Kehidupanku biasa-biasa saja. Rutinitas keseharianku pun tidak jauh berbeda dengan aktris lain. Bangun tidur, syuting, menghadiri talkshow, meet and greet dengan penggemar, tidur. Selalu begitu dan begitu seterusnya. Namun kehidupanku berubah sejak sebuah gelang misterius tiba-tiba melingkari pergelangan tangan kiriku.
Awalnya aku biasa saja, mengingat gelang tersebut cukup cantik dengan pink sapphire yang menghiasinya. Walaupun cukup berat untuk ukuran sebuah gelang, aku masih membiarkan gelang itu melingkari tanganku. Pernah kucoba untuk melepaskannya, namun gelang itu malah melekat semakin kuat. Semakin kutarik, semakin kencang gelang itu mengikat tanganku. Bahkan darahku pernah berhenti karena gelang misterius itu.
Setelah beberapa saat, aku baru merasakan kejanggalan. Banyak orang asing yang mencoba membunuhku. Bahkan tidak jarang aku melihat warga di kotaku membawa senjata tajam kemana-mana. Kapak, pisau daging, pacul, pistol, atau katana selalu terlihat berseliweran di tangan orang berwajah seram.
Sebenarnya... apa yang terjadi?
Survival Game
A Naruto Fanfiction by B Skypiea
Naruto Masashi Kishimoto
.
.
.
Warning: OOC, Typo(s), Yandere Character, Gore, Violent
.
.
.
DLDR
Chapter 1: Trapped on Survival Game
"ACTION!"
.
.
Aku menatap matanya. Mata beriris hazel yang selalu menatapku penuh kelembutan itu kini menatapku penuh kebencian. Tangannya yang selalu membelaiku lembut kini tengah mengacungkan pistol ke arahku. Sungguh, mataku memanas saat melihat bibirnya mengulas seringai kebencian.
"Kau telah membohongiku, Cherry. Kau bilang kau mencintaiku, lalu kenapa kau ingin membunuhku?"
Aku mundur selangkah saat mendengar suaranya yang berucap keras. "K-kau salah paham, Akashi. Aku tidak pernah bermaksud melukaimu. Sekalipun tidak pernah!" aku mengelak.
"OMONG KOSONG! Lalu apa yang kau genggam itu? Sebuah permen? Itu belati yang hendak kau tusukkan padaku!"
Aku memejamkan mata. Membiarkan air mata yang sedari tadi kutahan jatuh bebas. Yang kugenggam sekarang memang belati. Belati yang dengan lancangnya kuarahkan pada jantungnya.
"Air matamu palsu, Cherry. Aku muak melihat semua kepura-puraanmu." Suaranya kembali terdengar. Pemuda yang kupanggil Akashi itu masih setia mengacungkan mulut pistol padaku.
"Dengar, Akashi. Aku membawa belati ini untuk mengupas apel yang kauletakkan di atas nakas," ucapku seraya menunjuk meja nakas di sudut kamar. "Kau datang tiba-tiba, aku tersandung dan belatiku hampir menusukmu."
Akashi tertawa sinis. "Aku tahu kau bohong, Cherry. Putri bangsawan pongah sepertimu tidak mungkin setuju dengan mudah untuk bertunangan denganku. Aku tahu tabiatmu."
"Tahu apa kau tentangku? Bahkan kau jauh lebih pongah dariku," ucapku sambil mengusap air mataku. "Bahkan kau meremehkan pernyataan cinta seorang perempuan!" aku berteriak.
DOR!
Teriakanku dibalas dengan tembakan pistol yang diarahkan Akashi ke atas. Aku menengadah dan menemukan langit kamar Akashi berlubang.
"Pernyataan cintamu itu palsu! Dasar munafik!" Akashi balas berteriak.
Air mataku berhenti mengalir. Kulangkahkan kakiku mendekati pemuda yang kembali menodongku dengan pistolnya.
"Akashi.." aku memanggil. Aku semakin mendekatinya. Ia terdiam, tidak merespon. Tapi aku tahu matanya masih setia mengawasiku. "Kau benar," lanjutku. Belati yang kugenggam menampik pistolnya secara kasar hingga terpental. Mata hazel-nya terbelalak kaget.
Akashi menatapku penuh waspada. Yang kulakukan untuk membalas tatapannya hanya tersenyum. Aku memegang bahu kanannya dengan tangan kiriku yang bebas. Kudekatkan wajahku dengannya hingga tidak ada jarak di antara kami. Kukecup sekilas bibirnya dan membisikinya dengan suara rendah.
"Aku pongah. Aku munafik. Tapi aku benar-benar mencintaimu." Kurasakan punggung Akashi menegang. "Aa.. tidak. Lebih tepatnya mencintai hartamu."
JLEB!
Bertepatan dengan itu, belati yang kugenggam dengan tangan kanan kutusukkan tepat dijantungnya. Mata Akashi terbuka lebar dengan mulut yang mengeluarkan darah. Tanpa rasa belas kasihan, kujatuhkan tubuh Akashi menghantam lantai dengan keras. Kuinjak punggungnya dan kembali membisikinya. "Aku tidak berniat melukaimu. Aku hanya ingin membunuhmu, Akashi."
.
.
"CUT!"
Aku mencabut belati yang pura-pura kutusukkan pada seorang pemuda. Kulihat pemuda yang tadi kutusuk kini berdiri sambil mengusap-usap punggungnya. Wajahnya yang meringis kesakitan membuatku menghampirinya dan ikut mengusap punggungnya.
"Sasori, apakah sakit? Maaf jika aku menginjakmu terlalu keras," tuturku penuh rasa bersalah.
Sasori yang baru saja memerankan sosok Akashi tersenyum padaku. "Aku tidak apa, Sakura. Hanya saja high heels yang kaukenakan tidak bersahabat dengan punggungku."
Aku meringis menatap alas kakiku. Mungkin high heels 10 senti yang kugunakan sedikit menusuknya.
"Maaf."
Sasori menegakkan punggungnya dan mengelus pucuk kepalaku perlahan. Ia mengangguk singkat, lalu mengajakku mendekati sang sutradara.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sasori.
Sutradara yang kuketahui namanya Asuma itu mengangguk pelan. Ia masih mengamati layar monitor dan berbincang sekilas pada cameraman sebelum menjawab pertanyaan Sasori.
"Lumayan memuaskan. Tapi tusukkan yang dilakukan Sakura belum mendebarkan. Masih harus diulang lagi. Alurnya juga terlalu cepat," tanggap Asuma.
Aku menghela napas. Memangnya siapa suruh membuat naskah dengan alur yang terlalu cepat? Dan jujur saja, aku sudah mengulang adegan itu sebanyak tiga kali. Apa sutradara itu tidak tahu bagaimana lelahnya aku?
"Jujur saja, aku bingung dengan alur cerita ini. Mungkin karena itu aku tidak bisa berakting dengan maksimal," tuturku.
Asuma menyalakan rokoknya lalu menyenderkan tubuhnya sebelum membalas perkataanku. "Ini cerita tentang seorang putri bangsawan bernama Cherry yang gila harta. Dia ditunangkan dengan Akashi, seorang pemuda kaya raya. Akashi sangat mencintai Cherry namun Cherry hanya memanfaatkannya."
Aku menyela, "Aku sudah tahu hal itu. Tertulis jelas pada sinopsis film ini."
"Sabar dulu!" Asuma terkekeh sekilas. "Akashi tidak sadar bila dia dimanfaatkan. Sampai suatu hari dia curiga pada Cherry karena Cherry berniat membunuhnya. Cherry melakukan itu hanya untuk mendapatkan harta Akashi."
"Seperti opera sabun," celetuk Sasori. Aku terkikik geli sedangkan Asuma mendelik.
"Yaah.. Pokoknya intinya begitu. Sekarang bersiap-siaplah mengulang adegan itu." Asuma mengakhiri perkatannya dengan hembusan rokok dan kembali memerintah. Haah.. hari ini akan menjadi hari yang panjang.
Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur sesampainya di rumah. Syuting hari ini benar-benar melelahkan. Asuma menyebalkan itu terus menyuruhku mengulangi adegan yang sama. Kulirik jam dinding yang tertempel di kamarku. Pukul sebelas malam. Meregangkan otot sebentar, aku berjalan menuju kamar mandi untuk membilas tubuhku. Selesai mandi dan berpakaian, aku membuat secangkir kopi untuk kuseduh di balkon kamar.
"Banyak bintang," gumamku sambil menatap langit. Aku menyeduh kopi sebentar lalu mengambil ponselku untuk menjawab panggilan masuk.
Sasori is calling..
"Halo."
"H-halo Sakura. Apa aku mengganggu malammu?"
"Tentu tidak." Aku tersenyum sambil menatap langit. "Ada apa kau meneleponku?"
"Emh.. aku hanya ingin berbicara denganmu."
Aku terkesiap. "Apa punggungmu masih sakit dan kau ingin menuntutku?" tanyaku cemas.
Aku mendengar Sasori terkekeh di ujung sana. "Tidak. Aku tidak ingin membicarakan hal itu apalagi menuntutmu. Tapi, apakah aku bisa menuntutmu karena kau membuatku menyayangimu?"
Memutar mata bosan, aku menjawabnya malas. "Jangan menggodaku, Sasori. Tidak akan berhasil."
"Aku tidak menggodamu, Sakura. Aku benar-benar menyayangimu sebagai seorang adik."
Aku menghela napas perlahan. Kuseduh lagi kopiku yang hampir habis. Kutatap langit malam dengan sendu. Jujur saja, aku juga menyayangi Sasori. Tapi aku tidak yakin sayang yang kurasakan adalah sayang seorang adik pada kakaknya.
"Sebagai... adik?" ulangku. "Tidak lebih dari itu?"
Diam sesaat sampai suara Sasori kembali terdengar. "Iya."
Aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku. Aku menarik napas berat. Selalu begini. Selalu menyakitkan saat aku mendengar pengakuan Sasori yang satu itu. Hatiku berdenyut nyeri dengan mata yang terasa panas.
"Sakura? Kau masih di sana?—Hei! Apa kau menangis?"
Klik!
Kumatikan sambungan itu. Kulempar ponselku ke ranjang. Kutatap langit malam dengan raut sendu.
"Padahal aku mencintainya," lirihku.
Sreek.. Sreek..
Aku kembali terkesiap. Suara semak-semak di dekat balkon membuatku penasaran. Aku yakin tidak ada angin yang berhembus. Bahkan gesekan semak itu terkesan janggal. Aku memicingkan mata sekilas. Memastikan apakah ada paparazzi atau stalker yang mengamatiku. Rasa takut mulai menjalari tubuhku. Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon. Kututup rapat-rapat semua tirai di kamarku dan bergegas tidur. Ada yang aneh, tapi aku tidak tahu apa itu. Hanya satu yang kutahu, aku diamati.
Aku menggeliat di atas tempat tidur. Hari ini aku tidak mempunyai jadwal apapun di pagi hari, jadi aku bisa sedikit bersantai. Dengan langkah yang terseret, aku menuruni tangga menuju dapur.
Hari ini rumahku terasa sepi. Para maid yang kupekerjakan tidak tampak berseliweran di sini. Kulirik meja makan dan tidak menemukan satu pun makanan di sana. Terpaksa aku harus menyiapkan sarapan sendiri. Aku mengambil bubuk kopi dari dalam rak. Namun gerakanku terhenti saat melihat sebuah benda asing melingkari pergelangan tangan kiriku.
Sebuah gelang hitam dengan permata pink sapphire di tengahnya.
Otakku mengingat kejadian semalam. Rasanya aku tidak memakai aksesoris apapun sebelum tidur. Setelah menutup semua tirai dan jendela, aku bergegas tidur.
Kuamati gelang itu. Terasa berat untuk ukuran sebuah gelang. Aku menarik gelang misterius itu agar terlepas, namun hasilnya nihil. Gelang itu tidak mau lepas, malah semakin kencang melingkari tanganku. Setengah frustrasi, kupaksa gelang itu agar terlepas. Lagi, usahaku sia-sia. Gelang itu seolah-olah menyatu dengan kulitku.
Karena percuma memaksa gelang itu untuk lepas, aku meneruskan acara membuat kopi dan roti panggang. Setelah selesai, kutaruh kopi itu di atas meja makan. Aku mengambil koran harian di luar rumah sebelum menyantap sarapanku.
Kubuka koran itu dan mulai menyeduh kopiku. Kubaca headline hari ini dan semenit kemudian aku menjatuhkan cangkir kopiku hingga pecah. Mataku terbelalak dengan mulut tak percaya melihat berita utama pagi ini.
Akasuna no Sasori Ditemukan Tewas Mengenaskan
Konoha—Akasuna no Sasori atau yang akrab disapa Sasori ditemukan tewas mengenaskan kemarin malam. Korban ditemukan tidak bernyawa dengan tubuh yang terpotong-potong dan perut yang hancur di kediamannya. Diduga, pembunuh sempat menyiksa korban dengan menusukkan benda tajam ke tubuhnya. Mulai dari mata, dada, tangan, perut, dan kaki korban tampak mengerikan dengan sayatan dan tusukkan. Polisi masih menyelidiki motif si pembunuh. (bersambung ke hal.9)
Aku tidak meneruskan membaca lanjutan berita itu. Kusobek dengan kasar koran sialan itu. Air mataku tumpah seketika. Bagaimana bisa? Tadi malam dia masih sempat meneleponku bahkan merayuku. Lalu kenapa dia harus mati malam itu juga? Rasanya aku menyesal sudah memutuskan telepon seenaknya.
Aku mengusap air mataku dengan kasar. Setelah menyambar kunci mobil, aku melesat menuju rumah Sasori.
Aku masih memakai piyama dan belum merias diri saat sampai di pelataran rumah Sasori. Garis polisi dipasang di sekitar rumahnya. Aku menerobos garis polisi walaupun dilarang oleh beberapa aparat keamanan. Masa bodoh. Aku hanya ingin melihat keadaan Sasori.
Aku menjelajahi rumah Sasori. Kebetulan aku sering mampir sehingga aku hafal seluk beluk rumah ini. Di kamar Sasori, banyak petugas keamanan yang berjaga di sana. Tanpa basa-basi, aku menghampiri kamar tersebut.
Tepat dugaanku. Mayat Sasori belum dibawa ke rumah sakit. Pemuda berambut merah itu masih terkapar di sana. Perutku terasa mual saat melihat keadaan Sasori.
Anggota tubuh yang terpotong-potong.
Organ perut yang berceceran di lantai.
Mata hazel yang berlubang karena tusukan.
Mulut yang dijahit kasar.
Dan kepalanya yang pecah hingga aku bisa melihat otaknya.
Itu semua membuatku merasa sedih, mual, dan takut secara bersamaan. Kenapa Sasori harus mati setragis itu?
Aku membungkam mulutku sendiri dengan telapak tangan, mencegahku untuk muntah di tempat. Siapa yang membunuhnya?! Aku hendak melangkah mendekatinya, namun seorang polisi melarangku dengan keras. Sudahlah, aku juga tidak ingin terus menerus melihat pemandangan seperti itu.
Kakiku melangkah menjauhi tempat mengerikan itu. Kutahan segala isakan dan makian yang hendak kulontarkan pada siapa saja. Emosiku sungguh kacau sekarang. Aku berlari menuju mobilku. Aku ingin menelepon manager-ku untuk izin tidak ikut syuting maupun pemotretan apapun. Aku akan cuti untuk beberapa hari demi menenangkan diri.
Aku membanting pintu mobil dan mencari ponselku yang kutinggal di mobil. Tidak ada. Aku ingat meninggalkan ponsel itu sebelum aku masuk ke rumah Sasori dan sekarang ponselku menghilang secara misterius?
Saat tanganku meraba-raba jok mobil, sebuah pisau tajam tiba-tiba saja sudah bertengger manis di samping leherku. Jika aku bergerak sesenti saja, pisau itu bisa menggores leherku.
"A-apa y-yang terjadi?" aku tergagap. Keringat dingin meluncur bebas dari pelipisku. Mataku melirik ke jok belakang dan menemukan seorang pria asing sedang menempelkan pisau pada leherku. Sial! Kenapa aku tidak menyadarinya?! "A-apa kau y-yang m-membunuh.." aku menelan ludah sebelum melanjutkan, "Sasori?"
"Bukan aku yang membunuhnya."
"L-lalu s-siapa?"
"Aku tidak peduli siapa yang membunuhnya. Aku ke sini hanya untuk mengambil gelang yang sedang kau pakai."
Aku melirik gelang misterius yang sedang kukenakan. Kenapa dia mengincar gelang ini?
"K-kau ingin mengambil gelang ini? A-ambillah! Dan jauhkan pisau itu dari leherku!" Aku mengulurkan tangan kiriku agar pria asing itu mengambil sendiri.
Ia menurunkan pisaunya dan mulai mencoba melepaskan gelang itu dari tanganku. Saat ia tengah terfokus melepaskan gelang, tangan kananku diam-diam membuka pintu mobil. Beberapa menit ia habiskan untuk mencoba melepas gelangku, namun sia-sia. Sudah kubilang, gelang ini menempel pada kulitku.
Pria asing itu mengerang frustrasi. Ia mengangkat pisaunya ke atas hendak memotong tanganku. Aku terbelalak. Dengan cepat, aku mendorong pintu mobil dan berlari keluar.
Lari. Aku harus lari menghindari pria gila itu.
Seperti yang kukira, pria asing itu mengejarku dan berteriak menyuruhku berhenti. Cih! Bodoh! Mau berteriak sampai kapanpun juga aku tidak akan berhenti.
Aku hendak meminta pertolongan polisi yang ada di rumah Sasori, namun harapanku pupus. Para polisi itu telah pergi entah kapan. Langsung saja ketakutan menyergap tubuhku saat pria asing itu kembali meneriakiku.
Aku mencari keberadaan mobilku. Sial! Mobilku bahkan dikelilingi orang asing yang sejenis dengan pria yang mengejarku. Mungkin mereka bekerja sama.
Dengan tenaga yang aku punya, aku berlari menghindar sambil berteriak minta tolong. "TOLOOONG! ADA ORANG YANG INGIN MEMBUNUHKU!"
Orang-orang langsung berlari keluar rumah saat mendengar teriakanku. Mereka keluar dengan membawa peralatan tajam. "Siapa yang hendak membunuhmu, Nona?" tanya salah satu dari mereka.
"Dia! Dia pria gila yang ingin memotong tanganku hanya untuk mendapatkan gelang ini!" ucapku sambil menunjuk pria yang yang tengah mengejarku.
"Gelang?" Mereka saling pandang. "Apa gelangmu berwarna hitam dengan permata berwarna pink?" Bukannya langsung menolongku, mereka malah bertanya mengenai gelangku.
"Ya! Cepatlah tolong aku!"
Mereka membatu, membuatku bingung karenanya. Apa aku memerintah terlalu kasar?
"Hei! Ternyata dia yang mempunyai gelang itu! Ayo tangkap dia!" Dengan komando yang keluar dari salah satu orang, puluhan orang yang tadinya ingin menolongku kini ikut mengejarku—tidak, mengejar gelang ini lebih tepatnya.
Apa yang mereka incar dari gelang aneh ini? Rasanya aku ingin melempar gelang sialan ini pada mereka agar aku terhindar dari kejaran massa yang bisa merenggut nyawaku.
Kecepatan lariku melambat saat puluhan orang itu masih bersemangat mengejarku. Aku terengah-engah. Dadaku sesak dan napasku tidak beraturan. Hampir saja aku menyerah karena tidak sanggup berlari lagi, seorang pemuda yang tidak kukenal menyambar tanganku. Mengajakku berlari bersamanya.
"A-apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" aku memekik. Aku masih belum siap jika tanganku hendak dipotong hanya untuk mendapatkan gelang yang menempel pada tanganku.
"Tenanglah! Aku hanya ingin menolongmu," sahutnya.
"Bagaimana bisa aku percaya jika kau bukan salah satu dari mereka?!" Aku menoleh ke belakang. Rasanya aku hampir lupa bernapas saat melihat kerumunan orang yang mengejarku makin banyak.
"Sudahlah, percaya saja padaku."
Aku pasrah. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk melawannya. Berdebat pun sia-sia. Lebih baik aku menghemat energi. Dadaku semakin sesak. Tarikan napas beratku mungkin terdengar oleh pemuda yang menggenggam tanganku. Ia mengajakku untuk menaiki motor yang entah milik siapa.
"Cepat naik," ia memerintah.
Aku mengangguk patuh dan memakai helm yang ia berikan padaku. Dengan kecepatan penuh, kami pun meninggalkan kerumunan itu.
"Sudah sampai."
Aku melepas helmku perlahan. Memandangi bangunan megah yang kukenal sebagai rumahku. Pemuda asing dengan model rambut aneh ini mengantarku ke rumah, padahal aku tidak memberikan satu pun petunjuk mengenai alamat rumahku. Aku heran kenapa bisa pemuda asing ini hafal jalan menuju rumahku, terlebih lagi dia menggunakan rute yang jarang dilewati orang.
"Kau hafal jalan menuju rumahku?" aku bertanya sambil memandangnya penuh selidik.
"Kau ini aktris. Banyak stalker yang mengikutimu," jawabnya.
"Kau seorang stalker!" aku memekik sambil menunjuk batang hidungnya.
Ia melepas helm lalu mengacak rambutnya kasar. "Aku lebih suka dipanggil Uchiha Sasuke"
"Tetap saja kau seorang stalker! Oh, tidak! Jika kau tahu alamat rumahku, kau bisa membunuhku dengan mudah. Bisa saja kau salah satu dari puluhan orang yang mengejarku dan berniat membunuhku malam ini!" Aku masih menunjuk batang hidung Sasuke.
Sasuke mendengus kesal lalu menyingkirkan telunjukku. "Sudah kubilang, aku bukan salah satu dari mereka. Justru aku akan melindungimu," sahutnya tenang. Wajahnya yang datar membuatku ragu. Namun, tatapan mata hitamnya mampu membuat hatiku tidak menentu.
"Kau... melindungiku dari apa?"
Aku lihat Sasuke menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. Dia menatapku dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara. "Aku akan menjelaskan sesuatu padamu. Tetaplah tenang dan atur emosimu. Mungkin penjelasanku tidak menyentuh logikamu, tapi kau harus percaya."
Aku memandanginya bingung. Rasa cemas tiba-tiba saja menyergap hatiku.
"Kau terjebak dalam sebuah permainan karena gelang itu," ucap Sasuke seraya menunjuk gelang yang ada di tanganku. "Ini bukan dunia nyata. Ini dunia game yang dirancang semirip mungkin dengan kehidupan aslimu."
"Dunia game? Bagaimana bisa? Kau gila, dasar pembohong! Jelas-jelas tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa aku terjebak dalam dunia dimensi lain!" aku membentak.
Sasuke mengeluarkan sebuah anak panah kecil dari kantong celananya. Ia memanggil seseorang yang kebetulan berada di dekat kami. "Hei, kau yang berbaju hitam!"
Saat orang yang dipanggil Sasuke menoleh, dengan cepat pemuda raven itu melemparkan anak panah ke arahnya.
Zleb!
Aku membatu saat anak panah yang Sasuke lempar tepat mengenai pupil mata orang itu. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi matanya yang mengeluarkan darah begitu deras. Aku kembali membentak Sasuke.
"Dasar sinting! Kau ingin membuatnya buta?!"
Sasuke menunjuk orang yang sedang kesakitan itu, "Diam dan perhatikan."
Aku memperhatikan orang malang itu. Setelah puluhan detik mengerang kesakitan, tiba-tiba saja tubuh orang itu hancur berkeping-keping. Kepingan itu pun hilang menguap di udara.
"A-apa yang..." perkataanku ikut menguap. Aku terlalu speechless melihat hal yang baru saja terjadi.
"Dia bukan manusia nyata. Dia hanya sebuah program yang menyerupai manusia. Apa kau pernah bermain game console? Jika kau merusak sesuatu dalam sebuah game, benda yang kau rusak akan hancur menjadi kepingan lalu menghilang."
"Jadi... jika aku dilukai seperti orang itu, aku akan hancur juga?" Aku menatap telapak tanganku sendiri.
"Tidak. Kau berbeda. Lebih tepatnya kau dan aku berbeda." Mendengar ucapan Sasuke, aku menatapnya bingung. "Saat ini, dirimu yang asli sedang tertidur dengan tenang. Bisa dibilang, kau sedang bermimpi sekarang. Mimpi yang nyata. Warga dunia nyata akan menganggapmu mati suri."
"Kenapa?"
"Kau terperangkap dalam mimpi mematikan. Seseorang memasangkan gelang itu," Sasuke menunjuk gelangku, "Pada pergelangan tanganmu agar kau tidak bisa bangun dari tidurmu. Gelang itu bukan gelang biasa. Ia memiliki chip khusus. Hal yang sama juga terjadi padaku."
Sekarang aku tahu kenapa gelang ini terasa berat. "Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke duniaku yang nyata?"
"Ada lima orang yang harus kau bunuh."
Aku terbelalak. Membunuh? "Bukankah membunuh itu dilarang, hah?! Aku tidak mau terlibat masalah hukum!"
Sasuke mengetukkan jarinya pada dahiku. "Ini dunia dimensi lain, kau ingat? Membunuh adalah hal yang dianjurkan di sini." Aku menampik tangannya. "Jika kau tidak membunuh lima orang itu, justru mereka yang akan membunuhmu. Mereka juga terjebak dalam dunia ini, mempunyai gelang yang sama dengan kita. Untuk bisa keluar dari dunia ini, mereka juga harus membunuh."
"Kita?" Aku mengerutkan dahi.
Sasuke mengangkat telapak tangannya yang dilingkari gelang serupa denganku, hanya saja permata yang menghiasi adalah blue sapphire.
"Jaga gelang ini. Jika gelang ini rusak atau bahkan permatanya pecah, kita mati. Jika kita mati di dunia ini, otomatis kita juga mati dalam dunia nyata."
Aku mendecih. "Kalau begitu, aku akan melindungi diriku sendiri. Aku tidak mau dibunuh olehmu! Sekarang pergilah! Aku ingin mempersiapkan diri!" ujarku sambil memasuki rumah.
Sasuke menahan tanganku. "Tidak bisa. Kau partner-ku." Dengan sekali hentakan, aku melepas tangan Sasuke. Memangnya aku percaya? Bisa saja Sasuke adalah salah satu dari lima orang yang harus kubunuh atau mengincarku.
Aku membuka pintu rumahku. Awalnya rumahku tampak gelap. Namun setelah cahaya menerangi bagian dalam rumahku, aku tertegun.
Puluhan maid, satpam, dan butler pribadiku dibantai habis-habisan dan dikumpulkan dalam ruang tamu rumahku. Bahkan manager-ku ikut dibantai dengan kondisi mengenaskan. Kepala mereka hampir terputus. Organ tubuh bagian dalam mereka pun berceceran di lantai yang banjir darah.
Aku sesak napas melihat itu semua. Lututku lemas dan aku jatuh dengan mata yang menatap ngeri pada mereka. Aku mendengar suara langkah kaki. Itu Sasuke yang menghampiriku.
"Lihat, mereka sudah beraksi. Suka tidak suka, kau sudah terperangkap dalam permainan ini. Partner-mu adalah aku. Ada satu prinsip yang ditanamkan dalam permainan ini." Aku melirik Sasuke walau lirikanku tidak bisa menatapnya. "Membunuh, atau dibunuh."
Hatiku mencelos. Aku tidak pernah berpikir untuk menggunakan prinsip itu. Tubuhku bergeming.
"Tenanglah." Sasuke menepuk bahuku. Aku menoleh dan mataku kembali menatap ngeri. Namun kali ini tatapan itu kutujukan pada Sasuke. Sasuke yang selalu menunjukkan raut datar padaku kini menunjukkan ekpresi aneh. Matanya yang hitam menjadi abu-abu. Tatapan matanya yang tajam menjadi tatapan sendu. Terlebih lagi, bibirnya menyunggingkan senyum misterius. "Aku akan melindungimu, Sakura."
.
.
Bersambung
A/N
Ini fict kedua yang aku publish ^^. Siapa yang membuat SasuSasu terjebak dalam dunia itu? Siapa lima orang yang harus mereka bunuh? Itu masih misteri. Apa chapter ini terlalu panjang? Kalau ada yang belum jelas dengan penjelasan di atas, silakan bertanya. Maaf jika gore-nya kurang sadis atau bagaimana, aku masih newbie. Di chap awal karakter yandere-nya memang belum kelihatan, tapi udah tahu kan siapa yang yandere? Terakhir, aku mengharapkan saran dan kritik kalian atau tanggapan kalian tentang fict ini.
Mind to Review?
