Chapter 1: Pertemuan Dua Hal Berlawanan.

Kick The Limit

Summary: Hidupku hancur ketika Ayah tiriku melakukan eksperimen terhadap badanku. Kemanusiaanku hampir lenyap saat pembeliku memaksaku menghabisi sesamaku. Dan tujuanku bernafas tumbuh karena ajaran guru beda rasku.

"Sacred Gear? Sepertinya aku hanya butuh kaki dan tanganku saja."

Disclaimer: High School DxD(Ichiei Ishibumi) Naruto(Masashi Kishimoto) dan sedikit elemen Manhwa/GOH serta aspek film beserta karakter anime lain. Dimiliki oleh pengarangnya masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 1

Pertemuan Dua Hal Berlawanan

.

.

.

.

.

Stay Calm and Enjoy Reading

.

.

.

{Story Start}

Underworld sangat berbeda dari apa yang dipercayai oleh banyak orang. Ketika kata Underworld diucapkan banyak orang akan langsung berpikir tentang tempat yang gelap, menakutkan dan keji di mana api dan lahar berkobar di setiap sudut.

Oleh karena itu banyak yang akan sangat terkejut ketika Underworld tidak sama dengan deskripsi dan sebaliknya sangat mirip dengan Bumi, dunia Manusia dengan pengecualian langit yang ungu dan dipenuhi awan gelap.

Meskipun begitu, jika ada satu hal yang benar dalam pemikiran manusia adalah bahwa Underworld merupakan rumah bagi para Iblis, ras makhluk yang banyak disalahpahami dan diyakini tidak lebih daripada budak simbol kejahatan.

Meskipun kenyataannya Iblis itu seperti manusia dari segi penampilan, tetapi dengan sayap kelelawar di punggung dan berbagai jenis kemampuan sudah cukup membuktikan perbedaan kedua ras itu. Semua Iblis pada dasarnya memiliki kemampuan semacam kekuatan fisik, daya tahan, serta kecepatan melebihi manusia biasa. Ditambah energi sihir melimpah dengan hidup selama ribuan tahun sekaligus mempertahankan penampilan muda. Itu membuat iblis menjadi spesies yang hampir sempurna.

Underworld sangat luas, wilayahnya bervariasi dari kota, padang rumput, pasar, ladang, lahan pertanian, hutan dan lain-lain. Di Underworld, sebagian besar tanah dimiliki oleh keturunan bangsawan, yang paling terkenal adalah keluarga Pure-Blood dari 72 Pilar.

Musuh terbesar Iblis adalah para Malaikat Jatuh, malaikat yang telah menyerah pada dosa. Mereka telah jatuh dari Heaven yang kemudian menciptakan spesies baru dan menetap di sisi lain Underworld.

Beratus-ratus tahun kemudian, Tiga Fraksi terdiri atas Malaikat, Iblis, dan Malaikat Jatuh, saling berperang melawan satu sama lain di bawah kepemimpinan Michael, Empat Yondai Maou, dan organisasi Malaikat Jatuh, Grigori, dipimpin oleh Malaikat Jatuh Azazel, dalam konflik yang kemudian dikenal sebagai Great War.

Ketika Great War berakhir, masing-masing pihak banyak berjatuhan korban yang menyebabkan Tiga Fraksi dalam keadaan tak stabil. Karena keadaan krisis sekaligus kehilangan beberapa sosok penting mereka, maka tidak ada satu pun dari ketiga pihak yang ingin melanjutkan peperangan. Mereka pun memutuskan berdamai.

.

.

.

.

.

.

.

Present

"Apakah kau siap untuk menerima 'obat'mu lagi, Naruto?"

Serangkaian jeritan kecil terdengar untuk menanggapi pertanyaan itu, mengundang tawa gelap dari orang yang mengatakannya.

"Tidak mau? Sepertinya aku harus bekerja keras untuk meyakinkanmu agar tidak melawan perintahku," kata suara itu lagi. "Bawahan, buka penutup mulutnya."

Dua orang berotot keluar dari bayang-bayang, sepatu bot militer menabrak lantai secara berirama. Orang-orang itu bergerak menuju ruangan yang sepenuhnya gelap, di mana seorang anak kecil berusia tujuh tahun terlihat terikat di meja operasi, dengan hanya mengenakan celana pendek serta penutup mulut metalik yang menutupi mulutnya. Anak ini kurus, dengan kondisi fisik seperti belum makan selama beberapa hari. Kulitnya putih, dengan rambut pirang dan tiga pasang guratan tipis seperti bekas cakaran kucing di pipinya. Tali metalik dibungkus pada kedua lengan, sepasang kaki dan bagian pinggang, dengan maksud mencegah anak tersebut kabur dari meja.

Saat dua orang itu mendekatinya, anak itu berontak, matanya yang biru dan basah seperti sehabis menangis melebar karena ngeri dan ketakutan. Dengan kasar, orang-orang berotot itu melepas penutup mulut metaliknya, yang memungkinkannya untuk bicara.

"KUMOHON TOU-SAN! TOLONG LEPASKAN AKU! AKU TIDAK SANGGUP LAGI MENERIMANYA!"

"DIAM!" Pemilik suara membentak sang anak. "SUDAH KUBILANG BEBERAPA KALI JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN MENJIJIKKAN ITU! KAU AKU ANGKAT SEBAGAI ANAKKU KARENA KAU AKAN KUJADIKAN SEBAGAI SENJATAKU!"

Dia beralih pada seorang ilmuwan yang masuk ke dalam lab, "Kau disana, segera lakukan eksperimennya. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kelahiran makhluk terhebat yang pernah hidup."

"Hai Kokabiel-sama!"

Dua orang bawahan langsung meraih tangan kanan sang anak, sementara sang ilmuwan mengeluarkan suntikan dari saku bajunya. Melihat alat dan cairan hitam yang terkandung di dalamnya membuat anak itu ketakutan lebih jauh lagi.

"Tidak! Tidak! Tidak!"

Sang ilmuwan menghiraukan teriakannya dan perlahan mengarahkan jarum suntik ke bagian siku.

"JANGAN! JANGAN LAGI! AKU TIDAK INGIN MERASAKAN RASA SAKIT ITU LAGI! KUMOHON! KUMOHON PADAMU! HENTIKAN! HENTIKAN! HENTIKAN!"

Bagai angin lalu, sang ilmuwan acuh tak acuh dengan perkataannya. Dia kemudian menyuntikkan jarum suntik ke siku sang anak, mengalirkan cairan yang langsung menyatu dengan pembuluh darah.

"ARRRRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHHHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Five Years Later

.

.

.

.

"Kejar dia!"

Di negara Jepang, tepatnya dalam sebuah pasar ramai di kota Kyoto. Seorang laki-laki berusia tak lebih daripada dua belas tahun, mengenakan kaus merah sedikit sobek di bagian dada yang dibalut jaket tudung hitam dilengkapi celana pendek cokelat tak layak pakai, menggertakkan giginya sambil menggerakkan kakinya sekuat tenaga yang ditutupi sepasang sepatu putih kusam.

"Kemari kau anak nakal!"

Si anak laki-laki memutuskan mempercepat laju larinya, tak menghiraukan bentakan orang-orang yang tidak sengaja dirinya tabrak. Berbelok ke dalam gang, dia melebarkan matanya saat melihat tembok berbahan bata menghalangi satu-satunya jalan kebebasannya.

'Sial.'

Berbalik, dia menyipitkan matanya ketika menatap dua orang dewasa bergaya "sangar" menghalangi jalan keluarnya.

"Ha! Sepertinya sampai sini saja keberuntungan memihak kepadamu bocah tengik!" ejek pria kesatu.

Pria kedua mengulurkan lengannya, memasang senyuman tapi sang anak tahu bahwa semua itu hanyalah kepalsuan.

"Ayo, 'Rage Claw'. Kau tidak ingin dimarahi Tuan karena hal sepele seperti 'kabur', bukan?"

Disamping dirinya merupakan pusat perhatian karena kebrutalannya menghabisi lawan-lawan seusianya, 'Rage Claw' tahu dia akan tamat jika ia dibawa lagi oleh mereka. Menghembuskan nafas, 'Rage Claw' memutuskan melakukan satu-satunya hal terbaik yang ia bisa.

'Rage Claw' bergerak, menaiki tumpukan bata terdekat lalu melompat seraya menyerang muka pria kesatu menggunakan siku kakinya. Pria kesatu melangkah mundur, mengerang menahan nyeri di hidungnya. Melihat hal itu, sambil berteriak pria kedua melayangkan pukulan yang mengarah pada muka 'Rage Claw'. Hanya untuk 'Rage Claw' mengelak dengan berputar sampai membelakangi musuhnya, dilanjutkan dengan tendangan di punggung menyebabkan pria kedua terjatuh dan mencium aspal.

"Bedebah!"

Pria kesatu yang sudah tak merasakan sakit, melancarkan tinju menuju muka 'Rage Claw'. Terima kasih kepada tubuhnya yang pendek, 'Rage Claw' tanpa gangguan merundukkan kepala lalu melayangkan tendangan kearah perut pria kesatu, membuatnya mundur hingga terjatuh ketika tak sengaja menginjak kulit pisang.

"Rasakan ini!"

Menyipitkan mata, 'Rage Claw' berpaling untuk melihat tendangan mengenai perutnya, menyebabkan dirinya melayang sejenak sampai punggungnya menabrak dinding. Baru ingin bergerak lagi, dia meringis kala pria kedua menendangnya di bagian dada.

"Jangan sombong dulu bocah! Barusan kau hanya beruntung karena aku agak lengah!"

Pria kedua merogoh revolver dari sisi lain jinsnya, mengembangkan seringai sembari meletakkan ujung senjata api ke dahi 'Rage Claw'.

"Ada kata-kata terakhir?"

'Rage Claw' mengedarkan pandangan, mencoba mencari alat atau benda apapun yang dapat membantunya. Berkedip, hatinya bersorak saat menatap pipa besi tergeletak di bawah pria kedua. Dengan senyum tipis mulutnya terbuka.

"Selalu gunakan helm sebelum terkena hantaman."

Pria kedua mengerutkan kening, berpikir bahwa 'Rage Claw' telah gila dan perlahan menarik pelatuk revolver.

"Sayonara."

Tanpa pikir panjang 'Rage Claw' menyerang perut musuhnya dengan tumit kirinya, membuat pria kedua hampir jatuh dan dilanjutkan dengan mengambil pipa besi sebelum menghantam mukanya menggunakan itu.

Mengabaikan erangan sakit musuhnya, 'Rage Claw' yang melihat peluang kabur segera mengakhiri serangannya dengan melancarkan tendangan ke dagu pria kedua, menghempaskan lawannya ke udara lalu mendarat secara kasar di aspal.

"Hah... Hah... Hah... Akhirnya selesai juga."

Memaksakan berdiri, dengan langkah gontai 'Rage Claw' mulai menjauhi tempat bekas perkelahiannya. Tanpa diketahui olehnya, pria kesatu sudah bangkit sambil mengacungkan revolver milik temannya kearah bagian belakang kepala 'Rage Claw'.

BANG!

Hal terakhir yang 'Rage Claw' lihat adalah awan emas dan suara mengandung nada tenang.

"Sangat disayangkan bila orang dengan potensi sepertimu mati begitu saja."

Line Break

Di sebuah rumah bergaya tradisional, tepatnya di ruang Washitsu. Dua sosok tampak sedang bercengkerama sambil sesekali menyesap teh hijau masing-masing. Tak jauh dari keduanya, terlihat seorang anak laki-laki dalam kondisi memejamkan mata tengah terlelap di atas futon.

Salah satu sosok merupakan pria tua bersurai hitam kelabu, mengejutkan pria ini cukup berotot disamping usianya, ia memiliki sepasang iris onyx dan memakai seragam bela diri abu-abu dengan bekas luka "X" sepanjang kedua lengan dan dagunya. Pria ini memandang sang anak laki-laki.

"Jadi dia yang akan kulatih seni bela diri?"

Duduk berhadapan dengannya, seorang sosok lain yang sepertinya pria namun 'kecil' dengan penampilan hampir mirip kera dengan rambut emas, tasbih di dahi, dan bulu emas di hampir seluruh permukaan tubuhnya. Dia merokok pipa sambil menganggukkan kepala.

"Anak muda ini memiliki potensi. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

"Kita lihat saja nanti. Ngomong-ngomong, apa dia pemilik Sacred Gear?"

Pria 'kecil' menaikkan sebelah alisnya, "Boleh aku tahu alasanmu menanyakan hal ini, Tae-Jin?"

Sorot mata Tae-Jin menajam. "Saat aku mengecek luka tembak di kepalanya. Lukanya telah sembuh seakan tak pernah ada sebelumnya."

Sun Wukong mengangguk-angguk. "Begitu. Ternyata teoriku bukanlah bualan belaka."

"Apa maksudmu?"

"Saat dalam perjalanan kemari, aku merasakan Senjutsu terus-menerus mengalir ke tubuhnya." Sun Wukong mengelus dagu. "Hanya saja, tidak seperti Senjutsu yang kutahu. Senjutsu-nya tidak hanya melambangkan satu aspek, melainkan tiga aspek. Yaitu Hampa, Kegesitan, dan… Tidak Terbatas."

Tae-Jin mengerutkan kening, memutuskan tidak berkomentar apapun. Mengingat dia bukan ahli Senjutsu jadi ia memilih untuk diam.

Tanpa diketahui oleh mereka, 'Rage Claw' mulai membuka matanya. Dia meringis kala sinar lampu membuatnya silau, menggosok indra penglihatan dan perlahan menegakkan badan.

"Dimana aku?"

Pertanyaan itu memancing perhatian Tae-Jin dan Sun Wukong, mereka berdua menghembuskan nafas lega melihat si anak laki-laki telah sadar.

"Merasa baikan?"

'Rage Claw' mengalihkan pandangan pada kedua pria berbeda ras, dia membulatkan bola mata dan mengambil langkah mundur ketika melihat Tae-Jin dan Sun Wukong.

"S-Siapa kalian?!"

"Tenang, Nak." Sun Wukong berkata dengan nada ramah. "Aku merupakan orang terakhir yang kau lihat di gang itu. Kau di salah satu rumahku sekarang."

Tae-Jin memutuskan menambahkan. "Dan orang-orang yang mengejarmu telah diamankan polisi setempat. Jadi kau aman saat ini."

'Rage Claw' mengedipkan mata beberapa saat, air mata mulai terkumpul di kelopaknya. Perasaan bahagia tercampur lega terasa di hatinya. Tanpa pikir panjang ia menundukkan kepala hingga tak sadar keningnya menghantam tatami.

"Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou!"

Sun Wukong dan Tae-Jin membutuhkan beberapa jam untuk menghentikan 'Rage Claw' dari aksinya itu. Setelah menenangkan diri selama lima menit, Sun Wukong dan Tae-Jin mulai menanyakan beberapa hal terkait masa lalu 'Rage Claw'.

Awal mulanya 'Rage Claw' sedikit takut dan ragu-ragu mengungkapkan masa lalunya. Tapi setelah keberaniannya terkumpul, sedikit demi sedikit akhirnya dia mau bicara.

Line Break

Malamnya, Sun Wukong mengamati leher 'Rage Claw' alias Naruto. Nama yang diberikan orang tua kandungnya di surat yang diselipkan dalam keranjang bayinya menurut pemilik panti. Anehnya tanpa marga.

'Sisik ungu? Benar-benar beda, huh?'

Sun Wukong memasang kaca mata kesukaannya, kemudian menaruh lengannya di tengkuk Naruto dan mulai menyeimbangkan Senjutsu yang terus-menerus mengalir.

"Ugh."

Naruto meringis saat merasakan panas menyelimuti lehernya, sekuat tenaga menahan itu sembari memejamkan matanya. Perlahan sisik di di lehernya mulai mengecil, hingga ke tahap lenyap tanpa meninggalkan bekas.

"Baik. Sudah selesai."

Lelaki pirang mengangguk, bangkit dan pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke tempat Monkey King dengan mengenakan Gi hitam beserta ikat pinggang berwarna senada.

Sun Wukong meniup asap dari pipa rokoknya. "Kau yakin tidak besok saja, Naruto?"

Naruto berkedip, "Kurasa ada baiknya aku memulai belajar lebih cepat. Lagian Tae-Jin Jii-san sedang di ruang dojo saat ini."

Sun Wukong tersenyum.

"Lembaran baru, bukan?"

Naruto berseri.

"Yeah!"

Two Years Later

Matahari terbit ketika fajar menjelang, menggantikan tugas bulan sebagai penerang bumi. Di kaki pegunungan, terlihat satu figure 'kecil' sedang melancarkan pukulan dan tendangan kearah satu figure remaja. Remaja ini menunduk, menggeser pinggang, dan melompat dengan tujuan mengelak tiap serangan yang dilayangkan gurunya.

Sun Wukong tak mampu merasa sebangga ini semenjak dirinya melatih keturunannya aka Bikou. Prediksinya tidak salah kalau lelaki pirang itu memiliki potensi dalam dirinya. Faktanya, Naruto menerima semua ajarannya dan ajaran Tae-Jin layaknya kertas menyerap air.

Tae-Jin Jin. Nama seseorang yang membuat Sun Wukong tersenyum kecut. Seusai melatih Naruto apa yang ia bisa, Zelretch muncul dan mengirim kembali Tae-Jin ke dimensinya berasal. Sang Ancient Vampire terang-terangan akan menonton dan menunggu hal menarik yang akan terjadi bila Naruto menggunakan [Renewal Taekwondo] di hadapan Tiga Fraksi dan para dewa.

"Oi Naruto."

Naruto memutar badan kala Sun Wukong melancarkan tendangan menuju keningnya, putarannya tidak berhenti sampai kakinya mengarah pada tengkuk leher si Monkey King. Tapi sebelum terhubung Ruyi Jingu Bang memanjang untuk melindungi tuannya dari serangan remaja pirang.

"Ya?"

Sun Wukong memutar badan, memegang tongkat saktinya dan langsung mengayunkannya pada Naruto. Bereaksi cepat, Naruto melompat ke udara. Tak lupa melancarkan rangkaian tendangan ketika Sun Wukong menyerangnya secara bertubi-tubi menggunakan beberapa salinan Ruyi Jingu Bang.

"Mau ikut bersamaku ke Asgard?"

Membulatkan bola matanya, selagi di luar jangkauan darat dia putar tubuhnya sampai mendarat ke belakang Sun Wukong. Tanpa peringatan langsung menginjak tanah.

[Renewal Taekwondo]

Remaja beriris biru menggesek tanah searah jarum jam, yang kemudian menghasilkan angin topan kecil di sekeliling mereka berdua.

[Ground Drawer](1)

Sun Wukong kehilangan keseimbangan dan terhempas jauh, membalikkan punggungnya di langit dan menancap Ruyi Jingu Bang ke tanah sebagai tempat pijakan kakinya. Dia tertawa.

"Kau benar-benar benar ingin menghabisiku."

Naruto menurunkan penjagaannya, mengembangkan seringai.

"Wukong-sensei, semua ini karena kau sendiri menyebut nama Asgard. Kau tahu sendiri kalau aku sangat menyukai kisah fantasi. Apalagi mitologi."

"Maaf, kesalahanku."

Mendarat ke permukaan planet, Sun Wukong dan Naruto berjalan kearah yang sama. Berhenti di jarak lima belas meter, mereka saling membungkukkan badan.

"Aku yakin kau takkan mengatakan kata 'tidak', benar?"

Naruto berseri mendengar pertanyaan Sun Wukong. Tanpa ditanyakan pun sang Monkey King pasti sudah tahu jawabannya.

Line Break

Asgard, merupakan rumah para Dewa Norse dan tempat tinggal makhluk-makhluk mitos. Dunia ini indah dan menakjubkan, kaya akan alam, gunung-gunung menghadap langit, dengan pohon-pohon berukuran raksasa.

Di sebuah kota di Asgard, yang ramai karena banyaknya orang-orang melintas maupun berkomunikasi satu sama lain. Terlihat suatu rumah terletak di pinggiran kota, dalam bangunan itu tampak seorang wanita tua, yang kenyataannya merupakan salah satu Valkyrie legenda dalam catatan sejarah Norse.

Namanya Göndul. Hanya menyebutkan namanya membuat mereka yang melihat pertarungannya gemetar ketakutan saat mengingat kekuatannya di medan perang.

Tapi masa-masa kejayaannya sudah berakhir sekarang. Meskipun Göndul masih sama kuatnya dengan dia di masa lalu, ia memutuskan untuk memusatkan sebagian besar perhatiannya terhadap cucu perempuannya.

Saat Göndul hamil, para dewa berharap bahwa anaknya akan mewarisi bakatnya dalam sihir, tetapi sayangnya darah dagingnya tidak pernah menunjukkan bakat ini sebelum dia meninggal.

Meskipun Göndul masih seorang tokoh yang dihormati, selalu ada orang-orang yang berbicara tentang dia di belakang punggungnya, menyalahkan dia dan suaminya yang sudah meninggal karena tidak melatih putranya dengan baik.

Beratus tahun setelah putra dan menantu perempuannya dibunuh oleh Midgardsormr, Ular Midgard, Göndul memutuskan sudah waktunya untuk pensiun sebagai Valkyrie dan tinggal di kota dengan cucunya yang baru lahir.

Göndul membenci Loki setelah kematian putranya, karena keturunannya-lah yang menciptakan kekejian ini. Berpikir tentang cucu perempuannya, Göndul menunjukkan senyuman sedih saat dia diperlakukan ketika terlahir ke alam kehidupan.

Tidak seperti putranya, cucunya benar-benar menunjukkan bakatnya dalam sihir. Göndul memutuskan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya dengan putranya dan melatihnya dalam keterampilan sihirnya sejak usia tujuh tahun.

Sama seperti semua generasi baru Asgard yang berusia sepuluh tahun ke atas, Rossweisse juga dibawa ke hadapan para dewa dan cadangan sihirnya diukur. Ini menghasilkan banyak senyum ketika cadangannya hampir setinggi Göndul sendiri pada usia itu.

Berpikir bahwa cucunya akan memiliki masa depan yang positif, harapannya runtuh saat hari pertamanya di sekolah. Memang Rossweisse ditempatkan di kelas khusus dengan anak-anak lain yang memiliki cadangan sihir tinggi. Sayangnya, dia adalah satu-satunya yang tidak berasal dari garis keturunan dewa Norse.

Karena hal sepele dan fakta bahwa dia sebenarnya lebih baik daripada mereka dalam latihan sihir, Rossweisse sering diganggu dan bahkan diabaikan oleh teman-temannya. Hal ini menyebabkan Rossweisse menjalani hidup menyendiri ketika dia mulai takut pada orang lain dan hanya terbuka pada neneknya.

Göndul menghela nafas, berdoa kalau suatu saat cucunya dapat menemukan seseorang yang bisa dianggap teman, sahabat, sekutu, atau lebih baik; pasangan hidup.

Tiba-tiba kilat petir menyambar di hadapan Göndul, meninggalkan seorang pria pirang berpakaian ala Viking dengan palu legendaris yang dikenal seluruh dunia di tangan kanannya.

Göndul langsung menundukkan kepala saat mengenal siapa orang, atau dewa, yang datang berkunjung ke rumahnya.

"Thor-sama."

"Bangkit, Valkyrie Kawanku."

Melihat Göndul menegakkan badan, sang Dewa Guntur menambahkan.

"All-Father memberimu misi. Pergilah ke Midgard dan bawa tamu penting Asgard ke Valhalla."

Göndul mengangguk, alisnya ditekuk. "Jika tidak keberatan Thor-sama."

"Aye?"

"Aku tidak bermaksud untuk membangkang perintah, tapi Thor-sama sadar 'kan kalau orang tua ini sudah pensiun. Lalu kenapa tidak Valkyrie lain saja yang mengemban tugas ini?"

Thor menggaruk rambutnya dengan gugup, "Soal itu. Kau tahu, mabuk dan aku memang bukan kombinasi yang bagus. Beberapa jam lalu, aku baru saja melakukan kontes minum dengan Heimdall. Kebetulan dalam keadaan masih mabuk, aku melewati tempat latihan para Valkyrie dengan Mjolnir tak sengaja aku ayunkan kearah mereka… Tanpa kuselesaikan pun kau sudah tahu sisa ceritanya, bukan?"

Göndul menghela nafas, sebelum menganggukkan kepala.

"Kemana aku harus pergi?"

Line Break

Berdiam diri di daerah perbukitan di sekitar Kyoto, dengan tas di punggung Naruto mengalihkan pandangan pada Sun Wukong yang tengah bermeditasi.

"Wukong Jii-san."

"Apa?"

"Ini sekedar kunjungan atau ada maksud lain?"

Sun Wukong tersenyum tipis. "Aku ditunjuk sebagai perwakilan sementara untuk membuat aliansi dengan Norse."

Naruto menyipitkan matanya. "Biar kutebak; Khaos Brigade?"

Bisa dibilang Sun Wukong bukan tipe tukang bohong jika menyangkut informasi penting, terlebih kepada orang yang dianggap seperti cucunya sendiri. Kebersamaan mereka selama dua tahun ini membuat hubungan guru/murid tumbuh menjadi kakek/cucu.

Jika latihan, Naruto akan memanggil sang Monkey King dengan sebutan 'Wukong-sensei'. Kalau tidak latihan, laki-laki pirang akan memanggilnya dengan sebutan 'Wukong Jii-san'.

Sun Wukong menghembuskan asap dari mulutnya, sumber pipa rokok.

"Begitulah."

Sontak badai salju muncul di depan mereka berdua, dari badai berjalan seorang wanita tua bersurai perak, meskipun tua Naruto bisa menebak dari posturnya kalau dia adalah lawan tangguh di medan perang.

Semburat merah tipis menampakkan diri di pipi remaja pirang. Dia tak ingin mengakuinya terang-terangan, tapi entah mengapa Naruto mempunyai ketertarikan lebih terhadap wanita kuat.

"Halo anak muda. Namaku Göndul, aku seorang Valkyrie."

"Eh? A-Ah ya. Namaku Naruto. Murid dari Great Victorious Fighting Buddha dan Tae-Jin Jin."

Göndul mengerutkan kening, merasakan aura aneh dan Tidak Terbatas dari tubuh Naruto. Dia menyipitkan matanya.

'Naga? Pemilik Sacred Gear?'

Dengan pikiran itu, Göndul beralih pada Sun Wukong.

"Jaga sikap. Asgard tidak menginginkan adanya keributan."

Sun Wukong terkekeh geli.

Line Break

"Wow."

Naruto tertegun, dia mungkin telah melihat Asgard dari buku yang dibacanya tetapi ini berbeda. Dia berjalan di atas pelangi sialan! Di depannya tampak kota besar dan di tengahnya berdiri sebuah bangunan besar. Melihat semua itu terlalu berlebihan baginya.

Göndul tertawa kecil melihat reaksi lelaki pirang.

"Menikmati pemandangan?"

Naruto berkedip, mengeluarkan kameranya dari dalam tas.

"Boleh aku ambil foto?"

Sang Valkyrie legenda mengangguk.

Snap! Snap! Snap!

Selagi Naruto sibuk mengambil foto sekelilingnya, Göndul berpindah tempat ke sisi Sun Wukong.

"Keadaannya?"

"Koma. Itu kondisi Kaisar Langit-sama hingga saat ini."

Göndul terdiam, "Siapa lawannya?"

"Tanda-tandanya tidak salah lagi Khaos Brigade." Dibalik kaca matanya, Sun Wukong menyipitkan mata. "Hanya saja, kami tak tahu anggota mana yang melakukan penyerangan itu."

Mereka bertiga terus melangkah sampai ketiganya berada di kota emas. Meneruskan perjalanan selama beberapa saat sampai mereka mencapai aula raksasa. Dari luar Naruto bisa mendengar gema tawa dan bunyi musik.

Pintu aula terbuka dan mereka bertiga masuk, Naruto sekali lagi terpesona dengan pemandangan di hadapannya. Di sepanjang aula tampak kumpulan prajurit, sebagian ada yang berkomunikasi dan sisanya mencicipi makanan dan minuman yang ada di atas meja panjang. Di sudut lain, terlihat dua lorong dengan banyak pintu. Yang paling menakjubkan dari semuanya adalah berbagai macam lukisan, pedang, kapak, dan berbagai alat tempur lainnya menempel di dinding emas.

Di bagian paling akhir aula, Naruto dapat melihat dua sosok, satu pria tua, dilihat dari rambut dan janggutnya yang putih. Dia memakai penutup mata di mata kirinya dan duduk di atas singgasana.

Pria lainnya berpakaian ala Viking, berambut pirang dengan armor membalut dada dan jubah di punggungnya.

Göndul memimpin Sun Wukong dan Naruto melewati lautan prajurit, segera mereka mencapai dua pria yang duduk di ujung aula.

Pria tua berdiri dari singgasananya, membiarkan gigi putihnya terlihat.

"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, Sun Wukong. Kerutanmu bertambah banyak setelah pertemuan terakhir kita."

Sun Wukong tersenyum tipis.

"Dan kau pun masih tua bangka seperti biasanya, Odin-dono."

Odin membalasnya dengan cengiran nya sendiri. Dia menghampiri mereka bertiga dengan pria Viking mengekorinya.

"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain untuk membahas persoalan ini."

Sun Wukong mengangguk, beralih pada Naruto.

"Kau bilang kau ingin menjelajahi Asgard, Naruto. Selama aku pergi, lakukan apa yang kau mau."

Naruto bersiul.

Odin menatap Göndul.

"Aku tahu ini agak kelewatan, tapi bisakah kau ajak anak muda ini berkeliling Göndul?"

Göndul mengangguk. "Meskipun aku sudah menjauh dari medan pertempuran, sebagai Valkyrie tidak sepantasnya aku mengabaikan perintahmu All-Father."

Odin tersenyum lega dan mengetuk lantai menggunakan Gungnir, seketika dirinya, Sun Wukong, dan pria Viking lenyap ditelan lingkaran biru di lantai.

Göndul mengalihkan pandangan pada Naruto.

"Mari ikuti aku."

Line Break

Satu jam dalam perjalanan, akhirnya Naruto dengan Göndul sampai di Alfheim, tempat tinggal bangsa Elf. Hanya dalam beberapa menit, Naruto berhasil membuat teman dengan sepasang Elf bernama Eldar dan Aerik. Naruto mengajak mereka bermain Hide and Seek selama dua sampai lima menit. Untuk beberapa alasan, dia memiliki pemikiran permainan ini akan sangat populer di Alfheim.

Dua jam berlalu, Naruto dan Göndul sampai di Vanaheim. Dunia para dewa Vanir. Selagi Göndul membawa Naruto berkeliling, dia memberi tahu lelaki pirang bahwa dirinya dilahirkan karena persatuan manusia normal dari Midgard dan dewi Vanir. Ini adalah fakta yang terkenal bahwa dewa-dewi Vanir memiliki keterampilan sihir yang luar biasa, menyaingi para dewa Æsir.

Tiga jam terlewat, Niddhavellir menjadi kunjungan mereka berikutnya. Mengetahui wilayah ini merupakan tempat tinggal para Dwarf, Naruto langsung menyiagakan kameranya untuk mengambil foto tentang dunia ini juga. Mengunjungi gua terdekat, Naruto hampir diserang kawanan Dwarf karena membuat pingsan salah satu rekan mereka yang sedang beristirahat. Usut punya usut, flash kamera laki-laki manik ombak yang menyebabkan hal itu.

"Odin-san memanggilmu?"

Göndul mengangguk, "Panggilan mendadak. Kita harus kembali sekarang juga. Tanpaku, kau akan tersesat di antara Sembilan Dunia."

Naruto mengerutkan kening, padahal dia belum puas dan masih ingin berkunjung ke tempat lain. Melihat ekspresinya, Göndul menutup telapak tangan kemudian membukanya, menunjukkan kompas emas dengan sembilan abjad di dalam itu.

"Sebenarnya kompas ini digunakan untuk situasi darurat, berguna sebagai alat teleportasi ke dunia manapun. Terimalah. Lagipula, hanya aku seorang yang dipanggil."

Menerima kompas itu, Naruto menitipkan tasnya pada sang Valkyrie tua dan mengucapkan terima kasih sebelum Göndul menghilang dalam hujan salju. Dia mengarahkan kompas ke sekitarnya, hanya untuk melihat jarum penunjuk arah berhenti di abjad A.

Hal terakhir yang Naruto rasakan adalah tubuhnya terasa disiram air dingin.

Byur!

"Kyaaaaaa!"

Line Break

Di tepi danau jauh dari kota, terlihat seorang gadis berusia tiga belas tahun dengan rambut perak tengah menyerang sekelilingnya dengan sihir elemen api. Raut mukanya yang mengeras menandakan dia sangat kesal saat ini.

Gadis ini bernama Rossweisse, pemilik bakat sihir terhebat dalam kelasnya. Tapi karena itu juga dia selalu sendirian. Mengingat bagaimana harinya, Rossweisse mulai meledakkan lagi semua hal yang bisa dia temukan.

Pohon-pohon hangus, mayat-mayat ikan mengapung, hewan-hewan liar yang tak sengaja lewat harus menerima nasibnya dalam api membara.

Terengah-engah setelah menggunakan begitu banyak sihir, Rossweisse menarik napas panjang dan duduk di atas rumput hijau. Dia menggertakkan giginya.

''Dasar orang-orang bodoh! Hanya karena salah satu orang tua mereka adalah dewa bukan berarti mereka lebih baik dariku!"

Hari-harinya selalu berakhir seperti ini. Semua anak dengan orang tua terkenal memandang rendah padanya karena dia terlahir tanpa darah dewa dalam pembuluh darahnya.

Jadi seperti hari-hari lain, Rossweisse mengambil waktu untuk bersantai dan duduk sendirian, jauh dari Asgard dan orang-orang yang berusaha menjatuhkannya hanya karena suatu perbedaan kecil.

"Andai aku punya teman. Satu pun tidak masalah," gumamnya berharap.

Byur!

"Kyaaaaaa!"

Rossweisse reflek berteriak mendengar sesuatu jatuh ke dalam sungai. Dia bangkit, berlari mendekati kolam alami itu. Hanya saja, Rossweisse tak mengharapkan seorang remaja satu tahun lebih tua darinya menyeret dirinya sendiri dari sungai.

"Teleportasi sialan."

Remaja itu menggerutu, melepas blazer hitam tanpa kancingnya serta kaus biru tuanya ke atas batu besar di sampingnya. Dia mengusap rambutnya dan menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam, air di rambutnya bertebaran ke segala arah.

Rossweisse bisa merasakan pipinya memanas melihat tingkah laku orang asing di depannya. Dia mengerutkan kening, kebingungan kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan panik saat hidungnya menetaskan darah meski sedikit.

'Ada apa dengan diriku? Apa aku sakit? Ngomong-ngomong, siapa orang asing ini? Tunggu, apa jangan-jangan dia ini penyusup dan memiliki jenis sihir yang bisa menyerang anggota fisik bagian dalam? Dan dia berniat menjatuhkan Asgard dengan dimulai dari mengalahkan seseorang belum punya pengalaman sepertiku sebelum yang terkuat?'

Rossweisse menyipitkan matanya pada remaja tak dikenal, yang masih sibuk dengan urusannya. Ia mengangkat lengan dan lingkaran sihir kecil muncul di telapak tangannya, kemudian lingkaran itu menembakkan petir biru menuju orang asing.

[Renewal Taekwondo : Bo-Bup](2)

Rossweisse terkejut melihat serangannya meleset, tidak mengenai apa pun kecuali udara kosong ketika sihir petirnya hanya beberapa inci dari kepala seseorang yang dianggapnya penyusup.

"Belakang!"

Si gadis berambut perak berpaling dan membeku saat tinju berjarak lima meter dari mukanya hampir mengenainya. Angin seketika menerbangkan helai rambutnya serta rumput-rumput bergoyang seakan menggila karena tekanan kuat dari serangan Naruto.

Rossweisse benar-benar merasa takut sekarang. Pasalnya orang di hadapannya mampu melakukan sihir memotong jarak tanpa memerlukan lingkaran sihir sama sekali. Heck, bahkan dia tidak melihat satupun lingkaran sihir ketika dia lenyap dari tempat berpijaknya! Apalagi pukulannya, yang tidak salah lagi dibalut puluhan energi sihir jika mampu menghasilkan efek seperti yang baru saja terjadi di sekitarnya.

'M-Mormor(3) t-tolong a-aku.' Pikir Rossweisse ketakutan.

Mengetahui hasil dari apa yang baru saja dia perbuat, Naruto menghela nafas sambil mengembangkan senyum tipis, mengejutkan Rossweisse.

"Maaf soal barusan. Aku tidak bermaksud menyerangmu sebetulnya. Tapi kau sendiri yang main serang jadi instingku bereaksi secara semestinya."

Rossweisse mengedipkan mata beberapa saat. Dia mengamati kedua lengan Naruto yang diletakkan ke dalam saku jins hitam basahnya. Dia bertanya dengan gemetar.

"A-Apa k-kau s-seorang p-penyusup?"

Bad move.

'Rossweisse bakaaaaaaa!'

Si gadis berambut perak panjang mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Merasa panik menyadari pertanyaannya lebih mendekati sebuah death wish.

"Phf! Penyusup?"

Lagi-lagi Rossweisse dikejutkan dengan tawa lepas dari mulut lelaki iris biru, ia mengulurkan lengannya ke depan sembari memamerkan gigi putihnya.

"Namaku Naruto. Murid dari Great Victorious Fighting Buddha dan Tae-Jin Jin. Sekedar pemberitahuan, aku datang kemari bersama guruku. Beliau bersama Odin sang All-Father saat ini. Jadi bisa dibilang aku bukan penyusup."

Rossweisse berkedip.

"Oh... "

(Meanwhile)

Di sebuah ruangan besar yang memberikan pemandangan keseluruhan Asgard, Sun Wukong, Odin dan Thor muncul lewat lingkaran sihir biru. Mereka segera duduk di kursi yang disediakan sejak tadi.

"Ramalan Besar itu benar-benar akan terjadi, Wukong-dono."

Sun Wukong menyipitkan matanya, sebagai Bearer of Wisdow tak ada alasan bagi Odin untuk berbohong kepadanya.

Thor membanting lengannya ke atas meja, amarah murni terlihat jelas di mukanya.

"Ramalan Besar?! T-Tapi itu mustahil Ayah! Memangnya seberapa besar ancaman ini sampai eksistensi alam semesta ini dipertaruhkan?!"

"Sangat besar, Nak." Jawab Odin hampa.

"Petunjuknya?" tanya Sun Wukong tenang.

Tiba-tiba mata Odin memancarkan pendar hijau tua, mulutnya terbuka dan suara yang dikeluarkannya terdengar seperti gabungan dari anak-anak, wanita, pria dan lanjut usia.

"Tujuh Yang Berbeda Akan Datang."

"Meski Tak Mirip Tapi Pernah Melakukan Hal Sama."

"Dia Yang Memiliki Dua Darah Dan Aspek Alam Semesta Dalam Tubuhnya."

"Hanya Akan Bertahan Bila Kembarannya Berdiri Di Sisinya."

"Dan Itu Akan Jatuh Saat Cahaya Abadi Padam."

Setelah pendar biru tiada, Odin terengah-engah dengan keringat bercucuran dari dagunya.

"Aku *hah* terlalu tua *hah* untuk hal *hah* seperti ini *hah*."

"Tujuh Yang Berbeda?" Thor menggaruk rambutnya. "Maksudnya beda ras, darah atau beda keturunan?"

"Apa kau baik-baik saja Odin-dono?" tanya Sun Wukong khawatir.

Odin mengangguk.

"Beri aku istirahat sebentar... Dan tontonan oppai bergoyang."

"Kau akan dapatkan itu segera!"

Thor lenyap dalam kilatan petir, meninggalkan sang Great Victorious Fighting Buddha dan sang King of Norse Gods sendirian.

Sun Wukong menggeleng melihat sifat Odin, dia berujar.

"Mungkin ini sudah saatnya aku membahas... Soal membuat aliansi."

Odin berkedip, memicingkan matanya.

"Aku mendengarkan."

Line Break

"...jadi begitu ceritanya Rossweisse."

Menyadari petarung bela diri berkata jujur setelah mendengar penjelasan dan benda yang dipegangnya, Rossweisse mengamati kompas emas di tangan Naruto dan berkata.

"Jadi Mormor yang menjadi pemandumu dalam berkeliling."

Memastikan pakaiannya telah kering(Naruto beruntung Rossweisse bisa sihir api) dia menganggukkan kepala.

"Benar sekali."

Rossweisse memainkan helai rambutnya malu-malu, "Sekali lagi aku minta maaf. Bukannya bertanya aku malah langsung menganggapmu penyusup tanpa bukti nyata."

Naruto tersenyum simpul, memotong jaraknya dengan Rossweisse dan mengelus rambutnya dengan sentuhan lembut.

"Seorang tentara berani mati jika itu demi negaranya. Seorang ksatria tanpa pikir panjang akan mengorbankan nyawanya demi kerajaan dan penduduk di dalamnya. Kau, Rossweisse, karaktermu mirip dengan dua kategori itu. Jadi sudah sewajarnya kau berpikir aku ini penyusup di pertemuan pertama kita. Itu berarti kau memiliki hati seorang prajurit dalam dirimu. Terdengar keren menurut opiniku."

Mendengar pendapat Naruto tentang dirinya, Rossweisse dapat merasakan panas menyebar ke permukaan wajahnya dalam sekejap. Ini pertama kalinya seseorang selain neneknya memberinya pujian secara terbuka di depannya.

Jujur, ia sangat gembira dengan hal itu.

"Jadi," Naruto mengedarkan pandangan sebelum kembali pada Rossweisse, "mana teman-temanmu?"

Dia menaikkan alisnya saat ekspresi si gadis berambut perak berubah menjadi sedih.

"S-Soal itu… " Rossweisse menggigit bibir bawahnya, merasa cemas tapi memilih melanjutkan, "…a-aku tidak punya satu pun teman. Selain Mormor hanya kau seorang yang pernah aku ajak bicara seperti saat ini."

Naruto berkedip. "Wah tidak baik itu," dia nyengir, "jika benar kau belum punya teman, kau bisa menganggapku sebagai salah satunya."

Rossweisse terkejut, perasaan bahagia menyelimuti hatinya.

"B-Benarkah?"

Remaja iris biru mengangguk. "Tentu. Kenapa tidak?"

Dia seharusnya benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi sejujurnya tidak peduli seberapa keras dia mencoba, takdir selalu berhasil menggagalkan persiapannya.

Naruto menemukan dirinya terdorong ke belakang, berguling beberapa saat di atas rumput hijau dengan Rossweisse menangis di dadanya.

"Huwaaaaaaaaaaaaa!"

"E-EH?!"

Naruto butuh beberapa menit untuk menenangkan Rossweisse, tampaknya karena pertama kali diperlakukan baik oleh seseorang yang bisa disebut "teman" Rossweisse menjadi sangat emosional.

"Kau ingin bermain?"

Rossweisse mengangguk dengan semangat, mengerutkan kening.

"Tapi main apa?"

"Play tag," jawab Naruto.

"Play tag?" Rossweisse memiringkan kepalanya. "Aku belum pernah mendengar permainan itu sebelumnya."

Naruto tersenyum aneh, "Cara mainnya kita hanya perlu menyentuh yang 'kena' lalu si 'kena' mengejar si 'tak kena'. Kedengarannya mudah bukan?"

Rossweisse [Ohh] setelah mendengar peraturan play tag.

Naruto menaikkan alisnya, "Loh, Göndul-san. Sedang apa kau disini?"

Dengan pandangan berbinar-binar Rossweisse menengok ke belakang.

"Mormor lihat sekarang aku punya-eh?" Dia mengernyit. "Tak ada siapapun juga."

Tanpa Rossweisse tahu Naruto sudah berdiri di belakangnya dengan seringai jail di bibirnya.

"KENA!"

"AAAAAA!"

Naruto bergegas berlari ke arah acak, di belakangnya Rossweisse mengejar dengan muka merah(menahan kekesalan tingkat tinggi) dan kedutan di dahinya. Setiap kali sang gadis berambut perak hampir berhasil menjangkau Naruto, dia selalu bisa lepas dari jangkauannya. Mereka seperti itu selama beberapa menit sampai akhirnya Rossweisse tak tahan dan mengeluarkan unek-uneknya.

"DASAR CURANG!"

"SEMUA ADIL DALAM KEGILAAN! MWAHAHAHAHA!"

Sebuah ide sama gilanya lewat di benak Rossweisse, tangan diayunkan kemudian lingkaran sihir muncul di depan Naruto. Membelah tanah dan membuat Naruto hampir jatuh jika ia tidak segera [Bo-Bup].

"SAHABAT MACAM APA YANG BERNIAT MEMBUNUH TEMANNYA SAAT SEDANG BERMAIN HAH!"

"SEMUA ADIL DALAM KEGILAAN!"

Naruto mengerang menyadari Rossweisse menggunakan kata-katanya sebagai alasan penyerangannya. Dia melebarkan mata melihat bola api besar mengarah padanya dari lingkaran sihir di hadapannya. Ia melompat ke samping untuk menghindari serangan elemen tersebut. Tak menyadari Rossweisse menunggu di tempat itu dan sebentar lagi menepuk pundak Naruto.

"Kena!"

Bruk!

Rossweisse terjatuh sebelum bisa menyelesaikan tujuannya, keringat berjatuhan dari muka menuju lehernya. Keletihan adalah kata yang menjelaskan keadaannya saat ini. Meskipun begitu, senyum puas dan kegembiraan murni terlihat jelas di wajahnya.

"Menyenangkan bukan?"

Rossweisse melirik ke arah Naruto, yang mengambil posisi duduk di sisi kirinya. Dia mengangguk dengan semangat.

"Ya... "

Lelaki iris biru terkekeh geli, sorot matanya tertuju pada langit.

"Ngomong-ngomong, Naruto."

"Apa?"

"Di kemudian hari dan seterusnya... Bisa kita terus seperti ini?"

Naruto berkedip, dengan gemas mengusap helai rambut Rossweisse.

"Tentu saja."

Rossweisse mengerucutkan bibirnya sebab perilaku Naruto, tapi bahasa badannya lain saat dia mendekatkan kepalanya pada perut lelaki iris biru. Dia mengerutkan kening.

'Kenapa suara detak jantung Naruto gak kedengaran?'

Line Break

"Mwehehehehehehehe!"

"Hohoho, seperti kuharapkan dari muridku."

Göndul menahan diri untuk tidak menangis bahagia melihat cucu perempuannya akhirnya menemukan teman.

Di lain pihak, Odin dengan wajah cabul dan seringai Sun Wukong memandang layar hologram lewat "penglihatan" Heimdall. Sementara Heimdall sendiri memiliki kedutan di dahi sebab melihat kemampuannya digunakan untuk hal tidak penting.

Thor menggaruk rambutnya, mengalihkan pandangan pada Sun Wukong.

"Apa kau yakin kalau anak ini bukan seorang demigod? Mungkin keturunan?"

"Naruto adalah manusia Thor-dono."

"Tapi dengan kekuatan fisik semacam itu? Bahkan ketika aku seumuran dengannya aku harus memegang Mjolnir terlebih dahulu untuk mendapat kemampuan yang hampir mirip. Tentunya diriku yang dahulu jauh lebih kuat darinya."

Sun Wukong menyipitkan matanya, sadar kemana arah pembicaraan Dewa Guntur Norse. Sebaik apapun dewa itu, jika ada mortal yang memiliki kemampuan melebihi mereka pasti sifat asli mereka keluar meskipun sebentar.

'Senjutsu dengan bela diri merupakan kombinasi mematikan bila pemakainya tahu cara menggabungkannya. Lagipula, aku takkan terkejut bila nanti banyak pihak mencoba merekrut Naruto ke sisi mereka.'

"Aku takut sudah saatnya aku pergi Odin-dono. Mari di pertemuan berikutnya kita saling menukar sake." Sun Wukong berkata dengan senyum tipis.

Odin mengelus jenggotnya, matanya memancarkan sorot ketertarikan.

"Kedengarannya menarik. Göndul, tolong antar tamu spesial kita ke tempat muridnya."

Göndul mengangguk.

"Hai!"

Line Break

Naruto berkedip, baru ingin bergerak tapi terhenti kala mendengar dengkuran halus dari Rossweisse. Dia terkekeh geli. Berniat memejamkan mata tapi tak jadi kala lingkaran sihir muncul di hadapannya, menampilkan Göndul bersama Sun Wukong.

"Aku lihat kau menikmati dirimu sendiri."

Naruto mengangkat bahu, rona tipis terlihat di pipinya.

"Göndul-san. Aku butuh tangan tambahan di sini."

Göndul menghampiri mereka berdua. Dengan hati-hati memisahkan Rossweisse dari Naruto kemudian menggendongnya. Dia memunculkan lingkaran sihir di samping dan mengambil tas remaja mata biru.

"Tasmu Naruto-kun."

"Kompasmu Göndul-san."

"Waktunya kita kembali, Naruto."

Naruto mengalihkan pandangan pada Sun Wukong, yang menunggunya di atas awan emas. Setelah memberi salam pada Göndul dia berlari dan menaiki itu juga. Lalu awan emas segera terbang ke arah tempat tinggal mereka.

Line Break

Matahari tenggelam ketika malam datang. Bulan tanpa protes menempati tempat sang mentari ditemani para bintang. Hujan menyusul beberapa menit kemudian.

Di sisi lain kota Kyoto, Naruto memandang gurunya dengan alis ditekuk. Mereka sekarang sedang berada di luar kediaman. Masing-masing memegang payung hitam dan putih.

"Tiada latihan malam ini?"

"Latihan terlalu banyak tak bagus untuk kesehatanmu Naruto," nasehat Sun Wukong sembari menggeleng, "lagipula. Aku ada urusan lain malam ini."

Naruto mengerutkan kening, "Seingatku latihanku tidak banyak. Paling lama hanya beberapa jam saja."

"...'beberapa jam' maksudmu adalah empat jam di pagi hari. Dua jam di siang hari. Satu jam di sore hari. Terakhir tiga jam di malam hari," sebut sang Great Victorious Fighting Buddha dengan nada kering.

"Oh... Aku akan menonton film saja di ruang tamu."

Sun Wukong mengangguk, senang mengetahui muridnya mencoba bersantai saat dirinya tak ada di sekitarnya. Dia bersiul dan kendaraan mistisnya datang sebelum ia menaikinya.

Memastikan gurunya telah pergi, Naruto berbalik dan masuk ke dalam rumah. Baru ingin menyalakan TV sebelum bunyi ketukan di pintu menghentikan niatnya.

"Sebentar!"

Pintu digeser dan remaja manik ombak mengedipkan mata, di depannya berdiri seorang pemuda bersurai pirang panjang mengenakan kaca mata dengan seorang gadis pirang berpakaian penyihir. Tubuh keduanya bergetar pertanda sudah terlalu lama di bawah siraman air hujan.

Naruto mengembangkan senyuman.

"Ingin masuk?"

.

.

.

.

.

T-B-C

.

.

.

1.

Teknik yang menggores, menggesek, kaki pengguna di lantai, tanah, rumput dan lain-lain. Efek dari ini dapat menghasilkan angin cukup kuat untuk membuat lawan kehilangan keseimbangan maupun menggagalkan serangan sebelum itu bisa dilakukan.

2.

Dasarnya ini adalah teknik khusus yang membuat gerakan pengguna seketika di belakang, di samping, atau di atas lawan dalam sekejap.

3.

Nenek.

.

.

.

A/N: Halo reader-san sekalian. Seperti yang kalian lihat ini adalah fanfic kedua yang aku buat. Honestly, fic ini ada karena author mendapat challenge dari teman author. Dia yang punya ide dan author yang bikin. Di bawah daftarnya.

Informasi Tantangan:

Naruto mengandalkan Senjutsu dan Bela Diri sebagai kemampuan utamanya.

Diterima √

Kemampuan lain tidak masalah asalkan tak mendekati Demonic Power/Divine Power/Sacred Gear.

Diterima √

Senjata diperbolehkan tapi hanya bisa menetralkan energi sihir.

Diterima √

Naruto akan memiliki kelompoknya sendiri dan interaksinya dengan Tiga Fraksi tidak sering.

Diterima √

Pair tidak boleh dari Iblis/Malaikat/Malaikat Jatuh.

Diterima √

Wajib harem maksimal 2 dengan alasan.

Diterima √

Sedikit elemen 'Infinity War' dengan 'GOH'.

Diterima √

Well, karena hanya ini yang author sampaikan, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Untuk KG, tenang, author tak abaikan fic satu itu.

Ciao!

[Mars135: Out]

Next Time On Kick The Limit

Line Break

"Tidak. Tujuanku lulus bukan untuk diakui sebagai 'bisa' maupun diangkat sebagai pengawal salah satu dewa Norse."

Naruto mengerutkan kening, memandang Rossweisse dengan alis ditekuk.

"Lalu sekarang kau mau apa?"

Menarik nafas panjang kemudian membuangnya, dengan wajah sedikit merah Rossweisse mengutarakan hal yang dirinya pendam dalam hatinya.

"Aku mau... Kalau kau tidak keberatan... M-Menjadi Valkyrie pribadimu?"

Line Break

Melihat dua exorcist suruhan Balba Galiel mengayunkan pedang suci mereka dari segala arah, Kiba memejamkan matanya dan menggertakkan giginya.

'Gomen minna.'

.

.

.

.

.

.

.

"Ya ampun, kenapa di dunia ini masih saja ada orang yang mengandalkan senjata aneh seperti replika light saber para Jedi ini."

Mengernyit bingung, Kiba membuka matanya hanya untuk melihat seorang remaja asing berdiri di hadapannya dengan tangan kanan memegang tulang lengan hasta exorcist di sisi kanan, dan kaki kiri terangkat demi menahan ujung pedang suci exorcist di depan.