Judul: Hentai Man

Disclaimer: Sampai kiamat pun punya Tite Kubo

Rating: T menjerumus ++ (Bercanda)

Warning: OOC Banget, cerita gak jelas, alurnya mainstream (menurut gue), typo (penyakit lama) dll

Chapter 1

Musim dingin telah berlalu. Salju pun mulai mencair. Mulai terasa suasana hangat. Walaupun tidak kentara. Pergantian musim ini, menandakan tahun ajaran mulai berganti. Siswa yang mulanya merupakan adik kelas. Berganti panggilan menjadi seorang kakak kelas.

Tetapi hal itu tidak berlaku padaku. Sekarang aku bukan adik kelas. Maupun kakak kelas. Sekarang aku adalah seorang mahasiswa. Ya mahasiswa!

Bukan lagi seorang anak sma yang masih dianggap anak kecil. Sekarang aku sudah menjadi wanita dewasa. Tahun ini aku akan bebas!

Kenapa aku mengatakan hal itu? Karena sekarang aku bisa bebas dari peraturan yang diterapkan oleh tou-san. Tidak boleh pulang malam, tidak boleh dekat dengan laki-laki, tidak boleh berkencan, tidak boleh pacaran, dan tidak boleh melakukan ini dan itu. Sekarang dengan hitungan menit aku akan terbebas dari semua peraturan itu.

Karena aku akan pergi dari rumah yang sudah aku tempati selama delapan belas tahun. Walaupun ada perasaan sedih. Saat mengingat kembali semua kenangan selama aku tinggal disini.

Aku menyapukan pandangan ke sekeliling kamar yang sudah lama ku tempati. Hhhah sepertinya aku akan merindukan tempat ini.

Tidak, tidak, tidak, aku sudah bertekad akan keluar dari rumah ini. Jangan ada perasaan sedih saat aku pergi. Aku memukul pelan kedua pipiku. Supaya menghilangkan raut sedih di wajah mungilku.

"Rukia?" Terdengar sebuah suara seorang perempuan. Dari depan pintu kamarku.

Ternyata pintu kamarku sudah terbuka. Memperlihatkan seorang wanita berumur tiga puluhan. Memiliki wajah yang mirip dengan ku.

"Ka-san." Ya, wanita itu adalah ibuku. Kuchiki Hisana.

"Kau sudah selesai mengepak barang-barangmu?" Tanya ka-san. Mulai berjalan menghampiriku.

"Sudah ka-san. Aku sudah mengepak barang-barang yang aku bawa nanti. Tapi saat aku pergi hari ini, aku hanya membawa beberapa pakaian dan berkas-berkas perkuliahanku. Barang-barang sisanya aku sudah meminta jasa pengiriman barang untuk mengantarkannya ke tempat tinggalku yang baru." Jelasku panjang lebar. Masih memasukan berkas-berkas perkuliahan ke dalam sebuah map.

"Rukia, bisakah kau berhenti sebentar." Ka-san mengambil kertas yang aku pegang. Dan meletakannya di atas nakas. Aku pun membalikkan badan menghadap ka-san yang sudah duduk di kasurku.

"Ada apa ka-san?"

Ka-san langsung mengangkat tangannya. Mengelus pipiku dengan tangan lembutnya. Bukan hanya itu, ka-san juga mengelus kepalaku dengan lembut.

"Ka-san?"

Masih dengan kegiatannya. Ka-san mulai buka suara.

"Ka-san tidak menyangka bahwa anak ka-san sudah menjadi sebesar ini." Ada sedikit nada getir. Saat ka-san mengucapkannya.

"Padahal kau dulu masih sekecil ini dan tidak ingin lepas dari ka-san. Tapi sekarang—"

"Ka-san tenang saja aku akan baik-baik saja disana." Potong ku dengan cepat. Sebelum ka-san menyelesaikan perkataannya.

"Ka-san jangan murung seperti ini. Aku tidak suka kalau ka-san sedih karena kepergianku." Aku sedikit mengerucutkan bibir. Menandakan bahwa aku tidak menyukai ekspresi sedih yang dikeluarkan ka-san.

"Oke ka-san tidak akan murung lagi." Raut wajah ka-san yang sebelumnya murung. Berubah menjadi senyuman.

"Ingat Rukia kau harus berhati-hati disana. Kota Tokyo merupakan salah satu kota yang banyak terjadi kejahatannya." Ujar ka-san mengingatkanku.

"Tenang saja ka-san. Kalau ada seseorang yang melakukan hal tidak senonoh padaku. Aku akan langsung menghajarnya dengan jurus karateku."

Aku langsung mempraktekan jurus karate yang aku gunakan saat lomba dulu.

"Baiklah kalau begitu. Cepat selesaikan beres-beresmu dan turun kebawah untuk sarapan."

"Hai!"

.

Selesai berberes. Aku langsung turun kebawah untuk sarapan. Di meja makan itu ada dua orang laki-laki. Satu orang dewasa dan laki-laki berumur sekitar lima belas tahun. Mereka berdua adalah tou-san dan adik laki-lakiku.

"Akhirnya bangun juga calon mahasiswa kita." Sindir seseorang setelah aku sampai di dapur.

BUK

Aku langsung menjitak kepala adik laki-lakiku. Namanya adalah Kuchiki Tsuga. Adikku satu-satunya yang senang sekali menjahili dan menggodaku. Untuk wajahnya. Ia mewarisi wajah tampan dari ayahku. Sedangkan potongan rambutnya pendek-lurus di atas bahu. Sama seperti ku.

"Aw bisakah ne-san tidak menjitak kepalaku!" Rintihnya dengan memegang kepala yang sebelumnya ku jitak.

"Kau pantas untuk menerimanya."

"Sudah kalian berdua. Pagi-pagi sudah bertengkar." Tegur ka-san sembari memberikanku sepiring omelet.

"Rukia kapan kau pergi ke Tokyo?" Tanya tou-san. Masih dengan koran di tangannya. Kuchiki Byakuya itulah nama ayahku.

Tou-san ku ini emang pendiam dan kalem. Tapi kalau sedang marah sangat mengerikan. Seakan-akan roh mu akan keluar dari tubuhmu. Saat melihat tatapan matanya yang tajam.

"Setelah sarapan ini aku akan pergi ke Tokyo."

"Bagaimana dengan tempat tinggalmu disana?"

"Tenang saja tou-san aku sudah mengurusnya."

"Ingat Rukia disana kau tidak boleh dekat-dekat dengan pria mencurigakan." Ujar tou-san. Menekankan kata-kata 'pria'. Didalam kalimatnya.

"Ya tou-san." Jawabku pendek.

"Tenang saja tou-san. Tidak akan ada laki-laki yang mendekati kakak perempuanku ini. Karena ia sangat galak." Goda Tsuga dengan senyum menyeringai.

Tanpa basa-basi. Aku langsung menendang kaki Tsuga yang berada tepat di depanku. Tidak berapa lama kemudian. Ia memekik kesakitan karena perbuatanku.

"Tsuga berhenti menggoda kakakmu." Tegur ka-san sembari memberikan segelas kopi kepada tou-san.

"Ukh dasar nenek sihir." Gerutunya dengan mengelus-elus kakinya yang sebelumnya nyeri kesakitan.

"Kau mau kupukul lagi hah?" Aku mulai mengangkat tangan. Berniat menjitak kepalanya-lagi.

"Kalian berdua berhenti." Tanganku terhenti di udara. Saat mendengar suara bernada dingin. Disebelahku dan itu adalah tou-san.

"Apa kalian lupa tidak boleh berkelahi di meja makan." Tambahnya dengan menatap tajam kami berdua.

"Ya tou-san." Jawab kami secara bersamaan.

.

"Aku sudah selesai." Ujar adik laki-lakiku-Tsuga. Mulai berdiri dari kursinya. Sekaligus mengambil ransel yang tersampir dipunggung kursi.

"Kau tidak ikut mengantar kakakmu Tsuga?" Tanya ka-san.

"Tidak. Aku tidak mau terlambat masuk sekolah cuma gara-gara mengantarkan kakak galakku ini." Ujarnya sedikit memasukkan kata sindiran di akhir katanya.

"Aku juga tidak mau diantar olehmu Tsuga-bo!"

"Oh iya ne-san saat disana tidurnya jangan sampai kelihatan perut. Nanti malu dilihat oleh teman-temanmu." Sindirnya dengan senyum menyeringai.

"KAU—"

"Sudah kalian berdua hentikan. Tsuga sepulang sekolah nanti bantu ibu bersih-bersih gudang."

"Hai! Aku pergi dulu." Pamitnya sembari membuka pintu rumah.

"Ah aku lupa lagi!" langkahnya tiba-tiba terhenti.

"Ne-san?" Ujarnya memanggilku. Aku pun dengan malas membalikan badan menghadapnya.

"Apa?" Jawab ku dengan ketus.

"Ya ampun kau galak sekali."

"Diam kau! Cepat katakan saja apa yang ingin kau katakan." Gerutuku tidak sabar.

"Ne-san saat kau tidur mendengkurnya jangan terlalu keras. Nanti mengganggu tetangga sebelah."

Saat Tsuga mengatakan hal itu. Aku langsung meleparkan sendok makan yang ada ditanganku. Menyadari akan ada sendok mengenainya. Dengan cepat ia membuka pintu dan menutupnya. Sendok itu pun dengan nyaringnya membentur kulit pintu tersebut.

Dibalik pintu tersebut terdengar suara tawa membahana yang dikeluarkannya. Semakin menambah kekesalanku.

"Hhhaahh dasar kalian berdua ini." Hela ka-san terlalu lelah. Melihat pertengkaran kami berdua.

.

Sekarang aku berada di depan salah satu gerbong kereta. Yang akan mengantarkan aku ke Tokyo. Sebenarnya aku tidak sendirian. Ada tou-san dan ka-san yang berada di belakangku.

Aku langsung membalikan badan. Menghadap tou-san dan ka-san.

"Aku pergi dulu." Ujarku dengan senyuman lebar.

"Dengar Rukia ingat apa yang tou-san katakan sebelumnya."

"Tenang saja. Aku ingat semua yang tou-san katakan." Jawabku dengan enteng.

"Hati-hati disana ya sayang." Ujar ka-san. Sembari memeluk badan mungilku. Aku pun langsung membalas pelukan hangat ka-san.

Tidak beberapa lama kemudian ka-san, melepas pelukannya. Dalam jarak sedekat ini. Aku dapat melihat genangan air di dalam mata ka-san.

"Ya ampun ka-san. Aku sudah bilangkan jangan nangis karena kepergiaanku."

"Bagaimana bisa ka-san tidak nangis? Anak perempuan satu-satunya ka-san akan pergi." Gerutunya dengan wajah cemberut.

"Iya aku tau kok perasaan ka-san. Tenang saja aku baik-baik saja disana. Aku akan rajin belajar, menjaga kesehatan, dan memiliki banyak teman." Ujarku menyakinkan ka-san. Supaya menghilangkan rasa kekhawatirannya kepadaku.

"Kau harus janji dengan ka-san. Bahwa kau akan baik-baik saja disana."

"Iya aku janji." Jawabku dengan lantang.

Wajah ka-san yang sebelumnya mendung. Berubah menjadi cerah. Sekarang aku tidak perlu berat hati lagi. Saat melangkahkan kakiku.

Pintu gerbong kereta terbuka. Aku langsung mengambil tas koperku. Berjalan berlahan memasuki kereta.

"Dah dah ka-san...tou-san." Pamitku dengan melambaikan tangan kepada kedua orang tuaku. Saat mengucapkan, air mulai menggenang di pelupuk mataku.

"Dah dah Rukia. Hati-hati disana." Balas ka-san dengan senyum lembut yang menyertainya.

Tou-san tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya melambaikan tangan kanannya kepadaku. Sedangkan tangan kirinya memeluk tubuh ka-san. Bermaksud menenangkannya.

Tidak beberapa lama kemudian. Pintu gerbong kereta mulai menutup. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suara lembut dari ka-san. Aku hanya bisa melihat senyum hangat ka-san. Menyertai kepergiaanku.

Dengan perlahan kereta pun berjalan. Saat aku tidak bisa melihat kedua orang tuaku lagi. Aku langsung berjalan mencari tempat dudukku. Di dalam gerbong itu hanya ada beberapa orang saja.

Setelah menemukan tempat dudukku. Aku memasukan tas koperku ke dalam begasi. Tepat di atas tempat dudukku.

Setelah meletakkannya aku langsung duduk. Dan melihat pemandangan di luar kereta yang berjalan dengan sangat cepat.

"Tokyo aku datang!"

.

Tidak terasa satu jam berlalu. Akhirnya kereta yang kunaiki. Sudah berhenti di stasiun Shinjuku. Aku langsung mengambil koperku. Sebelum kereta ini berjalan kembali. Tanpa banyak membuang waktu aku langsung keluar dari kereta yang ku naiki.

Sekarang aku sudah berada di stasiun Shinjuku. Berarti aku sudah berada Tokyo. Kya aku senang sekali! Dengan perasaan gembira aku menarik koper bergambar kelinci itu.

Tidak sampai sepuluh menit. Aku sudah berada di luar stasiun. Mata besarku langsung disuguhi banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di depanku. Juga beberapa televisi yang menghiasi gedung-gedung tinggi disana.

Sekarang aku berada di salah satu distrik teramai Tokyo yaitu Shibuya. Ya ampun dari dulu aku ingin sekali kesini. Masih dengan senyum lebarku. Aku mengelilingi kota tersebut. Masih dengan tas koper yang berada di tangan kiriku.

Gawat! Gara-gara terlalu senang. Sampai lupa, aku harus pergi ke tempat tinggalku yang baru. Aku langsung mengambil ponselku yang bergantungan chappy itu. Menyalakannya dan mengaktifkan sistem gpsnya.

Sebelumnya aku sudah memasukan alamat tempat tinggalku yang baru. Di sistem gps ponselku. Jadi aku tinggal mengikuti arah yang ditunjukan oleh tanda panah gps ini.

.

Setelah berjalan dengan menghabiskan waktu dua puluh menit. Panah gps itu pun berhenti. Tidak lagi bergerak. Mengarah kemanapun. Berarti aku sudah sampai di tempat tujuanku.

Aku mendongakan kepala. Berniat melihat tempat tinggalku yang baru. Mataku langsung melotot saat melihat pemandangan di depanku. Yaitu apartemen dua lantai yang hangus terbakar!

Apa ini!? Masa ini tempat tinggalku! Aku melihat kembali aplikasi gps dalam ponsel ku. Panahnya sama sekali tidak bergerak. Berarti memang ini tempat yang aku cari.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi!" Pekikku dengan menjambak rambut hitamku. Menahan frustasi atas apa yang terjadi.

"Maaf?"

Aku langsung membalikan badan. Saat mendengar suara dari belakangku. Sekarang di depanku ada wanita berkacamata yang umurnya menurutku tidak terlalu jauh dariku.

"Apakah namamu Kuchiki Rukia?"

"Iya namaku Kuchiki Rukia. Ano maaf sebenarnya kau siapa?" Tanya ku penasaran.

"Namaku Ise Nanao. Aku adalah anak pemilik apartemen ini."

"Hah benarkah? Kalau begitu kenapa apartemen mu seperti ini?" Ujarku sembari menunjuk apartemen yang sudah berwarna hitam. Akibat kebakaran.

"Mmm begini sebenarnya dua hari lalu apartemen kami mengalami kebakaran. Akibat konsleting listrik." Jawabnya sembari membetulkan kacamata yang sebelumnya turun.

"Apa!? Kalau begitu bagaimana tempat tinggalku?" Tanyaku mulai panik.

"Sebenarnya aku ingin menghubungimu. Memberitahukan soal ini. Tapi nomormu selalu tidak aktif."

Tidak! Aku lupa beberapa hari lalu aku menggantikan nomor ponselku. Karena ponselku sebelumnya rusak karena tercebur di selokan.

"Terus sekarang aku harus tinggal dimana?"

"Maaf aku tidak tau soal itu. Aku datang kesini hanya untuk mengembalikan uang sewa yang kau bayar sebelumnya kepada ayahku." Nanao-san mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya kepadaku.

"Bisakah aku tinggal di rumah mu?" Ujar ku dengan wajah memelas.

"Maaf itu tidak bisa. Rumahku juga ikut terbakar. Akibat kejadian dua hari lalu. Dan untuk sementara aku dan orang tuaku tinggal di sebuah apartemen kecil." Jelasnya dengan tidak enak hati.

"Terus aku harus bagaimana sekarang?"

"Aku juga tidak tau. Maaf aku tidak bisa membantumu. Kalau begitu aku permisi."

"Hei tunggu!" Nanao-san sudah meninggalkanku di sana sendirian.

Aku melihat kembali apartemen yang terbakar itu. Aku langsung terpuruk saat melihatnya.

"ARGH APA YANG HARUS AKU LAKUKAN SEKARANG!"

.

Sekarang jam sudah menunjukan pukul lima. Hari mulai menjelang sore. Warna keorangenan mulai menyelimuti ufuk barat kota Tokyo. Tapi aku belum menemukan satu pun apartemen yang kosong.

"Argh menyebalkan kenapa hal ini harus terjadi padaku." Aku mulai mengacak rambut hitamku dengan frustasi.

Sekarang malam ini aku harus tidur dimana. Mana mungkin aku tidur di hotel. Uang yang aku bawa juga tidak mencukupi untuk itu. Apa aku harus memberitahukan soal ini kepada ka-san?

Tidak-tidak bisa-bisa tou-san malah membawaku kembali ke Kanagawa. Aku tidak ingin itu terjadi.

Dengan wajah frustasi. Aku berayun-ayun di atas ayunan sebuah taman.

"Nona manis apa yang kau lakukan disini sendirian?" Terdengar suara seorang laki-laki dewasa di depanku.

Aku mendongakan kepala. Aku melihat seorang laki-laki. Dengan topi berwarna hijau bergaris putih. Hampir menutupi matanya. Juga tidak lupa dengan kipas yang menutupi sebagian wajahnya.

"Siapa kau hah?" Tanyaku dengan tatapan tajam.

"Ihh galak banget. Aku kan hanya ingin bertanya kenapa kau disini sendirian." Jawabnya masih dengan kipas menutupi mulutnya. Tapi aku dapat melihat sebuah lengkungan senyuman dibalik kipas itu.

"Bukan urusanmu. Pergi sana!" Usirku sedikit membentak.

"Jangan galak begitu dong. Aku hanya ingin membantumu."

"Membantuku?"

"Yap. Kau sedang mencari tempat tinggal kan?" Tebaknya mulai menyingkarkan kipas dari mulutnya.

"Kenapa kau bisa tau?" Tanya ku penasaran. Tapi masih dengan sikap waspada.

"Tadi pagi aku melihat mu berteriak di depan sebuah apartemen yang terbakar itu. Jadi aku menebak bahwa kau salah satu penghuni apartemen itu. Tapi melihatmu ada disini. Sepertinya kau belum menemukannya."

"Iya seperti yang kau katakan. Aku belum menemukan tempat tinggal ku yang baru. Hhhah aku sudah lelah untuk mencarinya." Jawabku dengan frustasi.

"Aku punya satu tempat kosong yang dapat kau tinggali."

"Hontou ni?" Aku langsung berdiri menghampiri pria asing tersebut.

"Ya. Sebenarnya bukan tempat sih. Tapi kamar kosong. Aku tidak menyewakan apartemen. Tapi menyewakan rumah dengan lima kamar." Jelasnya.

"Kalau begitu aku mau!"

"Kau serius?" Aku hanya menganggukan kepala dengan kencang.

"Baiklah kalau begitu. Silakan ikuti saya." Aku pun mengikuti pria paruh baya itu.

"Oh iya perkenalkan namaku Urahara Kisuke. Namamu?"

"Namaku Kuchiki Rukia-desu."

.

"Ini lah tempat yang aku ceritakan Rukia-san." Ujar Urahara-san. Sembari menunjuk sebuah rumah berlantai dua. Berwarna abu-abu. Juga tembok dan pagar besi warna hitam yang mengelilinginya.

Aku melihat rumah yang ditunjuknya. Ternyata rumah tersebut lumayan besar dan memiliki halaman luas yang mengelilinginya.

"Sunyi sekali." Ujarku saat melihat lampu teras yang tidak menyala.

"Sepertinya mereka belum pulang."

"Siapa?" Tanyaku dengan penasaran.

"Penghuni rumah ini. Mereka juga mahasiswa sama sepertimu." Aku hanya ber'oh' ria saat mendengar penjelasan Urahara-san.

"Rumah ini memiliki lima kamar. Empat kamar sudah diisi."

"Rukia-san tidak masalah kan. Kalau tinggal bersama?" Tanya Urahara-san kemudian.

"Tidak aku tidak masalah." Jawabku masih melihat rumah tersebut.

"Oh iya untuk uang sewa nya bisakah aku menerimanya sekarang." Ujarnya sambil menengadahkan tangan.

Aku pun mengeluarkan amplop coklat yang sebelumnya diberikan oleh Nanao-san. Memberikannya kepada Urahara-san.

"Kalau begitu ini kunci rumah dan kamarmu. Kamarmu berada di lantai dua dekat kamar mandi." Aku langsung menengadahkan tangan. Menerima dua kunci pemberian Urahara-san.

"Rumahku tepat disebelah rumah ini. Kalau kau perlu bantuan kau bisa datang kesana." Aku hanya menganggukan kepala mengiyakan perkataan Urahara-san.

"Selamat bersenang-senang Rukia-san." Ujarnya mulai berjalan meninggalkan ku sendirian di depan rumah tersebut. Tepat kepergiannya Urahara-san mengeluarkan sebuah seringai yang tidak aku sadari.

.

Aku memasuki rumah berwarna ke abuan tersebut. Ternyata ruangan di dalamnya cukup luas. Ada ruang tamu, dapur, juga teras yang menghadap halaman sebelah. Sunyi sekali disini. Oi iya aku lupa. Kata Urahara semua penghuninya belum pulang.

Aku langsung mencari sakelar lampu dan menekannya. Lampu-lampu di rumah tersebut pun menyala dengan terangnya.

Aku berjalan berlahan menaiki tangga. Bermaksud pergi ke lantai dua. Di lantai tersebut ada tiga kamar. Dan kamar mandi.

Aku berjalan ke sebuah pintu ruangan yang berada tepat di sebelah tangga dan kamar mandi. Aku memasukan kunci pemberian Urahara-san tadi. Dan memutarnya. Terdengar bunyi 'klek'. Itu menandakan bahwa kunci pintu tersebut sudah terbuka.

Aku memutar kenop pintu berwarna coklat tersebut. Saat aku membukanya. Hanya kegelapan yang aku lihat. Aku membawa tangan kiriku ke sebelah di dinding kamar ini. Bermaksud mencari sakelar lampu.

Setelah menemukannya, aku menekannya. Lampu kamar itu pun menyala. Memperlihatkan isi di dalamnya. Ada ranjang berukuran sedang, lemari baju, dan lemari buku.

Aku pun masuk ke dalam kamar bercat putih itu. Tanpa basa-basi aku langsung merebahkan tubuh penatku ke atas ranjang.

Menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk istirahat. Aku duduk kembali. Meraih tas koperku dan membukanya. Bermaksud mengambil pakaian ganti dan peralatan mandiku.

Setelah mengambilnya, aku berdiri. Berjalan keluar kamar. Bermaksud membersihkan badanku yang berkeringat.

.

"Hhaah segarnya." Gumamku setelah menyelesaikan kegiatan membersihkan diri. Sekarang aku sudah mengganti pakaianku sebelumnya. Dengan kaos lengan pendek dan celana pendek.

Masih dengan handuk yang menyampir di bahuku. Aku berjalan turun ke lantai satu. Mengarah ke dapur rumah ini.

Aku melihat sebuah kulkas yang berukuran besar dan membukanya. Bermaksud mengambil botol minuman dingin.

Saat aku membukanya. Hanya ada roti, dan kaleng beer. Aku menatap heran isi dari kulkas tersebut.

"Kenapa banyak sekali kaleng beer disini?" Tanyaku dengan heran. Masih melihat isi dalam kulkas tersebut. Isi kulkas ini tidak seperti milik perempuan. Seperti milik laki-.

GREK

Terdengar sebuah bunyi. Dari pintu yang terbuka. Aku langsung menutup kulkas tersebut. Berniat pergi ke depan pintu. Bermaksud menyapa penghuni rumah ini.

Tapi langkah ku terhenti saat melihat seseorang. Berdiri tidak jauh dariku. Mulut ku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Saat melihat orang itu.

Aku tidak sedang melihat hantu maupun alien. Tapi yang aku lihat sekarang benar-benar manusia. Tetapi jenis kelaminnya yang jadi masalah untuk ku. Orang ini adalah la-.

"Hei teman-teman ada perempuan disini." Celetuknya dengan suara lumayan keras. Terdengar suara langkah dari arah pintu mengarah ke dapur.

"Hei jeruk jangan bercanda. Mana mungkin ada perempuan disi—" Kata-katanya terhenti saat melihatku. Berdiri di sebelah kulkas.

"Kau benar jeruk ada perempuan disini." Pria asing dengan rambut aneh itu. langsung berjalan mendekatiku.

Tidak beberapa lama kemudian. Datang dua orang laki-laki. Dengan warna rambut yang berbeda-juga.

"Wah apa ini kenapa ada perempuan disini?" Ujar pria bersurai merah itu. Dengan girang.

Sekarang aku telah dikelilingi oleh empat pria tersebut. Keringat dingin mulai menguncur di dahiku. Tidak tahu harus melakukan apa.

"Nona namamu siapa?" Tanya pria bersurai putih kepadaku. Dengan mencondongkan tubuhnya menghadapku.

Karena kaget, aku memudurkan tubuh mungilku. Membentur punggung wastafel.

"Eh eh eh." Hanya kata-kata itu yang bisa aku keluarkan. Entah kenapa lidah ku terlalu kelu untuk mengatakan sepatah katapun.

GYUT

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan kekar. Berada tepat di atas dadaku. Aku mendongakan kepala. Melihat pemilik tangan kekar ini. Tangan ini ternyata milik pria berambut orange yang pertama kali datang di dapur ini. Bukan hanya menyentuh. Tangan pria itu mulai meremas pelan dada kananku.

"Hm walaupun dadamu kecil. Tapi lumayanlah." Celetuknya dengan wajah serius.

Cetakan segitiga mulai bertengger di kepala ku. Tanganku mulai mengempal dengan kencang.

"WAAAAAAAAA." Aku memukul wajah tirus pria tersebut dengan kencang. Sekarang pria bersurai orange itu telah tersungkur di atas marmer dapur ini.

Tiga teman lainnya hanya menatap dengan tercengang. Atas perbuatanku.

"HEI KENAPA KAU MEMUKULKU!" Bentaknya sudah berdiri dari posisi tersungkurnya.

"KAU PANTAS MENDAPATKANNYA PRIA MESUM!" Balasku tidak mau kalah.

"Sebenarnya kalian siapa? Kenapa bisa masuk rumah ini?" Tanyaku dengan kemarahan sudah mencapai ubun-ubun.

"Hah? Harusnya kami yang tanya kau yang siapa." Jawab si pria orange. Dengan wajah menahan sakit atas pukulanku.

"Apa maksudmu?"

"Rumah ini—" Ujarnya menunjuk lantai rumah ini.

"Adalah tempat tinggal kami berempat."

"Eh? EEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHH!"

.

.

.

TBC

Haloha gue datang lgi minnaaaa. Gue datang dengan ffn bru dan jdul baru hahaha#ditabok. Ini adalah fic yang pling banget gue ketik. Dan bru skarang terealisasikan. Gue hnya bsa gling-gling saat menulis crita ini. Nggak kuat mbnyangkan Ichigo yang hentai dan liar #mimisan. Apakah hentainya kurang? Kalau ada yg mau request slakan pesan aja haha #tertawanista. Oh iya dalam cerita ini da tkoh bru. Yaitu brnama 'Kuchiki Tsuga'. Ia adalah adik laki-laki Rukia.

Untuk wjahnya aku mngambil rupa Tensa Zangetsu. Karena mnurut gue Tensa sngat mirp dngan Rukia hoho. Sdangkan namnya dri Getsuga Tenshou yang aku pelesetkan mnjadi Tsuga. Apakah cocok? Sbenarnya nma tersebut adlah sran dri Nozomi Rizuki. Arigato ne Nozomi-kun.

Sbnarnya gue sdng mngalami dmam WB. Jdi gue nulis crita bru ini spaya WB ku agak sembuhan. Spya bsa mlanjutkan fic ku yang dua lainnya. Jdi tlong brsbar untuk update fic sbelumnya. Gue hrus mngumpulkan fill untuk ngetiknya #ditusukdaribelakang.

Please Read, Review, and kritik.