Ketukan gerimis menggema. Menarik atensi pria berambut raven yang duduk di bangku terujung menghadap jendela. Mangkuk di hadapannya sudah habis ditandasnya. Manik hitam terbuka menerawang, menembus rintik air yang luruh ke tanah. Kata mereka: hujan turun menyeretmu kembali menuju memori-memori masa lampau. Entah siapa pencetusnya, namun ia setuju dengan filosofi ini.
Sasuke –pria itu melirik lengan kirinya.
Suatu waktu usai perang dunia terakhir, ia menolak dipasangi tangan buatan pengganti lengannya yang hilang. Mencukupkan sisa hidup dengan satu tangan. Tindakannya berarti penebusan dosa sekaligus pengingat kesalahannya di masa lampau.
Seorang pelayan datang membereskan mangkuk dan piring. Sasuke mengeluarkan berkeping uang dari balik mantel dan menyerahkannya padanya.
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sebuah keluarga kecil; Sepasang orang tua dengan anak gadisnya bercengkerama hangat. Rindu tiba-tiba menyelusup. Ia membayang dua wajah lembut perempuan paling disayanginya yang ia tinggalkan berbulan lalu. Apa yang sekarang sedang Sakura dan Sarada lakukan? Apakah mereka juga merasakan rindu yang sama sepertinya? Atau justru lebih besar kerinduan mereka?
Ia mengalihkan tatapan ke luar lagi, mengawasi titis-titis bening yang jatuh. Terbayang wajah polos Sarada yang bertanya: "Kapan Papa pulang? Tiga bulan, dua bulan lagi? Lama sekali." Diikuti mimik wajah Sarada yang mengerucut kecewa. Dan wanita bersurai pink yang dengan sabar nan lembut menenangkannya, membelai surai hitam sang putri.
Juga wajah tabah nan tegar Sakura. Wanita serupa musim semi yang hanya tersenyum kecut kala ditodong pertanyaan beruntun ibu-ibu penggosip di kedai sayuran langganannya: "Kapan suamimu pulang? Kau tidak bosan menunggunya? Jika jadi kau, aku sudah pasti meninggalkannya dan cari yang lain," yang diikuti oleh gelak tawa menyudutkan.
Bagi seorang Uchiha Sasuke yang dingin, meninggalkan keluarga bukan berarti melupakan tanggung jawab. Justru di situlah letak kejujuran dan keikhlasannya. Kala ia berjalan seorang diri, melintasi gurun pasir memanggang. Mengarungi hutan salju membeku. Ia sedang menunaikan amanat negeri. Misi penting yang diembannya kini berkaitan erat dengan keselamatan peradaban umat manusia.
Sinar mentari pagi terlalu terik hingga membangunkan pria Uchiha. Ia membuka mata yang sedari tadi terpejam. Ia tidur dengan posisi duduk.
Semalam, dia memutuskan menumpang berteduh di teras kedai ini.
Sasuke berniat bangkit melanjutkan perjalanan. Ia mengernyit kala manik hitamnya menangkap sekuntum bunga Azalea menyembul dari dalam tasnya, kelopak berwarna pink kusam itu hampir layu.
Kemarin, elang pengantar suratnya membawa gulungan dari Hokage. Ia menahan haru saat membuka isinya. Sekuntum bunga terselip dalam pucuk surat Sarada. Surat yang singkat: "Papa, bagaimana misimu? Aku dan Ibu selalu mendoakanmu, kami sabar menunggu."
Ia tersenyum tipis. Jarak menuju Konoha tinggal sedikit lagi. Jika tak ada halangan seperti hujan atau badai, tengah malam nanti ia bisa sampai desa tepat waktu.
Ah, Sasuke sudah tak sabar mengayunkan kakinya lagi. Penat yang dirasanya hilang membayangkan rumah masa kininya. Rumah tempatnya kembali. Tempat dimana dua sosok perempuan pemilik hatinya setia menanti dan menyambut hangat kepulangannya.
Ia sering terlewat dari pandangan
Ayah, sang Azalea. Lambang ketulusan.
Tanpa dipinta, ia terus bekerja
Tanpa dinilai, ia tetap menuntaskan bakti
Tanpa pamrih
Bertahan menerjang cadas kehidupan
Bunga liar di bukit gersang
Tenteram menyejukkan dibalik sahaja yang menghangatkan
