BLACK BOX / Old!fic / Converted from 2Min to JeongCheol Ver.

PDA Presents

Support Casts:

Junhwi

Seokmin

Lee Jonghyun

Jung Younghwa

.

.

.

18 Maret 2014

"Bertengkar lagi?" Desahan nafas berat itu Jun anggap sebagai jawaban 'iya'. Si pria bersurai brunette menata cangkir-cangkir yang telah ia cuci kedalam lemari counter, sambil memikirkan beberapa nasihat yang sebenernya terlalu sering ia lantunkan melalui nada tenornya. Jun hanya perlu menghapalnya kembali, kemudian mencegah beberapa hal yang tidak diinginkan seperti mulutnya yang akan berbusa karena terlalu sering berceramah soal cinta dan berbagai perkaranya yang hampir sama setiap minggu. Ya, hampir setiap minggu.

Selesai dengan pekerjaannya, Jun melangkah menghampiri Jeonghan yang membaringkan kepalanya lesu diatas meja. Jun duduk berhadapan dengan sahabatnya yang berambut brunette panjang, meringis menyaksikan aura gloomy yang nampak jelas disekitar Jeonghan bagai awan kabut yang biasa muncul sebelum badai topan melanda Amerika Selatan. Ck, menyedihkan.

"Kau menyerahkan diri sebagai santapan malam, hah? Kepalamu itu sudah persis seperti sebuah hidangan, tergeletak lesu diatas meja makan."

Jeonghan mengerucutkan bibir dan mengernyit sebal, dengan terpaksa ia mengangkat kepalanya dan menatap Jun yang balik memandangnya sendu sambil menopang dagu. Tahukah kau Kibum, Jeonghan malah jadi benar-benar ingin menangis sekarang.

"Hey, Jeonghan-ah.. Kalian bahkan bertunangan belum genap 2 minggu. Tapi kenapa masih sempat untuk bertengkar, huh?"

"Seungcheol tidak mencintaiku.."

"Kau seperti anak kecil."

"Tapi dia memang benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi, Jun..." Jeonghan memanjangkan nadanya dan hampir berteriak kesal. Jun hanya mendengus maklum, membiarkan 1 menit berlalu percuma sampai akhirnya Jeonghan mau melanjutkan ceritanya.

Jun sudah sangat hapal dengan semua ini.

"Seungcheol... Choi Seungcheol... Dia..."

Alis Jun terangkat, tidak biasanya Jeonghan bercerita dengan terbata *karena biasanya Jeonghan akan mengomel panjang tanpa jeda dan memukul-mukul meja sebagai wujud kekesalannya terhadap Seungcheol* dan keburu menangis di awal cerita, atau tepatnya bahkan sebelum ceritanya dimulai.

"Kau kenapa? Apa kali ini pertengkarannya bukan karena Seungcheol yang tidak menelponmu selama 2 jam, atau Seungcheol yang tidak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya saat sedang jalan denganmu, atau karena Seungcheol terlambat menjemputmu, atau-"

"Seungcheol mencuri..."

"Pffttt.." Jun hampir saja meledakkan tawanya kalau saja jemari putihnya terlambat membekap mulut cherry itu. Hampir saja ia mengabaikan fakta bahwa Jeonghan sudah benar-benar terisak sekarang.

"Mencuri apa? Mencuri susu pisangmu? Atau lagi-lagi mencuri ciuman mahalmu itu, hah?"

"Lebih parah... Seungcheol mencuri malam pertama kami yang seharusnya terjadi setelah kami menikah..." Jeonghan menyembunyikan seluruh wajahnya dalam tundukan. Ia menangis, terisak, dan meracau aneh hingga yang bisa ditangkap oleh telinga Jun hanyalah nama Choi Seungcheol yang selalu mendapat penekanan diakhir kalimat.

Yah, ini kedengarannya memang buruk. Apalagi hal ini terjadi dalam sebuah hubungan yang sedang dijalani oleh seorang pria muda kuno bernama Yoon Jeonghan. Kau benar. Semua orang tahu bahwa sepasang gay tentu akan melakukan sex tak peduli harus menikah terlebih dahulu atau tidak.

Tapi semua akan berbeda jika kau memilih Jeonghan sebagai pasanganmu. Pemuda itu begitu menghargai keperjakaannya, dan baginya cinta tidak harus selalu disangkut pautkan dengan hubungan badan. Bagi Jeonghan persetubuhan intim adalah hal yang amat sakral. Dan satu-satunya yang dapat Jun pikirkan saat ini hanyalah bagaimana menghajar pria raksasa bernama Choi Seungcheol dan menceramahinya panjang lebar karena telah melakukan kesalahan sefatal ini.

"Sudahlah, Jeonghan-ah..." Jun menghela nafas, bersunggut iba dan menarik dua pergelangan tangan Jeonghan yang masih berusaha menutupi wajah tangisnya.

"Ceritakan padaku. Apa saat itu Seungcheol sedang dibawah pengaruh alkohol?"

Jeonghan menggeleng pelan. Wajahnya masih penuh dengan air mata, membuat ringisan Jun semakin terdengar kentara.

"Kalian menonton blue film berdua?" Jeonghan menggeleng lagi.

"Lantas apa? Kau yang menggodanya?" Yah, itu pertanyaan paling konyol tapi, tak ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat Jun pikirkan selain 3 hal itu. Jeonghan kembali menggeleng. Kali ini menggigiti belahan bawah bibirnya dan sesekali mencoba untuk membuka mulut.

"Saat itu Seungcheol dalam keadaan sangat sadar. Kami tidak pernah menonton Blue film berdua kecuali adegan sex di Titanic, dan tak pernah sekalipun muncul didalam benakku untuk mencoba menggodanya." Jeonghan menjawab dengan suaranya yang mulai serak. Dan jujur.

Ya, Jun tahu semua itu dan lantas? Apa sebabnya?

"Malam itu, tidak biasanya Seungcheol pulang begitu larut sampai-sampai aku memilih untuk tidur duluan sebelum ia sampai dirumah."

Jeonghan menggerakkan tangannya cepat menghapus jejak-jejak air mata yang tertinggal dipipi pucatnya. Jun mendegarkan setiap perkataan Jeonghan dengan sabar.

"Setelah ia masuk ke kamar, Seungcheol membangunkanku dengan sangat hati-hati. Aku tak pernah berpikir sikapnya yang begitu lembut malam itu akan berakhir dengan sex. Seungcheol sudah tidak mencintaiku lagi, Jun... Dia berubah..."

.

.

.

"Dia tertidur setelah seharian menangis. Ya Choi Seungcheol, kalau saja barusan Jeonghan tidak mengigau memanggil namamu, aku bersumpah tidak akan menelponmu untuk menjemputnya malam ini."

Jun bicara sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Tatapan Jun mengekori gerakan Seungcheol yang berusaha mengangkat tubuh terlelap Jeonghan dari sofa apartementnya.

"Kau sudah membuatnya kecewa." Seketika Seungcheol menghentikan gerakannya saat kalimat itu mencuat dari mulut Jun. Jeonghan sudah berada digendongannya. Pria bersurai panjang itu nampak tenang dalam tidur, sama sekali tak terusik meski Seungcheol tengah mengangkat tubuhnya saat ini.

"Kenapa kau lakukan itu?"

Lagi-lagi pertanyaan Jun bagai telak menampar Seungcheol, sampai rasanya jantung pria itu hendak jatuh kebagian paling dasar tubuhnya. Seungcheol hanya memandangi lekat wajah tertidur Jeonghan dengan sendu. Penampilan pria tinggi itu nampak tak baik hari ini. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya, hanya saja dengan kemeja yang sudah tidak rapi dan rambut yang terlihat kusut. Buruk.

"Aku mencintainaya. Itu saja. Tidak ada alasan lain."

"Tapi kau kan tau kalau Jeonghan-ah-..."

"Sudahlah Jun. Ini kehidupanku.. Hubunganku dengan Jeonghan. Seharusnya kau tidak perlu terlalu khawatir karena aku yang lebih tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Jeonghan bahagia."

Jun terdiam. Seungcheol membenarkan posisi gendongannya sebelum melangkah menuju pintu keluar apartement. Jun hanya bisa mengekori langkah Seungcheol dan membukakan pintu untuknya keluar.

"Terima kasih sudah menjaga Jeonghan hari ini. Aku tahu, kau orang kedua yang Jeonghan butuhkan setelah diriku. Kuharap kau bisa tetap menjadi sahabat Jeonghan sampai seterusnya. Sampai jumpa."

Jun melongo didepan pintu. Ia mematut pandangannya pada sosok Seungcheol yang melangkah kokoh dengan tubuh Jeonghan yang terbaring digendongannya.

A-apa yang barusan terjadi? Choi Seungcheol... Ada apa dengan pria raksasa itu? Seungcheol tak biasanya bicara seformal dan seserius itu pada Jun. Tidak pernah kecuali saat mereka pertama kali bertemu dan Jeonghan yang mengenalkan mereka 2 tahun lalu. Apa baru saja ia bertemu dengan Choi Seungcheol yang berbeda? Ada berapa Choi Seungcheol yang menjadi kekasih Jeonghan di dunia ini?

Jun menggelang kuat menyadarkan dirinya dari sekelebat pemikiran bodoh yang menari-nari di otaknya. Sudahlah. Mungkin karena malam sudah terlalu larut dan Seungcheol kelihatannya sudah sangat lelah sepulang dari kantornya dan langsung menjemput Jeonghan kesini. Yah, Jun baru ingat. Jeonghan sempat bercerita kalau akhir-akhir ini Seungcheol selalu pulang tengah malam dan nampak stress akibat pekerjaannya di kantor.

.

.

.

Seseorang dari dalam rumah keluar dan segara membukakan pagar saat mobil Range Rover hitam milik Seungcheol tiba didepan pelataran. Stir pun mematah kekiri, langsung saja masuk dan mobil pun terparkir sempurna hanya dengan satu kali tancapan gas.

Seungcheol keluar dari dalam mobilnya dan langsung menghampiri pintu bagian kanan mobil. Ia mengeluarkan tubuh tertidur Jeonghan dan seorang pembantu rumah tangga langsung menutupkan pintu mobil itu untuknya. Jeonghan masih tetap terjaga bahkan sampai saat Seungcheol membaringkan raga kecil itu diatas tempat tidur mereka.

"Mianhae..." Seungcheol mengusap pelan dahi Jeonghan dan menyingkap helaian poni brunette yang menutupinya. Iris Seungcheol membening bagai tertutupi oleh embun. Perasaan sakit dari dadanya tiba-tiba naik dan membuatnya merasa pening. Ia sendiri tak tahu dari mana perasaan menyiksa ini bisa datang dan menggelayutinya. Seungcheol hanya takut... Takut kalau rasa gelisah ini merupakan pertanda adanya hal buruk yang akan terjadi pada hubungannya dan Jeonghan kelak.

Dan satu hal.

Seungcheol punya kabar tidak baik yang ia sendiri butuh waktu untuk bisa membicarakanya dengan Jeonghan. Tidak sekarang... Mungkin besok. Tapi Jun bilang Jeonghan sudah lelah menangis seharian ini. Apa Seungcheol masih tega untuk membuat kering air mata Jeonghan keesokan harinya juga?

"Maafkan aku, Angel... Kita harus menunda pernikahan kita.. Mungkin sampai tahun depan. Ada pekerjaan yang harus kulakukan di luar Korea. Maafkan aku..."

Beberapa tetes air mata mengalir sekaligus dari ujung kelopak Seungcheol. Ia merasa lubang udara di paru-parunya sudah semakin sempit. Seungcheol mengecupi punggung tangan Jeonghan berulang kali. Dirinya bahkan tak sanggup untuk sekedar membayangkan bagaimana hancurnya Jeonghan saat kenyataan ini harus ia dengar ketika fajar menyingsing esok hari.

Tapi tidak.

Tuhan menyaksikan semua ini diatas kuasanya.

Namun Jeonghan juga mendengarnya. Mendengar setiap ucapan Seungcheol, merasakan setiap sentuhan Seungcheol, dan mendengar setiap tangis pilu yang berasal dari pria itu.

Seungcheol menenggelamkan kepalanya dalam tangisan, sambil tetap menggengam tangan Jeonghan dan membuatnya basah oleh air mata.

Jeonghan telah mendengarnya. Ia tahu semua yang Seungcheol ucapkan malam ini. Pria pucat bertubuh kecil itu sekuat tenaga menahan reaksi aneh dari tubuhnya yang kini menegang dan kaku. Kepalanya menoleh kesamping kanan, berlawan arah dengan Seungcheol yang kini masih terisak sambil tetap menggenggam tangannya. Tangan kanannya yang bebas kini menutupi mulutnya yang mungkin saja akan mengeluarkan isakan pedih seperti Seungcheol.

Rasanya kebas. Jeonghan merasakan implusnya lumpuh dan paru-parunya bermasalah. Ia harap Seungcheol tak keburu bangun dari tundukannya dan membiarkan pria itu berpikir jika Jeonghan masih tertidur pulas saat ini dan tidak mendengar apa-apa. Jeonghan hanya tak mau kesedihan malam ini jadi seperti drama-drama yang ada televisi. Membayangkan dirinya yang menangis berpelukan dengan Seungcheol sampai pagi dan seolah-olah dunia akan runtuh karenanya.

Tapi sayangnya, kenyataan yang ia rasakan mungkin sama seperti drama murahan itu. Jeonghan benar-benar merasakan apa yang dikatakan oleh sang aktor sebagai "dunia runtuh" dan berharap bahwa semua ini tidaklah nyata.

.

.

.

15 Maret 2014

Jam analog yang terpajang didinding kamar menunjukkan pukul 1 dini hari. Mata berat yang dirasakan Jeonghan memaksanya membaringkan diri diatas ranjang, meski ia sama sekali tak ingin memejamkan mata sebelum ruang kosong disamping tempat tidurnya itu terisi.

Jeonghan memilin ujung kaus Mickey Mouse-nya dengan gusar, dengan tatapan yang tak lepas pada pintu kamar yang tertutup. Ia hanya berharap beberapa menit dari sekarang pintu itu akan terbuka dan menampilkan sosok Seungcheol pulang bersama raut lelahnya, membuat pria tinggi itu memilih untuk mengeluh dan bermanja sedikit pada Jeonghan malam ini. Ck... Bagaimanapun Jeonghan menyukai saat dirinya menenangkan Seungcheol dalam buaiannya, mengais lembut poni tunangannya itu sambil mengecup pipinya beberapa kali dalam baringan. Dengan begitu mereka akan terlelap sambil memeluk satu sama lain sampai cahaya matahari menembus jutaan serat pada tirai-tirai kamar.

Jarum detik yang terus bergerak menimbulkan nada intuisi yang membuat kelopak atasnya terasa semakin berat, membuai Jeonghan untuk segera mengistirahatkan matanya dan masuk ke alam mimpi dengan cepat. Beberapa menit berselang, pintu mahoni bercat putih itu berdecit saat seseorang memutar knopnya. Jeonghan masih terlelap ketika Seungcheol pelan-pelan berjalan menghampiri sisi tempat tidur dan menempatkan tulang duduknya dipinggir ranjang.

"Angel..."

Suara bass minor itu mengalun pelan. Seungcheol menghantarkan tangan kokohnya membelai surai gelap Jeonghan dan mengusap keningnya dengan ibu jari.

Hal itu sukses membuat Jeonghan mengerang dan menggeliat kecil dalam tidurnya. Perlahan-lahan kelopaknya terbuka, hingga mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar tersadar jika Seungcheol sudah berada disisi ranjangnya dengan sebuah senyuman teduh.

"Oh, Dear... Sudah pulang?"

Jeonghan berusaha bangkit dari baringannya, namun gagal. Seungcheol menahan kedua bahu Jeonghan hingga pria muda itu kembali menidurkan kepalanya diatas bantal.

"Sudah, kau berbaring saja.. Kau pasti lelah kan menungguiku pulang semalaman ini?"

Jeonghan hanya tersenyum kecil sebelum mendegus pelan dan mengalah. Seungcheol terkikik kecil sambil mencubit ujung hidung mancung Jeonghan dengan gemas.

"Aku mencintaimu.."

Suara rendah Seungcheol terdengar lembut dan ada sedikit getaran disana. Ia menatap sepasang manik indah Jeonghan begitu dalam, satu tangannya mengusap tulang pipi Jeonghan dan satunya lagi menangkup jemari kurus milik pria feminim itu.

Kalimat itu memang terlihat sederhana. Ya, biasa saja. Namun Jeonghan bisa merasakan ada banyak makna yang tersembunyi tiap kali Seungcheol mengucapkan 2 frasa indah itu seperti malam ini.

"Hey, Tuan Choi Seungcheol... Dalam keadaan seletih ini kau masih bisa bersikap romantis padaku? Kau seperti membunuhku pelan-pelan dari dalam."

Jeonghan tiba-tiba menarik tangan Seungcheol yang masih menangkup jemarinya itu menuju dada. Seungcheol tersenyum ketika merasakan detak jantung Jeonghan dan menyadari apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu dengan "membunuh pelan-pelan dari dalam".

"Kau seperti ingin meledak."

"Kau tahu itu dan kau kejam Seung-..."

"Sssttt..."

Satu telunjuk Seungcheol mendarat didepan bibir Jeonghan yang lantas membuat pria pucat itu bungkam.

"May I kiss you?"

Tatapan mereka beradu. Mungkin ada kilat-kilat yang muncul disana akibat luapan hasrat yang begitu kentara.

Seungcheol memang bertanya, tapi Jeonghan mengerti jika kekasihnya itu hanya meminta. Ia tak punya niatan untuk menjawab sepatah pun. Jeonghan hanya berusaha untuk menekan degup jantungnya yang bertalu semakin gila, mempersiapkan nafasnya yang dirasa semakin menipis, dan perlahan-lahan menutup matanya dalam keheningan.

Awalnya bibir Seungcheol mendarat dengan baik. Kedua belah bibir itu menangkup bagian atas bibir Jeonghan dan mengapitnya penuh perasaan. Lumatan Seungcheol mulai bergerak, mengulum bagian atas dan bawah bibir Jeonghan bergantian dan disitulah ia membuat permukaan benda kenyal itu basah oleh salivanya.

Keduanya sempat mengejang. Semua orang tahu bahwa rasanya seperti tersengat aliran listrik. Menerima setiap lumatan-lumatan dari Seungcheol membuat mulut Jeonghan peralahan-lahan membuka dengan sendirinya. Ia membalas kuluman bibir Seungcheol dengan lembut, membuat kekasih diatasnya mempercepat gerakan karena dirasa kulumannya mulai bersambut.

"Eungh.."

Tekanan pun mulai datang. Ciuman Seungcheol terasa semakin menuntut dan Jeonghan mulai kewalahan menerimanya.

Disela ciuman mereka, Jeonghan merasakan sentuhan Seungcheol membuat panas areal disekitar permukaan kulit perutnya. Pria feminim itu seketika mengejang saat belaian tangan Seungcheol merambat naik menuju dadanya, membuat kaus yang ia kenakan pun terangkat, menampilkan sepertiga bagian tubuhnya yang begitu putih dan mulus.

"S-Seungcheol-ah... Apa yang kau lakukan?"

Jeonghan mengeluarkan peluh dan sedikit panik. Ia menggenggam pergelangan tangan Seungcheol, berusaha menahan gerakan pria tinggi itu yang baru akan memainkan nipple-nya.

"I love you, Jeonghan.."

"Aaanhh.."

Gigitan Seungcheol pada nipple-nya membuat Jeonghan mengerang sakit.

"Tapi kau menyakitiku..."

Rasa takut yang tiba-tiba membuncah membuat Jeonghan tanpa sadar menitikan air matanya. Ini pertama kalinya Seungcheol memperlakukan Jeonghan seperti ini.

"Kau sudah dewasa, Jeonghan... Harusnya kau tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini. Aku menginginkanmu... Inilah hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa yang saling mencintai.."

"Tapi kita belum menikah, Seungcheol!"

"Apa bedanya? Kita tinggal dalam satu rumah dan sebentar lagi kita akan menikah. Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku. Kumohon, Yoon Jeonghan..."

Seungcheol berusaha menarik tangan Jeonghan yang kini menangkup wajah cantiknya yang berguyuran air mata. Isakkan kekasihnya itu membuat Seungcheol meringis menahan sakit didadanya.

"Tapi aku belum siap..." Jawab Jeonghan tiba-tiba dengan suaranya yang parau. Seungcheol menarik tubuh kecil itu hingga terduduk dan akhirnya merengkuh raga Jeonghan kedalam pelukannya.

"Kita lakukan pelan-pelan."

"But, Dear-,"

"Sssstttt..."

Seungcheol melepaskan pelukannya dan menatap Jeonghan dengan manik hitamnya yang menyala. Seungcheol membelai rambut panjang Jeonghan berusaha menenangkan.

"Leave everything to me, Angel. I promise, I'll be gentle with you.."

Ibu jari Seungcheol menyeka jejak-jejak air mata yang tertinggal di pipi pucat kekasihnya. Jeonghan merasakan tubuhnya gemetar saat Seungcheol pelan-pelan mengangkat kaus putih itu dari tubuhnya dan membuatnya telanjang dada.

Dengan hati-hati Seungcheol mendorong tubuh Jeonghan kembali berbaring diatas ranjang. Mata mereka terus bertemu, hingga akhirnya perlahan memejam saat Seungcheol kembali melumat bibir Jeonghan penuh hasrat dan dalam.

Tangan-tangan Seungcheol bergerak cekatan menurunkan celana tidur Jeonghan hingga hanya menyisakan celana dalam yang masih melekat melapisi abdomen intimnya. Disela ciuman mereka Seungcheol dapat merasakan Jeonghannya kembali meneteskan air bening pilu yang mengalir dari sudut matanya yang memejam. Ia tahu, Jeonghan masih merasa takut akan hal ini.

Entah sejak kapan tubuh kekar Seungcheol sudah berhasil naik keatas ranjang dan menindih tubuh kurus Jeonghan yang masih dibawah pengaruh cumbuan bibir mereka. Seungcheol mengarahkan tangan-tangan kurus Jeonghan untuk segera mengalung dilehernya. Dicengkramnya lembut surai brunette Jeonghan dan dikukungnya sepasang manik indah itu dalam tatapan matanya.

Seungcheol tahu, ia sudah berusaha mencegah perasaan ini sejak awal namun... Ia kalah. Seungcheol rasa pertahanannya seketika runtuh saat Tuhan kembali menamparnya, menyadarkan dirinya bahwa ini semua adalah nyata. Setetes air mata mengalir dari sudut mata Seungcheol, membuat Jeonghan memandangnya sendu dan perlahan menyeka air mata kekasihnya yang kini malah mengalir semakin deras.

Dan hari ini pun terjadi seperti yang selama ini ia impikan. Seungcheol mencumbu Jeonghannya... Menempatkan tubuh kecil Jeonghan dibawah kuasanya dan dapat dengan leluasa menggagahi kekasihnya itu, membuatnnya mendesahkan namanya sepanjang malam.

"Aku... Aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya bisa bercinta denganmu, Jeonghan.. Maafkan aku karena tak bisa menahannya lebih lama.."

"Eummhh..."

Seungcheol melanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan sejak awal. Dimulai dengan ciuman-ciuman kasar diperpotongan leher, menciptakan bulatan-bulatan kemerahan disekitar permukaan kulit pucat Jeonghan dan erangan-erangan pasrah yang lolos dari bibir peach kekasihnya itu. Seungcheol melucuti semua pakaian yang melekat ditubuhnya, menuntun tangan Jeonghan yang gemetaran untuk meraba setiap lekuk tubuhnya yang terpahat sempurna.

Suhu tubuh keduanya pun meningkat. Jeonghan berteriak.. merintih, dan rasanya amat sakit saat Seungcheol berusaha menghubungkan dirinya dengan kekasihnya itu dalam persetubuhan yang sebenarnya. Peluh yang menguap dari pori-pori membuat sekujur tubuh mereka mengkilap dan licin. Decitan ranjang semakin meracau saat menit-menit yang terlewati berubah menjadi puluhan dan melangkah satu demi satu digit dalam jam.

Jeonghan sempat ingin bertanya pada kekasih yang menggahahinya itu apakah saat ini mereka masih berada di bumi ataukah telah terbang kelangit kayangan. Tapi untuk berucap saja ia tak sanggup, selain nama Choi Seungcheol lah yang berhasil lolos dari desahan-desahannya yang terdengar parau dan serak. Jeonghan sempat beberapa kali mengeluhkan lelah, tapi Seungcheol bilang sepasang kekasih yang bercinta tidak akan bisa berhenti sebelum cairan cinta itu keluar dari masing-masing kelamin mereka.

Pukul 3.40 dini hari mereka mengakhiri persetubuhan saat klimaks itu datang diwaktu yang bersamaan. Jeonghan kembali menangis karena ia mengaku seluruh tubuhnya terasa sakit dan ia sudah benar-benar lelah. Seungcheol mengecupi pucuk kepala Jeonghan dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada kekasihnya itu karena telah memberikannya malam bercinta yang begitu luar biasa untuk peratama kalinya.

Dipenghujung malam mereka Seungcheol hanya bercerita bahwa kenikmatan syahwat itu datang karena Seungcheol berhasil menumbuk prostat yang berada dipangkal perut Jeonghan dan hanya cumbuan atas dasar cinta lah yang mampu mewujudkan ini semua.

Sebelum benar-benar tertidur, Seungcheol kembali mendengar isakan pilu Jeonghan yang berusaha memejamkan mata dalam pelukannya. Ada tangan-tangan tak kasat mata yang sekuat tenaga kini mencengkram jantung Seungcheol hingga rasanya seperti hampir mati. Ia pun berusaha terlelap meski air mata yang keluar dari sudut irisnya turut membasahi curuk tengkuk Jeonghan dan menambah pepat seluruh saluran pernafasannya yang kini terasa semakin sempit.

"And now I realized... I'm nothing without you, Angel..."

.

.

.

19 Maret 2014

Paginya, Seungcheol menyelesaikan rutinitas mandi dan berpakaian rapi seperti biasanya sebelum berangkat kekantor. Selesai menyatukan kancing terakhir pada kemajanya, ia mendudukan diri ditepi ranjang seraya menghela nafas berat. Ia membiarkan kepalanya yang terasa pening itu menunduk dan memejamkan mata erat-erat. Sudah diputuskan. Seungcheol bertekad untuk segera membicarakan mengenai tugas kerjanya ke luar negeri pada Jeonghan hari ini setelah semalaman ia menggunakan jam tidur yang ia punya untuk memikirkan semuanya dengan benar.

Shower air yang mengucur deras masih terdengar dari balik kamar mandi. Jeonghan terlihat baik ketika mereka baru terbangun dari tidur 30 menit yang lalu. Morning kiss, belaian lembut, hingga ucapan I love you.. Semuanya nampak biasa saja dan berjalan dengan sewajarnya.

"Dear..."

Seungcheol terkesiap saat tiba-tiba lengan kurus Jeonghan melingkari pinggangnya dari belakang. Aroma kuat lemon grass langsung menusuk indra penciuman Seungcheol dan membuatnya tergugu beberapa saat.

Jeonghan yang masih mengenakan kimono towel berwarna putih itu kemudian membaringkan kepalanya dibahu kiri Seungcheol. Tetesan air dari ujung-ujung rambut legamnya yang basah ikut menetes dan sedikit membasahi kemeja biru Seungcheol.

"Ambillah cuti hari ini. Temani aku jalan-jalan.. Kumohon, satu hari saja.."

Seungcheol refleks memejamkan mata dan menahan reaksi aneh pada tubuhnya yang tiba-tiba gemetar saat Jeonghan mengecup perpotongan leher jenjangnya dengan lembut. Nafas Jeonghan terdengar begitu teratur bagai alunan musik classic ditelinga Seungcheol. Menenangkan.. Sekaligus membuat otak dan jantungnya bekerja 2 kali lipat dibanding biasanya dalam waktu yang bersamaan.

Ini... Bukan Jeonghan yang biasanya...

"B-baiklah.. Kalau itu yang kau inginkan, Angel."

Ini sihir.

Mantra apa yang barusan Jeonghan gunakan hingga mampu membuat seorang 'worka holic' seperti Seungcheol memaksa mengambil cuti untuk sekedar jalan-jalan dihari kerjanya yang semakin lama semakin sibuk?

Senyuman tipis terpahat dibibir Jeonghan.

"Gomawo.."

Ia mengecup pipi Seungcheol dan tetap tak ingin melepas rangkulan eratnya pada pinggang sang kekasih. Jeonghan hanya...

Sebenarnya Jeonghan hanya tak ingin Seungcheol-nya pergi...

.

.

.

"Kau ingin garden party, atau pesta malam di ballroom?"

Jeonghan membolak-balik halaman katalog sambil menunjuk beberapa gambar dan menyodorkannya pada Seungcheol.

Ini... Rasanya Seungcheol hampir gila. Ya.. Jeonghan benar-benar membuatnya hampir gila. Mereka kini tengah berhadapan dengan seorang manager pemasaran di kantor marketing sebuah perusahaan wedding organizer terkenal di Seoul. Sejak tadi Seungcheol hanya mampu untuk duduk mematung tanpa bisa menunjukkan reaksi yang berarti pada Jeonghan. Matanya memantulkan pandangan kosong, implusnya bagai tumpul dan tak dapat lagi memikirkan hal-hal dengan baik.

"Tuan, kekasih anda meminta anda untuk memilih konsep pernikahannya.."

Wanita cantik mengenakan suit office itu pun tergugah untuk membantu Jeonghan 'menyadarkan' Seungcheol yang nampaknya sudah terlalu larut dalam lamunan kosongnya.

"Oh, tidak apa. Mungkin dia hanya terlalu lelah karena akhir-akhir ini kekasihku terus mendapat jam lembur dikantor. Kalau begitu, aku memilih konsep garden party yang persiapannya lebih mudah dibandingkan pesta malam, karena kami akan memajukan jadwal pernikahan menjadi Minggu depan."

"A-apa?!"

Reaksi tiba-tiba Seungcheol lantas membuat orang-orang disekitarnya mengernyit, kaget sekaligus heran dalam waktu bersamaan.

"I-ini.. Ini tidak bisa. Yoon Jeonghan, kumohon jangan seperti ini... A-aku akan menjelaskannya padamu nanti tapi kumohon jangan seperti ini padaku..."

Seungcheol memohon pada kekasihnya itu dengan nada frustasi. Jeonghan menutup rapat matanya sebelum akhirnya memalingkan wajah, menatap kembali sang sales marketing dengan senyum tertahan dari bibirnya.

"Aku hanya butuh semua acara teroganisir dengan baik minggu depan. Semuanya aku serahkan pada jasa kalian. Maaf sebelumnya, kita bicarakan lagi nanti di telfon."

Jeonghan menunduk singkat sebelum akhirnya berdiri sambil menarik tangan Seungcheol untuk keluar dari gedung perkantoran ini.

"Kita ke toko baju sekarang."

"Apa?"

"Haruskah aku mengulangnya dua kali, Choi Seungcheol?!"

Jeonghan tiba-tiba hampir berteriak sarkastik dengan raut penuh emosi yang tergambar jelas di wajah feminimnya. Mereka berdua kini telah duduk didalam mobil dengan Seungcheol yang berada di kursi kemudi dan Jeonghan duduk disamping kanannya.

"Maaf, Jeonghan. Kita tidak bisa. Maksudku... Aku yang tak bisa melakukan semua ini sesuai dengan apa yang pernah kita rencanakan dulu."

'Tuhan... Apa aku harus mengatakannya sekarang? Saat ini, didalam mobil? Kumohon, kutuklah aku...'

Seungcheol meringis pilu dan bibirnya ia hujam dengan gigitan-gigitan kecil. Seungcheol menghembuskan nafas berat, mencoba memandang Jeonghan yang nampak cukup tenang saat ini. Tenang? Jeonghan kini membuang muka dari Seungcheol dan menghadap pemandangan diluar jendela mobil dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tangan Jeonghan yang terlipat dibawah dadanya lantas Seungcheol tarik perlahan kedalam genggamannya. Jeonghan menoleh. Seungcheol mendapati refleksi dirinya yang dipantulkan oleh manik coklat milik kekasihnya itu.

"Kita tidak bisa menikah bulan ini, Angel... Maksudku-... Aku. Aku yang tak bisa melakukannya... Dan mungkin sampai tahun depan. Pernikahan ini harus kita tunda karena pekerjaanku. Angel... Pekerjaan ini sangat penting untukku, kau tahu..."

"Ya, aku tahu. Apa yang tidak aku ketahui tentangmu, Choi Seungcheol? Aku sudah tahu bahwa pernikahan kita bukanlah hal penting bagimu sejak awal. Kau satu dari sekian banyak pria modern yang hidup didunia ini. Hidupmu berjalan demi karir dan omong kosong soal komitmen! Kau lebih suka meniduriku dan meninggalkanku esok pagi, dan meniduriku kembali malamnya dan pergi lagi hingga berlanjut seperti itu terus sampai kau merasa bosan!"

Jeonghan memberontak di kursinya demi melepaskan genggaman erat tangan Seungcheol sambil mengumpat penuh amarah. Jeonghan menangis. Ia mencoba untuk tidak menangis lagi setelah ia berpikir bahwa air mata hanya akan membuat dirinya semakin lelah tapi-... sakit didadanya tak bisa menghentikan air matanya begitu saja.

"Angel kumohon degarkan a-..."

"Lepaskan! Kau brengsek Choi Seung-..."

"HENTIKAN, Yoon Jeonghan!"

Dan persis seperti apa yang Seungcheol teriakan, semua akhrinya berhenti. Rontaan, isakan, umpatan, dan suara-suara bising lain yang sempat memenuhi mobil mereka, kini telah tergantikan oleh senyap yang malah semakin membuat Seungcheol ingin mati.

Jeonghan membelalakan matanya, tubuhnya tiba-tiba kaku dan air mata pun sejadinya terus turun melewati pipi pucatnya meski suara isakan itu sudah tidak terdengar lagi. Seungcheol hancur. Apa yang telah ia lakukan hanyalah terus dan terus menyakiti Jeonghan sejauh ini. Dan sekarang apa? Ia membentak kasar pada kekasih prianya itu disaat semua hukuman yang ada dimuka bumi adalah hal yang pantas untuk ia terima. Seungcheol kembali mengukir luka diatas hati Jeonghan yang sudah terlanjur cacat olehnya.

"Lakukan... Lakukan Choi Seungcheol. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Kau ingin menyuruhku berhenti? Tentu... kita bisa melakukannya. Kau pergi, dan kita..."

Ada jeda yang tertinggal.

"...Berakhir."

Jeonghan menutup kalimatnya dengan suara yang kian bergetar. Mengeluarkan kata-kata tidaklah sesakit bila dibandingkan dengan apa yang ia rasakan. Jeonghan tersengguk menahan sesak yang kini tiba-tiba menghimpit dadanya.

Satu-satunya hal yang dapat Seungcheol rasakan saat ini hanyalah jiwanya yang bagaikan pergi meninggalkan raganya ditempat. Pandangannya berlari, mencari sisi dimanakah sudut yang nampaknya tidak terlihat buram. Tangan Seungcheol yang kokoh kini tak lagi sama, terjulur lemas mencari telapak tangan Jeonghan agar bisa ia genggam. Ia butuh Jeonghan untuk menyangkal semua yang barusan ia dengar... Ia butuh Jeonghan untuk menopang tubuhnya yang mati rasa... Ia butuh Jeonghan untuk mengatakan cinta padanya lagi seperti biasa... Ia butuh Jeonghan sebagai kekasihnya, untuk mengatakan semua ini bukanlah akhir dari mereka berdua...

"A-Angel... Kau tidak serius kan? Kau mencintaiku kan, Angel? Kita-..."

"Tidak ada lagi 'Kita', Choi Seungcheol. Yang ada hanyalah Aku... dan Kau. Pergilah bersama cita-citamu dan jangan pedulikan aku lagi. Aku tidak ingin menjadi batu penghalang antara kau dan kebahagianmu. Cinta hanyalah lelucon dimatamu. Komitmen adalah perjanjian tertulis yang hanya akan kau lupakan suatu saat. Kau belum siap untuk semua ini, Seungcheol... Aku yang bodoh karena ternyata selama ini TIDAK PERNAH ADA KATA 'KITA' DIDALAM HATIMU!"

Blast!

Jeonghan pergi.

Dengan tangisnya... Dengan air mata yang tak pernah meninggalkan wajah pucatnya.

Membanting pintu mobil mereka dengan segala kemarahan yang ia punya. Perkataan Jeonghan menjelaskan semuanya. Teriakan itu mengakhiri pertengkaran yang terjadi diantara mereka.

Dan Seungcheol... Tubuhnya terlalu lemah untuk sekedar beranjak dari sini. Kakinya tidak lagi kuat untuk membawanya berlari mengejar kekasihnya yang baru saja pergi. Tangannya tak lagi mampu untuk menggapai dan menahan Jeonghan agar tetap berada disisinya saat ini. Raga ini terlanjur hancur dengan kepingan hati yang sudah tidak tertata lagi.

Pandangan laki-laki itu mengabur, menuntun air dari sudut kelopak matanya itu keluar dan perlahan-lahan menuruni pipi. Nafasnya bagai tercekat. Seungcheol menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudi dan menutup kedua matanya erat-erat. Ia berharap semua ini tidak pernah terjadi tapi sekali lagi, suara Jeonghan yang terus mengiang dikepalanya kembali menampar keras dirinya, membawanya pada keterpurukan dan jatuh ke dasar palung yang paling dalam.

Seungcheol tidak pernah siap untuk sebuah kata akhir dari hubungan ini...

"Angel... Please don't...leave me..."

.

.

.

End of Chapter 1