Konichiwa…
Halo semuanya, perkenalkan nama saya Shisui Namikaze, panggil saja Shisui. Saya numpang mampir ke fandom NaruHina ya, mau bagi-bagi cerita di bulan puasa ini, hehehe.
Sebenarnya sih Shisui sudah punya banyak cerita yang belum complete, tetapi mau diapakan lagi, Shisui lagi mood banget ingin membuat cerita baru sekaligus pairing baru, hehe :)
Oh iya, fic yang akan kubuat kali ini terinspirasi dari film animasi "Nerawareta Gakuen", ada yang tahu gak sama anime yang satu ini? Tetapi gak Shisui samakan banget kok, Cuma diambil sedikit aja. Ceritanya bagus banget, makanya Shisui ingin membuat fic-nya deh, hehe.
Bagus atau tidaknya cerita Shisui ini, itu adalah pendapat kalian...
Happy Reading!
"Hei...hei"
"Apa?"
"Kalian tahu tidak? Ada anak baru yang akan masuk sekolah kita?"
"Hah? Laki-laki atau perempuan?"
"Menurut kabar sih, anak baru-nya laki-laki"
That's Boy Is A Paranormal?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T ( Bisa jadi M kalo lagi mood :) )
Pairing : NaruHina, SasuSaku
Genre : Romance, Fantasy, Drama, Action, Hurt/Comfort
Warn! : Gajeness, Lebayness, OOCness, OCness, Diluar Jangkauan (?)
Chapter 1
By : Shisui Namikaze Deandress Chan
No Flame!
Don't Like, Don't Read!
Enjoy it!
_06.12 am_
Angin barat berhembus kearah bukit belakang kota Konoha, suara gemerisik dedaunan yang berasal dari pepohonan dan rerumputan sedang mengikuti arah angin itu berlaju. Dibalik semua itu ada seorang pemuda berambut kuning jabrik berjalan lurus kedepan menuju ujung bukit dengan pakaian putih-hitam layaknya seorang murid SMA.
Pemuda itu menarik nafas panjang ketika dia tiba di ujung bukit, dengan tangan yang merentang, pemuda itu memejamkan mata seraya tersenyum ke langit-langit. Cahaya matahari pagi menyinari tubuh pemuda berkulit tan itu dengan lamanya diikuti oleh angin sejuk alami yang berasal dari bukit itu.
Sekitar lima menit, pemuda itu membuka matanya yang berwarna biru safir sambil tersenyum tipis.
"Hah... udara di bumi sangat sejuk sekali. Jadi ini yah yang dinamakan bumi" kata pemuda itu senang.
Tidak berapa lama kemudian, senyuman itu kandas dari bibirnya ketika melihat kendaraan roda empat dibawah bukit tempat dia berdiri. Senyuman yang ada dibibirnya telah berubah menjadi gigitan bibir. Diikuti dengan remasan tangan, suara geraman datang dari mulutnya, hembusan nafas yang tidak teratur dan getaran tubuhnya menandakan saat ini pemuda itu sedang emosi.
"Kendaraan bodoh, pembawa bencana"
Pemuda itu mendengus kesal lalu merogoh kantung celana bahannya dan mengambil sebuah kalung berbandul mutiara hijau yang sangat indah. Tidak lama setelah itu, mutiara itu bersinar terang layaknya cahaya tanpa baterai.
Cahaya mutiara itu sangat terang sekali bahkan cahayanya sampai terlihat ke tengah-tengah kota Konoha. Para penduduk yang melihatnya dari kota terkejut ketika melihat cahaya yang dibuat pemuda berambut jabrik kuning itu.
"Sudah dimulai" bisik pemuda itu entah pada siapa
-x-x-x-x-
_06.15 am_
Di rumah berdesain jepang tradisional tepatnya di lantai dua, seorang gadis berambut indigo sedang sibuk berkutat dengan tas sekolahnya. Gadis bermata lavender itu sedang sibuk mempersiapkan buku-buku yang perlu dibawanya ke sekolah.
"Hem,, apa lagi yah yang lupa?" gumam gadis itu pada dirinya sendiri sambil membereskan buku-buku di meja belajarnya.
"Hina-chan! Sakura-chan sudah sampai, ayo cepat" teriak seorang wanita dibalik kamar seorang gadis berambut indigo yang dikenal dengan nama Hinata Hyuuga.
"Ha'i!, tunggu sebentar!..."
"Aku melupakan apalagi yah, oh iya! Buku Kiba-kun, untung aku ingat" lanjut Hinata seraya pergi ke tempat tidurnya yang tepat di depan jendela dan mengambil sebuah buku berjudul 'Magic Not A Real'.
Namun ketika dia ingin mengambil buku tersebut, semburat cahaya terang dari jendela kamarnya mengenai mata lavendernya, dengan refleks dia melindungi kedua matanya dengan lengannya.
"Cahaya apa ini? Terang sekali,," gumam Hinata seraya menggerakkan wajahnya kesegala arah mencoba menghindar dari semburat cahaya tersebut
"Hina-chan!"
"Ah, ha'i!"
Gadis bernama Hinata itu dengan sigap mengambil buku tersebut lalu memasukkan buku tersebut kedalam tasnya dengan terburu-buru dan pergi keluar dari kamarnya.
-x-x-x-x-
_07.15 am_
-=Hinata POV=-
Aku berlari menuju stasiun kereta api Konoha pukul 07.15 am bersama dengan sahabatku Sakura Haruno. Sakura adalah seorang gadis berambut merah muda sebahu, bertubuh eksotis dan bermata emerald, Sakura adalah temanku yang paling mengerti aku setelah Kiba. Dia orangnya cerewet dan pemarah, terkadang suka lebay kalau bertemu dengan cowok yang di taksirnya. Seumur-umur aku tidak pernah bertingkah seperti Sakura. Aku orangnya pemalu dan jarang berbicara. Terkadang suka gagap kalau aku sedang gugup atau semacamnya.
Umurku 16 tahun, aku bersekolah di Konoha International High School kelas 2. yah seperti hari-hari biasanya, aku dan Sakura selalu naik kereta api kalau ingin pergi ke sekolah, seperti sekarang ini. Tetapi sayangnya hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pagi ini kami berdua terlalu siang untuk pergi ke sekolah sehingga seperti inilah yang terjadi, kita berdua berlari ke stasiun dengan terburu-buru sambil berharap agar kereta yang kita tuju belum datang.
"Hinata-chan, kita naik kereta peluru saja yuk? Kita sudah kesiangan nih, nanti telat" bisik Sakura terengah-engah ditengah berlarinya.
Yah aku tahu itu, naik kereta peluru memang lebih banyak meluangkan waktu daripada memakan waktu, tempat duduknya pun terjamin sehingga kita tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan tempat duduk. Tetapi harga tiket kereta peluru itu setara dengan uang jajanku selama tiga hari, tidak mungkin uangku cukup untuk membeli tiketnya.
Aku menoleh kearah Sakura yang saat itu panik sambil mengeluh kata 'Mati aku' sebanyak lima kali berturut-turut. Ini semua salahku, aku yang sudah membawanya kedalam masalah ini, gara-gara aku terlalu santai tadi pagi, Sakura jadi terkena imbasnya. Aku tidak mau membawa dia kedalam masalah ini, dia itu kan anggota OSIS, dia tidak boleh telat.
"Ano...Sa-sakura-chan. Aku tidak punya cukup uang buat membeli tiketnya, lebih baik kamu saja deh yang naik kereta peluru"
"Ah, oh..., tidak usah difikirkan, tidak apa-apa kok. Aku hanya bercanda"
"Tetapi kan kamu anggota OSIS, kamu tidak boleh telat, kamu harus datang tepat waktu kalau tidak mau di cap jelek sama ketua OSIS kita"
"..."
"Sudah tidak apa-apa, kita berpisah di pertigaan sana yah?"
"Ah, demou..."
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja." Balasku sambil tersenyum
Sakura memandangiku dengan pandangan penuh penyesalan, dia merendahkan sedikit kelopak matanya dan berpaling dari wajahku. Cara berlari kami semakin lambat ketika pertigaan yang tadi kubicarakan semakin dekat dan dekat dan sampai pada akhirnya Sakura berbisik
"Gomen..."
Sakura berlari berlawanan arah dariku ketika pertigaan jalan tepat diantara kita berdua.
_07.32 am_
Mohon perhatian,kereta yang kearah Konoha barat dan Kumogakure akan segera datang, harap para penumpang yang akan pergi ke Konoha Barat dan Kumogakure bersiap-siap untuk berdiri di garis kuning
Setelah pengumuman kereta datang itu terdengar, aku bersiap-siap berdiri di garis kuning tepat di sisi tempat biasa pintu rel kereta api akan terbuka nantinya. Sudah pukul 07.32 am, ya ampun setengah jam lagi sekolah akan dimulai. Aku menghela nafasku merasa mulai tidak sabar dengan semua keadaan ini. Entah sudah berapa kali aku menghela nafas tetapi kurasa dengan menghela nafas, aku bisa mengontrol kesabaranku yang sudah hampir pada batasnya.
Hari ini para penumpang kereta api lebih ramai dari biasanya, apalagi para pekerja kantoran, semuanya saling berebutan ingin dulu-duluan untuk berbaris di garis kuning agar tidak telat bekerja. Aku dan penumpang sebelah kiriku saling bertubrukkan ketika seorang karyawan swasta berlari menubruk bahuku lalu melangkahiku begitu saja. Aku meminta maaf pada penumpang yang ada disebelah kiriku dan mulai masuk kedalam kereta api ketika kereta itu tiba tepat di depanku dan para penumpang lainnya.
Lorong kereta tempat dimana aku berada sudah sangat penuh sekali hingga membuatku harus berdiri tepat di depan pintu kereta api, desakkan antara para penumpang disini membuatku sedikit terdorong beberapa kali ketika aku mencoba menekan tombol pintu kereta. Lalu pada saat desakkan para penumpang di lorong ini sudah mulai terkendali, aku mulai bersiap-siap menekan tombol pintu.
"Matte! Jangan ditutup dulu!"
Suara seorang pemuda diujung stasiun membuatku langsung menghentikan pergerakkanku untuk menutup pintu. Pemuda itu berlari kearah lorong kereta tempatku berada dengan terburu-burunya. Tas selempang yang dia bawa melayang-layang keudara disaat dia berlari dengan cepatnya kearah lorong kereta api. Semakin lama wajah pemuda itu semakin jelas dimataku dan tiba-tiba entah kenapa disaat aku melihat wajah berkulit tan dan mempunyai tiga garis seperti kumis kucing di pipinya itu telah membuatku salah tingkah untuk melihat wajah pemuda itu. Pipiku terasa memanas dan detak jantungku berdetak kencang dan sangat cepat seolah-olah terasa hampir lepas dari tempatnya.
Aku terpekik ketika pemuda itu berhenti tepat didepanku dan menutup pintu keretanya tepat didekat jemariku yang saat itu juga berada didekat tombol penutup pintu. Aku refleks menjauhkan jemariku ketika aku merasakan kulit jemarinya menyentuh kulitku. aroma tubuhnya sangat harum dan nyaman sekali dihidungku membuatku semakin gugup dan salah tingkah untuk memandangi wajahnya. Deru nafasnya mengenai rambutku ketika dia sedikit merendahkan kepalanya didekatku.
"Hah~, Arigatou. Terima kasih kau telah bersedia menungguku. Entah apa jadinya kalau aku tidak berlari seperti tadi. Hehehe" bisiknya sambil menyengir manis kearahku... hah! Tunggu! Apa yang barusan kukatakan 'Manis'? tidak...tidak! apa yang terjadi padaku?!.
Bruk!
"Aduh! Ittai!"
Hah?! Apa yang barusan kulakukan? Pemuda itu, dia terjatuh. Apa tadi aku mendorongnya? Apa yang kulakukan? Oh tidak! apakah dia baik-baik saja? Oh tidak! Semua orang menatap kearah sini?
"A-a-ano...gomen! daijobu desuka?" gumamku seraya mencoba membantunya berdiri.
"Ittai! Iya, tidak apa-apa" balasnya sambil menghusap-husap kepalanya yang tadi terbentur kaca pintu kereta api.
"Ano...g-g-gomenasai, aku tidak sengaja" balasku lagi sambil memainkan jemariku dan menundukkan kepalaku. Aku tidak mau menatap wajahnya dalam keadaan seperti ini.
"Hehehe, tidak apa-apa. Memangnya kenapa tadi kau mendorongku?"
"A-a-ano...aku refleks melakukannya, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri ketika melihat...melihat..."
Oh sial! Aku sangat gugup, pipiku terasa semakin panas bahkan aku bisa merasakan aliran darah di seluruh wajahku.
"Melihat apa?"
"E-e-et-eto...ano.., melihat w-w-wa-wa-wa-wajahmu?"
"?"
"..."
"..."
Kami berdua diam lama sekali diperjalanan, sampai pada akhirnya
"Oke, bagaimana kalau aku memunggungimu. Jadi kamu tidak bisa melihat wajahku, bagaimana?"
"Ah?"
Aku mendongahkan kepalaku kearahnya dan tanpa kusadari aku melihat wajahnya yang saat itu sedang menyengir kearahku. Wajahku memanas kembali dan rasanya seolah-olah seperti ada yang memasak sesuatu yang panas didalam kepalaku, apa yang terjadi padaku?
Pemuda itu memutarkan tubuhnya melawan arah dariku sehingga dia memunggungiku, aku menundukkan kepalaku mencoba menahan rasa panas diwajahku ini sambil berdo'a semoga tuhan memberi isyarat padaku dan memberitahuku apa yang terjadi padaku saat ini.
-=Hinata POV end=-
-x-x-x-x-
_08.56 am_
Disekolah Konoha International Highschool tepatnya di kelas 2-2, suara gemuruh para siswi di kelas tersebut bergema keseluruh ruangan kelas. Sebenarnya apa yang terjadi pada kelas itu?
"Suke-kun!"
"Kyaa!"
"Kami mencintaimu!"
Seorang pemuda berambut seperti pantat ayam sedang menulis sesuatu di papan tulis kelas. Dia masih terus menulis tanpa menghiraukan seluruh teriakkan para wanita yang tertuju padanya. Pemuda bernama Sasuke itu sedang menyalin tulisan di buku biologi yang berada digenggamannya ke papan tulis. Dia mencatat seluruh isi yang ada dibuku tersebut dengan teliti, beberapa garis hijau di beberapa baris huruf memberitahukan kalau tulisan itulah yang perlu ditulisnya.
"Hah..., kenapa sih si pemuda dingin itu selalu saja menjadi bahan perhatian para wanita?. Memangnya para gadis disini semua matanya pada katarak apa? Kan masih ada pemuda keren disini" keluh seorang pemuda berambut coklat jabrik dengan tatto segitiga terbalik disebelah jendela kelas. Pemuda itu sedang menatap malas kearah pemuda berambut pantat ayam didekat papan tulis.
"Kau terlalu narsis Kiba, menurutku kau tidaklah keren, kau idiot" balas seorang pemuda berambut coklat dan berkacamata hitam disebelah kanannya.
"Hah, tingkahmu sama seperti dia dasar serangga. Apa menurutmu kau itu keren? Heh, jangan percaya diri seperti itu Shino" ejek Pemuda bernama Kiba tersebut.
"Hn, aku tidak menganggap diriku keren. Aku tidak mau disamakan oleh siapapun. Diriku adalah diriku"
"Hei! Jangan sok seperti itu dasar serangga!"
Brak!
"!"
"Gomenasai sensei! Aku telat!"
"..."
Seluruh murid hening seketika disaat seorang gadis berambut indigo datang membuka pintu kelas dan memasukki kelas secara tiba-tiba. Seluruh pasang mata menatap heran kearah gadis berambut indigo yang berada di dekat pintu tersebut. Nafas gadis itu terengah-engah dan keringat bercucuran di wajahnya. Perasaan panik yang melandanya membuat dirinya tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam bahan perhatian para siswa di kelas tersebut.
"Ah? Sensei belum datang yah?" kata Hinata polos sambil menggerakkan kepalanya kesegala arah.
"Hei Hinata! Tumben sekali kamu telat, apa yang terjadi?" balas teriak Kiba seraya melambaikan tangannya.
"A-ano...aku kesiangan"
"Sensei belum datang, kamu beruntung Hinata! Cepat duduk di kursimu sebelum keberuntunganmu menghilang"
"Ah! Ha'i"
Hinata melesat menuju tempat duduknya ketika Kiba mengisyaratkannya untuk cepat-cepat duduk. Yah hari ini dia beruntung, dihari pertamanya telat, dia masih diberi kesempatan untuk tidak merasakan bagaimana rasanya dihukum oleh seorang guru yang...
"Gomen-gomen, apa saya telat?" tanya seorang pria paruh baya berambut perak yang saat itu sedang memasukki kelas 2-2.
Pria itu memakai masker hitam yang menutupi setengah wajahnya dan selalu membawa buku bersampul tidak jelas di tangan kanannya. Pria itu langsung duduk di kursinya yang berada disebelah kanan papan tulis ketika mengucapkan terima kasih pada Sasuke yang telah membantunya menulis catatan biologi di papan tulis. Pria itu menghela nafasnya dan mulai membereskan beberapa buku pelajaran di laci mejanya dan meletakkannya diatas meja.
"Maaf. Tadi saya habis membantu nenek-nenek untuk menyebrang jalan, jadi saya..."
"Sudah basi" potong para murid bosan.
Pria berambut perak yang sebenarnya adalah wali kelas di kelas itu hanya bisa sweatdrop ria ketika mendengar tuturan para muridnya itu. Sekarang dia yakin, dia tidak akan mempunyai alasan yang bagus agar para muridnya bisa percaya dengan ucapannya lagi.
"Ekhem! Oke, kali ini sebagai tanda permintaan maaf saya, saya akan memberitahukan kalau hari ini kita akan mendapatkan teman baru" kata pria paruh baya tersebut seraya berdiri dari tempat duduknya.
Para siswa dikelas tersebut mulai gaduh kembali disaat Kakashi menyilahkan seseorang untuk masuk kedalam kelas.
"Hah! Ternyata benar gossip kemarin siang, akan ada anak baru lagi. Aku harap dia tidak keren" keluh Kiba sambil bersandar di kursinya dan menatap malas kearah pintu kelas yang mulai bergeser.
"Hn" gumam pria berambut pantat ayam dengan angkuhnya.
"Mendokusai, aku tidak akan bisa tidur kalau berisik seperti ini. Sebenarnya ada apa sih?" bentak pria berambut nanas jengkel seraya duduk tegak dengan pandangan malas sekaligus mengantuk.
"Ah! Shikamaru-san, kau sudah bangun. Kukira kau tidak akan bangun?" tanya Kiba mengejek.
"Hoahm~, aku tidak tidur sama sekali, aku sangat terganggu dengan ocehan bodohmu dan kebisingan kelas ini. Kau tahu kan kalau tidur itu butuh konsentrasi yang kuat"
"Ha'i-Ha'i, seterah kamu sajalah" balas Kiba bosan dan kembali menatap kedepan.
Seluruh kelas terdiam disaat seorang pemuda berambut jabrik berwarna kuning berdiri tegak disebelah wali kelas tersebut. Beberapa siswi ada yang ternganga dan beberapa ada juga yang tersenyum kagum ketika melihat indah dan tampannya anak baru itu. Sedangkan para siswa berkeluh kesah merasa pasrah dengan apa yang baru saja dilihatnya, terutama Kiba. Hinata, dia ternganga melihat siapa anak baru yang berada didepan matanya saat ini.
"Di-di-di-dia...?"
"Ah? Hinata, kau kenal anak baru itu?"
Hinata tersontak terkejut disaat Kiba tiba-tiba bertanya padanya. Tanpa fikir panjang lagi, wajah Hinata kembali memanas dan jantungnya berdetak sangat cepat ketika dia mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi di stasiun.
"A-a-a-ano..., i-i-i-iya...aku bertemu dengannya tadi di kereta"
"Ah~, muncullah pria populer lagi di kelasku. Habislah kepopuleranku" desah Kiba kesal.
"Jangan terlalu Narsis dan OOC Kiba"
"Berisik kau Shino!"
'Kalau dia ingin masuk ke sekolah ini, kenapa tadi dia tidak turun ke stasiun Konoha Barat? Stasiun Kumogakure kan sangat jauh dari sekolah, bagaimana dia bisa datang secepat ini?' batin Hinata bingung seraya menatap pemuda berambut jabrik yang berada didepan kelas.
"Oke, silahkan perkenalkan dirimu pada teman barumu" Suruh pria paruh baya berambut perak disebelah kanan pemuda berambut jabrik tersebut.
"Baik Kakashi-sensei. Halo Minna, perkenalkan nama saya Naruto Uzumaki. Aku berasal dari sekolah Harashima Gakuen. Mohon bantuannya dan salam kenal" ucap Pemuda bernama Naruto tersebut sopan seraya membungkukkan badannya sekitar 30 derajat.
Naruto tersenyum kesemua murid yang berada di kelas tersebut dengan manisnya. Naruto menyadari kalau dia sedang dipandangi oleh Hinata hingga dia memberikan cengiran khasnya khusus kepada Hinata. Hinata yang menyadari kalau cengiran itu tertuju padanya, sukses membuat dirinya kembali salah tingkah.
'Aku harap pilihanku ini adalah yang terbaik. Kyuubi, bantu aku'
TBC
Bagaimana pendapat Minna tentang fic aku yang satu ini? bagus tidaknya itu adalah pendapat Minna, terima kasih sudah membacanya^^
Jaa~
