Orange Origami

By: Sazeharu Reito

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/ Comedy

Warning: Banyak Typo, Diksi payah, dll

.

.

Chapter 1: Revive Once More

'Tap..Tap..Tap' Derap langkah kaki terdengar jelas memecah keheningan malam. Suasana terlihat hancur berantakan bagai dilanda angin topan. Malam ini merupakan bencana terburuk yang pernah dialami Iwagakure. Sesosok monster tiba-tiba datang dan menghancurkan desa mereka, tanpa ampun membinasakan setiap orang yang ia temui.

"Ini gawat" Seorang ninja Iwagakure tampak bersembunyi dibalik reruntuhan "Kalau begini terus, dia akan menemukanku" Terlihat jelas bahwa tangan dan kaki ninja tersebut bergetar hebat.

Monster yang telah menghancurkan desa mereka bernama Pein. Lelaki berambut jingga dengan pupil mata bergelombang "Keluarlah" Pein melihat kearah reruntuhan tempat ninja Iwagakure bersembunyi tetapi ninja itu enggan menampakkan diri.

Pein mengarahkan lengannya ke reruntuhan itu lalu muncullah besi hitam dari lengan bajunya. Besi hitam itu memanjang menghancurkan reruntuhan dan tepat menembus jantung ninja tersebut. Darah mengalir deras dari mulut dan dadanya.

Sementara itu, diluar desa tampak seorang ninja berambut kuning dengan jubah bermotif api. Ia adalah Namikaze Minato yang ditugaskan untuk membantu Iwagakure. Pein menyadari kedatangan Naruto yang berada dibelakangnya.

"Hei Kau! Aku ditugaskan untuk menghabisimu" kata Minato setengah berteriak. Pein hanya terdiam. Ia memandang Minato tanpa berkata sepatah kata pun.

"Hyaaa!" Minato maju menerjang Pein dengan pusaran chakra angin dikedua tangannya.

"Shinra Tensei!"

50 Tahun telah berlalu...

Genap 50 tahun setelah dikalahkannya Pein oleh pahlawan Konoha, Namikaze Minato. Minato berhasil mengalahkan dan menenggelamkan Pein kedasar laut. Dunia kini sudah berubah. Dunia yang dulunya berisi para ninja kini berganti menjadi warga kota yang sibuk dengan aktifitasnya. Rumah kayu kini sudah berubah menjadi rumah modern dan orang yang dulunya berjalan kaki kini menaiki kendaraan. Dunia kini sudah menjadi dunia yang modern.

Seorang remaja berambut kuning berjalan dengan riangnya. Mata safirnya yang indah membuatnya terlihat cukup tampan, ya cukup tampan "Huhh..Hari ini panas sekali" Remaja itu menyeka keringat didahinya.

"Naruto!" Seorang gadis berambut pink pendek memanggil remaja itu dari belakang.

"Hn?" Remaja bernama Naruto itu menoleh. Setelah melihat siapa yang menyapanya, Naruto tersenyum "Sakura!" Naruto balas menyapa sambil melambaikan tangan.

"Kau mau kemana?" tanya Sakura.

"Aku mau membeli persediaan bahan untuk ramenku" jawab Naruto "Kau sendiri?"

"Aku disuruh Tsunade untuk mengambil beberapa berkas"

"Kau dengar berita semalam?" tanya Naruto. Kali ini wajahnya tampak serius.

"Soal ombak laut yang mengganas?" terka Sakura.

Naruto mengangguk "Iya, itu bisa menghambat distribusi bahan ramen ke toko"

Sakura langsung sweatdrop "Kukira kau mengkhawatirkan nasib nelayan ternyata kau malah mengkhawatirkan ramenmu"

"Tentu saja, itukan satu-satunya penghasilanku" Naruto termenung "Hanya itu caraku menghasilkan uang untuk Hinata"

Sakura tersenyum "Tenang saja, ombaknya pasti akan normal lagi" Tanpa terasa mereka telah sampai di depan sebuah perusahaan "Sampai jumpa Naruto" Sakura masuk kedalam sementara Naruto terus berjalan lurus.

Di Pelabuhan...

Terlihat 2 orang nelayan tengah beristirahat sambil mengobrol "Ombaknya makin menjadi-jadi" kata salah satu nelayan.

"Iya, kapalku hampir terbalik karena ombak itu" kata nelayan yang satunya lagi.

Tak lama kemudian, sebuah kapal yang cukup besar berlabuh. Semua awak kapal itu turun dari kapal untuk beristirahat juga. Kapten kapal itu menghampiri kedua nelayan tadi "Permisi" kata kapten kapal itu sopan "Bisakah kalian berdua membantuku?" Kedua nelayan itu saling bertatapan.

"Ini dia" Kapten kapal itu menunjukkan balok es kepada kedua nelayan itu "Ada orang didalamnya"

Didalam balok es itu memang ada orang. Orang itu berambut jingga dengan banyak tindikan diwajahnya, ya dia adalah Pein. Pein yang ditenggelamkan oleh Namikaze Minato atau Hokage ke-4 tidaklah mati tetapi membeku.

"I-Ini?" Kedua nelayan itu memperhatikan wajah Pein. Mereka seperti pernah melihat orang itu "Siapa ya?"

"Itu tidak penting, sekarang kita harus menyelamatkannya sebelum dia mati kedinginan"

Mereka bertiga mengambil pisau dan palu untuk membelah es itu tanpa tau siapakah yang membeku itu. Setelah setengah jam berusaha keras, mereka pun berhasil. Pein kini telah terbebas "Dimana aku?" Pein memegang kepalanya yang sedikit pusing.

"Dia masih hidup" kata kapten kapal.

"Apa kau sehat?" tanya salah satu nelayan.

Pein panik, ia celingukan melihat sekelilingnya dan bingung. Ia berjalan meninggalkan penyelamatnya tanpa berterima kasih (Author: Ya iyalah, Pein gitu loh XD). Warga disekitar pelabuhan melihat kearah Pein dengan tatapan aneh. Itu karena jubah akatsuki yang dipakai Pein.

Sementara itu, Naruto yang ingin mengambil persediaan bahan ramennya dipelabuhan berpapasan dengan Pein. Pein samar-samar mengingat sesuatu "Kau..Minato"

Mendengar nama yang tidak asing, Naruto menoleh "Dari mana kau tau nama ayahku?"

'Ayah?' batin Pein. Ia kembali memandangi sekitarnya. Ia melihat bangunan yang berbeda, banyak kendaraan asing dan hal-hal yang tak pernah ia lihat 'Berapa tahunkah yang sudah kulewatkan?'

Naruto memandang Pein yang tak kunjung menjawab pertanyaannya "Hei!" Naruto melambai-lambaikan tangan didepan wajah Pein.

"Shinra Tensei!" Pein merapal jurusnya.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto sweatdrop.

'Apa yang terjadi? Jutsuku menghilang?' Pein tambah kebingungan. Pein menjambak rambutnya sendiri.

"Sudahlah, aku bisa terlambat pulang kalau begini" Naruto pergi meninggalkan Pein.

"Tunggu!" teriak Pein.

Naruto menoleh "Ada apa?"

"Bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Pein dengan jurus Puppy Rinnegan Eyes no Jutsu *plak*.

Naruto mengernyitkan dahinya "Kau boleh ikut"

Mereka berjalan bersama ketempat penjualan langganan Naruto "Apakah kau pernah mendengar nama Pein?" tanya Pein pada Naruto.

"Pein?" Naruto berusaha mengingat nama itu "Etto..Tidak, Siapa itu?"

"Itu namaku" kata Pein 'Syukurlah anak ini bodoh hahaha..' Pein tertawa dalam hati.

"Caramu memperkenalkan diri unik ya" Naruto tertawa.

Setelah membeli beberapa bahan, Naruto berjalan pulang. Pein mengikutinya dari belakang "Sebenarnya dimana rumahmu?" tanya Naruto.

"Etto..Aku dari luar negri dan uangku baru saja dicuri jadi.." kata Pein sambil terkekeh.

"Sial sekali nasibmu" kata Naruto "Dan dari mana kau tau nama ayahku?"

Pein menggaruk pipi dengan telunjuknya "Etto..Kami adalah teman baik ya bisa dibilang aku banyak membantu ayahmu saat kesusahan" Pein tertawa.

"Tapi ayahku tidak pernah menyebut namamu" kata Naruto curiga.

"Itu mungkin karena ia sudah tua, kau tau kan? Orang tua memang pelupa" kata Pein.

"Ya terserahlah, carilah kerja" Naruto berjalan lurus pergi tanpa menghiraukan Pein.

"Rupanya dia bukan orang yang mudah dibohongi" Pein tersenyum. Otaknya tiba-tiba mendapat ide "Jangan kau remehkan pemimpin akatsuki" Pein berlari kearah kiri.

"Tadaima!" teriak Naruto.

"Okaeri Naruto-kun" Hinata, Istri Naruto menyambut kepulangan suaminya.

"Kau baik-baik saja dirumah kan?" Naruto mengelus kepala istrinya sambil tersenyum.

Hinata membalas senyuman Naruto dan sedikit blushing pastinya "Iya, aku baik-baik saja"

"Hai" Pein tiba-tiba muncul dari dalam rumah Naruto.

"Sedang apa kau disini!" Naruto menunjuk muka Pein dengan kurang ajar.

"Eh..Bukannya dia pamanmu?" tanya Hinata.

"Bukan!" Naruto langsung menyeret Pein.

"Hei Naruto, kau kurang ajar sekali dengan pamanmu" kata Pein si paman gadungan.

"Iya Naruto, kalian kan sudah lama tidak bertemu" kata Hinata.

"Dia bukan pamanku" Naruto semakin kesal.

Hinata meletakkan telunjuk kedagunya "Tapi kalian mirip kok"

Naruto melihat wajah Pein. Pein membalas tatapan Naruto sambil nyengir dan menaik-naikkan alisnya "Mirip dari mana?" Naruto menjambak rambutnya sendiri.

Pein berbisik pada Naruto "Aku akan tinggal disini beberapa hari saja setelah itu aku pergi" Naruto memandang Pein dengan tatapan -ciyus loe?- "Percayalah padaku" kata Pein.

Naruto menghela nafas "Baiklah tinggallah disini tapi kau harus membantuku mengurus kedau ramen"

"Baik" Pein tersenyum.

Pein kini harus bertahan hidup didunia modern. Dia tidak tau apa yang mungkin menanti didepannya. Ditempat lain, tampak ada sebuah penggalian yang entah apa tujuannya. Penggalian itu dilakukan oleh orang-orang aneh berjubah hitam.

To be Continued...

A/N:

Ini adalah fanfic kedua (yg pertama dah kehapus) yg kutulis dan mudah"an memenuhi harapan para pembaca sekalian. Jika ada waktu akan ku update lagi hmm..mudah"an gk write block. Oke Jaa..RnR and No Flame! ^-^