Chapter 1!
SWEET LOVE
.
.
Oh Sehun tidak tahu kenapa dari semua banyak gadis di muka bumi ini, ayahnya malah menjodohkan dirinya dengan—Luhan—gadis cerewet yang manja, konyol dan kekanakan. Luhan pun begitu, demi celana dalam Spongebob yang tidak pernah di ganti dan di cuci Luhan tidak mau di jodohkan dengan pria berwajah sedatar aspal pilihan ayahnya itu.
.
.
Oh Sehun
Luhan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And Other Cast
.
.
"Menurutmu bagaimana tentang hal itu?"
Luhan bertanya pada pria yang duduk dihadapannya sembari mengibaskan rambut dengan sebelah tangan—kebiasaan alami Luhan jika berhadapan dengan pria tampan.
"Maksudmu?"
Luhan menjelaskan,"Maksudku dengan perjodohan ini, apa pendapatmu tentang perjodohan ini?"
Ya, alasan Luhan duduk berhadapan dengan pria yang mempunyai wajah dingin disertai ekspresi datar bernama Oh Sehun tidak lain karena perjodohan yang direncanakan orang tuanya dan orang tua Sehun. Ayahnya dan ayah Sehun adalah teman seperjuangan ketika mereka kuliah. Karena ayah Luhan adalah mahasiswa pertukaran Cina-Kore Selatan, ketika lulus ayah Luhan kembali ke tanah kelahirannya. Lalu ayah Luhan merintis karir sebagai pengusaha dibidang makanan. Usaha ayah Luhan berkembang cukup pesat, lalu ayah Luhan mendapat ide untuk mengibarkan usahanya hingga ke negeri tetangga. Dan Korea Selatan-lah yang ayah Luhan pilih untuk dijadikan tempat membuka cabang usahanya. Dan disanalah ayah Luhan betemu Lee Hana—ibu Luhan—mereka saling jatuh cinta dan menikah lalu satu tahun kemudian lahirlah bayi cantik bermata sejernih rusa yang mereka beri nama Luhan.
Luhan tumbuh menjadi gadis yang cantik, ceriah, dan menangkan. Tapi semakin Luhan tumbuh dewasa semakin Luhan membuat orang tuanya geleng-geleng melihat tingkahnya. Luhan tetap saja manja padahal dirinya sudah berumur dua puluh lima tahun. Tidak bisa mandiri dan selalu menghambur-hamburkan uang tidak jelas.
Awalnya ayah Luhan memaklumi dan tidak terlalu mempersalahkannya. Tapi semakin kesini Luhan tidak bisa dikontrol. Luhan bukannya berubah malah makin menjadi. Lalu suatu hari ketika ayah Luhan sedang bertemu seorang klien disebuah restoran, ayah Luhan bertemu kembali dengan ayah Sehun setelah sekian lama tidak bertemu. Mereka mengobrol tentang ini dan itu, lalu sampai dimana ayah Sehun bercerita bahwa dirinya mempunyai anak lelaki, dalam otak ayah Luhan muncul-lah ide untuk menjodohkan putrinya dengan putra teman lamanya ini dan ayah Sehun pun setujuh atas ide tersebut. Ayah Luhan berharap dengan memiliki suami akan membuat putri tunggalnya itu jauh lebih baik dari pada yang sekarang.
Sementara Luhan jelas menolak, tapi ayahnya mengancam jika dirinya tidak mau menuruti perjodohan ini maka semua fasilitas yang dimilikinya akan dicabut dan harta warisan ayahnya akan diserahkan kepada panti asuhan. Dan Luhan tidak mau itu terjadi, jadilah Luhan mengikuti permintaan ayahnya yang konyol ini.
Sementar Sehun? Ayah Sehun hanya meminta putranya menemui Luhan dan menjalani pendekatan secara perlahan. Jika Sehun tidak menyukainya, Sehun boleh menolak perjodohan ini dan ayah Sehun akan berbicara baik-baik dengan ayah Luhan. Sehun yang memang dasarnya anak baik dan penurut hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan ayahnya.
Jadilah Sehun dan Luhan saat ini duduk berhadapan.
"Tidak ada yang spesial," jawab Sehun singkat.
Alis Luhan terangkat,"Apanya yang 'tidak ada yang spesial?'"
"Kau." Jawab Sehun singkat.
Luhan menganga tidak percaya,"Ck, aku? Tidak spesial katamu?"
Apa Luhan tidak salah dengar? Dirinya tidak spesial? Ck, yang benar saja! Mana ada pria yang tidak tertarik padanya. Parah pria di kampusnya pun berlomba-lomba agar bisa berkencan dengannya. Bahkan pernah ada seorang CEO mudah yang terang-terangan mengajaknya berkencan tapi Luhan hanya mengangkat bahu acuh. Sementara Sehun? Dia bilang bahwa dirinya tidak spesial? Astaga! Luhan yakin bahwa mata Oh Sehun katarak.
Sehun berkata lagi,"Aku tidak tahu, kenapa ayah menjodohkanku dengan wanita sepertimu.."
Apa katanya?
Luhan langsung berdiri, tidak terima. Sehun berkata seakan Luhan adalah wanita yang tidak pantas dijodohkan dengannya. Memangnya dia pikir dia siapa?
"Hei, Sehun-ssi! Aku juga tidak mau dijodohkan denganmu. Astaga, aku juga tidak mau dijodohkan oleh orang sepertimu! Kau tidak bisa menjaga ucapanmu, lihat wajahmu begitu datar seperti aspal. Intinya aku tidak mau dijodohkan denganmu!"
Luhan tidak lagi menunggu Sehun menjawab, dirinya langsung mengambil tasnya lalu melangkah pergi dari sini. Tapi sepertinya Luhan terlalu terburu-buru—mungkin karena sudah jengkel—hingga membuatnya tersandung oleh langkahnya sendiri.
Jika saja Sehun tidak menangkap Luhan, mungkin saja tubuh gadis itu sudah membentur lantai kafe. Tapi Luhan lebih memilih jatuh dilantai dari pada jatuh dipelukan pria itu. Astaga, dengan jarak sedekat ini Luhan bisa mencium aroma mint menguar dari tubuh Sehun. Aroma tubuhnya Sehun begitu memabukkan hingga membuat Luhan tergoda untuk memenggelamkan kepalanya didada bidang pria itu.
Luhan mendongak dan mendapati pria itu sedang menatapnya. Tatapannya begitu tajam namun begitu lembut hingga Luhan takut meleleh dibuatnya.
Lalu tanpa aba-aba Sehun melepaskan Luhan, membuat tubuh mungil gadis itu tersentak kebelakang.
"Hei, kenapa kau melepaskanku begitu saja?", Sewot Luhan. Gadis itu hampir terjatuh jika saja dirinya. tidak bisa mengimbangi berat tubuhnya sendiri.
Sehun tidak menjawab, membuat Luhan semakin kesal. Luhan melihat Sehun sedang memandang kearah tubuhnya. Ketika Luhan tersadar dengan apa yang dipandangi Sehun, refleks gadis itu langsung menutup kemeja yang sedikit tersingkap dan memperlihatkan belahan dadanya.
Sementara pria itu meringis ketika Luhan memukul kepalanya dengan tas gadis itu.
"Apa yang kau lihat?," Luhan mencak-mencak seperti orang kesurupan. Untunglah siang itu kafe yang menjadi tempat Luhn dan Sehun bertemu sedang sepi. Jika tidak, mungkin Sehun sudah malu karena menjadi pusat perhatian akibat tingkah Luhan.
Sehun mengusap kepalanya yang tadi menjadi korban kekerasan Luhan ,"Kau itu apa-apaan sih?"
"Ingatnya,ya! Aku tidak mau dijodohkan dengan pria mesum sepertimu!"
"Mesum katamu? Memangnya aku melakukan apa padamu? Menelanjangimu?", kata Sehun. Dirinya juga tidak terima dikatai pria mesum oleh gadis itu.
Sementara Luhan? Gadis itu memerah hebat ketika mendangar Sehun mengatakan hal tersebut. Ugh! Kenapa bisa laki-laki itu berbicara hal sefrontal itu?
Luhan menendang tulang kering Sehun, membuat laki-laki itu meringis lagi.
Lalu Luhan berlari kecil dan pergi keluar dari kafe sembari berteriak,"Pokoknya aku tidak mau dijodohkan denganmu!", meninggalkan Sehun yang sedang meringis memegangi bagian tubuhnya yang lagi-lagi menjadi korban kekerasan Luhan.
.
.
.
"Park Chanyeol? "
Park Chanyeol sedang duduk dihalte—menunggu bus—ketika ada yang memanggil namanya, pria bertelinga lebar itu menoleh kesumber suara. Lalu dilihatnya seorang gadis bermata sipit yang berdiri di dekatnya.
Byun Baekhyun?
Gadis itu duduk disamping Chanyeol, namun berjarak satu kursi.
Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, Chanyeol pun tidak ingin membuat percakapan dengan rekan dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Chanyeol mengutuk bus yang ditunggunya itu, hampir lima belas menit dia menunggu tapi bus sialan itu tidak kunjung datang. Sebenarnya Chanyeol tidak pernah mempersalahkan cepat lambatnya kedatangan bus yang ia tunggu. Tapi demi tuhan, bukan untuk saat ini. Chanyeol ingin cepat-cepat pergi dari sana, dirinya tidak bisa berdekatan dengan Byun Baekhyun dalam diam seperti Chanyeol tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan gadis itu—sendirian. Sekarang sudah malam hampir larut malah, jalanan pun terlihat mulai sepi. Apa jadinya jika Park Chanyeol meninggalkan gadis itu seorang diri? Lelaki itu tak bisa membayangkannya.
Byun Baekhyun menoleh ketika suara Park Chanyeol terdengar, "Kenapa kau disini malam-malam begini?", Pada akhirnya laki-laki itu tak sanggup mengabaikan Byun Baekhyun terus-terusan.
"Ini halte, bukan? Jelas aku disini sedang menuggu bus."
Chanyeol mendengus, "Aku yakin kau tahu apa maksudku."
"Mobilku mogok tidak jauh dari sini, karena aku melihat halte ini jadi aku putuskan untuk pulang dengan bus."
"Kau 'kan bisa pulang dengan taksi atau kau bisa menyuruh supir keluargamu untuk menjemputmu," kata Chanyeol sedikit jengkel.
Baekhyun tersenyum tipis,"Aku yakin kau tidak lupa bahwa aku lebih suka menggunakan bus daripada mobil pribadi atau di hantar supir jika berpergian."
Ya, Chanyeol tidak mungkin lupa. Park Chanyeol sangat ingat jika gadis itu lebih suka menggunakan bus daripada mobil pribadi—padahal garasi rumah gadis itu dipenuhi belasan mobil keluaran terbaru dan bisa dipakainya jika gadis itu mau—atau di hantar oleh supir pribadi keluarga Byun.
Chanyeol selalu ingat semua tentang gadis itu. Dari hal-hal yang sepele atau pun yang penting. Mana yang disukai gadis itu dan mana yang tidak disukai gadis itu, Chanyeol tidak pernah lupa sedikit pun.
"Tetap saja! Kau pikir ini jam berapa? Bagaimana mungkin kau menunggu bus seorang diri sedangkan kau seorang gadis! Bisa saja terjadi suatu hal yang tidak inginkan!"
Byun Baekhyun tersenyum tipis,"Apakah saat ini kau sedang mengkhawatirkanku?"
Menurutmu? Chanyeol mengeram dalam hati, "Tidak. Tidak sama sekali," pada akhirnya pria itu memilih berbohong membuat hati Baekhyun mencelos karenanya.
Hening sejenak lalu semenit kemudian Chanyeol mendengar Baekhyun berkata, "Dulu itu nyata, bukan?"
Dahi Chanyeol mengkerut.
"Kau dan aku," kata Baekhyun lagi dengan pandangan kosong—seperti menerawang, "Sungguh dulu sekali.. kita hanyalah sepasang anak-anak," kini Baekhyun menoleh, menatap Park Chanyeol yang sedang menatapnya dengan padangan bertanya, dengan suara bergetar Baekhyun melanjutkan "Tapi kita benar-benar saling mencintai 'kan?"
Chanyeol memalingkan wajah, tidak sanggup melihat setetes air mata yang jatuh membasahi wajah gadis yang selalu memenuhi ruang hatinya tersebut.
"Aku harap kau tidak lupa jika itu adalah masa lalu, Byun Sunbae.", kata Chanyeol dingin membuat hati Baekhyun mencelos karena panggilan formalnya.
"Dulu kau selalu ada disisiku, memberikan sebagian makan siangmu untukku, membuatku tertawa. Dan entah apa yang terjadi padamu, kau berubah dengan perlahan dan pergi meninggalkanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti itu."
"Dulu itu kita hanyalah sepasang remaja yang tidak tahu apa-apa dan baru mengenal cinta. Aku rasa cinta kanak-kanakmu terlalu berlebihan hingga kau tidak bisa melupakanku. Aku saja bisa melupakan masa lalu itu tapi kenapa kau tidak?"
Baekhyun menggeleng tidak percaya mendengar Park Chanyeol mengatakan hal itu dengan mudahnya.
"Menurutmu begitu?," Baekhyun tersenyum miris, "Aku juga ingin melupakan dan membuang perasaan ini. Tapi aku tidak bisa. Bukan tidak mau."
Chanyeol hanya terdiam, pria itu pun merasakan hal yang sama seperti gadis itu.
Tidak bisa menghentikan cinta yang tumbuh di hati.
Keadaan ini menyiksa Chanyeol begitu pula Baekhyun, tapi tidak ada yang bisa menghentikan keadaan ini.
Cinta memang indah. Tapi ketika uang dan kasta berbicara, cinta bisa apa?
Byun Baekhyun adalah putri dari Byun Sohyun. Semua orang tahu siapa itu Byun Sohyun. Seorang dokter umum yang mempunyai puluhan cabang rumah sakit di penjuru negeri kota gingseng. Sementara Chanyeol? Hanyalah putra seorang seorang penghantar susu. Bukankah sudah jelas apa yang membuat satu cinta dan dua hati tak bisa bersatu? Ya, jawabannya adalah kasta. Chanyeol pun tahu diri, maka dari itu dia tidak berani untuk mencintai gadis itu terlalu jauh.
"Dengarkan aku Byun Baekhyun. Perasaan yang kau miliki itu hanya semu, kau bisa—"
"Setidaknya beri aku alasan kenapa aku harus berhenti mencintaimu?," tanya Baekhyun dan air matanya berlinang, lagi.
Chanyeol menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya demi mengatakan,"Karena aku tidak pernah mencintaimu."
Ada perasaan sesak di hatinya ketika mengatakan itu, karena itu dia bangkit lalu berkata lagi,"Jadi berhentilah mencintaiku," lalu Chanyeol mengambil langkah pergi.
Byun Baekhyun yang melihatnya langsung berdiri dan berteriak."Park Chanyeol berenti! Jangan pergi!," namun sepertinya pria itu tidak mendengarnya atau pura-pura tidak mendengar?
Jangan pergi ku mohon..
Park Chanyeol tahu bahwa gadis itu menangis. Ketika ia melangkah demi meninggalkan gadis itu, ia mendengar gadis itu terisak. Butuh tekad yang kuat dan segenap kendali atas dirinya agar tidak berbalik dan memeluk gadis itu, dan menjelaskan bahwa apa yang di ucapkannya hanye kebohongan. Tapi Chanyeol tahu bila ia melakukan itu, ia idak akan sanggup meninggalkan gadis itu. Dan Chanyeol tahu bahwa ini adalah keputusaan terbaik, karena itulah dia tetap melangkah pergi meninggalkan Byun Baekhyun.
.
.
.
T B C ?
.
.
.
Halooooooooooooo semua. aku datang lagi membawa ff baru :) aku gak tau ff ini akan bagaimana responnya, tapi please aku minta reviewnya terima masukan dan kritikan asal dengan bahasa yang sopan ya. aku mau curhat dikit ya, aku merasa ff singing in the rain tuh acak-acakan parah mungkin karena aku terlalu buru-buru bikinnya. mau aku ubah ulang lagi aja kalau ada kesempatan dan ada yg ngasih aku krtikan dan masukan tapi tanpa nama, tapi aku mau terimakasih bgt sm orng itu karean krtikn dan masukannya sangat membangun buat aku. udah dulu deh curhatnya :) semoga suka, sampaiii bertemu di lain kesempataan...
