Unusual Read Thread
Cast :: Kim Mingyu, Jeon Wonwoo, other cast(s)
Genre :: Romance
Rate :: T
Warning :: Yaoi. BxB. Typo(s). AU!.
Disclaimer :: Cast disini semuanya milik Tuhan YME, orangtuanya, dan diri mereka masing-masing. Yang milik saya cuma ceritanya aja (walaupun pasaran).
Kalau ada kesamaan, itu murni karena ketidaksengajaan. Apabila tidak suka dengan ceritanya, harap tidak usah dibaca dan jangan bash para cast nya ya~
ddideubeogeo17 present
.
.
.
Hana
Dul
Set
Enjoy it~
.
.
.
BRUK!
"A-ah maaf, aku tidak sengaja."
"hmm."
"Biar aku ban-"
"Tidak perlu."
"Ah, baiklah. Sekali lagi aku minta maaf."
". . ."
Kim Mingyu, lelaki remaja berusia tujuh belas tahun yang tengah berjalan di lorong sekolah tidak sengaja menabrak seseorang, hingga buku yang dibawa orang tersebut jatuh berantakan. Saat berniat membantu, orang tersebut justru pergi begitu saja. Mingyu yang diperlakukan seperti itu hanya mampu menaikkan sebelah alisnya.
"Orang aneh." gumamnya.
Detik berikutnya, seakan tersadar sesuatu Mingyu menghentikkan langkahnya. Matanya sontak terbelalak, ia merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Mingyu membalikkan tubuhnya dan menemukan sosok yang tadi ditabraknya tengah berbelok di tikungan koridor. Dahinya mengerut menandakan sang empunya sedang berpikir keras.
Puk!
"Sedang apa disini? Saem rasa bel sudah berbunyi sejak tadi."
Mingyu terkejut. Pandangannya teralih dan ia menemukan sosok lelaki paruh baya yang barusan bertanya padanya. "Annyeong haseyo. Saya murid baru disini, nama saya Kim Mingyu."
Tidak heran lelaki paruh baya tersebut mengiranya siswa disini, karena Mingyu sudah mengenakan seragam di sekolah tersebut. Jelas bahwa memang kepindahannya ke sekolah baru tersebut sudah direncanakan dengan begitu matang.
"Ah begitu, maaf ya saem tidak tahu. Terlalu banyak murid disini. Oh iya, panggil saja saya Ahn saem. Apa kau sedang mencari ruang Kepala Sekolah?" tanyanya ramah.
"Iya, Ahn saem."
"Kalau begitu, mari saem antar."
"Terima kasih, Ahn saem."
.
.
.
.
.
". . .jadi isomer fungsi dari senyawa hasil reaksi tersebut adalah asam butano-"
TOK TOK TOK
"Permisi." Ucap sosok yang berada di luar ruangan kelas tersebut.
"Tunggu sebentar ya anak-anak." Seorang guru kimia yang sedang mengajar itupun lantas bergegas keluar kelas.
"Iya. Ada apa, Ahn saem?" jawab lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya.
"Aku membawa seorang murid baru, ia akan menjadi siswa di kelas ini. Namanya Kim Mingyu." Mingyu segera membungkukkan badannya hormat ke arah guru barunya.
"Ah, begitukah? Baiklah, silahkan masuk. Terima kasih sudah mengantarnya, Ahn saem." Ujarnya ramah.
"Sama-sama, Kang saem. Nah Mingyu, ia adalah wali kelasmu sekaligus guru mata pelajaran kimia. Kau bisa memanggilnya 'Kang saem'. Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi."
"Terima kasih, Ahn saem." ujar Mingyu.
"Baiklah, ayo masuk dan perkenalkan dirimu di depan teman-teman barumu."
TAP
TAP
TAP
"Ehem. Anak-anak, mohon perhatiannya sebentar karena hari ini kalian kedatangan teman baru. Nah, silahkan perkenalkan dirimu."
"Annyeong haseyo, nama saya Kim Mingyu. Mohon bantuannya." ucap Mingyu singkat diiringi bungkukkan pertanda hormat.
"Wah, perkenalan yang sangat singkat ya." ucap sang guru dengan kekehan ringan, ia berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba begitu sunyi.
Mingyu bukan tidak menyadari segala pandangan memuja dari para kaum hawa dan delikan sebal dari para lelaki. Justru karena ia terlalu peka dengan keadaan, makanya ia berusaha memperkenalkan diri sesingkat mungkin.
"Ah maafkan saya, Saem." Ujar Mingyu merasa tidak enak hati.
"Hei tidak apa-apa. Saem mengerti perasaanmu. Pasti kau masih merasa canggung, tapi percayalah anak-anak di kelas 3-3 ini ahlinya dalam menghidupkan suasana. Jadi saem ucapkan selamat datang di Gureum High School dan semoga kau bisa mengikuti pelajaran dengan baik."
"Tentu, saem."
"Hmm sebaiknya kau duduk dengan," lelaki paruh baya yang dipanggil oleh muridnya dengan sebutan 'Kang saem' tersebut menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ia menemukan salah satu murid 'kesayangannya' tengah melakukan hal yang sudah dihapalnya di luar kepala. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya –seperti biasa.
"Dia. Ya, kau lihat anak lelaki yang tengah menelungkupkan kepalanya di meja paling belakang samping jendela itu? Duduklah dengannya dan tidak usah ragu-ragu jika kau ingin memukul kepalanya agar ia terbangun."
"A- ah, baiklah."
.
.
.
.
.
Waktu bergulir hingga tak terasa posisi matahari sudah tegak lurus dengan bumi, suhu berada di tingkat tertinggi yang mampu membuat emosi siapapun tidak stabil.
'Aish! Tidak bisakah si tua bangka itu menghentikan ocehannya?!'
'Ya Tuhan, kimia sudah cukup memanaskan otak. Lalu sekarang sejarah? Aku lelah!'
'Jinjja! Sejak kapan jerawat di hidungku ini tumbuh? Sialan!'
'Anak baru itu cukup tampan. Jika aku bertaruh dan bisa mendapatkannya, aku akan meminta hadiah yang mahal!'
'Perutku lapar! Lapar! Lapar! Lapar!'
'Kenapa bel belum berbunyi sih?! Kenapa cuaca hari ini begitu panas?! Argh! Semuanya menyebalkan!'
Mingyu mengernyitkan dahinya, ia benar-benar merasakan pening di kepalanya. Bagaimana tidak? Telinganya begitu panas mendengar segala racauan, rutukan, bahkan makian teman-temannya.
"Ck, tidak bisakah mereka diam?" gumam Mingyu disertai helaan napas beratnya.
"Siapa yang kau suruh diam, Kim Mingyu?" tanya guru di depan kelas yang sejak tadi menjabarkan cerita sejarah. Ia menaikkan kacamata bacanya yang melorot dan menatap tajam siswa yang baru ditegurnya.
Sontak pandangan semua siswa mengarah padanya, membuat yang dipanggil merasa bingung dan gelagapan. "Ti-tidak, saem. Mungkin anda salah dengar, maafkan saya." jawabnya sambil menundukkan kepalanya –simbol permintaan maaf.
"Baik, sampai mana kita tadi? Ah! Maka sejak tahun-"
KRIIING! KRIIING! KRIIING!
Tanpa memedulikan guru di depan kelas yang masih berdiri di posisinya, semua murid sudah berhamburan keluar kelas dan guru tersebut hanya bisa merutuk kelakuan muridnya di dalam hati.
'Murid kurangajar! Tingkah anak zaman sekarang benar-benar memprihatinkan.'
Mingyu hanya menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut.
Tunggu.
Iya, kalian tidak salah.
Jangan heran, meskipun guru tersebut bicara dalam hati tapi pada kenyataannya lelaki berkulit tan yang baru hari ini menyandang status sebagai siswa Gureum High School bisa mendengarnya.
Itulah salah satu penyebab kepalanya pening, karena suara hati teman-temannya juga bisa ia dengar. Apa ya disebutnya? Kemampuan istimewa kah? Entahlah, Mingyu sendiri juga tidak tahu.
Yang pasti ibunya pernah bilang jika kemampuan Mingyu memang turun-temurun dari keluarga sang Ibu, dengan aturan alam dimana kemampuannya itu melompati satu generasi. Jadi ibu Mingyu tidak memiliki kemampuan tersebut, yang memilikinya adalah Mingyu, lalu neneknya, dan begitu terus hingga ke generasi atasnya.
Sampai saat ini yang mengetahui kemampuanya hanya ibu dan ayahnya saja. Mingyu anak tunggal, omong-omong.
Tenggelam dalam lamunannya membuat ia tidak sadar jika teman sebangkunya yang sedari pagi tertidur dan hanya bangun sesekali, sedang meregangkan otot tubuhnya yang kaku karena tertidur dengan posisi tidak nyaman.
Lelaki bermata sipit itu sontak membelalakan matanya saat menyadari ada objek asing masuk ke penglihatannya. "Siapa kau?" tembaknya langsung tanpa basa-basi.
"Eoh? Annyeong, aku Kim Mingyu. Aku murid baru disini."
"Oh geurae. Sejak kapan kau duduk disini?"
"Sejak pagi."
"Oh jinjja?! Aigoo maaf ya. Aku habis menonton pertandingan bola tengah malam tadi, jadi aku benar-benar mengantuk dan tidak menyadari keberadaanmu."
"Iya, tidak apa-apa."
"Oh iya, namaku Kwon Soonyoung. Senang berkenalan denganmu, omong-omong kau pindahan dari sekolah mana?"
"Aku dari Cheongug High School."
"Mwoya?! Sekolah itu sangat bagus dan terkenal, kenapa kau malah pindah kesini?" tanya Soonyoung penasaran.
'Aigoo pasti dia berasal dari kalangan atas. Untuk apa dia bersekolah di sekolah biasa seperti ini? Disini ia hanya akan menemukan anak-anak sepertiku yang berasal dari keluarga sederhana.'
Mingyu hanya menatap teman barunya dalam diam, jujur inilah yang paling ia takuti. Ia tidak suka jika orang-orang akan canggung dengannya hanya karena status dirinya yang berasal dari keluarga kaya raya.
"Ah begitukah? Aku pindah karena ingin saja, sebab disana tidak begitu membuatku nyaman." jawab Mingyu dengan jujur.
Bagaimana bisa nyaman jika pikiran teman-temannya di Cheongug High School hanya berkutat pada pesta mewah, berburu mobil limited edition, bersaing membeli ponsel keluaran terbaru, dan sejenisnya. Itu semua cukup membuat Mingyu muak.
'Woah… Apa yang membuatnya tidak nyaman disana? Eh?! Cukup Kwon Soonyoung, berhenti mencampuri urusan orang lain!'
"Oh. . . Eh hei, sekarang sudah jam istirahat kan? Apa kau ingin ke kantin bersama ku?" tanya Soonyoung.
'Tapi kantin di sekolah ini sangat biasa, tidak mungkin sebagus kantin di sekolah lamanya. Apa tidak apa-apa mengajaknya? Apa ia akan nyaman?'
Mingyu benar-benar merasa tersentuh saat suara hati teman barunya itu terngiang di kepalanya. Ia bisa merasakan ketulusan di tiap kata yang Soonyoung lontarkan, diam-diam Mingyu menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kantin? Tentu saja, aku juga sudah lapar."
"N-ne? Sungguh? Tapi kantin disini ti-"
"Sudahlah, ayo. Aku lapar, Soonyoung hyung. Kajja!"
"Mwo? Hyung?"
"Iya, kurasa aku setahun lebih muda darimu. Karena dulu saat kecil, ibuku terlalu cepat memasukanku sekolah."
"Usiamu berapa?"
"Tujuh belas."
"Ah geurae, aku delapan belas. Oh iya, ayo cepat ke kantin. Aku ingin makan nasi goreng kimchi spesial buatan Jung ahjumma. Kau tahu? Itu nasi goreng terenak kedua setelah buatan ibuku, aku juga akan menunjukkan makanan-makanan enak yang ada di kantin padamu."
Dan perjalanan mereka ke kantin diisi dengan segala ocehan dari si periang, Kwon Soonyoung.
.
.
.
.
.
"Hoi Kwon, disini!"
Soonyoung yang baru saja menapakan kakinya di kantin langsung menoleh begitu mendengar suara familiar memanggilnya. "Mingyu-ya kau tidak keberatan kan bergabung dengan teman-temanku?"
"Tentu, tidak masalah."
Mereka berdua pun menghampiri meja dimana sudah ditempati oleh tiga orang, salah satu diantaranya yaitu Jun –yang barusan memanggil Soonyoung- dan dua sosok lain yang duduk di hadapan Jun.
"Annyeong Jihoonie~" ucap Soonyoung dan langsung duduk disebelah kiri lelaki berperawakan mungil.
PLAK!
"Hentikan Kwon. Kau menggelikan."
"Ish Jihoonie~"
"Soonyoung, dia siapa?" tanya Jun yang sudah terbiasa dengan pertengkaran antara Soonyoung dan Jihoon. Ia mendapati sesosok lelaki asing yang ikut bersama Soonyoung.
"Eoh? Ohiya perkenalkan namanya Kim Mingyu, dia anak baru di kelasku dan ia berusia setahun di bawah kita." ucap Soonyoung.
"Annyeong haseyo, kalian bisa memanggilku Mingyu." jawab Mingyu sambil membungkukkan tubuhnya.
"Ne, Annyeong. Aku Lee Jihoon dari kelas 3-1. Kau bisa memanggilku 'Jihoon hyung'."
"Namaku Wen Junhui, aku dari China. Kau bisa memanggilku 'Jun hyung' atau 'Jun gege', terserah. Aku berasal dari kelas yang sama dengan Jihoon. Duduklah disampingku, apa kau tidak lelah berdiri terus?" ujar Jun ramah. Mingyu pun akhirnya duduk disamping Jun. Ia duduk berhadapan dengan seseorang yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja.
". . ."
"Yak! Kau tidak berniat memperkenalkan dirimu, Jeon?" heboh Soonyoung pada lelaki yang duduk di sebelah kanan Jihoon.
Seseorang yang sedari tadi menundukkan wajahnya sontak mengangkat kepalanya dan menatap wajah anak baru yang diketahuinya bernama Kim Mingyu. Wajahnya mendadak pucat, ia terlihat begitu gelisah.
"Aku Jeon Wonwoo." ujarnya singkat seraya menelan ludah dengan kesulitan. Ia langsung membuang muka, tidak berminat menatap wajah Mingyu lebih lama.
Mingyu tersentak saat sepasang netranya bersibobrok dengan mata jernih yang terhalangi kacamata bulat itu –meski hanya sesaat. Ia seakan tersadar sesuatu, "Kau yang tadi pagi tertabrak olehku kan?!" tanya Mingyu.
Wonwoo mengernyitkan alisnya, namun sedetik kemudian ia mengangguk pelan.
"Eoh kalian sudah bertemu rupanya?" tanya satu-satunya lelaki yang berasal dari China.
"Iya, Jun hyung. Tadi pagi aku tidak sengaja menabrak Wonwoo-ssi dan membuat bukunya terjatuh. Hmm Wonwoo-ssi, sekali lagi aku minta maaf."
"Bukan masalah, lupakan saja. Oh iya aku lupa jika ada urusan, aku harus pergi ke perpustakaan sekarang." Wonwoo bergegas, siap beranjak pergi.
"Tapi kau belum makan apapun, setidaknya belilah roti dan susu untuk mengganjal perut. Jangan sampai gastritis mu kambuh lagi." nasihat Jihoon yang begitu menyayangi sahabatnya tersebut.
"Iya, kalau begitu aku duluan. Permisi." pamit Wonwoo, siapapun bisa melihat dengan jelas jika Wonwoo tengah terburu-buru.
Hingga saat Wonwoo hilang dari pandangan, Soonyoung mengernyitkan alisnya "Ada apa dengannya? Kenapa dia begitu aneh?"
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik kau cepat memesan makanan sebelum nasi goreng kimchi favoritmu habis." ujar Jun.
"Ohiya! Aish jinjja. Yak Mingyu-ya, apa kau akan tetap melamun seperti itu atau ikut aku memesan makanan?"
"N-ne? Ah, kajja hyung."
.
.
.
.
.
Seumur hidupnya Mingyu terbiasa membangun dinding kokoh di hatinya agar ia tidak mudah dekat dengan orang lain. Semuanya bukan tanpa alasan, ini demi kebaikannya sendiri karena kemampuannya membuat ia bisa dengan mudah mengetahui isi hati seseorang yang sesungguhnya.
Dan sejauh ini dapat dihitung dengan jari seseorang yang berniat berteman dengannya secara tulus, sebab berada di lingkungan yang sederajat dengan keluarganya membuat ia tersadar jika sebagian besar teman-temannya terlalu mengagungkan harta kekayaan. Tidak memedulikan orang lain dan begitu angkuh dalam segala hal.
Tapi keputusan besar yang pada awalnya ditentang sang Ayah yaitu pindah ke sekolah biasa, membuat Mingyu begitu bahagia. Ia tidak menyesal sama sekali, justru ia merasa bersyukur karena ia bisa menemukan beberapa teman yang begitu tulus seperti Soonyoung, Jihoon, dan Jun.
Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak sejam yang lalu, namun sebagai anak baru tentu masih ada beberapa hal yang harus Mingyu urus. Salah satunya buku pelajaran, maka tidak heran disaat sekolah sudah sepi Mingyu justru berada di perpustakaan guna meminjam buku yang diperlukan.
BRAK!
"Aw! Ssshh sakit. . ."
Mingyu berjengit kaget saat mendengar suara debuman diiringi rintihan. Dengan mengandalkan nalurinya ia menghampiri rak buku yang berada di sudut perpustakaan, terlihat menyeramkan karena begitu minim pencahayaan dan cukup jauh dari pengawasan penjaga perpustakaan.
"Eoh? Wonwoo-ssi?" ujar Mingyu, ia terkejut menemukan Wonwoo tengah terduduk dengan beberapa buku yang –sepertinya- terjatuh telah berhamburan di sekitarnya.
Merasa namanya dipanggil membuat Wonwoo menoleh, bola matanya melebar. "Stop! Berhenti disana!" pekiknya refleks.
Mingyu yang awalnya berniat mendekat untuk membantu langsung menghentikan langkahnya mendadak, ia heran.
'Kenapa dari awal melihatku dia terlihat begitu gelisah? Atau itu hanya perasaanku saja?' batin Mingyu menerka-nerka sikap Wonwoo padanya.
"Tapi, kupikir kau sepertinya butuh bantuan Wonwoo-ssi." ucap Mingyu ragu.
"T-tidak! Tidak perlu, aku bisa sendiri." Wonwoo berdiri dan ia mulai memunguti satu per satu buku yang terjatuh. Berusaha sekeras mungkin mengabaikan eksistensi Mingyu.
Saat akan menaruhnya kembali, Wonwoo terlihat begitu kesulitan karena meskipun sudah berjinjit tetap saja ia tidak bisa menggapai rak paling atas yang begitu tinggi. Mingyu yang melihatnya hanya berdecak sebal, 'Dasar keras kepala!' batinnya mengejek.
SRET!
DEG
DEG
DEG
Wonwoo merasakan jantungnya berdegup begitu kencang, bukan karena posisi punggungnya yang menempel dengan dada bidang di belakangnya. Tapi justru karena ia merasa begitu ketakutan, tangannya yang sedang dipegang oleh Mingyu –sebenarnya Mingyu berniat memegang buku yang berada di tangan Wonwoo- terlihat bergetar. Mingyu yang menyadari ada yang tidak beres dengan Wonwoo segera memundurkan tubuhnya.
Wonwoo membalikan tubuh dan menemukan Mingyu sedang mengusap tengkuknya dengan sebelah tangan, ia salah tingkah. "Maaf Wonwoo-ssi, aku tidak bermaksud melakukan apapun. Sungguh! Aku hanya ingin membantumu. Apa kau keberatan?"
". . ."
"Wonwoo-ssi?"
"T-tidak! M-maksudku, aku tidak keberatan." Wonwoo menyerahkan buku yang dipegangnya pada Mingyu, tangannya benar-benar terulur panjang dengan kaki yang masih terpaku di tempatnya. Tidak berniat sama sekali mendekati Mingyu.
"Wonwoo-ssi?"
"Iya?"
"Permisi. Aku sulit menaruhnya jika kau berada di situ."
"A-ah iya, maaf." Wonwoo segera bergeser, ia menundukan wajahnya.
Mingyu yang melihat perilaku Wonwoo hanya menggeleng, sebenarnya ia cukup terpikat dengan wajah dingin Wonwoo yang entah kenapa justru menarik seluruh atensinya. Membuatnya begitu penasaran.
"Sudah."
"Hm terima kasih, Mingyu-ssi."
"Mingyu."
"Hah?"
"Panggil aku 'Mingyu' saja, tidak usah seformal itu. Dan bolehkah aku memanggilmu 'Wonwoo hyung'?" tanya Mingyu.
Sungguh, sempat terbesit di pikirannya jika sosok di depannya memang memiliki kebiasaan menunduk di hadapan orang lain. Karena terhitung sejak pertemuan pertamanya dengan Wonwoo, Mingyu belum pernah melihat sosok tersebut memandang wajahnya ketika berbicara.
'Eh? Atau hanya padaku saja?' batin Mingyu.
"Baiklah Mingyu-ya. Omong-omong, aku harus pulang sekarang. Permisi."
"Tung-" ucapan Mingyu terputus begitu saja karena Wonwoo telah mengambil langkah seribu untuk pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kamar yang temaram dimana pemiliknya tengah berbaring di atas ranjang berukuran king-sized tersebut begitu sunyi dan hanya diisi dengan suara detikan jam dinding.
Mingyu menerawang segala hal yang terjadi pada hari pertamanya sekolah di Gureum High School. Semuanya terasa wajar hingga ingatannya terpaku pada sosok lelaki pendiam yang sebenarnya berparas manis dengan kacamata bulatnya.
'Eh? Manis? Ish! Ada apa dengan otakku?' batin Mingyu merutuk.
Mingyu mengingat-ingat lagi sosok misterius tersebut, ia tidak mengerti mengapa Wonwoo begitu menghindarinya dengan pancaran mata yang diliputi ketakutan tiap melihatnya.
Jarum panjang pada jam merayap seiring detik berlalu. Tanpa disadari, Mingyu sudah menghabiskan bermenit-menit waktu di dalam hidupnya untuk memikirkan sosok Jeon Wonwoo.
Merasa tersesat dalam labirin yang dibuat pikirannya sendiri, Mingyu pun mengacak rambutnya frustasi.
"Ck, andai Jeon Wonwoo sama seperti yang lain. Pasti aku tidak akan serisau ini! Argh Jeon Wonwoo apa yang kau lakukan padaku?!" teriak Mingyu. Ia akhirnya membungkus tubuhnya dengan selimut, menggulung diri layaknya kepompong dan berusaha tenggelam ke alam mimpi.
Ya, memang Jeon Wonwoo itu berbeda.
Karena apa?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ia satu-satunya orang yang suara hatinya tidak bisa didengar oleh Kim Mingyu.
TBC
*Hai, aku muncul lagi. Hehe hanya merealisasikan apa yang otak aku khayalin /? tentang meanie.
**Btw aku ngambil kemampuan Mingyu berdasarkan drama "I can hear your voice" tapi sejujurnya aku bahkan nontonnya cuma dua episode, kalo ga salah sih episode 3 sama 4, itu juga liat di ind*siar. Selebihnya ga pernah nonton, jd aku gatau jalan cerita drama itu kaya apa.
***Ini masih awalllllll banget, jadi mungkin masih ada banyak hal yang belum terungkap. Adakah yang berminat sama cerita ini? Atau ngga ada?
****Mind to RnR? Gomawo^^
