Kaga: oke minna, Kaga kembali... ini seri lanjutan dari boneka iblis Kirito milik Kaga... sekali lagi untuk nama karakternya, Kaga hanya sekedar pinjam saja... mari kita simak...

Here we go

Karakter:

Akira Fuyuki

Kirito Tsukimori

Kirishima

Sakura Tomoya

Kentaro Sakaki

The Return Of The Cruel Vampire Doll

Doll Vampire atau Boneka yang bergerak dengan menghisap darah dari makhluk penghisap darah. Mendapatkan energi dari energi yang berlimpah dalam darah vampir.

Namaku Akira Fuyuki, sekarang sedang giat menghadapi ujian kelulusan. Hidupku yang biasa ini berubah semenjak aku bertemu dengan Kirito yang menyebut dirinya sebagai boneka yang mengendalikan para boneka.

Ini semua karena cerita kakek yang baru pulang dari Yunani, tak hanya segudang cerita seram tapi juga kakek membawa sebuah boneka yang luar biasa, tentunya tanpa ia sadari.

Tapi aku dan Kirito kini berteman, ia bilang bahwa aku adalah reinkarnasi dari pembuatnya dulu, Kirishima. Aura, suara, sikap dan wajahku mirip dengan Kirishima, katanya. Tapi aku adalah aku dan bukan Kirishima, walau terkadang aku merasa bersalah entah kenapa.

Kirishima membuat Kirito dan terpaksa membuangnya karena pandangan orang sekitar. Dahulu manusia masih takut dengan yang namanya sihir dan kutukan, apalagi melihat boneka dengan ukuran tak lazim, sama besarnya dengan ukuran tubuh manusia normal.

'Tapi kenapa Kirishima membuat Kirito? Untuk apa dia membuat Kirito yang besar, sedangkan jika orang dulu masih percaya hal-hal mistis seprti itu?' Batinku bertanya-tanya disela-sela pelajaran ketiga.

Melamun memikirkan hal lain selain yang harus kupelajari untuk kelulusanku. "...ki! Fuyuki!" Sampai guru menegurku karena melamun.

"Ah? Maafkan saya Nakamura-sensei... saya mau cuci muka dulu sebentar," aku terlonjak dan bergegas meminta izin keluar. Beberapa dari pikiran-pikiranku ini sedikit memenuhi otakku dan enggan untuk menggantinya dengan pikiran lain, seakan aku harus tahu ini semua.

Keluar dari kelas setelah ditegur itu tidak menyenangkan, "aku ini kenapa sih?" Aku menatap kaca yang berada didepan wastafel dengan wajah basah kuyup. Menatap bayanganku dalam cermin, heran dengan diriku ini.

Bahaya bukan? Tapi... aku tak mau melepasnya lagi. Lagi? Apa aku mengenalnya? Lagi itu maksudnya aku mengenalnya sebelum ini? Iya aku mengenalnya sebagai boneka yang menyiksaku. Tidak! Aku tidak bisa berpikir seperti ini. Tidak boleh! Tapi kenapa? Kirishima. Kirishima kau didalam diriku kan? Ah! Apa yang kupikirkan? Itu tidak mungkin kan?

Aku tertunduk, air masih mengucur dari keran westafel yang berada di hadapanku. Kutundukkan kepalaku hingga berada di bawah keran air yang mengucur itu. Membiarkan kepala, wajah dan rambutku basah karenanya. Kudinginkan kepalaku dulu, baru aku bisa kembali ke kelas.

"Fuyuki!" Panggil seseorang, aku kenal suara ini.

Kudongakkan kepalaku dan melihat Kentaro Sakaki berdiri disana, "Sakaki? Ada apa?" Tanyaku menatapnya.

"Kulihat kau sedang banyak pikiran. Banyak sekali yang memenuhi kepalamu? Sampai kau melamun dipelajaran pak Nakamura yang jarang kau lewatkan. Apalagi kau bukan anak yang senang melamun seperti itu," kulihat Kentaro sedang berusaha membantuku. Tapi seperti cenayang saja ia tahu semua yang menggangguku.

Aku sedikit terdiam, lalu mengangguk pelan. "Sedikit masalah. Tapi aku tak berniat mengatakannya," ucapku sebagai jawaban.

Kentaro memgangguk pelan, kemudian pergi begitu saja. Ck! Orang yang aneh, selalu seperti itu. Datang dan pergi kalau ada perlu saja.

Aku pun segera kembali ke kelas, pelajaran ketiga sudah selesai, jam istirahat pun hampir selesai. Aku benar-benar tak habis pikir, kulewatkan pelajaran yang berharga untukku? Ya ampun!

Aku duduk di kursiku dengan wajah bingung, pucat dan masam sekaligus. Sial! Aku ini kenapa sih? Bukankah ini bagus untukku kalau aku ada teman begini.

"Kau tidak apa-apa, Akira?" Seseorang memanggilku. Tapi disekolah tidak ada yang memanggilku 'Akira' siapa? Begitu aku menolehkan wajah kebawah.

Oh ya ampun! Aku lupa kalau setiap hari aku membawa Kirito dan hari ini ia bersedia di tinggal di dalam tas tanpa keluar demi konsentrasiku. Tapi sama sekali tak berkonsentrasi.

Aku hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum berusaha membuat Kirito agar tidak khawatir lagi.

Tapi, "wajahmu tidak menunjukkan bahwa kau baik-baik saja, pasti ada sesuatu. Pulang nanti cerita padaku ya," ucap Kirito lalu ia terdiam lagi.

Tidak. Aku tidak mungkin membicarakan ini pada Kirito, dia pasti akan sangat sedih mendengar ini. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Dibilang baik-baik saja, aku memang tak terlihat baik-baik saja. Tekanan batin lebih tepat untuk menggambarkan kondisiku sekarang, memang tak terlalu parah dan aku tidak mau ini menjadi parah.

Sekolah yang tidak menyenangkan. Tidak seru. Aku sama sekali tidak suka ini.

Saat pulang, jangankan kembali segar. Aku malah semakin parah, semua orang hampir kutabrak jika Sakura Tomoya tidak mengikutiku dan memperingatkanku. "Kau ini. Dari tadi aku perhatikan, sama sekali tidak konsentrasi ya? Pelajaran pak Nakamura juga tidak kau perhatikan, pasahal biasanya setiap pelajaran pak Nakamura kau selalu bersemangat," kata Sakura menatapku dengan penuh penasaran.

"Tomoya? Kok kau bisa ada disini? Sejak kapan?" Tanyaku benar-benar tidak sadar bahwa Sakura sudah mengikutiku sejak awal.

Kulihat Sakura menghela napas panjang, "kau tidak sadar? Aku mengikutimu sejak dari sekolah, masa tidak sadar sama sekali. Seperti bukan kau saja," jawab Sakura berkacak pinggang.

Ah? Dia mengikutiku dari awal? Masa sih? Aku tak merasakan orang mengikutiku. Apa karena terlalu banyak yang kupikir? Sehingga aku tak sadar bahwa Sakura mengikutiku.

"Kau tidak apa-apa, Fuyuki-kun?" Tanya Sakura kelihatan khawatir padaku.

Aku mengangguk tersenyum pada gadis yang dulu pernah menyatakan cintanya padaku. Aku menolaknya bukan karena tidak menyukainya, tapi mengingat aku masih terlalu labil untuk menjaga seorang gadis.

Saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh dari aura Kirito. Tapi aku memilih untuk diam, aku tak mau Sakura menganggapku aneh.

Tapi ini malah semakin membuat Kirito cemburu, kecemburuan seorang boneka lebih berbahaya dari kecemburuan manusia biasa. Cemburu sehingga aura yang dikeluarkan boneka itu semakin menggelap dari aura yang biasanya.

Semakin sesak aura yang dikeluarkan Kirito, aku, aku harus segera menjauh dari Sakura. Sebisa mungkin menjauhkan gadis itu dari situasi yang menurutku mulai berbahaya ini. "Maaf Tomoya... tapi aku harus pergi. Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus kukerjakan... maaf..." segera aku bergegas pergi menjauh dari gadis yang sempat memandangku dengan sangat heran.

Aku menjauh, menjauh dari keramaian sebisa mungkin. Karena aku merasakan berat di dalam tasku, apa yang terjadi? Apa postur tubuh Kirito berubah menjadi semula? Tubuh yang besar layaknya manusia normal?

Aku berlari menuju hutan yang berada di belakang gedung sekolah. Hutan belantara yang jarang di kunjungi warga sekitar. Setidaknya tidak untuk saat matahari terbenam.

Begitu sampai pada bagian tengah hutan, tali tasku putus, dan membuatku jatuh terjerembab. Begitu aku menoleh keatas, sosok Kirito sama dengan Kirito saat pertama kali bertemu. Matanya yang berwarna lavender begitu dingin dan dalam, sosoknya benar-benar sama dengan saat pertama kali bertemu.

"Kiri...to...?" Aku benar-benar terkejut sosok Kirito kembali seperti semula, seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sosok sang boneka iblis.

Tak ada jawaban darinya, tapi aku merasakan aura yang menyesakkan terpancar dari tubuh Kirito. "Kirito... ada apa?" Tanyaku pelan masih memandang sosok yang ada dihadapanku.

Tapi sama sekali tak ada jawaban, hanya... "Kirishima... aku akan menemukanmu..." suara Kirito bergetar, dalam sangat pelan. Aku hampir tak dapat mendengarnya.

Kirishima? Apa Kirito mengingat Kirishima pada saat itu? Apa yang terjadi padanya? Kenapa?

"Kirito... hei kau tidak apa-apa kan?" Tanyaku lagi, berusaha bangkit menatap sahabatku.

Tapi tatapan mata Kirito yang menatapku seolah membenciku. Meminta pertanggung jawaban tentang apa yang telah Kirishima lakukan padanya. Meninggalkannya sendirian di hutan belantara yang berbahaya.

"Kirishima... kenapa? Kenapa kau meninggalkanku?!" Ujar Kirito, ia menggenggam bahuku. Keras, genggaman tangannya begitu keras, sampai aku merasa bahuku akan remuk oleh genggaman tangannya saja.

"Sa...sakit... Kirito, sadarlah... ini aku, Akira. Bukan Kirishima, Kirito! Kirito sadarlah!" Aku menahan rasa sakit di bahuku, menatap mata tajam sang boneka yang sedang dirundung amarah dan kekecewaan.

Tapi... aku tak pernah melihat ini. Takut. Iya aku takut melihatnya, melihat matanya yang berwarna lavender, tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat seperti rambutnya. Kegelapan. Apa boneka ini benar-benar boneka yang menyandang kebencian dan kegelapan ini?

"Kirishima... inikah maksudmu membuatku? Inikah maksudmu meninggalkanku? Menjaga boneka..." aku tak mengerti ucapannya. Sama sekali tidak mengerti. Iya aku bukan Kirishima, maka aku tak mengerti apa maksudnya.

Kirito masih menggenggam bahuku dengan sangat kuat, genggaman boneka itu menyakitkan. Apalagi melihat langsung ia termakan kegelapan.

"Kirito... ini aku Akira, bukan Kirishima... Kirito sadarlah..." suaraku lirih, aku berusaha tidak takut menatap mata Kirito yang kini hitam sangat pekat. Tak ada cahaya sedikit pun di matanya.

Seperti tak mendengarkanku atau, dimatanya sekarang Kirishima ada dihadapannya. Ia tersenyum menyeringai, taringnya memanjang masih dengan matanya yang gelap. "Aku paham Kirishima... puluhan boneka hampir disalah gunakan oleh manusia... kau memintaku membasmi manusia kan? Akan kulakukan..." semakin menakutkan, Kirito sahabatku yang kukenal semakin menakutkan.

Mendengar ucapannya, getaran tubuhku semakin hebat. Kirishima berniat menghabisi manusia? Kenapa? Kenapa ia lakukan itu dengan membuat Kirito? Kenapa?

"Kirishima... kau tahu, aku pikir kau mengkhianatiku saat kau meninggalkanku waktu itu. Ternyata ini rencanamu ya, rencanamu untuk membasmi manusia dan membuat para boneka bebas dari genggaman manusia jahat," seringai Kirito, kini matanya berubah menjadi kuning dengan iris mata yang mengecil, seperti mata kucing.

Aku sempat menahan napasku begitu melihat matanya yang semakin menakutkan, "Kirito... Kirito kau kenapa? Hei ini aku, Akira bukan Kirishima," suaraku semakin bergetar begitu juga dengan tubuhku yang getarannya semakin hebat.

Sama sekali tak mendengarkanku, atau bayangan Kirishima yang dilihat Kirito itu sedang menutupiku? Aku tak mengerti, tapi aku tak bisa meraihnya supaya ia mendengarkanku.

"Kita mulai saja ya, Kirishima... mulai dari sekolah ini..." ucap Kirito menunjuk ke bangunan sekolah dimana aku belajar.

Mataku terbelalak, ia berniat menghancurkan sekolahku? Tidak. "Ja...jangan Kirito! Jangan kau lakukan itu! Disana masih ada teman-temanku!" Aku berusaha menyadarkan sahabatku itu. Tapi jangankan mendengarkanku, sepertinya ia tak melihat sosokku.

Kirito melompat dengan mengendongku, tak berniat melepaskanku. Entah kekuatan apa itu, Kirito membuat gedung sekolahku membeku dan menghancurkannya.

"Hentikan! Sudah Kirito! Jangan lakukan ini!" Aku spontan berteriak melihat bangunan sekolahku dihancurkan. Kulihat beberapa temanku terkurung dalam balok es, balok es buatan Kirito yang jelas tidak mencair dalam suhu sepanas apapun. Miris aku melihat nasib teman-temanku, inikah? Inikah yang diinginkan Kirishima?

"Nah Kirishima... mana lagi targetmu?" Tanya Kirito dengan nada dingin juga seringai diwajahnya.

Aku menoleh kearah Kirito saat mendengarnya berkata begitu, saat itu aku melihat bayangan Kirishima. Sosok yang mirip denganku, transparant tepat dihadapanku.

'Aku mau rumah anak itu, menjadi target kita selanjutnya, Kiritoku sayang,' suara Kirishima, aku mendengarnya samar-samar suara Kirishima, ia juga melirikku dengan senyum.

Apa katanya? Tidak. Tidak boleh! Jangan disana! Aku mendekati Kirito, kugenggam erat tangannya, "jangan! Jangan lakukan ini lagi Kirito! Hentikan sudah!" Aku benar-benar berharap suaraku dapat meraih kesadarannya.

Tanganku yang menggenggamnya balik digenggam olehnya, iris matanya yang hitam menatapku. Apa ia melihat dan mendengar suaraku? Tapi tidak, "seperti yang kau mau tuanku. Kirishima, akan kita lakukan," ia kembali menggendongku, tak ingin melepaskanku.

"Tidak! Tidak Kirito! Hei! Kirito sadarlah! Jangan lakukan ini!" Aku masih berusaha menyadarkan Kirito.

Tapi suaraku sama sekali tak meraihnya, meraih kesadaran Kirito. Ia mendarat mulus dihadapan rumahku, rumah keluarga Fuyuki. Dan dihadapan mataku, ia menghancurkannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan pada sekolahku.

Aku benar-benar tak habis pikir, apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa? Kenapa ini terjadi pada kehidupanku? Saat ini aku benar-benar berharap bahawa aku sedang bermimpi, mimpi buruk yang sangat mengerikan

"Kirishima! Kenapa? Kenapa kau lakukan ini?! Apa yang telah kulakukan padamu sehingga kau melakukan ini?!" Aku menatap bayangan sosok Kirishima tepat disebelahku.

'Kirito, memberi pelajaran pada manusia itu menyenangkan ya? Kau menganggap anak itu sebagai reinkarnasiku ya? Kenapa?' Terlihat Kirishima tak menggubrisku, ia malah berbicara dengan Kirito.

"Iya... makanya aku membawanya dengan kita. Karena dia reinkarnasimu, supaya dia melihatnya sendiri," jawab Kirito. Dan jawaban Kirito ini membuatku benar-benar terkejut, berarti selama ini dia melihatku, melihat sosokku. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak mendengarku? Mendengar suaraku. Kenapa Kirishima sengaja. Tidak kenapa mereka sengaja bersikap seakan aku tak dilihatnya.

"Ka...kalian melihatku daritadi? Tapi kenapa?! Kenapa tak mendengarkanku?!" Aku berontak dalam genggaman Kirito yang semakin erat dan erat, "sa...sakit... Kirito sakit!" Aku semakin berontak.

'Akira Fuyuki... itulah namamu,' Kirishima menatapku dan berbicara denganku, suaranya yang samar-samar masih jelas terdengar olehku, 'Akira... kau tahu hidup boneka itu sangat sengsara. Apalagi pembuat boneka, kau tahu dizamanku boneka itu tak dihargai. Mereka memintaku membuat boneka untuk dijadikan tumbal, boneka buatanku hanya akan dihancurkan. Makanya aku membuat Kirito, untuk melindungi seluruh boneka yang tersebar didunia ini,' seakan Kirishima itu nyata ia mengelus wajahku. Wajah ketakutan dan sedihku.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini pada keluargaku? Apa salah kami padamu?!" Aku menatap bayangan Kirishima itu. Masih dalam genggaman boneka iblis Kirito, boneka yang menyandang kegelapan.

'Karena kau adalah diriku, suatu saat kau harus melakukan ini bersama Kiritoku... kau pasti paham, paham dengan perasaan boneka yang tidak bersalah apapun diperlakukan layaknya tumbal untuk menyelamatkan manusia? Kirito pun pasti sedih sekali,' jawab Kirishima, 'wajahmu sangat mirip denganku. Wajar saja Kirito sangat hormat padamu, sekaligus marah. Karena aku meninggalkannya dihutan itu. Tapi itu kulakukan untuk melindunginya dari manusia, juga membawa boneka-boneka tak bersalah itu menjauh dari manusia,' Kirishima tersenyum padaku.

Lalu senyumnya berubah sedih, aku tak mengerti kenapa, 'aku memang bisa melindungi para boneka. Tapi sayang, umurku tidak panjang karena penyakit yang menyerangku begitu aku berumur 18 tahun. Dan kau juga sama, kau juga akan mengalami hal yang sama seperti diriku,' ucapnya pelan, sangat pelan.

Penyakit? Apa maksud ucapannya? Aku terserang penyakit? Tidak. Aku tidak mengerti ini! Tidak mungkin. "Lepaskan! Lepaskan aku! Kembalikan keluarga dan teman-temanku!" Aku kembali berontak, berusaha lepas dari genggaman tangan Kirito yang keras.

Saat sedang berontak begitu, tiba-tiba saja aku memuntahkan darah dari mulutku. Darah yang pekat, "a...aku... aku kenapa...?" Suaraku bergetar begitu melihat darahku sendiri, bukan hanya suaraku yang bergetar tapi juga tubuhku.

'Kasihan kau... penyakit itu memang menyakitkan, apalagi dengan tinggal sendirian di desa kecil yang terpencil. Kau sama malangnya denganku Akira,' Kirishima menyentuh pipiku lalu tersenyum melihatku terengah-engah kelelahan.

Saat itu aku tak sanggup bertahan dan jatuh pingsan dalam pelukan Kirito. Badannya keras tapi hangat, sangat hangat. Kenapa boneka ini berbeda? Apa karena dibuat oleh perasaan Kirishima yang ingin melindungi boneka lainnya?

Begitu tersadar sekali lagi, aku tersadar dalam kastil Kirito Tsukimori. Di dalam ruangan tanpa pintu dan jendela, tempat yang sama saat Kirito menyekapku, hanya saja diberikan fasilitas mewah yang seakan aku bukanlah tahanan.

'Sudah sadar Akira?' Suara Kirishima bergema di dalam ruangan itu. Dan sosoknya muncul tepat dihadapanku dengan senyumnya.

"Kirishima... aku... aku ingin pulang..." ucapku lemah menatap sosok Kirishima yang hanya berupa bayangan.

Kirishima terdiam lalu tersenyum, 'pulang? Kemana? Rumahmu sudah tidak ada... inilah rumahmu sekarang Akira... sadarilah...' Kirishima menyentuh pipiku dengan lembut, tangannya terasa hangat. Padahal dia hanya arwah dihadapanku.

Rumah? Rumahku?

T.B.C

Kaga: sisi mistisnya agak tenggelam sama kejamnya Kirito dan Kirishima ya? Gomen ne gomen... *bows*

Degel: kemajuan... kau tidak bikin ayahmu yang satu ini sengsara... *mengangguk pelan

Kaga: yaaah mau bagaimana lagi... minta review ya... onegaishimasu... arigatougozaimasu *bows*