuan park memicing curiga kearah Baekhyun yang mendadak gelagapan sendiri.
"Tapi dia laki-laki dan Aku juga laki-laki"
"Lalu?"
"Ini salah"
"Dimana letak kesalahannya?" nyonya Byun bertanya kepada Baekhyun yang sedari tadi terus bertanya . cerewet. Seperti dirinya saat muda dulu.
"Tentu saja laki-laki" Baekhyun masih ngotot dengan 'laki-laki'
"Laki-laki juga manusia. Tidak ada yang salah dengan itu. Kalian terlihat cocok saat bersama. Kau uke dan Chanyeol seme. Itu bagus"
"Ibuuuu"
"Baiklah, ini sudah selesai dan tidak ada penolakan."
"Chanyeol , katakan sesuatu"
"Apa?"
"Yakk, kau sudah tahu kan?" Chanyeol hanya mengendikkan bahunya acuh.
Chanyeol berjalan keluar restoran mengikuti keluarganya keluar. menuju parkiran. Sedang Baekhyun terus mengikuti Chanyeol dibelakangnya. Menarik kemeja biru Chanyeol.
"Jangan hanya katakan apa bodoh"
"Lalu katakan apa?"
"Dasar tidak berguna"
"Ayolah, apa kau bahkan lebih berguna daripada Aku yang siswa akselerasi?"
"Kau menyebalkan"
"Hoy, kalian tidak mau pulang?" ucapan tuan park mengalihkan perdebatan yang amat membuat malu itu.
"Tentu pulang, untuk apa disini"
"Tapi orang tuamu sudah pergi baek?" Baekhyun mengarahkan kepalanya kesegala arah. Tidak ada tanda-tanda mobil silver milik orang tuanya.
"Pulanglah dengan Chanyeol sayang, dia bawa mobil"
"Bukannya apa, tapi Aku menolak pulang bersama dengan pria ini Bibi. Jadi. bolehkah Aku numpang dengan bibi dan paman saja?"
"Maaf, tapi kami akan pergi minum sampai malam baek" sirna sudah harapan Baekhyun.
"Ya sudah terserah saja. Chanyeol antar Baekhyun pulang atau kau tidur diluar nanti. Baiklah selamat malam anak-anak" dan Wussshhh. Mobil orang tua Chanyeol melesat hilang.
Chanyeol berjalan dengan tangan yang ada dikantong celana. Meninggalkan Baekhyun yang mematung.
Wuusshh..
Dingin. Angin menyadarkan Baekhyun dari lamuananya . mungkin efek setelah hujan juga yang membuat dingin. Dia hanya memakai kemeja hijau tanpa mengunakan mantel dan dia tengah diluar mematung seperti orang bodoh. Lalu matanya terarah kearah Chanyeol yang sudah memasuki mobil merahnya.
Tokk tokk
Chanyeol yang telah menstater mobilnya menoleh, menurunkan kaca mobilnya. Alis kanannya menukik tajam dan dagunya terarah Baekhyun, seolah bertanya 'apa?'
"Kau tahu Chanyeol, hari ini sangat dingin dan Aku hanya memakai kemeja tipis. Aku juga tidak membawa sepeserpun uang. Jadi.. uhm.. jadi-" Baekhyun menundukkan sedikit badannya.
"Maaf uangku tidak untuk dipinjamkan"
"Kenapa kau pelit sekali?" Baekhyun berteriak didepan Chanyeol yang mana langsung membuat yang didepannya menutup matanya reflek.
"Hahh,. Masuklah " Chanyeol menunjuk kursi disebelahnya dengan dagu, Baekhyun langsung saja berbinar mendengarnya.
"Kau tidak punya maksud lainkan?"
"Seperti?"
"Menurunkan Aku dijalan setelah kau membiusku misalnya"
"Otakmu terlalu dangkal. Cepatlah Aku ingin segera pulang" Baekhyun mengangguk dan segera masuk kemobil Chanyeol. Ini adalah pertama kalinya Baekhyun masuk kemobil Chanyeol. Hanya siswa kelas dua belaslah yang diperbolehkan membawa mobil, sedang kelas sepuluh dan sebelah hanya boleh membawa motor dan kendaraan lain atau mungkin diantar oleh orang tunya seperti dirinya.
"Kenapa? bagus ya?"
"Lumayan. Saat kelas dua belas nanti Aku juga akan naik mobil sendiri"
"Harusnya kau juga akselerasi"
"Aku tidak terlalu suka mendahului seperti seseorang"
"Terserah. Kau iri"
"Aku tidak"
"Kau iya"
"Aku tidak"
"Kau tidak"
"Aku iya" Chanyeol mengulum senyum . Baekhyun terjebak kata-kata.
Setelah itu tidak ada yang berkata-kata lagipula rumah Baekhyun sudah dekat jadi tidak usah memulai pembicaraan. Chanyeol sendiri sedari tadi focus menyetir dan juga sesekali bersenandung mengikuti lagu yang yang tengah diputarnya kini. Home milik One Dirrection
" And it's alright.. Calling out for somebody to hold tonight"
"..When you're lost you'll find a way. I'll be your light"
"You'll never feel like you're home. I'll make this feel like home"
Dinada terakhir Baekhyun ikut bernyanyi bersama dengan Chanyeol. Lalu keduanya tertawa bersama.
"Kau suka dengan lagu ini?" Chanyeol mengangguk, menoleh kearah Baekhyun yang juga menoleh kearahnya, " Aku suka dengan maknanya" lanjutnya. Baekhyun ikut mengangguk. Saat melihat kedepan. Rumahnya sudah tampak , lalu Chanyeol menghentikan mobilnya saat sudah didepan rumah Baekhyun.
"Baek.." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. Tangannya bahkan sudah memegang pintu. Akan keluar.
"Ada apa?" Baekhyun bertanya bingung
"Apa kau sungguh keberatan dengan adanya pernikahan kita?" Baekhyun tidak bisa menangkap makna yang terkandung dalam nada bicara Chanyeol. Juga ekspresi ini. Baekhyun tidak pernah melihatnya.
"Aku cukup keberatan" Baekhyun menghela napas. Tangannya menapak diatas pahanya, mengurungkan niatnya membuka pintu.
"Aku hanya merasa kita terlalu muda untuk menikah, juga Aku masih marah padamu"
"Ayolah, kita bukan siswa JHS lagi baek."
"Aku tahu, hanya saja—entahlah"
"Pikirkan baik-baik tentang pernikahan itu, Aku.. Aku akan setuju apapun keputusanmu" Chanyeol mengarahkan pandangannya kearah luar. Hujan turun lagi.
"Kalau Aku menolak bagaimana dan kalau Aku menerima bagaimana?"
"Jika kau menolak mungkin hanya bisa sampai disini hubungan kita. Dan jika kau menerima mungkin ada seseorang yang sangat senang"
"Kau membuatku bingung. Sudahlah ini sudah malam . hati-hati dan terima kasih"
"Tunggu- ini" Chanyeol mengambil sebuah mantel dikursi belakang dan memberikannya kepada Baekhyun. sebuah mantel hitam dengan yang cukup tebal , hangat dan juga harum. Seperti Chanyeol.
"Tidak usah. Ini dekat. Aku hanya perlu berlari"
"Kau akan sakit"
"Sakit tidak akan membuatku mati"
Chanyeol menatap baekhyun tajam, yang membuat baekhyun seketika mengkerut.
"Baiklah. Terima kasih. Lusa Aku kembalikan" Baekhyun berlari keluar mobil Chanyeol dengan mantel Chanyeol sebagai penutup kepala dan juga badanya.
Chanyeol menghela nafas pelan menatap kepergian baekhyun "Kau tidak berubah baek" setelahnya mobil Chanyeol melaju meninggalkan kediaman Byun tanpa menyadari sesosok pria mungil dibalik jendela lantai dua yang menatap kepergiannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
.
.
"Baek?" tidak ada jawaban.
"Baekhyun?" masih tidak ada jawaban.
"Baekiie?" kata-kata manis mungkin membagunkannya.
"Brengsek?" kata kasar mungkin saja.
"Yak cepat bangun. Sebelum kau ku siram air" kesabarannya habis. Sungguh. Membangunkan Baekhyun seperti memasukkan lidi kedalam lubang jarum. Sulit . atau mungkin sangat sulit. sedang Baekhyun hanya menggeliat malas .Chanyeol menggeram marah sambil terus mengguncang bahu Baekhyun dengan kakinya. Bahkan matahari yang sudah bersinar menerangi sebagian besar kamarnya diabaikan.
"Hmm"
"Hey" Chanyeol berteriak. Baekhyun mulai membuka mata sipitnya perlahan. Melihat Chanyeol sedang berdiri berkacak pinggang dengan kakinya berada diranjang Baekhyun. jangan bilang Chanyeol membangunkan dia dengan kaki itu .
"APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMARKU, PARK CHANYEOL" Baekhyun berteriak sekuat tenaganya . yah mungkin berteriak adalah hobi Baekhyun tapi kasian dengan orang yang ada didekatnya.
"JUGA SINGKIRKAN KAKI BAUMU ITU DARI RANJANGKU BODOH "
"Oh maaf, aku lupa menurunkan kakiku" dengan senyum sok polosnya Chanyeol menrunkan kakinya dan memakai kembali sepatu kirinya.
"Kenapa kau berteriak? kau pikir aku tuli hah?" lanjut Chanyeol dengan nada agak tinggi. Tentu saja dirinya kesal. Siapa yang tidak kesal jika kau dibangunkan lebih pagi dari biasanya hanya untuk menjemput seseorang yang bahkan sangat tidak ramah dengan dirinya itu.
"Lalu kenapa kau dikamarku?" Baekhyun menatap Chanyeol horror . Ia segera bangun dari tidurnya . Melihat Chanyeol rasa ngantuknya mendadak hilang..
"Tentu saja membangunkanmu kau pikir apa. Cepat mandi. 30 menit lagi kita terlambat. Aku tunggu dibawah satu lagi jangan mandi lama-lama" lalu Chanyeol segera turun kebawah bergabung sarapan dengan keluarga Byun menunggu Baekhyun mandi.
"Apa? 30 menit . kau bercanda? " Baekhyun menatap kepergian Chanyeol dengan pandangan sinis. Tapi setelahnya ia beranjak menuju kamar mandinya.
.
.
.
Baekhyun turun setelah 15 menit. Aroma parfum yang dipakainya menguar. Chanyeol melihatnya geli. Masih Sd atau sudah SMA pikir Chanyeol saat menyadari aroma parfum Baekhyun.
"Ayah, Ibu selamat pagi" lalu mengecup pipi ke 2 orang tuanya. Matanya melirik kearah Chanyeol dan berdecih kecil. Setelahnya bergegas duduk untuk sarapan dan sialnya Chanyeol duduk didepannya. Dalam sarapan pagi itu lebih ramai dari biasanya yang sepi. Orang tua Baekhyun sedari tadi sIbuk berbincang dengan bocah tinggi itu. Dan dirinya yang diabaikan. Sebenarnya siapa anaknya?. Lupakan.
Setelah selesai sarapan Baekhyun bersiap menunggu Ayahnya didepan pintu. Jam masuk kurang 10 menit lagi. Mungkin dia akan terlambat nanti. Salahkan saja ayahnya itu. Tapi heran melihat ayahnya memakai baju santai rumah. Dirinya baru menyadarinya,
"Ayah ayo berangkat. Aku hampir terlambat" ajak Baekhyun, ayahnya hanya mengerutkan dahi.
"Kan ada Chanyeol. Tentu saja kau berangkat bersama Chanyeol. Kau pikir kenapa Chanyeol kemari pagi-pagi kalau bukan menjemputmu? dasar" putra memang sulit menyerap sesuatu saat masih pagi. Tapi bukankan pikirannya harusnya masih segar?.
"Kenapa dengan Chanyeol, aku maunya dengan ayah"
"Cih dasar manja. Paman bibi kami berangkat dulu " lalu Chanyeol segera menarik Baekhyun, tak tahan dengan rengekan bocahnya itu. Mereka menuju mobil merah Chanyeol yang terParkir rapi didepan pintu gerbang setelah berpamitan dengan 'calon mertuanya'.
"Kenapa kau selalu suka menarikku aku bisa jalan yoda"
"Tapi kau lambat, kakimu pendek jadi harus ditarik, wooa dan apa tadi yoda? Hah apa itu, panggilan sayang darimu?"
"Kakiku memang pendek tapi bagus tidak sepertimu banyak bulunya dan terlalu panjang. Dan yoda itu cocok dengan mu kau tau kenapa? karena telingamu yang sangat lebar dan mirip dengan yoda. Dan apa kau tidak bisa membedakan mana hinaan dan mana pujian" sepertinya Baekhyun sangat suka berbicara kawan. Oh jangan lupa suka mengejek juga.
"Setidaknya aku bisa berjalan lebih cepat daripada kau baby smurf" Chanyeol memasang sabuk pengamannya dan sudah menyalakan mobilnya. Siap melaju.
"Apa katamu? baby smurf? Dasar yoda jelek" tak tanggung tanggung Baekhyun langsung memukul tanpa belas kasih sama sekali
"cukup.. kau mau kita lambat karena mu ?"
"Juga, pasang sabuk pengamanmu itu"
Lalu Chanyeol segera melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena mereka hampir terlambat.
.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol berjalan bersama dikoridor kelas sepuluh. Dan kini mereka akan menuju kelas mereka masing-masing. Baekhyun yang kelas sebelas berada dilantai dua sedang Chanyeol yang kelas dua belas berada dilantai tiga. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Baek?"
"Hm?"
"Seberapa banyak hari ini kau pakai parfum?" Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. Dahinya berkerut. Kepalanya menunduk mencium bagian ketiaknya bergantian. Tidak ada yang aneh.
"Kenapa? Aku wangi kok"
"Karena itu aku bertanya, seberapa banyak parfum yang kau pakai. Jangan –jangan satu botol parfum kau habiskan?" Chanyeol memicing curiga.
"Aku tidak. Aku memakai seperti biasanya"
"Benarkah? Bukan karena kau akan berangkat bersamaku sehingga kau memakai banyak parfum ? " wajah Baekhyun memanas. Baekhyun yakin wajah hingga telinganya sudah memerah. Ugh, memalukan. Baiklah sebaiknya-
"Mau kemana baek? Jadi benarnya? Kau memakai banyak parfum? Jangan lari begitu. Aww kau terlihat manis sayang" tawa Chanyeol menggelegar. Membuat beberapa pasang mata menoleh kearahnya. Yang tentu diabaikan olehnya. Lucu sekali.
Baekhyun berlari menuju kelasnya yang sudah dekat. Nafasnya terengah-engah. Tangannya menumpu di kedua lututnya. Dasar Park menyebalkan batin Baekhyun mengutuk Chanyeol. Saat Baekhyun menegakkan badanya tiba-tiba ada yang memeluknya sampai hampir terjengkang kebelakang. Untung kaki pendeknya dengan sigap menahannya.
"Jongdae, jangan memelukku terlalu erat, aku kehabisan nafas tau." jongdae melepas pelukannya dan nyengir lebar. Berbeda dengan Baekhyun yang memasang wajah masam.
"Maaf , Baekkie aku sedang senang, kau tahu kucing hitamku . si Minie? Dia melahirkan . Anaknya sangat lucu. Bulunya perpaduan hitam dan putih. Kau ingin lihat fotonya? Coba lih-"
"Baiklah sampaikan ucapan selamatku kepada si Minie oke.."
"Ayolah, kau tidak ingin melihat fotonya?"
"Tidak, terima kasih tawarannya"
Baekhyun segera berjalan menuju bangkunya. tak tahan dengan ocehan gratis milik jongdae dipagi hari, juga tak peduli dengan umpatan kesal pria berwajah kotak itu. Tasnya ditaruh disamping meja. Tangannya bertumpu dimeja yang juga dijadikan bantalan untuk kepalanya.
Pandangannya mengarah kelangit . pagi ini cukup cerah dengan awan biru yang sangat indah. Terlalu berharga untuk dilewatkan. Mungkin karena ini juga, Baekhyun menyukai duduk dipinggir jendela. Yah walaupun dengan resiko terkena sengatan matahari. Tapi ini adalah favoritnya. Bangku ketiga dari depan atau ketiga dari belakang juga bisa. Selain itu juga karena dirinya bisa melihat anak yang sedang olahraga diluar sana.
.
.
.
Saat ini adalah pelajaran terakhir. Chanyeol terlalu malas untuk mendengar penjelasan guru sejarah itu. Walaupun dia sudah ditingkat tiga dan sebentar lagi tamat. Itu tak membuatnya takut. Dia belajar dirumah, jadi seandainya ada ulangan mendadak dia sudah siap.
Entah apa yang membuatnya sangat sebal dengan sejarah. Mungkin terlalu banyak cerita. Saat sedang melamun mencoret-coret bukunya, Chanyeol dikagetkan dengan ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan dari Ibunya. Melihat nama Ibunya sudah membuatnya malas apalagi dengan pesannya. Tapi dia segera membukanya saat guru Shim sedang keluar , entah apa yang katanya tertinggal diruang guru.
From : Ibu
Sayang, nanti sepulang sekolah datang lah kealamat yang Ibu berikan ya. Itu kejutan unutk kalian. ini alamatnya xxx-xxxx-xxxx-xxx.
Chanyeol menghela nafas. Secepat inikah? Dengan segera jari-jarinya mencari kontak Baekhyun.
To : Baby Smurf
Jangan pulang dulu nanti, tunggu saja dimobil.
Send.
Baekhyun menelungkupkan kepalanya kemeja. Kedua tangannya dijadikan bantalan tidurannya. Guru kim – guru matematika kelasnya- tengah cuti untuk pernikahannya yang diadakan hari ini. guru muda lulusan universitas seoul 4 tahun lalu itu mengahiri masa lajangnya diumur yang ke 28 tahun. Sangat beruntung wanita yang menjadi istrinya, karena suaminya punya tampang yang lumayan dan juga badan yang proposional. Sungguh idaman Baekhyun , jika boleh.
Huh… bosan. Ditambah dengan suasana kelas ala pasar mendadak itu. Membuat moodnya tambah buruk. Kyungsoo juga tidak ada dibangkunya. Mungkin tengah sIbuk dengan kakak kelas yang katanya 'calon pacar' yang jago dance itu.
Drrttt…drrtt..
Tangannya merogoh saku celana kanannya. Membuka lock screen diponselnya. Dahinya berkerut, sebuah nomer asing mengiriminya pesan. Antara malas membuka dan penasaran.
From : xxxx-xxxx-xxxx
Jangan pulang dulu nanti, tunggu saja dimobil.
Alis Baekhyun terangkat. Chanyeol kah yang mengirimkan pesan?. Dengan cepat jemarinya mengetikkan sebuah pesan balasan.
To : xxxx-xxxx-xxxx
Siapa kau menyuruh-nyuruhku?
Tak lama sebuah pesan diterima Baekhyun lagi
From :xxxx-xxxx-xxxx
Calon suamimu yang paling tampan :v
Baekhyun mendengus lalu tertawa. Lalu mengetikkan balasan lagi.
To : xxxx-xxxx-xxxx
Awww.. benarkah? Aku tidak tahu setampan apa dia.
Jadi setampan monyet kah?
From :xxxx-xxxx-xxxx
Bayangkan saja seorang pangeran tampan berkuda putih, sayang.
Ayolah apakah Chanyeol sudah amat putus asa sehingga menyebut dirinya sebagai seorang pangeran dengan kuda putih?. Membayangkannya saja Baekhyun sangat malas. Ugh. Jari- jarinya menaruh ponselnya kedalam laci meja lalu kakinya beranjak keluar. Perutnya tidak bisa kompromi. Jadi pergi kekantin mungkin adalah pilihan terbaik.
Chanyeo terkekeh pelan setelah mengirim balasan pesan Baekhyun. apa-apaan dengan setampan monyet itu. Dirinya bahkan lebih tampan dari pada guru Choi yang katanya paling tampan disekolah. Itu tentu saja menurut pandangannya.
Jari-jarinya diketuk-ketukan kearah meja. Beberapa kali guru Shim melihat kearah bangkunya yang dibalas senyum oleh Chanyeol. Entahlah apa alasannya, tapi dirinya tidak bisa berkonsentrasi. Gelisah kata lainnya. Sesekali tangannya terulur untuk mengecek ponsel. Tidak ada pesan. Sehun yang duduk disampingnya menatap heran Chanyeol . Tidak biasanya Chanyeol seperti ini. mungkinkan temannya itu tengah menunggu pesan dari sang pujaan hati? . atau mungkin Chanyeol sudah dicampakkan oleh kekasihnya?. Bel pulang sekolah mengalihkan pandangan sehun. Siapa juga yang mau mengabaikan bel pulang?.
"Chanyeol?" Chanyeol mengalihkan pandangannya kedepan.
"Ya?"
"Bisakah kau datang menemuiku setelah ini?" guru Shim bertanya kepadanya dengan nada suara yang amat datar membuatnya takut. Lalu Chanyeol mengangguk pelan sebagai balasan.
"Tentu"
.
.
.
"Ada apa ya"
"Bisakah kau membantuku mengoreksi ulangan milik anak-anak. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini mengurusi berbagai hal"
"Baiklah"
.
.
Jarak apartement yang diberikan Ibunya tidak jauh dari sekolah mereka. Jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Saat tiba orang tua Chanyeol dan Baekhyun sudah bersantai didalam apartement sambil berbincang.
"Lihatlah mereka cocok sekali kan. Berdampingan saja sangat cocok apalagi mereka menikah . benarkan? " nyonya Byun terkekeh setelah menggoda keduanya. Para orang tua hanya tertawa menanggapinya.
"Oh ya tapi kenapa kalian telat pulang ?" tuan Park bertanya dengan nada penasaran yang kentara sekali.
"Oh, tadi aku membantu guru Shim mengkoreksi ulangan milik anak-anak. Jadi agak telat"
"Seharusnya kau bilang padaku, jadi aku tidak menunggumu terlalu lama"
"Bukankah aku sudah minta maaf?"
"Tapi kau-"
"Sudah hentikan pertengkaran rumah tangga kalian" nyonya Park berkata untuk menghentikan keduannya.
"Terserah"
"Jadi untuk apa kita kemari Ibu? Tapi entah mengapa aku punya firasat buruk tentang itu"
"Lihatlah Chanyeol sudah tahu. Kau pasti senangkan sayang tinggal bersama Baekhyun? Dan baju kalian sudah kami siapkan, jadi kalian tidak perlu kembali kerumah. Mulai sekarang kalian bisa tinggal disini" Nyonya Park memberi penjelasan lalu tertawa lagi.
"Sebenarnya aku agak tidak setuju dengan ini tapi kalian jangan melakukan hal yang 'tidak-tidak' ya. Kalian belum menikah ingat itu. Jadi tahan nafsumu itu Chanyeol" Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa menganga mendengar ucapan ayah Baekhyun yang terdengar santai.
"Ayah"
"Baiklah karena kalian sudah sampai kami akan pulang duluan . Kami akan sering sering kemari jangan khawatir." HIbur Ibu Baekhyun saat melihat mata putranya berkaca kaca sambil mengelus surai halus lembut putranya.
"Tapi, aku tidak mau tinggal dengan Park idiot ini Ibu ,lagipula kenapa harus tinggal bersama, Ibu? Dan juga Dia sangat licik Ibu. Bagaimana jika dia berbuat sesuatu yang mencemari otak polosku. Aku takut"
"Tenang sayang, jika dia berbuat yang aneh terhadapmu katakan pada Ibu. Ibu akan menjambaknya dengan seluruh tenaga sampai dia botak. Jadi jangan khawatir ya"
Chanyeol yang mendengar ancaman Ibu nya itu langsung bergidik ngeri. Memang apa yang bisa dilakukan dengan si pendek cengeng cerewet disamping nya ini?
"Memang apa yang bisa aku lakukan dengan lelaki cerewet seperti ini Ibu" Baekhyun mendelik menatap Chanyeol. Dia merasa terhina. Tentu.
"Yakk" lalu tangannya secara spontan memukuli lelaki yang akan menjadi 'suaminya' itu.
.
.
.
To Be Continued
.
.
a/n :
Ada yang inget sama aku?. Gak inget juga gak apa-apa. :v . soalnya udah dari sebelum puasa aku gak buka ffn dan yeah Cuma buka email yang masuk tentang update an ff baru. Hiatus ceritanya.. wks.
Ada yang pernah baca ff I Think Married Its Simple?. Itu fanfic aku yang dihapus, karena akunya gak puas sama fanfic itu, dari awal buat fanfic itu juga iseng aja. Iseng buat dan jadi, nyesel juga sih gak dari awal ditentuin alurnya yang kayak gimana dan endingnya yang gimana. Dan untuk fanfic ini udah aku atur dari awal sampai akhirnya gimana. Juga silahkan mampir buat baca-baca ff ku yang baru aku post.
Segini aja cuap-cuapnya. Review, fav,dan foll silahkan dibawah sana. .
Terima kasih.
.
(29 Juli 2016)
BabyXie
