INILAH KISAH HUNHAN DI ERA KERAJAAN MODERN. HUNHAN VERSION!

NB: ISINYA SEDIKIT SANGAT BERBEDA DENGAN DRAMA YANG BERJUDUL PRINCESS HOURS KARENA SAYA HANYA MENGIKUTI JUDUL YANG SAMA, SEMUA ISINYA ASLI DARI IDE AKU SENDIRI.

Title : PRINCESS HOURS HUNHAN VER.

Cast :

- Luhan as Xiao Luhan or The Crown Princess(GS)

- Sehun or Oh Sehun as The Second Crown Prince

- Kris or Yifan as The First Crown Prince

- Huang Zitao or Huang Ji as The Daughter of Prime Minister(GS)

- Baekhyun/Kyungsoo/Yixing/Xiumin as Luhan's friends(GS)

- Kai/Chanyeol/Chen/Suho as Sehun's friends

- Find others..!

Selamat membaca!~


.

.

CHAPTER 1

Kringgg Kringgg Kringg

Terdengar sebuah lonceng sepeda yang baru saja ditekan oleh pemiliknya. Seperti biasa, setiap hari gadis cantik bernama Luhan ini akan mengayuh sepeda tua nya itu dengan penuh semangat hingga sampai pada sebuah alamat yang tertera dikertas.

Dan akhirnya ia telah sampai pada alamat tujuan.

Gangnam, District C No.16

"Ah ini diaa" Ucap Luhan dengan senang hati karna merasa ia telah sampai pada alamat yang tepat. Tak lupa ia segera mengeluarkan sesuatu dari box yang berada dibelakang sepedanya.

Tok Tok Tok

"Ahjussiii pesananmu telah tiba!" Serunya dari luar sembari mengetuk pintu dengan pelan.

CKLEK

"Oh sudah sampai, baiklahh...terima kasih nak" Seorang pria paruh baya tampak muncul dari balik pintu seraya menyodorkan beberapa lembar uang kepada Luhan dan tak lupa menerima sekotak makanan yang telah dipesannya.

"Terima kasih kembali ahjussii selamat menikmati Jajangmyun kami" Balasnya dengan wajah riang lalu membungkukan tubuhnya penuh hormat. Begitulah kebiasaannya saat melayani pelanggan.

Akhirnya, pesanan terakhir dari 5 pesanan telah selesai diantar ketempat tujuan. Sudah tiba saatnya bagi Luhan untuk kembali ke kedai, karna masih ada tugas yang harus diselesaikannya disana.

Ia kembali mengayuh sepeda kesayangannya itu.

Untung saja jarak kedai mereka tidak terlalu jauh. Sudah dipastikan sebentar lagi ia akan sampai disana.

Sedikit mengenai Luhan. Dia bernama lengkap Xiao Luhan. Ia tinggal disebuah keluarga sederhana pemilik kedai ramyun kecil-kecilan didaerah Gangnam. Setiap hari ia selalu membantu ayah dan ibunya bekerja dikedai tersebut, setidaknya mengantar beberapa makanan kepada pelanggan yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari kedai, ataupun membersihkan kedai setelah semua pelanggan bepergian. Semua itu adalah pekerjaan sehari-seharinya sepulang dari kegiatan sekolahnya.

Dan jangan ditanya, dia adalah gadis yang ceria dan pekerja keras. Ia memiliki senyuman yang sangat indah dan menawan, tak heran pula ia memiliki wajah yang amat sangat cantik, membuat banyak sekali pria datang ke kedai mereka hanya untuk melihat Luhan.


.

.

Baiklah, Beberapa menit sudah berlalu, Sekarang Luhan sudah tiba didepan kedai. Ia memarkirkan sepeda ditempat biasa.

Dahinya seketika berkerut mendapati suasana yang sedikit aneh didalam kedai.

BRAKK

"Katakan dimana gadis itu!"

"Siapa kalian? Kenapa kalian mencari putriku?"

Luhan akhirnya berjalan dengan cepat memasuki kedai, dan saat itu pula ia sungguh tercengang melihat keadaan kedai yang sangat berantakan.

"Apa yang sudah terjadi?" Tanyanya dengan mata melotot.

3 Pria berjas hitam yang sejak tadi berada disana sontak memutar kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja bersuara.

"Luhan, sebaiknya kau tidak usah masuk.. keluarlah dulu, ayah dan ibu harus mengurus sesuatu dengan mereka bertiga" Sang ibu dengan perasaan cemas memerintahkan putrinya itu untuk segera keluar dari kedai. Sementara sang ayah sibuk mencari cara agar ketiga pria bertubuh besar itu segera keluar dari kedai mereka.

"Apakah dia putri kalian?" tanya salah satu pria yang lebih pendek dengan tatapan tajamnya.

"TIDAK! DIA BUKAN PUTRI KAMI" Seru sang ibu dengan cepat terpaksa berbohong demi keselamatan Luhan. Namun hal itu justru membuat Luhan salah paham.

"Bu, apa maksudmu?" Luhan dengan tampang polosnya sungguh tidak mengerti dengan situasi saat ini. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan ibunya barusan yang tidak menganggapnya sebagai anak lagi. Luhan sungguh tidak mengerti mengapa ibunya berkata seperti itu. Dan juga, siapa sebenarnya pria berjas hitam itu? Apa mereka orang jahat?

"Tangkap dia" Ucap pria yang lebih pendek sambil menggerakkan dagunya kekiri agar salah satu teman disampingnya segera melaksanakan perintahnya.

"Tidak! Jangann" Ibu Luhan mulai berteriak panik.

"Jangan berani-beraninya menyentuh putriku!" Ayah Luhan tak mau kalah. Ia berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa. Namun pria pendek itu terus saja menghalanginya. Sementara itu pria yang satu lagi bertugas menahan ibu Luhan.

"A-apa yang ingin kau lakukan..ahjussi. siapa kalian ..JANGAN MENDEKAT!" Luhan bergerak mundur dengan perlahan, Namun pria bertubuh besar didepannya berjalan semakin dekat kearahnya seolah ingin menerkamnya.

SREKK

"AH! AHJUSSI LEPASKAN AKU!"

Tak perlu bersusah payah lagi, pria bertubuh besar itu sudah berhasil menangkap tubuh kecil Luhan dan mengangkatnya dengan cepat.

"EOMMA APPAA! SELAMATKAN AKU!"

Luhan semakin memberontak dalam gendongan sang pria tersebut.

"LUHAN! MAAFKAN EOMMA SAYANG HIKS HIKS" Sang ibu sungguh tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis melihat putrinya dibawa paksa keluar oleh pria besar itu.

"LEPASKAN PUTRIKU!" sama halnya dengan sang ayah yang hanya bisa berteriak panik. Dan salahkan tubuhnya yang semakin rentan, hingga tidak mempunyai tenaga yang besar dan kuat lagi untuk melawan pria-pria itu.


.

.

"TOLONG AKU!"

"Diamlah kau gadis tengik!"

Luhan merasakan tubuhnya bergetar hebat. Teriakan demi teriakan yang keluar dari bibirnya seolah menjadi kegiatan yang sia-sia. Tidak ada satu orang pun yang mendengarnya. Tidak adakah lagi orang lain ditempat ini selain dirinya dan tiga pria penculik itu? Mengapa tempatnya berada saat ini terasa sangat sepi. Tempat apa ini sebenarnya?

"LEPASKAN DIA!"

Tiba-tiba sebuah suara berhasil membuat kegiatan tiga pria besar itu terhenti.

"Siapa kau bocah tengik" Salah satu pria yang menculik Luhan terlihat memandang remeh pada seorang pria yang entah dari mana asalnya tiba-tiba berteriak memerintahkan mereka untuk melepaskan Luhan.

"Aku bukan bocah tengik"

BUGH!

"Argghh" Pria besar itu terhuyung kesakitan memegangi perutnya yang baru saja ditinju oleh pemuda yang disebutnya bocah tengik.

"Hajar dia!"

BUGH BUGH BUGHH BUGHHHHHH

"Hah..hahh..hahh... Sialan.. kau kuat juga ternyata" pria besar terlihat menyeka darah yang keluar dari bibirnya.

Namun siapa sangka salah satu bawahannya yang mulai panik segera berbisik mengatakan sesuatu.

"Tuan.. bukankah dia itu adalah pangeran Oh?"

"APAA?!" Teriak sang atasan dengan wajah kaget. Matanya kembali memandang wajah pemuda yang ada dihadapannya, dan benar saja.. betapa bodohnya dia tidak mengenali wajah itu lebih awal. Tamatlah riwayatnya.

"Sial! Kita harus segera pergi dari sini!" Perintahnya kemudian dengan sangat panik dan bergegas masuk secepat mungkin kedalam mobil.

Sang pemuda masih berdiri diposisinya dengan tenang. Bingung. Tentu saja ia bingung setelah melihat perilaku mereka. Ah tapi dia tidak peduli akan hal itu. Bukankah itu adalah hal yang baik untuknya, dengan begitu ia tidak perlu repot-repot mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bertarung melawan mereka.

Sekarang hanya dirinya dan Luhan yang berada ditempat itu. Tak perlu berpikir panjang, ia segera berjalan mendekati Luhan yang terlihat bingung dan ketakutan.

"Hikss..Hisskk..tolong aku.." Terdengar isakan tangis dari bibirnya yang mungil. Ia sungguh sangat ketakutan saat ini.

Pemuda itu kini berada didepan Luhan. Ia mengangkat tangannya untuk membuka kain yang menutupi penglihatan Luhan. Ya, sejak tadi mata Luhan sudah tertutup dengan rapat oleh sebuah kain, itulah mengapa dia sangat ketakutan karna tidak bisa melihat keadaan sekitarnya.

Dengan perlahan, Pemuda itu menyingkirkan kain hitam yang menutupi sepasang mata Luhan.

Tampaklah kedua mata Luhan yang sudah memerah, kini memancarkan sorot ketakutan, bahkan sudah mengeluarkan butiran-butiran air yang bening.

Hingga detik berikutnya, mereka saling memandang satu sama lainnya. Tatapan tajam pemuda itu seolah tidak bisa lepas memandang sepasang mata rusa yang sangat indah depannya.

"Hiks..Hikss... si-siapa kkau..apa kau yang sudah menyelamatkanku?" Tanya Luhan dengan bahu bergetar.

Ia tidak peduli siapapun didepannya saat ini, yang pasti dia sangat bersyukur telah diselamatkan.

Sang pemuda seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Luhan. Kini ia beralih melepas ikatan yang ada pada tangan Luhan. Setidaknya dengan begini, ia tidak akan terjerumus oleh pandangan mata rusa milik Luhan yang membuat hatinya merasakan keanehan.

"Jangan menangis.. kau sudah aman sekarang"

"T-Terima kasih sudah menyelamatkanku..hsk.."

Pemuda itu tersenyum hangat. Entah kenapa seseorang bisa menangis dengan sangat imut seperti ini? Pikirnya.

"Perkenalkan namaku Oh Sehun"

Luhan terperangah melihat tangan yang terulur didepannya. Namun ia tidak bisa menolak untuk menyambut tangan kekar dan lebar itu.

"Lalu siapa namamu?"

"Aku...Lu..Han"

TBC!

Yeorobun-deul~ Mohon di Review bagi yang suka yaaa!

Mohon dukungan dan restunya agar saya tetap bersemangat untuk menulis cerita-cerita HUNHAN yang mulai punah.

Hikss ..BTW Luhan uda beberapa kali balik ke korea, tanggal 7 kemarin dia baru aja sampai di Korea! dan sehun malah update weibo dengan caption "Prepare" Wuaaaakkhh itu membuat para Hunhan Shipper pada baper, termasuk aku Hiks..

Yasuholah, Aku rapopo dengan semua ini! Sudah saatnya aku pergi~ Byeee

Jangan Lupa di review yeorobunnn~