Aku adalah gadis berusia 16 tahun yang mencintai pria dewasa berumur 27 tahun. Lucu bukan? Aku hanya seorang gadis polos yang tak mengerti persoalan cinta orang dewasa, jatuh cinta pada pria yang sudah jelas hanya menganggapku gadis kecil (?)


THE MAN NEXT DOOR

.

.

Disclaimer : (c) Mashashi Kishimoto

Story by : Kagura-aru

Pair : Sasuke x Hinata (slight/ GaaHina)

Rate : T

Warning : OOC dan lain-lain

.

.

.

.

"Hinata..!"

Aku mendengar suara ibuku dari lantai bawah rumah kami, sepertinya dari arah dapur. Aku pun bergegas turun untuk mengetahui apa maksud ibu memanggilku.

saat aku sampai didapur kulihat ibu sedang membungkus kotak bekal dengan kain berwarna ungu cerah, itu adalah kain kesukaanku yang selalu ku bawa kesekolah.

"Ibu memanggilku? ada apa?"

"Hinata, bisa kau antar bungkusan ini pada tetangga baru disebelah rumah kita?" tanya ibuku dengan nada perintah.

"Tetangga baru?" aku bingung, sejak kapan rumah kosong disebelah rumah kami sudah dihuni?

"Ya, dia seorang designer dibidang grafis dan sepertinya dia tinggal seorang diri, kemarin ibu sempat mengobrol sebentar dan berkenalan saat ia sedang menurunkan barang-barangnya dari mobil" jelas ibuku panjang lebar dan ku balas dengan anggukan kepalaku.

...

Belum ada yang berubah saat aku memasuki pekarangan rumah si tetangga baru, masih banyak rumput dan tanaman liar disekitar halaman rumah yang sebelumnya kosong tersebut, 'uh,, dia tak membersihkannya terlebih dahulu sebelum ditinggali?' batinku.

Rumahnya pun sepi dan terlihat suram, 'sudah berapa lama rumah ini tak dihuni?' akhirnyaaku pun memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut.

Tok..tok..tok..! aku tak mendengar seorang pun yang menyahut, kucoba sekali lagi dan masih tak ada respon dari dalam, saat aku hendak mengetuk untuk ketiga kalinya pintu tersebut terbuka dan muncul seorang pria dewasa dengan apron bermotif kelinci menempel dibadan tegapnya.

"Pfftt.. ahahaha...!" karena tak tahan, akhirnya tawaku pun pecah "apa-apaan motif itu?" sindirku sambil menunjuk apron yang ia kenakan.

Sadar dengan arah jari telunjukku dia tampak terkejut dan segera melepas apron dengan motif kelinci tersebut, wajahnya pun terlihat merah karena menahan malu. (/)

"Ehem,, ma-maaf, aku sedang memasak tadi" katanya masih dengan wajah yang memerah.

"Iya,,iya aku tau" masih menahan tawa karena ekspresinya yang menurutku sangat lucu. Ia menatapku dengan kesal tapi tatapan itu tak menghentikanku dari kikikan geliku.

Tiba-tiba saja ia menarik tanganku dan menyudutkanku diantara dirinya dan pintu yang ia buka tadi, aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakuan, aku hanya diam tak bergeming karena tak tau apa yang harus aku lakukan. Dia mengangkat daguku 'astaga aku tak pernah sedekat ini dengan seorang pria -okey, si rambut merah pengecualian karana aku tak menganggapnya pria' nafas hangatnya menerpa wajaku dan bau tubuhnya begitu maskulin 'astagaaa' ini menyenangkan sekaligus bahaya karena jantungku berdetak keras sekali.

"Apa seorang pria dewasa dengan apron bermotif kelinci menurutmu lucu.. hn? o-jou-san"

Rasanya jantungku hampir meledak mendengar suara beratnya yang begitu dekat dengan wajahku, wajahku pun terasa sangat panas 'oh tidak, wajahku pasti sangat merah'.

"I-iya, maksudku tidak. K-kau terlihat manis ah maksudku tampan / wait what?" ucapku dengan kikuk dan apa? tampan? ya ampun ini sangat memalukan, baru beberapa menit bertemu dan aku sudah memujinya tampan? aku pasti sudah gila tapi dia memang benar-benar tampan.

Tangan dan kakiku pun terasa lemas karena efek dari debaran jantung yang menggila. Tanpa sadar bungkusan ditanganku terjatuh, menciptakan suara yang membuat pria dewasa dihadapanku ini melepas himpitannya. Aku sedikit bernafas lega meski debaran jantungku masih menggila didalam sana.

"Maaf membuatmu takut, jadi siapa 'nona muda' ini dan ada tujuan apa datang ke rumahku?" tanyanya dengan senyum ramah seolah tak terjadi apapun beberapa detik yang lalu. Kuakui senyumnya sangat mempesona.

"Emm.. etto, aku hanya ingin menyampaikan titipan ibuku tapi sepertinya sudah rusak dan tak layak untuk dimakan" jawabku sambil membungkuk untuk mengambil bungkusan yang kujatuhkan tadi.

"Ibumu?"

"Ya, rumah kami tepat berada disebelah rumahmu"

"Jadi kau putri Hinami-san?"

"Ya.. kau engenal ibuku?"

"Kemarin kami sempat berkenalan dan mengobrol sebentar, ibumu tetangga yang ramah" jelasnya.

Bagaimana aku bisa lupa?, sebelum kemari ibu sudah menceritakan perkenalannya dengan tetangga baru. Ini pasti karena kejadian beberapa saat yang lalu dan membuat otakku sedikit koslet.

"K-kalau begitu, aku permisi dulu" ucapku, namun rasanya berat sekali bahkan hanya untuk sekedar membalikan badan. Dia menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan tingkahku yang malah diam dan menatapnya.

"Tidak perlu ku antar bukan, bukankah rumahmu tepat berada disebelah kiri rumahku" dia menunjuk arah rumahku dengan ibu jarinya. Dia pasti merasa risih karena aku terus menatapnya.

"Y-ya.. itu tidak perlu" aku merutuki kebodohanku yang berbicara kikuk dan tergagap, aku merasa sangat bodoh sekali.

Aku melangkahkan kakiku tanpa membalikkan badan, berjalan mundur perlahan dan sialnya aku terlalu fokus dengan wajah dihadapanku membuatku tersandung kakiku sendiri.

"'hyaaaa..!"

saat kupikir akan terjatuh dengan memalukannya, aku merasakan tarikan dari tangan kananku. Dia menarikku hingga membuat wajahku membentur dada bidangnya. Aku merasakan kembali debaran jantung yang menggila, dan detik berikutnya semua menjadi gelap dan aku tak merasakan apapun.

Aku pingsan (?)

.

.

tbc


Hallo minna saya masih newbie didunia ff, maaf kalo fic saia ini abal dan gaje T.T

saia juga gak tau siapa nama ibu'nya Hinata T-T jadinya kutulis Hinami aja, biar anak sama ibu sama2 Hina '_')v

.

.

.

Review please ?