It's Okay
By : parasvana (FanFreaktion)
Disclaimer : This Story is mine, but the whole character isn't mine. (Pokoknya ide cerita ini murni punyaku dan hasil berhayalku di setiap pelajaran fisika di sekolah)
Main Cast : Do Kyungsoo & Kim Jongin.
Additional Cast : Amber (F(x)), Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Byun Baekhyun and etc.
Pairing : Kaisoo
Genre : Romance
Warning : Boy x Boy (Yaoi), Typo(s)
If you don't like gay's story don't read this, just leave without judging. Because I'm Kaisoo, Chanbaek, HunHan, ChenMin, SuLay, and TaoRis Shipper.
Summary :
Perjuangan seorang namja yang berusaha untuk membuat orang terkasihnya itu jatuh lagi ke dalam pelukannya, tapi ketika orang terkasihnya itu mengetahui sebuah fakta. Ia membenci semuanya.
.
.
.
Malam ini hujan turun lagi, membasahi kota yang tetap sibuk setiap saat bersama gemerlapnya. Seorang namja berparas manis itu masih sibuk menatap rintikan hujan yang mengalir di kaca besar jendela kamarnya dengan pandangan kosong.
Bahkan ia masih terpekur ketika pintu kamar itu terbuka lebar dan memunculkan sesosok wanita yang usianya mungkin baru menginjak kepala empat. Wanita itu tersenyum lembut, dengan sorot teduh ia menatap putra semata wayangnya yang masih belum menyadari keberadaannya.
"Kyungsoo?" Panggilnya lembut syarat akan kasih sayang. Namja itu masih bergeming di tempatnya tapi ketika ada yang mengguncang bahunya barulah ia sadar dari keterpakuannya menatap tetes hujan itu.
"Umma?" Namja bernama lengkap Do Kyungsoo itu terkejut dengan kehadiran sang ibu yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Wanita itu tersenyum lembut, tangannya terulur untuk membelai kepala Kyungsoo yang botak dengan lembut. Luka pasca operasi masih terlihat di sana walau sudah samar.
"Kapan aku akan kembali bersekolah Umma?" Tanya Kyungsoo menyuarakan sebuah pikiran yang baru saja melintas di benaknya.
"Woah anak Umma yang satu ini sudah tidak sabaran rupanya?" Wanita itu tertawa lembut tanpa menghentikan belaiannya. "Dua hari dari sekarang kau bisa kembali bersekolah di sekolah baru mu." Mata besar Kyungsoo berbinar senang mendengar pernyataan dari wanita itu.
"Tapi Umma, kenapa dengan sekolah lama ku?" Tanya Kyungsoo dengan alis bertaut menghiasi wajah manisnya. Seperkian detik Kyungsoo menangkap gurat tidak suka dari wajah lembut ibunya tapi hal itu segera tergantikan dengan senyum cerah yang melengkung sempurna.
"Jarak rumah dengan sekolahmu yang lama cukup jauh Kyungsoo-ya, Umma tidak mau kau celaka lagi... maka umma memutuskan untuk memindahkanmu ke sekolah yang jaraknya lebih dekat dari sini." Kyungsoo terpekur sejenak lalu mengusap kepalanya yang botak.
"Benar, Aku tidak mau botak lagi." Kyungsoo tertawa renyah lalu menatap sayu pada ibunya. Wanita itu tersenyum pengertian mendengar tawa Kyungsoo yang terkesan di paksakan. "Kalau di hitung-hitung sudah hampir dua bulan aku tidak kembali ke sekolah." Kyungsoo tersenyum dengan pandangan menerawang.
"Sebentar lagi Kyungsoo."
"Ne Umma, tapi aku akan merindukan Tao, Jongdae dan Minseok kalau aku benar-benar pindah sekolah." Kyungsoo tersenyum sedih. Pandangan wanita itu agak terkejut mendengar Kyungsoo menyebutkan nama ketiga sahabatnya itu.
"Mereka akan mengerti. Sekarang istirahatlah Kyungsoo." Wanita itu lagi-lagi tersenyum lembut lantas mencium kening Kyungsoo lamat-lamat sebelum akhirnya pergi dari sana. "Selamat malam sayang."
"Selamat malam Umma."
.
.
.
"Kyungsooo~ Kita sudah sampai... Ayo turun~" Suara Amber terdengar begitu bersemangat seraya menatap gedung sekolah baru Kyungsoo.
"Ummaaa! Sudah aku bilang biar aku saja yang turun... Umma jangan ikut!" Kyungsoo merengut sebal saat sang ibu berniat untuk mengantar Kyungsoo hingga sampai di kelasnya.
"Ibu hanya ingin memastikan teman-temanmu baik semua di sini dan kau aman."
"Umma~" Kyungsoo merengek.
"Baiklah-baiklah, tapi berikan umma satu kecupan di pipi dan kau akan bebas." Amber menunjuk pipinya sendiri menyuruh Kyungsoo untuk mengecupnya di sana. Kyungsoo mendengus sebal tapi ia tetap melakukannya di tambah ia tak lupa untuk memberikan sebuah pelukan hangat untuk sang ibu.
"Aku menyayangimu." Kyungsoo bergegas keluar dari mobil setelah ia menutup pintu terdengar suara pintu lainnya terbuka, membuat Kyungsoo mendesah lalu berbalik dan mendapati ibunya di sana menatapnya khawatir.
"Kau sudah memastikan bekal yang umma buatkan masuk ke dalam tasmu kan?"
"Sudah Umma~"
"Buku-bukumu tidak ada yang tertinggal kan?"
"Tidak Umma~"
"Kau ingatkan jadwal kelasmu apa saja hari ini?"
"Ingat Umma~"
"Bagus, kau tau akan masuk kelas apa di jam pertama?"
"Bahasa Inggris."
"Kau tidak lupa membawa uang sakumu kan?"
"Umma~ Berhentilah aku mohon, aku bisa menjaga diriku sendiri, aku bukan anak kecil lagi."
"Kau tetap menjadi anak kecil untukku Kyungsoo! Berjanjilah untuk berhati-hati dan jika ada hal yang mengusik dirimu segera laporkan pada umma! Dan-"
"Umma~"
"Baiklah-baiklah sudah sana masuk, selamat tinggal My lovely little boy, Umma akan menjemputmu nanti... Aktifkan ponselmu saat sudah pulang, menge-"
"Umma!"
"Baiklah." Sahut Amber mengalah setelah itu ia bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya sekaligus memberikan perintah pada sang supir untuk segera pergi dari sana meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri menatap kepergian Ibunya.
Kyungsoo memutar tubuhnya dan berjalan ringan masuk ke dalam sekolah elit yang akan menjadi sekolahnya, ia tersenyum kecil mengingat bagaimana ia merindukan belajar di kelas, bagaimana ia berolah raga di lapangan sekolah, bagaimana ia memiliki teman, bagaimana ia makan siang di kantin bahkan bagaimana ia buang air kecil di toilet sekolah.
Hampir saja niatannya untuk kembali ke sekolah pupus saat sang ibu memaksanya home schooling, tapi bukan Kyungsoo namanya bila tidak bisa membuat sang ibu membatalkan niatnya. Kyungsoo harus merajuk selama seminggu penuh sebelum ibunya benar-benar membiarkan ia kembali ke sekolah dengan syarat harus pindah sekolah, walaupun ia tidak mengerti tapi setidaknya itu lebih baik daripada harus belajar seorang diri tanpa teman.
Mata besar Kyungsoo mengerjab menyadari jika sekolah ini terlalu besar, ia jadi ingat tadi di sepanjang jalan mereka menuju sekolah ibunya terus menjabarkan keunggulan-keunggulan yang sekolah ini miliki. Ini salah satu sekolah favorit di korea yang memiliki fasilitas sangat lengkap. Kurang lebih begitulah penjabaran singkatnya. Kalau begini caranya Kyungsoo akan tersesat di hari pertama hanya karena sekolah ini terlalu besar dan Kyungsoo tidak tahu di mana letak kelas Bahasa Inggris yang akan ia ikuti di jam pertama.
Kyungsoo tidak perlu repot-repot mengunjungi kantor sekolah untuk mengurusi segala hal yang biasanya murid baru lakukan, entah apa yang ibunya lakukan hingga ia di permudahkan begitu saja untuk langsung masuk ke dalam kelasnya.
Kyungsoo berjalan dengan pandangan yang tidak terfokus pada satu arah, terkesan seperti anak hilang yang tidak tahu arah. Kyungsoo terus berjalan seraya berfikir yang ia lewati itu gedung apa?
Terlalu sibuk dengan fikirannya Kyungsoo tanpa sengaja menabrak seseorang hingga terdengar suara gaduh dan ringisan kesakitan dari seseorang. Mata besar Kyungsoo melotot sempurna saat mendapati seorang namja tengah meringis seraya memegangi kakinya dan dua tongkat tergeletak di sisinya. Kyungsoo buru-buru berjongkok di depannya, "Astaga... Astaga... Mian... Aku tidak sengaja, benar-benar tidak sengaja... Mianhae... Jeongmal..." Ujar Kyungsoo terputus-putus karena ketakutan jika kaki laki-laki yang di balut gips itu semakin terluka karenanya.
Namja itu masih meringis tapi ia memaksakan untuk mendongak agar ia bisa melihat siapa pelakunya. Ringisannya terhenti saat melihat sepasang mata besar menatapnya khawatir. Benar-benar khawatir. Namja itu meneguk salivanya sendiri lalu memalingkan pandangannya kearah lain asalkan bukan pada kedua mata besar itu.
"Maafkan aku, apa kau baik-baik saja? Beritahu aku bagaimana cara untuk menolongmu." Suara Kyungsoo terdengar lagi saat melihat namja yang ia tabrak tampak kesal melihatnya.
"Aku bersumpah benar-benar tidak sengaja." Tambahnya saat tahu jika namja itu tidak berniat membalas ucapannya.
"YA! YA! HEY BOTAK APA YANG KAU LAKUKAN PADA PANGERAN SEKOLAH KAMI EOH?!" Teriak seorang Yeoja yang menurut Kyungsoo berlebihan, detik berikutnya tubuh Kyungsoo terlempar kebelakang akibat dorongan yang terlalu keras itu, banyak orang yang mengerumuni dirinya dan dari celah itu dapat di lihat jika sebagian dari mereka juga mengerumini namja itu untuk menolongnya.
Kyungsoo mendongak melihat satu persatu orang-orang yang menatapnya penuh kebencian, "A... aku tidak sengaja menabraknya benar-benar tidak sengaja." Cicit Kyungsoo.
"Kau mencelakainya!"
"Untuk apa kau memiliki mata besar jika tidak bisa melihat jalan?!"
"Ya Pabbo?!"
"Apa kau tau rasanya patah tulang eoh?!"
Semua bentakan itu membuat Kyungsoo semakin terkucilkan. Ia menatap orang-orang itu dengan tubuh yang bergetar kaeena ketakutan. Reaksi tubuhnya benar-benar di luar kendalinya saat ini.
"Hentikan." Suara itu mengintrupsi kegiatan orang-orang yang mencaci Kyungsoo di hari pertamanya kembali ke sekolah.
"Minggir kalian." Ujar namja itu lagi.
"Ta.. Tapi Kai, di.. dia sudah mencelakaimu." Sahut seseorang dari kerumunan itu.
"Dia sudah bilang tidak sengaja kan?"
"Tapi-"
"BUBAR!" Teriak namja itu keras membuat suasana koridor itu yang tadinya sangat ramai menjadi sepi, dengan satu kata dan suara tinggi itu mampu membuat orang-orang di sana membubarkan diri mereka dan hanya mampu melihat kedua namja itu dari kejauhan.
"Bangun." Perintah namja itu kepada Kyungsoo yang masih bergetar ketakutan. Ia tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba saja sangat ketakutan. Apa mungkin ini karena pertama kalinya ia merasakan perlakuan kasar yang di tunjukan orang-orang untuk dirinya?
Ah… perlakuan kasar…
Orang-orang…
Kyungsoo masih terdiam dan tercenung dengan kekalutannya sendiri hingga akhirnya namja itu mengulurkan sebelah tangannya dengan tangan yang lain memegang satu tongkat yang harusnya ia kenakan dua-duanya tapi demi membantu Kyungsoo berdiri ia harus menggunakan satu tongkat untuk menyanggah tubuhnya.
"Ayo bangun." Namja itu sedikit menunduk dan meraih jemari Kyungsoo yang bergetar dan dingin untuk di tarik. Karena tertarik terpaksa Kyungsoo akhirnya bangun dengan lutut yang lemas.
"Kau murid baru?" Tanya namja itu, Kyungsoo hanya mampu mengangguk kaku sebagai jawaban.
"Aku. Kim. Jongin. Siapa nama mu?" Namja yang ternyata bernama Jongin itu mengenalkan namanya penuh penekanan.
"Do... Kyungsoo." Kyungsoo mengenalkan dirinya dengan suara pelan.
"Aku tidak dengar."
"Do Kyungsoo."
"Tatap orangnya jika kau sedang berbicara dan kencangkan suaramu."
"Aku Do Kyungsoo." Entah dapat keberanian dari mana Kyungsoo benar-benar mendongak dan menatap mata onyx itu tanpa rasa takut. Reaksi tubuhnya yang tadi ketakutan kini sudah biasa lagi dan hanya rasa hangat yang menjalar karena genggaman Jongin pada jemarinya belum di lepaskan.
"Kau terlihat kebingungan tadi, memangnya kau ingin kemana?" Tanya Jongin tanpa mengalihkan tatapannya dari mata burung hantu Kyungsoo.
"Aku..." Kyungsoo menelan ludahnya, "Kelas Bahasa Inggris."
"Ah kelas Bahasa Inggris." Jongin mengangguk mengerti.
"Jongin!" Seseorang menyerukan nama namja itu dan terlihatlah dua sosok namja yang memiliki tubuh tinggi itu berlari mendekati mereka, sontak membuat genggaman Jongin terlepas begitu saja, meninggalkan jejak hangat itu. Entah kenapa hati Kyungsoo seolah tidak terima.
Kedua namja itu terpaku melihat Kyungsoo yang entah sadar atau tidak tengah memperhatikan jemari Jongin lamat-lamat. "O-Oh, Siapa namja botak ini?" Tanya seorang namja yang memiliki rambut belah tengah dengan surai coklat membuat Kyungsoo mendongak mengalihkan perhatiannya dari jemari Jongin menatap wajah namja itu.
"Aku Do Kyungsoo, murid baru di sini." Kyungsoo menundukkan tubuhnya sedikit lalu kembali mendongak lagi.
"Tidak perlu sekaku itu botak, Kenalkan aku Park Chanyeol dan ini Oh Sehun." Namja yang memiliki tubuh paling tinggi di sana dan memiliki rambut hitam legam itu memperkenalkan dirinya seraya merangkul tubuh Sehun di sampingnya.
"Sehun, bukankah sekarang kau ada palajaran Bahasa Inggris?" Sehun mengangguk mendengar pertanyaan Jongin.
"Bisa kau antar dia? Kalian satu kelas sepertinya." Sehun menatap Kyungsoo dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas.
"Kajja Kyungsoo." Sehun berjalan lebih dahulu setelah melepaskan rangkulan Chanyeol pada bahunya.
"Aku duluan, terima kasih Kim Jongin dan sampai berjumpa lagi Jongin-ssi dan Chanyeol-ssi." Namja itu membungkuk sedikit lalu segera berlari kecil menyusul Sehun.
Saat kedua namja itu sudah pergi menjauh barulah Chanyeol menatap Jongin dengan seulas senyum, "Kau tidak apa?" Jongin mengangguk seraya mengulum senyumnya.
"Walaupun rasanya sangat sakit aku akan terbiasa." Jongin memutus kontak dari punggung Kyungsoo yang semakin mengecil dan beralih pada kakinya yang terbalut gips.
Chanyeol tersenyum pengertian lalu berjongkok tepat di depan Jongin, "Kajja, biar ku gendong kau sampai kelas."
Tanpa berfikir panjang Jongin sudah naik ke punggung Chanyeol, "Chanyeol Hyung... Apa aku bisa jika harus seperti ini terus?" Tanya Jongin ketika Chanyeol sudah bergerak untuk melangkah.
"Jangan khawatir, semua akan kembali seperti sedia kala- YA! JONGIN! Kenapa kau jadi melankolis begini eoh? Berhenti bersedih atau ku lempar kau!"
"Ya! Chanyeol! Lakukan saja jika berani atau aku tidak akan membagimu pr Matematikaku!"
"Astaga pr laknat itu, kita harus cepat. Karena medusa itu tidak akan berhenti menghukumku jika aku tidak mengerjakannya."
"Ya! pabbo... dia kakakmu."
"Aku tidak pernah menginginkan ia menjadi guru karena sangat merepotkan kita di sekolah."
"Hahaha benar sekali, Tapi aku dengar dengar Yoora Noona tengah dekat dengan guru olah raga itu? Apa benar?"
"Jongiiin… Berhenti bergosip." Sungut Chanyeol dengan wajah yang di tekuk sebal.
"Ah aku kan hanya bertanya." Jongin mencebikkan bibirnya.
.
.
.
"Mohon kerja samanya." Setelah mengenalkan dirinya Kyungsoo menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat lalu kembali berdiri tegap memandang teman-temannya satu persatu.
"Ndeh." Suara murid satu kelas itu terdengar menyahuti perkataan Kyungsoo.
"Baiklah jika ada yang ingin di tanyakan kepada teman baru kalian silahkan tanyakan saja, tidak keberatan untuk menjawabkan Kyungsoo?" Tanya seorang guru laki-laki bermata biru safir itu. Kyungsoo mengangguk.
Ada sekiranya enam orang yang angkat tangan, "Kenapa kau pindah? Apa kau menyogok sekolah sehingga kau dapat ke sini eoh? Kau tau selain kalangan borjuis murid-murid di sini adalah murid-murid pilihan karena kecerdasannya."
Menyogok... Apa ibunya menyogok? Oleh karena itu ia di permudahkan? Tidak! Tidak mungkin ibunya melakukan hal itu.
"Aku tidak tahu kenapa aku pindah, Aku-"
"Sekolah ini tidak menerima sogokan! Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau memandang jelek sekolah ini oeh?" Suara Sehun mengintrupsi dingin dan menatap tajam seorang Yeoja berkacamata yang tadi bertanya. Suasana menjadi semakin hening ketika melihat tatapan tidak bersahabat dari Sehun.
"Mi... Mian." cicit yeoja itu dengan wajah pucatnya.
"Biarkan aku bertanya, perkenalkan aku Byun Baekhyun... jadi kenapa kepalamu botak? Kau tahu ketika remaja lain berlomba-lomba untuk memperindah rambutnya dan kau malah mencukurnya?"
Sontak gelak tawa terdengar karena pertanyaan tidak bermutu dari namja cantik bernama Baekhyun itu. Kyungsoo tersenyum lucu menatap Baekhyun namun ia tetap menjawab, "Ini karena lebih dari dua bulan yang lalu aku menjalani operasi karena kecelakaan, jadi untuk mempermudahnya para tim medis mencukur habis rambut di kepalaku."
"Kecelakaan apa?" Tanya Baekhyun dan menatap Kyungsoo ingin tahu.
"Kenapa kau ingin tahu sekali sih?" Sungut Sehun lalu ia mendelikan matanya kearah Baekhyun.
"Aku kan bertanya pada Kyungsoo, apa masalahmu?" Baekhyun tak kalah memandang Sehun dengan sadis lalu kembali menatap Kyungsoo ingin tahu.
"Hey! Sudah-sudah, Kyungsoo kau tidak perlu melanjutkan sesi tanya jawab ini, silahkan duduk." Kyungsoo mengangguk lalu ia segera duduk di kursi kosong tepat di belakang Baekhyun.
"Ayo kita mulai pembelajaran hari ini, buka buku kalian halaman 168." Kyungsoo mengangkat tangannya menyela kegiatan yang akan di laksanakan.
"Maaf guru, saya belum memiliki bukunya."
"Ah benar, erm... bagaimana jika kau meminjamnya dulu di perpustakaan?"
"Ndeh." Kyungsoo mengangguk lantas segera berdiri kembali.
"Biar aku yang membantunya." Sahut dua orang sekaligus membuat seluruh mata tertuju pada mereka berdua. Sehun dan Baekhyun saling menatap sinis satu sama lain.
"Hah… kalian lagi, satu orang saja yang mengantar Kyungsoo." Guru bernama Christ itu mendesah frustasi, karena jika sudah tiba untuk mengajar kelas ini maka ia akan di hadapkan langsung dengan pertengkaran-pertengkaran yang tercipta karena perdebatan Baekhyun dan Sehun yang tidak ada habisnya.
Dulu, pernah saat Baekhyun dan Sehun bertengkar hebat hanya karena memperdebatkan jawaban mana yang benar, sampai-sampai Baekhyun naik ke atas kursinya demi bisa menatap tajam Sehun yang berdiri di depannya. Baekhyun melakukan itu karena tubuhnya jauh bisa menggapai Sehun yang tinggi itu.
"Kalau begitu aku saja." Baekhyun buru-buru berdiri dari kursinya lantas menarik tangan Kyungsoo dan mengajak namja itu untuk berlari, sengaja agar Sehun kalah start darinya. Bunyi bantingan pintu terdengar karena Baekhyun menutupnya keras-keras.
"Berengsek." Maki Sehun pelan lalu segera menyandarkan punggungnya pada kursi, sedikit membanting karena kesal. "Lihat saja nanti, akan ku balas kau." Ancamnya untuk Baekhyun, walaupun ia tahu namja itu tidak akan mampu untuk mendengar segala caci maki dan sumpah serapah yang Sehun tunjukkan untuknya.
.
.
.
"Ini bukunya." Baekhyun memberikan buku bersampul ungu tua itu ke hadapan Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum senang lantas menerimanya.
"Terima kasih."
"Bukan masalah." Baekhyun mengibas-ngibaskan jemari lentiknya dengan santai. Lalu mereka kembali berjalan keluar dari perpustakaan saat sudah mendapatkan buku yang kini tengah di genggam oleh tangan kanan Kyungsoo.
Jarak perpustakaan dengan kelas mereka memang cukup jauh karena berbeda gedung jadi untuk menghilangkan keheningan aneh ini akhirnya Kyungsoo bersuara, "Kau sepertinya tidak akrab dengan Sehun."
"Orang waras manapun pasti tidak akan ada yang ingin akrab dengannya Kyungsoo, kau tidak lihat bagaimana ia bertingkah? sok misterius, ia dan ke tiga temannya itu selalu berbuat seenaknya karena salah satu dari mereka adalah ahli waris dari sekolah ini. Mereka itu sok keren dan sok berkuasa. Aku ingatkan saja yah… jangan sampai kau dekat dengan salah satu dari mereka, atau kau akan habis di bully oleh penggemar bodoh mereka."
Kyungsoo mengernyitkan dahinya katika mendengar kata bully keluar dari mulut namja berparas cantik itu. "Maksudmu dari tiga orang itu Kim Jongin dan Park Chanyeol satunya lagi siapa? Aku rasa mereka tidak seperti yang kau pikirkan Baekhyun-ah."
"Aku yang lebih lama bersekolah di sini Kyungsoo-ya maka aku tahu bagaimana tabiat mereka… Ah satu orang lagi itu adalah Kim Junmyeon sepupu Kim Jongin. Ia sedang tidak masuk, ku dengar ia tengah di rawat di rumah sakit sekarang karena terserang typhus, aku bersyukur karena dua dari empat orang itu sakit. Dan aku sekarang tengah mendoakan agar Oh Sehun mengalaminya juga- Tapi, tunggu dulu… dari mana kau mengenal Chanyeol dan juga Jongin?"
Kim Junmyeon…
Kenapa… nama itu nampak tidak asing?
Kyungsoo berjengit ngeri mendengar mulut pedas Baekhyun, "Tadi pagi aku sempat menabrak Jongin-ssi di koridor hingga ia terjatuh, seperti yang kau bilang… penggemarnya datang dan langsung mendorongku hingga jatuh, tapi Jongin langsung menolongku dan membelaku, lalu Chanyeol-ssi dan Sehun-ssi datang mereka tampak ramah padaku tidak seperti yang kau bilang."
Mulut Baekhyun kini menganga lebar ketika mendengar penuturan Kyungsoo, "Yang benar Kai membelamu?! Yang benar juga kalau Sehun si anak durja itu bersikap ramah?! Kalau untuk Chanyeol sih aku biasa saja, karena kuakui Park Chanyeol memang sangat baik terhadap orang-orang tidak seperti Sehun si anak durja itu."
"Memangnya ada yang salah jika Jongin membelaku? Kau menyebut Sehun sebagai anak durja, apakah ia sesuram itu eoh?"
"Tentu saja salah! Kai tidak pernah membela seseorang sebelumnya kecuali ketiga orang sahabatnya itu."
"Kenapa kau menyebut Jongin dengan nama Kai?"
"Karena manusia sombong itu tidak pernah mau jika ada seseorang yang memanggilnya dengan nama Jongin kecuali orang-orang terdekatnya itu."
Terdekatnya…
Tanpa di sadari mereka sudah sampai di depan pintu kelas sehingga mau tidak mau mereka menghentikan perbincangan mereka yang tengah membicarakan ke empat namja yang selalu menjadi perhatian di manapun dan kapan pun mereka berada.
.
.
.
TBC.
Review, please?^^
