Disclaimer : Bleach is not mine.

Alternate Universe. OOC. Shounen ai (Yaoi for later? I haven't decided yet.)

AN : So I decided to write about my favorite chara, Tesla Lindocruz, with something different from my usual fluff-style. Background yakuza di sini diambil dari sebuah manhwa, Totally Captivated, karena saya tidak paham dengan hal-hal demikian. Tesla dalam cerita ini adalah dia saat Nnoitra masih berstatus sebagai 8th Espada, tanpa eyepatch dan panjang rambutnya hampir sebahu.

Part 1 – The One That Left Behind

Seorang pria berambut biru terang duduk di bingkai jendela dengan kaki dilipat santai. Pada sela bibirnya terselip cerutu yang tinggal setengah dari panjang semula, mengepulkan asap seperti kereta api. Selain suara tik-tok jarum jam dan sirene mobil polisi dari kejauhan, semuanya tenang. Sesekali terdengar helaan nafas dari pria bermata biru bernama Grimmjow Jaegerjaques itu.

Getar ponsel di atas meja mengalihkan perhatiannya dari luar jendela. Sambil mendengus ia melompat turun, menjulurkan tangan untuk mengambil ponselnya.

"Apa yang membuatmu berani mengganggu soreku yang tenang, Ulquiorra?" Bukan sapaan hangat yang ia lontarkan pertama kali; ia tidak terbiasa mengucap salam dan berbasa-basi, membicarakan cuaca dan hal-hal sepele lainnya. Bukan gayanya. Lagipula si penelepon juga tidak ada waktu untuk itu. Mereka tidak punya waktu untuk dibuang percuma.

"Aizen-sama menyuruh untuk berkumpul di markas pusat sekarang juga." Suara datar Ulquiorra Schiffer dari seberang terdengar statis.

"Ya, ya, baiklah." Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia mengakhiri panggilan. Berdecak kesal. "Apa yang begitu penting sampai mengganggu waktu istirahatku?"

Grimmjow menyambar jasnya pada sandaran kursi dan memakainya sambil melangkah keluar dari ruangannya. Di tengah jalan ia meneriaki bawahannya untuk segera menyiapkan mobil. Begitu keluar dari gedung ia berdecak menyaksikan langit sore mulai gelap. Jam-jam segini bukan waktunya bekerja. Ia akan mengingatkan dirinya nanti untuk meminta Aizen membayar upah lembur hari ini.

Saat ia memasuki ruang pertemuan, sebagian besar dari mereka sudah berkumpul. 'Mereka' yang dimaksud ini bisa dibilang sebagai rekan kerja Grimmjow. Mereka bersepuluh ―termasuk Grimmjow sendiri― atau sering disebut sebagai Espada, adalah subordinat Aizen. Bisa dikatakan dia adalah mafia, meski hal tersebut kerap dibantah keras dan Aizen lebih senang menyebut dirinya sebagai pebisnis yang baik dan legal. Tapi apa pun itu, pada prakteknya, pekerjaan yang dilakukan oleh kesepuluh anak buahnya tidak jauh-jauh dari kekerasan dan perebutan wilayah kekuasaan.

Delapan orang. Kurang satu lagi, Grimmjow mencatat dalam hati.

"Di mana Nnoitra?" Grimmjow bertanya, setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling seperti guru yang sedang mengambil presensi. Bukannya ia peduli, tapi Nnoitra masih punya hutang padanya. Ia datang ke sini juga untuk meminta pelunasan.

"Karena itu aku meminta kalian berkumpul. Duduklah, Grimmjow." Aizen tiba-tiba muncul dari pintu di belakangnya. "Aku yakin kalian semua sudah tahu kalau ada sedikit masalah di Ginza."

Mereka terdiam. Ginza adalah wilayah kekuasaan Nnoitra, sebagaimana Grimmjow memegang kuasa atas Akihabara. Beberapa minggu ini ada sedikit perselisihan dengan kelompok yakuza setempat, yang kabarnya merasa tersaingi oleh keberadaan Aizen. Namun bagi pebisnis seperti mereka, gesekan dengan kelompok tertentu adalah hal biasa. Bukan masalah yang besar sampai-sampai Aizen sendiri harus turun tangan, karena itu adalah tugas Espada di tiap daerah kekuasaannya masing-masing.

"Apa situasi memburuk? Nnoitra tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri?" Harribel angkat bicara. Sepasang matanya memicing sengit. Sepertinya wanita itu juga kesal karena waktunya terganggu.

Aizen menangkupkan kedua tangannya, menghela nafas. "Aku tidak ingin mengakuinya, tapi situasi di Ginza sudah tidak terkendali. Untuk sementara waktu Gin yang mengambil alih, tapi dalam waktu dekat ini aku harus mencari orang lain atau terpaksa melimpahkan Ginza kepada seorang di antara kalian. Opsi terakhir sepertinya lebih menjanjikan. Aku tidak mungkin dengan tiba-tiba mengangkat orang lain menjadi subordinat."

Mereka bertukar pandang satu sama lain. Mencari pengganti Nnoitra atau melimpahkan kekuasaan Ginza. Sesuatu pasti telah terjadi pada orang itu.

"Apa dia mati?" Kali ini Szayel yang bicara.

Semuanya sudah jelas. Entah mati karena pertarungan dengan yakuza atau mati di tangan Aizen, itu tidak penting lagi. Dalam bisnis kejam seperti ini, hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.

"Hmm, padahal aku ingin menghukum Nnoitra dengan tanganku sendiri. Tapi harus kuakui, pelakunya melakukannya dengan cerdas. Tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Cukup mengejutkan."

Perbincangan mengenai kematian seseorang seperti sedang mendiskusikan masalah bisnis ringan. Tapi Grimmjow sedikit terkejut mendengarnya. Nnoitra bahkan lebih kuat dan menduduki peringkat lebih tinggi dari dirinya. Padahal orang itu masih punya hutang kepadanya. Grimmjow menggeram kesal. Kepada siapa dia harus menagih? Tidak mungkin dia meminta kepada abu Nnoitra.

"Grimmjow." Kepalanya langsung terangkat begitu mendengar namanya disebut. "Aku dengar kau cukup dekat dengan Nnoitra. Benarkah itu?"

Apa Nnoitra meninggalkan sesuatu untuknya?

"Tidak juga, Aizen-sama."

Aizen tampak berpikir, mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja. "Tapi kalian sering berselisih. Benar?"

Yang seperti itu tidak bisa dibilang dekat! Grimmjow menggerutu dalam hati.

"Gin tidak membutuhkan anak buah, tapi aku tidak cukup jahat untuk memecat orang yang ikut andil dalam berkembangnya bisnis ini. Lagipula kau tidak mempunyai asisten, kan?"

Sebelah matanya mengejang. Grimmjow punya perasaan tidak enak dengan ke mana arah pembicaraan Aizen. Ia tidak mau terlibat lebih jauh lagi.

"Aku tidak membutuhkan asisten. Berikan saja pada yang lain." Ia mendengus. Tidak peduli pada tatapan dingin Aizen kepadanya.

"Hanya kau yang tidak memiliki asisten, Grimmjow. Kau harus belajar mempercayai orang lain. Aku tidak langsung membuangnya karena aku tahu dia berguna. Kalau saja dia sudah cukup umur tentu aku akan menyerahkan Ginza kepadanya." Tidak ada yang berani menyela. Tidak juga Grimmjow. Nada bicara yang digunakan Aizen menjanjikan hukuman berat jika dilanggar.

"Tesla, masuklah."

Pintu terbuka. Dari baliknya muncul seorang pemuda berambut pirang keruh dalam setelah jas hitam. Sepasang mata coklatnya terlihat sayu dan tidak hidup.

Tesla Lindocruz, tangan kanan Nnoitra. Grimmjow sudah beberapa kali bertemu dengannya. Seingatnya pemuda itu tidak cukup berguna, hanya mengikuti Nnoitra seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Fungsinya saja tidak lebih dari sekedar punching bag saat Nnoitra sedang kesal. Bagaimana mungkin Aizen berpikiran untuk menyerahkan Ginza ke tangan seorang bocah ingusan seperti dia?

"Tesla, mulai sekarang kau akan bekerja di bawah pimpinan Grimmjow. Itu artinya di Akihabara. Kau tidak keberatan, kan?" Aizen tersenyum kepadanya.

Tesla menggelengkan kepala pelan.

Grimmjow mendengus melihatnya. Apa yang sudah dilakukan oleh bocah itu sehingga mendapat perlakuan istimewa dari Aizen? Padahal biasanya Aizen tidak ambil pusing dan membuang orang-orang yang tidak berperan langsung terhadap bisnisnya. Seorang espada mati, kenapa asistennya masih dipertahankan? Dan sekarang ia yang diberi tanggung jawab untuk mengurus bayi itu!

"Cih, jadi sekarang aku babysitter bocah ini?" Grimmjow melempar tatapan tidak suka pada Tesla. Dia tidak percaya sudah diserahi tanggungan semacam ini oleh Aizen. Merepotkan.

"Aku yakin kau akan menyukainya, Grimmjow."

Dengan itu pertemuan pada petang hari tersebut ditutup.