'Hanya memandangmu saja aku sudah puas' Itu yang kukatakan pada diriku sendiri dulu, tapi ternyata itu salah… Pada akhirnya… Aku menginginkanmu…

.

.

.

DISTANCE

Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi

Rate : T

Pairing : Midorima Shintarou x OC

Genre : Romance and Friendship

Warning : Little OOC

.

.

.

Sepasang iris coklatku memandangmu diam-diam dari balik buku yang kubaca. Pemandangan yang sudah tidak aneh bagiku, kau menatap kesal pada Takao-kun yang sepertinya lagi-lagi menggodamu. Tanpa sadar aku terkekeh pelan saat melihat kau mulai berteriak marah karena Takao-kun mengambil sebuah mainan kodok berwarna hijau dari tanganmu yang katanya itu adalah lucky item-mu hari ini.

Karena sifatmu yang sangat mempercayai ramalan inilah orang-orang disekitarmu memandangmu aneh dan agak segan untuk mendekatimu, belum lagi kau adalah pemain basket andalan Shutoku dan juga mantan anggota Kiseki no Sedai dari SMP Teiko, hal itulah yang membuat orang lain semakin segan padamu. Hanya Takao-kun lah yang bisa bicara se-akrab itu denganmu dan dia juga memberikan panggilan yang manis padamu (aku yakin kau akan marah jika tahu aku bicara begini).

Aah… Kadang aku iri pada Takao-kun… Aku juga ingin berbicara akrab denganmu. Tapi tetap saja tidak bisa…

Tidak, bukan karena aku menganggapmu aneh atau apa, aku hanya… Tidak berani? Yah, bisa dibilang begitu. Aku tidak berani menghadapi aura dinginmu itu, dan juga takut jika kau mengabaikanku. Jadilah aku seperti sekarang ini. Diam-diam memperhatikanmu atau mencuri pandang saat pelajaran berlangsung (terima kasih karena kita sekelas dan bangkumu terlihat jelas dari bangkuku), atau kadang diam-diam menontonmu saat sedang latihan di klub basket tanpa seorangpun yang tahu.

Hihi… Seperti seorang stalker ya? Yah, tidak apalah jika aku dianggap seperti itu, yang penting aku tidak pernah bermaksud melukaimu atau apapun itu yang biasa dilakukan seorang stalker. Aku hanya ingin melihatmu… Itu saja. Karena bagiku, melihat wajahmu saja sudah membuatku senang… Setidaknya untuk sekarang ini.

Aku sendiri bingung bagaimana awalnya aku bisa menyukaimu, bahkan aku sampai mencari tahu apa yang kau sukai selain basket dan ramalan, seperti, apa musik kesukaanmu, model baju yang kau suka, makanan kesukaan, dan banyak lagi. Aku benar-benar ingin tahu banyak tentangmu. Aku ingin menunggu sampai kau bisa memperlihatkan hatimu yang seenarnya dibalik wajah kakumu itu padaku.

Kau yang mungkin merasa diperhatikan sejak tadi olehku akhirnya melihat ke arahku dengan sepasang iris hijau yang tertutupi oleh kacamata. Wajahku terasa panas saat pandangan mata kita bertemu. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke buku yang aku pegang.

"Ng? Shin-chan? Ada apa?" tanya Takao-kun bingung karena tiba-tiba kau terdiam dan melihat ke arahku. 'Degg' jantungku berdebar dua kali lebih kencang karena panik sekaligus malu, untunglah jawabanmu menyelamatkanku.

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Sudahlah, ayo ke klub. Aku tidak mau mendapat lemparan nanas dari Miyaji-senpai." Jawabmu dengan nada datar sambil membenarkan letak posisi kacamatamu yang agak merosot.

"Aah… Ha'i… Ha'i…" Dan kalian berduapun pergi meninggalkan kelas yang sekarang hanya tersisa sedikit murid. Namun sekilas sebelum Takao-kun keluar dari kelas, aku melihatnya tersenyum tipis ke arahku. Sebuah senyuman yang sulit di artikan, akupun semakin menundukkan pandanganku.

Sebetulnya apa arti dari senyumnya itu?

.

.

.

"Shin-chan…" Panggil Takao-kun pada Midorima-kun saat mereka makan siang di atap. Hei, Jangan berpikir aku menguntit mereka! Aku duluan yang berada disini untuk membaca buku, tapi mereka tidak menyadarinya karena terhalang sebuah tembok, jadi ini hanya Ke-Be-Tu-Lan. Midorima-kun tidak menjawab dan hanya melirikan matanya ke arah Takao-kun.

"Kau menyukai Kitagawa-san?"

'Degg'. Jantungku langsung berdetak kencang mendengar pertanyaan itu. Ah, aku tidak mau dengar! Tapi penasaran…

"Ke-kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu-nanodayo?!" Terlihat semburat merah di pipi Midorima-kun, dan terdengar tawa kecil dari mulut Takao-kun.

"Habisnya, Shin-chan sering terlihat diam-diam menatap ke arah Kitagawa-san!"

Melihat ke arahku? Tidak! Itu tidak mungkin! Yang ada aku yang diam-diam melihat ke arahnya!

"Dan lagi, aku juga sering melihat Kitagawa-san mencuri pandang ke arahmu, dan hei, apa kau tahu? Kitagawa-san sering datang melihatmu latihan, loh! Sama seperti kau yang sering diam-diam mempehatikannya saat membaca! Hahaha." Cibir Takao-kun disertai tawanya. Ah tidak! Hentikan Takao-kun! Jangan bicara lebih dari ini! Aah! Rasanya aku ingin keluar dan membekap mulutnya! Wajahku sudah tidak terkontrol lagi sekarang.

"I-ITU TIDAK BENAR-NANODAYO!" Sanggah Midorima-kun keras, sehingga membuat Takao-kun menghentikan tawanya, aku juga terkejut, karena ini pertama kalinya aku mendengar dia bicara sekeras itu.

"Jangan bercanda Takao, aku hanya menyukai wanita yang lebih tua! Jadi mana mungkin aku menyukainya?! Lagipula jangan membicarakan hal tidak penting seperti ini-nanodayo!"

Dadaku terasa sakit mendengar perkataan Midorima-kun itu. Aku meremas ujung rok saifuku-ku, buru-buru bangkit dari dudukku, dan berlari keluar dari tempat persembunyianku, sehingga membuat keduanya kaget.

"Ki-Kitagawa…"

Aku mengabaikan panggilan Midorima-kun dan terus berlari, lari dan terus lari, tidak peduli dengan teguran guru atau siswa lain yang menatapku heran. Tanpa kusadari aku berlari hingga sampai di halaman belakang sekolah yang sepi. Aku langsung jatuh terduduk, air mataku yang menetes kubiarkan begitu saja. Memalukan. Hei Izumi, sebetulnya apa yang kau lakukan selama ini?

"Apa menyerah saja ya?" Tanyaku pada diri sendiri. Toh aku tidak mungkin jadi wanita yang ia suka. Hhh… Ternyata aku memang menginginkannya…

.

.

.

Empat hari berlalu, aku sudah tidak lagi mengejar Midorima-kun, namun aku tetap saja diam-diam memperhatikannya, walau tidak sesering dulu. Ternyata aku tidak bisa berhenti dari 'kegiatan'ku yang satu itu.

"Kitagawa-san." Panggil seseorang padaku yang jelas membuatku terkejut.

"Ta-Takao-kun!" Orang yang kusebut namanya barusan hanya tesenyum (nyengir) padaku. Karena tumben-tumbennya dia mengajakku bicara. Setelah kejadian itu, dia dan Midorima-kun lah orang yang paling kuhindari.

"Hehe… Tidak perlu terkejut begitu…" Kata Takao-kun sambil menepuk-nepuk pundakku, Aku hanya menganggukkan kepalaku.

"Ada apa, Takao-kun?" Tanyaku akhirnya, namun bukannya menjawab dia malah merangkulku.

"Naa, Kitagawa-san, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Bisik Takao-kun yang jelas membuat wajahku agak memerah, dan gara-gara itu juga teman-teman sekelas menatap kami curiga, termasuk dia.

"Ta-Takao-kun, jangan terlalu dekat…" Kataku sambil mendorongnya sedikit agar agak menjauh, namun ia tidak mempedulikannya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Tidak, tidak bisa disini. Ayo ikut denganku!" Tanpa aba-aba Takao-kun menarik tanganku untuk kelua dari kelas, sekilas aku melihat ke arah Midorima-kun, dan dia menatap kami tajam seperti pandangan… Tidak suka? Ah sudahlah, paling hanya imajinasiku. Itu tidak mungkin kan?

"Jadi, Takao-kun… Apa yang ingin kau bicarakan sampai menyeretku ke atap begini?" Tanyaku kesal pada lelaki dihadapanku ini, dan lagi-lagi ia hanya memberikan cengiran bodohnya.

"Hehe… Gomen, Kitagawa-san…" Aku hanya menatapnya tidak sabar. "Baiklah, aku tidak akan berbelit-belit. Kitagawa-san suka pada Shin-chan?" Tanyanya to the point yang langsung sukses membuat wajahku memerah, dan dia hanya tertawa puas.

"Ja-jangan tertawa!" Kataku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku, namun Takao-kun semakin menertawakanku.

"Hhh… Kitagawa-san… Kau lucu… Kalau kau memang suka pada Shin-chan, kenapa kau tidak mengatakannya?" Aku terdiam mendengar pertanyaan Takao-kun, lalu menggeleng cepat.

"Tidak. Tidak mau." Takao-kun hanya menatapku bingung, "Aku bukan tipe perempuan kesukaannya. Jadi lebih baik seperti ini saja. Mengaguminya tanpa perlu balasan."

"Tapi kalau begitu, Shin-chan tidak akan tahu perasaanmu…"

"… Begitu juga… Tidak apa-apa…" Kataku sambil menundukkan pandanganku.

"Hhh… Baiklah, kalau itu maumu… Tapi kuharap Kitagawa-san tidak menyesal nanti…" Hening diantara kami, hanya ada suara daun yang bergemerisik karena terkena angin.

.

.

.

Aku mengganti uwabaki-ku dengan sepatu biasa, sudah waktunya pulang, gedung sekolah juga sudah sepi. Kenapa aku baru pulang? Terima kasih atas tugas yang diberikan padaku sebagai yang mendapat giliran menjaga perpustakaan, aku harus membereskan perpustakaan dulu. Rasanya ingin cepat pulang, tapi sepertinya aku sedang sial. Hujan deras dan aku tidak membawa payung. Akupun memutuskan untuk berteduh sebentar hingga hujan agak reda di depan pintu masuk gedung sekolah. Namun betapa terkejutnya aku karena melihat sebuah sosok lain dengan postur tegap dan berambut hijau yang juga sedang berteduh. Ah sial! Kenapa harus sekarang?!

Akupun berpura-pura cuek, aku hanya berdiri diam disampingnya sambil menatap hujan deras yang tengah turun. Hening diantara kami, tidak ada satupun yang berbicara. Tapi kebiasaanku kumat, lagi-lagi aku diam-diam menatapnya, dan tanpa sengaja pandangan kami bertemu. Kamipun salin memalingkan wajah. Aku meremas ujung rokku sambil menunduk.

"Kitagawa." Panggilnya padaku tiba-tiba, aku menatap ke arahnya. "Ini bukannya aku penasaran, tapi waktu itu apa yang kau dan Takao bicarakan-nanodayo?"

Apa-apaan itu? Ah aku baru ingat dia itu tsundere

"Bukan apa-apa, bukan hal penting." Jawabku singkat. Dia sepertinya penasaran, ingin tahu lebih lanjut, tapi dasar tsundere

"Begitukah." Hening lagi diantara kami. Dadaku terasa sakit. Apa ini rasanya berada didekat orang yang kita sukai namun bertepuk sebelah tangan?

"Kitagawa." Panggilnya lagi. "A-Apa yang dikatakan Takao waktu itu benar?"

"So-soal apa?"

"Kau yang sering datang melihatku latihan."

Ukh… Aku harus menjawab apa?

"A-ah… Yang itu… Ja-jangan dipikirkan, oke? Aku hanya suka melihatmu latihan, eh-bukan! Maksudku… Ng…" Sial, kenapa malah gelagapan begini?! "Ma-maaf Midorima-kun! Aku duluan!" Aku bermaksud kabur, namun tangan besarnya menahanku.

"Ini masih hujan-nanodayo!" Dan aku pun dengan bodohnya menurut untuk kembali lagi disisinya. Gugup. Hanya kata itu yang bisa menggambarkan perasaanku sekarang. Bagaimana perasanmu jika orang yang kau suka menggenggam tanganmu? Dan sepertinya aku terlalu rakus karena menginginkan hal yang lebih dari ini. Ini… Tidak… Boleh… Secepatnya aku melepas genggaman tangan Midorima-kun sehingga membuatnya menatapku, segera aku mengubah posisiku menjadi dihadapannya.

"Kitagawa?" Iris hijaunya menatapku bingung, karena aku hanya menunduk. Aku menarik nafasku. Sekarang, atau tidak sama sekali.

"Aku suka Midorima-kun!" Ucapku tiba-tiba padanya, aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang karena aku menunduk. Akupun melanjutkan ucapanku. "Aku sangat menyukai Midorima-kun sejak dulu! Aku tidak peduli Midorima-kun menyukai wanita yang lebih tua atau apa, yang pasti aku suka Midorima-kun!" Ah, aku mulai ngawur. Wajahku sangat panas sekarang, hening lagi diantara kami.

"Po-pokoknya seperti itu! Sudah ya, aku duluan!" Kataku buru-buru pergi, lagipula hujannya sudah agak reda. Ya, aku tidak butuh jawaban, yang penting aku sudah mengatakan perasaanku. Tapi tiba-tiba sepasang tangan merengkuhku erat dari belakang.

"De-dengarkan jawabanku dulu, baka-nodayo!"

Aku merasakan Midorima-kun menempelkan dahinya di puncak kepalaku (mengingat perbedaan tinggi badan kami). Perlahan dia melepaskan pelukannya padaku sehingga aku bisa menatapnya. Dan aku melihat wajahnya yang benar-benar merah.

"A-aku juga tertarik padamu-nodayo… Izinkan aku lebih mengenalmu lebih dalam…" Ucapnya dengan nada khas seorang tsundere. Mataku membulat sempurna mendengar kata-katanya, aku tersenyum dan memeluknya.

"Terima kasih… Midorima-kun…" Bisikku. Wajahnya yang tadi terkejut sekarang membuat sebuah senyuman yang samar dan membalas pelukanku.

Tapi tiba-tiba… 'Ckrek' suara sebuah kamera handphone menghancurkan moment romantis kami. Kami pun menoleh dan terlihatlah seseorang dengan rambut hitam disertai cengiran di wajahnya saat melihat layar handphonenya.

"Ups, maaf mengganggu moment romantis kalian…"

"Takao-kun!" "Takao!" Kata kami bersamaan dengan wajah yang memerah.

"Hehe… Yosh! Ini akan kuperlihatkan pada para senpai! Ah kalau perlu pada pemain Seirin yang waktu itu!"

"TAAAKAAAOOO!" Teriak Midorima-kun, diapun mengejar Takao-kun, sementara aku melihat mereka sambil tersenyum geli.

Aah… Terbuka pada perasaan sendiri lebih baik kan daripada harus ditahan?

.

.

.

End

Author's note:

Yah, ini ide fic yang mendadak muncul dimalam hari… Niatnya mah buat ultah Midorima, tapi gaada kesan ultahnya sama sekali… Hahaha gomennasai… "-w-)a

Yosh! Otanjoubi omedetou Midorima! Moga langgeng sama Takao! xD #salah

Yasudahlah, ditunggu kritik, saran, dkk di kotak review minna-san~

Makasih buat yang udah baca~

See you in other fic ;)

Sign, Kaito Akahime