.
.
.
The Day We Felt The Distance
.
.
.
Pair: Haehyuk
Rate: T
Warning: BL/Angst/Romance
Summary: Aku mencintaimu, lebih dari apapun di dunia ini.
.
.
.
Segalanya dimulai dengan cara yang begitu sederhana. Sesederhana caramu mencintaiku.
.
Ini pertengahan musim semi, dengan warna-warni di setiap sudut dan udara hangat yang begitu nyaman. Tak ada lagi dingin menusuk dan pemandangan putih kelabu. Segalanya hanya begitu nyaman saat ini, dirasa mau pun dilihat. Orang bilang musim ini akan selalu membawa kebahagiaan, mengawali sesuatu yang baru dalam sebuah tahap hati seseorang. Awal dari sebuah rasa yang paling indah yang pernah Tuhan ciptakan. Awal dari kisahmu, awal dari cintamu.
"Maafkan aku."
Dapat Donghae rasakan kakinya yang mulai kesemutan, berjongkok sejak tadi membuat peredaran darahnya tersendat, tapi ia tak boleh menampakan diri sekarang. Iris cokelatnya tetap betah melihat kebawah, wajahnya hanya terlihat setengah dari hidung sampai ubun-ubun yang berambut pitak karena dipotong cepak selayaknya tentara nasional Korea.
Kenapa? Model rambut Donghae aneh? Biar saja, ini menghemat sampo tahu!
"Ta-tapi Eunhyuk-ah kita bisa mencobanya terlebih dahulu, aku tak keberatan jika-"
"Aku tidak bisa melakukan itu, maafkan aku."
"Bagaimana jika-"
"Aku berterima kasih atas perasaanmu Changmin-shi, aku menghargainya. Tapi aku tidak bisa menerimanya, maafkan aku."
Iris cokelat Donghae bergeser dari Eunhyuk ke Changmin, menunggu reaksinya. Dapat ia lihat kapten tim basket kebanggaan sekolah mereka itu blank sesaat, mulutnya terbuka seperti akan mengatakan sesuatu tapi urung karena tersadar bahwa ia tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi pada Eunhyuk yang kukuh pada pendiriannya. Sepertinya penolakan membuatnya begitu terkejut.
"Maafkan aku, aku benar-benar senang berteman denganmu Changmin-shi. Kau namja yang baik. Dan kurasa aku tidak ingin kehilangan teman baikku."
Mendengarnya, raut wajah Changmin berangsur-angsur melembut. Eunhyuk memang anak yang begitu baik, bahkan cara menolaknya pun begitu halus mambuat Changmin tak tega untuk marah karena patah hati. Meski sorot matanya penuh kekecewaan tapi Changmin mencoba untuk tersenyum.
"Ne, aku mengerti Eunhyuk-ah. Aku bisa menerimanya, kita akan tetap berteman."
Eunhyuk sempat terkejut namun tak lama kemudian ia membalas senyum Changmin padanya. Seperti yang ia pikirkan Changmin adalah namja yang baik, ia selalu menghargai pendapat Eunhyuk selama mereka berteman. Dan sekarang saat ia menolak perasaannya, laki-laki tinggi itu tetap menghargai keputusannya.
"Cha, sebaiknya kita pulang sebelum gelap." Ucapnya sambil mengacak rambut cokelat Eunhyuk. Dia sudah menjadi Shim Changmin yang Eunhyuk kenal kembali.
"Hari ini pulang sendiri tak apakan?" Eunhyuk mengangguk, dan ia tahu untuk hari-hari kedepannya Changmin juga tak akan pernah mengantarnya pulang lagi.
"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok!"
Eunhyuk hanya melambai lemah pada laki-laki tinggi itu hingga sosoknya menghilang. Eunhyuk tahu Changmin memaksakan senyum padanya, Eunhyuk tahu laki-laki itu menahan sakit hatinya karena penolakannya. Kepala kecilnya perlahan menunduk.
Lagi, rasa bersalah itu muncul, membuat iris hitam itu meredup. Eunhyuk tak pernah ingin menyakiti seseorang seperti itu, tapi penolakan akan lebih baik dari pada Eunhyuk membohongi perasaannya. Berpura-pura menyukainya padahal sedikit pun Eunhyuk tak merasakan apa-apa.
Itu akan jauh lebih menyakitkan nantinya.
Menghela nafas panjang, Eunhyuk mulai melangkah pergi dari sana tanpa tahu sepasang iris cokelat sedari tadi memperhatikannya.
"Itu yang ketiga untuk bulan ini."
Donghae begitu terkejut saat teman sekelasnya Ryewook sudah ada disebelahnya. Erangannya terdengar karena ia langsung berdiri setelah dalam posisi jongkok hampir setengah jam, sendinya ngilu bukan main. Dengan cepat ia kembali melihat temannya.
"Ya! Sejak kapan kau disini?!"
"Harusnya aku yang tanya sejak kapan kau disini? Bukannya membersihkan kelas malah menguping pembicaraan orang lain."
Tatapan datar serta tuduhan Ryewook membuat Donghae gelagapan. Ia tak bisa mengelak dari tuduhan, tapi ia berani bersumpah awalnya acara mengupingnya ini adalah ketidak sengajaan. Salahkan Eunhyuk dan Changmin yang memilih pekarangan belakang sekolah yang terlihat jelas dari jendela kelas mereka yang berada di lantai dua. Sungguh Donghae (awalnya) tak berniat menguping.
Mencoba kembali membangun harga dirinya Donghae berdehem sejenak lalu membalas tatapan datar Ryewook dengan tatapan paling tajam miliknya.
"Kalau iya kenapa? Seperti kau tidak saja!"
Ryewook hanya memutar bola matanya lalu kembali melihat pekarangan belakang sekolah mereka.
"Itu tadi ketiga untuk bulan ini kan?"
"Apanya?"
"Eunhyuk."
Ah, tentu Donghae mengerti. Changmin adalah yang ketiga untuk bulan ini, yang ketiga ditolak Eunhyuk setelah Minho yang menyatakan perasaannya di tengah kantin sekolah, dan Taekyon yang menyatakannya lewat radio sekolah. Tapi masih kalah dengan rekor bulan lalu yang mencapai empat orang. Dua laki-laki dan dua perempuan kalau Donghae tak salah ingat. Hal ini sudah tak mengejutkan lagi bagi seluruh siswa sekolah Donghae jika mendengarnya.
Lee Eunhyuk memang dikenal sebagai penghancur hati sejak tahun pertama mereka sekolah disini. Entah sudah berapa banyak korbannya.
Sebenarnya Eunhyuk itu seperti anak seumuran Donghae pada umumnya, normal. Ia adalah salah satu anak ekskul seni yang begitu pintar mengambar, lukisannya memenangkan juara nasional mewakili sekolah mereka dua kali berturut-turut. Bahkan setiap ada acara resmi sekolah hasil karya Eunhyuk pasti dipajang persis disebelah bunga selamat datang. Selain itu dia juga cukup pintar di akademik, semester lalu ia masuk 20 besar ranking pararel.
Dia normal bukan? Ya segalanya normal jika kita tidak membahas personalitinya. Eunhyuk memiliki tubuh yang kurus namun dengan proposi yang pas dengan tinggi badannya. Kulitnya begitu putih mengalahkan anak perempuan dengan wajah yang akan membuat orang yang melihat bingung ingin memujinya cantik atau tampan? Intinya ia dianugrahi fisik rupawan.
Selain itu ia begitu ramah pada semua orang. Tutur katanya sopan dan halus. Ia juga tahu bagaimana membuat orang lain nyaman didekatnya. Ia mendapatkan fisik serta sifat. Ia perpaduan yang sempurna dan begitu didamba semua orang. Tipikal seseorang yang ingin kau jadikan kekasih, bukan untuk main-main tapi serius memikirkan masa depan.
Tak heran semua orang menginginkannya.
"Sudahlah, ini bukan yang pertama kalinya kan? Tidak usah heran begitu. Toh itu bukan urusan kita."Donghae beranjak dari sana mengambil sapu yang sempat terbengkalai karena ia yang terlalu asik menguping. Donghae mengambilnya lalu mengembalikannya ke tempatnya di sudut kelas tanpa tahu mata Ryewook memincing mengamatinya.
"Lalu kau sendiri bagaimana Donghae? Kapan kau akan mengatakan padanya kalau kau menyukainya."
PRAK
Seluruh sapu yang tadinya tertata rapi itu berjatuhan menimpa Donghae.
Ryewook sialan!
Iris cokelat itu memincing melihat Ryewook. Donghae semakin sebal saat melihat ekspresi menyebalkan dari temannya itu. Terlihat sangat puas dengan respon Donghae.
"Ya! Sudah kukatakan aku tidak menyukainya!" Ini memang bukan pertama kalinya Ryewook menggodanya tentang hal ini.
"Teruslah menyangkal."
"Aku tidak menyangkal! Aku memang tidak menyukainya!"
Nada panik Donghae justru mengatakan sebaliknya bagi Ryewook.
"Lalu kenapa kau selalu melihatnya saat ia lewat depan kelas kita? Aku juga sering melihatmu bersliweran tak jelas di kelas ekskul seni. Apalagi kalau bukan suka, ck sudahlah dengan teman sendiri juga masih saja menyangkal."
Ryewook mengibaskan tangannya tanda bahwa ia tak akan menerima pembelaan apapun dari Donghae. Donghae itu seperti buku yang dibuka lebar-lebar baginya, mudah sekali dibaca apa isi kepalanya. Lihat saja sekarang Donghae bahkan kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
Namja kecil itu segera mengambil tasnya sebelum menyampirkannya di bahu.
"Aku pulang dulu ya Donghae, rapikan sapunya dan ..."Ryewook berjalan di ambang pintu kelas mereka dengan senyum jokernya yang langsung mengembang." ... aku doakan semoga nanti malam kau memimpikan Eunhyukmu tercinta."
Itu saja, dan sapu di tangan Donghae melayang menghantam kusen pintu kelas dibarengi Ryewook yang berlari meninggalkan kelas sambil tertawa begitu keras. Donghae mendengus kesal. Ia benci jika orang kecil itu menggodanya seperti itu, dan menjadi lebih kesal lagi karena pada kenyataannya apa yang dikatakan Ryewook itu memang benar adanya.
Ya, Donghae memang menyukai Eunhyuk. Lalu kenapa?
Bukankah sudah Donghae bahas tadi bahwa semua orang begitu menginginkan Eunhyuk, termasuk dirinya. Donghae mulai memperhatikan Eunhyuk sejak awal penerimaan murid baru dulu saat mereka sama-sama sebagai murid baru di sekolah ini. Ia pikir itu hanya rasa kagum dengan tampilan fisik serta prestasi Eunhyuk saat itu, namun lama kelamaan sedikit demi sedikit rasa kagumnya berubah. Perhatian Donghae mulai kelewatan, ia mulai memperhatikan secara detail mahkluk manis itu dari kejauhan. Bagaimana ia berbicara, bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia berjalan, bagaimana seriusnya ia saat menggambar, apa kebiasaannya, dan banyak lagi.
Awalnya Donghae memang mengelak tapi seperti kata orang, hati tak bisa berbohong. Sekeras apapun ia mendorong perasaannya pada akhirnya justru tumbuh lebih kuat. Alhasil ia hanya bisa berkata tidak meski hatinya mengiyakan. Berusaha acuh tapi seluruh inderanya mendengar dan melihat. Bilang tak suka tapi sebenarnya ia amat sangat menyukainya.
Iya, Donghae tahu ia memang bodoh dan munafik, tak usah meyumpahinya diam-diam begitu.
Tangannya meraih tasnya setelah dengan emosi melempar sapu-sapu itu ketempatnya sebelum keluar kelas dan berjalan menyusuri lorong sekolah untuk pulang.
Lalu kenapa Donghae melakukan pengelakan seperti itu meski pada kenyataannya ia memang menyukai Eunhyuk? Jawabannya sederhana, Eunhyuk terlalu tinggi untuk digapai. Terlalu bersinar hingga menyilaukan mata Donghae.
Eunhyuk itu populer dan selalu di kelilingi orang-orang yang juga populer. Lalu lihat siapa Donghae? ia hanya siswa ekskul sepak bola yang lebih sering jadi pemain cadangan. Donghae memang biasa saja dengan tampilan biasa saja, meski sebenarnya dia cukup tampan dan pintar. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi. Mereka seperti hidup didunia yang berbeda dan menyebabkan mereka tak pernah saling bertegur sapa sekalipun. Mungkin sesekali memang pernah berpapasan di lorong sekolah, tapi sepertinya hanya Donghae yang sadar karena Eunhyuk terlalu sibuk bicara dengan teman populernya.
Dan soal menyatakan perasaannya, bagaimana mengatakannya ya? Meski Donghae tak sebanding dengan orang-orang yang pernah menembak Eunhyuk tapi Donghae mempunyai harga diri yang tinggi. Karena memang ia tak memiliki apa-apa selain harga diri sebenarnya.
Entah kenapa hati dan pikirannya menolak menjadi salah satu dari jajaran korban-korban Eunhyuk yang sudah tak terhitung itu. Ia benar-benar tak ingin menjadi salah satunya. Tentu saja hanya penolakan yang akan Donghae terima dari Eunhyuk, karena demi Tuhan mereka bahkan tak pernah bertegur sapa. Donghae rasa tak akan siap menerimanya. Tak akan mampu menanggungnya. Karena saat kata penolakan itu terucap Donghae tak memiliki apa-apa lagi yang tersisa.
Itu sangat menyedihkan menurutnya.
Begitulah Lee Donghae, selalu merendah tapi dengan harga diri yang begitu tinggi. Perpaduan sifat yang aneh.
Donghae menghela nafas.
"Sudahlah..." Gumannya pelan sambil melangkah keluar gerbang sekolah.
.
.
.
"HYUNG! KENAPA KAU MENOLAKNYA!?"
Ctak
Ujung pensil Eunhyuk patah akibat teriakan Kyuhyun di depan pintu kamarnya, membuat goresan di sketsa yang ia buat. Tangan pucatnya meraih penghapus tak jauh darinya sebelum perlahan menghilangkan goresan pengganggu yang merusak pemandangan sketsa yang ia buat. Merasa diacuhkan, Kyuhyun langsung masuk ke kamar Eunhyuk.
"Hyung!"
"Pelankan suaramu! Ini bukan dihutan!"
Kyuhyun mendekat pada Eunhyuk yang kini meraut pensil gambarnya agar kembali runcing dan memanggil lagi dengan nada yang lebih pelan.
"Hyung."
"Apa?"
"Changmin bilang kau menolaknya."
"Memang."
"Wae?"
"Karena aku tak merasakan apa-apa padanya."Eunhyuk kembali fokus meneruskan arsiran untuk menimbulkan efek lengkungan pada sketsanya, namun ia masih bisa mendengar decakan dari Kyuhyun.
"Hyung, bukankah sudah kukatakan seiring dengan berjalannya waktu kau pasti akan menyukainya. Dengarkan aku, Changmin adalah orang yang baik. Bahkan selama aku mengenalnya dia belum pernah mempunyai pacar. Dia tak memiliki sejarah playboy sama sekali. Dia juga orang yang sangat bertanggung jawab, bisa Hyung lihat sendirikan bagaimana ia mengatur anak-anak basket selama ini. Dia bahkan belum pernah absen dari jadwal latihan sekalipun. Jadi-"
"Kyuhyun-ah."
"Ne?"
Eunhyuk meletakan pensil gambarnya di meja lalu menatap Kyuhyun penuh selidik.
"Berapa kaset video game yang ia janjikan padamu kalau aku menerimanya?"
"A-apa?"
"Ah, dia memjanjikanmu PSP terbaru iyakan?"
Kyuhyun semakin gelagapan, masalahnya dugaan Eunhyuk yang terakhir memang tepat. Melihatnya membuat Eunhyuk mendengus kesal lalu kembali meraih pensil gambarnya, kembali dengan arsirannya kali ini dengan cara yang lebih kasar. Kyuhyun menghela nafas lalu duduk di ranjang Eunhyuk.
"Hyung, kau tahu bukan maksudku seperti itu kan?"
Eunhyuk tetap diam.
"Changmin memang orang yang baik. Dan aku juga sangat mengenalnya."
Tentu Eunhyuk tahu, Kyuhyun memang sangat dekat dengan Changmin yang satu club basket dengannya itu terbukti dengan kekurang ajaran Kyuhyun memanggil sunbaenya itu dengan nama saja.
"Tidak ada ruginya dicoba. Kau justru akan memiliki seseorang yang akan menjagamu dan tidak membuat ahjumma khawatir setiap kau pulang telat karena selalu ada yang mengatar."
Iris hitam itu melihat Kyuhyun dengan takjub, takjub dengan semangat anak ini membujuknya. Dan kenapa anak setan ini membawa-bawa ibunya?
"Pada akhirnya kau juga yang di untungkan. Kau senang, aku juga senang." Tentu saja senang, dapat PSP gratis.
Eunhyuk tiba-tiba saja beranjak, dengan wajah kesal ia mendekati Kyuhyun lalu tanpa ampun menendangi anak setan itu dengan penuh dendam.
"Kau pikir aku ini apa hah! Barang barter?!"
"Aduh- aduh Hyung!Sakit!"
"Aku tidak dengar!"
"Hyung!"
"Ada apa ini? Suara kalian keras sekali sampai bawah."
Melihat ibu Eunhyuk, Kyuhyun langsung melesat melarikan diri dan bersembunyi di balik ibu Eunhyuk seperti anak TK.
"Hyukkie Hyung tiba-tiba saja menendangiku, ahjumma."Eunhyuk memutar bola matanya.
Ya ya ya teruslah mengadu anak manja!
Ibu Eunhyuk hanya mengelengkan kepalanya, dua anak ini dari dulu tak pernah berubah terus saja berkelahi.
"Memang ada apa sebenarnya?"
"Dia menjadikanku barang barter."
"Annya ahjumma, aku hanya membantu putramu itu mencari jodoh supaya tidak jadi bujangan lapuk yang kerjaannya menggambar di dalam kamar seumur hidupnya."
"Siapa yang kau sebut bujangan lapuk!"
Kyuhyun pura-pura tak dengar.
"Aku hanya mencoba menjodohkannya dengan teman baikku, tapi dia malah menolaknya karena tidak ada rasa. Bukankah itu aneh? Dia hanya tinggal mencobanya dan lama-kelamaan juga dia akan menyukainya. Perasaan bisa tumbuh seiring waktu."
Eunhyuk mencibirnya dengan keras.
"Jangan samakan aku denganmu yang menerima siapa saja yang menyatakan perasaanya padamu. Dasar playboy!"
"Aku tidak selalu menerima mereka!"
"Tidak selalu? Lalu apa kabar dengan tiga kekasihmu?!"
"Sudah, berhenti bertengkar! Aku pusing melihatnya. Kyuhyun-ah, turunlah kebawah cemilan malammu sudah jadi."
Iris kelam Kyuhyun langsung berbinar-binar mendengarnya, cemilan malam selalu menjadi favoritnya. Dengan rayuan gombal ia memeluk ibu Eunhyuk menggiringnya kelantai bawah meninggalkan Eunhyuk yang merasa dianak tirikan.
"Sebenarnya siapa yang anaknya?"
Kyuhyun memang selalu menyebalkan, terkadang ingin sekali Eunhyuk menendangnya keluar jendela atau membenturkan kepala anak itu ketembok terdekat. Tapi di sisi lain Eunhyuk juga sangat menyayanginya.
Bocah setan satu itu! Dengusnya.
Kyuhyun adalah sepupunya yang lebih muda setahun darinya. Anak dari adik ayahnya yang harus kehilangan ibunya sejak ia kecil. Ayah Kyuhyun yang menjadi orang tua tunggal terpaksa menitipkan Kyuhyun pada keluarga Eunhyuk selama pamannya itu mengurus bisnisnya di Jepang. Membuat Eunhyuk mempunyai adik super manja yang begitu haus perhatian semua orang. Meski begitu Kyuhyun selalu tahu bagaimana membuat orang lain menyayanginya meski sifatnya menjengkelkan luar biasa.
Eunhyuk kembali duduk di meja belajarnya, maraih pensil gambarnya lalu melihat sketsanya yang hampir jadi. Itu adalah sebuah gambar langit senja penuh awan yang ia lihat saat pulang tadi. Awannya begitu kelabu membuat sinar matahari senja hampir tak bisa menembusnya. Bukankah itu seperti dirinya? Begitu pekat dan tak mengijinkan seorang pun menembus zona amannya.
Bukannya Eunhyuk anti dengan hubungan kasih sayang seperti itu atau sengaja jual mahal dengan standar yang begitu tinggi perihal kekasih, ia bahkan tak punya tipe ideal kalau boleh jujur. Eunhyuk hanya tidak mau menjalani sesuatu yang tidak tahu ujungnya seperti nasehat Kyuhyun mengenai Changmin atau orang-orang sebelum Changmin. Eunhyuk ingin menjalani sesuatu yang pasti, menunggu seseorang yang bisa menggerakkan hatinya. Itu saja.
Jadi jika kelak ia mengiyakan membalas perasaan seseorang dan memiliki seorang kekasih, maka Eunhyuk harus tahu pasti bahwa ia memang menyukai orang itu.
Begitu jelas mencintainya.
.
.
.
Bibir Donghae tertarik kesamping dengan senyum yang begitu lebar. Puluhan kanfas di kedua lengannya seperti bukanlah hal yang berat untuknya, sama sekali tak mebebaninya.
"Hati-hati membawanya, Donghae!"
Junsu, teman sekelas Donghae yang jutek ini kembali mengingatkan karena langkah Donghae yang terkesan main-main. Ia tak pernah meminta bantuan orang ini tapi orang ini yang memaksanya membantu membawakan kanfas-kanfas baru dari gudang ke kelas seni tempatnya bernaung.
Donghae kembali mendapatkan peringatan Junsu untuk tak berisik saat mereka memasuki kelas seni karena anak-anak yang lain sedang berkonsentrasi menyelesaikan lukisan mereka. Begitu memasuki kelas dengan cepat iris cokelat Donghae mengedar. Tak perlu waktu lama untuk menangkap siluet Eunhyuk yang berada di pojok dekat jendela sibuk dengan lukisannya sendiri.
Tentu saja bukan tanpa alasan Donghae begitu repot-repot membantu Junsu, katakanlah ini salah satu modus untuk melihat Eunhyuk. Ia kembali tersenyum saat melihat betapa seriusnya wajah itu saat berhadapan dengan seni. Jujur saja dari pada lukisannya Donghae lebih menyukai pelukisnya.
"Hei, kemarikan kanfasnya!"
Masih melihat Eunhyuk, Donghae dengan sembarangan menaruh kanfas ditangannya tanpa memperhatikan sekitar. Dilepas begitu saja tanpa tahu akibat tindakannya membuat kanfas ditangannya menimpa kanfas yang sudah tertata rapi oleh Junsu, terdorong dan menjalar hingga beberapa kanfas yang lain ikut berjatuhan dilantai karena hilang keseimbangan.
Seluruh mata langsung menengok ke arah Junsu dan Donghae.
Oh tidak, Donghae mengacaukannya.
Iris cokelat Donghae dapat menangkap mata Eunhyuk yang juga melihat kearahnya. Ia juga dapat mendengar umpatan Junsu didekatnya.
"Maafkan aku, maafkan aku." Ucapnya sambil menunduk berkali-kali.
Pada akhirnya Donghae harus membereskannya. Lalu setelah mengucapkan maaf untuk yang terakhir kali, ia segera kabur dari sana.
Astaga itu tadi sangat memalukan.
.
.
.
Eunhyuk menyandarkan punggungnya, tangannya mulai pegal karena mengayunkan kuas pada kanfas didepannya sejak tadi. Iris hitamnya melihat sekitar, sudah sepi. Hampir seluruh anak seni sudah pulang dan meninggalkan dirinya seorang. Eunhyuk juga ingin pulang sebenarnya, tapi lukisannya sudah benar-benar tanggung. Tinggal memberikan beberapa efek lagi dan lukisannya akan sempurna.
Namja itu beranjak dari kursinya, mendekati rak kayu dipojok kelas seni untuk mengambil cat warna putih. Iris hitamnya mengedar mencari cat warna primer yang ia butuhkan. Ia langsung merengut saat menemukannya tepat di bagian paling atas. Eunhyuk berdecak.
Siapa yang menaruhnya di atas sana!
Gapaian tangannya tak mampu meraih cat putih di atas sana membuatanya tambah kesal. Jadi satu tangannya lekas berpegang pada rak dan kakinya memanjat satu tingkatan rak untuk membuatnya lebih tinggi tanpa tahu berat badannya membuat keseimbangan rak kayu itu goyah.
Dan tepat saat ia berhasil menggapai cat minyak itu, ia bisa merasakan lemari itu oleng sebelum dalam sekejap ambruk menimpanya dan menumpahkan puluhan cat warna di lantai.
.
.
.
Langkah Donghae terlihat begitu cepat saat keluar dari club sepak bola. Ia terpaksa kembali lagi di sekolah saat sadar ponselnya tertinggal di lokernya begitu akan menaiki bus menuju rumahnya. Baru ia akan berbelok untuk berjalan ke pintu utama sekolah tapi suara barang jatuh yang begitu keras mengagetkannya. Reflek Donghae berlari ke sumber suara, langkah kakinya membawanya ke kelas seni yang berada paling pojok gedung sekolah. Matanya langsung terbelalak kaget saat mendapati kekacauan yang terjadi.
Astaga, ini lebih parah dari kesalahan Donghae yang membuat kanfas jatuh berantakan. Lihat saja bagaimana rak sebesar itu bisa ambruk dan menumpahkan seluruh cat warna diatas lantai. Sedangkan pelakunya sekarang terduduk tak jauh dari sana. Terguyur cat berbagai warna hampir di seluruh tubuhnya. Donghae berjalan mendekati orang yang sepertinya masih terdiam karena terlalu shock itu.
Semakin dekat, Donghae semakin merasa tak asing dengannya. Dan saat ia tepat berada di depan orang itu, Donghae langsung mengenalinya.
Ini Eunhyuk.
Yang tersiram penuh cat dan terdiam karena terlalu shock adalah Eunhyuk.
Astaga apa yang sebenarnya terjadi?
"Eunhyuk-shi?"
Eunhyuk masih diam.
"Eunhyuk-shi gwencana?"Saat panggilan kedua barulah Eunhyuk tersadar dan melihat ke arahnya.
Donghae menjadi bingung saat Eunhyuk langsung menunduk dan menjauhkan tubuhnya darinya. Iris cokelat itu kembali melihat sekitar, benar-benar kacau. Bahkan Donghae bisa melihat salah satu lukisan patah jadi dua karena tertimpa lemari.
"Eunhyuk-shi kau terluka?"
Hanya gelengan lemah yang Donghae dapatkan dari namja yang kini memeluk dirinya sendiri yang penuh cat minyak. Masih menunduk menyebunyikan parasnya yang menawan.
"Ada kamar mandi di ruang club sepak bola, kau boleh meminjam sampo dan sabunku. Kau bisa membersihkan diri disana. Apa baju olah ragamu kau tinggalkan di loker?"
Lagi-lagi Eunhyuk hanya mengangguk.
"Kalau begitu ayo, kita ambil bajumu dulu lalu pergi ke ruangclub sepak bola."
Sebenarnya ingin sekali Donghae membantu tubuh lemah itu berdiri, namun bahasa tubuh Eunhyuk terlihat jika ia tak ingin disentuh siapapun saat ini.
Tak jelang beberapa lama disinilah Donghae sekarang, duduk di bangku panjang diantara puluhan loker dalam ruang club sepak bola menunggu Eunhyuk selesai mandi. Semua anak club sepak bola memang selalu mandi dikamar mandi yang disediakan club mereka setelah selesai latihan. Hal itu membuat mereka menyimpan peralatan mandi sederhana di loker masing-masing termasuk Donghae. Sejujurnya, ia merasa khawatir karena keadaan Eunhyuk jelas-jelas tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Orang itu terlihat sangat terkejut dengan peristiwa yang dialaminya.
Tapi kembali lagi, memang Donghae siapa hingga ia berani mencercar pertanyaan perihal apa yang dirasakan Eunhyuk sekarang? Yang dapat Donghae lakukan hanya pertolongan sejauh ini, mengingat sangat tak mungkin Eunhyuk pulang dengan keadaan penuh cat minyak seperti tadi.
Suara pintu yang bergeser membuat pikiran Donghae terpotong, terlihat Eunhyuk yang keluar dari sana dengan baju olah raga. Rambutnya basah seperti sebagian kulit putihnya yang terlihat. Ditangannya terdapat baju seragamnya yang penuh cat minyak.
"Ini, kau bisa menaruh seragammu disini."
Donghae mengulurkan sebuah plastik pada Eunhyuk untuk membungkus seragam kotornya. Mereka segera keluar dari sana, mengambil tas Eunhyuk yang tertinggal di kelas seni lalu berjalan bersama menuju halte dekat sekolah mereka.
"Sepertinya kita harus pulang jalan kaki, bus terakhir baru saja berangkat" Ucap Donghae saat melihat jadwal bus di halte tersebut. Ini memang sudah malam dan bus yang masih beroperasi hanya melewati dalam kota tak sampai sekolah mereka lagi hingga besok pagi.
Akhirnya mereka berjalan beriringan dengan diterangi lambu jalan. Donghae berjalan didepan karena langkah Eunhyuk yang begitu lambat. Mereka hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Donghae mana berani bertanya aneh-aneh saat melihat Eunhyuk yang terus menunduk tak mau melihatnya. Ia menengok kebelakang hanya untuk menyadari bahwa Eunhyuk berjalan dengan meyeret satu kakinya, membuat Donghae sadar kalau kaki namja itu terluka.
Kenapa Eunhyuk tak mengatakan apa-apa tentang lukanya? Donghae mendengus.
Eunhyuk langsung menghentikan langkahnya saat mendapati orang yang menolongnya ini berjongkok didepannya.
"Ayo naiklah, kita masih harus berjalan jauh dan itu akan membuat kakimu tambah sakit."
Bola mata beriris hitam itu mengerjab karena terkejut. Orang ini ingin menggendongnya?
"Ayo cepat, sebelum malam semakin larut!"
Donghae sudah akan berdiri karena tak ada pergerakan dari Eunhyuk, namun belum sempat ia menegakkan tubuhnya lengan kurus itu mengalung dilehernya perlahan. Ia juga merasakan berat badan yang bersandar pada punggungnya.
Sesaat Donghae membeku dengan debar jantung yang mulai meningkat. Tapi Donghae langsung menampik permasalahan jantungnya sekarang. Bukankah dia yang menawarkan diri? Lalu kenapa sekarang justru ia sendiri yang gugup? Berdehem sejenak, Donghae segera memegang kaki Eunhyuk.
"Pegangan yang erat!"
Dengan itu Donghae bangkit, membuat Eunhyuk mengeratkan pegangannya. Dengan ia perlahan berjalan menyusuri jalanan di malam hari. Wangi sampo serta sabunnya yang bercampur dengan aroma tubuh Eunhyuk tertangkap oleh indera penciumannya, membuat kepala Donghae terasa pusing tiba-tiba.
Fokus Donghae! Fokus!
Donghae mempercepat langkahnya, sama sekali tak menyadari orang dipunggunya kini perlahan menyandarkan kelapanya di punggung hangat Donghae.
Sejujurnya bukan maksud Eunhyuk bersikap begitu tak sopan pada orang yang sudah begitu baik padanya ini dengan tak menyahut setiap diajak berbicara. Sungguh, Eunhyuk sama sekali tak bermaksud begitu.
Eunhyuk hanya merasa sangat malu.
Ini adalah pertama kalinya ia melakukan kesalahan fatal seperti tadi. Pertama kali dirinya terlihat dengan kodisi begitu memalukan penuh cat seperti itu didepan orang lain. Saking malunya Eunhyuk ingin sekali menenggelamkan diri ke laut, bahkan ia tak mampu melihat mata lawan bicaranya. Jadi saat orang ini justru menawarinya begitu banyak bantuan, yang bisa Eunhyuk lakukan hanya menurutinya meski sesungguhnya kakinya masih sanggup diajak berjalan hingga sampai kerumahnya.
Donghae berjalan sesuai dengan arahan dari telunjuk Eunhyuk hingga mereka sampai dirumah dengan pagar kayu bercat putih. Terlihat ibu Eunhyuk yang langsung menghampiri mereka. Dengan perlahan Donghae segera menurunkan Eunhyuk dari punggunya.
"Astaga, Hyukkie kemana saja kau? Apa yang terjadi denganmu?"
Ibu Eunhyuk itu memang sangat khawatir saat mendapati anak satu-satunya belum pulang hingga malam. Ia bahkan menyuruh Kyuhyun mengecek satu persatu rumah teman Eunhyuk yang ia kenal. Mereka memang tak bisa menghubungi keluarga Eunhyuk karena nasib ponselnya sangat tragis dalam insiden tertimpa rak cat tadi. Sudah retak terguyur penuh oleh cat pula.
Setelah berbasa-basi sejenak Donghae segera berpamitan. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu pada Eunhyuk, tapi karena orang itu hanya diam berdiri di samping ibunya sambil membuang muka, Donghae urung.
Menunduk sopan pada wanita paruh baya didepannya, Donghae segera beranjak dari sana. Sama sekali tak menyadari jika iris hitam itu terus memandangnya hingga punggungnya menghilang.
.
.
.
Jemari pucat itu saling meremas, membuatnya basah karena keringat dingin yang tak terasa keluar. Sejak tadi Eunhyuk hanya berdiri bolak balik di belokan menuju kelas seni. Masih jelas diingatannya kekacauan apa yang ia perbuat kemarin di kelas seni. Bahkan semalam ia tak bisa tidur memikirkannya.
Eunhyuk takut.
Eunhyuk tak tahu bagaimana menghadapi teman-teman serta guru pembimbingnya. Apa yang akan ia katakan pada mereka semua? Tidak alasan yang bisa meyelamatkannya. Menarik nafas super panjang, Eunhyuk akhirnya melangkah ke kelas seni dengan seluruh keberaniannya.
Seperti yang dia duga keributan terdengar hingga di luar kelas, membuat Eunhyuk menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kelas seni.
"Bagaimana ini? Hampir semua lukisan terkena cat."
"Punyaku bahkan patah jadi dua."
"Catnya tumpah semua, tak ada yang bisa digunakan lagi."
"Songsaenim, bagaimana kita akan mengikuti pameran kota minggu depan jika begini?"
Eunhyuk membeku ditempatnya.
Astaga, apa yang telah ia lakukan?! Ia sama sekali tak menduga bahwa kerusakannya lebih parah dari yang ia duga. Seluruh lukisan hancur hanya menyisakan beberapa. Seluruh bahan untuk membuat lukisan baru juga hancur tak bersisa.
Dan semua itu karena kesalahanya.
"Ah, Eunhyuk kau baru datang? Kau pasti terkejutkan? Aku juga tak menyangka akan jadi begini."
Detak jantung Eunhyuk meningkat.
"Aish, siapa sih yang melakukan ini!? Tidak tahu apa kalau kita berkerja sangat keras untuk semua ini!"
Tubuh Eunhyuk mulai bergetar.
"Eunhyuk-ah, bukankah kemarin kau pulang paling akhir. Apa kemarin ada orang yang masuk kemari?"
Mata Eunhyuk mulai memanas, air matanya siap mengalir. Ia ketakutan. Belum pernah selama hidupnya ia dihadapkan oleh situasi seperti ini. Membuat lidahnya terasa sangat kelu hanya untuk mengakui bahwa semua kekacauan ini akibat ulahnya.
Kesalahannya seorang.
Semua orang pasti akan kecewa padanya. Semua orang pasti akan membencinya.
Eunhyuk memejamkan matanya erat-erat, nafasnya mulai sesak dan tiba-tiba saja ia sangat ingin menangis atau menghilang dari sana.
"Aku yang melakukannya."
Bukan. Itu bukan suara Eunhyuk. Semua orang langsung menengok ke arah pintu kelas seni, tepat dibelakang Eunhyuk. Iris hitam itu kembali terbuka dan saat ia melihat kebelakang ada Donghae disana.
Donghae masuk ke kelas ekskul seni lalu menunduk dalam-dalam.
"Maafkan aku, kemarin aku bermain bola di sepanjang lorong dan tak sengaja bolanya tertendang membentur lemari kayu itu."Akunya begitu saja.
Tanpa perlu disuruh semua orang langsung mencecar Donghae tanpa ampun. Bahkan ia mendapat peringatan keras dari guru pembimbing seni.
"Sekali lagi maafkan aku."
Donghae hanya membungkuk minta maaf, ia sama sekali tak mengindahkan iris hitam yang menatapnya tak mengerti. Tak percaya.
Tak mengerti kenapa orang ini justru mengakui kesalahan yang sama sekali tak ia lakukan? Tak mengerti kenapa orang ini menutupi kesalahan orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Eunhyuk sama sekali tak mengerti.
.
.
.
"Aish punggungku!"
Entah itu sudah keluhan keberapa kalinya yang keluar dari mulut Donghae. Tangan kanannya menepuk-nepuk punggungnya yang terasa sangat pegal sebelum kembali mengepel lantai kamar mandi. Yah, ini hukuman yang ia dapat karena menjadi pelaku pengkrusakan kelas ekskul seni. Selama satu minggu kedepan Donghae harus membersihkan toilet laki-laki di lantai satu. Belum lagi surat teguran dari kepala sekolah yang sudah pasti akan mengejutkan bibinya nanti dirumah.
Apa yang bisa lebih menyedihkan dari ini menurutmu?
Tapi ini pilihan Donghae, konsekuensi saat ia mengakui kesalahan orang lain. Donghae tahu hal ini salah, ia tahu seharusnya tak boleh melakukan hal seperti ini. Tapi saat tadi ia ke ruang seni untuk sekedar mengecek keadaan Eunhyuk (karena semalam ia tak bisa tedur memikirkannya), ia melihat namja itu diam didepan kelas seni. Tubuhnya gemetar dengan iris hitamnya terlihat begitu ketakutan. Dan begitu mendengar suara keributan didalam, Donghae langsung bisa membaca situasi.
Donghae tahu yang ia lakukan adalah kebodohan yang luar biasa. Tapi Donghae tak tega melihatnya, tak sampai hati melihat orang itu ketakutan. Jadi biarlah begini, Donghae tak keberatan.
Pintu toilet yang terbuka mengalihakan perhatian Donghae, ia langsung terdiam begitu melihat sosok Eunhyuk berdiri didepan pintu toilet.
Apa Donghae tak salah lihat?
Untuk beberapa saat Eunhyuk hanya berdiri cemas ditempatnya karena canggung, namun kemudian tanpa mengatakan apapun mengambil tongkat pel dan melakukan hal yang sama seperti yang Donghae lakukan. Mengepel lantai toilet.
Butuh beberapa detik sebelum Donghae tersadar dari keterkejutannya. Sudut bibirnya tertarik perlahan membentuk senyuman tipis saat melihat Eunhyuk membantunya menjalani hukuman.
Ternyata orang ini tahu diri juga.
Donghae kembali meneruskan pekerjaannya tanpa mengatakan apapun. Ia membawa ember penuh air kedekat mereka, namun hal itu membuatnya malah terpeleset jatuh dan menghamburkan air kearah keduanya. Membuat seragam keduanya basah.
Keduanya terdiam mematung, bahkan Donghae masih diam dalam posisi jatuhnya yang sama sekali tak elit. Namun tiba-tiba saja indera pendengaran Donghae menangkap tawa renyah seseorang.
Eunhyuk tertawa. Didepannya. Pada seseorang yang bahkan belum pernah bertegur sapa dengannya. Suara tawanya begitu halus, mampu megetarkan hati Donghae yang seakan melompat dari tempatnya.
Sadar atau tidak sebenarnya situasi ini begitu mirip dengan kemari, namun ada satu hal yang berbeda. Eunhyuk sama sekali tak merasa malu meski seragamnya basah kuyup seperti ini didepan Donghae.
Pada akhirnya dua orang ini duduk di lorong sekolah yang sudah sepi setelah selesai membersihkan toilet. Mengobati luka siku Donghae akibat terpeleset tadi sembari menunggu seragam mereka kering.
Untuk hari ini mereka sama-sama tak ada stok baju ganti.
"Tahan."
Eunhyuk mengoleskan alkohol di siku Donghae, setelah itu mendekatkan wajahnya untuk meniupi luka Donghae agar cepat kering. Sama sekali tak sadar iris cokelat didepanya mengamatinya dengan begitu terpesona. Tangan pucat itu memasang plester dengan hati-hati.
"Sudah."
"Terima kasih."
Bukannya menjawab Eunhyuk malah sibuk mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tasnya. Membuka bungkusnya lalu menyodorkannya pada Donghae. Dengan canggung Donghae menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Ekor matanya dapat melihat Eunhyuk yang menancapkan sedotan pada sekotak susu strowberry ditangannya lalu meletakkannya di depan Donghae sebelum membuka roti dan susunya sendiri.
Tingkah lakunya begitu manis, membuat hati Donghae serasa meleleh.
Kalau tahu akan diperlakukan oleh Eunhyuk seperti ini jangankan mendapat surat teguran kepala sekolah, dikeluarkan dari sekolah pun Donghae rela.
Mereka diam memakan roti mereka masing-masing sebelum akhirnya Donghae memecah keheningan.
"Mau dengar lelucon?"
Eunhyuk mengangguk ragu.
"Suatu hari ada dua orang yang sedang menggunakan bilik toilet bersebelahan. Salah satu dari mereka tiba-tiba bicara membuat orang yang di sebelahnya pun menjawab. Mereka saling bersautan namun saat keluar toilet ternyata orang yang mengajak bicara pertama sedang bertelepon! Jadi sejak awal orang itu tidak mengajak orang satunya mengobrol!"
Donghae tertawa begitu keras saat selesai bercerita. Berbanding terbalik dengan Eunhyuk yang masih diam tak mengerti. Lama-lama Donghae menyadari keheningan manusia disebelahnya dan menghentikan tawanya dengan canggung.
"Tidak lucu ya?" Hanya kerjapan mata Eunhyuk yang menjadi jawaban.
Donghae langsung memalingkan wajahnya dan memakan rotinya banyak-banyak menutupi rasa malunya. Ia tak tahu bahwa sesaat setelah itu Eunhyuk tersenyum melihat tingkah lakunya. Iris hitam itu melihat tag nama orang disebelahnya.
"Donghae-shi."
Kepala Donghae langsung menengok saat mendengar suara halus itu mengucapkan namanya untuk pertama kalinya. Iris cokelatnya dapat melihat senyum Eunhyuk yang begitu indah.
"Gumawo."
.
.
.
TBC
Cerita ini repost dari groub, sebenarnya aku udah nyerah sama cerita ini karena alurnya yang berat tapi setelah dipikir lagi kok sayang ya klo dibuang hahaha jadi kuputuskan untuk melanjutkannya disini aja.
Ini angst, bener-bener angst. Jadi jangan bilang aku gak mengingatkan. Tapi tolong jangan takut baca, oke?
Oh iya, bagi yang nagih devil tolong sabar lagi proses nulis itu, yang nagih sequel midnight silangkan tunggu sampe tgl 4 april medatang karena lanjutan cerita itu akan aku jadikan projec ultah Hyuk.
Yah gitu ajalah, see u next chapter!
