Author's note: Ini mengambil setting dengan AU yang sama di Unexpected Surprise. Kalau belum baca, basically, Sasuke dan Naruto sudah nikah dan tinggal di Kanada (Kanada itu salah satu dari beberapa negara yang sudah melegalkan same-sex marriage) dengan Sasuke yang sering pergi ke luar negeri gegara bisnisnya, sementara Naruto sendiri bekerja sebagai wartawan (dan kadang ke luar negeri juga). Oke? Oke.


WARNING: This story contains shounen-ai/BL, which means male x male in romantic context, same-sex marriage, same-sex adoption. Bahasa pelangi. Ada implikasi tentang keterlibatan agama tertentu, dan saya melibatkannya semata-mata karena lokasi/setting dari fanfic ini sendiri, juga berdasarkan beberapa artikel yang saya baca. But I promise I'm not going to develop into that further, dan hanya akan fokus pada pembahasan secara umum. Still, I'm really sorry for that. Please read at your own risk.


Disclaimer: I do not own Naruto, Naruto belongs Kishimoto Masashi-sensei. Tulisan ini adalah fanfiksi, tidak ditulis dengan maksud untuk diakui sebagai karya asli, tidak untuk memperburuk karya asli ataupun kreatornya, juga tidak dibuat untuk memperoleh keuntungan komersial, ataupun untuk menyinggung kisah, pihak, golongan, maupun tokoh nyata tertentu.


風光る

kaze hikaru [n.] a warm breeze of spring that follows after a dark cold winter, comes and breathes gently upon the skin, as if like a shining radiance.


Hoist the Colors theme: royal blue (serenity, harmony).


Dering ponsel membangunkan Uchiha Sasuke dari tidurnya yang lelah tanpa mimpi.

Sasuke bahkan tidak akan membuka matanya dan berniat meneruskan tidur jika tidak mengenal lagu yang terdengar itu: salah satu lagu bodoh kesayangan Naruto yang dipasang oleh lelaki itu sebagai ringtone khusus untuk, yah, apa lagi, menandakan bahwa sang Uzumaki Narutolah yang sedang menelponnya.

Sang Uchiha pun meraba-raba di dalam gelapnya ruangan, dengan enggan meninggalkan kehangatan selimut yang melindunginya dari udara dingin air conditioner, demi mencari ponselnya di atas meja kecil di sisi ranjang. Ia menyentuh tombol jawab di layar lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan, sembari meraih jam mejanya dengan tangan yang lain.

Garis-garis digital berwarna biru terang di sana menunjukkan angka tiga.

Sasuke menarik napas panjang-panjang sebelum menyapa suaminya dengan penuh kasih.

"Kalau kau tak punya alasan penting untuk menelpon dan memotong tidurku setelah aku begadang semalaman demi menyelesaikan pekerjaanku, kubunuh kau semenit setelah kau menginjak Montréal–Trudeau, Narut—"

"Sasuke, kau mau punya anak?!" balasan penuh semangat itu memotong kalimatnya. Sepertinya Naruto bahkan tidak mendengarnya.

"... Huh?" Sebaliknya, Sasuke tak yakin pendengarannya benar.

"Kuuubilaaang," suara Naruto terdengar tak sabar, dan Sasuke bisa mendengar adrenalin, antisipasi, sekaligus keceriaan yang terselip di sana, "kau mau punya anak denganku?"

"HAH?"


a Naruto fanfiction, dedicated to Sabaku no Ghee's Hoist the Color Challenge:

Kaze Hikaru [part i]

written by Nad


"Jadi saat kau berniat kembali ke rumah Tsunade-baasan setelah berbelanja ke mini-market untuknya, kau melewati salah satu rumah asuh—"

"Hm!"

"—bertemu salah satu anak di sana, lalu mendapat ide untuk mengadopsinya."

"Betul-ttebayo!"

Sasuke menahan helaan napas, memijat pertemuan dahi dan hidungnya, kepalanya terasa sakit karena lelah dan tidur yang kurang. Atau mungkin juga karena masalah, yang entah bagaimana, ia tahu pasti akan datang dari ulah Naruto.

"Kenapa harus di Jepang, Naruto...?" Sasuke mencoba berargumen. "Meski ibumu orang Jepang, kau lahir dan besar di Kanada. Aku juga sudah berganti kebangsaan agar bisa menikah denganmu, ingat? Kita gaijin sekarang—orang asing, bagi mereka. Prosesnya akan jauh lebih sulit karena kita tidak tinggal di Jepang. Kalau kau benar-benar serius mau mengadopsi, kita bisa menunggu sampai kau pulang ke Montreal, lalu pergi ke panti asuhan lokal, dan—"

"But he's the only one I want, Sasuke."

Kalimat itu mengatupkan bibir sang Uchiha.

"I fell for him at the first sight, you know? From the first time I lay my eyes on him, even from ten meters away, I know I want him. I know exactly that I have to bring him home with me, to you—to us. And after I talk to him, or with the nurse about him, he's just,"—Naruto terhenti selama beberapa detik—"... plain perfect. I want him and nobody else."

Sasuke, memejamkan matanya dalam maklum dan satu hembusan napas.

"... Should I get jealous right now?" ia mencoba berkelakar, meski wajahnya hampir datar—kecuali untuk segaris seringai di bibirnya. Kekehan pun terdengar dari ujung sambungan.

"Well, depends. You can't get jealous if you fall for him too. And I'm pretty sure you will! Deeep and haaard!"

"Shut up, Idiot," Sasuke mengabaikan implikasi dari tiga kata terakhir Naruto. "Memangnya dia seperti apa?"

"Ah—hmmm..." Naruto terdengar sedang berpikir. "Agak sulit bagiku untuk menggambarkannya dengan jelas. Dan sayangnya yayasan juga tidak mengizinkan aku memotretnya, jadi aku tidak mengirimkan foto apapun."

Jeda.

Lalu.

"Bagaimana kalau kau ke sini dan mengecek sendiri?"

.

.

.

Setelah Naruto menutup sambungan kurang lebih lima belas menit setelahnya, Sasuke bangkit menyalakan lampu ruangan. Ia membuka lemari, meraih paspor dan rolling bag, menghubungi asistennya untuk menyiapkan tiket paling awal menuju Jepang pagi itu.

.

.

.

Sasuke berangkat meninggalkan Bandara Internasional Montréal-Pierre Elliott Trudeau pada jam 6.30 pagi. Dan sebelas jam berikutnya, ia sampai di Bandara Narita pada jam yang kurang lebih sama, namun dengan tanggal yang berbeda.

"Good morning, Princess," sapa Naruto di pintu kedatangan, dengan senyum lebar dan cerah, segera setelah Sasuke berada semeter darinya.

"Good morning, Peasant," Sasuke membiarkan letih menambah sinis dalam suaranya.

Uzumaki Naruto, si idiot itu, hanya tertawa, sambil secara otomatis meraih travelling bag dari tangan Sasuke dan menariknya. Ini adalah satu hal yang akan selalu Naruto lakukan setiap kali ia menjemput Sasuke, dan ia hampir tak pernah absen menjemput Sasuke di bandara sepulang perjalanan bisnis, tak peduli kalau sang Uchiha hanya pergi untuk satu atau dua hari.

"Kurang tidur, Sas? Bukannya kau punya waktu hampir sebelas jam untuk tidur di pesawat?"

"Well." Sasuke menahan helaan napas. "Sulit untuk tidur lelap kalau kau sibuk memikirkan kerepotan dan rentetan masalah yang akan ditimbulkan oleh,"—ia menghentikan kalimatnya dan menatap ke sekeliling, menyadari benar bahwa lobi bandara telah ramai meski ini masih cukup pagi— "ide gila suamimu," lanjutnya dengan suara yang lebih lirih.

"Trust me, he's worth it," balas Naruto dengan seringai cerah, melangkah melewati pintu otomatis, dan terus berjalan melewati konter tiket untuk airport limosine—sepertinya menuju halaman parkir.

"Take me to him then," Sasuke berujar. Menatap pasangannya lurus, tanpa berhenti menggerakkan kakinya mengikuti Naruto. "Aku ingin melihatnya sekarang."

"... Sekarang?"

"Sekarang."

Naruto berhenti—tentu menghentikan langkah Sasuke juga—lalu mengangkat tangannya dan melirik arloji. Tatapannya kembali pada Sasuke dengan senyum.

"Kalau kita cepat, mungkin kita bisa melihatnya sebelum ia berangkat ke sekolah."

.

.

.

Lima puluh menit perjalanan dan angin musim semi pagi yang masih terasa sejuk di wajahnya membuat kantuk Sasuke semakin menjadi. Ia hampir tertidur saat Naruto menghentikan mobil pick up Isuzu i-138 milik Jiraiya, kakek Naruto, yang mereka kendarai di seberang sebuah bangunan. Bangunan itu berukuran sedang—Sasuke mengamati setelah dengan berat membuka matanya dan melirik—tidak berada persis di jalan utama dengan jalan yang juga berukuran medium, sepi, jauh dari kendaraan.

"Sekolahnya masuk jam delapan," Naruto menjelaskan, mengamati arloji lagi. "Sekarang sudah jam 7.27. Mudah-mudahan dia baru mau berangkat, jadi kita sempat melihatnya pergi."

"Do you realize that you sound like a stalker or something just now?" sindir Sasuke.

"Can't help it." Naruto mengedikkan bahu. "You know me. Background check never hurts, right?"

"Hn. Memangnya kita tidak bisa masuk saja dan menemuinya langsung?"

"Belum jam kunjungan, Sasukeee." Naruto bergerak menyandarkan tangan dan wajahnya di setir dengan malas. Sasuke curiga dia juga sebenarnya kurang tidur karena harus pergi menjemput Sasuke pagi-pagi buta. "Kita bisa menemui pengasuhnya tapi tidak anaknya. Mereka cukup ketat dengan jam kunjungan dan visitor, apalagi untuk orang yang bukan keluarga. Kemarin saja aku cuma bisa berinteraksi dengan anak itu melalui pagar di halaman belakang mereka."

Sasuke diam dan meninggalkan wajah cemberut Naruto untuk memperhatikan bangunan itu lagi. Berbeda dengan sebagian besar bangunan di Jepang yang menggunakan tembok beton tinggi ataupun sedang sebagai pagarnya, gedung ini menggunakan pagar besi yang bergaya Eropa. Begitu pula dengan gaya bangunannya sendiri. Dindingnya berwarna putih bersih, sementara genteng yang menjadi atapnya berbentuk segitiga dan trapesium, sepertinya berwarna hitam aslinya, namun kini agak memudar oleh cuaca. Adanya huruf 'St.' di depan nama yayasan itu membuktikan kecurigaan Sasuke.

Mungkin ia memang harus menghentikan ini.

"Naru—"

"Ah, itu dia!" Naruto memotongnya dengan seruan riang, sembari bangkit dari posisinya.

Selagi mendengar pintu mobil di sisi kanannya dibuka oleh Naruto, dari arah kiri mereka samar-samar Sasuke juga mendengarkan suara seruan seorang wanita dan suara langkah kaki yang cepat. Disusul dengan suara kekanakan yang berbunyi, "—pokoknya botol susuku buat Maru, Nee-san! Aku pergiiii—!"

Sayangnya, dari sisi Sasuke yang masih duduk di dalam mobil, ia tak bisa melihat apa-apa karena terhalang oleh pohon-pohon dan tanaman berukuran sedang di halaman bangunan itu. Hingga bocah yang menjadi asal suara itu semua akhirnya kini telah berada di balik pagar depan, dan berjinjit untuk meraih grendelnya, berusaha mendorong pintu pagar terbuka.

Seketika itu juga, rasa kantuk Sasuke hilang sama sekali.

Anak itu, Sasuke perkirakan, berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan baju longgar lengan panjang berwarna biru muda, baju yang biasanya dikenakan untuk menutupi baju lain di dalam, seragam sebagian besar playgroup dan taman kanak-kanak di Jepang. Ia memakai celana katun merah marun yang panjangnya di atas lutut. Sepasang sepatu abu-abu menjadi alas kakinya, sementara kaos kakinya sendiri hampir menutupi seluruh betis, dan ranselnya, (yang Sasuke ingat dengan konyolnya disebut 'randoseru' di Jepang) berwarna royal blue, agak terlihat kebesaran di punggungnya saat ia berbalik untuk menutup kembali pintu pagar. Sebuah topi kuning menggantung di ransel itu.

Namun bukan itu semua yang membuat Sasuke serasa lupa bernapas, ketika ia tahu-tahu saja menemukan dirinya sudah membuka pintu mobil dan tengah berdiri di sisi kendaraan agar bisa melihat lebih jelas.

Rambut bocah itu hitam kelam, namun agak berantakan dan hampir kelihatan tajam, dengan sedikit poni yang agak panjang dibiarkan di sisi masing-masing pipinya, hampir menutupi telinga. Alisnya berwarna sama, tidak tebal tapi juga tidak begitu tipis. Sisa baby fat membuat beberapa bagian tubuhnya, khususnya pipinya, masih agak gembil, tapi tidak membuatnya terlihat gemuk, malah membuatnya makin menggemaskan. Kulitnya berwarna putih susu, tapi samar-samar ada tiga garis halus di yang sangat mirip dengan seseorang di masing-masing pipinya, dan—

—iris matanya.

Biru.

Sebiru safir. Sebiru langit tanpa awan di musim panas. Sebiru sepasang mata milik lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi pasangan hidupnya. Sebiru dan sejernih mata milik—

"Menma!" Naruto memanggil riang, melambai pada anak itu, membuat sang bocah tersentak—"Geh!"— saat menyadari keberadaan mobil dan Naruto di seberang jalan.

Kemudian, ketika anak itu—Menma, Sasuke mencatat dalam hati, Menma—berseru ke pintu dengan telunjuk yang lurus terangkat menunjuk ke arah mereka, "Anee-san! Paman aneh itu muncul lagi! Dan dia bawa teman!" lalu menjulurkan lidah ke arah Naruto, dan meninggalkan Sasuke terpaku menatap sosok punggung mungilnya yang berlari pergi—

Sasuke tahu, anak itu sempurna.

.

.

.

Dan ia juga tahu bahwa ia telah jatuh, dalam dan keras, pada pandangan pertama. Persis seperti apa yang Naruto tuduhkan padanya. Namun Sasuke tak bisa merasa bahagia, sembari ia menelan seluruh alasan dan rasionalitas yang hampir saja ia muntahkan pada Naruto beberapa menit lalu. Karena ia tahu, mereka tahu, setidaknya mereka tidak boleh berhenti sebelum mencoba.

.

.

.

"Anak itu anak yang rumit," salah satu pengasuh senior, seorang wanita paruh baya yang Sasuke tak perhatikan namanya, bercerita.

Mereka kini duduk di sebuah ruangan yang sepertinya memang dipersiapkan untuk tamu, calon-calon orang tua—seperti mereka—, setelah Sasuke menggamit Naruto untuk masuk dan mengetuk pintu bangunan itu. Kekhawatiran membayang di sepasang mata sang pengasuh yang beriris cokelat dan kini telah dihiasi oleh garis-garis umur.

"Dia baru akan berumur enam tahun awal musim panas ini, tetapi dia sudah mengalami lebih banyak dibanding anak-anak lain seumurannya. Itu membuatnya lebih dewasa untuk umurnya di satu sisi, tapi juga sulit diatur dan dipahami."

Sasuke menegakkan duduknya di sofa, menatap cangkir tehnya yang mengepul tanpa berselera, sementara Naruto sudah menghabiskan separuh miliknya. Sayang, secangkir teh tidak akan cukup untuk kepalanya yang mulai berdenyut dengan jetlag dan kebutuhan akan tidur. Namun, Sasuke memilih untuk tetap duduk dan mendengarkan, ketimbang pulang dan beristirahat dulu seperti saran Naruto.

"Menma berdarah campuran," wanita itu melanjutkan. "Ibunya adalah seorang wanita berdarah Inggris. Ibu Menma datang untuk belajar di salah satu universitas lokal, dan bertemu dengan ayahnya, Fujiwara-san, yang merupakan karyawan di sana. Mereka menikah, dan Menma lahir. Namun setelah ibu Menma menyelesaikan studi pascasarjananya... tanpa alasan dia meninggalkan Fujiwara-san dan Menma, dan kembali ke London.

"Sayangnya Fujiwara-san tidak bisa menerima ini. Ia tiba-tiba harus merawat Menma sepanjang hari, kehilangan jejak istrinya, dan bahkan kesulitan untuk mencarikan tempat penitipan bagi Menma kalau ia harus pergi bekerja karena ... Menma berbeda. Teman-temannya takut pada Menma karena warna matanya, dan Menma kala itu, meski belum begitu lancar berbicara, telah terbiasa menggunakan bahasa ibunya, Inggris, dalam kesehariannya. Banyak penitipan yang menolak menerima Menma lagi hanya setelah satu dua hari, atau, Fujiwara-san yang memutuskan untuk memindahkan Menma jika Menma pulang dengan luka gores dan barang yang hilang. Ia juga tidak lagi punya keluarga untuk dimintainya tolong, hingga, pada akhirnya, dengan putus asa ia datang dan menitipkan Menma di sini.

"Awalnya Fujiwara-san masih datang mengunjungi Menma, beberapa kali seminggu. Membawakan Menma hadiah, menemaninya bermain, dan terus memberi donasi pada tempat ini. Kami bisa maklum jika kami saat itu diperlakukan sebagai tempat penitipan anak baginya. Lalu, kurang lebih dua minggu sebelum ulang tahun Menma yang kelima, ia berjanji pada Menma bahwa dia akan datang lagi di hari ulang tahunnya. Karena itu, setelah dua minggu penuh tanpa kunjungan, tanggal 10 Juli ... saat Menma berulang tahun, kami biarkan ia memakai bajunya yang terbaik, menyisir rambutnya hingga rapi, sembari ia duduk manis di sofa yang berada di dekat resepsionis.

"Ia menunggu. Menit ke menit, jam demi jam, dari pagi hingga sore, menunggu pintu terbuka dan ayahnya di sana. Tapi..."

Wanita itu terhenti. Wajahnya berkerut sedih dan ia terlihat ragu untuk lanjut bercerita. Namun, sebelum sempat Sasuke membuka mulut dan bertanya, Naruto yang duduk di sebelah kanannya sudah lebih dulu angkat suara.

"Fujiwara Hitoshi bunuh diri," ujarnya dengan nada netral. "Dua hari setelahnya, tanggal 12 Juli tahun lalu, ia ditemukan tewas kehabisan darah di apartemennya yang terkunci dengan irisan dalam di nadi kirinya, dan pisau berdarah di tangannya yang lain. Lengkap dengan surat wasiat yang meminta untuk mengalihkan seluruh sisa harta dan tabungannya ke sini, demi membesarkan Menma."

Wanita itu tak sempat menutupi keterkejutannya.

"Ap— bagaimana bisa—"

"Seperti yang saya sebut kemarin, Amamiya-san, saya seorang wartawan." Seuntas maaf terlihat dalam senyum Naruto, yang kini diarahkan juga pada Sasuke. "Mencari informasi adalah keahlian saya."

Meski tetap diam, Sasuke tak segan menatap tajam pasangannya. Satu-satunya yang menahannya dari desisan kesal adalah fakta bahwa mereka tidak sendiri sekarang.

Sasuke sadar bahwa Naruto tidak ingin Sasuke berubah pikiran tentang Menma karena fakta itu, atau mungkin memang belum punya kesempatan untuk menceritakan ini padanya. Namun, Naruto justru seharusnya tahu bahwa pemikiran Sasuke tentang Menma tidak mungkin berubah hanya karena latar belakangnya yang seperti ini. Dan, wanita itu—Amamiya-san—sepertinya memiliki pemikiran yang serupa.

"Jadi ... Anda tetap berniat untuk mengadopsi Fujiwara Menma meski ia punya latar belakang yang seperti itu?"

Ini adalah pertanyaan yang retoris, menurut Sasuke, tetapi mereka mendapati lelaki pirang di sebelahnya tetap mengangguk mantap.

Sehembus napas lega terlihat mengangkat sedikit beban di wajah nyonya Amamiya.

"Kami ... berusaha untuk menjaga informasi ini dari Menma. Meski begitu, entah sejak kapan, Menma sadar bahwa ia tidak akan dikunjungi ataupun dijemput. Menma menerima itu, dia bahkan berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya. Tetapi, di sisi lain, lambat laun ia menjadi lebih sulit diatur, susah untuk dipahami. Sayangnya kami juga tidak bisa fokus memperhatikan Menma, karena kami punya anak-anak yang lain untuk diurus. Kami sungguh bersyukur jika ada orang seperti Anda yang bersedia menjadi naungan baru baginya."

Naruto membalas senyum wanita itu.

"Uzumaki-san memang harus melapor dan mengurus permintaan adopsi dengan agensi di Jepang, maupun di negara Uzumaki-san tinggal—Kanada, kalau saya tidak salah?—Tetapi kami akan berusaha untuk membantu Anda sebisa mungkin. Ngomong-ngomong," wanita itu melirik sedikit ke cincin yang berada di jari manis kiri Naruto, "bagaimana pendapat istri Anda tentang ini? Apakah sudah ada kesepakatan dari Anda berdua untuk mengadopsi Menma? Ada baiknya kalau ia juga mengenal Menma terlebih dahulu."

"Ah, soal itu—" Naruto menggaruk pipinya dengan tangan kanan. "Pasangan saya juga sudah melihat Menma, dan—"

Tidak.

Tidak.

Jangan melihat ke sini, Idiot.

Sasuke menahan diri untuk tidak meninju atau setidaknya memaki Naruto, saat pria itu mengerling ke arah Sasuke, lalu mengulurkan tangan, meraih tangan kanan Sasuke, menyelipkan jemari tangan kirinya yang bercincin di antara jemari di sana. Naruto lalu menggenggamnya erat meski Sasuke hampir menarik tangannya sendiri untuk menepis tangan itu.

Namun Naruto sudah keburu menoleh dan menangkap matanya dengan tatapan, mengatakan apa yang tidak terkatakan oleh bibirnya.

Ia tidak akan berbohong untuk mendapatkan Menma.

Lagipula, mereka memang tidak bisa. Cepat atau lambat, saat mereka memasukkan data diri dalam formulir permintaan ataupun jika petugas datang untuk melakukan inspeksi, mereka akan tahu siapa pasangan Naruto. Meski sebenarnya Sasuke berpikir bahwa mungkin akan lebih mudah bagi mereka jika Naruto bisa mengaku single dan mengurus semuanya sendiri. Sayang sekali, baru saja beberapa jam tadi, selagi berada puluhan ribu kaki di atas permukaan laut, Sasuke membaca sendiri dari PC tablet-nya bahwa pasangan menikah adalah salah satu syarat bagi pelamar adopsi antar negara.

Pada akhirnya, Sasuke membiarkan Naruto mengangkat tangan yang menyatu itu dengan agak tinggi, diperlihatkan dengan begitu jelas dan pasti, sejajar dengan dada mereka.

Pasangannya itu pun berkata:

"Kami berdua sepakat untuk menjadikan Menma sebagai anak kami."

Dan saat melihat senyum terkuras dari wajah Nyonya Amamiya dalam beberapa detik itu, Sasuke sudah bisa meramal apa yang akan terjadi berikutnya.

.

.

.

Tak lama, pintu kayu dari bangunan putih itu dibanting keras di belakang mereka.

to be continued


.

.

.

.

.

.

.

Author's ramblings:

I ... honestly don't know if I can finish this in time. Saya salah timing dan begonya nggak ngecek lagi, kirain dari tanggal 17 sampe tanggal sekian, tapi ternyata dari tanggal 11 sampe 17. Orz Tapi seperti kata Sasuke, at least I can tryyy. ;; A ;;

Research is hard, pals. Adoption is even more. Saya sampe buka 30++ tab dan infonya malah sampai ada beberapa yang rada simpang siur, agak berlawanan satu sama lain, nuhuhu. ;; w ;;

Dan, bukan, bukan saya hobi bikin sekuel tapi saya pikir dari pada bikin AU baru mending ambil salah satu AU yang udah ada dan pake itu sebagai basic, but—screw me, habis itu malah pengen banting diri rasanya waktu menyadari I just made the complicated matters even more complicated /o/ Adopsi di Jepang itu ribet. Adopsi dari gaijin, yang tinggal di Jepang, itu lebih ribet. Adopsi dengan gaijin, yang tinggal di Kanada, tapi gaijin-nya sendiri aslinya orang Jepang, dan pasangannya itu pasangan same-sex marriage? Yep, bukan lagi ribet tapi ribet kuadrat. Bayanginlah gimana puyengnya Sasuke sekarang.

Anyway, segala apresiasi diterima dengan senang hati. (Feel free buat menunjukkan mistype ataupun kesalahan grammar ya, walaupun mungkin baru bisa diedit setelah fanficnya selesai seluruhnya). Terima kasih sebelumnya buatLNaruSasu, amaha, Dee chan-tik, Iekhakyu, kazekageashainuzukaasharoyani, OnixSafir1023, Ahn Ryuuki, Vianycka Hime, Nauchi KirikaRE22, FayRin Setsuna D Fluorite, RaFa LLight S.N, Natacchi, blackchocolee dan wanita yang sudah mereview Kreise.

Dan untukmu—yep, siapapun yang sedang membaca ini sekarang dari balik monitor, terima kasih sudah membaca!

Palu, 15 Mei 2014.